
Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut
Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua
Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu
Penulis
Meilani Ravenska
Tanggal
12 Juli 2025
Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.
Langit tampak bersahabat, tak memunculkan cahaya pekatnya kala bertandang ke suatu tempat yang bagiku tak pernah masuk dalam list tuk dipijaki. Kampung Resye-Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Inilah nama tempat baru yang kupijak, sebuah tempat tanpa jaringan internet, tak tampak tiang listrik, serta kendaraan. Disinilah cerita baru dan jejak kenangan terukir sebagai seorang Pendamping Masyarakat (PM).
Baca juga : Jackson: Menjaga Jejak Penyu di Pantai Wembrak
Rabu, 26 Maret 2025 dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIT. Di atas kapal KM Sabuk Nusantara 112 yang mengantarkanku tiba di kampung ini, saya berdiri di bentangan luas megah yang menyamankan mata, dengan lautan biru menyejukkan sanubari yang terbentang luas menyapa membentuk samudera, beserta hamparan hutan yang menyimpan misteri kekayaannya. Dari kejauhan, saya menatap kampung yang tepat berada di depan.
Setibanya kapal berlabuh, saya beserta tim lainnya pun hendak turun dari kapal. Oh iya, jangan membayangkan kami turun langsung menginjakkan kaki di dermaga, tentu saja tak seperti itu. Sebuah perahu dari kampung menjemput kami dan itu artinya kapal berada jauh lepas pantai. Hmmmm, pemandangan baru dan menjadi satu bagian menarik bagiku karena belum pernah seperti itu sebelumnya.
Setibanya di daratan Kampung Resye, tak jauh dari posisi kami berdiri setelah turun dari perahu, tampak beberapa anak-anak dari Rumah Belajar sedang menanti kedatangan kami dan membantu mengangkat barang-barang dari perahu. Worwer dan Celine, dua nama pertama yang saya dengar dan ingat kala Putri, salah seorang tim monev (monitoring evaluasi) menyapa mereka.
Melihat mereka dengan karakter yang berbeda, tanpa berbekal pengalaman mengajar dan pemberdayaan yang minim, saya pun agak wanti-wanti dan diserbu pertanyaan dalam pikiran, “Mengajar? Benarkah ini? Bukankah ini hal yang tak pernah ingin saya lakukan?”. Ok, saya berusaha meredam suara-suara rumit itu dan menenangkan diri sembari beberes Rumah Belajar bersama teman-teman lain yang tampak berantakan karena telah ditinggalkan begitu lama.
Beberapa hari kemudian, pada pagi yang tenang kala fajar perlahan muncul di ufuk timur memancarkan sinarnya yang lembut ke seluruh penjuru kampung disertai alunan ombak, perlahan saya mengangkat tubuh mungil saya dari perasaan rumit yang menghampiri sembari berkata dalam hati, “Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” ujar saya kala masih menerka-nerka, apakah benar ini pilihan tepat yang saya pilih?
Duduk bersama warga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Kebersamaan bersama anak-anak pada sore hari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Saya pun keluar menghampiri dunia yang tenang, tak begitu riuh bak di kota sembari mengecap aroma kampung yang teduh dan membiarkan angin sejuk menyapa wajah saya. Saya pun melihat ke sekeliling, mengamati aktivitas pagi di tempat ini. Tampak bagi saya, seorang mama (panggilan akrab dalam dialek Papua Melayu untuk wanita Papua usia paruh baya) yang sedang menyapu hamparan dedaunan kering pada halaman rumahnya, beberapa mama dan bapa yang lalu lalang hendak pergi ke kebun, dan anak-anak yang telah berada di sekitar pantai untuk bermain dan berenang. Waaahhh, pemandangan yang begitu berbeda sekali dengan perkotaan.
Seusai pemandangan teduh pagi hari, saya tiba pada sore yang begitu riuh. Tampak masyarakat yang bermain bola voli dan sepakbola berteman cahaya keemasan yang tersipu malu hendak pergi. Aaahhh, saya menikmati pemandangan tersebut sembari mencerca tiap adegan yang saya lihat, riuh yang bisa saya terima seolah saya berada pada masa kecil kembali, yang dipenuhi dengan permainan di luar ruangan seperti itu.
Kini langkah saya terhenti di pinggiran pantai yang disertai lantunan ombak yang menggulung imaji, bak musik yang memecahkan lamunanku. Deburan ombak, desiran angin, dan mentari kian membumi membiaskan siluetnya yang tak sia-sia mengesun rona jingga, menyuguhkan keteduhan pinggir pantai. Saya pun menerima ketenangan yang ditawarinya, keheningan yang menggandeng saya berbicara pada diri sendiri. Bebas, benar-benar bebas tanpa drama yang saling beradu. Pikir saya semuanya tampak membaik sejauh ini, saya hanya perlu keluar dari zona nyaman dan cerita dari rumah yang berbeda. “Bukankah hal seperti ini yang kamu inginkan, Mei?”, ujar pikir saya. Gelap di langit pun jadi pertanda cahaya mulai redup dan riuh pun ikut serta membumi. Dengan hati yang penuh syukur pada pemandangan di sekitarku, saya pun melangkah pergi kembali ke Rumah Belajar.
Senin, 31 Maret 2025. Hari bersejarah bagi saya, hahaha. Ini kali pertama pengalaman saya dalam hal mengajar, bahkan tak pernah ada dalam benak saya hal ini akan terjadi. Saya tak pernah suka dipanggil dengan kata “guru”, sebab bagi saya itu sebuah kata yang terlalu sulit dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Tampak terlihat oleh saya rak telur yang kosong, sehingga saya pun mulai menghitung apa bisa sebanyak 26 abjad? Dan ya, ternyata jumlah telurnya bisa sebanyak 26. Lekas saya ambil kertas dan mengguntingnya dengan pola telur, lalu menulis abjad A-Z dan menempelkannya pada rak telur. Setelah itu, saya membuat abjad lagi pada kertas memo berwarna dan berpola hati yang ditempelkan dengan lidi pada masing-masing huruf untuk ditancapkan pada rak telur yang khusus berhuruf vokal.
Hari pertama KBM di Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Rumah belajar Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Baiklah, rasanya seperti ini ya mengajar dengan beban terdapat anak yang belum bisa membaca ditambah lagi harus berkeliling kampung untuk mencari anak-anak supaya bisa belajar. Tetapi, akhirnya saya bisa melakukan hal ini dan saya rasa tidak terlalu buruk untuk percobaan pertama dalam hal mengajar. Saya pun semakin menikmati hal ini hari demi hari dan sepertinya saya mulai terbiasa dengan rutinitas itu.
Akhirnya, tantangan mengajar pun bisa saya lewati secara perlahan-lahan, walau bagi saya itu berat. Antusias dan semangat yang mereka miliki untuk belajar menjadi alasan saya bertahan. Wajah anak-anak yang sedang merajut asa dan senang belajar, walau harus dibatasi oleh keikutsertaan mereka ke kebun membantu orang tuanya, bahkan harus menimang adiknya. Mereka seolah tak punya waktu belajar di rumah, terlihat lebih sering menimang dibanding ditimang, tetapi itulah realita yang dihadapi tepat di depan saya. Saya pun sadar itulah peran kami di sini, di tempat dengan situasi seperti yang saya hadapi dan ternyata selama ini arti cukup itu terlalu sempit bagi saya. Ini merupakan petualangan bagi saya yang tak pernah saya jumpai sebelumnya.
Perjalanan mengajar memang penuh tantangan, tapi petualangan saya belum usai sampai di situ. Di bagian berikutnya, saya akan berbagi pengalaman lain yang tak kalah seru dan bermakna bersama warga kampung. Simak ceritanya di sini.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
