Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Januari 2026

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Misool, yang mencakup bagian selatan dari Raja Ampat, adalah salah satu kawasan konservasi laut paling luas di Raja Ampat, dengan luas sekitar 348.518,74 hektare (sumber: SK Penetapan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2021). Ekosistem di Kepulauan Misool secara ekologis sangat kaya. Raja Ampat secara keseluruhan dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Dari total spesies karang keras dunia, sekitar 75% berada di wilayah Raja Ampat. Keanekaragaman ini mencakup tidak hanya karang dan ikan terumbu, tapi juga moluska, karang lunak, serta fauna besar seperti penyu, manta, dan ikan besar.

Transek Terumbu Karang
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Secara geografis, bentuk pulau dan perairan di Kepulauan Misool mendukung struktur habitat yang kompleks; terumbu di perairan dangkal, beberapa lokasi dengan topografi lereng, laguna yang terlindungi, kawasan karst dan gua laut, bahkan danau-laut (marine lakes) di daratan semu-terisolasi. Contoh unik: Danau Lenmakana, Balbullol, Lenkafal, Keramat, dan Kawarapop, sebuah danau laut di Kepulauan Misool ini menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya kaya laut, tapi juga punya fitur geografis yang khas. Oleh karena itu, kawasan Kepulauan Misool bukan hanya dikenal sebagai “tempat menyelam yang indah”, tetapi dari sudut ilmiah dan konservasi sebagai “laboratorium alam”: perairan yang kompleks dengan biodiversitas yang sangat tinggi, namun juga sensitif terhadap tekanan lingkungan maupun manusia.

Dengan latar belakang di atas, tim monitoring LPPM UNIPA bersama BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat sebagai pengelola kawasan, serta beberapa tenaga ahli dari berbagai instansi, kembali ke Kepulauan Misool setelah tiga tahun untuk melakukan pemantauan kembali kondisi karang, ikan, dan lingkungannya. Berikut adalah ringkasan temuan dari 19-23 November 2025 selama 5 hari penyelaman di Kepulauan Misool.

Keragaman Spesies yang Tinggi dan Habitat yang Masih Terjaga.

  • Di beberapa titik, kami mendapati hewan ukuran besar seperti bumphead, napoleon, penyu, hingga pari manta dan keberadaan schooling ikan karang. Hal ini menunjukkan bahwa struktur habitat masih mampu menopang fauna besar.
  • Struktur terumbu, termasuk koloni karang besar dan area dengan tutupan karang yang relatif rapat masih tampak, terutama di beberapa zona dangkal dan curam.
  • Keberadaan kima besar dan adanya indikasi regenerasi (juvenile fish, rekrutmen karang) menunjukkan bahwa proses ekologis dasar masih berjalan; reproduksi, pertumbuhan dan juga keanekaragaman masih terjaga.

Ini semua menunjukkan bahwa sebagian dari Kepulauan Misool masih memiliki kondisi cukup ideal, sesuai dengan karakter wilayah ini sebagai kawasan laut dengan biodiversitas tinggi.

Pari Manta
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Namun ada Sinyal yang Membutuhkan Perhatian.

  • Di beberapa lokasi, terlihat banyak rubble (patahan karang) menunjukkan bahwa ada daerah dengan beban kerusakan, entah dari alam maupun jejak tekanan manusia di masa lalu.
  • Kekeruhan air dan sedimentasi di beberapa titik menghasilkan visibilitas rendah. Hal ini menyulitkan pengamatan, sekaligus bisa menjadi indikator gangguan lingkungan seperti peningkatan sedimen atau gangguan arus.
  • Beberapa lokasi menunjukan tanda terjadinya stres pada komunitas karang, indikator utama adalah dominasi alga akibat suplai sedimen berlebih. Hal ini memberi isyarat bahwa kehidupan lingkungan ini sedang bekerja untuk bertahan.

Membaca Dua Sisi-Antara Harapan dan Realita.

Meskipun dinamika ekosistem selalu berubah, banyak bagian terumbu di kawasan Kepulauan Misool masih menunjukkan ciri-ciri proses ekologis yang berfungsi, seperti pertumbuhan karang baru dan keragaman spesies yang tinggi. Namun, tekanan dan kerusakan di titik-titik tertentu juga menunjukkan bahwa kawasan ini tetap rentan. Hanya karena sebagian besar bagus, bukan berarti keseluruhan aman. Variabilitas spasial dan kondisi lokal bisa berbeda tajam di antara titik satu dengan titik lainnya.

Bagi konservasi, ini berarti dua hal penting:

  1. Monitoring rutin mutlak diperlukan agar perubahan, baik positif maupun negatif, bisa terdeteksi sejak dini.
  2. Intervensi serta pengelolaan yang cermat, baik terhadap aktivitas manusia maupun dampak lingkungan harus diiringi dengan kesadaran bahwa tidak semua habitat bisa dianggap sama kuat.

Secara keseluruhan, Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Misool tetap menunjukkan ketangguhan alamnya, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan seindah ini tetap perlu dijaga dengan serius.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Pari Manta dan Ancaman di Jalur Migrasi Raja Ampat

Pari Manta dan Ancaman di Jalur Migrasi Raja Ampat

Penulis

Jane Lense

Tanggal

17 September 2025

Raja Ampat dikenal dunia sebagai wilayah dengan keindahan laut yang sulit ditandingi dan kekayaan hayati yang luar biasa. Gugusan pulau dan perairannya menjadi habitat bagi ribuan spesies, mulai dari terumbu karang yang bervariasi hingga megafauna seperti pari manta dan penyu. Salah satu kawasan ikoniknya adalah Kepulauan Wayag di Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Waigeo Sebelah Barat yang tersohor berkat tebing karst menjulang dan laut biru jernih. Namun, di balik pesonanya, perairan Wayag menyimpan kisah penting tentang keberlangsungan hidup megafauna laut yang kini terus menghadapi ancaman.

Pada Juni 2025, Tim Monitoring Ekologi Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua bersama BLUD UPTD Raja Ampat dan para mitra yaitu: Loka PSPL Sorong, BKKPN Kupang Satker Raja Ampat, BBTN Teluk Cenderawasih, Dinas P2KP Papua Barat Daya, Yayasan Konservasi Indonesia dan warga lokal di Raja Ampat melakukan pemantauan kesehatan karang di Waigeo. Hasil visual memperlihatkan kondisi bervariasi, sebagian membaik, sebagian terdampak. Namun, momen paling berkesan terjadi ketika tim menjumpai pari manta di perairan Kepulauan Waigeo Sebelah Barat. Beberapa ekor pari manta melayang anggun mengikuti arus, tubuh raksasanya tampak tenang di dalam air, seolah bergerak tanpa usaha. Panjang tubuhnya melebihi 3 meter dengan bentangan sayap hampir dua kali tinggi manusia dewasa. Gerakannya lambat, seperti tarian di dalam air. Pola hitam putih di punggungnya pun unik, layaknya sidik jari alami yang menjadi penanda tiap individu. Meski berukuran raksasa, pari manta adalah ikan jinak tanpa sengat seperti kerabat pari lainnya, hanya kalah besar dari sesama raksasa laut, Hiu Paus (Rhincodon typus).

Tiga ekor pari manta sedang “perawatan” di cleaning station Eagle Rock
(Foto : UPTD BLUD Raja Ampat/Imanuel Mofu)

Pari manta, salah satu megafauna laut Indonesia yang dilindungi, terdiri atas tiga spesies, dua di antaranya masih dapat ditemukan di perairan Indonesia. Salah satu spesies, pari manta hynei (Mobula hynei), telah dianggap punah. Dua spesies yang tersisa adalah pari manta oseanik (Mobula birostris) dan pari manta karang (Mobula alfredi). Namun, keduanya kini resmi berstatus genting atau terancam punah (endangered species) menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) sejak 2022, karena populasinya terus menurun akibat berbagai faktor ancaman.

Raja Ampat menjadi rumah bagi pari manta di sejumlah lokasi yang dikenal sebagai cleaning station. Pulau Uranie, Pulau Bag, Eagle Rock, dan titik-titik lain menjadi titik perhentian penting bagi spesies ini. Pada penelitian Conservation International, McCoy (2024: Spatial connectivity of reef manta rays across the Raja Ampat archipelago, Indonesia. R. Soc. Open Sci.11230895) mengungkap adanya jalur migrasi yang menghubungkan lokasi-lokasi tersebut, membentuk manta superhighway. Ibarat jalan tol di darat, jalur ini menghubungkan berbagai titik penting di laut yang dilalui pari manta dalam perjalanannya. Di sepanjang “jalan tol” laut ini, terdapat lokasi khusus yang disebut cleaning station–semacam “rest area” alami yang memungkinkan pari manta beristirahat, membersihkan diri dengan bantuan ikan-ikan kecil, bersosialisasi, sekaligus bertemu populasi lain.

Kemunculan pari manta di permukaan di perairan Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Kemunculan pari manta di permukaan di perairan Wayag
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Namun, ancaman nyata mengintai ekosistem ini. “Rumah” pari manta di Kepulauan Wayag berdekatan dengan Pulau Kawe yang memiliki aktivitas tambang nikel, membawa risiko besar. Sedimentasi dari limpasan hujan di area tambang berpotensi mengubur terumbu karang, merusak fungsi cleaning station, serta mengganggu ketersediaan makanan pari manta. Kehilangan satu titik penting seperti Eagle Rock dapat memutus rantai migrasi, memengaruhi perilaku makan, dan menurunkan populasi pari manta di Raja Ampat. Ironisnya, Eagle Rock berada di luar kawasan konservasi laut resmi, sehingga tidak mendapatkan perlindungan penuh dari ancaman tersebut.

Kehadiran pari manta yang melintas anggun di wilayah ini, bersamaan dengan temuan visual terkait ancaman ekosistem seperti sedimentasi, menjadi pengingat bagi kami bahwa upaya perlindungan laut harus mencakup seluruh fungsi habitat—bukan sekadar menjaga terumbu karang atau membatasi aktivitas penangkapan ikan. Perlindungan juga berarti memahami keterkaitan antar spesies, jalur migrasi, dan titik-titik penting yang mungkin berada di luar kawasan konservasi resmi. Menjaga kesehatan ekosistem laut mutlak diperlukan. Pari manta tidak akan datang ke perairan yang tercemar atau rusak. Mereka membutuhkan laut yang sehat, sebagaimana manusia membutuhkan udara bersih.

Seekor pari manta sedang berenang dengan tenang dan anggun
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang melintas di perairan Raja Ampat adalah simbol laut yang sehat. Setiap gerak sayapnya mengingatkan kita bahwa melindungi mereka berarti menjaga keseimbangan ekosistem, yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk. Superhighway atau jalur laut para manta harus tetap aman, agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan makhluk ini “melayang” bebas di birunya laut Raja Ampat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template Uncategorized @id

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Penulis

Habema Monim

Tanggal

16 September 2025

Apa yang terbersit di pikiran Anda jika ditawari mengunjungi salah satu tempat paling eksotis di dunia, yaitu Wayag? Tempat yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata impian bagi banyak orang ini berada di Raja Ampat, Papua. Wayag memiliki keunikan yang jika berada di puncaknya mata kita akan disuguhi batu karst ikonik berbentuk seperti jamur yang menjulang dari dalam air berwarna biru nan indah. Pemandangan ini tentu sering muncul pada promosi-promosi wisata dan berbagai media sosial.

Bagi para penyelam, Wayag tidak hanya menawarkan keindahan pulau-pulaunya, tetapi juga keindahan bawah laut yang tak tertandingi. Laut Wayag menawarkan berjuta keindahan yang akan selalu dikenang para penyelam. Karang berwarna khas tumbuh di tepian dasar perairan yang berbentuk dinding atau wall akibat dari kejernihan air dan juga cahaya matahari yang menembus langsung ke dasar perairan. Keunikan ini membuat banyak hewan langka mudah dijumpai, seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobbegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, lumba-lumba, pari manta, hingga berbagai jenis ikan yang berenang bergerombol (schooling).

Penyu sisik di salah satu titik penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang sedang mencari makan tetapi terdapat banyak sampah yang hanyut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Pada perjalanan monitoring kali ini, kami mengunjungi Wayag dan sekitarnya selama 4 hari, dari tanggal 6 hingga 9 Juni 2025. Banyak hal menarik yang kami jumpai, tidak hanya di permukaan perairan tetapi juga saat penyelaman. Schooling ikan selalu terlihat, begitu pula hewan khas seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, dan pari manta. Kehadiran hewan-hewan ini bukan kebetulan, melainkan didukung oleh pantauan visual langsung kami bahwa kondisi karangnya masih terjaga dengan baik.

Baca juga : Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Akan tetapi, akhir-akhir ini Raja Ampat mendapat perhatian khusus dari penjuru negeri hingga mancanegara akibat pertambangan yang sedang beroperasi. Bagaimana tidak, sebagai jantung keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, tambang membuat semua mata menaruh perhatian akan keindahan serta keunikan yang sedang mengalami ancaman nyata. Perjalanan monitoring kami yang semula nyaman dengan temuan menarik berubah mencekam karena keberadaan tambang dan ulah manusia yang tidak peduli lingkungan, terbukti dengan ditemukannya sampah hanyut di permukaan perairan

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorog/Prehadi)

Beberapa spot penyelaman favorit dunia sekaligus titik pengamatan kesehatan karang berada berdekatan dengan salah satu pulau pusat pertambangan. Ancaman ini memang belum terlihat jelas, tetapi dari pola arus yang ada diperkirakan akan berdampak langsung dalam waktu yang tidak lama. Tidak hanya ancaman dari aktivitas pertambangan, wilayah yang merupakan lokasi pari manta mencari makan (feeding) dan membersihkan diri dari ikan-ikan kecil dari parasit atau kotoran di tubuhnya (cleaning) ini pun mengalami ancaman berupa sampah plastik yang banyak ditemukan mengapung di permukaan perairan. Mirisnya, sampah-sampah tersebut hanyut bersamaan dengan aktivitas pari manta dan penyu yang sedang mencari makan

Salah satu titik pengamatan kondisi kesehatan karang dengan latar lokasi tambang nikel di Pulau Kawe, Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Siput Drupella diatas karang yang telah mati dan tutupi alga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain bekerja, Vio juga senang menikmati suasana alam di pantai peneluran. Keindahan sunset dan sunrise adalah waktu favoritnya, di mana langit berwarna jingga dan pepohonan bertemu pantai serta laut, menciptakan landscape yang menakjubkan.

Selain ancaman nyata di permukaan perairan, ekosistem di dasar perairan juga terancam, terutama adalah temuan karang yang memutih serta banyaknya siput Drupella. Temuan ini dapat menyebabkan kematian karang sehingga fungsi dari ekosistem terumbu karang menurun atau bahkan dapat hilang hingga hewan yang harusnya berasosiasi di terumbu karang juga pun ikut hilang

Dari temuan menarik dan ancaman yang mulai terlihat ini, kita harus memilih: apakah Wayag di masa depan tetap menampilkan keunikan dan keindahan ekosistemnya ataukah hanya menjadi cerita belaka. “Keputusan kita saat ini menentukan masa depan alam kita”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Kekayaan Alam Raja Ampat: Temuan Selama Monitoring Ekosistem Laut di Ayau dan Asia

Kekayaan Alam Raja Ampat: Temuan Selama Monitoring Ekosistem Laut di Ayau dan Asia

Penulis

Jane Lense

Tanggal

11 Juli 2025

Kawasan Konservasi Perairan Ayau dan Asia, yang terletak di jantung Raja Ampat, Papua Barat, merupakan rumah bagi salah satu sistem atol terbesar di Indonesia. Wilayah ini menyimpan kekayaan ekosistem laut yang luar biasa, mulai dari spesies laut karismatik, habitat penting bagi pertumbuhan ikan-ikan muda (Nursery ground), hingga terumbu karang yang menjadi fondasi kehidupan bawah laut. Keanekaragaman hayati dan produktivitas ekosistemnya menjadikan Ayau dan Asia sebagai kawasan konservasi yang sangat bernilai, baik secara ekologis maupun ekonomis.

Pada tanggal 2-3 Juni 2025, tim Reef Health Monitoring melakukan survei ekologi selama dua hari di kawasan ini. Tim ini terdiri dari 13 orang yang berasal dari berbagai instansi, yaitu Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Papua (LPPM UNIPA), Unit Pelaksana Teknis Daerah Badan Layanan Umum Daerah Raja Ampat (UPTD BLUD Raja Ampat), Konservasi Indonesia (KI), Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Sorong (Loka PSPL Sorong), Balai Kawasan Pelestarian Pesisir dan Laut Kupang Satker Raja Ampat (BKPPN Kupang Satker Raja Ampat), Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Papua Barat Daya (DP2KP Papua Barat Daya), dan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih (BBTNTC). Kegiatan Reef Health Monitoring (RHM) ini didanai dan disponsori oleh Blue Abadi Fund. Hasil pemantauan memperlihatkan dua sisi yang kontras: di satu sisi, keajaiban alam yang memesona; di sisi lain, ancaman ekologis yang mulai muncul. Keindahan kawasan ini tercermin dari temuan berbagai spesies karismatik seperti Napoleon wrasse (Cheilinus undulatus) yang terpantau hampir di setiap lokasi pengamatan, dengan ukuran bervariasi antara 28-80 cm. Beberapa area bahkan diidentifikasi sebagai tempat tumbuh kembangnya spesies ini. Tak kalah menarik, tim juga mencatat kehadiran Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) sebanyak empat ekor, serta Penyu hijau (Chelonia mydas) yang berenang bebas di perairan dangkal berkarang.

Ikan-ikan muda (Nursery ground)
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Ikan napoleon (Cheilinus undulatus)
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Lebih jauh, ekosistem laut Ayau dan Asia juga menunjukkan produktivitas tinggi dengan ditemukannya populasi kerapu muda berukuran 10-20 cm serta schooling kakap (Lutjanus gibbus) yang jumlahnya hingga mencapai 1.000 ekor. Beberapa spesies ikan lain seperti kakap (Lutjanus kasmira) dan ikan kulit pasir (Acanthuridae/Naso hexacanthus) turut menghiasi perairan. Tidak hanya itu, kehadiran predator puncak seperti whitetip reef shark (Triaenodon obesus), blacktip shark (Carcharhinus melanopterus), grey reef shark (Carcharhinus amblyrhynchos), pari (stingray) dan barakuda (Actinopterygii) menandakan bahwa rantai makanan laut di kawasan ini masih berjalan dengan baik. Lingkungan perairan yang bersih, jarak pandang yang sangat baik, serta terumbu karang sehat di beberapa titik menjadi bukti betapa pentingnya kawasan ini sebagai habitat alami berbagai biota laut.

Schooling ikan kakap (Lutjanus gibbus)
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Blacktip shark (Carcharhinus melanopterus)
(Foto : BLUD KKP Raja Ampat/Imanuel)

Namun di balik keindahan tersebut, tim juga mencatat sejumlah tantangan ekologis yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu ancaman utama adalah ledakan populasi Siput drupella yang berpotensi merusak jaringan karang hidup dan memperlambat pertumbuhannya. Selain itu, dominasi alga Halimeda serta sedimentasi yang menutupi permukaan karang juga menjadi faktor penghambat pertumbuhan terumbu karang. Beberapa lokasi bahkan menunjukkan karang yang patah (rubble) akibat gelombang besar, serta adanya indikasi awal pemutihan karang (coral bleaching), khususnya di perairan dangkal yang terpapar ombak tinggi.

Di tengah upaya monitoring ini, tim juga menghadapi tantangan lapangan yang tidak ringan. Saat hendak melanjutkan pengambilan data ke titik di Pulau Fani, salah satu pulau luar yang berada di sisi utara kawasan konservasi, tim harus membatalkan perjalanan karena kondisi cuaca yang memburuk secara tiba-tiba. Pulau Fani sendiri terletak di bagian paling utara dari Kepulauan Ayau-Asia, menghadap langsung ke Samudra Pasifik dan jauh dari pemukiman utama. Posisi geografisnya yang terbuka dan terpapar langsung angin timur membuat wilayah ini sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem, terutama saat musim angin timur sedang berlangsung.

Alga halimeda
(Foto : Puspita)

Karang keras yang mulai memutih
(Foto : BLUD KKP Raja Ampat/Imanuel)

Pada saat tim bersiap berlayar dari Ayau Besar menuju Pulau Fani, hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan perairan. Setelah berdiskusi dengan kapten kapal, cruise leader kapal EcoExplorer, serta warga lokal dari Ayau, diputuskan untuk tidak melanjutkan pelayaran demi keselamatan seluruh tim. Keputusan ini menggambarkan pentingnya mempertimbangkan faktor keselamatan dalam setiap kegiatan lapangan, terutama di kawasan perairan yang terbuka dan jauh dari perlindungan geografis.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Kawasan Konservasi Ayau dan Asia masih sangat kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi kawasan ini tetap bisa mengalami tekanan dari lingkungan. Karena itu, penting untuk terus memantau kondisi laut, menyesuaikan cara pengelolaannya, dan melibatkan masyarakat sekitar. Konservasi laut bukan hanya soal melindungi, tapi juga memahami kondisi alam, menghadapi tantangan, dan merawat laut bersama-sama agar tetap terjaga untuk generasi mendatang. Mari kita jaga bersama kekayaan alam Raja Ampat—surga bawah laut yang luar biasa dan sangat berharga.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Dua Belas Hari di Laut: Ekspedisi RHM 2025 di Kaimana dan Fakfak

Dua Belas Hari di Laut: Ekspedisi RHM 2025 di Kaimana dan Fakfak

Penulis

Abigail Lang & Habema Monim

Tanggal

04 Maret 2025

Langit masih gelap ketika tim Reef Health Monitoring (RHM) berkumpul di Bandara Rendani, Manokwari dan Bandara DEO Sorong, pada pagi 24 dan 25 Januari 2025. Perjalanan panjang menanti, dimulai dari Manokwari menuju Sorong untuk persiapan sebelum berangkat ke Kaimana melakukan pelatihan dan juga monitoring di Perairan Kaimana dan Fak-Fak. Kegiatan RHM ini merupakan kegiatan dari USAID (United States Agency for International Development) bekerjasama dengan BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kaimana. Dalam kegiatan ini melibatkan beberapa institusi dan organisasi/lembaga swadaya masyarakat seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat, Konservasi Indonesia (KI), Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Raja Ampat, Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kaimana Fak-Fak, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Laut (LPSPL) Sorong, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC), Sinara Kaimana, Lokal Kaimana dan Lokal Fak-Fak. Tiga perwakilan dari Universitas Papua (UNIPA)—Habema Monim, Bernadus Duwit, dan Jane Lense—bersama 19 anggota siap menjalani ekspedisi yang akan membawa mereka lebih dekat dengan kehidupan bawah laut yang luar biasa.

Persiapan dan Pelatihan di Sorong dan Kaimana

Pada 26 Januari 2025, tim berkumpul dan melakukan pelatihan di Kaimana. Para ahli dan juga peserta lokal, menyimak dengan serius penjelasan tentang metodologi pengambilan data karang, ikan, dan megabentos serta parameter air. Akurasi adalah segalanya dalam monitoring ini — satu kesalahan kecil dalam pencatatan bisa mempengaruhi keseluruhan analisis. Diskusi hangat terjadi saat metode baru dalam pengambilan data diperkenalkan, termasuk beberapa perubahan dalam teknik pengamatan.

Setelah pelatihan, tim bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Pada 30 Januari 2025, mereka akhirnya naik kapal dan mulai berlayar menuju titik-titik pemantauan di perairan Kaimana dan Fak-Fak.

Presentasi tentang metodologi pengambilan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim dari berbagai instansi/LSM mengikuti pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Dua Belas Hari di Laut: Mengungkap Rahasia Karang dan Ikan

Kapal yang menjadi rumah sementara bagi 21 orang ini terombang-ambing lembut di permukaan laut biru. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing yang dibagi ke dalam 2 tim yang masing-masing tim fokus pada pengamatan kondisi karang, kondisi ikan karang, karang yang memutih, karang yang dilindungi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), megabentos dan kualitas perairan.

Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang sama namun penuh kejutan. Setiap jam 7 pagi, para penyelam mengenakan perlengkapan mereka, memeriksa alat, dan turun ke bawah laut untuk mengumpulkan data. Di satu titik penyelaman, mereka menggelar transek sepanjang 250 meter untuk pemantauan karang dan juga ikan karang. Salah satu momen paling menakjubkan adalah ketika mereka menemukan schooling ikan dari berbagai jenis sepanjang 250 meter, pemandangan yang jarang ditemui dalam monitoring sebelumnya.

Tim berdiskusi setelah monitoring & membagi tugas tanggung jawab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Salah satu tim yang bersiap di atas perahu untuk turun monitoring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Selain itu, koordinasi dengan masyarakat lokal menjadi aspek penting dalam ekspedisi ini. Para nelayan dan penyelam tradisional berbagi cerita tentang perubahan ekosistem yang mereka amati selama bertahun-tahun. Pertukaran pengetahuan ini memberi perspektif baru bagi tim dalam memahami fenomena kondisi terumbu karang di wilayah tersebut yang terus mengalami perubahan.

Namun, tidak semua berjalan mulus. Cuaca tak bersahabat selama monitoring memaksa tim harus menghentikan penyelaman selama 3 hari. Ombak tinggi membuat kondisi terlalu berbahaya untuk turun ke dalam air, dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Akibatnya, tidak semua titik monitoring bisa dijangkau untuk menyelam.

Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan

Pada akhir ekspedisi, tim berkumpul di dek kapal, berbagi kesan dan hasil sementara dari penelitian mereka. Meskipun tantangan cuaca menghadang, data yang terkumpul tetap berharga untuk memahami kondisi ekosistem terumbu karang di Kaimana dan Fak-Fak.

Habema menjadi Rollman
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Salah satu keindahan karang di perairan Fak-Fak
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Ketika kapal akhirnya kembali ke daratan, setiap anggota tim membawa lebih dari sekadar catatan dan foto bawah laut. Mereka membawa pengalaman, pembelajaran, dan tekad untuk terus menjaga laut agar tetap sehat bagi generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Berkunjung melihat prosesi Buka Sasi di Kampung Menarbu

Berkunjung melihat prosesi Buka Sasi di Kampung Menarbu

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/berkunjung-melihat-prosesi-buka-sasi-di-kampung-menarbu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/berkunjung-melihat-prosesi-buka-sasi-di-kampung-menarbu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/berkunjung-melihat-prosesi-buka-sasi-di-kampung-menarbu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

18 Oktober 2023

Penulis

Yusup Jentewo & Habema Monim

Tanggal

18 Oktober 2023

Penulis

Yusup Jentewo & Habema Monim

Kampung Menarbu merupakan salah satu kampung di Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama. Kampung ini terkenal sebagai kampung sasi di Teluk Wondama karena memiliki budaya  tradisional, yaitu sasi yang dipertahankan sampai hari ini. Sasi di kampung Menarbu dikenal dengan nama lokal yaitu kadup, didefinisikan sebagai menutup sebagian wilayahnya dari pemanfaatan masyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Bentuk pengelolaan sasi di masyarakat adat Papua umumnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama, seperti sasi adat, sasi gereja, sasi pemuda dan lainnya. Mereka memilih ekosistem atau organisme yang akan di sasi sesuai dengan isu yang terdapat di lokasi mereka. Kampung Menarbu sendiri memilih bentuk pengelolaan sasi adat yang didukung oleh gereja, sedangkan yang di sasi adalah ekosistem laut dangkal sampai mendekati laut dalam dengan organisme yang memiliki nilai ekonomis penting seperti teripang, bia lola, ikan karang, lobster dan lainnya.

Dua anak perempuan sehabis menari di buka sasi
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Tim program sains untuk konservasi LPPM Universitas Papua berkesempatan berkunjung ke kampung Menarbu untuk mengikuti kegiatan buka sasi. Buka sasi di Kampung Menarbu dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 8 September 2023, sasi akan dibuka selama dua bulan. Sebelumnya Sasi di kampung Menarbu telah ditutup selama empat tahun, yaitu sejak tahun 2019. Setelah membantu pendataan wilayah sasi bersama kelompok Wadowun Beberin di kampung Aisandami, tim program sains untuk konservasi yang diwakili Yusup Jentewo dan Habema Monim berkesempatan untuk mengunjungi buka sasi di kampung Menarbu. Yusup sebenarnya sudah cukup banyak mengenal masyarakat dan kelompok di Menarbu dari pekerjaan sebelumnya dan senang dapat berkunjung kembali di kampung ini.

Foto Jembatan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kampung Menarbu melalui pengelola sasinya tahun ini berkesempatan mendapat bantuan pendanaan kegiatan konservasi dari Blue Abadi Fund (BAF) dalam kategori small grant. Sumber pendanaan yang sama seperti yang didapatkan Program Sains untuk Konservasi sejak tahun 2017. Sesama penerima grant konservasi laut, tentu saja Program Sains untuk Konservasi dan Pengelola Sasi kampung Menarbu dapat saling mendukung. Sebagai contoh dalam perayaan buka sasi kampung Menarbu, Program Sains untuk Konservasi bersama staf Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih membantu mendokumentasikan video perayaan buka sasi. Kegiatan buka sasi di Kampung Menarbu yang terdiri dari beberapa tahapan seperti penyambutan tamu, ibadah buka sasi di gereja, doa dan pengambilan biota di laut serta makan hasil laut bersama. Buka sasi ini juga masuk dalam salah satu agenda Festival Pulau Roon 2023 pada hari kedua.

Tim monitoring masyarakat mengambil biota Lobster untuk penyerahan
(Foto : Mulyadi/BBTNTC)

Lobster hasil buka sasi_1
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Selain membantu mendokumentasikan prosesi buka sasi di kampung Menarbu, pengelola sasi kampung Menarbu pun berencana mengundang kembali tim sains untuk konservasi LPPM UNIPA untuk mendata sumber daya laut di lokasi ini dua bulan pasca buka sasi, yakni di awal November 2023.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/berkunjung-melihat-prosesi-buka-sasi-di-kampung-menarbu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/berkunjung-melihat-prosesi-buka-sasi-di-kampung-menarbu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/berkunjung-melihat-prosesi-buka-sasi-di-kampung-menarbu” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Pengetahuan dan Konservasi : Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA membantu Kelompok di Aisandami Melihat Sumberdaya Laut Mereka

Pengetahuan dan Konservasi : Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA membantu Kelompok di Aisandami Melihat Sumberdaya Laut Mereka

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

17 Oktober 2023

Penulis

Yusup Jentewo dan Habema Monim

Tanggal

17 Oktober 2023

Penulis

Yusup Jentewo dan Habema Monim

Kampung Aisandami adalah salah satu kampung ekowisata yang ada di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Wisata yang ditawarkan di kampung ini mulai dari wisata bahari seperti snorkeling dan menyelam hingga wisata hutan seperti pemantauan burung. Masyarakat setempat merupakan pengelolanya sendiri, yang tergabung dalam Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin. Sejak tahun 2021 pemerintah kampung bersama kelompok Wadowun Beberin serta pihak gereja memberlakukan aturan sasi untuk melindungi spot wisata bahari mereka tetap terjaga sekaligus sejalan dengan kemauan pemilik hak ulayat. Aturan sasi ini menutup wilayah pulau Numamuram dan sebagian area di dalam teluk dalam kampung Aisandami (Teluk Duairi).

Kelompok Wadowun Beberin kampung Aisandami tanggal 19 Agustus 2023 meminta Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA untuk membantu mendata sumberdaya laut di wilayah sasi kampung Aisandami dan berbagi pengetahuan dengan tim monitoring masyarakat di Kampung Aisandami. Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA pun menerima permintaan tersebut. Sebelum pergi tim Program Sains untuk Konservasi mengajukan SIMAKSI (Surat ijin masuk kawasan konservasi) dan melakukan presentasi kepada Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) menjelaskan maksud dan tujuan ke Aisandami yang berada di dalam area taman nasional.

Foto bersama dengan tim monitoring masyarakat dan ketua kelompok Wadowun Beberin (kredit Kelompok Wadowun Beberin)

Foto bersama dengan tim monitoring masyarakat dan ketua kelompok Wadowun Beberin
(Foto : Kelompok Wadowun Beberin)

Tanggal 2 September 2023 tim Program Sains untuk Konservasi yang diwakili Yusup Jentewo dan Habema Monim bersama salah seorang staf dari Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) yaitu Mulyadi pergi dari Manokwari menuju Aisandami memenuhi undangan tersebut. Kegiatan di Aisandami dilaksanakan selama empat hari mulai dari 3 sampai 6 September 2023. Kegiatan berisikan sharing materi, praktek dan pendataan di lokasi yang ditentukan. Data yang diambil adalah bentuk pertumbuhan karang, inventarisasi mega benthos, serta jenis ikan ekonomis penting dan ikan ekologis penting. Selain mendampingi masyarakat dengan menggunakan metode time swimming (berenang) untuk mendata, tim juga mendata dengan menyelam dengan metode line transek dan sensus visual.

Yusup bersama tim monitoring masyarakat Aisandami sedang pemanasan sebelum ke laut (kredit Tonci Somisa)

Yusup bersama tim monitoring masyarakat Aisandami sedang pemanasan sebelum ke laut
(Foto : Tonci Somisa)

Salah seorang tim monitoring masyarakat Aisandami sedang belajar mengambil data (kredit Yusup Jentewo)

Salah seorang tim monitoring masyarakat Aisandami sedang belajar mengambil data
(Foto : Yusup Jentewo/S4C_LPPM UNIPA)

Tim mendata di 4 titik lokasi pendataan yang terdiri dari 2 titik di Pulau Numamuram, 1 titik di dekat pulau Rupon dan 1 titik di dalam teluk Duairi. Secara umum lokasi yang dipantau menyajikan keindahan terumbu karang yang menarik, terdapat lokasi yang memang berpotensi menjadi spot wisata penyelaman dan snorkeling. Tim monitoring masyarakat yang terdiri dari lima orang masyarakat lokal yang ikut dalam kegiatan sangat senang mendapat materi dan pengalaman baru dalam kegiatan ini. Harapannya data yang diambil dapat bermanfaat bagi kelompok serta masyarakat dan tim monitoring masyarakat dapat terus menjaga wilayah sasi dan perairan Aisandami dengan semangat.

Habema sedang mengambil data dengan menyelam
(Foto : Mulyadi/BBTNTC)

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Menyusuri taman laut terbesar Indonesia: Pemantauan Kesehatan Terumbu Karang di TNTC

Menyusuri taman laut terbesar Indonesia: Pemantauan Kesehatan Terumbu Karang di TNTC

Penulis

Habema Monim dan Abigail Lang

Tanggal

21 Agustus 2023

Hampir setiap hari, penyelam berada di bawah langit biru” kata Habema Monim (akrab dipanggil Bema) salah satu staf Program Sains untuk Konservasi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Papua (LPPM UNIPA). Bulan Juli-Agustus 2023, Bema terlibat dalam kegiatan Reef Health Monitoring (RHM) yang diinisiasi oleh Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) selaku pengelola Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC). Pemantauan Kesehatan Karang (Reef Heath Monitoring, RHM) dilakukan secara periodik di Taman Nasional Cenderawasih (TNTC) yang merupakan taman nasional terbesar di Indonesia. Tujuan kegiatan ini selain untuk mendapatkan data terkini kesehatan terumbu karang yang merupakan ekosistem penting bagi ikan, juga untuk mencatat kondisi kualitas air di perairan TNTC. Jika Sobat Lestari tertarik mengenal lebih jauh mengenai RHM, Anda dapat membaca tulisan kami melalui link di bawah ini.

Persiapan sebelum trip RHM

Tentunya, untuk kegiatan pemantauan yang sangat spesifik ini, diperlukan persiapan yang matang agar seluruh data yang diharapkan dapat terkumpul dengan baik. Persiapan dimulai dari perencanaan kegiatan, koordinasi antar mitra, pertemuan akhir sebelum kegiatan lapangan, pengecekkan alat-alat yang akan digunakan, berbelanja kebutuhan tim. Ada sekitar 13 orang yang akan melakukan pengambilan data selama kegiatan RHM, diantaranya ada 1 orang dari LPPM UNIPA, 1 orang dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), 1 mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan 10 orang dari BBTNTC. Pada tanggal 17 Juli yang lalu, mereka melakukan pertemuan untuk koordinasi di kantor BBTNTC.

Suasana briefing malam hari untuk mendokumentasikan hasil monitoring serta mengatur rute penyelaman esok hari
(Foto : BBTNTC)

Kapal berlayar menyusuri pesisir TNTC

Tahun ini RHM dilakukan tanggal 28 Juli-6 Agustus 2023 di 28 titik dalam kawasan & 2 titik di luar kawasan sebagai titik kontrol. Setiap hari tim dibagi menjadi 2; dalam satu tim terdiri dari 4-5 orang penyelam dan 2 orang pendata parameter kualitas air. Tim selam mencatat tutupan bentik, spesies, ukuran dan jumlah ikan, sedangkan tim pendata parameter kualitas air mengukur 6 parameter di setiap lokasi, yaitu; Suhu, Dissolved Oxygen (DO), Salinitas, pH, Arus, dan Kecerahan. Kapal akan berlabuh pada lokasi yang dekat dengan titik penyelaman, kemudian anggota tim yang bertugas akan menggunakan speed boat menuju titik penyelaman. Tim yang bertugas untuk mengambil data mulai bekerja dari jam 7 pagi hari sampai selesai. Maksimal pengambilan data diselesaikan di sore hari. Hari yang melelahkan ditutup dengan berkumpul untuk mendokumentasikan hasil monitoring serta mengatur rute penyelaman esok hari.

Persiapan tim untuk proses entry ke perairan
(Foto : BBTNTC)

“Wah, beberapa titik ini bisa menjadi tempat wisata” ucap para penyelam setelah mereka melakukan pengambilan data RHM. Beberapa titik penyelaman memiliki keindahan alam bawah laut yang potensial untuk fun diving.

Kerja sama antara BBTNTC dan LPPM UNIPA diharapkan dapat memberikan informasi mengenai status kesehatan terumbu karang yang diperlukan untuk menilai efektivitas pelaksanaan sistem zonasi dan rencana pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

RHM penting untuk dilakukan secara berkala agar tersedia data terkini mengenai kondisi karang dan ikan. Hal ini diperlukan oleh pengelola kawasan untuk menentukan bentuk pengelolaan yang baik. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut, informasi ini penting agar masyarakat dapat mengetahui kondisi laut mereka sendiri serta dapat berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak terhadap ekosistem laut mereka.

Kondisi karang keras hidup di kedalaman 3 meter di salah satu titik penyelaman
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu penyelam yang bertugas membentang serta menggulung transek pengamatan
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Jaga alam bawah laut: Kolaborasi mitra konservasi untuk pemantauan kesehatan karang

Jaga alam bawah laut: Kolaborasi mitra konservasi untuk pemantauan kesehatan karang

Penulis

Habema Monim

Tanggal

24 Agustus 2022

Memimpin pertemuan tiap malam untuk membahas temuan monitoring dan rencana monitoring besok
(Foto : David_Econusa)

Monitoring kesehatan karang merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk melihat kondisi terkini tutupan karang dan biomassa ikan. Kegiatan ini dilakukan setiap dua tahun untuk melihat perubahan yang terjadi. Monitoring kesehatan karang kali ini sangat berbeda bagi saya karena pertama kali saya dipercayakan sebagai ketua tim untuk mengkoordinir jalannya monitoring yang menurut saya ini adalah kegiatan yang sangat besar dan punya dampak besar bagi pengelolaan perairan. Saya juga merasa sangat beruntung karena monitoring dilakukan di 3 kawasan yaitu Misool Utara, Maksegara dan Distrik Bikar -tepatnya Pulau Dua di Kampung Werur-. Sebelum pelaksanaan monitoring ini, pada tahun 2021 saya juga ikut serta dalam pelaksanaan survei awal pada ketiga lokasi ini bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara.

Secara keseluruhan pelaksanaan monitoring dilakukan selama 18 hari, yaitu dari tanggal 15 Juni hingga 1 Juli 2022. Misool Utara dan Maksegara merupakan lokasi yang sudah pernah dilakukan monitoring sebelumnya. Berbeda dengan Pulau Dua di Kampung Werur, Distrik Bikar merupakan lokasi baru yang dilakukan monitoring kesehatan karang; dengan kata lain data yang dikumpulkan adalah data awal.

Kami menggunakan KLM Eco Explorer sebagai transportasi utama untuk berpindah tempat; dengan rute Misool Utara, Maksegara, kemudian menuju Werur. Sedikit perbedaan dengan monitoring sebelumnya, kami mengundang media telekomunikasi, salah satu media TV Nasional yaitu SCTV untuk meliput seluruh kegiatan monitoring. Tujuannya agar upaya perlindungan alam yang kami lakukan di BLKB dapat dilihat dan dilakukan juga di tempat lain di seluruh wilayah Indonesia.

Seperti biasa, dalam monitoring ada pembagian tugas bagi pengamat, ada yang bertugas membentang transek, mengambil data karang, mengambil data ikan, menjadi buddy bagi pendata ikan dan satu orang lagi mendokumentasi aktivitas penyelaman. Selain pengamat yang menyelam, satu orang lagi bertugas di atas speedboat untuk mengukur parameter kualitas fisik kimia perairan.

Vio melakukan scan PIT tag pada penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setiap malam seusai monitoring, tim berkumpul dan melaporkan hasil temuan selama monitoring, mulai dari temuan karang, ikan hingga temuan-temuan lain di sekitar lokasi penyelaman. Setelah melaporkan hasil temuan, tim akan menyiapkan rencana monitoring besok, mulai dari titik penyelaman hingga pembagian tim serta pembagian tugas selama monitoring besok. Tidak lupa, tim juga mengentri data hasil pengamatan agar data yang diambil tidak menumpuk saat monitoring selesai dilakukan.

Yang unik juga dari monitoring kali ini adalah pengamatan karang menggunakan dua metode yang berbeda yaitu menggunakan metode PIT (Point Intercept Transect) dan metode UPT (Underwater Photo Transect) dengan otomatis pengambil data karang dalam satu tim ada dua orang, keuntungan dari penambahan metode ini yaitu ada anggota tim yang menambah pengalaman maupun pengetahuan baru untuk metode yang baru yaitu metode UPT.

Selama mengisi waktu kosong saat kapal berpindah tempat dari satu kawasan ke kawasan lain, tim mendapat tambahan ilmu dari ahli yang juga ikut dalam monitoring. Yang pertama adalah pelatihan pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan penyelaman yang diajarkan oleh Pak Rizya dari YKAN. Yang kedua adalah pelatihan membuat video dokumentasi, dimulai dari menyiapkan ide, teknik mengambil video, dan teknik mengedit video. Semua ini diajarkan oleh reporter senior SCTV, Pak Akhem.

Monitoring akan dilakukan lagi pada tahun 2024 di lokasi yang sama. Apabila Anda tertarik melihat dokumentasi yang dibuat tim SCTV, anda dapat pada dua video YouTube di bawah ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Pemaparan Hasil Kegiatan Reef Health Monitoring di TNTC tahun 2021

Pemaparan Hasil Kegiatan Reef Health Monitoring di TNTC tahun 2021

Penulis

Habema Monim, Dariani Matualage, Noviyanti

Tanggal

23 Maret 2022

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) dalam melaksanakan fungsi pemantauan di kawasan TNTC melakukan kegiatan Reef Health Monitoring (RHM) pada tanggal 10-23 Desember 2021. Tujuan monitoring kesehatan karang ini adalah untuk mendapatkan data terkini kesehatan terumbu karang di Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan lokasi lain sebagai pembanding serta memberikan informasi status kesehatan terumbu karang yang diperlukan untuk menilai efektifitas pelaksanaan sistem zonasi dan rencana pengelolaan TNTC. Tim yang terlibat dalam kegiatan RHM ini adalah Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Universitas Papua, dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara.

(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan protokol yang dikembangkan oleh Green dan Wilson dan dimodifikasi oleh Ahmadia dkk (2013). Kesehatan karang dinilai dari 2 komponen, yaitu kondisi ikan yang diukur dengan metode Underwater Visual Census dan tutupan karang yang diukur dengan metode Point Intercept Transect.

(Foto : Mulyadi-BBTNTC)

(Foto : Mulyadi-BBTNTC)

Pemaparan hasil kegiatan RHM dilakukan pada hari Senin, 7 Maret 2022 dengan mengundang pejabat struktural dan fungsional lingkup BBTNTC, tim RHM TNTC 2021, dan tim RHM Bentang Laut Kepala Burung Papua. Kegiatan berlangsung secara tatap muka di ruang rapat BBTNTC dan secara online melalui Zoom. Hasil pemantauan ini menunjukkan secara umum kondisi karang dalam keadaan sehat, namun ditemukan adanya kompetisi alga, predasi dan penyakit karang walaupun dalam jumlah yang kecil. Kondisi komunitas ikan cukup baik, namun ada kecenderungan penurunan biomassa ikan Herbivora. Selama monitoring, ditemukan beberapa kelompok ikan Lalosi (Caesionidae), Siganidae dan Scarini dalam jumlah yang besar. Selain itu ditemukan juga ikan hiu dan duyung di lokasi yang berbeda.

Informasi selengkapnya dapat diakses di situs BBTNTC di sini

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya