
“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota
Penulis
Habema Monim
Tanggal
05 April 2026
“Ma… kalau saya jadi dive master dan jadi dive guide, Mama setuju kah tidak?”
“Setuju sekali!”
Itulah sepenggal percakapan hangat antara sepasang suami istri di sebuah rumah sederhana di pesisir Kampung Namatota, Kaimana. Percakapan yang menjadi awal dari sebuah mimpi besar.
Selama lima hari, pada 15 – 19 April 2026, saya bersama tim melaksanakan kegiatan monitoring kesehatan karang atau yang dikenal sebagai Reef Health Monitoring (RHM) di perairan sekitar Kampung Namatota. Tim kami terdiri dari empat tenaga ahli dan lima tenaga lokal. Salah satu dari tenaga lokal adalah Jen, yang akrab disapa Om Jen.
Om Jen saat terlibat dalam briefing tim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)
Foto bersama om Jen dan tim RHM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)
Om Jen merupakan salah seorang penyelam dari kelompok POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) yang dibentuk di Kampung Namatota. Ini adalah pertama kalinya ia terlibat dalam kegiatan RHM (Reef health monitoring). Pengalaman tersebut memberinya banyak pelajaran baru, meskipun tidak tanpa tantangan.
“Awalnya saya takut salah,” ujar Om Jen. “Saya juga masih takut menyelam di tempat baru, apalagi yang dalam dan ada gua. Tapi justru itu jadi pengalaman yang baik untuk saya.”
Rasa takut itu perlahan berubah menjadi semangat belajar. Saat saya menanyakan harapannya ke depan, Om Jen menyampaikan keinginannya dengan penuh antusias. “Pertama, saya ingin menyelam lebih baik lagi, karena saya rasa masih kurang,” ujarnya. “Saya juga lihat kakak-kakak pegang kamera, foto dan video di bawah laut. Saya ingin ke depan bisa begitu juga, bisa mendokumentasikan keindahan bawah laut Namatota.”
Om Jen saat membantu tim dalam pengisian tabung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)
Om Jen saat bersiap untuk melakukan penyelaman
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)
Ia juga menceritakan pengalamannya saat menyelam bersama salah satu anggota tim. “Selama menyelam, saya selalu jadi buddy dengan Kakak Bema. Dia selalu pegang papan tulis, ada kertas dan di kertas itu ada tulisan tapi ada kotak-kotak juga di dalamnya, lalu kakak Bema selalu mencatat. Saya sering intip dari belakang dan penasaran, apa yang dicatat. Jadi saya juga ingin bisa belajar mencatat data seperti itu, sekarang memang saya hanya gulung-gulung transek saja tapi kalau ada RHM lagi, saya tidak hanya lihat-lihat lagi, tidak gulung-gulung transek saja tapi bisa ikut ambil data.”
Lebih dari itu, Om Jen memiliki cita-cita yang besar, yaitu menjadi seorang dive master bersertifikat resmi. Baginya, sertifikasi bukan hanya sekadar pengakuan, tetapi juga sebuah peluang. “Kalau saya sudah punya sertifikat, saya bisa jadi guide, bisa foto-foto bawah laut, bisa ambil data. Kalau ada kapal wisata datang, saya juga bisa ikut sebagai guide.”
Saat ditanya pesannya untuk rekan-rekan lain di kampungnya, Om Jen menjawab dengan tegas namun penuh harapan. “Jangan jadi penonton saja. Ini tempat kita, ini laut kita. Kakak-kakak yang datang ini membantu mengangkat potensi tempat kita. Setelah itu, tugas kita yang kelola. Jadi mari kita belajar dari pengalaman yang ada dan bergerak maju.”
Om Jen saat membantu tim memasang transek pengamatan
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)
Om Jen saat membantu tim memasang transek pengamatan
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)
Di akhir percakapan, Om Jen kembali mengingat momen sederhana yang justru menjadi sumber motivasi terbesarnya. “Satu kali saya duduk di teras rumah dengan maitua (istri). Lalu saya tanya, Ma… kalau saya jadi dive master dan jadi guide, mama setuju kah tidak? Dan dia jawab, setuju sekali!”. Jawaban singkat itu menjadi dorongan besar bagi Om Jen untuk terus melangkah, mengejar mimpi, dan tumbuh bersama laut yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
