Kategori
Uncategorized @id

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

20 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Semangat belajar tidak hanya hadir di Kampung Wau dan Weyaf,  Klik disini untuk membaca cerita pelatihan di Kampung Wau dan Weyaf. Pada bagian terakhir ini, cerita berlanjut ke Resye dan Womom, lalu ditutup dengan refleksi tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan yang lahir dari proses sederhana.

Sementara kami di Kampung Wau dan Weyaf sibuk dengan pelatihan, tim lain bergerak di Kampung Resye dan Womom. Mereka memulai pada tanggal 17 Maret 2026, dengan jumlah peserta 9 orang yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja perempuan. Saya tidak berada di sana secara langsung, tetapi dari laporan yang masuk, semangat peserta tidak kalah besar.

Hermina Langoday pelatih amigurumi di Kampung Resye sedang menghitung jumlah anyaman amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

Ibu Bastian Yekwam sedang menyulam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

“Mereka juga mengalami kesulitan di awal,” kata Ina, PMNH yang melatih membuat amigurumi, saat kami berkomunikasi lewat WhatsApp. “Tetapi setelah beberapa kali mencoba, mulai ada yang menangkap polanya.”

Meskipun tim monev tidak dapat tiba di Kampung Resye dan Womom karena cuaca laut yang buruk, kegiatan pelatihan amigurumi penyu berhasil dilakukan. Proses pendampingan di lapangan masih terus dilakukan hingga saat ini. Tim PMNH setempat rutin mengunjungi para peserta untuk melihat perkembangan dan memberi koreksi jika ada yang lupa tahapannya.

Sampai pada akhir Maret ini, kami menghitung berapa banyak yang benar-benar berhasil menyelesaikan satu amigurumi penyu utuh dari awal hingga akhir. Kami menghitung bersama: untuk lokasi Kampung Wau dan Weyaf ada 2 orang yang berhasil menyelesaikan amigurumi penyu pertama mereka. Sedangkan di lokasi Kampung Resye dan Womom, lima orang ibu dan remaja perempuan berhasil. Mereka masing-masing lalu berfoto sambil memegang gantungan kunci amigurumi penyu hasil karya sendiri dengan bangga.

Kerajinan tangan sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Tetapi di kampung-kampung terpencil seperti Wau, Weyaf, Resye, dan Womom, amigurumi bukan sekadar hobi. Ini adalah pintu kecil menuju kemandirian ekonomi. Setiap tusukan benang bisa menjadi awal dari penghasilan tambahan. Setiap penyu yang selesai adalah bukti bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu yang bernilai.

Bastiana Yekwam di Kampung Womom yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Ibu Vince Yeum di Kampung Resye yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Saat malam hari ketika kami bersiap untuk perjalanan kembali ke Manokwari besok pagi dengan kapal, Maria mendekati saya dan berkata, “Ibu-ibu ini luar biasa. Bahkan ketika hari sudah gelap dan tidak ada penerangan yang baik, mereka tetap melanjutkan amigurumi-nya. Dan akhirnya mereka selesai. Ternyata mereka gigih.”

Saya mengangguk. Usaha tidak menghianati hasil, itulah yang saya tulis dalam catatan kecil saya malam itu. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa ketekunan tidak mengenal medan. Ketekunan menemukan jalannya, meskipun harus dimulai dari sebuah cincin ajaib dan tusuk tunggal.

Dari goyangan Kapal Sabuk Nusantara 112 yang menguji nyali, gelombang yang membuat kami mabuk laut, hingga senyum bangga para perempuan saat menyelesaikan amigurumi pertama mereka, semua terasa berarti. Meskipun ini tahun ketiga belas saya melayani dan melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi ini, selalu ada cerita yang berbeda dari setiap perjalanan yang saya lakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

22 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setelah perjalanan yang menantang dari Manokwari menuju Tambrauw, tim yang akan memberi pelatihan Amigurumi bersiap memulai pelatihan. Pada bagian ini, kita melihat bagaimana para peserta di Kampung Wau dan Weyaf belajar dari nol, menghadapi kesulitan, lalu perlahan menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Klik disini untuk membaca bagian awal perjalanan tim menuju lokasi agar cerita ini terasa lebih utuh.

Pagi itu, langit masih mendung. Namun, Balai Kampung Wau mulai ramai dengan kedatangan para peserta. Saya menghitung satu per satu: 21 orang ibu-ibu dan remaja perempuan datang dengan langkah penuh rasa ingin tahu. Ada yang membawa anak kecil di gendongan, ada yang datang bersama tetangganya sambil tertawa kecil. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang telah kami atur sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang jarum rajut seumur hidup.

Maria memulai dengan sabar. “Ini namanya magic ring,” katanya sambil memperagakan. “Ini fondasi awal untuk merajut. Kalau cincin ajaib ini sudah kuat, nanti penyu kita bisa berdiri dengan bagus.”

Maria pelatih Amigurumi sedang menjelaskan cara membuat magic ring kepada seorang ibu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Proses pembuatan magic ring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu-ibu mengamati dengan serius. Ada yang mengerutkan kening, ada yang maju mendekat agar lebih jelas. Satu per satu mereka mencoba. Beberapa kali benang terlepas, simpul kendor, bahkan ada yang tertawa karena jari-jarinya terasa kaku.

“Ibu, santai saja,” kata Maria sambil membetulkan posisi kait (hook) di tangan seorang peserta. “Ini latihan, tidak perlu terburu-buru.”

Hari pertama diisi dengan latihan magic ring dan tusuk tunggal (single crochet). Prosesnya pelan, penuh koreksi, tapi semuanya serius. Saya melihat salah satu ibu bernama Ibu Flirce Bonsapia terus mengulang-ulang meskipun tangannya sudah sedikit gemetar. “Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Maria yang sedang menunjukan hitungan magic ring kepada Mama Jack
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Maria sedang menghitung jahitan Mama Maria
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tidak semua peserta berhasil menguasai magic ring di pelatihan hari ini, tetapi mereka bersepakat untuk melanjutkan sore hari di rumah belajar. “Tidak apa-apa, yang penting belajar,” kata Mama Jack sambil merapikan benangnya. Kami kemudian bubar dan pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIT.

Hari kedua, ketiga, dan keempat kami lanjutkan. Setelah magic ring, Maria mengajarkan cara membuat kepala, lalu flipper (sirip), dan karapaks (punggung). Setiap bagian membutuhkan ketelitian yang berbeda. Peserta mulai memahami pola, meskipun masih ada yang tertukar antara increase (teknik dalam merajut yang digunakan untuk menambah jumlah tusukan dalam satu baris atau putaran) dan decrease (teknik dalam merajut yang digunakan untuk mengurangi jumlah tusukan pada baris atau putaran tertentu).

Yang menarik perhatian saya adalah inisiatif mereka sendiri. Beberapa peserta datang ke rumah belajar setelah pelatihan di hari pertama. Mereka datang setelah mengurus anak dan memasak, lalu duduk di ruang belakang sambil merajut. Saya melihat Maria yang melatih, sabar mendampingi mereka hingga sore menjelang magrib.

Salah satu Amigurumi yang telah selesai dibuat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu Aplena Anari di Weyaf yang berhasil membuat Amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

“Kami ingin cepat selesai, Kaka Ibu,” kata salah satu dari mereka sambil memperlihatkan karapaks yang hampir jadi. “Supaya bisa segera dipasang kait kuncinya.”

Dari proses belajar yang penuh kesabaran, mulai terlihat bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ada semangat, ada kemauan untuk terus mencoba, dan ada harapan kecil yang mulai tumbuh dari setiap tusukan benang. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan juga berlangsung di Kampung Resye dan Womom, serta bagaimana cerita ini berujung pada makna ketekunan dan kemandirian.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 19 pelamar dinyatakan LOLOS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Kandidat diundang untuk mengikuti pembekalan sesuai dengan posisi yang dilamar. Jadwal pelaksanaan pembekalan untuk masing-masing posisi dapat dilihat pada file PDF pengumuman

2. Peserta yang dinyatakan lolos seleksi wawancara diwajibkan mengisi form kesediaan klik di sini, paling lambat pada hari Jumat, 17 April 2026 pukul 16.00 WIT

3. Peserta yang namanya tidak tercantum di atas akan masuk ke dalam Daftar Tunggu dan akan dihubungi jika terpilih paling lambat pada hari Selasa, 21 April 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi New Template Uncategorized @id

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

02 April 2026

Pada 9–14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah “The 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature-Based Climate Solutions Conference.” Kegiatan ini mengumpulkan peneliti-peneliti dari berbagai penjuru dunia yang fokus pada tumbuhan ataupun keanekaragaman hayati lainnya di Asia Tenggara termasuk wilayah Indonesia serta Papua.

Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA juga menghadiri kegiatan tersebut, mengirimkan empat perwakilan di mana satu orang presentasi lisan/ pemaparan materi Yusup Jentewo dan tiga orang sebagai presentasi poster Kezia Salosso, Arnoldus Ananta dan Dahlia Manufandu. Keempat perwakilan ini mempresentasikan data dari program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang serta Monitoring Sosial di Kepala Burung Papua.

Slide pertama Power Point Yusup Jentewo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Yusup Jentewo memaparkan presentasi berjudul “The Dangerous Beauty: Morning Glory (Ipomoea pes-caprae) and Its Impact on the Sea Turtle Conservation in Tambrauw”, dimana terdapat fenomena interaksi antara tumbuhan Ipomoea dengan konservasi penyu di Pantai Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Tumbuhan Ipomoea adalah tumbuhan merambat yang banyak ditemui di wilayah pesisir pantai di Indonesia. Diketahui bahwa tumbuhan ini memiliki akar serabut yang dapat masuk ke dalam sarang penyu belimbing dan penyu lainnya serta merusak telur-telur penyu yang berharga. Fenomena ini diangkat Yusup dalam presentasinya. Data tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa dari total 88 sarang penyu yang terpantau, sebanyak 65 sarang (75%) mengalami kerusakan akibat akar Ipomoea. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi upaya perlindungan penyu yang populasinya memang telah lama terancam.

Tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Masyarakat lokal membersihkan akar-akar tumbuhan Ipomoea saat pembuatan kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Dalam presentasinya, Yusup juga menjelaskan bahwa tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dari Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA, melalui berbagai percobaan di lapangan, telah menemukan solusi untuk meningkatkan penetasan sarang penyu yang terancam oleh akar tumbuhan Ipomoea. Sarang penyu belimbing dipindahkan ke kandang relokasi dengan dasar pasir yang telah dibersihkan dari akar Ipomoea. Metode ini meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan, dari yang sebelumnya rata-rata 0%, menjadi 53% pada tahun 2024 dan 47% pada tahun 2025.

Hasil ini menegaskan bahwa usaha perlindungan sarang di Pantai Jeen Womom terus berinovasi dalam menjawab berbagai ancaman terhadap sarang penyu.

Foto tim bersama masyarakat lokal 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Masyarakat lokal pun berperan aktif dalam pembuatan kandang relokasi dan serta pemindahan sarang ke kandang relokasi. Semua kandang relokasi di Jeen Womom dibuat oleh kelompok masyarakat, seperti di Pantai Jeen Syuab, masyarakat dari Kampung Wau dan Weyaf yang berdekatan dengan pantai tersebut yang membuat kandang-kandang ini. Masyarakat harus memastikan untuk membersihkan tumbuhan serta akar-akar tumbuhan Ipomoea setelah konstruksi rangka dan atap selesai. Tiap tahunnya kurang lebih ada 6 kandang relokasi yang beroperasi di Pantai Jeen Syuab.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 11 orang calon KP2, 13 orang calon TLP2, dan 7 orang calon TPS dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 31 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 2 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 26 Maret 2026

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom
yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan
anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Musim yang Berubah, Kehidupan Pesisir Terdampak

Musim yang Berubah, Kehidupan Pesisir Terdampak

Penulis

Jeniffer Maleke, Rafly Rumere, Kezia Salosso, Arnoldus Ananta

Tanggal

16 Februari 2026

“Bapa/Mama/Saudara/i, kami ingin mengajak untuk bersama-sama mengamati perubahan cuaca dan iklim yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Apakah Bapa/Mama/Saudara/i pernah merasakan adanya pergeseran pola cuaca? Apakah perubahan tersebut berdampak pada mata pencaharian utama Bapa/Mama/Saudara/i, baik secara positif maupun negatif?” Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah beberapa contoh pertanyaan yang kami lontarkan dalam survei sosial. Pertanyaan tersebut menjadi penting untuk dipahami, mengingat cuaca merupakan kondisi atmosfer jangka pendek yang dapat berubah setiap saat (jam, hari, minggu), sementara iklim adalah pola cuaca rata-rata yang berlangsung dalam jangka waktu panjang (tahunan) di suatu wilayah.

Keindahan alam yang menjadi ciri khas suatu daerah tidak sepenuhnya terlepas dari ancaman perubahan iklim. Raja Ampat, yang dikenal luas dengan bentang alamnya yang indah dan kekayaan lautnya, dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi. Perubahan ini hadir dalam bentuk yang sederhana, namun nyata dan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Secara umum, perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang pada pola cuaca dan suhu bumi. Dalam kajian ilmiah, perubahan iklim sering dikaitkan dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dan pergeseran musim. Namun, bagi masyarakat pesisir, perubahan tersebut lebih dulu dirasakan sebagai perubahan cuaca harian yang memengaruhi aktivitas dan penghidupan mereka.

Kepulauan Kofiau, Raja Ampat, menjadi salah satu wilayah di mana perubahan cuaca dan musim semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas masyarakat, terutama berkebun, melaut, serta mengolah kopra, menjadi bagian yang terdampak langsung oleh perubahan tersebut. Musim hujan kini terasa lebih sering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sementara waktu datangnya musim angin, khususnya angin selatan, tidak lagi dapat diprediksi mengikuti “perhitungan orang tua dulu”. Pola musim yang dahulu menjadi pegangan dalam menentukan waktu melaut perlahan berubah, menciptakan ketidakpastian yang terus dirasakan oleh masyarakat.

Nelayan sedang mendayung di Kampung Balal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Proses penjemuran ikan asin di Kampung Balal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Berdasarkan pengamatan selama survei lapangan pada tahun 2025, perubahan cuaca memberi dampak yang beragam. Selain waktu musim yang berubah, curah hujan juga semakin meningkat. Di satu sisi, curah hujan yang tinggi membuat tanaman di kebun tumbuh lebih subur. Namun disisi lain, hujan yang berlangsung terus-menerus justru membatasi aktivitas masyarakat.

Saat hujan turun, masyarakat kesulitan pergi berkebun karena lokasi kebun yang jauh dari kampung serta medan yang tidak mendukung. Nelayan juga tidak dapat beraktivitas secara maksimal. Kondisi cuaca yang tidak stabil membuat mereka tidak bisa melaut jauh dan sering kali hanya mencari hasil laut sebatas untuk konsumsi keluarga. Proses penjemuran ikan untuk dijadikan ikan asin pun menjadi sulit dilakukan dan membutuhkan waktu lebih lama hingga siap dipasarkan. Terhambatnya aktivitas ini turut memengaruhi kondisi ekonomi keluarga.

Ketergantungan masyarakat pada alam tidak hanya terlihat dari aktivitas melaut dan berkebun, tetapi juga dari kegiatan pembuatan serta penjualan kopra. Perubahan cuaca, terutama hujan yang berkepanjangan, memengaruhi kelancaran proses pembuatannya, mulai dari pengumpulan kelapa hingga proses pengasapan atau pengeringan untuk menghasilkan kopra.

Dampak perubahan cuaca juga terlihat langsung pada kondisi lingkungan kampung. Saat hujan turun dalam waktu lama atau ketika cuaca ekstrem terjadi, air tergenang di dalam kampung, terutama di wilayah pinggiran pantai, bahkan hingga masuk ke rumah-rumah masyarakat. Selain itu, abrasi pantai semakin dirasakan. Pengikisan garis pantai dan genangan air yang semakin sering menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan ruang hidup masyarakat pesisir.

Genangan air pasca hujan yang terjadi di Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Genangan air pasca hujan yang terjadi di Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ketidakpastian cuaca turut berdampak pada akses dan mobilitas. Ketika cuaca ekstrem terjadi, kapal yang beroperasi di kampung-kampung tidak selalu dapat mencapai tujuan dan terkadang harus kembali ke Sorong. Kondisi ini membuat masyarakat semakin merasakan keterbatasan akses, terutama dalam situasi darurat atau ketika ada kebutuhan mendesak.

Cerita dari Kepulauan Kofiau mengajak kita untuk kembali merenung: apakah perubahan cuaca dan musim yang dirasakan masyarakat pesisir ini merupakan bagian dari perubahan iklim yang sedang berlangsung, atau ada faktor lain yang turut memperbesar risiko yang mereka hadapi? Apa pun jawabannya, Kepulauan Kofiau menunjukkan bahwa masyarakat pesisir berada di garis depan dalam menghadapi dampak perubahan cuaca dan iklim. Perubahan ini bukan sekadar isu global, melainkan kenyataan yang setiap hari memengaruhi cara masyarakat hidup, bekerja, dan bertahan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS) 2026

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi. Pada periode awal April – tengah Oktober 2026, kami membutuhkan tenaga perlindungan sarang sebanyak 3 orang setiap 3 bulan (April – Juni, Juni – Oktober) dengan tugas utama melindungi sarang penyu dari berbagai ancaman dengan metode yang telah dikaji secara ilmiah dan melakukan evaluasi sukses penetasan pada masa penetasan. Tenaga perlindungan sarang juga diharapkan membantu tim S4C LPPM UNIPA dalam melakukan tugas-tugas yang lain. Kesempatan ini terbuka bagi lulusan D3 atau S1, terutama dalam bidang Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan.

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Perlindungan Sarang

1. Pengalaman langsung bekerja di habitat alami penyu di pantai peneluran
2. Dukungan finansial melalui kompensasi bulanan
3. Perlindungan kerja dengan Jaminan Kecelakaan Kerja
4. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja ditanggung program (transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri)
5. Konsumsi selama di lapangan disediakan oleh program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 30 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Mengunggah transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Diutamakan yang memiliki pengalaman bekerja di lapangan/tempat terpencil
Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
8. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
9. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
10. Foto close up ukuran 3 x 4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 3 orang/periode

Periode 1: 1 April – 30 Juni 2026

Periode 2: 15 Juni – 15 Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Uncategorized @id

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) 2026

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Tenaga Lapangan sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Memantau aktivitas peneluran semua jenis penyu dengan melaksanakan patroli pagi
2. Mendata induk penyu saat patroli malam
3. Melindungi sarang-sarang penyu dengan menerapkan metode yang telah dikaji secara ilmiah
4. Melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
5. Mendokumentasi perubahan habitat peneluran dengan mengukur lebar pantai dan suhu pasir
6. Membantu pelaksanaan penelitian ilmiah untuk menunjang upaya pelestarian penyu

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Lapangan

1. Kesempatan berharga untuk terlibat langsung dalam konservasi penyu di habitat alaminya
2. Pembelajaran langsung dalam pemantauan aktivitas peneluran dan perlindungan sarang
3. Kompensasi bulanan sesuai ketentuan program
4. Jaminan Kecelakaan Kerja sebagai perlindungan selama bertugas
5. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja disediakan (transportasi dari luar daerah ke Manokwari menjadi tanggung jawab pribadi)
6. Akomodasi dan konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 35 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
5. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,5 dibuktikan dengan transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Memiliki pengalaman bekerja di pantai peneluran penyu ataupun pengalaman lain yang relevan
8. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
9. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
10. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
11. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
12. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Uncategorized @id

Koordinator Pantai Peneluran (KP2) 2026

Koordinator Pantai Peneluran (KP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Koordinator Pantai sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Mengkoordinir tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang terdiri dari tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal dari hari ke hari.
2. Melatih, mendampingi, dan mengevaluasi tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal agar kualitas kerja terjamin.
3. Melaksanakan seluruh program kerja sesuai rencana dan panduan kerja.
4. Mengelola dan menjamin kualitas data dari lapangan.
5. Mempertanggungjawabkan penggunaan dana dengan jujur dan tepat waktu, dan sesuai SOP Keuangan Program.

Manfaat yang diterima oleh Koordinator Pantai

1. Kesempatan bekerja di pantai peneluran penyu
2. Mendapatkan pengalaman mengelola tim
3. Kompensasi disesuaikan dengan pengalaman kerja
4. Mendapatkan Jaminan Kecelakaan Kerja
5. Biaya transportasi dari Manokwari ke lapangan ditanggung program. Transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri
6. Konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 40 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Memiliki pengalaman memimpin tim dan bekerja di pantai peneluran/lokasi terpencil yang dituliskan dalam resume atau CV*
4. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
5. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
6. Melampirkan transkrip nilai pendidikan terakhir*
7. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
8. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
9. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
10. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
11. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!