Menonton bareng film bertemakan pelestarian lingkungan di Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw

Penulis

Abigail Lang & Noviyanti

Tanggal

4 Juni 2022

Bulan Mei 2022 menjadi pengalaman pertama bagi Tim Penjangkauan Masyarakat (Outreach) berkunjung ke kampung-kampung yang berada di Taman Pesisir Jeen Womom. Kami berangkat menggunakan transportasi laut (kapal Sabuk Nusantara 112) bersama dengan tim Monev Pemberdayaan. Untuk dapat menginjakkan kaki di kampung tersebut, perahu masyarakat menjemput kapal kami yang berlabuh di tengah laut. Tidak ada pelabuhan di kampung ini. Inilah alasan kapal-kapal besar hanya bisa berlabuh di tengah laut.

Namun, kami merasa senang dengan perjalanan menggunakan perahu yang hanya sekitar 1-2 menit saja, kami juga bisa menikmati keindahan alam dengan lautnya yang masih bersih. Dari kejauhan sudah terlihat sebagian besar penduduk yang antusias melihat perahu kami berhenti di depan pulau mereka. Bagi mereka melihat kapal dan perahu yang menjemput barang dan penumpang adalah suatu kegembiraan tersendiri.

Peserta mendapat hadiah karena dapat menjawab pertanyaan dengan benar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengoles pasir di dahi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kami membeli Pisang dan Singkong (kasbi dalam bahasa setempat) dari masyarakat untuk kami hidangkan sebagai kudapan. Kami juga menyiapkan bahan bakar solar untuk diberikan kepada pihak pengelola listrik kampung agar listrik bisa menyala selama pemutaran film kami dilakukan. Pukul 7 malam kami memulai kegiatan kami. Dari Manokwari kami sudah menyiapkan 2 buah video tentang ancaman yang dihadapi penyu dan makanan penyu. Terdapat pesan-pesan konservasi yang kami selipkan dalam video singkat tersebut, misalnya tidak membuang sampah plastik ke laut karena ada penyu yang menyangka sampah plastik itu mirip seperti makanannya. Setelah pemutaran video kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terhadap informasi yang ada di dalam video. Kami menyediakan hadiah seperti sembako dan makanan ringan bagi peserta yang bisa menjawab. Pengalaman ini luar biasa sekali karena mereka dengan mudah mengerti apa maksud dan pesan dari video yang kami putarkan.

Walaupun selama kurang lebih 3 hari pada siang hari kami tidak mendapatkan jaringan telepon, internet dan listrik yang terbatas, tetapi kami selalu melakukan banyak aktivitas seperti memasak untuk konsumsi semua tim dan membantu tim monev Pemberdayaan Masyarakat untuk melakukan pengolahan minyak kelapa. Kami mengolah 300 butir kelapa menjadi 22 liter minyak kelapa untuk dikonsumsi. Kegiatan yang lumayan melelahkan namun sangat mengasyikan karena kami dapat melihat langsung pengolahan minyak kelapa di kampung ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya