Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

9 Juni 2026

Proses editing tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang duduk di depan kamera bersama kami: narasumber yang membawa cerita lapangan dan tim yang memastikan semuanya terekam dengan baik. Justru dari sanalah semua file mentah itu lahir.

Sebelum sampai pada tahap itu, ada ritual kecil yang selalu terjadi sebelum rekaman dimulai. Saya akan melempar pertanyaan ke sana-sini. Saya bukan sebagai bos yang memberi perintah, tapi sebagai rekan yang tahu bahwa tanpa mata dan tangan tim, semuanya bisa berantakan.

“Mas, tolong lihat microphone sudah tersambung belum?” tanyaku pada Mas Sesar, yang selalu jadi orang pertama yang diandalkan untuk urusan teknis.

“Li, itu di 3 kamera POV coba lihat, sudah sesuai gridnya?” tanyaku pada Liya, yang matanya lebih teliti dari siapa pun untuk memastikan komposisi kamera tidak melenceng.

Lalu aku pun bertanya pada rekan satunya lagi, Kei, yang cukup detail untuk urusan perlengkapan pendukung. “Kei, baterai tab untuk logo sudah aman?”

Tanpa Mas Sesar, Liya, dan Kei, saya tidak akan bisa menjalankan ini sendirian. Di sisi lain, saya juga tidak pernah mencoba berpura-pura bisa.

Menulis sisa waktu take podcast
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Set up handphone untuk take podcast 
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Jauh sebelum kamera menyala, ada banyak tangan yang telah lebih dahulu bekerja di balik layar. Kak Ocin dengan telaten menyusun jadwal bersama para narasumber, memastikan setiap pihak menemukan waktu yang selaras tanpa celah miskomunikasi. Sementara itu, Kak Novi dan Kak Yeni mendampingi kami sejak naskah masih berupa draf awal—memberi masukan, menangkap bagian yang belum utuh, dan perlahan membentuknya menjadi versi yang lebih matang. Mereka adalah para koordinator yang mungkin tak tampak di layar, namun tanpanya, apa yang akhirnya terlihat tak akan pernah terwujud.

Podcast ini direkam menggunakan tiga sudut kamera sekaligus—tiga sudut pandang, tiga perspektif, dan tiga berkas video dengan ukuran yang dapat mencapai gigabita.

Selama proses rekaman berlangsung, ada satu peran lain yang sering luput dari perhatian: time keeper. Di balik kamera, ia sesekali mengangkat papan kecil bertuliskan sisa waktu—10 menit lagi, 5 menit lagi, atau waktu hampir habis. Tanpa perlu memotong percakapan, tanda sederhana itu membantu host dan narasumber menjaga ritme diskusi agar tetap berjalan sesuai alur yang telah direncanakan. 

Barulah setelah rekaman selesai, tantangan berikutnya dimulai.

Sebelum proses penyuntingan benar-benar dimulai, seluruh berkas tersebut perlu dikonversi ke format yang memungkinkan kolaborasi tim.

Setelah semua file siap, barulah Filmora dibuka

Editing file podcast di aplikasi Filmora
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Di sinilah tantangan sesungguhnya terasa. Timeline yang terbuka di depan layar bukan sekadar deretan klip, melainkan tiga versi realita yang harus disatukan menjadi satu alur yang enak ditonton. Setiap kali narasumber atau host berbicara, saya harus memutuskan kamera siapa yang seharusnya tampil sekarang? POV mana yang paling tepat untuk momen ini?

Memotong di titik yang pas itu tidak sesederhana yang terdengar. Buka frame di timeline harus benar-benar ngena. Terlalu cepat terasa patah, terlalu lambat terasa bertele-tele. Belum lagi soal set ruangan yang harus konsisten dari satu kamera ke kamera lain, supaya penonton tidak merasa sedang berpindah-pindah tempat setiap kali sudut berganti.

Dan di antara semua itu, ada satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian sebelum rekaman bahkan dimulai: baterai mikrofon.

Recording selama take podcast
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Set up 3 POV kamera/handphone
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Mikrofon harus dipastikan punya daya yang cukup untuk merekam dari awal sampai akhir. Suatu waktu, pernah terjadi error pada proses perekaman podcast. Kualitas suara bermasalah di tengah rekaman yang sudah berjalan. Itu bukan sekadar gangguan teknis kecil. Sesi harus dihentikan, suasana yang sudah terbangun buyar, dan semua orang harus mengulang dari awal. Sejak saat itu, mengecek baterai mikrofon menjadi tahapan wajib yang tidak pernah kami lewatkan.

Proses editing tidak berhenti pada video yang selesai dipotong dan disusun. Ujung dari semua kerja ini adalah konten yang bisa menjangkau orang. Oleh karena itu, kami juga membuat materi iklan yang dirancang khusus untuk Instagram dan TikTok. Tujuannya, supaya orang yang melihatnya penasaran, lalu bergerak menonton versi lengkapnya di YouTube atau mendengarkan di platform podcast.

Dari file mentah bergiga-giga hingga satu konten iklan yang siap tayang, itulah perjalanan panjang yang terjadi jauh setelah rekaman selesai dan jauh sebelum episode benar-benar sampai ke telinga pendengar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya