
Uji Coba Produk Informasi ke Sekolah di Manokwari
Penulis
Noviyanti
Tanggal
20 Januari 2026
Mengawali tahun 2026, kami melakukan uji coba beberapa produk informasi ke sekolah-sekolah di Manokwari. Produk informasi ini terdiri dari buku cerita bergambar, komik, dan video edukasi yang ditujukan untuk kelompok usia yang berbeda.
Buku cerita bergambar dan komik kami rancang bersama tim dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Sepuluh November (Prodi DKV ITS) Surabaya. Kami sangat senang akhirnya bisa melihat buku-buku ini hadir secara fisik. Sebelumnya, proses perancangan dilakukan secara daring bersama mahasiswa dan dosen dari Prodi DKV ITS. Kedua mahasiswa yang berperan sebagai illustrator buku adalah Farah Jinan Huwaida dan Anak Agung Sagung Laksmi Dharmika Yowani. Dalam proses ini, ide dan pengalaman lapangan dari tim kami diterjemahkan ke dalam bentuk visual dan cerita yang dekat dengan dunia anak dan remaja.
Buku cerita bergambar berjudul Petualangan Pembi si Penyu Belimbing ditujukan untuk anak usia 7–12 tahun. Pembi adalah nama karakter penyu belimbing yang kami ciptakan. Buku ini bercerita tentang seekor mama penyu yang bertelur di pantai, hingga akhirnya tukik-tukik menetas dan berlari menuju laut. Salah satu tukik bernama Pembi berhasil mencapai laut dengan selamat. Melalui cerita ini, anak-anak diajak mengenal peran penting manusia dalam menjaga sarang telur penyu, baik dari predator di darat maupun dari ancaman suhu pasir yang terlalu tinggi.
Anak-anak sekolah dasar membaca buku cerita bergambar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)
Para siswa SD mengisi mini kuis
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)
Salah satu halaman buku yang menampilkan Pembi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)
Berbeda dengan buku cerita bergambar, kami juga menyusun sebuah komik edukasi berjudul Jejak Penyu Belimbing: Belajar dari Laut, Menjaga BLKB. Buku ini ditujukan untuk anak usia pra-remaja (13–15 tahun). Komik ini bercerita tentang dua tokoh pra-remaja, Kristina dan Obed, yang belajar berbagai informasi tentang penyu dari seorang tokoh dewasa bernama Bapa Ayub. Beberapa topik yang dibahas dalam komik ini antara lain perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu, serta persebaran penyu di berbagai belahan dunia.
Untuk kelompok usia remaja (16–18 tahun), kami mengembangkan sebuah video edukasi. Video ini berisi informasi tentang jenis-jenis penyu yang bertelur di Papua, peran penting penyu bagi ekosistem laut, serta bahaya mengonsumsi daging dan telur penyu. Ketiga materi outreach ini disusun dengan pendekatan budaya Papua. Karakter dalam buku dan komik digambarkan dengan raut wajah dan postur orang asli Papua, sementara bahasa tulisan dan lisan menggunakan dialek Papua Melayu.
Hasil visual edukasi – Buku cerita bergambar dan komik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)
Ketiga produk ini dirancang untuk berbagi informasi tentang upaya perlindungan penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, dengan sasaran utama generasi muda, di mana pun mereka berada. Sebelum disebarluaskan secara lebih luas, kami merasa penting untuk menguji langsung materi-materi ini kepada siswa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pesan pelestarian penyu dapat dipahami dengan baik, relevan dengan kehidupan mereka, dan disampaikan dengan cara yang menarik sesuai usia.
Oleh karena itu, pada 9, 12, dan 13 Januari 2026, kami mengunjungi tiga kelas VII di SMP Negeri 6 Manokwari, satu kelas III di SD Santa Sisilia Manokwari, serta satu kelas XII di SMA Negeri 1 Manokwari. Jumlah kelas yang dikunjungi menyesuaikan ketersediaan waktu dan persetujuan dari masing-masing pihak sekolah. Secara keseluruhan, sebanyak 123 siswa terlibat dalam uji coba materi edukasi ini. Siswa SD diminta membaca buku cerita bergambar, siswa SMP membaca komik, sedangkan siswa SMA menonton video edukasi.
Nonton bareng video edukasi siswa SMA Negeri 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Naqliya Arum)
Uji coba komik – siswa SMP Negeri 6
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)
Hasil Uji Coba
Kami mengajukan pertanyaan sebelum dan setelah para siswa membaca buku atau menonton video. Pertanyaan kami susun menggunakan informasi yang ada pada buku dan video. Hasil uji coba menunjukkan bahwa ketiga materi edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan siswa di semua jenjang. Pada siswa SD, nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 43,47% sebelum membaca buku menjadi 85,86% setelahnya. Pada siswa SMP, nilai rata-rata meningkat dari 16,85% menjadi 58,33% setelah membaca komik. Sementara itu, pada siswa SMA, nilai rata-rata meningkat dari 57,93% menjadi 89,66% setelah menonton video edukasi.
Selain peningkatan pengetahuan, hasil kuesioner juga menunjukkan respons yang sangat positif dari siswa. Sebagian besar siswa menilai materi yang mereka terima menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan mereka, khususnya karena menggunakan pendekatan visual dan budaya Papua. Pada siswa SMP dan SMA, materi edukasi juga mendorong kepedulian terhadap penyu dan lingkungan laut, serta menumbuhkan keinginan untuk ikut menjaga penyu dan wilayah pesisir.
Uji coba ini menjadi langkah awal yang penting bagi kami sebelum materi-materi edukasi ini digunakan secara lebih luas. Melalui proses ini, kami belajar bahwa pendekatan yang sesuai usia, visual yang kuat, serta kedekatan budaya memiliki peran besar dalam membantu generasi muda memahami dan peduli terhadap isu konservasi. Kami berharap buku, komik, dan video ini dapat terus digunakan sebagai sarana belajar dan berbagi cerita tentang penyu belimbing dan upaya pelestariannya, tidak hanya di Papua, tetapi juga di berbagai wilayah.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
