Perjalanan 18 Hari Mengelilingi Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat

Penulis

Tim Monitoring Ekologi

Tanggal

21 Agustus 2021

18 hari pemantauan kesehatan karang di Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk kami. Keseruan dan kesulitan selama kegiatan pemantauan menjadi cerita unik dan menarik. Lokasi penyelaman yang memiliki arus kuat menjadi tantangan bagi kami, karena protokol pemantauan yang mengharuskan pemasangan 3 transek meteran untuk pengamatan kondisi karang dan pemasangan 5 transek meteran untuk pengamatan kondisi ikan di kedalaman 10 meter.

Untuk pengamatan ikan ditambah dengan metode berenang jauh selama 20 menit pada kedalaman yang relatif dangkal, sekitar 3-5 meter. Selain arus, kami juga menghadapi kondisi perairan yang bergelombang sehingga menyusahkan kami menuju ke lokasi penyelaman. Selain kendala yang dialami, kami juga merasakan keseruan dalam mengambil data di wilayah yang memiliki kondisi karang bagus dan ikan karang yang banyak. Pada beberapa lokasi, kami dapat berjumpa dengan Manta, penyu, hiu, dan ikan dalam jumlah yang banyak.

Berenang bersama kumpulan ikan di Jelly Sawanderek
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

“Keseruan dan kesulitan selama kegiatan pemantauan menjadi cerita unik dan menarik. Lokasi penyelaman yang memiliki arus kuat menjadi tantangan bagi kami. Selain kendala yang dialami, kami juga merasakan keseruan dalam mengambil data di wilayah yang memiliki kondisi karang bagus dan ikan karang yang banyak.”

Kegiatan pemantauan dimulai dari Kota Sorong menggunakan kapal KLM Kurabesi Explorer. Kami mulai mengambil data di sekitar Teluk Mayalibit dan melanjutkan pelayaran ke Kepulauan Ayau-Asia yang letaknya berada di bagian utara Raja Ampat. Di wilayah ini, tim melapor ke aparat militer yang bertugas menjaga kawasan terluar Indonesia sebelum melakukan pemantauan. 

Di Kawasan Ayau-Asia kami menemukan banyak ikan dalam jumlah besar, tetapi kami juga menemukan ada nelayan yang menangkap penyu. Perjalanan dilanjutkan ke Kepulauan Wayag. Kondisi perairan Wayag yang bergelombang menjadi tantangan tersendiri bagi kami dalam mengambil data. Namun demikian, naik ke  puncak Wayag dan bermain dengan Hiu di pinggir pantai sekitar pos penjagaan Wayag merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi kami.

Kami melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Kofiau-Boo yang berada di bagian paling barat Kabupaten Raja Ampat. Di daerah ini, kami menemukan bekas bom baru yang menghancurkan terumbu karang. Tetapi, kami juga masih menemukan hiu di beberapa lokasi. Kurang lebih 5 jam kapal berlabuh di Pelabuhan Kofiau untuk mengisi air dan kami melakukan pemeriksaan kesehatan, karena beberapa anggota tim mulai merasa kurang sehat. Lokasi terakhir pemantauan kesehatan karang adalah di Kawasan sekitar Selat Dampier. Di sini tim menemukan masih banyak Hiu, terutama di sekitar Tanjung Lampu, dekat dengan kampung Solol. Di sekitar Perairan Selat Sagawin kami juga menemukan  Paus. Setelah melakukan penyelaman rekreasi di Jetty Sawandarek dan berfoto dengan penyu dan kumpulan ikan, kami menuju ke Kota Sorong untuk kembali ke rumah kami masing-masing.

Kawanan hiu di sekitar pos penjagaan di Wayag

Kawanan hiu di sekitar pos penjagaan di Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pengambilan Data Karang
(Foto : Mulyadi/BBTNTC)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya