Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Pengalaman Belajar yang Menyenangkan di Rumah Penyu Belimbing

Pengalaman Belajar yang Menyenangkan di Rumah Penyu Belimbing

Penulis

Jaeneth Maria Maya Nunaki

Tanggal

2 September 2022

Perkenalkan nama saya Jaeneth Maria Maya Nunaki, teman-teman sering memanggil saya Jaeneth. Saya mahasiswi semester 4 dari Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Papua. Saya bulan Juli 2022 ini berkesempatan untuk melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapang) di pantai peneluran penyu belimbing di pantai Jeen Yessa, yang berada di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Menjadi bagian dari program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM Universitas Papua sebagai mahasiswa PKL adalah salah satu pengalaman terbaik untuk saya.

Jaeneth Sedang Membuka Telur Penyu yang Gagal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/M.Faisal)

Awal saya mendapatkan info terkait program konservasi penyu belimbing di Tambrauw ini berasal dari kakak tingkat saya di fakultas. Setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing dan jurusan, saya memutuskan untuk mengajukan diri bersama dua teman saya (Hans dan Arifat) untuk dapat melaksanakan PKL di pantai peneluran tersebut. Ketika akan turun lapangan, hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah bagaimana sebenarnya keadaan di lapangan, tempat saya akan melaksanakan PKL selama satu bulan ini? Untuk menjawab hal tersebut, kami mendapat pembekalan di Manokwari sebelum kami turun ke lapangan ke Tambrauw. Pembekalan tersebut dilaksanakan tanggal 15 Juni 2022. Kami diberikan informasi tentang cara identifikasi jenis penyu, kondisi di lapangan serta metode pengumpulan data terkait dengan judul PKL yang saya dan teman berdua punya. Judul PKL saya adalah “Dampak Perlindungan Sarang terhadap Sukses Penetasan Penyu Belimbing di Pantai Batu Rumah”. Dengan topik ini, saya membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan 3 metode, yakni (pagar, pakis 1 lapis + pagar, dan pakis 2 lapis + pagar) dengan sarang yang tidak dilindungi atau sarang kontrol.

Saya ditempatkan bersama tim lapangan di Pos Batu Rumah selama sebulan. Tim Batu Rumah terdiri dari 5 orang anggota yaitu Om Johni Mau (koordinator), M. Faisal (asisten) dan Bernadus Duwit (kru), Ayub Yekwam (tenaga patroli lokal) dan kk Yan Yessa (tenaga patroli lokal). Batu Rumah merupakan satu dari tiga Pantai Jeen Yessa (dua lagi yaitu pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi). Ketika sampai pertama kali di lokasi, saya sangat takjub dengan pemandangan yang sangat indah di sekitar pantai peneluran Jeen Yessa. Hamparan pasir yang luas dan juga ketika malam langit yang begitu indah dihiasi dengan bintang. Apalagi ketika pertama kali melihat induk penyu, saya sangat senang sekali karena dalam satu malam tersebut saya berkesempatan untuk melihat tiga jenis penyu yaitu: belimbing (Dermochelys coriacea), lekang (Lepidochelys olivacea) dan hijau (Chelonia mydas). Tim Batu Rumah menyatakan saya sangat beruntung dapat menemui tiga jenis penyu tersebut di satu malam. Terdapat empat jenis penyu yang bertelur di pantai Jeen Yessa, selain tiga penyu tadi, ada juga penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang tidak saya lihat di malam itu.

Jaeneth Bersama Bernadus Duwit sedang mengkelompokan telur
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Faisal)

Jaeneth Bersama Faisal sedang Menginput Data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Faisal)

Pelaksanaan PKL saya sangat terbantu dengan tim UNIPA di lapangan. Saya diajari cara mengukur top (kedalaman dari permukaan pasir ke bagian atas telur) dan bottom (kedalaman dari permukaan pasir ke bagian bawah telur) sarang, cara membedakan telur abnormal dan normal, membuat body pit yang baik ketika menggali sarang, dan cara melihat cangkang 50%. Beberapa keterampilan tersebut sangat berguna dalam pelaksanaan PKL saya, terutama pada tahapan pengumpulan data. Hampir setiap hari saya melakukan evaluasi sukses penetasan sarang bersama tim kecuali hari Sabtu dan Minggu. Dalam sehari terdapat  3 sampai 8 sarang yang dapat kami evaluasi untuk judul PKL saya. Walaupun tim di lapangan juga mempunyai target pekerjaan yang harus mereka laksanakan setiap hari, namun mereka sangat baik mau menyempatkan diri membantu saya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Perempuan Abun Berperan dalam Melestarikan Penyu Belimbing

Perempuan Abun Berperan dalam Melestarikan Penyu Belimbing

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh

Tanggal

1 September 2022

Pada musim peneluran April-September 2022 ini, kaum perempuan yang tinggal di sekitar pantai peneluran Jeen Syuab turut terlibat bersama tim lapangan kami dalam melindungi sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Kampung-kampung yang dimaksud adalah Kampung Wau dan Kampung Weyaf yang berada di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Mereka membantu memindahkan sarang-sarang penyu belimbing yang terancam ke dalam kandang relokasi yang telah tersedia.

Ancaman utama bagi sarang penyu di Pantai Jeen Syuab adalah tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.) yang memiliki akar yang mampu masuk ke dalam sarang penyu, menghisap nutrisi dalam telur-telur, dan membuat 95% telur penyu dari setiap sarang gagal menetas (baca selengkapnya di artikel sebelumnya tentang kandang relokasi)

Agustina Momo sedang memindahkan Sarang
ke dalam Kandang Relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Oktovina Jokson sedang memindahkan Sarang
ke dalam Kandang Relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Keterlibatan kaum perempuan sebagai tenaga relokasi sangat membantu tim di lapangan dalam mencapai target jumlah sarang yang dilindungi. Pembuatan kandang relokasi biasa dilakukan oleh kaum laki-laki, dan ketika waktunya mengisi sarang dalam kandang relokasi barulah perempuan ikut terlibat. Terdapat enam kandang relokasi yang dibuat di pantai Jeen Syuab. Setiap kandang relokasi rata-rata diisi oleh 5 orang, yakni 4 perempuan dan 1 laki-laki. Total terdapat 9 orang perempuan dan 7 orang laki-laki yang yang memindahkan sarang ke dalam keenam kandang relokasi, dan setiap perempuan yang terlibat membantu memindahkan sarang ke lebih dari satu kandang. Perempuan dalam memindahkan sarang biasanya bekerja secara berkelompok, dan mereka menunjukkan semangat yang tinggi. Dalam sehari kelompok perempuan ini dapat memindahkan 2 sampai 10 sarang penyu belimbing, yang dilakukan saat pagi atau siang hari dan kadang saat malam hari juga.

Para tenaga relokasi menerima upah per sarang yang mereka pindahkan. Upah yang diterima dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga, biaya sekolah,  atau kebutuhan keluarga lainnya. Melalui aktivitasnya para perempuan ini berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka dan berperan penting dalam upaya konservasi sumberdaya alam hayati di lingkungan sekitarnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Menilik Aktivitas Tim Pemberdayaan Masyarakat di Kampung Wau-Weyaf

Menilik Keseharian Tim Pemberdayaan Masyarakat di Kampung Wau-Weyaf

Penulis

Noviyanti, Abigail Lang

Tanggal

31 Agustus 2022

Akses untuk air bersih, listrik, dan jaringan internet tidak kami dapatkan semudah ketika berada di kota. Sesampainya di kampung, aktivitas pertama yang kami lakukan adalah menimba air bersih untuk dibawa ke rumah belajar. Aktivitas ini kami lakukan bersama-sama dengan anggota PM.

“Kami akan pergi menimba air dulu kaka”, kata seorang PM yang sudah siap dengan gerobak merah dan ember besar kosong di atasnya. Kami ikut membantu. Meskipun ini pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik dan kami semua perempuan, pekerjaan menimba air tetap dapat kami lakukan. Jarak rumah belajar dari air sumur terdekat sekitar 50 meter dan kami harus menimba air ember dan gerobak.

Pekerjaan tim outreach tidak terlepas dari social media yang sangat bergantung pada jaringan internet. Ada beberapa titik di pantai yang terhubung dengan jaringan internet. Akan tetapi, peringatan dari anggota PM adalah: “Pakai baju yang panjang-panjang saja kaka nanti agas (serangga penghisap darah di pantai) gigit”.

Kami pun menuju ke “tempat jaringan”, sambil melihat pemandangan yang begitu cantik dengan suara ombak yang mengaum kencang serta diselimuti cahaya matahari yang membuat alam ini semakin berwarna. Selepas itu, kami kembali ke rumah belajar untuk membantu PM mengajar anak-anak.

Pada malam hari, hanya beberapa rumah saja yang menyalakan genset untuk kebutuhan listrik, kami menumpang untuk mengisi baterai peralatan elektronik yang kami punya. Kami menyadari bahwa meskipun tidak ada listrik dan jaringan internet selama 24 jam, ada sisi lain yang diunggulkan yaitu sosialisasi antara sesama. Sebagai orang yang terbiasa hidup dengan segalanya serba ada dan gampang, tantangan yang kami hadapi kali ini terbalut dengan rasa canda dan tawa yang dilontarkan sesama kami di kampung. Kami mengusir jenuh dengan sesekali menggunakan permainan offline pada gawai kami.

Suasana di tempat tim mencari jaringan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Namun, kami selalu punya kegiatan bersama anggota PM, salah satunya membantu mengajar anak-anak di rumah belajar. Anak-anak pun senang melihat “ibu-ibu guru baru” yang tiba di kampung mereka. Antusias dari anak-anak ini terlihat ketika hal kecil apapun bisa mereka lontarkan untuk menanyakan kepada kami.

Setiap kami keluar rumah, kami sudah siap dengan “alat tempur” kami yaitu baju lengan panjang, celana panjang, kaos kaki, serta topi. Tapi tetap saja serangga kecil (agas) bisa masuk entah dari mana untuk mencari makanannya.

Nobar Hunter Killer serasa membawa kami ada di dalam kapal selam!

Proses pemasangan spanduk sebagai layar untuk menonton film
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sehari sebelum kami berangkat, kami melaksanakan nobar (nonton bareng) bersama-sama dengan masyarakat. Mulai dari pagi-pagi kami membersihkan balai kampung yang terletak sekitar 500 meter jauhnya dari rumah belajar. Sambil berpapasan dengan orang-orang di jalan kami pun mengajak semua orang untuk bisa bersama-sama bergabung dengan kami pada sore hari nanti. Segala persiapan kami tentunya sangat terbantu sekali dengan partisipasi dari warga kampung. Tujuan dari nobar ini adalah untuk menyebarkan informasi berupa video tentang aturan adat dan hukum tentang penyu dan tentang manfaat penyu bagi alam. Waktu menunjukkan pukul 6 sore, kami mulai menyiapkan segala peralatan yang akan kami gunakan untuk nobar. Antusias dari warga sekampung sangat terlihat. Selama pemutaran film berlangsung, cuaca sedang tidak bersahabat karena hujan deras tapi banyak sekali warga kampung yang datang. Hujan, kopi panas, teh hangat dan pisang goreng membuat kondisi semakin pas untuk menonton film.

Suasana saat pemutaran video pelestarian penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penyerahan hadiah kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah menonton video edukasi tentang penyu, melakukan tanya jawab bersama warga kampung, kami melanjutkan malam dengan film action berjudul Hunter Killer. Film fiksi ini berkisah tentang misi tim kapal selam Amerika Serikat untuk menyelamatkan presiden Rusia yang dikudeta oleh kelompok militan di negaranya. Film yang ditunggu-tunggu masyarakat kampung ini membuat balai kampung semakin ramai. Keseruan dari cerita ini begitu menegangkan, suara riuh rendah dari warga kampung ikut meramaikan suasana. Tak hanya mereka, kami juga ikut terbawa suasana mengikuti alur ceritanya. Cerita yang seru dan tidak membosankan ini, sampai membuat kami tidak sadar bahwa film ini berkisar 2 jam. Warga kampung masih berharap ada film berikutnya, tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, kami pun harus siap-siap karena besok akan kembali ke Manokwari di pagi hari.

Banyak sekali pengalaman baru yang kami alami di kampung Wau-Weyaf dan di Pantai Jeen Syuab. Kami sangat senang karena pengalaman ini membuat wawasan kami menjadi semakin bertambah.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Cerita dari Lapang: Memilih Ombak yang Tepat di Pantai Jeen Syuab

Cerita dari Lapang : Memilih Ombak yang Tepat di Pantai Jeen Syuab

Penulis

Abigail Lang, Noviyanti

Tanggal

26 Agustus 2022

“Mengatasi masalah tanpa masalah” perasaan itulah yang dirasakan Tim Outreach ketika turun ke lapangan pada bulan 30 Juli – 7 Agustus kemarin. Perencanaan dalam perjalanan kami sudah cukup matang, namun dari transportasi kapal yang akan kami naiki, belum ada kepastian. Kurang lebih 3-4 hari sebelumnya, Tim Outreach mendapati informasi bahwa kapal akan beroperasi pada hari Sabtu, 30 Juli 2022. Keberangkatan kali ini adalah suatu penantian yang berharga.

Tiba harinya di mana kami, Tim Outreach dan Tim Pemantauan dan Perlindungan Sarang Penyu akan berangkat dengan destinasi yang berbeda-beda. Tim menuju Kampung Wau adalah Abigail, Liya, Novi sebagai Tim Outreach serta Kaka Yairus, Osorio, Yonas, dan Mayustilo; sedangkan Yusup, Ibu Deasy dan Ifah (mahasiswa PKL) akan menuju kampung Resye dan akan melanjutkan perjalanan ke Pantai Jeen Yessa. Perjalanan dari Manokwari ke Kampung Wau membutuhkan waktu 1 hari 1 malam menggunakan Kapal Sabuk Nusantara 112. Hari Minggu, 31 Juli 2022, kami tiba di rumah belajar dan disambut baik oleh Tenaga Pendamping Masyarakat (PM) yaitu Kaka Heydi dan Kaka Yana.

Pertama Kali melihat Tukik dan Induk Penyu Belimbing

Berfoto Bersama “Kru Penyu” Sebelum Kembali ke Kampung Wau
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bukan hanya pertama kali melihat penyu, tetapi ini juga menjadi pengalaman pertama kami melihat langsung aktivitas teman-teman kami yang bekerja di Pantai Peneluran. Senin pagi ketika cuaca di laut cukup bersahabat, kami dijemput dengan perahu motor oleh tim Pemantauan Penyu. “Kalau saya bilang ‘lompat’, langsung cepat-cepat keluar dari perahu e!”, begitu pesan Kaka Petrus, Koordinator Pantai Jeen Syuab, yang saat itu mengendalikan perahu motor. Sebelumnya, Yana bercerita bahwa turun dari perahu di pantai Wermon sangat unik sekali. “Terlambat sedikit nanti air masuk perahu kaka!”, begitu cerita Yana. Perahu motor ini tidak langsung menuju pantai, Kaka Petrus harus memilih “ombak yang tepat” agar perahu kami tidak terendam air. Teman-teman yang berjaga di pantai juga harus sudah siap dengan kayu-kayu untuk bantalan perahu agar perahu tidak terseret ombak. Begitu perahu tiba di pantai, kami harus cepat melompat keluar dan kami harus segera mendorong perahu menjauhi garis pasang laut. Kami yang terbiasa bekerja dengan laptop di kantor menjadi kagum dengan pekerjaan teman-teman di pantai.

Melepas Tukik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tukik Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sore harinya kami membantu melepas tukik penyu belimbing. Ukurannya kira-kira kurang dari 1 telapak tangan. Walaupun kecil, tapi sirip-sirip mereka sangat kuat. Teman-teman berkata bahwa tukik yang menetas harus segera dilepas ke laut. Saat di laut, tukik ini akan terus-menerus berenang yang disebut swimming frenzy. Untuk bisa berenang di laut dan menghindari predator, tukik sangat bergantung dari energi dari kuning telur di tubuhnya sampai nanti mereka bisa bertemu makanannya. Itulah alasan tukik harus segera dilepas. Fakta menarik kan?! Setelah itu kami melihat teman-teman melakukan evaluasi sarang relokasi. Sambil melihat mereka bekerja, kami bertanya banyak hal tentang kandang relokasi. Sangat menarik sekali bisa belajar langsung di alam bersama teman-teman yang sangat mengerti tentang penyu.

Malam hari kami diajak melihat penyu. Perjalanan dari pos menuju penyu yang sedang naik bertelur sekitar 1.2 kilometer. Dalam gelap, kami hanya boleh menyalakan lampu merah agar penyu tidak terganggu. Besar sekali! Itu yang ada di pikiran kami ketika melihat penyu betina yang sedang naik bertelur. Bahkan kepalanya lebih besar dari kepala kami. Kami bersyukur sekali bisa bertemu hewan purba yang katanya satu angkatan dengan dinosaurus.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Jaga alam bawah laut: Kolaborasi mitra konservasi untuk pemantauan kesehatan karang

Jaga alam bawah laut: Kolaborasi mitra konservasi untuk pemantauan kesehatan karang

Penulis

Habema Monim

Tanggal

24 Agustus 2022

Memimpin pertemuan tiap malam untuk membahas temuan monitoring dan rencana monitoring besok
(Foto : David_Econusa)

Monitoring kesehatan karang merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk melihat kondisi terkini tutupan karang dan biomassa ikan. Kegiatan ini dilakukan setiap dua tahun untuk melihat perubahan yang terjadi. Monitoring kesehatan karang kali ini sangat berbeda bagi saya karena pertama kali saya dipercayakan sebagai ketua tim untuk mengkoordinir jalannya monitoring yang menurut saya ini adalah kegiatan yang sangat besar dan punya dampak besar bagi pengelolaan perairan. Saya juga merasa sangat beruntung karena monitoring dilakukan di 3 kawasan yaitu Misool Utara, Maksegara dan Distrik Bikar -tepatnya Pulau Dua di Kampung Werur-. Sebelum pelaksanaan monitoring ini, pada tahun 2021 saya juga ikut serta dalam pelaksanaan survei awal pada ketiga lokasi ini bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara.

Secara keseluruhan pelaksanaan monitoring dilakukan selama 18 hari, yaitu dari tanggal 15 Juni hingga 1 Juli 2022. Misool Utara dan Maksegara merupakan lokasi yang sudah pernah dilakukan monitoring sebelumnya. Berbeda dengan Pulau Dua di Kampung Werur, Distrik Bikar merupakan lokasi baru yang dilakukan monitoring kesehatan karang; dengan kata lain data yang dikumpulkan adalah data awal.

Kami menggunakan KLM Eco Explorer sebagai transportasi utama untuk berpindah tempat; dengan rute Misool Utara, Maksegara, kemudian menuju Werur. Sedikit perbedaan dengan monitoring sebelumnya, kami mengundang media telekomunikasi, salah satu media TV Nasional yaitu SCTV untuk meliput seluruh kegiatan monitoring. Tujuannya agar upaya perlindungan alam yang kami lakukan di BLKB dapat dilihat dan dilakukan juga di tempat lain di seluruh wilayah Indonesia.

Seperti biasa, dalam monitoring ada pembagian tugas bagi pengamat, ada yang bertugas membentang transek, mengambil data karang, mengambil data ikan, menjadi buddy bagi pendata ikan dan satu orang lagi mendokumentasi aktivitas penyelaman. Selain pengamat yang menyelam, satu orang lagi bertugas di atas speedboat untuk mengukur parameter kualitas fisik kimia perairan.

Vio melakukan scan PIT tag pada penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setiap malam seusai monitoring, tim berkumpul dan melaporkan hasil temuan selama monitoring, mulai dari temuan karang, ikan hingga temuan-temuan lain di sekitar lokasi penyelaman. Setelah melaporkan hasil temuan, tim akan menyiapkan rencana monitoring besok, mulai dari titik penyelaman hingga pembagian tim serta pembagian tugas selama monitoring besok. Tidak lupa, tim juga mengentri data hasil pengamatan agar data yang diambil tidak menumpuk saat monitoring selesai dilakukan.

Yang unik juga dari monitoring kali ini adalah pengamatan karang menggunakan dua metode yang berbeda yaitu menggunakan metode PIT (Point Intercept Transect) dan metode UPT (Underwater Photo Transect) dengan otomatis pengambil data karang dalam satu tim ada dua orang, keuntungan dari penambahan metode ini yaitu ada anggota tim yang menambah pengalaman maupun pengetahuan baru untuk metode yang baru yaitu metode UPT.

Selama mengisi waktu kosong saat kapal berpindah tempat dari satu kawasan ke kawasan lain, tim mendapat tambahan ilmu dari ahli yang juga ikut dalam monitoring. Yang pertama adalah pelatihan pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan penyelaman yang diajarkan oleh Pak Rizya dari YKAN. Yang kedua adalah pelatihan membuat video dokumentasi, dimulai dari menyiapkan ide, teknik mengambil video, dan teknik mengedit video. Semua ini diajarkan oleh reporter senior SCTV, Pak Akhem.

Monitoring akan dilakukan lagi pada tahun 2024 di lokasi yang sama. Apabila Anda tertarik melihat dokumentasi yang dibuat tim SCTV, anda dapat pada dua video YouTube di bawah ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Menjembatani jurang digital, UNIPA mengenalkan komputer untuk anak-anak di TP Jeen Womom

Menjembatani jurang digital, UNIPA mengenalkan komputer untuk anak-anak di TP Jeen Womom

Penulis

Alberto Yonathan Tangke Allo, Kartika Widya Zohar

Tanggal

22 Agustus 2022

Mungkin sebagian besar dari kita tidak bisa lepas dari laptop/komputer dalam aktivitas sehari-hari. Namun faktanya, akses terhadap laptop/komputer tidak bisa dinikmati semua masyarakat kampung tempat kami melakukan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di TP Jeen Womom. Menjembatani jurang digital sangatlah penting, mengingat bahwa memastikan kesetaraan akses pada informasi dan pengetahuan adalah salah satu target Sustainable Development Goals pada poin ke-9.

Pada tahun 2021, pembelajaran komputer di Rumah Belajar kami lakukan sebagai pilot project di Kampung Resye. Hal ini didasari dari masukkan masyarakat Kampung Resye pada saat evaluasi akhir tahun 2020 untuk melakukan pengenalan komputer dan software office kepada anak-anak mereka. Respon yang sangat baik kami peroleh dari masyarakat di kampung ini. Bahkan pada evaluasi akhir tahun 2021, masyarakat dari 4 kampung lainnya (Wau, Weyaf, Syukwo, dan Womom) menyampaikan hal yang sama, yaitu meminta pembelajaran komputer untuk anak-anak mereka.

Belajar Komputer di kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar Komputer di kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pembelajaran komputer yang diajarkan adalah tingkat dasar dengan tujuan mengenalkan komputer dan cara pengoperasiannya sedini mungkin kepada anak usia sekolah. Untuk membantu menilai kemampuan peserta didik, pada tahun 2022 terdapat 8 sub indikator yang meliputi cara menyalakan/mematikan komputer, mengetahui bagian-bagian hardware (perangkat keras), cara membuka dan menutup program Ms.Office, dan cara menyimpan file serta mengoperasikan secara dasar 3 program pada Ms. Office (Ms.Word, Ms.Power Point, dan Ms.Excel). Terdapat empat kategori penilaian yaitu BISA (B), KURANG BISA (KB), TIDAK BISA (TB), dan BELUM DIAJARKAN (0).

Pada periode pertama tahun ini kami mendata sedikitnya terdapat 25 anak yang rutin mengikuti pembelajaran komputer dan dapat dilakukan evaluasi perubahan kemampuannya. Anak-anak yang datang ke rumah Belajar mengoperasikan komputer secara bergantian berdasarkan sub indikator pembelajaran yang telah disusun. Pada umumnya pembelajaran komputer dilakukan 2 – 3 kali/seminggu untuk semua anak di rumah belajar; ini tidak termasuk jika ada anak-anak yang datang secara individu dan ingin belajar komputer.

Anak-anak Kampung Syukwo belajar komputer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kendala utama dalam pelaksanaan pembelajaran komputer adalah keterbatasan listrik. Umumnya sumber listrik di kampung bergantung pada ketersediaan bahan bakar dan keadaaan mesin pembangkit listrik yang digunakan untuk seluruh kampung. Di rumah belajar terdapat sel surya (Solar cell) sebagai pembangkit listrik. Sayangnya jika paparan cahaya matahari berkurang akibat hujan, maka daya pada sel surya tidak cukup kuat untuk menyalakan komputer.

Untuk melihat perkembangan kemampuan setiap anak, kami merencanakan melakukan pre-test (telah dilakukan bulan April), uji perkembangan kemampuan sementara (telah dilakukan bulan Juni), dan uji perkembangan kemampuan akhir (direncanakan bulan September). Hasil evaluasi saat ini sedang kami olah. Namun secara umum kami mendapat kabar baik! Kami mendengar pengumuman yang disampaikan setelah Ibadah Minggu Pagi di Gereja di Kampung Resye bahwa anak-anak dari Kampung Resye lebih baik dalam mengoperasikan komputer dibandingkan anak-anak di kampung lain saat assessment bagi siswa Sekolah Dasar kelas 5. Assessment ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tambrauw di Sausapor. Menurut pengumuman tersebut, anak-anak ini lebih baik karena mereka telah mengenal komputer di Rumah Belajar UNIPA. Ini berita yang mengharukan dan menyenangkan bagi kami.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Conservation Goes to School

Keseruan Tim Outreach Mengunjungi Sekolah-sekolah di Kabupaten Manokwari

Keseruan Tim Outreach Mengunjungi Sekolah-sekolah di Kabupaten Manokwari

Penulis

Naqliya Arum Permata, Noviyanti

Tanggal

3 Agustus 2022

Apa jadinya jika generasi muda tidak pernah lagi melihat penyu? Tentu bagi kita yang hari ini masih diberi kesempatan bertemu penyu, pertanyaan ini mungkin tidak pernah muncul di benak kita. Sulit sekali membayangkan jika suatu hari nanti generasi muda harus pergi ke museum dan hanya melihat penyu yang sudah diawetkan bersanding bersama teman “satu angkatan”-nya, dinosaurus.

Suasana saat pemutaran video sasi dan undang-undang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Berbekal kalender dan video yang menceritakan tentang penyu dan habitat peneluran di Taman Pesisir Jeen Womom, Tim Penjangkauan Masyarakat (Tim outreach) LPPM UNIPA bersama dosen-dosen UNIPA mengunjungi sekolah-sekolah di Manokwari. Dalam dua minggu di bulan Juli 2022, tim outreach melakukan kegiatan Sosialisasi Penyu dan Habitat Peneluran ke beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Manokwari. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di BLKB tentang pelestarian penyu melalui kegiatan penjangkauan. Sekolah-sekolah yang kami kunjungi adalah SD YPK Petrus Kafiar Amban Pantai, SMA YPK Immanuel Pasir Putih, SMP Negeri 13 Pasir Putih dan SD Inpres 66 Taman Ria.

Kegiatan sosialisasi ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan, salah satunya adalah pemutaran video yang menceritakan siklus hidup penyu, makanan penyu, manfaat penyu bagi laut dan manusia, bahaya makan telur dan daging penyu, peraturan adat dan undang-undang perlindungan penyu, dan aktivitas perlindungan penyu yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Taman Pesisir Jeen Womom. Yang menarik adalah, pengisi suara video ini sebagian besar kami buat dalam dialek Papua Melayu. Dari hasil pengamatan kami, para siswa tampak sangat menyukai gambar-gambar dalam video apabila digabungkan dengan pesan-pesan lisan menggunakan dialek Papua Melayu.

Setelah menonton video dan mendengarkan materi yang dibawakan oleh narasumber, kami mengajak para siswa bermain permainan Ular Tangga yang telah kami modifikasi. Permainan ini kami sebut dengan permainan Dunia Penyu. Untuk siswa Sekolah Dasar, Ular Tangga yang dimainkan adalah Ular Tangga dengan ukuran 2X2 meter, sedangkan untuk siswa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, mereka memainkan permainan Ular Tangga berukuran 30 x 30 cm. Melalui kegiatan ini juga, kami membagikan kalender dan informasi tentang penyu dalam bentuk agenda dan gantungan kunci.

Penyerahan agenda kepada siswa-siswi SMP Negeri 13 Pasir Putih
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penyerahan infografis kepada guru SMA YPK Immanuel Pasir Putih
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Informasi tentang penyu yang ada pada agenda antara lain adalah jenis-jenis penyu yang naik bertelur di Papua Barat beserta status konservasinya, perbandingan ukuran penyu belimbing dengan manusia dewasa, makanan penyu belimbing dan perannya di alam, siklus hidup penyu belimbing, dan juga aktivitas manusia yang menjadi ancaman kelestarian penyu. Buku agenda ini kami bagikan kepada siswa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang kami kunjungi.

Selain agenda, kami juga memberikan kalender dan informasi tentang penyu dalam bentuk gantungan kunci. Gantungan kunci ini kami bagikan kepada siswa Sekolah Dasar. Pada gantungan kunci, informasi yang kami bagikan antara lain adalah perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu yang naik bertelur di Papua Barat, siklus hidup penyu belimbing dan perbandingan tukik dan penyu dewasa.

Melalui kegiatan penjangkauan ini kami berharap semakin banyak generasi muda yang mengerti tentang pentingnya menjaga penyu di alamnya. Kami mengajak mereka mendukung upaya pelestarian penyu dengan melakukan hal-hal kecil seperti tidak membeli telur dan daging penyu dan membuang sampah pada tempatnya. Semoga upaya ini berkontribusi dalam upaya pelestarian penyu, sehingga generasi mendatang masih bisa melihat penyu hidup di alamnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Cocomesh sebagai Alternatif Perlindungan Sarang Penyu Belimbing

Cocomesh sebagai Alternatif Perlindungan Sarang Penyu Belimbing

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh

Tanggal

31 Juli 2022

Menjawab masalah kekurangan daun pakis (Cycas sp.) di salah satu pantai di wilayah Jeen Yessa yaitu Pantai Wembrak, dimana daun pakis ini digunakan oleh kru pemantauan penyu dan perlindungan sarang untuk menaungi sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang terancam suhu pasir tinggi. Salah satu mahasiswa Universitas Papua yang bernama Elisa Secsio Hendra Putra atau sering disapa Sesar dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) kini melakukan penelitian untuk menjawab persoalan tersebut. Penelitian dari Sesar telah berlangsung selama hampir dua bulan mulai dari bulan Juni 2022 dan masih akan berlangsung sampai musim peneluran penyu belimbing di Jeen Yessa berakhir di bulan September.

Pemasangan Perlindungan Cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Pembuatan Anyaman Cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Sesar telah melakukan pemasangan cocomesh yang tersebar di wilayah pantai Wembrak, terdapat enam sarang penyu belimbing sebagai percobaan dan beberapa anyaman juga digunakan untuk meninjau kemampuan cocomesh dalam merendahkan suhu pasir. Tali sabut kelapa dianyam menjadi bentuk persegi panjang dengan menggunakan kayu cetakan dengan bentuk yang sama. Satu anyaman sabut kelapa berukuran 2,5 x 1,3 meter dikerjakan Sesar dalam kurun waktu 6-12 jam. Salah satu tantangan bagi Sesar dalam pembuatan cocomesh adalah tidak banyak tempat di Manokwari yang menjual tali sabut kelapa dalam jumlah yang mencukupi sebagai bahan anyaman, akhirnya dia harus mendatangkan dari luar Papua.

Penelitian Sesar di pantai peneluran penyu ini dibantu oleh kru pemantauan penyu dan perlindungan sarang (LPPM UNIPA) di lapangan, khususnya oleh tim Wembrak. Terdapat 6 orang yang terdiri dari koordinator pantai, tenaga lapangan, tenaga magang, dan tenaga patroli lokal. Penelitian ini akan menghasilkan informasi tentang seberapa efektif naungan cocomesh dalam perlindungan sarang. Jika berhasil, anyaman sabut kelapa ini dapat diadopsi tim di lapangan sebagai alternatif pengganti naungan dari daun pakis yang selama ini digunakan untuk melindungi sarang penyu. Jika tidak berhasil, data ini akan sangat berguna dalam pengembangan metode-metode perlindungan sarang yang dapat digunakan di masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Dunia Penyu: Sebuah Permainan Baru untuk Mengenal Kehidupan Penyu di Alamnya

Dunia Penyu: Sebuah Permainan Baru untuk Mengenal Kehidupan Penyu di Alamnya

Penulis

Noviyanti, Abigail Lang

Tanggal

29 Juli 2022

Papan permainan “Dunia Penyu”
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

“Siapa yang tahu main ular tangga?” begitu seruan dari kami tim penjangkauan masyarakat (outreach) ketika permainan ini akan kami gunakan untuk mengenalkan kehidupan penyu. Semua siswa baik SD, SMP, maupun SMA dengan antusias menjawab sambil mengangkat tangan.

Semua anak bahkan kita orang dewasa pasti sudah familiar dengan permainan ular tangga. Ular tangga adalah permainan tradisional yang menggunakan dadu untuk menentukan berapa langkah yang harus dijalani bidak. Permainan ini termasuk dalam kategori “board game” atau permainan papan sejenis dengan permainan halma, ludo dan sebagainya.

Bermain sambil belajar adalah salah satu media yang tepat ketika melakukan penjangkauan masyarakat; khususnya di bidang konservasi. Melalui permainan, kita dapat memberikan informasi yang dikemas dengan gaya yang ringan sehingga peserta lebih mudah memahami materi yang kita sampaikan.

Untuk itu, kami memodifikasi permainan ular tangga dan kami menyebutnya menjadi “Dunia Penyu”. Mari kita simak bagaimana kami memodifikasi permainan ini!

  1. Kami membuat kotak-kotak kecil sejumlah 36 buah. Pada beberapa kotak kami menyelipkan informasi mengenai ancaman-ancaman yang dihadapi tukik dan penyu di pantai peneluran maupun di laut.
  2. Selain informasi, kami menyelipkan beberapa pertanyaan seperti: “sebutkan ancaman tukik di pantai peneluran!”. Jika pemain bisa menjawab, mereka boleh memindahkan bidak naik ke angka yang lebih besar mengikuti “tangga” (dalam permainan ini kami memodifikasi tangga menjadi gambar deretan tukik yang naik ke kotak di atasnya).
  3. Selain itu, kami juga menyelipkan gambar sedotan plastik yang merupakan pengganti “ular”. Kepala sedotan menjadi pengganti kepala ular. Apabila bidak pemain berada di kotak yang ada kepala sedotan, maka mereka harus turun ke kotak lain mengikuti ujung sedotan tersebut. Pada kotak yang memiliki gambar kepala sedotan, kami menyelipkan informasi mengenai ancaman yang dihadapi penyu seperti: “Telur penyu terendam air pasang”; atau “Penyu mati karena terjerat jaring di bawah laut”.
  4. Permainan ini kami cetak di pada kertas spanduk berukuran 2 x 2 meter dan pada kertas glossy berukuran 30 x 30 cm. Papan permainan pada kertas spanduk kami gunakan ketika kami mengunjungi siswa SD dan papan permainan berukuran lebih kecil kami gunakan ketika kami mengunjungi siswa SMP dan SMA.

Siswa SMP Negeri 13 Pasir Putih saat memainkan permainan Dunia Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Permainan ini didesain oleh salah satu tim kami, Naqliya Arum Permata. Informasi dan beberapa modifikasi dalam papan permainan dibuat oleh Noviyanti dan Naqliya menurut sumber yang kredibel. Gagasan permainan ini kami dapatkan dari teman-teman di Coral Triangle Center yang juga pernah memodifikasi permainan ular tangga menjadi Permainan Race to Recycle.

Permainan menarik ini mengenalkan kepada para pemain apa saja ancaman-ancaman yang dihadapi oleh tukik maupun penyu. Kami berharap dengan adanya permainan ini, para pelajar yang kami jangkau lebih termotivasi untuk menjaga kelestarian penyu di alamnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Cerita dari Lapang: Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom Tahun 2022

Cerita dari Lapang: Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom Tahun 2022

Penulis

Kartika Zohar, Fitryanti Pakiding

Tanggal

26 Juli 2022

Program Pemberdayaan Masyarakat yang dilaksanakan di kampung-kampung di sekitar Taman Pesisir (TP) Jeen Womom oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melalui Program Sains untuk Konservasi (S4C) merupakan bagian yang erat kaitannya dengan upaya konservasi penyu di pantai ini. TP Jeen Womom di Kabupaten Tambrauw Papua Barat merupakan rumah bagi spesies penyu terbesar yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dan tiga spesies penyu lainnya yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Secara administrasi, TP Jeen Womom diapit oleh 5 kampung yang termasuk ke dalam dua distrik. Kampung Wau, Weyaf, dan Syukwo (dulu Warmandi) terdaftar menjadi bagian dari Distrik Abun, sedangkan Kampung Womom dan Kampung Resye (dulu Saubeba) telah menjadi bagian dari Distrik Tobouw (sebelumnya Distrik Abun). Program pemberdayaan yang dilakukan di kampung-kampung dalam bentuk peningkatan perekonomian melalui pengolahan dan kerajinan tangan serta melalui pendidikan (baik formal maupun informal), salah satunya kegiatan Rumah Belajar.

Ketua Program Sains untuk Konservasi Ibu Fitryanti Pakiding sedang menjelaskan kegiatan produksi minyak kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Dokumentasi diskusi bersama dengan Sekretaris Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Pada pertengahan tahun ini (6-8 Juli 2022), Program S4C bersama Ketua LPPM UNIPA dan Wakil Rektor IV UNIPA (Bidang Perencanaan dan Kerjasama UNIPA) serta para mitra mengunjungi kampung-kampung dan pantai peneluran TP Jeen Womom. Kunjungan ini merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi pelaksanaan program yang telah dilakukan juga sebagai upaya untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi TP Jeen Womom. Para mitra yang terlibat dalam perjalanan ini yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat bersama Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) TP Jeen Womom, juga Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua Barat. Rombongan berkunjung ke 3 lokasi yang menjadi pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat yaitu Kampung Resye (dulu Saubeba), Kampung Womom, dan Kampung Wau-Weyaf.

Rombongan banyak berdiskusi dan melihat secara langsung lokasi pelaksanaan kegiatan. Selain berkenalan dengan setiap anggota tim pada setiap lokasi, rombongan juga berdiskusi bagaimana proses produksi minyak kelapa dan jumlah produksi setiap bulan serta tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program di lapang. Kunjungan rombongan untuk monitoring dan evaluasi telah memberikan masukan-masukan segar untuk pelaksanaan program ke depannya serta peluang-peluang kerjasama untuk meningkatkan kualitas dari pelaksanaan program pada setiap lokasi. Harapannya kunjungan ini juga dapat menjadi kegiatan rutin untuk lebih meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi di TP Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya