Kategori
Outreach - Conservation Goes to School

Keseruan Tim Outreach Mengunjungi Sekolah-sekolah di Kabupaten Manokwari

Keseruan Tim Outreach Mengunjungi Sekolah-sekolah di Kabupaten Manokwari

Penulis

Naqliya Arum Permata, Noviyanti

Tanggal

3 Agustus 2022

Apa jadinya jika generasi muda tidak pernah lagi melihat penyu? Tentu bagi kita yang hari ini masih diberi kesempatan bertemu penyu, pertanyaan ini mungkin tidak pernah muncul di benak kita. Sulit sekali membayangkan jika suatu hari nanti generasi muda harus pergi ke museum dan hanya melihat penyu yang sudah diawetkan bersanding bersama teman “satu angkatan”-nya, dinosaurus.

Suasana saat pemutaran video sasi dan undang-undang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Berbekal kalender dan video yang menceritakan tentang penyu dan habitat peneluran di Taman Pesisir Jeen Womom, Tim Penjangkauan Masyarakat (Tim outreach) LPPM UNIPA bersama dosen-dosen UNIPA mengunjungi sekolah-sekolah di Manokwari. Dalam dua minggu di bulan Juli 2022, tim outreach melakukan kegiatan Sosialisasi Penyu dan Habitat Peneluran ke beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Manokwari. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di BLKB tentang pelestarian penyu melalui kegiatan penjangkauan. Sekolah-sekolah yang kami kunjungi adalah SD YPK Petrus Kafiar Amban Pantai, SMA YPK Immanuel Pasir Putih, SMP Negeri 13 Pasir Putih dan SD Inpres 66 Taman Ria.

Kegiatan sosialisasi ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan, salah satunya adalah pemutaran video yang menceritakan siklus hidup penyu, makanan penyu, manfaat penyu bagi laut dan manusia, bahaya makan telur dan daging penyu, peraturan adat dan undang-undang perlindungan penyu, dan aktivitas perlindungan penyu yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Taman Pesisir Jeen Womom. Yang menarik adalah, pengisi suara video ini sebagian besar kami buat dalam dialek Papua Melayu. Dari hasil pengamatan kami, para siswa tampak sangat menyukai gambar-gambar dalam video apabila digabungkan dengan pesan-pesan lisan menggunakan dialek Papua Melayu.

Setelah menonton video dan mendengarkan materi yang dibawakan oleh narasumber, kami mengajak para siswa bermain permainan Ular Tangga yang telah kami modifikasi. Permainan ini kami sebut dengan permainan Dunia Penyu. Untuk siswa Sekolah Dasar, Ular Tangga yang dimainkan adalah Ular Tangga dengan ukuran 2X2 meter, sedangkan untuk siswa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, mereka memainkan permainan Ular Tangga berukuran 30 x 30 cm. Melalui kegiatan ini juga, kami membagikan kalender dan informasi tentang penyu dalam bentuk agenda dan gantungan kunci.

Penyerahan agenda kepada siswa-siswi SMP Negeri 13 Pasir Putih
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penyerahan infografis kepada guru SMA YPK Immanuel Pasir Putih
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Informasi tentang penyu yang ada pada agenda antara lain adalah jenis-jenis penyu yang naik bertelur di Papua Barat beserta status konservasinya, perbandingan ukuran penyu belimbing dengan manusia dewasa, makanan penyu belimbing dan perannya di alam, siklus hidup penyu belimbing, dan juga aktivitas manusia yang menjadi ancaman kelestarian penyu. Buku agenda ini kami bagikan kepada siswa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang kami kunjungi.

Selain agenda, kami juga memberikan kalender dan informasi tentang penyu dalam bentuk gantungan kunci. Gantungan kunci ini kami bagikan kepada siswa Sekolah Dasar. Pada gantungan kunci, informasi yang kami bagikan antara lain adalah perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu yang naik bertelur di Papua Barat, siklus hidup penyu belimbing dan perbandingan tukik dan penyu dewasa.

Melalui kegiatan penjangkauan ini kami berharap semakin banyak generasi muda yang mengerti tentang pentingnya menjaga penyu di alamnya. Kami mengajak mereka mendukung upaya pelestarian penyu dengan melakukan hal-hal kecil seperti tidak membeli telur dan daging penyu dan membuang sampah pada tempatnya. Semoga upaya ini berkontribusi dalam upaya pelestarian penyu, sehingga generasi mendatang masih bisa melihat penyu hidup di alamnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Conservation Goes to School

Bermain Peran sambil Memperkenalkan Isu Perubahan Iklim kepada Siswa Sekolah Citra Kasih dan Sekolah Citra Berkat

Bermain Peran sambil Memperkenalkan Isu Perubahan Iklim kepada Siswa

Penulis

Noviyanti

Tanggal

29 Maret 2022

Deasy, siswa SCB & SCK, serta pengajar yang masuk dalam kelompok diskusi “Perubahan Iklim”
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari Rabu, 9 Maret 2022, program Sains untuk Konservasi diberikan kesempatan untuk menjadi salah satu fasilitator dalam memperkenalkan isu Sustainable Development Goals (SDGs) kepada para siswa-siswi kelas VII Sekolah Citra Kasih (SCK) dan Sekolah Citra Berkat (SCB). Terdapat 9 sekolah yang hadir yaitu SCB Citra Land, SCB Citra Indah, SCB Citra Raya, SCB Taman Dayu, SCK DBPI, SCK Citra Garden, SCK Samarinda, SCK Manado, dan SCK Ambon.

Sejalan dengan visinya, dimana sekolah ini ingin mengajarkan pendidikan kewirausahaan melalui pendidikan yang holistik, maka dalam materi mereka tentang memperkenalkan isu-isu SDGs, para siswa diajak untuk menciptakan sebuah inovasi yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang mereka temui. Para fasilitator dari masing-masing isu SDG menyampaikan materi pada hari Rabu dan para siswa dari masing-masing kelompok menyampaikan inovasi yang mereka ciptakan pada hari Kamis.

Deasy saat memperkenalkan diri kepada para siswa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Deasy menunjukkan percakapan dengan pamannya yang bekerja di BMKG
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Deasy Lontoh sebagai fasilitator menyampaikan materi mengenai dampak perubahan iklim. Kesempatan ini Deasy manfaatkan untuk melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada para siswa/i ini. Materi disampaikan dengan metode role play; para siswa berperan sebagai makhluk luar angkasa yang berkunjung ke bumi dan menanyakan mengenai perubahan iklim kepada Deasy sebagai penduduk bumi. Deasy memulai dengan bercerita mengenai pengertian perubahan iklim yang ia dapatkan dari pamannya yang bekerja di BMKG. Deasy juga bercerita mengenai panen gagal yang dialami oleh bibinya yang bekerja sebagai petani. Deasy mulai cemas dan menemukan banyak hal lain dari teman-temannya dari berbagai profesi, seperti munculnya penyakit-penyakit baru pada manusia dan coral bleaching pada terumbu karang. Deasy juga bercerita bahwa peningkatan suhu pasir di pantai peneluran penyu juga membuat rasio jantan dan betina tukik menjadi tidak seimbang.

Deasy kemudian memperkenalkan hal-hal sederhana yang dapat siswa/i lakukan untuk memperlambat dampak perubahan iklim, seperti menghemat penggunaan listrik, menggunakan alat transportasi umum, dan mengkonsumsi buah-buah lokal untuk mengurangi jejak karbon.

Deasy menceritakan coral bleaching pada terumbu karang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

“In the end, we will conserve only what we love. We will love only what we understand. We will understand only what we are taught.” — Baba Dioum

Pada hari Kamis, kedua kelompok siswa menyampaikan inovasi yang mereka ciptakan untuk memperlambat perubahan iklim. Kelompok pertama menyampaikan inovasinya dalam bentuk penanaman pohon. Kelompok kedua menciptakan inovasinya dalam bentuk mengedukasi masyarakat melalui akun Instagram. Kami sangat senang karena materi ini menumbuhkan kesadaran tentang hal sederhana yang masih relevan dan penting untuk dilakukan bagi bumi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

[vc_row css_animation=”” row_type=”row” use_row_as_full_screen_section=”no” type=”full_width” angled_section=”no” text_align=”left” background_image_as_pattern=”without_pattern” css=”.vc_custom_1645496719229{margin-right: 30px !important;margin-left: 30px !important;}” z_index=””][vc_column][vc_column_text]
Bermain Peran sambil Memperkenalkan Isu Perubahan Iklim kepada Siswa
[/vc_column_text][vc_empty_space height=”40px”][vc_separator type=”normal” color=”#f4f4f4″ thickness=”1″][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=””][vc_column_inner width=”1/6″][vc_column_text]

Tanggal

[/vc_column_text][vc_column_text]

29 Maret 2022

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”3/6″][vc_column_text]

Penulis

[/vc_column_text][vc_column_text]

Noviyanti

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/6″][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/6″][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_separator type=”normal” color=”#f4f4f4″ thickness=”1″][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=”” css=”.vc_custom_1648529432621{padding-top: 20px !important;padding-bottom: 10px !important;}”][vc_column_inner width=”1/2″][vc_column_text]

Pada hari Rabu, 9 Maret 2022, program Sains untuk Konservasi diberikan kesempatan untuk menjadi salah satu fasilitator dalam memperkenalkan isu Sustainable Development Goals (SDGs) kepada para siswa-siswi kelas VII Sekolah Citra Kasih (SCK) dan Sekolah Citra Berkat (SCB). Terdapat 9 sekolah yang hadir yaitu SCB Citra Land, SCB Citra Indah, SCB Citra Raya, SCB Taman Dayu, SCK DBPI, SCK Citra Garden, SCK Samarinda, SCK Manado, dan SCK Ambon.

[/vc_column_text][vc_column_text css=”.vc_custom_1647590601460{padding-top: 20px !important;}”]

Sejalan dengan visinya, dimana sekolah ini ingin mengajarkan pendidikan kewirausahaan melalui pendidikan yang holistik, maka dalam materi mereka tentang memperkenalkan isu-isu SDGs, para siswa diajak untuk menciptakan sebuah inovasi yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang mereka temui. Para fasilitator dari masing-masing isu SDG menyampaikan materi pada hari Rabu dan para siswa dari masing-masing kelompok menyampaikan inovasi yang mereka ciptakan pada hari Kamis.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″][vc_empty_space height=”10px”][vc_single_image image=”8338″ img_size=”full” alignment=”center” qode_css_animation=””][vc_column_text]

Deasy, siswa SCB & SCK, serta pengajar yang masuk dalam kelompok diskusi “Perubahan Iklim” (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_column_text]

Deasy Lontoh sebagai fasilitator menyampaikan materi mengenai dampak perubahan iklim. Kesempatan ini Deasy manfaatkan untuk melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada para siswa/i ini. Materi disampaikan dengan metode role play; para siswa berperan sebagai makhluk luar angkasa yang berkunjung ke bumi dan menanyakan mengenai perubahan iklim kepada Deasy sebagai penduduk bumi. Deasy memulai dengan bercerita mengenai pengertian perubahan iklim yang ia dapatkan dari pamannya yang bekerja di BMKG. Deasy juga bercerita mengenai panen gagal yang dialami oleh bibinya yang bekerja sebagai petani. Deasy mulai cemas dan menemukan banyak hal lain dari teman-temannya dari berbagai profesi, seperti munculnya penyakit-penyakit baru pada manusia dan coral bleaching pada terumbu karang. Deasy juga bercerita bahwa peningkatan suhu pasir di pantai peneluran penyu juga membuat rasio jantan dan betina tukik menjadi tidak seimbang.

[/vc_column_text][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=”” css=”.vc_custom_1644288435498{padding-top: 20px !important;padding-bottom: 20px !important;}”][vc_column_inner width=”1/2″][vc_single_image image=”8337″ img_size=”full” qode_css_animation=””][vc_column_text]

Deasy saat memperkenalkan diri kepada para siswa (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″][vc_single_image image=”8336″ img_size=”full” alignment=”center” qode_css_animation=””][vc_column_text]

Deasy menunjukkan percakapan dengan pamannya yang bekerja di BMKG (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_column_text]

Deasy kemudian memperkenalkan hal-hal sederhana yang dapat siswa/i lakukan untuk memperlambat dampak perubahan iklim, seperti menghemat penggunaan listrik, menggunakan alat transportasi umum, dan mengkonsumsi buah-buah lokal untuk mengurangi jejak karbon.

[/vc_column_text][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=”” css=”.vc_custom_1644288435498{padding-top: 20px !important;padding-bottom: 20px !important;}”][vc_column_inner width=”1/2″][vc_single_image image=”8334″ img_size=”full” qode_css_animation=””][vc_column_text]

Deasy menceritakan coral bleaching pada terumbu karang (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″][qode_simple_quote simple_quote_text=”In the end, we will conserve only what we love. We will love only what we understand. We will understand only what we are taught ~ Baba Dioum”][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_column_text]

Pada hari Kamis, kedua kelompok siswa menyampaikan inovasi yang mereka ciptakan untuk memperlambat perubahan iklim. Kelompok pertama menyampaikan inovasinya dalam bentuk penanaman pohon. Kelompok kedua menciptakan inovasinya dalam bentuk mengedukasi masyarakat melalui akun Instagram. Kami sangat senang karena materi ini menumbuhkan kesadaran tentang hal sederhana yang masih relevan dan penting untuk dilakukan bagi bumi.

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row css_animation=”” row_type=”row” use_row_as_full_screen_section=”no” type=”full_width” angled_section=”no” text_align=”left” background_image_as_pattern=”without_pattern” css=”.vc_custom_1645496972773{margin-right: 30px !important;margin-left: 30px !important;}” z_index=””][vc_column][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=”” css=”.vc_custom_1638939674086{padding-top: 20px !important;padding-bottom: 20px !important;}”][vc_column_inner width=”1/4″][vc_column_text]

Berita Lainnya

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”3/4″][vc_separator type=”normal” color=”#000000″ thickness=”1″][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=””][vc_column_inner width=”1/3″][vc_single_image image=”8456″ img_size=”500×290″ alignment=”center” qode_css_animation=””][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]

Pemaparan Hasil Kegiatan Reef Health Monitoring di TNTC tahun 2021

[/vc_column_text][vc_empty_space height=”20px”][vc_empty_space height=”20px”][vc_empty_space height=”20px”][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]

Habema Monim, Dariani Matualage, Noviyanti – Maret 23, 2022

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/3″][vc_single_image image=”8134″ img_size=”500×290″ alignment=”center” qode_css_animation=””][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]

Showcasing produk UMKM Papua Barat – Bank Indonesia Papua Barat Dukung Penjualan Produk UMKM melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia

[/vc_column_text][vc_empty_space height=”15px”][vc_column_text]

Aflia Pongbatu, Naqliya Arum Permata, Noviyanti dan Yulitha Sa’bi – Maret 9 2022

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/3″][vc_single_image image=”7988″ img_size=”500×290″ alignment=”center” qode_css_animation=””][vc_empty_space height=”5px”][vc_column_text]

Pengalaman Mengikuti Pelatihan Pilot Drone dan Drone Mapping yang dilaksanakan oleh CI Indonesia dan BBTNTC

[/vc_column_text][vc_empty_space height=”20px”][vc_empty_space height=”20px”][vc_column_text]

Noviyanti & Habema Monim – Maret 4, 2022

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_column][/vc_row]
Kategori
Outreach - Conservation Goes to School

Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainers) Pendidikan Lingkungan Hidup di Wilayah Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) dan Sekitarnya

Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainers) Pendidikan Lingkungan Hidup di Wilayah Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) dan Sekitarnya

Penulis

Noviyanti

Tanggal

1 Maret 2022

Pada tanggal 8-11 Februari 2022, Conservation International (CI) Indonesia bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) melakukan kegiatan ToT Pendidikan Lingkungan Hidup di Wilayah TNTC dan Sekitarnya. Kegiatan di selenggarakan di Hotel Valdos Manokwari selama 3 hari dan 1 hari di tiga sekolah: SMPN 1 Manokwari, SDN 44 Amban, dan SDN 02 Amban. Meskipun pelatihan ini difokuskan untuk meningkatkan kapasitas yang komprehensif bagi staf penyuluh BBTNTC, kami dari LPPM UNIPA juga diberi kesempatan untuk menjadi peserta dalam pelatihan ini.

Adapun jumlah peserta pada pelatihan ini adalah 20 orang: 17 orang merupakan staf fungsional BBTNTC dari wilayah Nabire, Teluk Wondama, Yembekiri, dan Manokwari, 1 kader konservasi Aisandami, dan 2 staf dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA. Sedangkan fasilitator kegiatan adalah perwakilan dari BBTNTC dan Staf CI Indonesia. Pelatihan ini bertujuan untuk transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan pendidikan konservasi sebagai bagian dari sistem Pendidikan serta membangun motivasi dan partisipasi dari peserta untuk turut terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan di wilayah kerja masing-masing.

Yang paling menarik dari kegiatan ini adalah para peserta diperkenalkan dengan Modul Pendidikan Lingkungan Hidup yang dikembangkan oleh Yayasan Kalabia Indonesia dan CI Indonesia. Di dalam modul ini terdapat materi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang disusun dengan berbagai tema yang saling berkesinambungan mengenai lingkungan ekositem pesisir dan ancaman-ancaman terhadap ekosistem.

(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Setelah menguasai isi modul, para peserta diminta untuk berlatih mengajar PLH di dalam kelompok. Setiap peserta diberi kesempatan untuk menjadi fasilitator sebanyak 1x dan diminta untuk memilih topik yang ada di modul untuk dibawakan dalam latihan mengajar. Para fasilitator yang memilih topik yang sama akan bekerja dalam satu kelompok dan melakukan latihan mengajar dimana peserta lainnya bertindak sebagai siswa yang diajar. Semua peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini karena memiliki kesempatan untuk berlatih mengajar di dalam kelompok dan mendapatkan evaluasi mengenai cara mengajarnya.

Keesokan harinya, para peserta dibagi lagi ke dalam 3 kelompok dan mengunjungi 3 sekolah yang ada di Manokwari untuk melakukan simulasi mengajar PLH. Pihak sekolah menyambut kegiatan PLH ini dengan antusias. Semua peserta pelatihan langsung menjadi fasilitator dalam simulasi ini. Para siswa yang dikunjungi sangat menikmati kegiatan ini karena mereka mendapatkan materi melalui berbagai aktivitas dan permainan.

Foto bersama fasilitator dengan siswa/i SMP Negeri 1 Manokwari
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Simulasi mengajar PLH di SMP Negeri 1 Manokwari
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari terakhir, para peserta kembali beraktivitas di Hotel Valdos. Peserta menerima materi dan praktik penerapan Code of Conduct terkait penyelaman SCUBA dan aktivitas snorkeling. Aflia, salah satu staf Program Sains untuk Konservasi, yang hadir dalam kegiatan ini sangat tertarik mengaplikasikan permainan-permainan yang ada di modul PLH dari Yayasan Kalabia kepada anak-anak di Rumah Belajar Abun. Menurut Aflia, ada beberapa materi dalam modul ini yang sangat sesuai dengan kondisi alam di Abun. Aflia berharap agar pelatihan serupa juga diadakan lagi untuk teman-teman di Program Sains untuk Konservasi.

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Conservation Goes to School

Satu Setengah Jam untuk Belajar Laut

Satu Setengah Jam untuk Belajar Laut

Penulis

Halter Karubaba

Tanggal

7 Desember 2021

Tidak terasa kita sudah berada di pertengahan tahun 2021. Pada tanggal 16 Juni 2021, kami dari tim Outreach Program Sains untuk Konservasi Universitas Papua sangat senang karena telah berkesempatan melaksanakan pendidikan kelautan kepada pelajar di Kampung Pam, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat

Sebanyak 172 anak-anak dan remaja berpartisipasi dalam acara ini. Kami menggunakan ruang tunggu pelabuhan dan halaman rumah masyarakat untuk melaksanakan kegiatan ini. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pengetahuan mereka tentang pengelolaan zonasi di Kawasan Konservasi Perairan (KKP); memperkenalkan biota laut seperti karang, ikan, dan lain-lain di sekitarnya; dan mendorong mereka untuk melindungi keanekaragaman hayati laut di wilayah mereka.

Pendidikan kelautan berlangsung selama kurang lebih 1 jam 30 menit. Kami melakukan tiga kegiatan dan membagi peserta ke dalam 3 kelompok berdasarkan usia mereka. Kelompok pertama adalah kelompok remaja dimana mereka melakukan permainan simulasi yang bertujuan untuk memperkenalkan sistem zonasi KKP. Kelompok kedua adalah kelompok pelajar SD kelas 3-6, dimana mereka bermain papan permainan untuk mengenali potensi dan ancaman ekosistem laut. Kelompok ketiga adalah kelompok siswa TK dan pelajar SD kelas 1-3, mereka mewarnai biota laut seperti terumbu karang dan ikan laut.

Aktivitas peserta bermain games Raja Lautan
(Foto : S4C LPPM UNIPA)

Membagi kelompok untuk bermain games menangkap ikan
(Foto : S4C LPPM UNIPA)

Henny Lesnussa, Susi Marini dan Halter Karubaba adalah staf Program Sains untuk Konservasi yang melakukan kegiatan pendidikan kelautan ini. Tim juga dibantu oleh staf dari BLUD UPTD Raja Ampat. Para aparat kampung, pengasuh sekolah minggu serta masyarakat juga hadir mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung.

Kami senang dan merasa dihargai karena banyak pihak memberikan dukungan untuk membantu tim menyampaikan pengumuman, mengumpulkan peserta, dan mempersiapkan tempat untuk kegiatan sosialisasi pada hari penjangkauan laut.

Kegiatan ini sangat berkesan bagi kami. Kami menikmati keramahan orang-orang di desa. Untuk pertama kalinya, tim outreach berkunjung untuk melakukan marine outreach di KKP Kepulauan Fam. Meskipun permainannya terlihat sederhana, banyak orang dewasa dan anak-anak berkumpul di tempat kegiatan untuk bermain dan belajar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Conservation Goes to School

Bermain dan Belajar di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo, Raja Ampat

[vc_row css_animation=”” row_type=”row” use_row_as_full_screen_section=”no” type=”full_width” angled_section=”no” text_align=”left” background_image_as_pattern=”without_pattern” css=”.vc_custom_1639022940726{padding-right: 85px !important;padding-left: 85px !important;}” z_index=””][vc_column][vc_column_text]

Bermain dan Belajar di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo, Raja Ampat

[/vc_column_text][vc_empty_space height=”40px”][vc_single_image image=”3122″ img_size=”full” alignment=”center” qode_css_animation=””][vc_separator type=”normal” color=”#f4f4f4″ thickness=”1″][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=””][vc_column_inner width=”1/6″][vc_column_text]

Tanggal

[/vc_column_text][vc_column_text]

12 Juli 2021

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”3/6″][vc_column_text]

Penulis

[/vc_column_text][vc_column_text]

Faris Luthfi

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/6″][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/6″][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_separator type=”normal” color=”#f4f4f4″ thickness=”1″][vc_row_inner row_type=”row” type=”full_width” text_align=”left” css_animation=”” css=”.vc_custom_1639022953788{padding-top: 20px !important;}”][vc_column_inner][vc_column_text]

Setelah rehat satu tahun, pada awal tahun 2021 Tim Outreach Program Sains untuk Konservasi berkesempatan mengadakan kegiatan pendidikan lingkungan secara langsung bersama masyarakat di wilayah pesisir BLKB, tepatnya di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo di Kabupaten Raja Ampat. Kegiatan pendidikan kelautan ini disampaikan dengan cara bermain sambil belajar kepada para pelajar.

Kegiatan ini dilaksanakan pada beberapa sekolah di Kabupaten Raja Ampat yaitu SMA Negeri 3 Raja Ampat, SMP Negeri 7, dan SMP Negeri 22. Para siswa diajak bermain papan permainan yang didalamnya terdapat informasi ancaman terhadap laut, hewan laut dan informasi lainya. Mereka juga bermain permainan simulasi untuk mengenal sistem zonasi KKP dan alat tangkap ikan bersama saudara/i Halter Karubaba, Kezia Salosso dan kakak Penina Mischa. Para siswa terlihat sangat bersemangat dan dapat menceritakan kembali kepada kami tentang tujuan dari permainan yang dimainkan.

[/vc_column_text][vc_column_text css=”.vc_custom_1639024728024{padding-top: 20px !important;}”]

Kami sangat senang ketika berada di KKPD Kepulauan Kofiau- Boo, karena masyarakatnya membuat kami merasa nyaman dan dihargai. Selain masyarakatnya yang sangat bersahabat, keindahan alamnya juga tidak kalah dengan tempat-tempat lain di Indonesia.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_column][/vc_row]