
Jendela Dunia dari Kampung Kecil: Perjalanan Literasi di Tambrauw
Penulis
Potrosina Etty Daunema, Kartika Zohar
Tanggal
18 Juli 2025
Salah satu anak dari Kampung Wau-Weyaf sedang membaca buku
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Di sebuah daerah pesisir kepala burung, Kabupaten Tambrauw, Distrik Abun, terdapat dua kampung kecil bernama Wau dan Weyaf. Kampung ini hanya dipisahkan oleh jalan setapak, tetapi kehidupan masyarakatnya sangat terhubung erat. Di tengah-tengah kampung, berdiri sebuah rumah belajar sederhana yang menjadi pusat kegiatan edukatif bagi anak-anak. Di dalamnya terdapat perpustakaan mini, dengan rak-rak buku kayu yang dibuat dari papan seadanya.
Meski sederhana, perpustakaan ini sangat berharga. Rak bukunya memang tetap di tempat, tetapi fungsinya dinamis dan interaktif. Tim Pemberdayaan Masyarakat datang secara berkala, membawa semangat baru dan buku-buku segar untuk anak-anak. Koleksi buku yang dibawa pun beragam, mulai dari buku pelajaran, cerita rakyat, novel anak, hingga komik edukatif. Tujuan kami sederhana: meningkatkan literasi dan minat baca anak-anak di kampung Wau dan Weyaf.
Setiap hari Sabtu menjadi waktu yang paling dinantikan. Anak-anak berkumpul di rumah belajar dengan wajah ceria, siap mendengarkan dongeng atau cerita rakyat yang kami bacakan. Kegiatan dimulai dengan memperkenalkan buku baru, kemudian kami membacakan ceritanya dengan ekspresi dan suara yang penuh semangat. Anak-anak duduk melingkar, mendengarkan dengan saksama, tertawa, bertanya, dan bahkan menirukan suara tokoh dalam cerita.
Tak hanya di dalam ruangan, kegiatan perpustakaan juga dilakukan di luar ruangan. Anak-anak diajak menikmati pembelajaran di alam terbuka, menjadikan suasana belajar lebih menyenangkan dan segar.
Baca juga : Cahaya Harapan di Wau Weyaf
Yang membuat kami bangga, anak-anak kini mulai menunjukkan minat besar terhadap dunia membaca. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai membaca sendiri. Bagi yang sudah lancar membaca, mereka mengambil buku dari rak, membacanya, menggambar tokoh dan hewan dalam cerita, bahkan mencoba menjelaskan isi cerita dengan kata-kata mereka sendiri. Semua ini menjadi bukti bahwa kegiatan sederhana ini telah membuka pintu imajinasi dan pengetahuan bagi anak-anak.
Perpustakaan Mini di Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Menuliskan Isi Bacaan pada Cerita oleh Anak-Anak Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Bagi kami, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca. Ini adalah jembatan antara kampung dan dunia luar—tempat anak-anak belajar bermimpi dan bercita-cita. Harapan kami sederhana: semoga dari rumah belajar kecil ini, lahir generasi muda yang cerdas, kreatif, gemar membaca, dan mencintai ilmu pengetahuan. Karena membaca adalah jendela dunia untuk memperluas wawasan dan membangun masa depan bangsa.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
