
Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi
Penulis
Abigail Lang
Tanggal
4 Agustus 2026
Manifes kapal mencatat total 439 penumpang, dan kami berangkat dengan membawa segudang pertanyaan: “Apakah nanti banyak penumpang yang tertarik?” “Target 75% penumpang kapal, kira-kira bisa tercapai tidak ya?”
Sebelas orang membawa misi edukasi di atas kapal ini. Rombongan kami terdiri dari Tim Program: Kak Trisye, Kak Yeni, Mas Sesar, saya (Abigail), dan Fery. Sementara Anjely, Karin, Minggas, dan Martha (dari Manokwari), serta Maria dan Zahro (dari Sorong) yang menjadi tim volunteer.
Perasaan campur aduk ini bermula ketika seluruh tim bertemu dengan kapten dan kru kapal pada H-3 menjelang kegiatan.
Malam keberangkatan dari Pelabuhan Manokwari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)
Hari Pertama – Keberangkatan yang Mendebarkan
Senin, 20 Juli 2026 dimulai dengan instruksi dari Mas Sesar, salah satu anggota tim kami. Kami diminta tiba di pelabuhan pukul 19.00 karena jadwal keberangkatan kapal adalah pukul 21.00. Setibanya di pelabuhan, kami mendapat kabar bahwa kapal masih harus menunggu rombongan “wisata rohani” dari Biak, Korido. Mereka sedang menuju Manokwari menggunakan KM Sabuk Nusantara 94 dan akan melanjutkan perjalanan bersama kami di KM Sabuk Nusantara 112. Saat menunggu, seorang penumpang berseru, “Rombongan wisata rohani ini sekitar ratusan orang!”
Kami semua menghela napas, saling bertatap, dan berharap kegiatan ini akan tetap berjalan lancar dengan respons yang baik. Ketika rombongan tiba, masyarakat tak henti-hentinya memindahkan barang dari kapal satu ke Sanus 112. Tepat pukul 22.30, stom ketiga berbunyi menandakan kapal akan segera berangkat. Kami mulai menempati kasur masing-masing di Dek 2. Malam itu, tim sepakat untuk beristirahat dan baru memulai aktivitas keesokan harinya.
Hari Kedua – Antusiasme di Pojok Baca & Nobar
Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Setelah disuguhkan makanan hangat oleh koki kapal, tim melakukan briefing sembari sarapan. Lembaran pre-test dan post-test dibagikan, dan tanggung jawab masing-masing diserahkan.
Para volunteer dibekali starter pack untuk memulai penjangkauan kepada penumpang. Sementara itu, saya dan Mas Sesar berjaga di area “Pojok Baca”. Kak Trisye dan Kak Yeni menyiapkan berbagai perlengkapan—mulai dari merchandise, buku cerita seri 1-3, komik, hingga camilan ringan untuk dibagikan—sambil memantau pergerakan volunteer. (Sebagai catatan, buku-buku tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara tim UNIPA dan Program Studi Desain dan Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (DKV ITS), lengkap dengan ilustrasi karya mahasiswa mereka). Di sisi lain, Ferry menjadi ujung tombak dokumentasi yang sibuk mengabadikan momen dengan kameranya.
Briefing tim di pagi hari untuk memulai aktivitas.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Pojok Baca: Edukasi interaktif bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Salah satu area kafetaria kapal kami sulap menjadi “Pojok Baca”. Tepat pukul 09.00 pagi, kami membukanya dan, BOOM! Masyarakat tak henti-hentinya datang silih berganti untuk menukarkan voucher. Keraguan yang selama ini menjadi keluh kesah kami akhirnya sirna; ternyata sebagian besar penumpang sangat antusias.
Tiga jam berlalu tanpa terasa. Ada yang datang menukarkan voucher, meminjam buku, hingga bermain games. Dari anak-anak hingga orang dewasa, laki-laki dan perempuan, semuanya ikut terlibat. Permainan edukasi yang kami bawa dirancang agar pesannya mudah diterima, seperti: Kartu memori Ingat Penyu, Ular tangga versi Dunia Penyu, Puzzle menyusun Karapas Penyu
Di sini, kami juga mengajarkan jingle “Tukik, Ayo Lari ke Laut” dan menyanyikannya bersama-sama. Menjelang siang, aktivitas di Pojok Baca mulai mereda karena rombongan wisata rohani telah turun di kampung persinggahan. Meski jumlah penumpang berkurang, anak-anak tetap berdatangan untuk bermain.
Dari Dek 3, pemandangan sunset tampak jelas menyinari kapal. Kampung demi kampung terlewati hingga akhirnya kami tiba di Kampung Wau pada malam hari. Waktu bersandar ini kami manfaatkan untuk menggelar Nonton Bareng (Nobar) di depan kafetaria. Tepat pukul 21.00, kami memperkenalkan tim dari UNIPA dan memutar video edukasi tentang pelestarian penyu, perubahan iklim, dan sampah plastik. Sesi pemutaran video dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif bertabur hadiah, sebelum ditutup dengan pemutaran film action (yang sudah lulus sensor) sebagai hiburan bagi penumpang.
Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Hari ketiga – Menuju Sorong
Rabu, 22 Juli 2026 tim sudah semakin terbiasa dengan ritme kegiatan. Pagi harinya, kami kembali membuka Pojok Baca. Fery masih tampak lalu-lalang dari Dek 2 ke Dek 3 untuk memastikan semua momen terdokumentasi.
Pada malam hari, kami kembali mengadakan Nobar yang dipandu Kak Yeni. Ini terbukti menjadi salah satu strategi paling efektif untuk menjalin kedekatan dengan penumpang. Hari-hari selama perjalanan Manokwari–Sorong pun berakhir. Pukul 23.00, setelah Nobar selesai, kami beristirahat karena kapal dijadwalkan berlabuh di Pelabuhan Sorong keesokan paginya.
Setibanya di Sorong, kami memanfaatkan waktu dengan baik. Skenario yang kami susun sebelumnya ternyata berjalan sangat mendekati realitas di lapangan. Barang-barang logistik kami titipkan di kapal, karena pada Jumat malam tim harus kembali berlayar.
“Kak, ini besok kita sudah balik lagi ke kapal. Iya Kak, sekali lagi ini besok sudah balik,” kataku ke Kak Yeni sambil tertawa, masih dengan sisa-sisa rasa mabuk laut.
Nonton bareng film edukasi saat kapal bermalam.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Trip Balik: Sorong – Manokwari (24 – 26 Juli 2026)
Kak Trisye menginstruksikan tim untuk siap di pelabuhan pada pukul 23.00. Karena kapal berangkat pada pukul 00.30 dini hari, tidak ada aktivitas edukasi yang dilakukan pada malam tersebut.
Hari Kedua – Bertahan di Arus Balik
Sabtu, 25 Juli 2026 Pagi harinya, kami mulai menyebarkan flyer “Fakta Menarik Penyu Belimbing”. Pendekatan langsung ini harus dilakukan dengan cepat karena penumpang tujuan Sausapor akan turun pada pukul 09.30. Di arus balik ini, jumlah penumpang memang lebih sedikit. Beberapa di antaranya bahkan penumpang yang sama yang sebelumnya naik dari kampung menuju Manokwari.
Malam harinya, kapal bersandar di Kampung Warmandi. Seorang bapak menghampiri Kak Trisye dan bertanya, “Kaka, ini masih ada mau Nobar kah?” Melihat antusiasme yang masih menyala, kami memutuskan untuk tetap mengadakan Nobar. Video edukasi kembali diputar dan kuis tanya jawab kembali dilontarkan. Meski penumpang semakin hari semakin sedikit, semangat tim tidak luntur; kami sangat menikmati setiap prosesnya.
Mama sedang membaca flyer edukasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Pojok Baca: Edukasi interaktif bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)
Hari Ketiga – Reuni di Atas Kapal: Kembalinya Rombongan Wisata Rohani
Minggu, 26 Juli 2026 tidak terasa, kami sudah melakukan empat hari penuh penjangkauan di atas kapal. Kami mendapat kabar bahwa rombongan wisata rohani akan kembali naik pada malam hari. Karena penumpang di sore hari masih sepi, sebagian tim menyempatkan diri duduk santai menikmati sunset di Dek 3.
Sekitar pukul 19.00, kapal tiba di Imbuan. Kak Trisye memanggil kami untuk segera turun ke Pojok Baca. Ternyata, rombongan yang naik sangat banyak! Karena mereka sudah familier dengan kegiatan kami dari perjalanan sebelumnya, mereka sendiri yang proaktif meminta pre-test dan post-test kepada volunteer. Suasana kembali hectic. Anak-anak hingga orang dewasa antusias terlibat dan bermain. Kami bahkan sudah saling mengenal wajah satu sama lain sejak keberangkatan awal dari Manokwari. Setelah kegiatan selesai, tim melakukan crosscheck final untuk menghitung total penumpang yang berhasil dijangkau.
Senin, 27 Juli 2026 pagi hari, kapal kembali bersandar di Pelabuhan Manokwari. Seluruh tim disambut hiruk pikuk pelabuhan—dan tentu saja, efek gelombang laut yang masih membuat jalanan di depan mata terasa bergoyang.
Lebih dari Sekadar Angka
Sebanyak 275 penumpang mengikuti rangkaian kegiatan edukasi, termasuk pre-test dan post-test. Peserta terdiri atas 150 remaja dan orang dewasa serta 125 anak-anak. Selain itu, 159 penumpang lainnya menerima informasi edukatif melalui pembagian flyer. Bagi tim kami, keberhasilan tidak hanya diukur dari angka statistik atau jumlah partisipan. Edukasi yang disampaikan selama pelayaran diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan mendorong tindakan nyata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.
Meski perjalanan berakhir saat kapal kembali merapat di pelabuhan, pesan tentang #JagaPenyu, bahaya sampah plastik, dan ancaman perubahan iklim diharapkan ikut dibawa pulang oleh para penumpang melalui ingatan dan lembar fakta yang telah dibagikan.
Pelayaran selama tujuh hari ini membuktikan satu hal: edukasi tidak selalu membutuhkan mimbar mewah atau ruang kelas yang kaku. Kadang-kadang, kesadaran tentang laut dan kehidupan yang bergantung padanya justru lahir dan bersemi dari sebuah sudut kecil di atas geladak kapal.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
