
Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut
Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua
Meilani: Menghadapi Tantangan, Menemukan Makna
Penulis
Meilani Ravenska
Tanggal
12 Agustus 2025
Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.
Perjalanan saya sebagai Pendamping Masyarakat dimulai di Kampung Resye-Womom, tempat tanpa internet, listrik, atau kendaraan. Di sana, saya menghadapi tantangan baru sebagai pengajar, sesuatu yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Jika Sobat Lestari belum membaca cerita pertama tentang bagaimana saya mengatasi rasa gugup dan menyesuaikan diri mengajar anak-anak, simak kisah saya di bagian pertama perjalanan ini.
Petualangan lain terjadi saat kami diajak ikut kerja bakti di kebun dekat Kali Wemak pada pukul 10.00 WIT. Saya kira tempat itu dekat, tetapi ternyata perjalanan memakan waktu sekitar satu jam, melewati tebing batu dengan air pasang. Saya tidak menyesal, malah menikmati perjalanan itu meski penuh rintangan. Kami memanjat tebing, melewati hutan, dan menyusuri kali kecil sembari menangkap udang bersama anak-anak.
Saat melintasi kali yang diterangi cahaya di balik pepohonan, hati saya tenang, dan saya teringat lagu, “Seindah siang disinari terang, cara Tuhan mengasihiku.” Setibanya di kebun, kami membagi tugas: pria membabat kebun, wanita memasak. Saya membantu mama-mama mengupas dan memarut pisang muda. Setelah selesai, saya dan anak-anak Rumah Belajar mandi di kali. Mereka mahir berenang dan meminta untuk lompat ke air dari pundak saya.
Saya mulai terbiasa dengan tugas sebagai Pendamping Masyarakat, belajar bersosialisasi dengan orang baru. Di sini, saya merasa kami semua pemula dan saling melengkapi. Saya sering berkumpul dengan warga untuk kerja bakti atau bercanda sambil menikmati teh panas.
Kelompok 1 berusaha menyelesaikan permainan puzzle
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Perlombaan memasukkan air ke dalam baskom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Saat pertengahan April 2025, kami mulai mempersiapkan perayaan Paskah. Pada 17 April, kami mengadakan kegiatan di SD YPK Lachai-Roy Saubeba, seperti menyanyi bersama, bercerita, dan bermain puzzle untuk kelas remaja. Saya dan Tian -rekan Pendamping Masyarakat- menangani kelas remaja, dan meski puzzle tak selesai dalam waktu yang ditentukan, kami tetap senang melihat antusiasme mereka. Pada 19 April, kegiatan dilanjutkan dengan permainan di pantai, seperti estafet air dan tarik tambang. Saya ikut serta dan merasa bahagia melihat kegembiraan anak-anak.
Setelah itu, kami mengadakan nonton bersama, meski sempat terkendala karena proyektor yang tidak lengkap. Tapi dengan bantuan Tian dan Valen -rekan Pendamping Masyarakat-, kami berhasil membagi kelompok dan nonton dengan satu laptop per kelompok. Malam harinya, kami mengadakan Cerdas Cermat Alkitab (CCA), yang berlangsung hingga larut malam.
Nonton bersama film “Kasih Terbesar” di GKI Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Kegiatan CCA di GKI Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Pagi-pagi saat pawai obor untuk perayaan Paskah, saya merasa lelah, namun ikut merasakan kebersamaan dan cinta tanpa syarat. Setelah itu, kami melanjutkan dengan ibadah fajar di gereja. Sore harinya, meski sudah pukul 17.00, kami latihan menyanyi untuk ibadah Paskah kedua dengan antusiasme yang tinggi, meski sempat terlewatkan oleh beberapa orang.
Baca juga : Jackson: Menjaga Jejak Penyu di Pantai Wembrak
Kedekatan kami dengan anak-anak semakin erat. Saya dan Tian sering berkumpul bersama mereka untuk bersantai dan menikmati pemandangan pantai setelah kegiatan. Saat libur sekolah berakhir, saya mulai mengajar di sekolah sebagai guru untuk kelas III & IV, meski harus mengajar dua kelas sekaligus. Mereka belajar dengan semangat meski terbatas, dan saya bangga dengan keinginan mereka untuk mencoba.
Latihan lagu untuk dinyanyikan pada perayaan Paskah kedua
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Kegiatan belajar mengajar di SD YPK Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Meskipun saya tidak pernah membayangkan menjadi Pendamping Masyarakat, tugas ini membawa saya pada pengalaman yang luar biasa. Mereka menjadi keluarga baru bagi saya, memberi saya sayur dan daging, dan mengajarkan arti cukup yang lebih luas. Di sini, saya belajar untuk merajut asa bersama mereka di tempat terpencil.
Tantangan ini menjadi anugerah bagi saya, dan saya merasa ini adalah pilihan tepat meski penuh kesulitan. Seperti yang dikatakan Prof. Bagus Muljadi -Putra Betawi yang saat ini menjadi Dosen di University of Nottingham, Inggris-, “Tujuan hidup sebenarnya adalah makna.” Saya berani keluar dari zona nyaman untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda, memberi kontribusi kecil di kampung ini.
Saya meminjam lirik lagu Tulus -nama vokalis solo terkenal saat ini di Indonesia-, “Dimanapun kalian berada, kukirimkan terima kasih tuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah.” Salam hangat dari saya, Pendamping Masyarakat.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
