Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat

Penulis

Jennifer Maleke, Marthinus Rumere, dan Arnoldus Ananta

Tanggal

10 November 2025

Survei sosial merupakan kegiatan pemantauan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun di sekitar kawasan tersebut. Survei sosial yang dilakukan meliputi survei rumah tangga, survei gender, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci

Pada tahun 2025, tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosek (Sosial-Ekonomi) melaksanakan survei sosial pada 13 kampung di Kawasan Konservasi Teluk Mayalibit, Raja Ampat, sebagai pemantauan pengulangan ke-5 dari kegiatan pemantauan sosial yang telah dilakukan sejak tahun 2010.

Untuk menyukseskan pelaksanaan survei sosial, diadakan pelatihan bagi para surveyor selama tiga hari, dari tanggal 15 hingga 17 Oktober 2025. Pelatihan ini dibuka oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding, dengan narasumber Koordinator BHS, Kezia Salosso, serta anggota BHS Sosek, Jennifer Maleke dan Marthinus Rumere. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh para enumerator, yaitu Thomas Sembai, Jelly Palle, Spenyel Yenusy, Maria Bame, Jackson Bundah, Rivaldo Heipon, dan Agus Aiwor.

Pada hari pertama, kegiatan dimulai dengan pembukaan resmi oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding. Setelah itu, peserta mendapatkan pengantar Survei Sosial BLKB (Bentang Laut Kepala Burung) Papua Tahun 2025, yang mencakup tujuan dan lokasi survei, jenis dan jumlah data yang akan dikumpulkan, serta penjelasan detail mengenai instrumen survei rumah tangga.

Pengelola Program Sains Untuk Konservasi Membuka Pelatihan Surveyor Lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Penjelasan instrumen rumah tangga oleh Koordinator BHS Sosek
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Memasuki hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan praktik lapangan di Pulau Mansinam. Tim terlebih dahulu melapor kepada aparat kampung setempat, kemudian melaksanakan latihan wawancara survei rumah tangga, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci bersama beberapa responden. Kegiatan FGD dan survei rumah tangga dilakukan secara terpisah, di mana FGD dipimpin oleh Koordinator BHS Sosek bersama aparat kampung, beberapa masyarakat, dan tetua adat.

Tim mempersiapkan perlengkapan survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Sementara itu, survei rumah tangga dilakukan oleh para enumerator yang terbagi dalam tiga kelompok untuk mewawancarai masing-masing satu penduduk. Sesi ini berlangsung sekitar dua jam. Setelah itu, tim melakukan pembersihan dan pengecekan data untuk memastikan akurasi serta pemahaman para peserta terhadap prosedur survei.

Briefing sebelum pelaksanaan pre-test wawancara survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pre-test wawancara FGD
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Pada hari ketiga, kegiatan difokuskan pada evaluasi dan refleksi hasil pelatihan. Tim melakukan review terhadap hasil try-out atau pre-test, serta mendiskusikan tindak lanjut dari proses wawancara yang telah dilakukan. Sebagai penutup, peserta menyusun rencana kerja lapangan dan mempersiapkan perlengkapan survei yang akan digunakan selama pelaksanaan pemantauan sosial.

Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya memperdalam keterampilan teknis, tetapi juga membangun pijakan penting untuk menghadirkan hasil pemantauan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya alam yang mereka jaga.

Pre-test wawancara salah satu penduduk mengunakan survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pengecekan dan pembersihan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya