Kategori
Monitoring Ekologi Training

Pelatihan Data Analisis Untuk Monitoring Dan Evaluasi Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung

Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 26-30 September 2016, Universitas Papua (UNIPA) melalui Divisi Center of Excellence untuk Pembangunan Berkelanjutan bekerjasama dengan WWF-US mengadakan “Bird’s Head Seascape Monitoring and Evaluation Leadership Training-Data Analysis” yang merupakan lanjutan kegiatan Menguak Prinsip Penting dalam Merancang Penelitian pada Bulan Januari di Waiwo, Kabupaten Raja Ampat.

Kegiatan ini diikuti oleh 20 Peserta diantaranya staf Divisi Center of Excellence UNIPA yaitu Fitryanti Pakiding, Paulus Boli, Dedi Parenden, Dariani Matualage, Dahlia Menufandu, Riris Sialahi, Maya Paembonan, Joice Panguliman, Ice Silalahi, Semuel Wospakrik, dari WWF-ID yaitu Amkieltiela, Evi Nurul lhsan, lgnatia Dyahapsari, dari UNPATTI yaitu Fanny Odang, dari Cl yaitu lsmu Hidayat, Defy Pada, Abdy Hasan, dari TNC yaitu Purwanto, Awaludionnoer don 3 Trainer dari WWF US yaitu Gabby Ahmadia, Jill Harris don Phillip Mohebalian

BHS Ekologi

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Adapun Kegiatan ini merupakan salah satu Program Monitoring don Evaluasi Jejaring Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung yang bertujuan memberikan ketrampilan analisis data statistik untuk penyusunan laporan teknis dalam setiap hasil pelaksanaan Monitoring don Evaluasi pada Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung.

Banyak pengetahuan baru yang diperoleh dari pelatihan ini. Beberapa diantaranya adalah mampu memahami bagaimana mendiskripsikan ringkasan statistic (statistic summary), penggunaan metode statistika yang benar, dengan melakukan analisis statistik menggunakan uji-uji statistika seperti t-test. ANOVA, regresi, korelasi, regresi logitik, penggunaan software sigmaplot dalam menginterpretasikan hasil pengolahan.

Kategori
Monitoring Sosial Training

Pelatihan Analisis Data Wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut Kepala Burung

Pelatihan Analisis Data Wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut

Kepala Burung

Dalam metode ilmiah, bagian terpenting yang dilakukan adalah mengolah data. Data mentah yang dikumpulkan tidak akan ada gunanya jika tidak diolah. Dengan adanya pengolahan data, data tersebut dapat diartikan sebagai proses untuk mengambarkan dan memberikan informasi dari suatu penelitian. Beberapa tingkatan kegiatan perlu dilakukan seperti pengambilan, pemeriksaan, penginputan, pengolahan data menggunakan komputer serta analisis data.

Center of Excellence untuk Pembangunan Berkelanjutan merupakan salah satu Divisi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIPA yang menjadi pusat data dan informasi untuk mendorong berkembangnya penelitian dan proses pengambilan kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan. Pada Bulan Oktober 2016, UNIPA bekerjasama dengan WWF-US melaksanakan “Traning Analisis Data Daerah Wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat”.

Kegiatan tersebut berlangsung selama 5 hari yang dimulai dari tanggal 3-7 Oktober 2016, yang bertujuan memberikan keterampilan analisis statistik untuk mendukung penyusunan laporan teknis pada data sosial yang dikumpulkan di wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut Kepala Burung.

Kegiatan ini diikuti oleh 8 peserta yang terdiri dari 6 peserta dari staff CoE LPPM UNIPA, 1 peserta WWF Indonesia dan 1 peserta Universitas Pattimura dengan pembicara dari WWF US Phillip Mohebalian, Ph.D.

Adapun tujuan dari Training ini adalah memberikan keterampilan analisis statistik untuk mendukung penyusunan laporan teknis pada data sosial yang dikumpulkan di wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut Kepala Burung, yang mana diharapkan setelah pelatihan ini peserta dapat mengetahui dasar-dasar Metode Quality Assurance Quality Control (QAQC) data, mengetahui metode analisis data statistik yang diperlukan untuk mendokumentasikan status dan trend kesejahteraan manusia dalam wilayah Kawasan Konservasi Perairan menggunakan Sigmaplot.

(Oleh: Ice K. Silalahi)

Kategori
Monitoring Sosial Training

Pelatihan Analisis Data untuk Monitoring dan Evaluasi Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung, Papua

Pada tanggal 26-30 September 2016, Universitas Papua (UNIPA) melalui Divisi Center of Excellence untuk Pembangunan Berkelanjutan bekerjasama dengan WWF-US mengadakan “Bird’s Head Seascape Monitoring and Evaluation Leadership Training-Data Analysis”. Kegiatan ini merupakan lanjutan kegiatan Menguak Prinsip Penting dalam Merancang Penelitian pada Bulan Januari 2016 di Waiwo, Kabupaten Raja Ampat.

BHS monitoring

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Kegiatan ini diikuti oleh 20 Peserta yang berasal dari Divisi Center of Excellence UNIPA (Fitryanti Pakiding, Paulus Boli, Dedi Parenden, Dariani Matualage, Dahlia Menufandu, Riris Silalahi, Maya Paembonan, Joice Panguliman, Ice Silalahi, Semuel Wospakrik), WWF Indonesia (Amkieltiela, Evi Nurul lhsan, lgnatia Dyahapsari), Universitas Pattimura (Fanny Odang), Conservation lnternational (lsmu Hidayat, Defy Pada, Abdy Hasan),TNC (Purwanto, Awaludionnoer) dan trainer dari WWF US (Gabby Ahmadia, Jill Harris dan Phillip Mohebalian).

Adapun Kegiatan ini merupakan salah satu Program Monitoring dan Evaluasi Jejaring Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung yang bertujuan memberikan ketrampilan analisis data statistik untuk penyusunan laporan teknis dalam setiap hasil pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi pada Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung.

Beberapa hal penting yang diperoleh dari kegiatan ini, diantaranya adalah peserta mampu memahami bagaimana mendiskripsikan ringkasan statistic (statistic summary) dan penggunaan metode statistika yang benar. Peserta belajar untuk , melakukan analisis statistik menggunakan uji-uji statistika seperti t-test, ANOVA, regresi, korelasi, regresi logitik, dan juga penggunaan software sigmaplot dalam menginterpretasikan hasil pengolahan.

(Oleh : Dahlia G.R Menufandu)

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat

Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Raja Am pat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat No. 27 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabu paten Raja Am pat dan dijabarkan melalui Peraturan Bupati Raja Ampat No. 5 Tahun 2009 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Raja Ampat. Dalam peraturan 1n1 disebutkan kawasan konservasi tersebut meliputi Kepulauan Ayau-Asia, Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit, Kepulauan Kofiau-Boo dan Misool Timur Selatan.

Raja Am pat menjadi rumah bagi 69,21 % spesies karang dunia, dimana ditemukan 553 jenis karang (Veron et al., 2009) dan dua diantaranya merupakan jenis endemik Raja Ampat dari keluarga Acroporidae yaitu Montipora delacatula dan Montipora verruculosus (DeVantier et al., 2009). Sela in itu ditemukan setidaknya 41 jenis dari 90 genus karang lunak Alcyonacean dari 14 Fam iii (Donnelly et al., 2002). Di wilayah ini juga ditemukan 699 jenis moluska dan menjadi rumah bagi 5 jenis penyu (McKenna et al., 2002), setidaknya 1.505 jenis ikan karang (Allen dan Erdmann, 2012; update Erdmann, 2013) dan rumah bagi 15 jenis mamalia laut yang terdiri dari 14 jenis cetacean (13 jenis paus dan lumba-lumba) dan 1 jenis duyung (Dugong dugon) (Kahn, 2007). Salah satu pemicu keanekaragaman yang luar biasa ini adalah tingginya keragaman habitat mulai dari lamun, mangove, terumbu karang di perairan dangkal (termasuk terumbu karang tepi, penghalang, patch dan atoll) hingga celah dalam antar pulau-pulau kecil utama. Dengan tingkat keragaman hayati yang begitu tinggi, para ilmuwan menyebut Kepulauan Raja Ampat yang terletak di wilayah bentang laut kepala bu rung (Bird’s Head Seascape) ini sebagai jantung Segitiga Ka rang Dunia.

Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit  dan di Luar KKPD Raja Ampat

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Serangkaian kegiatan monitoring ekosistem terumbu karang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 di Kabupaten Raja Ampat kemudian dilakukan setiap 2-4 tahun sekali. Monitoring ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data ilmiah dalam rangka mengevaluasi keberhasilan program pengelolaan Kawasan Konservasi perairan Daerah di Raja Ampat. Maret 2016, UNIPA melalui Divisi Center of Excellence (CoE) bekerjasama dengan beberapa Lembaga Sosial Masyarakat di wilayah bentang laut kepala burung (CI, TNC dan WWF-ID) melakukan monitoring bersama di beberapa Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKPD) Raja Ampat yang meliputi KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat untuk mengetahui pola perubahan dari kondisi ekosistem terumbu karang di dalam dan di luar Kawasan Konservasi, potensi invertebrata ekonomis penting (biota sasi) dan kondisi oseanografi fisik perairan.

Selain itu, kegiatan ini juqa menjadi sarana peningkatan pengetahuan serta pemahaman bagi para pemangku kepentingan tentang kondisi lingkungan ekosistem terumbu karang dan pentingnya melaksanakan monitoring lingkungan secara berkala. Pada kesempatan ini, perwakilan dari beberapa intansi terkait meliputi UPTD BLUD Raja Ampat, KSDA Raja Am pat dan KKPN Raja Ampat terlibat dalam kegiatan monitoring ini. Metode pengambilan data menggunakan Reef Health Monitoring Protocol (Green and Wilson, 2009) dengan melakukan penyelaman di 93 titik pengamatan yang tersebar dalam wilayah KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat. Beberapa kebutuhan data yang diamati meliputi substrat dasar terumbu karang, komunitas ikan karang, biota sasi dan data oseanografi serta deskripsi lingkungan.

Hasil kegiatan monitoring ini akan di disseminasikan melalui lokakarya ke seluruh stakeholders terkait. Disseminasi ini utamanya dilakukan ke pemerintah daerah melalui instansi terkait dan Lembaga Sosial Masyarakt (LSM) di bidang konservasi yang merupakan stakholders primer. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran umum tentang status dan kondisi terkini potensi sumberdaya yang terdapat di wilayah bentang laut kepala burung. Selain sebagai sarana untuk berkoordinasi dengan instansi dan lembaga penyedia data dan informasi, wadah ini juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengevaluasi dan mensinergikan program-program yang akan dilaksanakan, utamanya kegiatan monitoring kondisi ekologi terumbu karang dan ekosistem lainnya serta kondisi sosial masyarakat di wilayah cakupan pengelolaan kawasan konservasi perairan bentang laut kepala burung.

Kategori
Monitoring Sosial Training

Berbagi Pembelajaran Baik dengan Tim Monitoring Sosial Universitas Pattimura

Sejak Tahun 2010 Universitas Papua (UNIPA) melalui Lembaga Penelitian (yang kemudian menjadi LP2M sejak Tahun 2015) bekerja sama dengan WWF-US untuk melakukan monitoring social di Wilayah Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB), Papua. Kegiatan monitong social ini dilakukan untuk mengkaji dampak KKP terhadap kesejahteraan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

Foto : Veronika (WWF ID)

Foto : Veronika (WWF ID)

Dalam kerjasama ini, UNIPA berperan sebagai pengumpul dan pengolah data dan informasi di lapang, sementara WWF-US berperan sebagai penyandang dana, pengolah data dan pelatih dalam beberapa program peningkatan kapasitas dibidang penelitian dan publikasi ilmiah. Sejak tahun 2014, monitoring social KKP ini dilakukan juga di Bentang Laut Sunda Banda yang dilakukan oleh Universitas Lokal (Universitas Cendana (UNDANA) untuk KKP Flores dan Alar Timur dan Universitas Pattimura (UNPATTI) untuk KKP Kei Kecil). Dalam rangka mempersiapkan tim UNDANA dan UNPATTI, WWF Indonesia dan WWF-US mengundang UNIPA untuk berbagi pembelajaran baik yang telah dimiliki dari 5 tahun melakukan survei yang sama. Pembelajaran dibagikan dalam bentuk training yang meliputi pengenalan kegiatan survei, pemahaman instrument yang digunakan untuk survei, sampai dengan pengelolaan data dan informasi yang diperoleh dari survei tersebut.

Kegiatan training di UNDANA telah dilakukan pada tahun 2014, sedangkan kegiatan training di UN PATTI dilakukan pada tanggal 29 Januari – 3 Februari 2016. Kegiatan training di UNPATTI diikuti oleh koordinator lapang (2 staf UNPATTI) dan 4 enumerator survei. Setelah mengikuti training ini diharapkan pemahaman akan instrumen yang digunakan menjadi relatif seragam, sehingga bias data yang dikumpulkan di tiga lokasi (Jejaring KKP BLKB, KKP Flores dan Alar Timur, dan KKP Kei Kecil) ini menjadi relatif kecil.

(Oleh : Fitryanti Pakiding)

Kategori
Monitoring Ekologi EKKP3K

Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di BLKB dengan Menggunakan Perangkat E-KKP3K

Lokakarya  Penilaian  Efektivitas Pengelolaan  Kawasan Konservasi

 Perairan di BLKB dengan Menggunakan Perangkat E-KKP3K 

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) diidentifkasi sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati laut sangat tinggi dan menjadi prioritas pengembangan kawasan konservasi laut di Indonesia dan dunia. Di Indonesia dilihat dari sisi pengelola, kawasan konservasi laut dapat beragam bentuknya. Sebagai contoh Taman Nasional Laut seperti Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional dibawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Kawasan Konservasi Perairan Nasional Raja Ampat yang pengelolaannya dilakukan Satuan Kerja dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jejaring Taman Pulau Kecil Raja Ampat dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas yang saat ini dibawah Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. Contoh kawasan konservasi perairan lain di BLKB yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten adalah di Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Tambrauw. Walaupun lembaga pengelola dan modelnya bervariasi tetapi tujuan pembentukan kawasan konservasi laut secara umum sama yaitu untuk melindungi kelestarian keanekaragaman hayati sehingga dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat Wilayah BLKB saat ini memiliki lebih dari 12 kawasan konservasi perairan dengan total luas lebih dari 3,5 juta hektar dan memberikan kontribusi lebih dari 25% luasan kawasan konservasi secara umum di Indonesia saat ini. Di satu sisi jumlah dan luasan kawasan konservasi laut penting untuk mendukung komitmen pemerintah Indonesia membentuk 20 juta hektar kawasan konservasi laut pada tahun 2020. Tetapi disisi lain peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi juga menjadi hal yang sangat penting dilakukan, karena efektifitas pengelolaan kawasan konservasi akan memberikan dampak terhadap kelestarian sumberdaya hayati dan juga dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. Dari berbagai data saat ini sangat sedikit kawasan konservasi laut di Indonesia yang di kelola secara efektif Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) telah mengembangkan perangkat yang disebut Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil (E-KKP3K). Pedoman Teknis yang telah diresmikan penggunaannya melalui Surat Keputusan DirJen KP3K No. 44/2012 dan dimandatkan dilakukan secara rutin pada semua kawasan konservasi laut yang pengelolaannya dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan termasuk beberapa kawasan konservasi di BLKB. Dengan ditetapkannya UU No 23 tahun 2014, kewenangan pengelolaan wilayah laut bergeser ke tingkat provinsi. Sehingga peran Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Papua Barat ke depan menjadi sangat penting dalam pengelolaan kawasan konservasi laut di Provinsi Papua Ba rat.

Divisi Center of Excellence (CoE) untuk pembangunan berkelanjutan dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakata (LPPM) UNIPA ekerjasama dengan Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat dan beberapa mitra LSM di wilayah BLKB (TNC, Cl dan WWF) menyelenggarakan lokakarya penilaian Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil (E-KKP3K) untuk wilayah BLKB Papua pad a tanggal 02- 04 Juni 2016 di ruang rapat gedung rektorat lama kampus Universitas (UNIPA) Manokwari. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan evaluasi pengelolaan kawasan konservasi perairan di seluruh wilayah BLKB Papua. Luaran yang diharapkan dari lokakarya ini adalah sebuah dokumen status pengelolaan masing- masing kawasan konservasi perairan di BLKB pada tahun 2016. Beberapa instansi terkait turut hadir dalam kegiatan ini meliputi DKP Kabupaten Raja Ampat, DKP Kabupaten Kaimana, DKP Kabupaten Tambrauw, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC), Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (PSPL) Sarong dan Satker Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) SAP Raja Ampat

Berita Lainnya

foto bersama

Purwanto, Awaludinnoer, Nur Ismu Hidayat, Dheny Setyawan, Sutraman, Rahel Randa dan Dariani Matualage – Juli 1, 2019

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten

Kerjasama Pemerintah Daerah Kabupaten Tambrauw dengan Universitas Papua dalam Upaya Konservasi Penyu Belimbing di Abun

Kerjasama Pemerintah Daerah Kabupaten Tambrauw dengan Universitas Papua

dalam Upaya Konservasi Penyu Belimbing di Abun

Penyu belimbing merupakan salah satu hewan melata terbesar di dunia yang berada di Tambrauw. Tambrauw merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Papua Barat yang merupakan pecahan dari sebagian Kabupaten Sarong dan sebagian Kabupaten Manokwari. Salah satu ikon dari kabupaten ini adalah penyu belimbing yang merupakan penyu terbesar di dunia. Pada tahun 2016 kabupaten ini juga telah mencanangkan dirinya sebagai kabupaten konservasi yang salah satunya menangani konservasi penyu belimbing. Hal ini menunjukan bahwa keberadaan penyu belimbing di Kabupaten Tambrauw sangat penting.

Dimulai dari penelitian populasi penyu belimbing yang dilakukan pada tahun 1984 di Pantai Jamursba Medi. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah sarang penyu belimbing ada sebanyak 4.522. Pada tahun 2011 jumlah sarang tersebut mengalami penurunan yang sangat drastis menjadi 1.596 sarang. Kondisi tersebut merupakan akibat dari pemanfaatan penyu belimbing yang tidak terbatas dan tidak terkendali disertai dengan kurangnya kesadaran masyarakat sekitar untuk melestarikan penyu tersebut.

Saat ini populasi penyu belimbing di Abun sudah sangat rendah dan berpotensi untuk punah. Kondisi tersebut membuat pemerintah Tambrauw mulai gencar melakukan kegiatan konservasi penyu belimbing yang merupakan salah satu ikon daerahnya. Dalam melakukan konservasi penyu, pemerintah Tambrauw kurang memiliki kapasitas dan kemampuan dalam mengelola daerah tersebut. Oleh sebab itu pemerintah merasa perlu untuk menjalin hubungan kerjasama dengan beberapa instansi terkait Seperti Universitas Papua (UNIPA).

Sebagai institusi pendidikan, UNIPA memiliki Tridarma Perguruan Tinggi yang salah satu pointnya adalah Pengabdian Kepada Masyarakat.sehingga UNIPA secara tidak langsung juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung konservasi penyu belimbing di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat.

UNIPA telah bekerjasama cukup lama dengan pemerintah Tambrauw dalam melakukan aktifitas konservasi penyu belimbing. Saat ini kerjasama tersebut semakin meningkat dengan dilakukannya pengembangan masyarakat yang berhubungan langsung dengan aktivitas konservasi penyu belimbing.

UNIPA menyadari bahwa pekerjaan sebuah kabupaten yang baru berdiri sangatlah banyak. Kondisi ini mengakibatkan banyak pekerjaan konservasi dan pengembangan masyarakat terkait konservasi penyu sangat kurang dikerjakan oleh pihak pemerintah. Hal ini membuat UNIPA mengambil alih pekerjaan tersebut untuk sementara waktu. Namun komunikasi dan semua kemajuan dalam kegiatan ini terus disampaikan kepada pemerintah Tambrauw sebagai pemilik dan pengelola daerah.

Konservasi penyu belimbing yang dilakukan oleh UNIPA antara lain monitoring populasi penyu, penyelamatan telur penyu, membantu melepaskan anak penyu (tukik) ke laut, dan pelarangan mengkonsumsi daging dan telur penyu. Kegiatan pengembangan masyarakat yang terkait dengan konservasi penyu antara lain membantu aktivitas pendidikan formal, melakukan pendidikan informal, pengembangan bidang pertanian, peternakan serta melakukan aktivitas pengobatan masal yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat.

Kerjasama antara UNIPA dan pemerintah Tambrauw terus dijalani dan dipertahankan melalui hubungan komunikasi yang baik. Kegiatan bersama juga harus sering dilakukan sehingga kedua pihak terus saling membantu. Kegiatan yang terus dilakukan secara bersama sama antara UNIPA dan pemerintah Tambrauw adalah rapat kerja/rapat koordinasi dan kegiatan bersama di lapangan seperti penyuluhan di masyarakat. Komunikasi yang baik, tujuan yang jelas, pembagian tugas yang jelas, integritas yang tinggi dan bekerja secara professional merupakan kunci sukses kerjasama pemerintah Tambrauw dengan UNIPA.

Harapan dari tim UNIPA, suatu saat sistem konservasi penyu belimbing di Tambrauw yang telah dibangun akan berjalan baik sehingga populasi penyu belimbing dapat meningkat dan akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.