Kategori
Belum Publish Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Uncategorized @id

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Penulis

Thomas Sembai

Tanggal

20 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Tambrauw, sebuah wilayah dengan visualisasi pegunungan, perbukitan, lembah yang elok, hutan, sungai panjang berkelok, serta lautan dan garis pantai panjang yang merupakan habitat penyu. Di pesisir Pantai Abun terdapat dua kampung kecil, tempat suara ombak dan angin menjadi lagu sehari-hari. Keduanya dipisahkan jalan setapak: bagian barat Kampung Wau, bagian timur Kampung Weyaf. Meski berbeda nama, masyarakatnya hidup berdampingan dan terhubung erat. Kedua kampung ini terletak di teluk yang berhadapan dengan laut, dengan kehidupan yang bergantung pada hasil alam yang melimpah, tanpa listrik, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang terbatas.

Di antara kedua kampung itu berdiri sebuah rumah sederhana berdinding setengah tembok dan papan. Setiap sore rumah itu ramai oleh anak-anak. Rumah itu bukan sekolah resmi, tanpa seragam,lonceng, maupun ijazah. Namun, di sanalah pendidikan tumbuh dan memberi harapan bagi masa depan anak-anak.

Rumah sederhana itu dikenal sebagai rumah belajar, sarana pendidikan bagi anak-anak. Setiap sore mereka berkumpul untuk belajar dengan suasana santai dan menyenangkan. Kegiatan diawali dan diakhiri dengan doa bersama. Materi yang dipelajari meliputi baca-tulis, hitung, computer-English (COMENG), pendidikan lingkungan hidup (PLH), serta ekstrakurikuler. Rumah belajar ini juga dilengkapi perpustakaan mini. Di sana, tidak ada rasa takut salah. Anak-anak bebas bertanya dan berdiskusi tentang hal-hal yang mereka temui setiap hari.

Thomas Sembai diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pendidikan Lingkungan Hidup tentang Penyu

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

 

Di kampung, anak-anak dan orang tua lebih mengenal kami sebagai “guru”, meskipun peran kami adalah PMNH (Pendamping Masyarakat dan Narahubung). Karena itu, bersama Ottow dan Titin, saya membagi tugas serta jadwal mengajar dari Senin hingga Sabtu. Adapun kelas dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelas kecil yang terdiri dari anak-anak SD kelas 1-2 yang diajarkan oleh Titin, kelas sedang yang terdiri dari anak-anak SD kelas 3-4 yang diajarkan oleh saya, dan kelas besar yang terdiri dari anak-anak SD kelas 5-6 yang diajarkan oleh Ottow. Jadwal pembelajaran yang diajarkan adalah hari Senin baca-tulis, Selasa hitung, Rabu computer-English, Kamis pendidikan lingkungan hidup (PLH penyu dan PLH series 1-3 setiap akhir bulan), Jumat review materi, dan Sabtu ekstrakurikuler (apotek hidup, perpustakaan keliling, mencuci tangan, menggosok gigi, dan makan bersama). Kami tidak hanya mengajar di rumah belajar saja, melainkan kami juga diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam proses pembelajaran, banyak tantangan yang dialami, seperti menemukan karakter anak-anak yang berbeda, banyak anak-anak yang ikut orang tua pergi dulang emas saat libur, dan membantu orang mencari nafkah yang membuat mereka tidak hadir di rumah belajar. Setiap sore, kami berkeliling kampung, menyapa dan mengajak anak-anak untuk datang ke rumah belajar dan mengikuti pembelajaran. Setiap kelas yang diajar rata-rata paling banyak anak-anak adalah delapan orang dan paling sedikit satu orang, walaupun dengan kondisi seperti itu pembelajaran tetap dilakukan terkecuali anak-anak tidak ada yang datang ke rumah belajar untuk ikut pembelajaran.

Mengajar anak-anak tentang computer – English

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pendidikan Lingkungan Hidup Bulanan tentang Abiotik dan Biotik

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Mengajar adalah panggilan hati, sebuah misi untuk menyalakan cahaya dalam diri manusia lain. Di balik setiap pelajaran yang disampaikan, ada empati, kesabaran, dan cinta yang tidak bisa dihitung dengan angka. Profesi lain mungkin berurusan dengan benda, sistem, atau angka. Tapi guru berurusan dengan jiwa manusia – sesuatu yang halus, rapuh, dan berharga. Itulah mengapa mengajar memerlukan hati yang tulus, bukan hanya kemampuan akademik. Ilmu tanpa hati hanya melahirkan hafalan, tapi hati tanpa ilmu bisa menumbuhkan kesadaran.

Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tapi menanamkan nilai. Seorang guru sejati tahu bahwa setiap anak datang dengan latar belakang, luka, dan potensi yang berbeda. Ia tidak memperlakukan mereka sebagai angka dalam rapor, melainkan sebagai pribadi yang sedang bertumbuh. Ia melihat lebih dalam daripada nilai ujian, karena mengetahui bahwa karakter jauh lebih penting daripada sekadar kepintaran. Guru yang mengajar dengan hati tidak hanya menuntun anak-anak untuk memahami pelajaran, tetapi juga memahami dirinya sendiri. Ia membimbing bukan untuk menjadikan anak-anak seperti dirinya, melainkan untuk membantu anak-anak menemukan versinya sendiri. Inilah yang membuat setiap kelas yang diisinya terasa hidup, karena ada cinta yang menyapa, bukan sekadar instruksi yang diperintahkan.

Mengajar anak-anak tentang baca-tulis

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tidak ada murid yang sama, ada yang cepat menangkap pelajaran, ada yang butuh waktu. Ada yang tenang, ada yang berisik. Guru biasa mungkin mudah lelah menghadapi perbedaan itu, tapi guru yang mengajar dengan hati melihatnya sebagai ladang pengertian. Ia tahu bahwa setiap anak punya jalan tumbuhnya sendiri, dan tugasnya bukan menyeragamkan, tapi mendampingi. Ketika hati terlibat, pengajaran berubah menjadi proses kemanusiaan. Guru tidak sekadar menilai, tetapi juga mendengarkan. Ia tidak hanya menegur, tetapi juga memahami alasan di balik perilaku.  Dari kesabaran itulah lahir kepercayaan, hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar penghormatan formal di dalam kelas.

Dari rumah belajar sederhana itu, lahir mimpi-mimpi baru bagi setiap orang yang berhak untuk belajar dan berkembang. Cerita kampung di pesisir itu adalah tentang perjuangan di tengah keterbatasan, tentang anak-anak yang berlari mengejar mimpi di antara pasir, ombak dan angin. Di sana, pendidikan bukan sekadar belajar di kelas, tetapi juga tentang harapan bahwa suatu hari, mereka bisa membawa perubahan bagi kampung yang mereka cintai.

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Uncategorized @id

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Penulis

Christian Zakarias Kaisiepo

Tanggal

31 Oktober 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Saat pertama kali saya berlayar di pesisir Kabupaten Tambrauw selama 3 hari 2 malam dengan kapal kecil menuju sebuah kampung yang akan saya tempati sementara, saya langsung merasakan keindahan serta kekayaan alamnya yang begitu khas dan berbeda.

Bagaimana tidak? Kampung yang bernama Saubeba (dalam bahasa Biak) atau Resye (dalam bahasa Abun), yang sebelumnya sama sekali belum saya kenal, ternyata berada di lokasi strategis.

Menikmati senja di Pesisir Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Terbentang di Samudra Pasifik sekaligus berada dalam kawasan hutan konservasi yang kaya keragaman hayati. Dari hamparan pepohonan luas, aliran sungai kecil dengan mata air segar, beragam satwa yang masih terlindungi di darat, laut, dan udara, hingga budaya masyarakat asli yang tetap menjunjung tinggi bahasa lokal, semuanya membuat saya terkesan. Saat itu juga saya tersadar bahwa kehidupan manusia tidak pernah jauh dan selalu bergantung pada alam di sekitarnya.

Saya berada di Kampung Resye, Kabupaten Tambrauw untuk melaksanakan tugas sebagai Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH). PMNH merupakan bagian dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (Papua).

Pada suatu hari yang cerah, sebuah pertanyaan muncul di benak saya, “Jika lingkungan yang begitu kaya dan indah ini tidak dijaga oleh manusia sendiri, apa yang akan terjadi kelak?” Waktu itu, saya tengah duduk menikmati segarnya kelapa muda dan menatap indahnya senja yang perlahan tenggelam di ufuk barat pesisir Kampung Resye.

Namun, seiring berjalannya waktu berada di kampung ini, saya mulai menyadari betapa beragamnya kekayaan hayati yang dimilikinya. Dari kehidupan di pesisir pantai, aktivitas berkebun di hutan, hingga statusnya sebagai kawasan konservasi penyu dan berbagai keragaman hayati lainnya, yang mana membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga sumber daya alam dan lingkungan sekitar.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

Salah satu tugas PMNH adalah mengajar di rumah belajar, termasuk memberikan edukasi lingkungan untuk anak-anak. Edukasi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) mengajak anak-anak untuk memahami bahwa manusia hidup selalu berdampingan dengan alam di sekitar tempat tinggalnya, sehingga kesadaran itu memberi dampak positif bagi keberlangsungan hidup. Dengan mengenal berbagai ekosistem di pesisir pantai maupun hutan, anak-anak dibekali kemampuan menjaga lingkungan agar tetap bersih, asri, dan lestari.

Menonton video tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pembelajaran tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kampung ini dikenal sebagai wilayah yang dekat dengan habitat peneluran penyu, di mana terdapat 4 dari 7 jenis penyu di dunia, termasuk Penyu Belimbing. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangat penting untuk menjaga kelestarian populasi penyu yang hampir tergolong punah. Melalui media pembelajaran visual, anak-anak dibekali pemahaman tentang kehidupan penyu, mulai dari membedakan penyu dan kura-kura, mengenal berbagai ancaman yang dihadapi, hingga memahami cara menjaga siklus hidup penyu agar tetap berlanjut, khususnya di sepanjang pesisir Pantai Jeen Yessa.

Pembuatan sarang perlindungan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pengenalan jenis-jenis sampah
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Anak-anak di Kampung Resye juga belajar secara langsung untuk cara melakukan perlindungan penyu dari berbagai ancaman. Sebelumnya mereka telah belajar tentang ancaman melalui video dan materi di Rumah Belajar. Dengan mempelajari ancaman, anak-anak dapat memahami siklus hidup penyu yang tidak mudah dilalui. Pengetahuan ini membantu anak-anak belajar tentang apa yang mereka dapat lakukan untuk melindungi penyu

Selain mempelajari siklus hidup penyu, anak-anak juga dibimbing untuk turun ke lapangan dan mempraktikkan pembelajaran melalui pengenalan jenis-jenis sampah, dengan menelaah penyebab yang memengaruhi kebersihan lingkungan, seperti sampah organik dan non-organik. Dengan rasa ingin tahu yang besar, mereka antusias mengamati poster “Do’s & Don’ts”, sekaligus diberi kesempatan menentukan aktivitas legal dan ilegal untuk memahami dampaknya terhadap lingkungan.

Pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Setiap benda yang ditemukan sepanjang pesisir pantai menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar membedakan jenis-jenis sampah. Mulai dari dedaunan kering, ranting kayu, dan rumput laut kering, hingga kantong maupun botol plastik, yang jelas memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, semangat tinggi anak-anak dalam membersihkan lingkungan menjadi peran penting dalam menumbuhkan kepedulian terhadap alam.

Pada umumnya, anak-anak sangat senang mengikuti pembelajaran langsung di lapangan. Selain menyenangkan, cara ini juga memudahkan mereka memahami setiap materi yang diberikan. Dalam kesempatan ini, anak-anak tidak hanya dibekali pengetahuan tentang lingkungan yang berdampak pada manusia, tetapi juga didorong untuk mengenal interaksi antar ekosistem pesisir, baik komponen biotik maupun abiotik. Rumput laut, misalnya, merupakan salah satu tumbuhan laut yang bermanfaat bagi kehidupan organisme akuatik.  Sementara itu, aliran sungai menjadi elemen penting yang menopang keberlangsungan hidup berbagai ekosistem di sekitarnya. Kedua komponen ini sangat penting untuk diketahui anak-anak, karena mereka hidup di lingkungan yang erat kaitannya dengan komponen-komponen tersebut.

Pengenalan jenis ekosistem abiotic pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Diskusi singkat bersama wisatawan macanegara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Berada di Kampung Resye, salah satu kampung di dekat Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, memberikan pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan. Peran saya sebagai PMNH tidak hanya mendorong untuk bersikap profesional dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri saya dalam memperkenalkan kepada wisatawan mancanegara bahwa rumah belajar adalah salah satu upaya penting bagi keberlanjutan konservasi penyu di TP Jeen Womom.

Saya merasa bersyukur atas pengalaman berharga selama menjadi PMNH di Kampung Resye. Setiap momen yang saya jalani di sini benar-benar tak ternilai. Saya juga bangga karena pekerjaan ini merupakan investasi penting bagi upaya konservasi penyu, tidak hanya di Papua Barat, tetapi juga untuk dunia. Meski tampak sederhana, pekerjaan ini memberikan dampak luar biasa bagi masa depan bumi.

Berfoto dengan penyu belimbing di wilayah pesisir Jeen Yessa Syuwen
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Meilani: Menghadapi Tantangan, Menemukan Makna

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Meilani: Menghadapi Tantangan, Menemukan Makna

Penulis

Meilani Ravenska

Tanggal

12 Agustus 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Perjalanan saya sebagai Pendamping Masyarakat dimulai di Kampung Resye-Womom, tempat tanpa internet, listrik, atau kendaraan. Di sana, saya menghadapi tantangan baru sebagai pengajar, sesuatu yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Jika Sobat Lestari belum membaca cerita pertama tentang bagaimana saya mengatasi rasa gugup dan menyesuaikan diri mengajar anak-anak, simak kisah saya di bagian pertama perjalanan ini.

Petualangan lain terjadi saat kami diajak ikut kerja bakti di kebun dekat Kali Wemak pada pukul 10.00 WIT. Saya kira tempat itu dekat, tetapi ternyata perjalanan memakan waktu sekitar satu jam, melewati tebing batu dengan air pasang. Saya tidak menyesal, malah menikmati perjalanan itu meski penuh rintangan. Kami memanjat tebing, melewati hutan, dan menyusuri kali kecil sembari menangkap udang bersama anak-anak.

Saat melintasi kali yang diterangi cahaya di balik pepohonan, hati saya tenang, dan saya teringat lagu, “Seindah siang disinari terang, cara Tuhan mengasihiku.” Setibanya di kebun, kami membagi tugas: pria membabat kebun, wanita memasak. Saya membantu mama-mama mengupas dan memarut pisang muda. Setelah selesai, saya dan anak-anak Rumah Belajar mandi di kali. Mereka mahir berenang dan meminta untuk lompat ke air dari pundak saya.

Saya mulai terbiasa dengan tugas sebagai Pendamping Masyarakat, belajar bersosialisasi dengan orang baru. Di sini, saya merasa kami semua pemula dan saling melengkapi. Saya sering berkumpul dengan warga untuk kerja bakti atau bercanda sambil menikmati teh panas.

Kelompok 1 berusaha menyelesaikan permainan puzzle
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perlombaan memasukkan air ke dalam baskom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saat pertengahan April 2025, kami mulai mempersiapkan perayaan Paskah. Pada 17 April, kami mengadakan kegiatan di SD YPK Lachai-Roy Saubeba, seperti menyanyi bersama, bercerita, dan bermain puzzle untuk kelas remaja. Saya dan Tian -rekan Pendamping Masyarakat- menangani kelas remaja, dan meski puzzle tak selesai dalam waktu yang ditentukan, kami tetap senang melihat antusiasme mereka. Pada 19 April, kegiatan dilanjutkan dengan permainan di pantai, seperti estafet air dan tarik tambang. Saya ikut serta dan merasa bahagia melihat kegembiraan anak-anak.

Setelah itu, kami mengadakan nonton bersama, meski sempat terkendala karena proyektor yang tidak lengkap. Tapi dengan bantuan Tian dan Valen -rekan Pendamping Masyarakat-, kami berhasil membagi kelompok dan nonton dengan satu laptop per kelompok. Malam harinya, kami mengadakan Cerdas Cermat Alkitab (CCA), yang berlangsung hingga larut malam.

Nonton bersama film “Kasih Terbesar” di GKI Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan CCA di GKI Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pagi-pagi saat pawai obor untuk perayaan Paskah, saya merasa lelah, namun ikut merasakan kebersamaan dan cinta tanpa syarat. Setelah itu, kami melanjutkan dengan ibadah fajar di gereja. Sore harinya, meski sudah pukul 17.00, kami latihan menyanyi untuk ibadah Paskah kedua dengan antusiasme yang tinggi, meski sempat terlewatkan oleh beberapa orang.

Kedekatan kami dengan anak-anak semakin erat. Saya dan Tian sering berkumpul bersama mereka untuk bersantai dan menikmati pemandangan pantai setelah kegiatan. Saat libur sekolah berakhir, saya mulai mengajar di sekolah sebagai guru untuk kelas III & IV, meski harus mengajar dua kelas sekaligus. Mereka belajar dengan semangat meski terbatas, dan saya bangga dengan keinginan mereka untuk mencoba.

Latihan lagu untuk dinyanyikan pada perayaan Paskah kedua
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan belajar mengajar di SD YPK Lachai-Roy Saubeba
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun saya tidak pernah membayangkan menjadi Pendamping Masyarakat, tugas ini membawa saya pada pengalaman yang luar biasa. Mereka menjadi keluarga baru bagi saya, memberi saya sayur dan daging, dan mengajarkan arti cukup yang lebih luas. Di sini, saya belajar untuk merajut asa bersama mereka di tempat terpencil.

Tantangan ini menjadi anugerah bagi saya, dan saya merasa ini adalah pilihan tepat meski penuh kesulitan. Seperti yang dikatakan Prof. Bagus Muljadi -Putra Betawi yang saat ini menjadi Dosen di University of Nottingham, Inggris-, “Tujuan hidup sebenarnya adalah makna.” Saya berani keluar dari zona nyaman untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda, memberi kontribusi kecil di kampung ini.

Saya meminjam lirik lagu Tulus -nama vokalis solo terkenal saat ini di Indonesia-, “Dimanapun kalian berada, kukirimkan terima kasih tuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah.” Salam hangat dari saya, Pendamping Masyarakat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Jendela Dunia dari Kampung Kecil: Perjalanan Literasi di Tambrauw

Jendela Dunia dari Kampung Kecil: Perjalanan Literasi di Tambrauw

Penulis

Potrosina Etty Daunema, Kartika Zohar

Tanggal

18 Juli 2025

Salah satu anak dari Kampung Wau-Weyaf sedang membaca buku
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Di sebuah daerah pesisir kepala burung, Kabupaten Tambrauw, Distrik Abun, terdapat dua kampung kecil bernama Wau dan Weyaf. Kampung ini hanya dipisahkan oleh jalan setapak, tetapi kehidupan masyarakatnya sangat terhubung erat. Di tengah-tengah kampung, berdiri sebuah rumah belajar sederhana yang menjadi pusat kegiatan edukatif bagi anak-anak. Di dalamnya terdapat perpustakaan mini, dengan rak-rak buku kayu yang dibuat dari papan seadanya.

Meski sederhana, perpustakaan ini sangat berharga. Rak bukunya memang tetap di tempat, tetapi fungsinya dinamis dan interaktif. Tim Pemberdayaan Masyarakat datang secara berkala, membawa semangat baru dan buku-buku segar untuk anak-anak. Koleksi buku yang dibawa pun beragam, mulai dari buku pelajaran, cerita rakyat, novel anak, hingga komik edukatif. Tujuan kami sederhana: meningkatkan literasi dan minat baca anak-anak di kampung Wau dan Weyaf.

Setiap hari Sabtu menjadi waktu yang paling dinantikan. Anak-anak berkumpul di rumah belajar dengan wajah ceria, siap mendengarkan dongeng atau cerita rakyat yang kami bacakan. Kegiatan dimulai dengan memperkenalkan buku baru, kemudian kami membacakan ceritanya dengan ekspresi dan suara yang penuh semangat. Anak-anak duduk melingkar, mendengarkan dengan saksama, tertawa, bertanya, dan bahkan menirukan suara tokoh dalam cerita.

Tak hanya di dalam ruangan, kegiatan perpustakaan juga dilakukan di luar ruangan. Anak-anak diajak menikmati pembelajaran di alam terbuka, menjadikan suasana belajar lebih menyenangkan dan segar.

Baca juga : Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Yang membuat kami bangga, anak-anak kini mulai menunjukkan minat besar terhadap dunia membaca. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai membaca sendiri. Bagi yang sudah lancar membaca, mereka mengambil buku dari rak, membacanya, menggambar tokoh dan hewan dalam cerita, bahkan mencoba menjelaskan isi cerita dengan kata-kata mereka sendiri. Semua ini menjadi bukti bahwa kegiatan sederhana ini telah membuka pintu imajinasi dan pengetahuan bagi anak-anak.

Perpustakaan Mini di Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menuliskan Isi Bacaan pada Cerita oleh Anak-Anak Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagi kami, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca. Ini adalah jembatan antara kampung dan dunia luar—tempat anak-anak belajar bermimpi dan bercita-cita. Harapan kami sederhana: semoga dari rumah belajar kecil ini, lahir generasi muda yang cerdas, kreatif, gemar membaca, dan mencintai ilmu pengetahuan. Karena membaca adalah jendela dunia untuk memperluas wawasan dan membangun masa depan bangsa.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu

Penulis

Meilani Ravenska

Tanggal

12 Juli 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Langit tampak bersahabat, tak memunculkan cahaya pekatnya kala bertandang ke  suatu tempat yang bagiku tak pernah masuk dalam list tuk dipijaki. Kampung Resye-Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Inilah nama tempat baru yang kupijak, sebuah tempat tanpa jaringan internet, tak tampak tiang listrik, serta kendaraan. Disinilah cerita baru dan jejak kenangan terukir sebagai seorang Pendamping Masyarakat (PM).

Rabu, 26 Maret 2025 dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIT. Di atas kapal KM Sabuk Nusantara 112 yang mengantarkanku tiba di kampung ini, saya berdiri di bentangan luas megah yang menyamankan mata, dengan lautan biru  menyejukkan sanubari yang terbentang luas menyapa membentuk samudera, beserta hamparan hutan yang menyimpan misteri kekayaannya. Dari kejauhan, saya menatap kampung yang tepat berada di depan.

Setibanya kapal berlabuh, saya beserta tim lainnya pun hendak turun dari kapal.  Oh iya, jangan membayangkan kami turun langsung menginjakkan kaki di dermaga, tentu saja tak seperti itu. Sebuah perahu dari kampung menjemput kami dan itu artinya kapal berada jauh lepas pantai. Hmmmm, pemandangan baru dan menjadi satu bagian menarik bagiku karena belum pernah seperti itu sebelumnya.

Setibanya di daratan Kampung Resye, tak jauh dari posisi kami berdiri setelah turun dari perahu, tampak beberapa anak-anak dari Rumah Belajar sedang menanti kedatangan kami dan membantu mengangkat barang-barang dari perahu. Worwer dan Celine, dua nama pertama yang saya dengar dan ingat kala Putri, salah seorang tim monev (monitoring evaluasi) menyapa mereka.

Melihat mereka dengan karakter yang berbeda, tanpa berbekal pengalaman mengajar dan pemberdayaan yang minim, saya pun agak wanti-wanti dan diserbu pertanyaan dalam pikiran, “Mengajar? Benarkah ini? Bukankah ini hal yang tak pernah ingin saya lakukan?”. Ok, saya berusaha meredam suara-suara rumit itu dan menenangkan diri sembari beberes Rumah Belajar bersama teman-teman lain yang tampak berantakan karena telah ditinggalkan begitu lama.

Beberapa hari kemudian, pada pagi yang tenang kala fajar perlahan muncul di ufuk timur memancarkan sinarnya yang lembut ke seluruh penjuru kampung disertai alunan ombak, perlahan saya mengangkat tubuh mungil saya dari perasaan rumit yang menghampiri sembari berkata dalam hati, “Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” ujar saya kala masih menerka-nerka, apakah benar ini pilihan tepat yang saya pilih?

Duduk bersama warga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kebersamaan bersama anak-anak pada sore hari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya pun keluar menghampiri dunia yang tenang, tak begitu riuh bak di kota sembari mengecap aroma kampung yang teduh dan membiarkan angin sejuk menyapa wajah saya. Saya pun melihat ke sekeliling, mengamati aktivitas pagi di tempat ini. Tampak bagi saya, seorang mama (panggilan akrab dalam dialek Papua Melayu untuk wanita Papua usia paruh baya) yang sedang menyapu hamparan dedaunan kering pada halaman rumahnya, beberapa mama dan bapa yang lalu lalang hendak pergi ke kebun, dan anak-anak yang telah berada di sekitar pantai untuk bermain dan berenang. Waaahhh, pemandangan yang begitu berbeda sekali dengan perkotaan.

Seusai pemandangan teduh pagi hari, saya tiba pada sore yang begitu riuh. Tampak masyarakat yang bermain bola voli dan sepakbola berteman cahaya keemasan yang tersipu malu hendak pergi. Aaahhh, saya menikmati pemandangan tersebut sembari mencerca tiap adegan yang saya lihat, riuh yang bisa saya terima seolah saya berada pada masa kecil kembali, yang dipenuhi dengan permainan di luar ruangan seperti itu.

Kini langkah saya terhenti di pinggiran pantai yang disertai lantunan ombak yang menggulung imaji, bak musik yang memecahkan lamunanku. Deburan ombak, desiran angin, dan mentari kian membumi membiaskan siluetnya yang tak sia-sia mengesun rona jingga, menyuguhkan keteduhan pinggir pantai. Saya pun menerima ketenangan yang ditawarinya, keheningan yang menggandeng saya berbicara pada diri sendiri. Bebas, benar-benar bebas tanpa drama yang saling beradu. Pikir saya semuanya tampak membaik sejauh ini, saya hanya perlu keluar dari zona nyaman dan cerita dari rumah yang berbeda. “Bukankah hal seperti ini yang kamu inginkan, Mei?”, ujar pikir saya. Gelap di langit pun jadi pertanda cahaya mulai redup dan riuh pun ikut serta membumi. Dengan hati yang penuh syukur pada pemandangan di sekitarku, saya pun melangkah pergi kembali ke Rumah Belajar.

Senin, 31 Maret 2025. Hari bersejarah bagi saya, hahaha. Ini kali pertama pengalaman saya dalam hal mengajar, bahkan tak pernah ada dalam benak saya hal ini akan terjadi. Saya tak pernah suka dipanggil dengan kata “guru”, sebab bagi saya itu sebuah kata yang terlalu sulit dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Tampak terlihat oleh saya rak telur yang kosong, sehingga saya pun mulai menghitung apa bisa sebanyak 26 abjad? Dan ya, ternyata jumlah telurnya bisa sebanyak 26. Lekas saya ambil kertas dan mengguntingnya dengan pola telur, lalu menulis abjad A-Z dan menempelkannya pada rak telur. Setelah itu, saya membuat abjad lagi pada kertas memo berwarna dan berpola hati yang ditempelkan dengan lidi pada masing-masing huruf untuk ditancapkan pada rak telur yang khusus berhuruf vokal.

Hari pertama KBM di Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah belajar Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Baiklah, rasanya seperti ini ya mengajar dengan beban terdapat anak yang belum bisa membaca ditambah lagi harus berkeliling kampung untuk mencari anak-anak supaya bisa belajar. Tetapi, akhirnya saya bisa melakukan hal ini dan saya rasa tidak terlalu buruk untuk percobaan pertama dalam hal mengajar. Saya pun semakin menikmati hal ini hari demi hari dan sepertinya saya mulai terbiasa dengan rutinitas itu.

Akhirnya, tantangan mengajar pun bisa saya lewati secara perlahan-lahan, walau bagi saya itu berat. Antusias dan semangat yang mereka miliki untuk belajar menjadi alasan saya bertahan. Wajah anak-anak yang sedang merajut asa dan senang belajar, walau harus dibatasi oleh keikutsertaan mereka ke kebun membantu orang tuanya, bahkan harus menimang adiknya. Mereka seolah tak punya waktu belajar di rumah, terlihat lebih sering menimang dibanding ditimang, tetapi itulah realita yang dihadapi tepat di depan saya. Saya pun sadar itulah peran kami di sini, di tempat dengan situasi seperti yang saya hadapi dan ternyata selama ini arti cukup itu terlalu sempit bagi saya. Ini merupakan petualangan bagi saya yang tak pernah saya jumpai sebelumnya.

Perjalanan mengajar memang penuh tantangan, tapi petualangan saya belum usai sampai di situ. Di bagian berikutnya, saya akan berbagi pengalaman lain yang tak kalah seru dan bermakna bersama warga kampung. Simak ceritanya di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

12 Maret 2025

Dalam upaya memperkuat peran pendamping masyarakat dan tenaga magang dalam konservasi lingkungan, Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melaksanakan kegiatan Pembekalan Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung (PMNH) dan Tenaga Magang Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 11-13 Maret 2025 bertempat di Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA. Peserta pelatihan adalah 12 calon anggota Tim PMNH serta 4 tenaga magang yang akan ditempatkan di beberapa lokasi di Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Kaimana.

Acara ini dibuka oleh Prof. Freddy Pattiselanno selaku Kepala LPPM UNIPA. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Fitryanti Pakiding, Ph.D. selaku penanggung jawab program, yang juga menjadi salah satu pemateri dalam sesi pembekalan. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai konservasi penyu dan strategi pemberdayaan masyarakat. Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pengenalan kegiatan “Sains untuk Konservasi: Program Upaya Pelestarian Penyu yang Holistik di Distrik Tobouw dan Abun, Kabupaten Tambrauw.” Materi ini memperkenalkan pendekatan ilmiah dan sosial dalam upaya perlindungan penyu serta keterlibatan masyarakat dalam program konservasi.

Pembukaan oleh Prof. Freddy Pattiselanno
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Sambutan dari Ibu Fitryanti Pakiding, Ph.D.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai peran pendamping masyarakat dan narahubung program, yang bertugas untuk mendukung kegiatan konservasi dan pemberdayaan di berbagai lokasi. Terdapat berbagai pelatihan praktis yang akan diberikan selama 3 hari pelatihan, yaitu prosedur pencatatan dan pelaporan keuangan, pelatihan cara mengajar, serta teknik dokumentasi lapangan yang penting dalam pencatatan dan pelaporan kegiatan. Materi menarik yang juga akan diberikan dalam pembekalan ini adalah pelatihan pembuatan minyak kelapa bersih, yang bertujuan untuk memberikan keterampilan tambahan dalam mendukung ekonomi masyarakat lokal. Tidak hanya itu, sesi team building juga akan diselenggarakan untuk memperkuat kerja sama dan sinergi antar peserta, sehingga mereka dapat bekerja secara efektif di lapangan.

Pembekalan ini memiliki tujuan utama untuk memberikan kapasitas kepada tenaga pendamping masyarakat dan narahubung program untuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi penyu, dan membangun kemitraan dengan komunitas lokal. Para tenaga magang yang akan terlibat dalam pembekalan ini juga mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai peran mereka di lokasi penempatan, sehingga dapat berkontribusi lebih optimal dalam kegiatan konservasi dan pembangunan masyarakat.

Suasana saat pembekalan calon PMNH dan Tenaga Magang 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suasana saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Saat ini, program pendampingan pemberdayaan masyarakat telah mencakup lima kampung utama, yaitu Wau, Weyaf, Syukwo, Womom, dan Resye yang terletak dalam wilayah administrasi Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Namun, pada tahun ini lokasi program semakin berkembang dengan penambahan total lima kampung baru, yaitu empat kampung (Wefiani, Warpaperi, Waramui, dan Manggapnud) di Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, serta satu kampung (Adijaya) yang terletak di Distrik Buruway, yang berdekatan dengan Pulau Venu—salah satu habitat utama tempat penyu bertelur di Kaimana. Sementara itu, para tenaga magang yang dibekali akan terlibat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pada lokasi-lokasi penempatan pendamping masyarakat program pemberdayaan.

Diharapkan melalui pembekalan ini, peserta dapat memahami dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dalam mendukung program konservasi penyu dan pemberdayaan masyarakat. Dengan kolaborasi antara Tim PMNH dan tenaga magang, diharapkan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Bersama, kita dapat menjaga ekosistem laut dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi penyu untuk generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Magical Moments to behold

Magical Moments to behold

Penulis

Qumi L Fajri

Tanggal

05 September 2024

Setelah menghabiskan kurang lebih 4 bulan ‘mendongengkan’ tentang penyu dan cara melindunginya dari kepunahan kepada anak-anak, rasanya kok kurang afdol ya, aku justru belum pernah melihat penyu sama sekali. Ya, mendongengkan, sebab eksistensinya hanya berupa cerita, tentang betapa mesmerizenya penyu bertelur atau betapa serunya momen saat melepas tukik.

Hingga pada suatu siang yang terik, Om Petrus (salah satu Kru yang bekerja di Pantai Jeen Syuab) datang ke rumah belajar dengan membawa sebuah kabar gembira. “kita ke pantai sekarang, ayo siap-siap” kalimat yang bagai angin sejuk bagiku yang baru saja pulih dari Malaria ini. Tanpa fa-fi-fu aku, Kak Ina, dan Harun (rekan kerja satu lokasi) bergegas mempersiapkan segala perlengkapan yang harus dibawa. Rencananya kami akan menginap di Pantai Wermon selama 3 hari 2 malam.

Pos Penyu Pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Kaka Ina dan Qumi berpose di depan gerbang Pos Pantai Wermon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Perjalanan menuju Pantai Wermon (saat ini di kenal dengan Pantai Jeen Syuab) membutuhkan waktu kurang lebih 30 menitan. Angin laut sejuk menerpa tubuh, pun dengan percikan air yang tak mau kalah ikut membasahi pakaian kami. Setibanya di Wermon, kami mengistirahatkan badan, mendinginkan kepala dari matahari ganas siang itu. Begitu matahari cukup bersahabat, pukul setengah lima sore kami menuju kandang relokasi untuk menggali sarang telur penyu yang telah menetas (kami belajar melakukan evaluasi dengan bimbingan kru). Berlomba-lomba tukik-tukik mungil memanjat keluar dari sarangnya. Momen pertama aku menyentuhnya, merasakan flippernya yang rapuh mengepak-ngepak di telapak tangan. I like it to feel there is small living creature in my hand.

Belajar untuk melakukan relokasi penyu di kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Tukik yang baru menetas di kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Setelah semua tukik berhasil dievakuasi, kami membawanya ke pantai untuk dilepaskan. Sebanyak 25 tukik kami lepaskan sore itu. Melihat flipper mungil itu berjalan menuju pantai, meninggalkan jejak indah panjang yang kemudian tersapu ombak, menjadi momen yang rasanya tidak akan pernah ku lupakan. It was fun tho! Dalam hati aku berdoa semoga mereka bisa hidup lama hingga jadi penyu dewasa.

Malam itu aku cepat-cepat beristirahat sebab tim patroller berencana mengajak kami melihat penyu tengah malam nanti. Namun sungguh malang, tiba-tiba demam menyerang tubuhku. Panas tinggi dan menggigil, persis apa yang ku rasakan beberapa hari sebelumnya saat malaria menyerang. “malaria sialan! Tidak tahu waktu sekali!” batinku saat itu. Akhirnya malam itu aku melewatkan ajakan patroli ke pantai.

Melepas tukik di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Berfoto bersama penyu Belimbing di Pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Esok paginya, demam masih betah bersarang dalam badan. Tubuhku lemas, kepalaku pening, tak mampu berbuat apa-apa. Sepanjang sisa hari aku hanya berbaring dalam sleeping bag, tidur pun tak nyenyak. Barulah aku bisa tidur nyenyak setelah mandi ukup dengan daun-daun dan kepalaku dikompres.

Sekitar pukul 8 malam, ada panggilan dari kru. Seekor Penyu Belimbing naik ke pasir di dekat rumah. Setelah mengumpulkan sisa tenaga yang kumiliki, dengan bantuan Kak Ina aku tertatih-tatih berjalan di pasir. Lengkap dengan jaket dan kaos kaki serta kain penutup badan untuk menghindari angin malam, aku berhasil tiba.

Si besar itu di sana, hitam, panjang dan bernafas berat. Sedang bertelur. Mama penyu pertama yang ku jumpai. Melihatnya bertelur, mendengarnya bernafas, menyentuh permukaan tubuhnya yang licin, a once in a lifetime moment. Lalu kami menunggunya berjalan kembali ke laut setelah berputar-putar sedemikian rupa di pasir, membuat kamuflase. Setelahnya aku berbaring di pasir, tak mampu menahan lemas dan pusing, Ditemani debur ombak dan bintang-bintang di langit malam itu, aku terpejam. Bersyukur atas segala limpahan karunia yang ku dapat hari itu, termasuk malaria di badan. A magical moments to behold.

Qumi adalah Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program pada Kampung Wau. Salah satu tugas Qumi adalah mengajarkan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu kepada anak-anak di Rumah Belajar Wau

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Melindungi Penyu, Memberdayakan Kampung: Cerita Monitoring dan Evaluasi dari Kampung-kampung di Taman Pesisir Jeen Womom

Melindungi Penyu, Memberdayakan Kampung: Cerita Monitoring dan Evaluasi dari Kampung-kampung di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Kartika Zohar, Putri Kawilarang, Mika Palimbong

Tanggal

11 Juni 2024

Di sekitar Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, lima kampung hidup berdampingan dengan alam yang indah dan penuh tantangan. Sejak tahun 2013, Program Sains untuk Konservasi dari LPPM UNIPA telah menjalin kemitraan erat dengan masyarakat lokal dalam upaya melindungi penyu belimbing yang bertelur di pantai-pantai mereka. Program ini bukan hanya tentang konservasi, tetapi juga tentang memberdayakan masyarakat dan membangun masa depan yang lebih baik.

Setiap hari pada semester pertama tahun 2024, terdapat 8-9 tenaga pendamping masyarakat dan narahubung yang bekerja di empat lokasi dengan mencakup lima kampung. Mereka fokus pada dua bidang utama: peningkatan perekonomian dan pendidikan. Dalam bidang perekonomian, pendamping membantu masyarakat mengolah kelapa menjadi minyak, membuat noken dari benang, dan memproduksi cocomesh untuk melindungi sarang penyu. Produk-produk ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, baik secara ekonomi maupun lingkungan.

Salah satu kegiatan monev yang dilakukan yaitu Diskusi terkait progress pembuatan cocomesh di Kampung Resya dan Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Salah satu kegiatan monev yang dilakukan yaitu Menguji mesin peras santan di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Di bidang pendidikan, para pendamping mengajar anak-anak di Rumah Belajar. Mereka mengajarkan enam kemampuan dasar: membaca, menulis, berhitung, pendidikan lingkungan hidup, komputer, dan bahasa Inggris dasar. Mereka juga membantu proses belajar mengajar di sekolah-sekolah dasar yang berada pada kampung-kampung ini.

Untuk memastikan program berjalan lancar dan menghadapi setiap tantangan, tim pemberdayaan masyarakat melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) secara rutin. Kegiatan Monev dilakukan bersamaan dengan jadwal kapal, yang membawa tim dari Manokwari ke kampung-kampung yang tersebar di sepanjang TP Jeen Womom.

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Pada 21 Mei 2024, tim Monev berangkat dari Manokwari dengan kapal Sabuk Nusantara 112. Kami tiba di Kampung Resye dan Womom pada 23 Mei, memulai perjalanan selama 11 hari yang menantang. Dalam setiap kunjungan, kami membawa daftar tugas yang telah disusun dengan cermat, termasuk mendokumentasikan kegiatan di lapangan, mengecek pelaksanaan program, mencari solusi atas kendala, mengisi form inventarisasi, dan mengantar logistik.

Meskipun perjalanan ini melelahkan, momen ketika berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan perahu, serta berdiskusi dengan tim dan masyarakat selalu menyenangkan. Pertemuan dengan semua tim di lapangan memberikan semangat baru dan perasaan senang ketika mengetahui mereka dalam keadaan sehat.

Tim monev berpindah pindah dari satu kampung ke kampung lain menggunakan perahu kecil
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Tim monev mengantar logistik ke tim PMNH yang ada di lapang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Setiap sesi ngobrol panjang lebar tentang kehidupan di lapangan selalu menyedot waktu berjam-jam. Salah satu momen paling ditunggu adalah pertukaran makanan. Tim Monev menikmati makanan kampung seperti pisang rebus, kasbi rebus, sayuran dari kebun, dan daging hasil buruan. Sementara itu, teman-teman di lapangan sangat antusias menerima tempe dan “sayur kota” seperti wortel dan kentang yang dibawa oleh tim Monev. Meskipun sederhana, tapi tempe dan “sayur kota” hanya bisa mereka nikmati saat ada tim yang membawa dari kota.

Waktu 11 hari yang terlihat panjang terasa sangat cepat karena interaksi yang hangat dan diskusi yang panjang. Tim Monev mengunjungi semua tim lapangan di Kampung Resye, Womom, Batu Rumah, Syukwo, dan Wau-Weyaf. Kegiatan Monev bulanan ini memberikan dorongan semangat baru bagi semua orang, membangun harapan, dan memastikan bahwa upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan dapat terus berlanjut dengan baik.

Dengan setiap perjalanan yang tercipta, Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA dan masyarakat Jeen Womom semakin erat terhubung, saling menguatkan dalam upaya melestarikan penyu belimbing dan membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Menikmati indahnya sunset di pantai Saubeba (Resye)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Dari Pantai untuk Masa Depan: Pendidikan Konservasi Penyu bagi Anak-Anak Kampung Syukwo

Dari Pantai untuk Masa Depan: Pendidikan Konservasi Penyu bagi Anak-Anak Kampung Syukwo

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Juni 2024

Pemberdayaan masyarakat yang tinggal dekat dengan wilayah Taman Pesisir Jeen Womom adalah salah satu program dari Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat pada 5 kampung lewat pendidikan dan perekonomian. Dalam menjalankan kegiatan ini, dibutuhkan Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) yang tinggal di kampung-kampung tersebut untuk mendampingi masyarakat.

Rumah belajar di kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Proses belajar di RUmah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Salah satu tugas tenaga PMNH adalah meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan informal sebagai “guru” bagi anak-anak usia sekolah dasar di kampung tempat mereka mengabdi, lewat kegiatan di Rumah Belajar. Selain mengajarkan ilmu baca, menulis dan berhitung (calistung), mereka juga mengajarkan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada anak-anak tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh tenaga PMNH di Kampung Syukwo, Armandho Rumpaidus (Andho) dan Valentinday Ronsumbre (Valen). Biasanya mereka mengadakan kegiatan belajar mengajar di Rumah Belajar, tapi kali ini untuk kegiatan PLH, mereka mengajak anak-anak pergi ke Pantai Batu Hitam untuk belajar sambil bermain. Lokasi kegiatan belajar di alam ini tidak terlalu jauh dari kampung mereka dan tetap dalam pengawasan orang dewasa.

Perjalanan menuju Pantai Batu Hitam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Proses belajar di RUmah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Kegiatan pembelajaran PLH oleh PM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Materi PLH yang mereka ajarkan adalah “Belajar Mengenal dan Menjaga Penyu”. Mereka mengajak anak-anak belajar di pantai supaya pembelajaran jadi lebih praktis dan interaktif. Di bawah langit biru, di bawah pohon rindang, dan ditemani suara ombak, anak-anak semangat mengikuti pelajaran di pantai. Andho dan Valen mengajarkan tentang penyu, mulai dari perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu di dunia dan di Papua Barat, siklus hidup penyu, bahaya dan larangan makan telur dan daging penyu, sampai berbagai ancaman yang dihadapi tukik dan penyu di darat dan laut. Semua anak-anak terlihat antusias saat mendengarkan materi dan juga bersemangat saat Andho dan Valen memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka.

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Setelah sesi materi selesai, akhirnya tiba saat yang ditunggu oleh anak-anak, yaitu bermain di pantai dan berenang. Namun, sebelum mengakhiri pembelajaran, Andho dan Valen memberikan tugas kepada anak-anak untuk membuat contoh perlindungan sarang penyu bersama-sama. Setelah diberikan arahan, mereka sangat antusias mencari kayu dan daun untuk membuat “replika” perlindungan sarang penyu berupa pagar di sekeliling sarang dan naungan di atasnya.

Sebagian anak mencari kayu, sebagian mencari daun. Setelah itu mereka menyusun kayu-kayu tersebut menjadi bentuk pagar dan daun menjadi naungan. Mereka sudah tahu dan mengerti syarat-syarat membuat perlindungan sarang yang tepat seperti jarak dan diameter antar kayu. Hasil dari belajar di alam ini membuat anak-anak lebih mudah untuk memahami materi dengan baik, mengetahui cara membuat perlindungan sarang penyu secara langsung, dan mereka juga menjadi lebih bersemangat untuk menambah pengetahuan baru tentang alam dan lingkungan mereka. Sebagai penutup dari kegiatan PLH, anak-anak kemudian bersenang-senang dengan berenang hingga sore hari.

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Kami sadar bahwa upaya konservasi butuh waktu yang cukup lama dan butuh dukungan masyarakat lokal. Oleh karena itu, materi PLH ini sangat penting bagi anak-anak di rumah belajar. Di masa depan, kami berharap mereka akan menjadi generasi penerus yang siap menjadi penjaga penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Anak-anak berenang di pantai setelah kegiatan PLH selesai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

29 Mei 2025

Di sudut terpencil Kampung Wau Weyaf, berdiri sebuah bangunan sederhana yang dikenal sebagai Rumah Belajar. Meski jauh dari kemewahan kota, rumah ini menjadi cahaya harapan bagi anak-anak di kampung tersebut. Rumah Belajar ini disewa oleh Program Sains untuk Konservasi di bawah naungan LPPM UNIPA dan diisi oleh sekelompok pengajar muda yang memiliki tekad kuat untuk membawa pendidikan di daerah terpencil ini.

Penampakan kampung Wau Weyaf dari ketinggian
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Penerangan di Rumah Belajar pada malam hari, dengan daya yang disimpan solar cell
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Kampung Wau Weyaf terletak di daerah yang tidak terjangkau oleh listrik konvensional. Bukan hanya di kampung Wau Weyaf saja, tetapi hampir sebagian besar kampung di pesisir Bentang Laut Kepala Burung Papua tidak terjangkau oleh Listrik.

Di sini, malam datang lebih cepat dan aktivitas sering terhenti karena kegelapan. Namun, para pengajar di Rumah Belajar tidak menyerah. Mereka menemukan solusi dengan menggunakan solar cell untuk mengisi daya laptop, alat-alat elektronik lainnya dan juga untuk penerangan sederhana di malam hari.

Penampakan solar cell diatas rumah belajar Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Aki untuk menampung daya yang diserap oleh solar cell
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Setiap pagi, ketika matahari terbit, solar cell yang dipasang di atap rumah mulai bekerja, menyerap energi yang akan digunakan sepanjang malam, untuk mengisi baterai laptop dan handphone agar pengajar bisa memakainya untuk mengajar tentang komputer, mengirimkan berita kepada keluarga mereka, serta menulis laporan kepada manajemen program di Manokwari.

Setiap harinya, anak-anak kampung dengan semangat datang ke Rumah Belajar. Mereka tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga dikenalkan dengan dunia komputer. Bagi anak-anak ini, laptop adalah jendela ke dunia yang lebih luas, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa mereka impikan.

Ina salah satu pengajar di Rumah Belajar mengajarkan komputer kepada murid RB Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Ina mengajarkan cara mengetik dasar kepada anak Rumah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Ina, Qumi dan Harun adalah para pengajar yang penuh semangat dan kreatif. Mereka mengajarkan anak-anak di rumah belajar tentang dasar-dasar komputer. Banyak pelajaran tentang komputer yang diajarkan, mulai dari pengenalan alat-alat elektronik yang berhubungan dengan komputer itu sendiri bahkan untuk pelajaran dasar seperti cara mengetik, menyalakan dan mematikan laptop juga diajarkan kepada mereka. Meski sederhana, bagi anak-anak ini, setiap pelajaran adalah petualangan baru.

Terkadang, hujan deras mengguyur Kampung Wau Weyaf selama beberapa hari berturut-turut. Langit yang mendung membuat solar cell tidak mendapatkan cukup sinar matahari untuk mengisi daya. Hal ini tidak membuat surut semangat Ina dan tim untuk menyerah. Mereka pergi ke penduduk kampung yang menyalakan genset untuk mengisi daya alat-alat elektronik seperti laptop dan handphone.

Harun sedang mengajarkan alat-alat pendukung komputer kepada anak-anak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Qumi mengajarkan perhitungan dasar kepada anak-anak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Rumah Belajar di Kampung Wau Weyaf bukan sekadar tempat belajar. Itu adalah simbol harapan dan ketekunan. Para pengajar di sana membuktikan bahwa dengan sedikit inovasi dan banyak dedikasi, mereka bisa mengubah masa depan anak-anak meski dalam kondisi yang serba terbatas. Di setiap pelajaran, di setiap malam yang diterangi cahaya solar cell, dan di setiap cerita di bawah bintang, mereka menanamkan mimpi dan harapan yang suatu hari akan membuahkan hasil.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya