Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Membawa Produk Lokal Papua Barat dalam Ajang Pameran Dagang Internasional

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Monika Jupiter Arung Padang

Tanggal

15 November 2022

Trade Expo Indonesia merupakan pameran dagang terbesar di Indonesia yang diselenggarakan setiap tahunnya. Pada tahun 2022 ini dilaksanakan Trade Expo Indonesia yang ke-37 di Indonesia Convention Exhibition, BSD Jakarta. Pameran dagang ini berjenis Bisnis to Bisnis, yang bertujuan untuk mencari para buyer dari luar negeri sehingga mampu melaksanakan kerjasama dengan para pelaku usaha (Exhibitor) di Indonesia.

Stand UMKM Sanus Coconut di Trade Expo Indonesia
(Foto: Panitia Pelaksana)

Penampakan Stand Sanus Coconut di Trade Expo Indonesia
(Foto: Panitia Pelaksana)

Melalui Kementerian Perdagangan Republik Indonesia setiap provinsi di Indonesia mengutus 2 UMKM terbaik dari setiap daerah untuk mengikuti ajang pameran dagang terbesar di Indonesia ini. Pada kesempatan ini UMKM Sanus Coconut yang merupakan pengembangan dari Produk Lokal Abun (produk hasil binaan Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA), diberikan kesempatan oleh Dinas Perdagangan Provinsi Papua Barat sebagai salah satu perwakilan UMKM dari Papua Barat. Beberapa UMKM yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini seperti CV. Gaya Warna dari Bali, Qonita Care dan Maluku, PT. Indo Tropical Group dari Jawa Tengah, Raja Patin dari Sumatera dan beberapa UMKM lainnya. Sebelum mengikuti Pameran Trade Expo Indonesia, 64 peserta UMKM dari 34 provinsi yang di bawah Dinas Perdagangan melakukan diklat di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia dan Jasa Perdagangan di Jakarta. Diklat ini dilakukan pada 14 – 17 Oktober 2022 dengan berbagai materi yang berkaitan dengan pameran internasional maupun cara melakukan ekspor.

Berfoto bersama teman-teman UMKM dari berbagai daerah
(Foto : Panitia Pelaksana)

Setelah mengikuti diklat, UMKM perwakilan setiap provinsi ini mengikuti pameran dagang Indonesia atau biasa disebut Trade Expo Indonesia. Kegiatan ini berlangsung pada 19 – 23 Oktober 2022 di ICE BSD, Jakarta. Pameran ini diikuti oleh Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing. Selain para UMKM yang dilakukan oleh Dinas Perdagangan setiap Provinsi, para-Exhibitor juga berasal dari UMKM binaan Bank Indonesia, UMKM binaan Pertamina, Perum Bulog, PT. Dua Kelinci dan berbagai perusahaan yang ada di Indonesia baik yang berasal dari bidang food & beverages, digital & services, fashion & accessories, furniture & home decor, health care & beauty, manufacture dan medical equipment. Pada kegiatan Trade Expo Indonesia ini, Sanus Coconut Oil berhasil menjual sekitar 26 Liter minyak kelapa. Selain melakukan pemasaran langsung, selama kegiatan dilakukan pertukaran kartu nama antara Sanus Coconut dan beberapa buyer yang tertarik dengan produk minyak kelapa seperti Bapak Wirawan Hartawan selaku direktur dari PT. Hydro Farm Indonesia, Andy Hoang (Mr.) selaku Sales & Purchasing Manager dari Agrinuts Vietnam Trading Co., LTD dan beberapa buyer lainnya.

Foto bersama teman-teman UMKM dari 34 Provinsi
(Foto: Panitia Pelaksana)

Foto bersama teman-teman UMKM dari 34 Provinsi
(Foto : Panitia Pelaksana)

Menurut saya, kegiatan ini sangat menarik dan berharga. Bisa bertemu dengan orang-orang yang asalnya dari Sabang sampai Merauke. Pelajaran yang saya dapatkan ini tidak semudah saya dapatkan begitu saja, saya banyak belajar melakukan display pameran yang diurutkan sesuai dengan jenisnya dan bisa mempelajari cara melakukan ekspor produk mulai dari penentuan harga, cara pembayaran sampai tahap pembuatan sales contract. Selain itu, mengikuti kegiatan ini menambah relasi saya dengan berbagai UMKM dari setiap provinsi di Indonesia, serta saya dapat melakukan komunikasi langsung dengan para buyer yang berasal dari berbagai negara yang mengunjungi stan Sanus Coconut. Di sisi lain, melalui EXPO ini saya melihat potensi minyak kelapa yang besar yang jika dikembangkan dengan baik dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi petani kelapa tetapi juga bagi pelaku UMKM yang mengolah kelapa dan turunannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Menikmati event dalam pameran Produk Unggulan Sains untuk Konservasi di UNIPA

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Abigail Lang, Federika Kondororik, Habema Monim

Tanggal

10 November 2022

Dalam rangka Dies Natalis UNIPA yang ke 22, kami dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Papua (LPPM UNIPA) ikut berpartisipasi dalam pameran produk unggulan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 1 & 2 November 2022 di Aula UNIPA. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan daya kreatif dan potensi yang dimiliki oleh setiap insan yang mengabdi pada Universitas Papua sehingga diharapkan dapat menghasilkan karya inovasi yang berguna kedepannya.

Dalam kesempatan ini kami menampilkan hasil-hasil kerjasama kami dengan masyarakat, pemerintah dan mitra konservasi. Selama kegiatan berlangsung, kami menjual produk-produk inovasi yang dibuat sendiri oleh masyarakat lokal Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw, seperti noken dan minyak lokal Abun. Minyak lokal Abun ini pada umumnya digunakan untuk keperluan seperti minyak pada umumnya, yaitu untuk memasak dan noken yang ditampilkan dengan gambar penyu serta gambar menarik lainnya. Pameran ini memiliki tujuan sesuai dengan judulnya, yaitu “Pameran Inovasi dan Produk Unggulan”.

Siswa SMA yang tertarik dengan noken yang dipajang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Mahasiswa yang tertarik melihat buku-buku
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Di samping itu, kegiatan ini tentunya tidak kalah menarik dengan program-program lainnya. Selain menjual produk inovasi, kami membagikan buku berjudul: Status dan Tren Sosial Masyarakat 2019, Jejaring Kawasan Konservasi Perairan BLKB 2010-2019, Profil Kampung 2010-2017 Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Profil Kampung 2010-2017 Teluk Mayalibit & Selat Dampier, dan banyak lainnya. Kami berharap penerima buku dapat membacanya dan menjadi acuan untuk keperluan studi ataupun informasi lainnya.

Mahasiswa

Salah satu pengunjung yang membeli minyak kelapa
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Di samping itu, kegiatan ini tentunya tidak kalah menarik dengan program-program lainnya. Selain menjual produk inovasi, kami membagikan buku berjudul: Status dan Tren Sosial Masyarakat 2019 Jejaring Kawasan Konservasi Perairan BLKB 2010-2019, Profil Kampung 2010-2017 Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Profil Kampung 2010-2017 Teluk Mayalibit & Selat Dampier, dan banyak lainnya. Kami berharap penerima buku dapat membacanya dan menjadi acuan untuk keperluan studi ataupun informasi lainnya.

Di dalam stand kami juga memberikan informasi pengenalan alat selam (scuba) sebagai tambahan ilmu bagi pengunjung stand. Pengenalan alat selam ini kami sampaikan untuk melengkapi rasa penasaran pengunjung yang melihat video program monitoring ekologi.

Siswa SMA yang tertarik mendengar tentang pembahasan alat-alat selam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Salah satu siswa SMK yang sedang mencoba menggunakan alat selam lengkap
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Pengetahuan dasar tentang penyu kami sampaikan dengan cara bermain ular tangga. Cara memainkan ular tangga ini sama saja seperti permainan ular tangga pada umumnya, namun ada banyak pertanyaan untuk meningkatkan wawasan pemain maupun informasi yang kami sampaikan tentang penyu, telur penyu, tukik, dan apa saja ancaman dari manusia, ancaman dari lingkungan, serta ancaman dari hewan yang sudah kami isi dalam beberapa kotak ular tangga. Pemenang dari permainan ini mendapatkan souvenir dari kami. Kami tak lupa menanyakan informasi baru apa saja yang mereka dapatkan ketika bermain. Kebanyakan pengunjung mengenal ancaman penyu di alam dari permainan ini.

Pada pagi hari kami mendapatkan kunjungan dari siswa SMA dari berbagai sekolah di Manokwari. Para mahasiswa dan orang dewasa kebanyakan hadir di siang hingga sore hari. Kami juga dikunjungi oleh para mahasiswa dari luar Papua karena pada saat pelaksanaan kegiatan ada mahasiswa dari luar Papua yang sedang melaksanakan kegiatan Kampus Merdeka di UNIPA.

Siswa SMA yang asik bermain permainan ular tangga
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Mahasiswa

Mahasiswa yang asik menikmati permainan ular tangga
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Meskipun terlihat seperti permainan untuk anak-anak tapi baik pengunjung remaja maupun dewasa sangat menikmati permainan ular tangga. Mereka banyak menanyakan tentang penyu dan beberapa di antaranya tertarik untuk melihat penyu secara langsung. Kegiatan seperti ini tentunya dapat membawa dampak positif seperti relasi yang dibangun antara pengunjung dan kami di program S4C, saling berbagi pengetahuan sehingga pesan-pesan kami tersampaikan kepada pengunjung yang datang ke stan kami.

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita dari lapang: Melindungi Sarang Penyu sesuai Karakter Pantai

Cerita dari lapang: Melindungi Sarang Penyu sesuai Karakter Pantai

Penulis

Delph Farlin Mamori

Tanggal

9 November 2022

Ikuti proses seleksi hingga pelatihan sebelum turun lapang

Perkenalkan nama saya Delph Farlin Mamori atau yang lebih akrab dipanggil Pain, asal suku dari Serui dan telah menyelesaikan sarjana di Jurusan Perikanan di Universitas Papua. Saya bergabung dengan program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua setelah mengikuti penerimaan yang dilakukan pada bulan Februari 2022. Sebagai seorang lulusan perikanan, saya sudah menjumpai berbagai biota yang hidup di laut namun penyu merupakan salah satu biota yang belum pernah saya jumpai. Rasa penasaran dan juga ketertarikan dengan biota laut membuat saya ingin bergabung dengan program konservasi penyu dan melihat penyu secara langsung di habitatnya. Awalnya saya mendaftar untuk mengisi posisi sebagai Tenaga Lapang Pantai Peneluran namun belum berhasil terpilih. Namun saya dihubungi kembali dan ditawarkan untuk mengikuti program magang terlebih dahulu. Hal tersebut merupakan kesempatan yang datang kepada saya untuk dapat bergabung bersama teman-teman yang berada di lapangan dan melakukan aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Saya ditempatkan di Pantai Jeen Yessa tepatnya di pos Batu rumah bersama Koordinator, tenaga lapangan serta tenaga patroller lokal disana.

Pain Sedang Membuat Perlindungan Sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Warmamedi)

Pain Sedang Mengukur Indukan Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Jeen Yessa)

Belajar banyak hal baru di Pantai Batu Rumah

Setelah tiba di lapangan pada bulan Juni saya penasaran ingin segera melakukan monitoring malam agar dapat melihat penyu. Pertama kali berjumpa dengan penyu belimbing (Dermochelys coriacea) saya sangat senang karena dapat melihat secara langsung penyu terbesar di dunia tersebut. Saya langsung diajarkan melakukan pengukuran panjang lebar karapas penyu dan scanning PIT (Passive Integrated Transponder) untuk mengetahui apakah penyu tersebut penyu lama atau penyu baru yang didata. Saya juga melakukan perlindungan sarang dengan beberapa metode yang dipakai tim di sana yaitu sarang yang diberi pagar, sarang yang dinaungi daun pakis 1 lapis dan 2 lapis serta melakukan pemindahan sarang ke lokasi aman ketika berada di bawah pasang surut. Hal lainnya yang saya pelajari adalah pendataan jejak penyu, belajar menentukan posisi telur yang akan dilindungi dan kompilasi data. Saya bersyukur dapat berkesempatan menjumpai tiga jenis penyu lainnya di sana yaitu : penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Tidak tersedianya jaringan seluler atau internet dan jarak yang begitu jauh dari perkampungan saat di lapangan bukan menjadi hambatan bagi saya untuk tetap melakukan aktivitas dan tanggung jawab saya sebagai seorang tenaga magang.

Pindah ke Pantai Warmamedi belajar strategi perlindungan sarang penyu

Sebulan di Batu Rumah, saya kemudian dipindahkan ke pantai Warmamedi (pantai bagian timur di pantai Jeen Yessa) untuk membantu pemantauan dan perlindungan bersama tim yang berbeda. Berbeda dengan pantai Batu Rumah, di pantai Warmamedi perlindungan sarang lebih fokus memakai perlindungan pagar karena suhu pasir di sana tidak terlalu tinggi seperti pantai lainnya dan ancaman di sana adalah predator seperti hewan babi, biawak ataupun anjing. Selain itu pantai Warmamedi juga memiliki pasir yang sangat lebar dan merupakan pantai dengan  jumlah kehadiran penyu yang sangat banyak. Kedua pantai yaitu Batu Rumah maupun Warmamedi memiliki pesona alam yang sangat indah ditambah dengan melakukan pekerjaan yang saya sukai membuat saya jatuh cinta dan nyaman berada disana. Hari demi hari saya jalani dengan bahagia dan rasa bersyukur tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga tiba pula di akhir musim teduh (Oktober 2022) dan saya beserta teman-teman yang lainnya pulang kembali ke Manokwari.

Pain membuat perlindungan sarang dengan pagar di Pantai Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Warmamedi)

Pain dan tim membuat perlindungan sarang dengan daun pakis di Pantai Batu Rumah
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita dari lapang: Tantangan & Kepuasan Melakukan Relokasi Sarang Penyu di Pantai Jeen Syuab

Cerita dari lapang: Tantangan & Kepuasan Melakukan Relokasi Sarang Penyu di Pantai Jeen Syuab

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

3 November 2022

Penulis

Osorio Mariano Sombatua Soares Embulaba

Tanggal

3 November 2022

Penulis

Osorio Mariano Sombatua Soares Embulaba

Perkenalkan nama saya Osorio Mariano Sombatua Soares Embulaba, biasa dipanggil Oso. Saya merupakan alumni dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua, Manokwari. Pada musim peneluran penyu belimbing periode pertengahan tahun 2022, saya berkesempatan bekerja sebagai tenaga magang pantai peneluran di Pantai Jeen Syuab. Ini menjadi pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah. Awal tiba di pantai saya langsung membantu kru (tim pemantauan dan perlindungan sarang) untuk melakukan relokasi sarang penyu. Perjalanan yang kami tempuh memang cukup jauh terlebih kami harus menggendong telur yang jumlahnya cukup banyak (satu sarang berkisar 50-100 butir telur) dan saat itu saya menggendong telur-telur dari dua sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Pengalaman pertama yang saya dapat ini memberikan motivasi tersendiri bagi saya untuk semangat bekerja di pantai peneluran ini. Melakukan relokasi sarang menurut saya memiliki tantangan tersendiri dibanding kegiatan lain, karena dibutuhkan ketelitian yang sangat tinggi. Karena jika tidak dilakukan dengan teliti dan tidak sesuai standar maka dapat mempengaruhi kesuksesan penetasan telur dalam sarang tersebut. Walaupun demikian, relokasi sarang adalah kegiatan yang paling saya senang lakukan.

Osorio menggendong telur di bahu menggunakan wadah plastik
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Osorio menggali sarang yang terancam air laut pasang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Beranjak ke hari berikutnya saya dan tim melakukan monitoring malam dan saat itulah pertama kali saya melihat penyu belimbing. Biarpun saya berkuliah di jurusan Ilmu Kelautan dan banyak belajar mengenai penyu khususnya secara teori namun secara praktek saya belum pernah melihat satwa ini secara langsung. Saya sangat takjub saat melihat penyu belimbing dengan ukuran yang sangat besar. Ketika indukan penyu itu bernafas terdengar seperti suara babi hutan menurut saya, terdengar berat. Selama melakukan monitoring malam ada banyak hal yang saya pelajari, mulai dari cara memasang dan scan Passive Integrated Transponder (PIT) tag yang baik dan benar, cara mengukur penyu, serta bagaimana memperlakukan penyu agar tidak terganggu ketika ingin bertelur.

Kegiatan lain yang saya lakukan bersama kru yaitu melakukan evaluasi sukses penetasan sarang di kandang relokasi ataupun di pantai. Pertama kali melakukan evaluasi saya agak terganggu dengan aroma yang berasal dari telur penyu ataupun tukik yang mati, namun seiring berjalannya waktu saya mulai terbiasa. Selain melakukan pekerjaan, saya juga sering memanfaatkan waktu luang untuk melakukan hal yang positif dan mampu menghilangkan rasa bosan di pantai. Waktu luang saya biasa diisi dengan membuat konten-konten foto dan video mengenai kegiatan di pantai, bercerita dengan masyarakat serta tenaga lokal, menonton film, karaoke dan lain-lain. Biasanya setelah melakukan kegiatan selama hampir seminggu, pada sabtu pagi atau sore kami akan pergi ke kampung Wau dan Weyaf untuk mengikuti ibadah pada hari minggu. Perjalanan kami menuju kampung biasa ditempuh selama kurang lebih 30 menit namun jika kekurangan tenaga untuk mendorong perahu biasanya kami berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam. Hal tersebut karena perahu yang biasa kami pakai cukup berat dan pantai yang terjal membuat kami membutuhkan minimal lima orang untuk mendorong perahu ke bagian pantai yang aman dari terjangan ombak.

Osorio dan tim mendorong perahu
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Osorio mengevaluasi sarang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Kegiatan yang biasa saya lakukan bersama tim di kampung yaitu berbincang dengan masyarakat, bermain bersama anak-anak disana, bermain voli, bola kaki, berenang di pantai dan pergi ke kebun. Saya juga sering mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat kampung ataupun pendamping masyarakat yang juga berasal dari UNIPA. Ada banyak hal menarik yang saya lakukan dan alami selama bekerja kurang lebih empat bulan di pantai Jeen Syuab. Pengalaman itu misalnya berjalan menyeberangi kali, melihat perjuangan penyu untuk bertelur dan tukik untuk keluar dari sarang, mengalami kebaikan hati masyarakat yang ada di kampung Wau-Weyaf maupun di pantai Wermon. Dari sini saya dapat belajar bahwa “perjuangan” dan “kebebasan” itu benar adanya. Harapan saya kegiatan ini bisa terus berjalan dan mendapatkan terus dukungan dari banyak pihak serta bila terdapat kembali kesempatan saya sangat ingin kembali bergabung di tim pantai peneluran pada kesempatan lainnya. Sekian cerita dari saya dan terima kasih.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/tantangan-dan-kepuasan-melakukan-relokasi-sarang-penyu-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Header website Berbagi cerita penyu

Noviyanti, Monica Arung Padang & Deasy Lontoh – Oktober 7, 2022

Foto Bersama panitia dan peserta hari 1

Abigail Lang, Noviyanti, Kartika Zohar dan Yusup Jentewo – Oktober 6, 2022

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Berawal dari Malang, berlanjut hingga Tambrauw : Inilah kisah salah satu penjaga penyu wanita di Pantai Wembrak

Berawal dari Malang, berlanjut hingga Tambrauw : Inilah kisah salah satu penjaga penyu wanita di Pantai Wembrak

Penulis

Ika Pebina Pinem

Tanggal

14 Oktober 2022

Ika berfoto bersama Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Ika)

Halo perkenalkan saya Ika Pebina Pinem biasa dipanggil Ika. Saya dilahirkan Medan dan beberapa kali berpindah domisili di sekitar wilayah Sumatra dan Jawa. Saya lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya di Malang, tempat pertama kali saya belajar dan tertarik mengenai penyu. Saya mulai mengenal konservasi penyu ketika saya melakukan magang di salah satu organisasi yang melakukan upaya tersebut di Bali. Setelah menyelesaikan magang saya tertarik untuk melanjutkan skripsi saya mengenai konservasi penyu, dan saya melakukan penelitian mengenai penyu hijau (Chelonia mydas) di daerah Sukabumi. Hal tersebut semakin membuka pikiran dan rasa ingin tahu saya tentang penyu, saya jadi memiliki suatu bucket list melihat dan ikut terlibat langsung dalam kegiatan konservasi penyu terbesar di dunia yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Sebenarnya, penyu tersebut dapat ditemui di Indonesia tepatnya di Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat akan tetapi saya belum tahu bagaimana dapat mengakses lokasi tersebut karena saya belum pernah menginjakkan kaki di tanah Papua.

Suatu waktu saat saya sedang santai scroll Instagram, saya pun melihat sebuah akun instagram @science4conservation dari LPPM Universitas Papua yang sedang membuka lowongan untuk posisi tenaga lapangan pada pantai peneluran penyu belimbing di Tambrauw. Tanpa berfikir panjang saya pun mendaftarkan diri dan akhirnya dinyatakan lulus sebagai tenaga lapangan. Awal dinyatakan lulus saya sedikit khawatir mengenai bagaimana situasi lingkungan di Papua, karena saya belum pernah mendatangi tempat tersebut dan juga karena hanya dua orang perempuan di daftar yang lolos sehingga menambah kekhawatiran saya. Tetapi karena besarnya keinginan untuk kesana dan melihat langsung penyu belimbing akhirnya saya banyak bertanya kepada ibu Deasy selaku koordinator pemantauan dan perlindungan penyu disana dan saya pun merasa yakin untuk memulai perjalanan saya dan bertemu raksasa berwajah lucu tersebut (entah mengapa semua penyu terlihat sangat menggemaskan di mata saya).

Bersama tim survei di Wembrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Ika berfoto dengan tukik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Ika)

Saya pun akhirnya tiba di Manokwari Papua Barat, perasaan pertama yang saya rasakan pastinya super excited karena saya tiba ditempat baru yang sangat indah. Sebelum berangkat ke lapangan kita diberi pembekalan materi mengenai keadaan lapang dan pekerjaan yang akan dilakukan. Setelah semua persiapan selesai tim pun berangkat ke lapangan yang berlokasi di Distrik Tobouw. Semua yang saya lihat merupakan hal baru untuk saya, saya sangat menyukai lingkungan dan masyarakat yang ada di Kampung Resye, Womom dan Warmandi (tiga kampung yang berdekatan dengan pantai peneluran). Saya ditempatkan di pantai Wembrak, pada bulan pertama masih menjadi waktu untuk saya beradaptasi dengan semua hal yang ada disana akan tetapi lama-kelamaan saya mulai berbaur dengan semuanya. Banyak hal yang baru pertama kali saya lakukan selama di sana dan merupakan hal baru selama saya mengenal konservasi penyu, yaitu melakukan scan penyu dan memasangkan Passive Integrated Transponder (PIT) tag.

Disamping pekerjaan utama yang saya lakukan di sana seperti monitoring malam, perlindungan sarang, monitoring pagi, mengukur pasang surut dan evaluasi sarang, saya juga mengembangkan kemampuan memasak yang saya pelajari dari beberapa teman yang ada di sana. Saya mencoba hal baru yang belum pernah saya lakukan dimana merupakan kebiasaan yang selalu dilakukan masyarakat Papua yaitu makan pinang. Awalnya terasa sangat aneh, akan tetapi lama – kelamaan terasa enak. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang di pantai yaitu memasang jerat yang merupakan hal baru juga bagi saya. Beberapa kali saya ikut dengan teman tim di pantai untuk memeriksa jerat dan kami berhasil membawa pulang rusa dan babi hutan. Selama enam bulan lamanya saya ikut ambil bagian dalam tim ini. Banyak hal baru yang saya lakukan dan pastinya banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang saya dapat. Satu persatu bucket list saya untuk mendatangi tempat konservasi penyu di dunia yang saya mulai dari Indonesia pun akhirnya terpenuhi dan saya berharap akan terus berlanjut.

Pengalaman pertama Ika mengunyah pinang dan sirih
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Ika)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Berbagi Cerita Penyu di Festival Ecotourism Papua Barat 2022

Berbagi Cerita Penyu di Festival Ecotourism Papua Barat 2022

Penulis

Noviyanti, Monica Arung Padang, Deasy Lontoh

Tanggal

7 Oktober 2022

Pariwisata adalah sektor bisnis di Indonesia yang sangat terdampak oleh pandemi COVID-19. Untuk itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua Barat berupaya mendorong sektor ekonomi pariwisata bangkit kembali dengan mengadakan Festival Ecotourism 2022 di Manokwari City Mall, pada tanggal 29 September sampai 1 Oktober 2022.

Ecotourism sendiri adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan yang mengedepankan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Melalui Festival Ecotourism ini, KPw BI Provinsi Papua Barat ingin mendukung pengembangan ekonomi daerah dan optimalisasi potensi ecotourism di Papua Barat.

Dalam festival yang diadakan selama 3 hari ini, KPw BI menyusun acara dengan sangat baik. Hari pertama diisi dengan Seminar: “Membangun Investasi Ecotourism Papua Barat yang Berkelanjutan”. Hari kedua, pengunjung diajak Mengenal Lebih Dekat Flora & Fauna Papua Barat oleh Komunitas Ko Mari; mengenal Edukasi Konservasi Penyu yang dibawakan oleh LPPM UNIPA; serta Sosialisasi Uang Rupiah TE 2022 dan Sistem Pembayaran Digital Bank Indonesia. Pada hari terakhir, sebuah Talkshow Investcool and Calm Ecotourism in Papua Barat yang membahas tentang potensi, kebutuhan, tantangan dan kiat berwisata dengan tetap menjaga kelestarian alam disampaikan oleh DPD Himpunan Pramuwisma Indonesia Papua Barat, GenPI Papua Barat dan Econusa. Stand-stand pameran di lantai dasar dan Hall Manokwari City Mall ikut memeriahkan festival ini. Pameran ini bertemakan “UMKM Ecogreen Expo dan Papua Barat Travel Fair”.

Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA menyambut baik undangan festival ini. Kami menjual produk Minyak Kelapa Abun hasil kegiatan pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir Jeen Womom pada kegiatan ini. Ibu Deasy Lontoh selaku Koordinator Penelitian Pemantauan dan Perlindungan Penyu di TP Jeen Womom hadir sebagai narasumber dalam Edukasi Konservasi Penyu yang dilaksanakan hari Jumat, 30 September 2022. Hal-hal yang disampaikan antara lain: Jenis-jenis penyu, peran penyu bagi laut dan pantai, proses penyu bertelur, tantangan-tantangan yang dihadapi penyu untuk dapat bertahan hidup, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk melestarikan penyu. Dalam sesi tanya jawab pengunjung bertanya bagaimana caranya melepas tukik yang baik, bagaimana membedakan berbagai jenis penyu, apa saja undang-undang perlindungan penyu dan potensi pengembangan pariwisata di Kabupaten Tambrauw. Melalui form isian online yang kami bagikan kepada pengunjung, mereka bercerita bahwa mereka belajar banyak hal mengenai penyu.

Belajar dan mengenal ilmu sains mengenai penyu bagi kami adalah hal yang menarik. Tugas membawakan cerita penyu kepada masyarakat luas merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kami. Kami berharap dengan cerita-cerita dari kami, akan lebih banyak lagi orang yang mengenal dan mendukung upaya konservasi penyu dan mendukung perekonomian masyarakat di wilayah konservasi tersebut.

Stand Sains for Conservation di MCM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana Stand di MCM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Dukung Konservasi Penyu di Papua Barat, UNIPA Berbagi Pengetahuan Pemantauan dan Perlindungan Penyu

Dukung Konservasi Penyu di Papua Barat, UNIPA Berbagi Pengetahuan Pemantauan dan Perlindungan Penyu

Penulis

Abigail Lang, Noviyanti, Kartika Zohar, Yusup Jentewo

Tanggal

6 Oktober 2022

Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA dengan dukungan Blue Abadi Fund dan Kerjasama Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat melaksanakan kegiatan Berbagi Pengetahuan Tentang Pemantauan dan Perlindungan Penyu untuk Upaya Konservasi di Papua Barat. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua  hari pada Selasa dan Rabu tanggal 27 – 28 September 2022.

Sambutan pembukaan dari Ketua LPPM UNIPA
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Latihan mengukur morfologi penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Upaya konservasi penyu di wilayah Bentang Laut Kepala Burung Papua telah dilakukan oleh masyarakat dan penggiat konservasi. Namun, upaya yang baik ini sering kali terkendala kurangnya pengetahuan teknis terkait pemantauan dan perlindungan penyu yang didasari oleh pengetahuan ilmiah. Diketahui terdapat empat jenis penyu yang bertelur di wilayah Papua Barat yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik semu atau lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dimana semua jenis tersebut terancam populasinya di alam.

Kegiatan ini diikuti oleh 16 peserta perwakilan dari beberapa pihak seperti BBTN Teluk Cenderawasih, BBKSDA Papua Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat (DKP PB), Dinas Lingkungan Hidup Papua Barat (DLH PB), Satuan  Kepolisian  Perairan  dan  Udara (Sat Polairud) Manokwari, BEM FPIK UNIPA, Kelompok Penyu Bremi-Manokwari, Yayasan Misool Baseftin, Pokdarwis Amban Pantai, KUB Manduni Putra, Ketapang Dive Community, dan Kelompok  pelestari penyu di Nuni.

Hari pertama kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Solideo Gloria SMK 3, Reremi Manokwari. Terdapat empat materi yang dibawakan bagi peserta kegiatan yaitu :

  1. Materi Biologi Penyu
  2. Materi identifikasi jenis dan jejak penyu
  3. Teknik pemantauan penyu dan perlindungan sarang di pantai peneluran
  4. Ancaman terhadap penyu dan upaya pelestariannya.

Kegiatan hari kedua dilaksanakan di Pondok Ka’Mis Kampung Nusantara, Amban Pantai Manokwari. Sesi pada hari kedua diisi dengan praktik lapangan untuk mendalami materi yang telah didapatkan pada sesi di ruangan. Teori yang diberikan pada hari pertama dipraktikan pada hari kedua seperti mengidentifikasi jejak penyu, cara melindungi sarang dengan menggunakan metode pagar, dan melakukan relokasi sarang yang terletak di daerah yang terancam serta melakukan evaluasi sukses penetasan pada sarang dan penerapannya pada lokasi masing-masing. Peserta juga berdiskusi untuk mengidentifikasi bagaimana peran setiap pihak dalam pengelolaan penyu terutama di Papua Barat.

Praktek identifikasi jejak penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Praktek evaluasi sukses penetasan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Praktek perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Seluruh peserta yang konsisten mengikuti kegiatan sejak hari pertama mengalami peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap materi yang diberikan terlihat dari naiknya rata-rata skor tes peserta sebanyak 90%. Baik secara teori maupun praktik tidak terdapat kendala yang berarti bagi peserta untuk memahami dan mengikutinya. Melalui kegiatan ini kami berharap informasi terkait penyu dan teknik pemantauan dan perlindungannya dapat disebarluaskan untuk meningkatkan upaya konservasi penyu di wilayah Papua Barat.

Foto para peserta di hari kedua
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Cerita dari Lapang: Membuat video edukasi tentang pelestarian penyu

Cerita dari Lapang: Membuat video edukasi tentang pelestarian penyu

Penulis

Abigail Lang, Noviyanti

Tanggal

30 September 2022

Anak-anak Papua yang tinggal di kampung-kampung di sekitar Taman Pesisir Jeen Womom memiliki kesempatan emas untuk mengenal penyu secara langsung dari pantai peneluran penyu! Pantai-pantai ini sangat dekat dengan kampung tempat mereka tinggal. Untuk membantu upaya pelestarian penyu di wilayah ini, Tim Pemberdayaan Masyarakat LPPM UNIPA membantu mengajarkan kepada mereka tentang pentingnya menjaga kelestarian penyu. Pelajaran ini secara rutin mereka terima pada kegiatan PLH di rumah belajar di kampung-kampung mereka.

Suasana pemutaran film di kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana pemutaran film di kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tahun ini, kami dari Tim Penjangkauan Masyarakat LPPM UNIPA dilibatkan untuk menyusun materi PLH yang menarik dan mudah dimengerti oleh anak-anak di rumah belajar. Apa itu PLH? PLH adalah kepanjangan dari Pendidikan Lingkungan Hidup. Untuk menjawab tantangan itu, kami perlu belajar dari berbagai sumber yang terpercaya sebelum kami menyalurkannya kepada anak-anak dan juga masyarakat di kampung. Salah satu metode yang kami pakai yaitu membuat video edukasi tentang pelestarian penyu. Video ini kami putar ketika kami melakukan kegiatan Nonton Bareng Film Bertemakan Pelestarian Lingkungan Hidup kepada anak-anak dan masyarakat di 5 kampung pada Taman Pesisir Jeen Womom.

Kurang lebih 5 bulan ini, kegiatan Nonton Bareng kami lakukan sebanyak 8 kali pada 5 kampung yang ada di TP Jeen Womom dengan total peserta sebanyak 391 orang. Tidak hanya anak-anak, tetapi banyak juga penduduk setempat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Pelaksanaan pemutaran Video PLH dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Pelaksanaan Pemutaran Video PLH di TP Jeen Womom

BulanKampung yang dikunjungiJumlah Peserta yang Hadir (orangVideo PLH
Mei 2022Syukwo, Resye, WomomSyukwo: 43
Resye: 68
Womom: 17
1. Papeda Laut: Makanan Penyu Belimbing
2. Siklus Hidup Penyu
Juli 2022WeyafWeyaf: 951. Papeda Laut: Makanan Penyu Belimbing
2. Siklus Hidup Penyu
Agustus 2022WauWau: 761. Bioekologi Penyu
2. Sasi dan Undang-undang Perlindungan Penyu
September 2022Syukwo, Resye, WomomSyukwo: 32
Resye: 49
Womom: 11
1. Bioekologi Penyu
2. Sasi dan Undang-undang Perlindungan Penyu

Terlepas dari itu semua, ada banyak sekali pelajaran yang bisa kami sampaikan melalui 4 video yang sudah kami siapkan untuk pemutaran film. Keempat video ini memiliki informasi penting yang sangat baik untuk disampaikan kepada masyarakat di TP Jeen Womom. Pertama kami mengenalkan “Siklus hidup penyu dan tantangan yang dihadapi penyu baik ketika berada di darat, di laut, dan tantangan yang berasal dari aktivitas manusia”. Dalam video kedua kami mengenalkan bagaimana keahlian dan anatomi tubuh penyu belimbing dan penyu sisik sehingga mereka bisa makan ubur-ubur tanpa tersengat. Video ini juga bercerita bahaya sampah plastik di laut jika tertelan oleh penyu. Video ketiga bercerita tentang bioekologi penyu, manfaat penyu bagi ekosistem laut, dan masyarakat di TP Jeen Womom yang terlibat secara aktif dalam upaya perlindungan penyu. Terakhir, kami menceritakan tentang sasi sebagai kearifan lokal masyarakat setempat dalam upaya perlindungan penyu dan undang-undang yang dibuat pemerintah untuk upaya serupa.

Pembagian hadiah kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Agar informasi ini mudah diterima, kami menulis script dan merekam audio menggunakan dialek Papua Melayu. Hasilnya sangat menggembirakan! Boleh dikatakan bahwa 80-90% peserta yang hadir dalam kegiatan nonton bareng ini menerima pesan yang disampaikan dalam video dengan baik. Kami mengukurnya menggunakan tanya jawab  yang kami lakukan setelah video kami tayangkan.

Kami berharap baik anak-anak maupun masyarakat yang tinggal di TP Jeen Womom dapat terus menjalankan perannya untuk melestarikan penyu di habitat penelurannya. Melalui video edukasi yang kami buat, kami sangat berharap agar kesadaran ini tumbuh karena mereka sadar bahwa hewan eksotik ini memiliki peran yang tidak tergantikan baik bagi laut maupun bagi pantai peneluran.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi EKKP3K Monitoring Sosial EKKP3K

Penilaian Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Provinsi Papua Barat: Status dan Pembelajaran

Penilaian Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Provinsi Papua Barat: Status dan Pembelajaran

Penulis

Dariani Matualage, Kezia Salosso

Tanggal

28 September 2022

Kawasan konservasi berfungsi sebagai wilayah untuk melindungi dan melestarikan sumber daya yang ada di dalamnya. Penetapan kawasan konservasi tidak hanya fokus kepada perlindungan dan pelestarian serta pengawetan saja, tetapi juga memperhatikan pemanfaatan kawasan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, pemanfaatan tersebut bersifat terbatas dan harus mengutamakan kelestarian dan memperhatikan daya dukung kawasan.

Wilayah Bentang Laut Kepala Burung, Papua (BLKB) saat ini memiliki lebih dari 20 kawasan konservasi perairan dengan total luas lebih dari 4,5 juta hektar dan memberikan kontribusi hampir 25% dari luasan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Indonesia. Di satu sisi jumlah dan luasan KKP diperlukan untuk mendukung komitmen pemerintah Indonesia membentuk 32,5 juta hektar KKP pada tahun 2030. Tetapi disisi lain peningkatan efektivitas pengelolaan KKP juga menjadi hal yang sangat penting diperhatikan agar fungsinya dapat berjalan dengan baik. Peningkatan efektivitas pengelolaan KKP hanya dapat diketahui jika dilakukan penilaian secara terus-menerus.

(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sejak tahun 2021, penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Papua Barat telah dilakukan dengan menggunakan pedoman penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi atau yang disebut EVIKA, setelah sebelumnya menggunakan perangkat E-KKP3K. Tahun 2022 ini, LPPM Universitas Papua bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat, Kementerian Kelautan dan Perikanan, pengelola Kawasan Konservasi Perairan Daerah, YKI, YKAN dan mitra konservasi lainnya telah melakukan workshop Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Papua Barat. Kegiatan ini diselenggarakan di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat pada tanggal 6 hingga 8 April 2022 untuk melakukan penilaian secara mandiri terhadap 5 KKP yang dikelola Pemerintah Provinsi Papua Barat, yaitu Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat; Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Jeen Womom Kabupaten Tambrauw; Kawasan Konservasi Perairan Buruwai, Arguni, Kaimana, Teluk Etna, dan Perairan Sekitarnya; Kawasan Konservasi Perairan dan Pulau-Pulau Kecil Teluk Berau dan Teluk Nusalasi Van Den Bosch; dan Kawasan Konservasi Seribu Satu Sungai Teoenebikia di Perairan Sorong Selatan. Melalui kegiatan ini juga sekaligus disiapkan dokumen-dokumen yang mendukung penilaian tersebut untuk kemudian digunakan dalam penilaian yang dilakukan tim penilai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.  Tim penilai EVIKA untuk KKP di Provinsi Papua Barat adalah (1) Dr. Hendra Yusran Siry, S.Pi, M.Sc; (2) Raden Tomi Supratomo, S.Si, M.Si; dan (3) Nur Ismu Hidayat.

Pada tanggal 18-19 Agustus 2022, bertempat di Kantor Loka PSPL Sorong, telah dilakukan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat. Kegiatan ini dihadiri oleh tim penilai, Loka PSPL Sorong, DKP Provinsi Papua Barat, Pengelola kawasan yaitu UPTD KKP Raja Ampat, UPTD Kaimana Fakfak, UPTD Jeen Womom, UNIPA dan mitra konservasi. Banyak pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan ini, antara lain  (1) masih terdapat program-program konservasi yang belum dilakukan tetapi sangat penting dalam penilaian EVIKA; (2) pengelola kawasan dan mitra perlu mendokumentasikan setiap program yang telah dilakukan dalam bentuk laporan dan foto; (3) bagaimana menyajikan hasil-hasil program yang telah dilakukan pengelola dan mitra sehingga dapat digunakan sebagai dokumen pendukung penilaian; serta (4) Pengelola kawasan harus melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan mitra setiap tahun.

Hasil dari penilaian EVIKA tahun 2022 adalah sebagai berikut:

NoNama KawasanNilai EVIKAWarnaStatus
1Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat88,04EMASDikelola Berkelanjutan
2Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jeen Womom Kabupaten Tambrauw dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Papua Barat
61,49PERAKDikelola Optimum
3Kawasan Konservasi Perairan Buruway, Arguni, Kaimana, Teluk Etna, dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Papua Barat50,26PERAKDikelola Optimum
4Kawasan Konservasi Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Teluk Berau
Dan Teluk Nusalasi-Van Den Bosch di Provinsi Papua Barat
50,26PERAKDikelola Optimum
5Kawasan Konservasi Seribu Satu Sungai Teoenebikia
Di Perairan Sorong Selatan di Provinsi Papua Barat
14,71PERUNGGUDikelola Minimum

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Minyak Kelapa, Salah Satu Penghasilan Masyarakat di Sekitar Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw.

Minyak Kelapa, Salah Satu Penghasilan Masyarakat di Sekitar Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw.

Penulis

Monica Arung Padang, Kartika Zohar

Tanggal

8 September 2022

Taman Pesisir Jeen Womom di Kabupaten Tambrauw selain menjadi rumah bagi spesies penyu terbesar di dunia (Dermochelys coriaceae) juga memiliki komoditi hasil pertanian yang sangat bermanfaat yaitu kelapa (Cocos nucifera). Sebagai kawasan yang berada di bagian pesisir tidak heran jika jumlah kelapa di daerah ini melimpah.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh program Sains Untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA). LPPM UNIPA melakukan kegiatan ini untuk membantu meningkatkan pendapatan masyarakat dengan memberikan pendampingan berupa proses pengolahan kelapa menjadi minyak kelapa.

Proses Ekstrasi Santan di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA / Sandona Kuwei)

Proses Parut Kelapa bersama Anggota Kelompok Narwastu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yana Rumbrawer)

Untuk memanfaatkan potensi kelapa yang melimpah ini Program Sains Untuk Konservasi memberikan pendampingan kepada masyarakat lokal daerah pesisir Tambrauw yang ada di 2 Distrik yaitu Distrik Abun (Kampung Syukwo/Warmandi, Wau dan Weyaf) serta Distrik Tobouw (Kampung Resye dan Womom) untuk mengolah hasil pertanian berupa kelapa.

Minyak Kelapa merupakan produk lokal pertama masyarakat Distrik Abun dan Tobouw yang terbuat dari kelapa asli.  Produk ini diproduksi oleh masyarakat lokal yang tergabung kedalam kelompok – kelompok pengolahan dan didampingi oleh Pendamping Masyarakat. Proses produksi minyak kelapa ini masih menggunakan peralatan sederhana namun tetap memperhatikan sanitasi kebersihan selama proses produksi.

Hingga pertengahan tahun ini terdapat 6 kelompok masyarakat yang memproduksi sekitar 250-an liter minyak kelapa dan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 6.375.000. Meskipun jumlah ini tidak begitu besar, namun jumlah ini telah memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat dan mereka juga telah belajar untuk konsisten memproduksi minyak kelapa di masing-masing kampung. Produk yang dihasilkan kemudian dijual di Manokwari. Program Sains untuk Konservasi juga telah melakukan penjualan melalui market place Tokopedia, sehingga konsumen yang berada di luar Manokwari dapat dengan mudah produk ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya