Monitoring Kesehatan Karang di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kaimana Distrik Buruway, Papua Barat
Penulis
Tim Monitoring Ekologi
Tanggal
25 Maret 2019
Serangkaian kegiatan monitoring ekosistem terumbu karang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 di beberapa kawasan konservasi perairan yang ada di Bentang Laut Kepala Burung Papua (BLKB), salah satunya adalah di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kaimana Distrik Buruway, Papua Barat.
Distrik Buruway berada di bagian selatan perairan kepala burung Papua dan berada di antara kabupaten Fak-Fak dan Kabupaten Kaimana. Kegiatan monitoring kesehatan karang merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap 2 – 4 tahun sekali untuk mengukur efektifitas pengelolaan di jejaring KKP yang berada di kawasan BLKB Papua secara umum dan mengetahui data terkini terkait tutupan karang, biomassa ikan, aktivitas perikanan di kawasan, serta kejadian-kejadian aktual yang didapatkan selama pemantauan.
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)
Pelaksanaan monitoring kesehatan karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway dan perairan sekitar ini telah dilaksanakan pada tanggal 26 Maret – 4 April 2019 dengan melibatkan berbagai instansi diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Kaimana (1 orang), Dinas Pariwisata Kabupaten Kaimana (1 orang), Distrik Kabupaten Kaimana (1 orang), Conservation Internasional (CI-Indonesia) (2 orang), The Nature Conservacy (TNC-Indonesia) (1 orang), Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) (2 orang), klub selam Faknik FPIK UNIPA (1 orang), serta Universitas Papua (5 orang) yang merupakan koordinatorpelaksanaan kegiatan monitoring (Gambar 1. Team monitoring)
Monitoring dilakukan dengan menggunakan protokol Coral Reef Monitoring Protocol for Assessing Marine Protected Areas in the Coral Triangle yang dikembangkan oleh Wilson dan Green, 2009 dan dimodifikasi oleh Ahmadia et al.,2013. Pada panduan monitoring tersebut, pengumpulan data tutupan karang dan biomassa ikan dilakukan pada kedalaman 8-10 meter.
Data tutupan karang diambil menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT) dengan panjang transek 50 meter dan jumlah pengulangan 3 kali. Data yang diambil yaitu bentuk pertumbuhan karang pada interval titik 0,5 meter sepanjang gelaran transek. Data biomassa ikan dan kepadatan ikan diambil menggunakan kombinasi antara metode Underwater Visual Census (UVC) dan belt transect dengan panjang transek 50 meter, lebar 5 meter untuk ikan kecil (≤35 cm) dan lebar 20 meter untuk ikan besar (>35 cm) dengan jumlah pengulangan 5 kali, serta ditambah dengan timeswim pada kedalaman 5 meter selama 20 menit
Kondisi Karang
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)
Kelompok Ikan Pinjalo
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)
Pelaksanaan monitoring kesehatan terumbu karang menggunakan kapal Live On Board (LOB) KLM Kurabesi Explorer Nusantara sebagai base tim monitoring dan didukung 3 speedboat kecil (dinggi) untuk mobilisasi tim monitoring ke 28 lokasi atau site penyelaman yang direncanakan dan beberapa lokasi lainnya.
Hasil monitoring secara umum menemukan kondisi ikan pada sebagian besar site penyelaman relative rendah, baik jenis maupun jumlahnya jika dibandingkan dengan kawasan konservasi lain di BLKB. Beberapa sites seperti Reef Keramat, Reep Taruri 2, Buka Karu dan Niney tercatat memiliki ikan relatif lebih banyak jika dibandingkan sites lainnya. Sedikitnya jumlah dan jenis ikan yang ditemukan pada saat penyelaman diperkirakan karena masih sering terjadi penangkapan ikan yanberlebihan dan kadang menggunakan alat yang merusak, seperti bom dan bius oleh nelayan luar (informasi dari masyarakat).
Gelombang yang tinggi dan jarak pandang (visibility) yang rendah pada saat monitoring, diperkirakan berpengaruh juga terhadap jumlah dan jenis ikan yang tercatat. Ikan hiu karang sirip hitam (Carcharhinus melanopterus/blacktip reef shark), Penyu hijau (Chelonia mydas), Napoleon (Cheilinus undulatus), Bumphead parrotfish (Bolbometopon muricatum) ditemukan di beberapa sites seperti Pulau Paniki, Niney, Reep Keramat dan Reef Taruri 2. Ikan Kerapu Kertang atau Giant Grouper (Epinephelus lanceolatus) yang berukuran antara 1 hingga 2 meter ditemukan di site Tanjung Batu Kerbau dan Reef Taruri 2. Ikan Kerapu Kertang atau Giant Grouper (Epinephelus lanceolatus) yang berukuran antara 1 hingga 2 meter ditemukan di site Tanjung Batu Kerbau dan Reef Taruri 2.
Beberapa jenis ikan yang ditemukan berkelompok (schooling) yaitu ikan kakap spesies Pinjalo pinjalo, Barakuda (Sphryna sp), Bubara (Caranx sp), Caesio sp, dll. Selain itu juga ditemukan Hiu Paus atau Whale Shark (Rhincodon typus) di perairan Nusa Ulan dan kelompok lumba-lumba selama perjalanan ke lokasi penyelaman. Pada beberapa sites penyelaman juga ditemukan lionfish, namun jumlahnya masih sangat sedikit.
Secara umum kondisi karang sedang hingga buruk. Tim menemukan bekas bom baru di site Reef Kerang dan Reef Panjang dan banyak ditemukan patahan karang lama yang sudah mulai ditumbuhi oleh alga. Pada beberapa site penyelaman lainnya ditemukan juga adanya Hydroid dan dominasi rubble atau patahan karang. Patahan karang, pasir dan alga ditemukan di hampir seluruh site penyelaman. Pada beberapa lokasi penyelaman, jarak pandang kurang baik, hanya berkisar antara 3-5 meter.
Kendala selama pelaksanaan monitoring adalah gelombang laut yang tinggi, bahkan di beberapa site dapat mencapai 2 – 3 meter sehingga menyulitkan tim monitoring menuju ke lokasi penyelaman dan mengambil data. Hal ini mengakibatkan terdapat 6 site penyelaman yang belum dapat diambil datanya. Selain itu adanya pemilik hak ulayat wilayah atau petuanan yang mengharuskan ijin kegiatan dengan membayar sejumlah uang menjadi kendala pada saat pelaksanaan monitoring, karena belum disosialisasikan dengan baik dan tidak ada aturan resminya.
Lokasi Monitoring
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)
Kegiatan tim monitoring selanjutnya adalah menganalisis data monitoring sehingga menghasilkan informasi mengenai tren dan status tutupan karang dan biomassa ikan yang dapat digunakan oleh pengelola kawasan konservasi sebagai pertimbangan dalam mengambil kebijakan pengelolaan. Hasil Analisa data ini juga digunakan untuk membuat laporan teknis untuk keperluan diseminasi, publikasi dan komunikasi yang lebih luas, baik untuk masyarakat umum, penyumbang dana dan mitra terkait sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
