Kategori
Uncategorized @id

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Loise Liberta Loar

Tanggal

06 Januari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Hai, saya Loise Liberta Loar biasanya dipanggil Loise. Latar belakang pendidikan saya adalah Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Setelah lulus saya mempunyai keinginan yang besar untuk bisa bekerja di tempat yang langsung berinteraksi dengan satwa liar. Saya pun mendapat kesempatan untuk bekerja di Science for Conservation pada tahun 2024 sebagai Tenaga Perlindungan Sarang periode April-Oktober dan ditempatkan di Pantai Batu Rumah. Sebagai Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Batu Rumah tugas utamanya adalah patroli pagi, kegiatannya meliputi mencatat jejak penyu, perlindungan sarang penyu menggunakan metode perlindungan pagar dan perlindungan naungan pakis pada sarang yang telah ditemukan titik peletakan telur penyu (tusuk sarang), serta evaluasi sarang penyu. Saya juga ikut berpartisipasi melakukan patroli malam. Selama mengikuti patroli malam saya mendapatkan kesempatan untuk scan atau mendeteksi nomor Passive Integrated Transponder (PIT) tag pada penyu dan memasang PIT tag pada penyu yang belum memiliki nomor PIT tag, serta mengukur panjang dan lebar karapas penyu. Saya juga membantu mengukur lebar pantai dan suhu pasir, serta mencatat data tersebut di buku maupun di Excel.

Rasa penasaran terhadap penyu dan tempat penyu bertelur tampaknya masih belum terbayarkan, sehingga saya memutuskan untuk kembali mendaftarkan diri. Pada tahun 2025 ini saya masih diberikan kesempatan untuk bergabung kembali di Science for Conservation sebagai Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Batu Rumah. Tugas TLP2 mencakup semua pekerjaan di pantai yaitu patroli pagi, patroli malam, menginput data, mengukur panjang pantai dan suhu pasir, serta jam kerjanya pun bertambah. Mengerjakan pekerjaan TLP2 menjadi mudah untuk saya karena semuanya sudah saya pelajari ketika menjadi Tenaga Perlindungan Sarang.

Memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bekerja di Pantai Batu Rumah seperti sedang berlibur namun diberikan challenges yang harus diselesaikan sebelum pulang berlibur. Bagaimana tidak, setiap harinya saya berjalan di pantai dengan pemandangan indah sembari menyelesaikan challenge yang diberikan. Ketika melaksanakan challenge di pagi sampai sore hari saya dapat menikmati sunrise, langit biru yang indah dipadu dengan bentang laut yang luas, sunset dan juga pemandangan pantai yang selalu menarik perhatian saya. Sedangkan di malam hari saya dapat melihat Galaksi Bimasakti dengan sangat jelas, langit yang dihiasi dengan berjuta-juta bintang, bulan dan fenomena-fenomena langit yang terjadi di malam hari. Melihat galaksi dan bintang menjadi salah satu hal favorit saya di pantai. Tidak hanya itu saya juga bisa melihat rusa yang keluar ke pantai untuk minum air laut, biawak, lumba-lumba, serta beragama jenis burung.

Ketika merasa jenuh di pantai saya dan tim bisa berkunjung ke hutan sekedar menikmati keindahan hutan dan kehidupan yang ada di dalamnya, mengunjungi air terjun, ikut memasang dan memeriksa jerat yang dipasang oleh masyarakat. Terkadang hanya tinggal di pos atau tempat tinggal tim saja, saya sudah bisa menghilangkan jenuh dengan melihat beragama jenis kupu-kupu, burung, ular, kadal, tokek dan juga katak. Hal yang lebih menakjubkan adalah semua yang saya sebut tidak hanya dapat dinikmati di Pantai Batu Rumah tetapi dapat dinikmati di dua pantai lainnya (Pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi), dengan kata lain semuanya dapat dinikmati di sepanjang pantai Jeen Yessa.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya juga belajar mengemudi perahu yang menurut saya cukup menguji adrenalin. Adat istiadat masyarakat yang tinggal di sekitar Jeen Yessa juga menarik perhatian saya. Hal yang paling menarik perhatian saya adalah cara mereka memasak menggunakan bambu dan upacara pemanggilan penyu yang sangat unik.

Penyu memiliki daya tarik yang luar biasa bagi sebagian orang yang menyukai satwa. Salah satu hal yang menarik menurut saya adalah perjalanan hidupnya dari anak penyu (tukik) hingga menjadi dewasa. Setelah induk penyu mengubur telur di pantai peneluran, telur akan dibiarkan menetas sendiri dengan bantuan alam sekitarnya. Setelah menjadi tukik dan keluar dari sarang, tukik-tukik itu harus berjuang sendiri melawan predator di darat untuk menuju laut, kemudian ketika sampai di laut, tukik-tukik pun harus menghadapi predator di laut agar bisa bertahan hidup. Setelah menghadapi berbagai ancaman di laut, tukik-tukik pun tumbuh menjadi dewasa dan kembali ke pantai peneluran untuk bertelur. Hal itu menjadi suatu hal menarik yang dapat diteliti lebih lanjut. Keberadaan penyu di pantai Jeen Yessa menarik perhatian sebagian orang, banyak wisatawan yang datang ke pantai ini untuk melihat penyu dan juga keindahan alamnya. Wisatawan yang datang pun ada yang berasal dari mancanegara. Pantai Jeen Yessa dapat dikatakan sebagai aset yang sangat berharga untuk masyarakat setempat dan sudah sepatutnya dijaga kelestariannya. Pemantauan dan perlindungan penyu yang dilakukan Science for Conservation menjadi salah satu tindakan konservasi yang harus terus dilaksanakan agar populasi penyu yang datang ke pantai Jeen Yessa semakin meningkat. Akhir kata lestarikan alam untuk masa depan

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Januari 2026

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Misool, yang mencakup bagian selatan dari Raja Ampat, adalah salah satu kawasan konservasi laut paling luas di Raja Ampat, dengan luas sekitar 348.518,74 hektare (sumber: SK Penetapan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2021). Ekosistem di Kepulauan Misool secara ekologis sangat kaya. Raja Ampat secara keseluruhan dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Dari total spesies karang keras dunia, sekitar 75% berada di wilayah Raja Ampat. Keanekaragaman ini mencakup tidak hanya karang dan ikan terumbu, tapi juga moluska, karang lunak, serta fauna besar seperti penyu, manta, dan ikan besar.

Transek Terumbu Karang
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Secara geografis, bentuk pulau dan perairan di Kepulauan Misool mendukung struktur habitat yang kompleks; terumbu di perairan dangkal, beberapa lokasi dengan topografi lereng, laguna yang terlindungi, kawasan karst dan gua laut, bahkan danau-laut (marine lakes) di daratan semu-terisolasi. Contoh unik: Danau Lenmakana, Balbullol, Lenkafal, Keramat, dan Kawarapop, sebuah danau laut di Kepulauan Misool ini menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya kaya laut, tapi juga punya fitur geografis yang khas. Oleh karena itu, kawasan Kepulauan Misool bukan hanya dikenal sebagai “tempat menyelam yang indah”, tetapi dari sudut ilmiah dan konservasi sebagai “laboratorium alam”: perairan yang kompleks dengan biodiversitas yang sangat tinggi, namun juga sensitif terhadap tekanan lingkungan maupun manusia.

Dengan latar belakang di atas, tim monitoring LPPM UNIPA bersama BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat sebagai pengelola kawasan, serta beberapa tenaga ahli dari berbagai instansi, kembali ke Kepulauan Misool setelah tiga tahun untuk melakukan pemantauan kembali kondisi karang, ikan, dan lingkungannya. Berikut adalah ringkasan temuan dari 19-23 November 2025 selama 5 hari penyelaman di Kepulauan Misool.

Keragaman Spesies yang Tinggi dan Habitat yang Masih Terjaga.

  • Di beberapa titik, kami mendapati hewan ukuran besar seperti bumphead, napoleon, penyu, hingga pari manta dan keberadaan schooling ikan karang. Hal ini menunjukkan bahwa struktur habitat masih mampu menopang fauna besar.
  • Struktur terumbu, termasuk koloni karang besar dan area dengan tutupan karang yang relatif rapat masih tampak, terutama di beberapa zona dangkal dan curam.
  • Keberadaan kima besar dan adanya indikasi regenerasi (juvenile fish, rekrutmen karang) menunjukkan bahwa proses ekologis dasar masih berjalan; reproduksi, pertumbuhan dan juga keanekaragaman masih terjaga.

Ini semua menunjukkan bahwa sebagian dari Kepulauan Misool masih memiliki kondisi cukup ideal, sesuai dengan karakter wilayah ini sebagai kawasan laut dengan biodiversitas tinggi.

Pari Manta
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Namun ada Sinyal yang Membutuhkan Perhatian.

  • Di beberapa lokasi, terlihat banyak rubble (patahan karang) menunjukkan bahwa ada daerah dengan beban kerusakan, entah dari alam maupun jejak tekanan manusia di masa lalu.
  • Kekeruhan air dan sedimentasi di beberapa titik menghasilkan visibilitas rendah. Hal ini menyulitkan pengamatan, sekaligus bisa menjadi indikator gangguan lingkungan seperti peningkatan sedimen atau gangguan arus.
  • Beberapa lokasi menunjukan tanda terjadinya stres pada komunitas karang, indikator utama adalah dominasi alga akibat suplai sedimen berlebih. Hal ini memberi isyarat bahwa kehidupan lingkungan ini sedang bekerja untuk bertahan.

Membaca Dua Sisi-Antara Harapan dan Realita.

Meskipun dinamika ekosistem selalu berubah, banyak bagian terumbu di kawasan Kepulauan Misool masih menunjukkan ciri-ciri proses ekologis yang berfungsi, seperti pertumbuhan karang baru dan keragaman spesies yang tinggi. Namun, tekanan dan kerusakan di titik-titik tertentu juga menunjukkan bahwa kawasan ini tetap rentan. Hanya karena sebagian besar bagus, bukan berarti keseluruhan aman. Variabilitas spasial dan kondisi lokal bisa berbeda tajam di antara titik satu dengan titik lainnya.

Bagi konservasi, ini berarti dua hal penting:

  1. Monitoring rutin mutlak diperlukan agar perubahan, baik positif maupun negatif, bisa terdeteksi sejak dini.
  2. Intervensi serta pengelolaan yang cermat, baik terhadap aktivitas manusia maupun dampak lingkungan harus diiringi dengan kesadaran bahwa tidak semua habitat bisa dianggap sama kuat.

Secara keseluruhan, Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Misool tetap menunjukkan ketangguhan alamnya, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan seindah ini tetap perlu dijaga dengan serius.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Lowongan Kerja Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) 2026

Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Bergabunglah dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Apakah Anda ingin berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi? Inilah kesempatan Anda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di Distrik Abun, Distrik Tobouw, dan Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Universitas Papua (UNIPA), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), membuka kesempatan bagi alumni UNIPA dan lulusan perguruan tinggi lainnya untuk bergabung sebagai Tenaga Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Konservasi (PMNH). Dalam program ini, Anda akan berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dan perekonomian, serta membantu mereka dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan di kawasan konservasi.

Tugas Utama

Melaksanakan pendampingan, fasilitasi, dan koordinasi program di tingkat masyarakat serta menjadi penghubung antara program, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal.

Persyaratan

1. Minimal D3 semua jurusan (diutamakan Pendidikan, Pertanian, dan Pengolahan hasil Pertanian)
2. Pengalaman minimal 1 tahun di bidang pendampingan masyarakat (menjadi nilai lebih).
3. IPK minimal 2,75
4. Bersedia ditempatkan di daerah dengan akses terbatas.
5. Mahir komputer (Microsoft Office, Google Forms)

Kompensasi

1. Gaji pokok kompetitif (min. Rp 3.200.000)
2. BPJS Kesehatan + Asuransi Perjalanan
3. Akomodasi, transportasi, konsumsi ditanggung
4. Pelatihan teknis dan sertifikat

Linimasa

📌 29 Des 2025 – 11 Jan 2026: Pendaftaran & Seleksi Tahap 1
📌 17 Jan 2026: Wawancara (online/offline)
📌 22 Jan 2026: Penandatangan kontrak
📌 23–26 Jan 2026: Pelatihan PMNH

Kuota : 11-12 orang

Periode : 22 Januari – 30 April 2026

Apakah kamu tertarik bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan dan perekonomian?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 11 Januari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
New Template Uncategorized @id

Brian: Peran sebagai Penjaga Sarang yang Mengubah Cara Pandang Saya tentang Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Penulis

Brian Marcel Crisanto Fatem

Tanggal

17 Desember 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Perkenalkan saya Brian Marcel Crisanto Fatem atau lebih dikenal dengan nama Brian. Asal suku saya dari Sorong namun saya tumbuh besar di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Tahun ini saya berkesempatan menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Pantai Peneluran periode pertama April-Juli 2025. Pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya di Pantai Peneluran Jeen Yessa Kabupaten Tambrauw. Awalnya saya mendapat informasi terkait Tenaga Perlindungan Sarang ini dari kakak tingkat di Universitas Papua (UNIPA) yaitu Kakak Kevin di akhir tahun 2024 yang telah mengikuti program ini di tahun 2023, dan merasa tertarik karena saya penasaran dengan pekerjaan menjaga penyu di pantai peneluran yang diceritakan Kakak Kevin. Latar belakang pendidikan saya sebelumnya yaitu Sarjana Peternakan UNIPA, lulusan tahun 2014.

Tenaga Perlindungan Sarang ini adalah pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah. Sebelumnya saya hanya pernah melihat penyu hijau di Pantai  Sidey, salah satu pantai wisata di Distrik Masni. Kalau boleh jujur, saya juga pernah  melihat masyarakat lokal di salah satu pantai memburu penyu. Namun karena saat itu saya tidak tahu mendalam terkait ancaman kepunahan penyu, saya  tidak menghiraukan perbuatan tersebut.

Bulan Mei 2025, saya dan tim turun lapangan ke Pantai Jeen Womom, tepatnya di dekat Kampung Resye (dahulu disebut Saubeba). Tantangan pertama langsung saya hadapi ketika tiba di pantai peneluran Batu Rumah: saya harus berjalan sekitar 9 km menuju Pantai Wembrak, lokasi kerja saya. Karena masih awal bekerja di pantai peneluran, saya cukup kaget dengan aktivitas berjalan sejauh itu di pasir pantai; kaki saya belum beradaptasi, dan langkah terasa lebih berat karena setiap pijakan membuat telapak kaki saya masuk ke dalam pasir, tidak seperti berjalan di permukaan yang keras. Namun setelah terbiasa, boleh dikatakan saya cukup “rajin berjalan” untuk mendata dan melindungi sarang penyu. Saya ditugaskan di Pantai Wembrak bersama Kakak Tonny Duwiri sebagai koordinator pantai, Mayustilo dan Jackson sebagai tenaga lapangan pantai peneluran, serta Titus dan Nikodemus Yesnat tenaga lokal yang ikut bekerja di pantai. Saya bekerja dari 9 April sampai 11 Juli 2025.

Pantai Wembrak merupakan lokasi kerja yang sangat nyaman untuk saya, karena itu saya sangat rajin berjalan untuk mendata dan melindungi sarang sejak awal saya bertugas. Hampir setiap hari saya melakukan perlindungan sarang yang merupakan tugas utama saya. Selain itu saya juga senang melakukan patroli malam. Bahkan pengalaman yang saya rasa paling menarik adalah ketika belajar cara memasang chip PIT tag karena sangat menantang. Saya membutuhkan beberapa kali percobaan sampai akhirnya benar-benar memahami caranya. Meski tampak sederhana, pemasangan chip PIT tag harus dilakukan pada waktu yang tepat—saat penyu belimbing menghembuskan napas dan terlihat cukup rileks—dan orang yang memasang chip juga harus cukup sigap agar tidak terlambat.

Brian sedang memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Wembrak)

Brian dan anggota tim lainnya sedang mengangkat gulungan cocomesh untuk perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Perlindungan sarang juga tidak kalah menantang, khususnya perlindungan sarang menggunakan cocomesh. Perlindungan cocomesh adalah inovasi perlindungan sarang dari tali serat kelapa yang dianyam. Untuk melakukannya, kami harus membawa kayu dan anyaman tali tersebut menuju lokasi sarang penyu yang ditentukan dan merangkainya di atas sarang penyu.

Selama bertugas, saya juga pernah berpindah lokasi kerja untuk membantu tim di Pantai Warmamedi yang terletak di sebelah timur Wembrak. Saat itu, tim Warmamedi membutuhkan tenaga tambahan karena terdapat banyak sarang penyu yang harus dilindungi, sementara mereka harus bergerak cepat untuk mengamankan sarang-sarang tersebut dari predator alami seperti babi hutan, soa-soa, dan anjing. Saya pindah tugas pada bulan Juni 2025 dan bertugas di sana selama satu minggu.

Brian sedang membuat perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mayustilo Hokoyoku)

Brian melepaskan tukik saat di pantai Wembrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Wembrak)

Selain bekerja, saya juga berbaur dengan masyarakat lokal yang dengan hangat menerima saya sebagai orang baru. Saya sangat menikmati bekerja di pantai bersama tim Wembrak maupun tim di lokasi lain; meskipun pekerjaan kadang melelahkan, suasana penuh canda membuat semuanya terasa ringan. Kami saling bekerja sama sekaligus bersaing secara positif untuk mencapai target perlindungan sarang. Bekerja di pantai juga mengajarkan saya untuk hidup lebih teratur—bangun pagi, sarapan, bekerja, beristirahat, lalu kembali menjalankan tugas dengan ritme yang jelas dan berkesinambungan.

Terakhir, saat saya selesai dari pantai, saya melihat penyu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Di awal, saya sempat bertemu dengan orang-orang yang memburu penyu dan tidak mengerti bahayanya. Namun kini saya sadar bahwa penyu adalah spesies yang sangat terancam dan perlu kita lindungi bersama. Jika masih tersedia pilihan makanan lain, saya ingin mengajak siapapun yang masih mengkonsumsi penyu untuk berhenti, demi masa depan anak cucu kita agar mereka tetap bisa melihat penyu hidup di alam bebas.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama

Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

28 November 2025

Sejak diinisiasi pada tahun 2014, produksi minyak kelapa telah menjadi salah satu program pengembangan ekonomi masyarakat yang tumbuh seiring dengan pelaksanaan Konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Jeen Womom. Inisiatif ini muncul dari kebutuhan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah peneluran penyu, sehingga kegiatan konservasi dapat berjalan berdampingan dengan penguatan kesejahteraan komunitas.

Selama bertahun-tahun, proses produksi minyak kelapa berkembang dari kegiatan berskala kecil menjadi usaha yang lebih terstruktur. Perjalanan panjang ini semakin kuat ketika Pemerintah Kabupaten Tambrauw, melalui Dinas Pertanian, memberikan dukungan berupa alat produksi minyak kelapa serta membangun rumah produksi di Kampung Wau dan Weyaf. Kehadiran fasilitas terutama mesin press santan ini membantu masyarakat meningkatkan kualitas dan jumlah produksi secara lebih konsisten.

Proses cincang kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses pemarutan kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Memasuki periode Januari hingga akhir Oktober 2025, produksi minyak kelapa mencatat pencapaian yang menggembirakan. Dalam waktu sepuluh bulan, masyarakat dari empat kampung yaitu Resye, Womom, Wau-Weyaf, dan Syukwo, berhasil menghasilkan lebih dari seribu liter minyak kelapa, tepatnya 1.070 liter. Angka ini masih akan terus bertambah hingga akhir tahun. Seluruh proses produksi dilakukan melalui 44 kali kegiatan bersama, yang melibatkan total 87 warga dari keempat kampung tersebut. Yang menarik, perempuan menjadi motor utama dalam usaha ini di mana dari total pelaku, 56 adalah perempuan dan 31 adalah laki-laki, semuanya bekerja aktif mulai dari pengupasan buah kelapa hingga pengemasan minyak dalam kemasan gen untuk dikirim ke Manokwari.

Proses mengambil minyak hasil endapan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses memasak minyak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Partisipasi dari masing-masing kampung juga menunjukkan antusiasme yang kuat. Di Kampung Resye, sebanyak 36 orang turut terlibat, sementara di Kampung Womom terdapat 16 orang yang berperan aktif. Kampung Wau-Weyaf menjadi salah satu pusat kegiatan dengan keterlibatan 31 warga, sementara Kampung Syukwo berkontribusi dengan 16 masyarakat. Tingkat partisipasi ini mencerminkan bahwa kegiatan produksi minyak kelapa telah menjadi aktivitas bersama yang menyatukan berbagai kelompok usia dan peran dalam masyarakat.

Dari sisi jumlah produksi, capaian setiap kampung menunjukkan dinamika dan kapasitas lokal yang beragam. Kampung Wau–Weyaf menjadi penghasil terbesar dengan total 750 liter minyak kelapa hingga akhir Oktober. Diikuti oleh Kampung Resye dengan 147,9 liter, Kampung Womom dengan 128 liter, dan Kampung Syukwo dengan 45 liter. Variasi produksi ini mencerminkan perbedaan fasilitas dan dukungan yang tersedia di masing-masing kampung, terutama keberadaan mesin press santan yang merupakan alat pengolahan yang berpengaruh langsung terhadap jumlah minyak yang dapat dihasilkan.

Proses pengukuran minyak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Inisiatif ini tidak hanya memperkuat perekonomian masyarakat tetapi juga berkontribusi langsung pada keberlanjutan konservasi. Dengan terciptanya mata pencaharian alternatif, masyarakat yang tinggal di sekitar pantai-pantai peneluran merasakan manfaat nyata dari keberadaan program konservasi. Mereka bukan hanya menjaga habitat peneluran penyu belimbing, tetapi juga memperoleh kesempatan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui usaha pengolahan minyak kelapa.

Program ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana konservasi dapat berjalan selaras dengan pembangunan ekonomi lokal dengan menguatkan komunitas, menjaga alam, dan menciptakan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang mereka lindungi setiap hari.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat​

Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat

Penulis

Jennifer Maleke, Marthinus Rumere, dan Arnoldus Ananta

Tanggal

10 November 2025

Survei sosial merupakan kegiatan pemantauan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun di sekitar kawasan tersebut. Survei sosial yang dilakukan meliputi survei rumah tangga, survei gender, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci

Pada tahun 2025, tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosek (Sosial-Ekonomi) melaksanakan survei sosial pada 13 kampung di Kawasan Konservasi Teluk Mayalibit, Raja Ampat, sebagai pemantauan pengulangan ke-5 dari kegiatan pemantauan sosial yang telah dilakukan sejak tahun 2010.

Untuk menyukseskan pelaksanaan survei sosial, diadakan pelatihan bagi para surveyor selama tiga hari, dari tanggal 15 hingga 17 Oktober 2025. Pelatihan ini dibuka oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding, dengan narasumber Koordinator BHS, Kezia Salosso, serta anggota BHS Sosek, Jennifer Maleke dan Marthinus Rumere. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh para enumerator, yaitu Thomas Sembai, Jelly Palle, Spenyel Yenusy, Maria Bame, Jackson Bundah, Rivaldo Heipon, dan Agus Aiwor.

Pada hari pertama, kegiatan dimulai dengan pembukaan resmi oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding. Setelah itu, peserta mendapatkan pengantar Survei Sosial BLKB (Bentang Laut Kepala Burung) Papua Tahun 2025, yang mencakup tujuan dan lokasi survei, jenis dan jumlah data yang akan dikumpulkan, serta penjelasan detail mengenai instrumen survei rumah tangga.

Pengelola Program Sains Untuk Konservasi Membuka Pelatihan Surveyor Lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Penjelasan instrumen rumah tangga oleh Koordinator BHS Sosek
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Memasuki hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan praktik lapangan di Pulau Mansinam. Tim terlebih dahulu melapor kepada aparat kampung setempat, kemudian melaksanakan latihan wawancara survei rumah tangga, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci bersama beberapa responden. Kegiatan FGD dan survei rumah tangga dilakukan secara terpisah, di mana FGD dipimpin oleh Koordinator BHS Sosek bersama aparat kampung, beberapa masyarakat, dan tetua adat.

Tim mempersiapkan perlengkapan survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Sementara itu, survei rumah tangga dilakukan oleh para enumerator yang terbagi dalam tiga kelompok untuk mewawancarai masing-masing satu penduduk. Sesi ini berlangsung sekitar dua jam. Setelah itu, tim melakukan pembersihan dan pengecekan data untuk memastikan akurasi serta pemahaman para peserta terhadap prosedur survei.

Briefing sebelum pelaksanaan pre-test wawancara survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pre-test wawancara FGD
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Pada hari ketiga, kegiatan difokuskan pada evaluasi dan refleksi hasil pelatihan. Tim melakukan review terhadap hasil try-out atau pre-test, serta mendiskusikan tindak lanjut dari proses wawancara yang telah dilakukan. Sebagai penutup, peserta menyusun rencana kerja lapangan dan mempersiapkan perlengkapan survei yang akan digunakan selama pelaksanaan pemantauan sosial.

Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya memperdalam keterampilan teknis, tetapi juga membangun pijakan penting untuk menghadirkan hasil pemantauan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya alam yang mereka jaga.

Pre-test wawancara salah satu penduduk mengunakan survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pengecekan dan pembersihan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Uncategorized @id

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Penulis

Christian Zakarias Kaisiepo

Tanggal

31 Oktober 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Saat pertama kali saya berlayar di pesisir Kabupaten Tambrauw selama 3 hari 2 malam dengan kapal kecil menuju sebuah kampung yang akan saya tempati sementara, saya langsung merasakan keindahan serta kekayaan alamnya yang begitu khas dan berbeda.

Bagaimana tidak? Kampung yang bernama Saubeba (dalam bahasa Biak) atau Resye (dalam bahasa Abun), yang sebelumnya sama sekali belum saya kenal, ternyata berada di lokasi strategis.

Menikmati senja di Pesisir Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Terbentang di Samudra Pasifik sekaligus berada dalam kawasan hutan konservasi yang kaya keragaman hayati. Dari hamparan pepohonan luas, aliran sungai kecil dengan mata air segar, beragam satwa yang masih terlindungi di darat, laut, dan udara, hingga budaya masyarakat asli yang tetap menjunjung tinggi bahasa lokal, semuanya membuat saya terkesan. Saat itu juga saya tersadar bahwa kehidupan manusia tidak pernah jauh dan selalu bergantung pada alam di sekitarnya.

Saya berada di Kampung Resye, Kabupaten Tambrauw untuk melaksanakan tugas sebagai Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH). PMNH merupakan bagian dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (Papua).

Pada suatu hari yang cerah, sebuah pertanyaan muncul di benak saya, “Jika lingkungan yang begitu kaya dan indah ini tidak dijaga oleh manusia sendiri, apa yang akan terjadi kelak?” Waktu itu, saya tengah duduk menikmati segarnya kelapa muda dan menatap indahnya senja yang perlahan tenggelam di ufuk barat pesisir Kampung Resye.

Namun, seiring berjalannya waktu berada di kampung ini, saya mulai menyadari betapa beragamnya kekayaan hayati yang dimilikinya. Dari kehidupan di pesisir pantai, aktivitas berkebun di hutan, hingga statusnya sebagai kawasan konservasi penyu dan berbagai keragaman hayati lainnya, yang mana membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga sumber daya alam dan lingkungan sekitar.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

Salah satu tugas PMNH adalah mengajar di rumah belajar, termasuk memberikan edukasi lingkungan untuk anak-anak. Edukasi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) mengajak anak-anak untuk memahami bahwa manusia hidup selalu berdampingan dengan alam di sekitar tempat tinggalnya, sehingga kesadaran itu memberi dampak positif bagi keberlangsungan hidup. Dengan mengenal berbagai ekosistem di pesisir pantai maupun hutan, anak-anak dibekali kemampuan menjaga lingkungan agar tetap bersih, asri, dan lestari.

Menonton video tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pembelajaran tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kampung ini dikenal sebagai wilayah yang dekat dengan habitat peneluran penyu, di mana terdapat 4 dari 7 jenis penyu di dunia, termasuk Penyu Belimbing. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangat penting untuk menjaga kelestarian populasi penyu yang hampir tergolong punah. Melalui media pembelajaran visual, anak-anak dibekali pemahaman tentang kehidupan penyu, mulai dari membedakan penyu dan kura-kura, mengenal berbagai ancaman yang dihadapi, hingga memahami cara menjaga siklus hidup penyu agar tetap berlanjut, khususnya di sepanjang pesisir Pantai Jeen Yessa.

Pembuatan sarang perlindungan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pengenalan jenis-jenis sampah
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Anak-anak di Kampung Resye juga belajar secara langsung untuk cara melakukan perlindungan penyu dari berbagai ancaman. Sebelumnya mereka telah belajar tentang ancaman melalui video dan materi di Rumah Belajar. Dengan mempelajari ancaman, anak-anak dapat memahami siklus hidup penyu yang tidak mudah dilalui. Pengetahuan ini membantu anak-anak belajar tentang apa yang mereka dapat lakukan untuk melindungi penyu

Selain mempelajari siklus hidup penyu, anak-anak juga dibimbing untuk turun ke lapangan dan mempraktikkan pembelajaran melalui pengenalan jenis-jenis sampah, dengan menelaah penyebab yang memengaruhi kebersihan lingkungan, seperti sampah organik dan non-organik. Dengan rasa ingin tahu yang besar, mereka antusias mengamati poster “Do’s & Don’ts”, sekaligus diberi kesempatan menentukan aktivitas legal dan ilegal untuk memahami dampaknya terhadap lingkungan.

Pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Setiap benda yang ditemukan sepanjang pesisir pantai menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar membedakan jenis-jenis sampah. Mulai dari dedaunan kering, ranting kayu, dan rumput laut kering, hingga kantong maupun botol plastik, yang jelas memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, semangat tinggi anak-anak dalam membersihkan lingkungan menjadi peran penting dalam menumbuhkan kepedulian terhadap alam.

Pada umumnya, anak-anak sangat senang mengikuti pembelajaran langsung di lapangan. Selain menyenangkan, cara ini juga memudahkan mereka memahami setiap materi yang diberikan. Dalam kesempatan ini, anak-anak tidak hanya dibekali pengetahuan tentang lingkungan yang berdampak pada manusia, tetapi juga didorong untuk mengenal interaksi antar ekosistem pesisir, baik komponen biotik maupun abiotik. Rumput laut, misalnya, merupakan salah satu tumbuhan laut yang bermanfaat bagi kehidupan organisme akuatik.  Sementara itu, aliran sungai menjadi elemen penting yang menopang keberlangsungan hidup berbagai ekosistem di sekitarnya. Kedua komponen ini sangat penting untuk diketahui anak-anak, karena mereka hidup di lingkungan yang erat kaitannya dengan komponen-komponen tersebut.

Pengenalan jenis ekosistem abiotic pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Diskusi singkat bersama wisatawan macanegara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Berada di Kampung Resye, salah satu kampung di dekat Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, memberikan pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan. Peran saya sebagai PMNH tidak hanya mendorong untuk bersikap profesional dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri saya dalam memperkenalkan kepada wisatawan mancanegara bahwa rumah belajar adalah salah satu upaya penting bagi keberlanjutan konservasi penyu di TP Jeen Womom.

Saya merasa bersyukur atas pengalaman berharga selama menjadi PMNH di Kampung Resye. Setiap momen yang saya jalani di sini benar-benar tak ternilai. Saya juga bangga karena pekerjaan ini merupakan investasi penting bagi upaya konservasi penyu, tidak hanya di Papua Barat, tetapi juga untuk dunia. Meski tampak sederhana, pekerjaan ini memberikan dampak luar biasa bagi masa depan bumi.

Berfoto dengan penyu belimbing di wilayah pesisir Jeen Yessa Syuwen
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea New Template Uncategorized @id

Leatherback Monitoring Continues on the Huon Coast, Papua New Guinea

Leatherback Monitoring Continues on the Huon Coast, Papua New Guinea

Author

Yusuf Adrian Jentewo

Date

23 Oktober 2025

In April 2025, Huon Coast Leatherback Turtle Project (HCLTP) wrapped up the second monitoring season at Lababia nesting beach, in Huon Gulf, Papua New Guinea. The first monitoring was conducted from December 2023 until March 2024. The Huon Gulf coastline is the second-largest nesting site for the Western Pacific leatherback sea turtle (Dermochelys coriacea), following West Papua, which hosts the highest nesting density for this population. This gulf is located in Morobe province, specifically within the Huon District. This sub-population is listed as critically endangered on The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List (2013) and urgently needs protection in its vital habitats.

To protect leatherback turtles along the Huon Gulf coast, the Huon Coast Leatherback Turtle Project (HCLTP) was launched in 2022 by the Ocean Ecology Network, with the University of Papua as the implementing partner. During the latest nesting season, monitoring was conducted from 16 November 2024 to 8 April 2025. A total of 147 people from Lababia Village participated, working in rotating teams of 13 each week. The community showed strong enthusiasm for the project, as it provided meaningful employment through work as local rangers. Beyond direct income, the project also strengthened the local economy, as earnings from the rangers circulated within the community and supported local livelihoods.

Lababia Rangers after their weekly refresher training
(Photo : HCLTP Team)

One of the Kamiali Wildlife Management Area (WMA) leaders signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Ocean Ecology Network
(Photo : HCLTP Team)

On 13 November 2024, leaders of the Kamiali Wildlife Management Area (WMA) signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Ocean Ecology Network, witnessed by village elders and community members. The agreement formalized the community’s trust and support for the project in their area. Through the MoU, the project committed to implementing its activities with transparency and inclusivity. In return, the community pledged their support by appointing local representatives to serve as rangers each week, helping ensure the work was carried out with dedication and responsibility.

Field Coordinator John Ben worked tirelessly to ensure the program ran smoothly on the ground. Throughout the nesting season, he traveled almost every week from Lae to Lababia, working closely with Lababia Coordinator Jack Nala to oversee local rangers who patrolled the nesting beach daily. The rangers recorded every nest and protected vulnerable ones from threats such as dogs, invasive plants, and high waves. They also built bamboo grids to prevent predators from digging up nests and relocated nests that were at risk due to environmental conditions. These efforts were critical in increasing hatchling survival and supporting leatherback population recovery.

Lababia Coordinator briefing rangers
(Photo : HCLTP Team)

Leatherback turtle nest protected from predators using a bamboo grid
(Photo : HCLTP Team)

The team recorded a significant rise in nesting activity this season, with 221 leatherback nests laid—an increase from 174 nests in 2023–2024. Of these, 152 nests were protected, representing 69% of the total, compared to 119 nests (68%) in the previous season. This progress is largely due to the extended monitoring period, which enabled more complete data collection and increased the number of recorded nests. While the previous season covered only four months (December–March), the 2024–2025 season was successfully extended to nearly six months (November–April).

Share this post

Related News

Our Videos

Other Categories

Other News

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Dari Manokwari ke Warmamedi: Cerita Vio Menjaga Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Manokwari ke Warmamedi: Cerita Vio Menjaga Penyu

Penulis

Yusuf Adrian Jentewo

Tanggal

22 September 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Angelica Violin Karubaba, atau sering dipanggil Vio oleh teman-temannya, merupakan anak Manokwari yang berkesempatan menjadi tenaga magang di periode pertama bulan Mei-Juli 2025. Ini sedikit cerita terkait magang Vio di salah satu peneluran penyu Tambrauw, yaitu Pantai Warmamedi. Pada awalnya, ia mendapat informasi terkait magang ini dari grup PAM (Persekutuan Anggota Muda) gereja dan merasa tertarik karena ia belum pernah melihat penyu secara langsung. Walaupun ini bukan pekerjaan pertamanya, magang ini adalah pekerjaan di bidang konservasi laut pertama bagi Vio.

Tenaga magang merupakan salah satu posisi di tim Monitoring Penyu dan Perlindungan Sarang, Program Sains untuk Konservasi, LPPM Universitas Papua (UNIPA) di pantai peneluran Jeen Womom. Posisi ini berfokus menunjang usaha perlindungan sarang penyu. Vio membantu melindungi sarang-sarang penyu di Pantai Warmamedi dengan dua metode, yaitu pagar untuk sarang penyu belimbing dan percobaan perlindungan fiber glass untuk penyu sisik. Di Pantai Warmamedi, Vio bertugas bersama Spenyel (koordinator pantai), Denis (tenaga lapangan), Antho (tenaga lapangan), dan Kofifa (tenaga lapangan).

Vio menulis papan nomor sektor di Pos Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Selain fokus pada perlindungan sarang, Vio juga terlibat dalam pekerjaan lain seperti patroli malam. Aktivitas ini bertujuan mendata individu penyu yang naik ketika malam. Saat patroli, tim berjalan di sepanjang pantai pada malam hari. Aktivitas ini menarik bagi Vio karena ia dapat merasakan uniknya berjalan, duduk, dan memantau penyu bersama tim. Vio juga beberapa kali berkesempatan membantu menandai penyu dengan PIT (Passive Integrated Transpondertag. Awalnya, hal ini menantang baginya. Namun, setelah diajari beberapa kali oleh teman timnya, ia pun dapat melakukannya.

Seperti motivasinya di awal, di pantai Vio berhasil berjumpa langsung dengan penyu, bukan hanya satu jenis melainkan empat jenis. Pada malam pertama patroli, ia menemukan penyu lekang yang sedang bertelur. Di malam ketiga, ia berjumpa dengan penyu belimbing dan penyu hijau. Penyu hijau yang ia lihat sangat sensitif ketika didekati. Di antara keempat jenis penyu, yang paling jarang terlihat adalah penyu sisik. Vio beruntung melihatnya langsung saat berenang di pinggir kapal. Menurutnya, penyu merupakan hewan yang sangat cantik dan perlu dilestarikan.

Vio mengukur lebar karapas penyu belimbing menggunakan meteran saku
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Vio memindai PIT tag pada penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Baca juga : Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Seperti layaknya pekerjaan di lapangan, tidak semua menyenangkan. Vio pernah mengalami sakit di lapangan pada bulan Mei. Dia mengalami demam dan sakit lambung karena adaptasi dengan pekerjaan. Vio sampai harus dilarikan ke puskesmas di Kwor (pusat distrik) dan selanjutnya ke Manokwari. Namun, di situlah dia melihat kekompakan teman-teman yang saling membantu dan memperhatikannya. Akhirnya, ia dapat kembali bergabung dengan tim pada awal Juni.

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Selain bekerja, Vio juga senang menikmati suasana alam di pantai peneluran. Keindahan sunset dan sunrise adalah waktu favoritnya, di mana langit berwarna jingga dan pepohonan bertemu pantai serta laut, menciptakan landscape yang menakjubkan.

Selama tiga bulan bekerja di lapangan, Vio semakin mengenal satwa penyu secara langsung dan menumbuhkan rasa sayang terhadap hewan ini. Dia sangat menyayangkan masih ada orang yang berburu penyu di lokasi lain. Dia pun mengapresiasi pekerjaan tim lapangan di pantai peneluran yang ia sebut “di luar prediksi” karena sangat berdedikasi dalam menjaga penyu dan melindungi sarang-sarang di sana.

Akhir kata, Vio dalam wawancaranya mengucapkan terima kasih atas kesempatan bekerja sebagai tenaga magang ini, dan apabila terdapat hal yang tidak berkenan selama dia bekerja, ia mohon maaf sebesar-besarnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Pari Manta dan Ancaman di Jalur Migrasi Raja Ampat

Pari Manta dan Ancaman di Jalur Migrasi Raja Ampat

Penulis

Jane Lense

Tanggal

17 September 2025

Raja Ampat dikenal dunia sebagai wilayah dengan keindahan laut yang sulit ditandingi dan kekayaan hayati yang luar biasa. Gugusan pulau dan perairannya menjadi habitat bagi ribuan spesies, mulai dari terumbu karang yang bervariasi hingga megafauna seperti pari manta dan penyu. Salah satu kawasan ikoniknya adalah Kepulauan Wayag di Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Waigeo Sebelah Barat yang tersohor berkat tebing karst menjulang dan laut biru jernih. Namun, di balik pesonanya, perairan Wayag menyimpan kisah penting tentang keberlangsungan hidup megafauna laut yang kini terus menghadapi ancaman.

Pada Juni 2025, Tim Monitoring Ekologi Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua bersama BLUD UPTD Raja Ampat dan para mitra yaitu: Loka PSPL Sorong, BKKPN Kupang Satker Raja Ampat, BBTN Teluk Cenderawasih, Dinas P2KP Papua Barat Daya, Yayasan Konservasi Indonesia dan warga lokal di Raja Ampat melakukan pemantauan kesehatan karang di Waigeo. Hasil visual memperlihatkan kondisi bervariasi, sebagian membaik, sebagian terdampak. Namun, momen paling berkesan terjadi ketika tim menjumpai pari manta di perairan Kepulauan Waigeo Sebelah Barat. Beberapa ekor pari manta melayang anggun mengikuti arus, tubuh raksasanya tampak tenang di dalam air, seolah bergerak tanpa usaha. Panjang tubuhnya melebihi 3 meter dengan bentangan sayap hampir dua kali tinggi manusia dewasa. Gerakannya lambat, seperti tarian di dalam air. Pola hitam putih di punggungnya pun unik, layaknya sidik jari alami yang menjadi penanda tiap individu. Meski berukuran raksasa, pari manta adalah ikan jinak tanpa sengat seperti kerabat pari lainnya, hanya kalah besar dari sesama raksasa laut, Hiu Paus (Rhincodon typus).

Tiga ekor pari manta sedang “perawatan” di cleaning station Eagle Rock
(Foto : UPTD BLUD Raja Ampat/Imanuel Mofu)

Pari manta, salah satu megafauna laut Indonesia yang dilindungi, terdiri atas tiga spesies, dua di antaranya masih dapat ditemukan di perairan Indonesia. Salah satu spesies, pari manta hynei (Mobula hynei), telah dianggap punah. Dua spesies yang tersisa adalah pari manta oseanik (Mobula birostris) dan pari manta karang (Mobula alfredi). Namun, keduanya kini resmi berstatus genting atau terancam punah (endangered species) menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) sejak 2022, karena populasinya terus menurun akibat berbagai faktor ancaman.

Raja Ampat menjadi rumah bagi pari manta di sejumlah lokasi yang dikenal sebagai cleaning station. Pulau Uranie, Pulau Bag, Eagle Rock, dan titik-titik lain menjadi titik perhentian penting bagi spesies ini. Pada penelitian Conservation International, McCoy (2024: Spatial connectivity of reef manta rays across the Raja Ampat archipelago, Indonesia. R. Soc. Open Sci.11230895) mengungkap adanya jalur migrasi yang menghubungkan lokasi-lokasi tersebut, membentuk manta superhighway. Ibarat jalan tol di darat, jalur ini menghubungkan berbagai titik penting di laut yang dilalui pari manta dalam perjalanannya. Di sepanjang “jalan tol” laut ini, terdapat lokasi khusus yang disebut cleaning station–semacam “rest area” alami yang memungkinkan pari manta beristirahat, membersihkan diri dengan bantuan ikan-ikan kecil, bersosialisasi, sekaligus bertemu populasi lain.

Kemunculan pari manta di permukaan di perairan Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Kemunculan pari manta di permukaan di perairan Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Namun, ancaman nyata mengintai ekosistem ini. “Rumah” pari manta di Kepulauan Wayag berdekatan dengan Pulau Kawe yang memiliki aktivitas tambang nikel, membawa risiko besar. Sedimentasi dari limpasan hujan di area tambang berpotensi mengubur terumbu karang, merusak fungsi cleaning station, serta mengganggu ketersediaan makanan pari manta. Kehilangan satu titik penting seperti Eagle Rock dapat memutus rantai migrasi, memengaruhi perilaku makan, dan menurunkan populasi pari manta di Raja Ampat. Ironisnya, Eagle Rock berada di luar kawasan konservasi laut resmi, sehingga tidak mendapatkan perlindungan penuh dari ancaman tersebut.

Kehadiran pari manta yang melintas anggun di wilayah ini, bersamaan dengan temuan visual terkait ancaman ekosistem seperti sedimentasi, menjadi pengingat bagi kami bahwa upaya perlindungan laut harus mencakup seluruh fungsi habitat—bukan sekadar menjaga terumbu karang atau membatasi aktivitas penangkapan ikan. Perlindungan juga berarti memahami keterkaitan antar spesies, jalur migrasi, dan titik-titik penting yang mungkin berada di luar kawasan konservasi resmi. Menjaga kesehatan ekosistem laut mutlak diperlukan. Pari manta tidak akan datang ke perairan yang tercemar atau rusak. Mereka membutuhkan laut yang sehat, sebagaimana manusia membutuhkan udara bersih.

Seekor pari manta sedang berenang dengan tenang dan anggun
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang melintas di perairan Raja Ampat adalah simbol laut yang sehat. Setiap gerak sayapnya mengingatkan kita bahwa melindungi mereka berarti menjaga keseimbangan ekosistem, yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk. Superhighway atau jalur laut para manta harus tetap aman, agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan makhluk ini “melayang” bebas di birunya laut Raja Ampat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya