Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Menilik Aktivitas Tim Pemberdayaan Masyarakat di Kampung Wau-Weyaf

Menilik Keseharian Tim Pemberdayaan Masyarakat
di Kampung Wau-Weyaf

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/menilik-aktivitas-tim-pemberdayaan-masyarakat-di-kampung-wau-weyaf” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/menilik-aktivitas-tim-pemberdayaan-masyarakat-di-kampung-wau-weyaf” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/menilik-aktivitas-tim-pemberdayaan-masyarakat-di-kampung-wau-weyaf” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

31 Agustus 2022

Penulis

Noviyanti & Abigail Lang

Tanggal

31 Agustus 2022

Penulis

Noviyanti & Abigail Lang

Akses untuk air bersih, listrik, dan jaringan internet tidak kami dapatkan semudah ketika berada di kota. Sesampainya di kampung, aktivitas pertama yang kami lakukan adalah menimba air bersih untuk dibawa ke rumah belajar. Aktivitas ini kami lakukan bersama-sama dengan anggota PM.

“Kami akan pergi menimba air dulu kaka”, kata seorang PM yang sudah siap dengan gerobak merah dan ember besar kosong di atasnya. Kami ikut membantu. Meskipun ini pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik dan kami semua perempuan, pekerjaan menimba air tetap dapat kami lakukan. Jarak rumah belajar dari air sumur terdekat sekitar 50 meter dan kami harus menimba air ember dan gerobak.

Pekerjaan tim outreach tidak terlepas dari social media yang sangat bergantung pada jaringan internet. Ada beberapa titik di pantai yang terhubung dengan jaringan internet. Akan tetapi, peringatan dari anggota PM adalah: “Pakai baju yang panjang-panjang saja kaka nanti agas (serangga penghisap darah di pantai) gigit”.

Kami pun menuju ke “tempat jaringan”, sambil melihat pemandangan yang begitu cantik dengan suara ombak yang mengaum kencang serta diselimuti cahaya matahari yang membuat alam ini semakin berwarna. Selepas itu, kami kembali ke rumah belajar untuk membantu PM mengajar anak-anak.

Pada malam hari, hanya beberapa rumah saja yang menyalakan genset untuk kebutuhan listrik, kami menumpang untuk mengisi baterai peralatan elektronik yang kami punya. Kami menyadari bahwa meskipun tidak ada listrik dan jaringan internet selama 24 jam, ada sisi lain yang diunggulkan yaitu sosialisasi antara sesama. Sebagai orang yang terbiasa hidup dengan segalanya serba ada dan gampang, tantangan yang kami hadapi kali ini terbalut dengan rasa canda dan tawa yang dilontarkan sesama kami di kampung. Kami mengusir jenuh dengan sesekali menggunakan permainan offline pada gawai kami.

Suasana di tempat tim mencari jaringan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Namun, kami selalu punya kegiatan bersama anggota PM, salah satunya membantu mengajar anak-anak di rumah belajar. Anak-anak pun senang melihat “ibu-ibu guru baru” yang tiba di kampung mereka. Antusias dari anak-anak ini terlihat ketika hal kecil apapun bisa mereka lontarkan untuk menanyakan kepada kami.

Setiap kami keluar rumah, kami sudah siap dengan “alat tempur” kami yaitu baju lengan panjang, celana panjang, kaos kaki, serta topi. Tapi tetap saja serangga kecil (agas) bisa masuk entah dari mana untuk mencari makanannya.

Nobar Hunter Killer serasa membawa kami ada di dalam kapal selam!

Proses pemasangan spanduk sebagai layar untuk menonton film
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sehari sebelum kami berangkat, kami melaksanakan nobar (nonton bareng) bersama-sama dengan masyarakat. Mulai dari pagi-pagi kami membersihkan balai kampung yang terletak sekitar 500 meter jauhnya dari rumah belajar. Sambil berpapasan dengan orang-orang di jalan kami pun mengajak semua orang untuk bisa bersama-sama bergabung dengan kami pada sore hari nanti. Segala persiapan kami tentunya sangat terbantu sekali dengan partisipasi dari warga kampung. Tujuan dari nobar ini adalah untuk menyebarkan informasi berupa video tentang aturan adat dan hukum tentang penyu dan tentang manfaat penyu bagi alam. Waktu menunjukkan pukul 6 sore, kami mulai menyiapkan segala peralatan yang akan kami gunakan untuk nobar. Antusias dari warga sekampung sangat terlihat. Selama pemutaran film berlangsung, cuaca sedang tidak bersahabat karena hujan deras tapi banyak sekali warga kampung yang datang. Hujan, kopi panas, teh hangat dan pisang goreng membuat kondisi semakin pas untuk menonton film.

Suasana saat pemutaran video pelestarian penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penyerahan hadiah kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah menonton video edukasi tentang penyu, melakukan tanya jawab bersama warga kampung, kami melanjutkan malam dengan film action berjudul Hunter Killer. Film fiksi ini berkisah tentang misi tim kapal selam Amerika Serikat untuk menyelamatkan presiden Rusia yang dikudeta oleh kelompok militan di negaranya. Film yang ditunggu-tunggu masyarakat kampung ini membuat balai kampung semakin ramai. Keseruan dari cerita ini begitu menegangkan, suara riuh rendah dari warga kampung ikut meramaikan suasana. Tak hanya mereka, kami juga ikut terbawa suasana mengikuti alur ceritanya. Cerita yang seru dan tidak membosankan ini, sampai membuat kami tidak sadar bahwa film ini berkisar 2 jam. Warga kampung masih berharap ada film berikutnya, tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, kami pun harus siap-siap karena besok akan kembali ke Manokwari di pagi hari.

Banyak sekali pengalaman baru yang kami alami di kampung Wau-Weyaf dan di Pantai Jeen Syuab. Kami sangat senang karena pengalaman ini membuat wawasan kami menjadi semakin bertambah.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/menilik-aktivitas-tim-pemberdayaan-masyarakat-di-kampung-wau-weyaf” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/menilik-aktivitas-tim-pemberdayaan-masyarakat-di-kampung-wau-weyaf” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/menilik-aktivitas-tim-pemberdayaan-masyarakat-di-kampung-wau-weyaf” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Cerita dari Lapang: Memilih Ombak yang Tepat di Pantai Jeen Syuab

Cerita dari Lapang : Memilih Ombak yang Tepat di Pantai Jeen Syuab

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/memilih-ombak-yang-tepat-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/memilih-ombak-yang-tepat-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/memilih-ombak-yang-tepat-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

26 Agustus 2022

Penulis

Abigail Lang & Noviyanti

Tanggal

26 Agustus 2022

Penulis

Abigail Lang & Noviyanti

“Mengatasi masalah tanpa masalah” perasaan itulah yang dirasakan Tim Outreach ketika turun ke lapangan pada bulan 30 Juli – 7 Agustus kemarin. Perencanaan dalam perjalanan kami sudah cukup matang, namun dari transportasi kapal yang akan kami naiki, belum ada kepastian. Kurang lebih 3-4 hari sebelumnya, Tim Outreach mendapati informasi bahwa kapal akan beroperasi pada hari Sabtu, 30 Juli 2022. Keberangkatan kali ini adalah suatu penantian yang berharga.

Tiba harinya di mana kami, Tim Outreach dan Tim Pemantauan dan Perlindungan Sarang Penyu akan berangkat dengan destinasi yang berbeda-beda. Tim menuju Kampung Wau adalah Abigail, Liya, Novi sebagai Tim Outreach serta Kaka Yairus, Osorio, Yonas, dan Mayustilo; sedangkan Yusup, Ibu Deasy dan Ifah (mahasiswa PKL) akan menuju kampung Resye dan akan melanjutkan perjalanan ke Pantai Jeen Yessa. Perjalanan dari Manokwari ke Kampung Wau membutuhkan waktu 1 hari 1 malam menggunakan Kapal Sabuk Nusantara 112. Hari Minggu, 31 Juli 2022, kami tiba di rumah belajar dan disambut baik oleh Tenaga Pendamping Masyarakat (PM) yaitu Kaka Heydi dan Kaka Yana.

Pertama Kali melihat Tukik dan Induk Penyu Belimbing

Berfoto Bersama “Kru Penyu” Sebelum Kembali ke Kampung Wau
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bukan hanya pertama kali melihat penyu, tetapi ini juga menjadi pengalaman pertama kami melihat langsung aktivitas teman-teman kami yang bekerja di Pantai Peneluran. Senin pagi ketika cuaca di laut cukup bersahabat, kami dijemput dengan perahu motor oleh tim Pemantauan Penyu. “Kalau saya bilang ‘lompat’, langsung cepat-cepat keluar dari perahu e!”, begitu pesan Kaka Petrus, Koordinator Pantai Jeen Syuab, yang saat itu mengendalikan perahu motor. Sebelumnya, Yana bercerita bahwa turun dari perahu di pantai Wermon sangat unik sekali. “Terlambat sedikit nanti air masuk perahu kaka!”, begitu cerita Yana. Perahu motor ini tidak langsung menuju pantai, Kaka Petrus harus memilih “ombak yang tepat” agar perahu kami tidak terendam air. Teman-teman yang berjaga di pantai juga harus sudah siap dengan kayu-kayu untuk bantalan perahu agar perahu tidak terseret ombak. Begitu perahu tiba di pantai, kami harus cepat melompat keluar dan kami harus segera mendorong perahu menjauhi garis pasang laut. Kami yang terbiasa bekerja dengan laptop di kantor menjadi kagum dengan pekerjaan teman-teman di pantai.

Melepas Tukik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tukik Penyu Belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sore harinya kami membantu melepas tukik penyu belimbing. Ukurannya kira-kira kurang dari 1 telapak tangan. Walaupun kecil, tapi sirip-sirip mereka sangat kuat. Teman-teman berkata bahwa tukik yang menetas harus segera dilepas ke laut. Saat di laut, tukik ini akan terus-menerus berenang yang disebut swimming frenzy. Untuk bisa berenang di laut dan menghindari predator, tukik sangat bergantung dari energi dari kuning telur di tubuhnya sampai nanti mereka bisa bertemu makanannya. Itulah alasan tukik harus segera dilepas. Fakta menarik kan?! Setelah itu kami melihat teman-teman melakukan evaluasi sarang relokasi. Sambil melihat mereka bekerja, kami bertanya banyak hal tentang kandang relokasi. Sangat menarik sekali bisa belajar langsung di alam bersama teman-teman yang sangat mengerti tentang penyu.

Malam hari kami diajak melihat penyu. Perjalanan dari pos menuju penyu yang sedang naik bertelur sekitar 1.2 kilometer. Dalam gelap, kami hanya boleh menyalakan lampu merah agar penyu tidak terganggu. Besar sekali! Itu yang ada di pikiran kami ketika melihat penyu betina yang sedang naik bertelur. Bahkan kepalanya lebih besar dari kepala kami. Kami bersyukur sekali bisa bertemu hewan purba yang katanya satu angkatan dengan dinosaurus.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/memilih-ombak-yang-tepat-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/memilih-ombak-yang-tepat-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/memilih-ombak-yang-tepat-di-pantai-jeen-syuab” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Menilik Kegiatan Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yesa

Menilik Kegiatan Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yesa

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/kandang-relokasi-menyelamatkan-sarang-penyu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/kandang-relokasi-menyelamatkan-sarang-penyu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/kandang-relokasi-menyelamatkan-sarang-penyu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

15 Juli 2022

Penulis

Y. Yulia Andriani

Tanggal

15 Juli 2022

Penulis

Y. Yulia Andriani

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari kisah perjalanan volunteering trip oleh Y. Yulia Andriani. Simak bagian pertama di sini

Salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia terdapat di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua yang menjadi prioritas upaya konservasi nasional dan internasional. Kekayaan sumberdaya hayati laut di wilayah ini sangat luar biasa. Di sini kita bisa bertemu dengan lebih dari 600 spesies karang, dimana mereka adalah bagian dari 75% spesies karang keras dunia. Wilayah ini juga merupakan rumah bagi lebih dari 1700 spesies ikan karang, habitat bagi berbagai jenis penyu dan mamalia laut yang terancam punah (Sumber: Youtube: science4conservation).

Yulia (kiri), Fani (tengah), dan Ika (kanan) saat bertemu induk penyu belimbing
(Foto : Tonny Duwiri_S4C_LPPM UNIPA)

Setelah 2 hari di Kampung Womom, saya diajak berlayar ke Wembrak oleh Kaka Tonny Duwiri (biasa dipanggil Todu) menuju Pantai Wembrak, salah satu dari tiga Pantai Jeen Yesa untuk melihat konservasi penyu. Kebetulan, saya yang bertugas sebagai volunteer tidak terikat tugas formal seperti halnya Kaka Noviyanti, Abigail, dan Aflia, sehingga dapat menyambut ajakan Kaka Todu. Rasanya perfect timing banget! Saya tiba di Wembrak pada saat masa puncak peneluran penyu.

Ada dua alternatif untuk menempuh perjalanan menuju Pos Wembrak, trekking selama 1 jam atau naik perahu. Wah, trekking! Mataku seperti merasa menyala saking senangnya karena selama 3 tahun bekerja di Manokwari belum pernah jalan kaki di hutan Papua.

Menikmati senja di Pantai Wembrak
(Foto : Yulia Andriani)

Tukik penyu lekang yang siap dilepas ke laut bebas
(Foto : Yulia Andriani)

Eh…ternyata Kaka Todu mengabarkan kami akan naik perahu. Berlayar menuju lokasi pun tak kalah menggembirakan! Gelombang siang itu cukup besar hingga pelayaran seperti arung jeram dan bermandikan air garam. Pelajaran besar di situ, saya betul-betul harus membeli drybag besar. Carrier 65 liter yang setia dibawa ke mana-mana ini rasanya kurang cocok untuk trip laut.

Di Pos Wembrak rupanya sedang ada pembangunan sanitasi baru di belakang posko sehingga suasana di sana cukup ramai. Ada para pekerja, 1 orang Mama Papua, beberapa remaja, dan 2 anak kecil. Di posko itu saya bertemu 2 kawan baru, yaitu Fani dan Ika. Dalam waktu yang singkat saja kami langsung berinteraksi akrab. Memasak bersama, bercerita tentang banyak hal, dan tidur satu ruangan dalam posko.

Untung bawa lotion anti nyamuk, gileeee agasnya dahsyat! Pantas saja Fani dan Ika memasang tenda di ruangan! Kalau Kaka Todu sih manusia segala medan, aman tidur di mana saja dan kelihatannya sudah kebal.

Lewat tengah malam, seperti yang diinstruksikan Kaka Todu siang tadi, kami melakukan patroli penyu. Malam ini hanya Kaka Todu dan saya saja yang patroli karena kakinya Ika sakit. Selain melakukan patroli, mereka juga bertugas untuk melindungi sarang penyu dan mendatanya. Cara kerja patroli pada malam itu, patroler berjalan ke titik yang telah ditentukan sejauh kurang lebih 2 jam PP jalan kaki.

Induk penyu belimbing kembali ke laut setelah selesai bertelur
(Foto : Yulia Andriani)

Tim pertama dan kedua masing-masing memegang senter bercahaya merah dan putih sebagai kode komunikasi mengenai pergerakan penyu: naik ke pantai, turun, bersarang, atau tidak jadi bertelur. Malam pertama di Wembrak, tidak ada penyu yang bertelur. Ada satu penyu belimbing yang naik, tapi turun lagi. Barulah pada malam kedua kami (saya, Kaka Todu, Fani, dan Ika) menyaksikan penyu belimbing sukses bertelur.

Penyu yang naik ke pantai pada musim bertelur belum tentu mau bertelur saat pertama kali naik. Ada kalanya penyu hanya mengecek lokasi kemudian turun lagi. Penyu juga sensitif terhadap gangguan dari cahaya putih, terutama sebelum mengeluarkan telur dan menguburnya. Jadi, kami menggunakan senter bercahaya merah sepanjang patroli dan menunggui penyu bertelur. Setelah penyu berhasil mengubur telurnya, kami boleh menyalakan senter cahaya putih. Itu pun tidak sembarangan, hanya 1 sumber cahaya untuk keperluan pendataan dan pengukuran. Umumnya, penyu terinsting mengikuti sinar cahaya putih sehingga jika dinyalakan beramai-ramai akan membuatnya bingung dan terganggu.

Saat menunggu penyu bertelur pun kami tidak boleh berisik juga dan menjaga jarak. Selain memberi privasi, penyu bisa agresif, lho. Tenaganya besar dan berisiko membahayakan. Bahkan, kata Kaka Todu, sirip penyu dapat mematahkan dahan cukup besar jika merasa terganggu.

Induk penyu belimbing di Pantai Wembrak
(Foto : Yulia Andriani)

Ini adalah spesies penyu belimbing di Pantai Wembrak di Jeen Yessa, Papua Barat. Di wilayah ini, penyu biasa bertelur pada musim teduh (ombak relatif kecil). Biasanya, penyu naik ke pesisir dari malam hingga menjelang pagi. Para patroler penyu umumnya menelusuri pantai mulai pukul 20.00 WIT. Patroler biasanya terdiri dari 2 tim kecil dengan personel masing-masing 1-3 orang.

Dalam perjalanan singkat itu ada banyak pelajaran yang dapat dipetik, di antaranya adalah bersyukur pada apapun yang dikaruniakan Allah SWT, bersikap santun dan bijak pada alam. Berkesempatan menyaksikan penyu bertelur, bagi saya adalah kesempatan menyaksikan suatu kebesaran Allah SWT. Betapa setiap makhluk diciptakan sempurna dan hidup dengan keistimewaannya tersendiri. Keberadaannya hadir sebagai keselarasan alam.

Keberadaan Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA di Bentang Laut Kepala Burung ibarat matahari terbit yang hadirnya menjadi secercah harapan bagi kelestarian penyu di tengah besarnya ancaman. Kegigihannya dalam upaya konservasi, serta berupaya merangkul masyarakat dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan, menjadi sinergi positif yang harus terus menyala.

Mari kita jaga bersama, sayangi, lestarikan. Stop penjualan daging, telur, dan souvenir dari penyu! “Memperingati” Hari Laut Sedunia bukan hanya pada 8 Juni, melainkan setiap saat. Semoga lestarimu abadi.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/kandang-relokasi-menyelamatkan-sarang-penyu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/kandang-relokasi-menyelamatkan-sarang-penyu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/kandang-relokasi-menyelamatkan-sarang-penyu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Matahari Terbit di Bentang Laut Kepala Burung

Matahari Terbit di Bentang Laut Kepala Burung

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

13 Juli 2022

Penulis

Y. Yulia Andriani

Tanggal

13 Juli 2022

Penulis

Y. Yulia Andriani

Siap-siap, ya, besok kita jadi berangkat ke Tambrauw!

Pagi itu tanggal 20 Mei 2022, kawan saya, Kaka Noviyanti, mengabari tentang ajakannya volunteering trip bersama Program Sains untuk Konservasi dari LPPM Universitas Papua. Lokasi volunteering trip kami lakukan di Kabupaten Tambrauw, tepatnya di Kampung Womom dan Kampung Resye selama 9 hari (21-30 Mei 2022).

(Foto : Tonny Duwiri/S4C_LPPM UNIPA)

Kami berangkat tanggal 21 Mei 2022 dan terbagi dalam 2 tim kecil. Saya satu tim dengan Kaka Noviyanti, Abigail, dan Aflia yang akan turun di Kampung Womom dan Resye. Sedangkan tim lainnya bertugas di Kampung Wau dan Warmandi hanya dua orang, yaitu Kaka Tika dan Mika. Hal pertama yang terlintas di benakku, perjalanan ini terbayang sangat menyenangkan karena merupakan pengalaman pertama berlayar dan berbaur dengan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung.

Mengenai volunteering di ranah konservasi bukan hal yang sangat baru bagi saya, karena selama aktif di organisasi Mapala Unsoed (UPL MPA) sedikitnya pernah memperoleh materi dan praktik konservasi gunung-hutan. Namun, konservasi laut sudah tentu bakal menjadi pengalaman baru bagi saya di Tanah Papua. Dari gunung turun ke laut, mari kita cobaaa (pakai nada Sisca Kohl).

Pelayaran Kapal Sabuk Nusantara 112 Manokwari-Saubeba

Ini pertama kalinya saya naik Kapal Sabuk Nusantara. Pelayaran dari Manokwari menuju Resye memakan waktu kurang lebih 2 hari 2 malam. Tiketnya pun sangat terjangkau, Rp 20.000,00 dengan fasilitas tempat tidur tingkat, hiburan di kafetaria, dan toilet umum. Durasi pelayarannya ternyata lebih lama daripada kapal putih PELNI yang biasa menempuh Manokwari-Sorong kurang dari 24 jam. Sesuai dengan namanya, Kapal Sabuk, kapal berkapasitas penumpang 2 dek ini berperan sebagaimana fungsi sabuk untuk “melingkari keliling badan”, yaitu dengan berhenti di hampir setiap kampung sepanjang Manokwari-Sorong.

(Foto : Y. Yulia Andriani)

Saya baru tahu, di kampung-kampung yang dilalui Kapal Sabuk tidak memiliki dermaga, sehingga kapal tidak dapat bersandar. Kapal menurunkan jangkar pada perairan berkedalaman aman dan penumpang yang akan naik turun kapal diangkut oleh perahu masyarakat.

Hampir setiap perahu tampak mengangkut beragam hasil bumi dari kampung. Pisang mentah, sayuran, daging hasil buruan (babi dan rusa), kelapa, pinang, buah sirih, buah-buahan, hingga makanan homemade siap saji. Ada pula yang mengangkut jerigen-jerigen berisi bahan bakar minyak.

Saya mendengar cerita dari seorang kakek penduduk Kampung Womom, dulu belum ada kapal yang menjadi sarana penghubung antarkampung di sepanjang pesisir BLKB. Perjalanan jauh ke kampung maupun kota ditempuh dengan jalan kaki atau mendayung perahu. Maka dari itu, keberadaan Kapal Sabuk Nusantara dapat menunjang kemudahan transportasi masyarakat dan tentu punya dampak positif dari segi ekonomi dan sosial.

Di antara hiruk-pikuk bongkar-muat kapal, saya menyaksikan kehangatan di tengah kesederhanaan pada diri mereka. Canda, tawa, teriakan penuh semangat menyambut aktivitas rutin, celoteh riang anak-anak kampung yang menikmati jajanan kapal, juga anak-anak dan remaja yang berkecimpung di laut dalam dengan penuh keberanian.

Memori di Kampung Resye dan Womom

Kami tiba di Kampung Resye tepat pada tengah hari. Baru saja menginjak kaki di pesisirnya, seorang Mama dari kampung langsung menyambut kami dan memberi petuah untuk mengoles pasir di dahi. Menurut tradisi kampung, hal tersebut harus dilakukan oleh pendatang baru sebagai pencegahan terhadap penyakit. Setelah itu, kami pun berjalan kaki di pesisir menuju Kampung Womom yang berjarak sekitar 20 menit.

Di Kampung Resye dan Womom kami akan melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan penjangkauan masyarakat selama 4 hari. Kegiatan yang kami lakukan diantaranya pembuatan minyak kelapa untuk mendukung perekonomian masyarakat, sosialisasi tentang konservasi penyu melalui pemutaran film dan games, serta acara nonton bareng (nobar) film “Di Timur Matahari” dengan masyarakat.

(Foto : Y. Yulia Andriani)

Di kampung berpenduduk kurang dari 20 kepala keluarga ini, listrik dan bahan bakar masih terbatas. Listrik menyala dari pukul 18.30 – 24.00 WIT dengan menggunakan genset. Itu pun kalau ada cadangan bahan bakar. Listrik dinyalakan hanya untuk keperluan yang sangat penting bagi hajat orang banyak, seperti mengalirkan air ke rumah-rumah masyarakat. Kesempatan ini dipergunakan oleh para pegiat literasi dari Universitas Papua untuk mengajarkan pengetahuan dasar pengoperasian komputer atau hiburan komunal berupa menonton film di Rumah Belajar dari UNIPA. Para pegiat literasi ini disebut sebagai Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program.

(Foto : Y. Yulia Andriani)

Bahan bakar minyak adalah hal yang tergolong mewah. Pengadaannya harus dibawa dari ibukota provinsi (Manokwari) melalui pelayaran kapal Sabuk Nusantara 112. Pun demikian dengan biskuit, jajanan anak-anak, dan cita rasa makanan khas supermarket. Bagi mereka, cita rasa itu memiliki keistimewaan tersendiri, sama halnya dengan saya bahwa kedamaian dan kesederhanaan di sana merupakan kado istimewa dalam perjalanan itu.

Selesai nobar di malam pertama, esok harinya kami bergerak di kegiatan berikutnya: membuat minyak kelapa! Ini pengalaman pertama saya juga. Pengolahan minyak kelapa ini betul-betul dari hulu ke hilir, mulai dari mencari buah yang layak panen, mengupas tempurung kelapa secara manual, memarutnya, memeras santan, memasaknya hingga menjadi minyak, hingga dibawa ke Manokwari untuk proses labeling dan pemasaran.

Mengingat betapa pegal dan sabarnya mengupas tempurung keras kelapa tua, oke deh, saya tidak akan mempertanyakan label harga minyak kelapa homemade. Harganya ya itu sudah, sa tra akan tawar!

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari kisah perjalanan volunteering trip oleh Y. Yulia Andriani. Simak bagian kedua di sini

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/matahari-terbit-di-bentang-laut-kepala-burung” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Menonton bareng film bertemakan pelestarian lingkungan di Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw

Menonton bareng film bertemakan pelestarian lingkungan di Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/menonton-bareng-film-bertemakan-pelestarian-lingkungan-di-distrik-tobouw-kabupaten-tambrauw” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/menonton-bareng-film-bertemakan-pelestarian-lingkungan-di-distrik-tobouw-kabupaten-tambrauw” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/menonton-bareng-film-bertemakan-pelestarian-lingkungan-di-distrik-tobouw-kabupaten-tambrauw” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

4 Juni 2022

Penulis

Abigail Lang & Noviyanti

Tanggal

4 Juni 2022

Penulis

Abigail Lang & Noviyanti

Bulan Mei 2022 menjadi pengalaman pertama bagi Tim Penjangkauan Masyarakat (Outreach) berkunjung ke kampung-kampung yang berada di Taman Pesisir Jeen Womom. Kami berangkat menggunakan transportasi laut (kapal Sabuk Nusantara 112) bersama dengan tim Monev Pemberdayaan. Untuk dapat menginjakkan kaki di kampung tersebut, perahu masyarakat menjemput kapal kami yang berlabuh di tengah laut. Tidak ada pelabuhan di kampung ini. Inilah alasan kapal-kapal besar hanya bisa berlabuh di tengah laut.

Namun, kami merasa senang dengan perjalanan menggunakan perahu yang hanya sekitar 1-2 menit saja, kami juga bisa menikmati keindahan alam dengan lautnya yang masih bersih. Dari kejauhan sudah terlihat sebagian besar penduduk yang antusias melihat perahu kami berhenti di depan pulau mereka. Bagi mereka melihat kapal dan perahu yang menjemput barang dan penumpang adalah suatu kegembiraan tersendiri.

Suasana pada saat pemutaran film
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kami disambut dengan baik oleh masyarakat di Distrik Tobouw, Kampung Resye dan Womom. Tim kami terdiri dari Noviyanti, Abigail Lang, dan Yulia Andriani (Volunteer). Seorang ibu di kampung dengan wajah yang sangat ramah menyarankan kami mengoles dahi kami dengan pasir pantai karena kami baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. “Oles pasir di testa (dahi) supaya kam tra sakit. Baru pertama datang toh?” Setelah kami tiba, Tim Pendamping Masyarakat (PM) membantu kami mendapatkan izin dari Kepala Kampung atau perwakilannya untuk memutarkan beberapa video edukatif tentang kehidupan penyu dan film sebagai hiburan bagi masyarakat. Pada Selasa, 24 Mei 2022 sekitar jam 4 sore kami sudah mulai mempersiapkan makanan dan minuman untuk konsumsi selama pemutaran film/video di Kampung Womom. Sementara untuk pemutaran film/video di Kampung Resye, kami laksanakan hari Jumat, 27 Mei 2022, sehari sebelum kami kembali ke kota.

Peserta mendapat hadiah karena dapat menjawab pertanyaan dengan benar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

8

Mengoles pasir di dahi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kami membeli Pisang dan Singkong (kasbi dalam bahasa setempat) dari masyarakat untuk kami hidangkan sebagai kudapan. Kami juga menyiapkan bahan bakar solar untuk diberikan kepada pihak pengelola listrik kampung agar listrik bisa menyala selama pemutaran film kami dilakukan. Pukul 7 malam kami memulai kegiatan kami. Dari Manokwari kami sudah menyiapkan 2 buah video tentang ancaman yang dihadapi penyu dan makanan penyu. Terdapat pesan-pesan konservasi yang kami selipkan dalam video singkat tersebut, misalnya tidak membuang sampah plastik ke laut karena ada penyu yang menyangka sampah plastik itu mirip seperti makanannya. Setelah pemutaran video kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terhadap informasi yang ada di dalam video. Kami menyediakan hadiah seperti sembako dan makanan ringan bagi peserta yang bisa menjawab. Pengalaman ini luar biasa sekali karena mereka dengan mudah mengerti apa maksud dan pesan dari video yang kami putarkan.

Walaupun selama kurang lebih 3 hari pada siang hari kami tidak mendapatkan jaringan telepon, internet dan listrik yang terbatas, tetapi kami selalu melakukan banyak aktivitas seperti memasak untuk konsumsi semua tim dan membantu tim monev Pemberdayaan Masyarakat untuk melakukan pengolahan minyak kelapa. Kami mengolah 300 butir kelapa menjadi 22 liter minyak kelapa untuk dikonsumsi. Kegiatan yang lumayan melelahkan namun sangat mengasyikan karena kami dapat melihat langsung pengolahan minyak kelapa di kampung ini.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/menonton-bareng-film-bertemakan-pelestarian-lingkungan-di-distrik-tobouw-kabupaten-tambrauw” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/menonton-bareng-film-bertemakan-pelestarian-lingkungan-di-distrik-tobouw-kabupaten-tambrauw” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/menonton-bareng-film-bertemakan-pelestarian-lingkungan-di-distrik-tobouw-kabupaten-tambrauw” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya