Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

MERAIH WISH DREAM DI TANAH PAPUA: Cerita Tenaga Magang Pantai Peneluran

MERAIH WISH DREAM DI TANAH PAPUA: Cerita Tenaga Magang Pantai Peneluran

Penulis

Fani Safitri

Tanggal

22 Juli 2022

Saya sangat bersyukur dapat bergabung sebagai tenaga magang di Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA (Universitas Papua). Awalnya saya mendapatkan informasi dari dosen pembimbing saya di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Provinsi Banten. Saya sangat bersemangat mendaftar karena saat kuliah saya sudah mengikuti beberapa acara dan program konservasi hewan-hewan langka. Melihat induk penyu juga menjadi bagian dari wish dream (harapan yang diimpikan) saya ketika lulus kuliah. Puji Tuhan, saya bisa terpilih menjadi salah satu tenaga magang di Pantai Jeen Yessa yaitu di bagian Pantai Wembrak.

Fani memegang Tukik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Ika Pebina)

Fani Bermain dengan Anak-anak
(Foto : LPPM UNIPA/Ika Pebina_S4C)

Saat turun lapangan saya melihat alam Papua yang sangat indah dan mempesona. Pertama kali melihat induk penyu belimbing saya cukup kaget karena ukurannya yang sangat besar dan karapasnya yang berbeda dari penyu lain. Selain itu, saya juga melihat induk penyu sisik, penyu hijau dan penyu lekang. Saya sangat takjub dengan cara induk penyu belimbing berjuang naik ke pantai, menggali sarang, bertelur, kamuflase dan kembali ke laut. Saya membantu melindungi sarang dengan naungan dari daun pakis, memindahkan sarang ke lokasi yang lebih aman dan ke kandang relokasi. Saya juga diajarkan cara membedakan jejak penyu, mengukur penyu, menggunakan alat scanner untuk membedakan penyu lama dan penyu baru dan cara menandai indukan penyu baru.

Selain kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang, saya juga diajarkan hal teknis lain seperti memakai parang, meruncingkan kayu dan bahkan saya sudah bisa menebang pohon. Saya juga berkesempatan melihat binatang lainnya seperti kanguru, burung rangkong, burung kakatua, ular putih dan lumba-lumba. Banyak sekali kenangan indah selama di lapangan. Ada pengalaman baru maupun persahabatan baru dengan kakak-kakak kru pemantauan penyu. Saya juga sangat senang dapat bercengkrama dengan masyarakat lokal di Kampung Resye dan Kampung Womom. Mereka sangat ramah dan antusias kepada kami para kru dan tenaga magang sehingga membuat satu kenangan indah yang susah untuk dilupakan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

BERJUANG MENJADI PRIBADI YANG BERGUNA DAN MENCINTAI ALAM PAPUA YANG KAYA AKAN SUMBER DAYA: Cerita Tenaga Magang Pantai Peneluran

BERJUANG MENJADI PRIBADI YANG BERGUNA DAN MENCINTAI ALAM PAPUA YANG KAYA AKAN SUMBER DAYA: Cerita Tenaga Magang Pantai Peneluran

Penulis

Hermanus Maklon Ayomi

Tanggal

20 Juli 2022

Nama saya Hermanus Maklon Ayomi, pemuda dari Serui Papua. Awal saya mendengar tentang penyu bermula dari cerita orangtua saya. Saya sangat tertarik untuk melihat penyu. Setelah saya kuliah di Jayapura baru saya mendengar lebih lanjut terkait penyu dan melihat gambarnya di internet. Salah satu jenis penyu, penyu belimbing, ternyata banyak bertelur di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Ketika ada perekrutan tenaga magang di tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA yang berkegiatan di pantai peneluran tersebut, saya langsung memasukan lamaran. Puji Tuhan saya diterima dalam posisi tersebut dalam jangka waktu kerja dua bulan (April-Juni 2022).

Herman (kanan) bersama tim pantai di Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPAYonas Saidui)

Herman sedang merelokasi sarang ke kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Kami diberi pembekalan di Manokwari dan turun lokasi pada tanggal 22 April 2022 menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112. Kami turun di Kampung Wau dan Weyaf dan kemudian saya bersama tim yang terdiri dari 1 koordinator pantai dan 1 tenaga lapangan melanjutkan perjalanan dengan perahu menuju pantai Jeen Syuab (atau dahulu disebut Wermon). Saat pertama kali melihat penyu belimbing secara langsung saya kaget karena ukurannya yang besar dan berwarna hitam. Namun setelah beberapa waktu memantau satwa ini dengan rutin, saya menjadi terbiasa. Tugas utama saya di Pantai Jeen Syuab adalah memindahkan sarang penyu belimbing yang terancam invasi akar petatas pantai (Ipomoea sp.) ke kandang relokasi dan melakukan patroli pagi bersama tim. Saya juga ikut membantu dalam patroli malam dalam memantau induk penyu yang naik bertelur.

Pantai Jeen Syuab memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Selain penyu kami melihat beberapa jenis burung dan hewan lain yang jarang kami temui di perkotaan. Yang paling saya sukai dari pekerjaan ini adalah memindahkan telur penyu belimbing. Bagi saya ada rasa tanggung jawab sebagai seorang yang dipercayakan penuh untuk pekerjaan ini. Tugas lain tetap saya kerjakan dengan senang hati. Saya tidak bermalas-malasan apalagi ketika anggota tim lain bekerja. Terakhir saya berpesan, mari jaga kitorang punya penyu bersama.

“Salam Anak Pasir Jeen Syuab”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Kabar Gembira tentang Konservasi Penyu Belimbing di Papua Barat

Kabar Gembira tentang Konservasi Penyu Belimbing di Papua Barat

Penulis

Deasy Lontoh, Noviyanti

Tanggal

18 Juli 2022

Tim Sains untuk Konservasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) telah melakukan pemantauan dan perlindungan sarang penyu di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom sejak tahun 2017. Terletak di pesisir barat laut Papua Barat, TP Jeen Womom merupakan tempat peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik. Karena populasinya telah menurun drastis, penyu belimbing terancam punah. Aktivitas peneluran penyu belimbing terkonsentrasi di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang termasuk dalam TP Jeen Womom. Penyu belimbing bertelur sepanjang tahun namun dibagi dalam dua musim peneluran: antara April dan September dengan puncak peneluran pada bulan Juli, dan antara Oktober dan Maret dengan puncak peneluran pada bulan Januari.

Tim saat melakukan perlindungan sarang (membuat naungan pakis)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/M. Faisal)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Setiap melakukan kegiatan patroli malam, tim pantai mendapatkan data induk penyu belimbing dengan memindai chip penanda yang disebut sebagai Passive Integrated Transponder (PIT) tag. Pemasangan PIT tag sudah berlangsung sejak tahun 2003 oleh WWF Indonesia, NOAA, dan kemudian dilanjutkan oleh Universitas Papua. Chip penanda ini terpasang di bahu induk dan memiliki 9 angka dengan kombinasi unik untuk membedakan setiap induk, seperti nomor identitas induk. Sejak April 2022, tim pantai mendeteksi lebih banyak induk penyu belimbing tanpa PIT tag, sekitar 52% dari semua penyu belimbing yang mendarat. Pada awal musim peneluran ini, tim pantai membawa pasokan PIT tag yang diprediksi akan bertahan sepanjang musim, tetapi ternyata pasokan ini habis hanya dalam hitungan dua bulan!

Induk penyu naik bertelur di Pantai Jeen Syuab pada pagi hari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yonas Saidui)

Tim peneliti dari Program Sains untuk Konservasi menyatakan bahwa tidak semua penyu belimbing yang belum bertanda ini adalah penyu betina yang pertama kali bertelur. Ada beberapa kemungkinan, salah satunya bisa saja mereka sudah pernah bertelur di pantai lain di Papua Barat namun tidak terdeteksi karena tidak ada kegiatan pemantauan penyu di wilayah tersebut. Namun demikian, tim peneliti menduga banyak dari mereka adalah penyu betina yang baru pertama kali bertelur.

Mengetahui jumlah penyu belimbing dalam populasi tidaklah mudah sebab reptil yang terancam punah ini hidup di laut lepas dan memiliki pola migrasi dengan jangkauan wilayah yang sangat luas. Bila penyu usia produktif, misalnya penyu betina yang baru pertama kali bertelur maupun penyu jantan yang mencapai usia dewasa, semakin bertambah maka populasi penyu akan meningkat. Hal ini tentu dengan asumsi angka kematian penyu dewasa (misalnya karena tangkapan sampingan, dll.) tidak meningkat.

Meskipun kami mungkin harus menunggu sepuluh tahun atau lebih untuk menyimpulkan apakah populasi penyu belimbing di Kepala Burung Papua meningkat, kami menganggap munculnya penyu-penyu betina baru sebagai sesuatu yang menjanjikan. Mungkin saat ini kami sedang melihat buah pertama dari usaha konservasi yang dirintis pada pertengahan tahun 1990-an-hingga awal tahun 2000-an oleh BBKSDA, WWF, dan NOAA. Hasil yang menjanjikan ini mendorong kami untuk bekerja lebih giat dan memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Menilik Kegiatan Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yesa

Menilik Kegiatan Konservasi Penyu di Pantai Jeen Yesa

Penulis

Y. Yulia Andriani

Tanggal

15 Juli 2022

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari kisah perjalanan volunteering trip oleh Y. Yulia Andriani. Simak bagian pertama di sini

Salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia terdapat di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua yang menjadi prioritas upaya konservasi nasional dan internasional. Kekayaan sumberdaya hayati laut di wilayah ini sangat luar biasa. Di sini kita bisa bertemu dengan lebih dari 600 spesies karang, dimana mereka adalah bagian dari 75% spesies karang keras dunia. Wilayah ini juga merupakan rumah bagi lebih dari 1700 spesies ikan karang, habitat bagi berbagai jenis penyu dan mamalia laut yang terancam punah (Sumber: Youtube: science4conservation).

Yulia (kiri), Fani (tengah), dan Ika (kanan) saat bertemu induk penyu belimbing
(Foto : Tonny Duwiri_S4C_LPPM UNIPA)

Setelah 2 hari di Kampung Womom, saya diajak berlayar ke Wembrak oleh Kaka Tonny Duwiri (biasa dipanggil Todu) menuju Pantai Wembrak, salah satu dari tiga Pantai Jeen Yesa untuk melihat konservasi penyu. Kebetulan, saya yang bertugas sebagai volunteer tidak terikat tugas formal seperti halnya Kaka Noviyanti, Abigail, dan Aflia, sehingga dapat menyambut ajakan Kaka Todu. Rasanya perfect timing banget! Saya tiba di Wembrak pada saat masa puncak peneluran penyu.

Ada dua alternatif untuk menempuh perjalanan menuju Pos Wembrak, trekking selama 1 jam atau naik perahu. Wah, trekking! Mataku seperti merasa menyala saking senangnya karena selama 3 tahun bekerja di Manokwari belum pernah jalan kaki di hutan Papua.

Menikmati senja di Pantai Wembrak
(Foto : Yulia Andriani)

Yulia (kiri), Fani (tengah), dan Ika (kanan) saat bertemu induk penyu belimbing
(Foto : Tonny Duwiri_S4C_LPPM UNIPA)

Eh…ternyata Kaka Todu mengabarkan kami akan naik perahu. Berlayar menuju lokasi pun tak kalah menggembirakan! Gelombang siang itu cukup besar hingga pelayaran seperti arung jeram dan bermandikan air garam. Pelajaran besar di situ, saya betul-betul harus membeli drybag besar. Carrier 65 liter yang setia dibawa ke mana-mana ini rasanya kurang cocok untuk trip laut.

Di Pos Wembrak rupanya sedang ada pembangunan sanitasi baru di belakang posko sehingga suasana di sana cukup ramai. Ada para pekerja, 1 orang Mama Papua, beberapa remaja, dan 2 anak kecil. Di posko itu saya bertemu 2 kawan baru, yaitu Fani dan Ika. Dalam waktu yang singkat saja kami langsung berinteraksi akrab. Memasak bersama, bercerita tentang banyak hal, dan tidur satu ruangan dalam posko.

Untung bawa lotion anti nyamuk, gileeee agasnya dahsyat! Pantas saja Fani dan Ika memasang tenda di ruangan! Kalau Kaka Todu sih manusia segala medan, aman tidur di mana saja dan kelihatannya sudah kebal.

Lewat tengah malam, seperti yang diinstruksikan Kaka Todu siang tadi, kami melakukan patroli penyu. Malam ini hanya Kaka Todu dan saya saja yang patroli karena kakinya Ika sakit. Selain melakukan patroli, mereka juga bertugas untuk melindungi sarang penyu dan mendatanya. Cara kerja patroli pada malam itu, patroler berjalan ke titik yang telah ditentukan sejauh kurang lebih 2 jam PP jalan kaki.

Induk penyu belimbing kembali ke laut setelah selesai bertelur
(Foto : Yulia Andriani)

Tim pertama dan kedua masing-masing memegang senter bercahaya merah dan putih sebagai kode komunikasi mengenai pergerakan penyu: naik ke pantai, turun, bersarang, atau tidak jadi bertelur. Malam pertama di Wembrak, tidak ada penyu yang bertelur. Ada satu penyu belimbing yang naik, tapi turun lagi. Barulah pada malam kedua kami (saya, Kaka Todu, Fani, dan Ika) menyaksikan penyu belimbing sukses bertelur.

Penyu yang naik ke pantai pada musim bertelur belum tentu mau bertelur saat pertama kali naik. Ada kalanya penyu hanya mengecek lokasi kemudian turun lagi. Penyu juga sensitif terhadap gangguan dari cahaya putih, terutama sebelum mengeluarkan telur dan menguburnya. Jadi, kami menggunakan senter bercahaya merah sepanjang patroli dan menunggui penyu bertelur. Setelah penyu berhasil mengubur telurnya, kami boleh menyalakan senter cahaya putih. Itu pun tidak sembarangan, hanya 1 sumber cahaya untuk keperluan pendataan dan pengukuran. Umumnya, penyu terinsting mengikuti sinar cahaya putih sehingga jika dinyalakan beramai-ramai akan membuatnya bingung dan terganggu.

Saat menunggu penyu bertelur pun kami tidak boleh berisik juga dan menjaga jarak. Selain memberi privasi, penyu bisa agresif, lho. Tenaganya besar dan berisiko membahayakan. Bahkan, kata Kaka Todu, sirip penyu dapat mematahkan dahan cukup besar jika merasa terganggu.

Ini adalah spesies penyu belimbing di Pantai Wembrak di Jeen Yessa, Papua Barat. Di wilayah ini, penyu biasa bertelur pada musim teduh (ombak relatif kecil). Biasanya, penyu naik ke pesisir dari malam hingga menjelang pagi. Para patroler penyu umumnya menelusuri pantai mulai pukul 20.00 WIT. Patroler biasanya terdiri dari 2 tim kecil dengan personel masing-masing 1-3 orang.

Dalam perjalanan singkat itu ada banyak pelajaran yang dapat dipetik, di antaranya adalah bersyukur pada apapun yang dikaruniakan Allah SWT, bersikap santun dan bijak pada alam. Berkesempatan menyaksikan penyu bertelur, bagi saya adalah kesempatan menyaksikan suatu kebesaran Allah SWT. Betapa setiap makhluk diciptakan sempurna dan hidup dengan keistimewaannya tersendiri. Keberadaannya hadir sebagai keselarasan alam.

Keberadaan Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA di Bentang Laut Kepala Burung ibarat matahari terbit yang hadirnya menjadi secercah harapan bagi kelestarian penyu di tengah besarnya ancaman. Kegigihannya dalam upaya konservasi, serta berupaya merangkul masyarakat dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan, menjadi sinergi positif yang harus terus menyala.

Mari kita jaga bersama, sayangi, lestarikan. Stop penjualan daging, telur, dan souvenir dari penyu! “Memperingati” Hari Laut Sedunia bukan hanya pada 8 Juni, melainkan setiap saat. Semoga lestarimu abadi.

Induk penyu belimbing di Pantai Wembrak
(Foto : Yulia Andriani)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach - Nonton Bareng Film Konservasi

Matahari Terbit di Bentang Laut Kepala Burung

Matahari Terbit di Bentang Laut Kepala Burung

Penulis

Y. Yulia Andriani

Tanggal

13 Juli 2022

Siap-siap, ya, besok kita jadi berangkat ke Tambrauw!

Pagi itu tanggal 20 Mei 2022, kawan saya, Kaka Noviyanti, mengabari tentang ajakannya volunteering trip bersama Program Sains untuk Konservasi dari LPPM Universitas Papua. Lokasi volunteering trip kami lakukan di Kabupaten Tambrauw, tepatnya di Kampung Womom dan Kampung Resye selama 9 hari (21-30 Mei 2022).

(Foto : Tonny Duwiri/S4C_LPPM UNIPA)

Kami berangkat tanggal 21 Mei 2022 dan terbagi dalam 2 tim kecil. Saya satu tim dengan Kaka Noviyanti, Abigail, dan Aflia yang akan turun di Kampung Womom dan Resye. Sedangkan tim lainnya bertugas di Kampung Wau dan Warmandi hanya dua orang, yaitu Kaka Tika dan Mika. Hal pertama yang terlintas di benakku, perjalanan ini terbayang sangat menyenangkan karena merupakan pengalaman pertama berlayar dan berbaur dengan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung.

Mengenai volunteering di ranah konservasi bukan hal yang sangat baru bagi saya, karena selama aktif di organisasi Mapala Unsoed (UPL MPA) sedikitnya pernah memperoleh materi dan praktik konservasi gunung-hutan. Namun, konservasi laut sudah tentu bakal menjadi pengalaman baru bagi saya di Tanah Papua. Dari gunung turun ke laut, mari kita cobaaa (pakai nada Sisca Kohl).

Pelayaran Kapal Sabuk Nusantara 112 Manokwari-Saubeba

Ini pertama kalinya saya naik Kapal Sabuk Nusantara. Pelayaran dari Manokwari menuju Resye memakan waktu kurang lebih 2 hari 2 malam. Tiketnya pun sangat terjangkau, Rp 20.000,00 dengan fasilitas tempat tidur tingkat, hiburan di kafetaria, dan toilet umum. Durasi pelayarannya ternyata lebih lama daripada kapal putih PELNI yang biasa menempuh Manokwari-Sorong kurang dari 24 jam. Sesuai dengan namanya, Kapal Sabuk, kapal berkapasitas penumpang 2 dek ini berperan sebagaimana fungsi sabuk untuk “melingkari keliling badan”, yaitu dengan berhenti di hampir setiap kampung sepanjang Manokwari-Sorong.

Saya baru tahu, di kampung-kampung yang dilalui Kapal Sabuk tidak memiliki dermaga, sehingga kapal tidak dapat bersandar. Kapal menurunkan jangkar pada perairan berkedalaman aman dan penumpang yang akan naik turun kapal diangkut oleh perahu masyarakat.

Hampir setiap perahu tampak mengangkut beragam hasil bumi dari kampung. Pisang mentah, sayuran, daging hasil buruan (babi dan rusa), kelapa, pinang, buah sirih, buah-buahan, hingga makanan homemade siap saji. Ada pula yang mengangkut jerigen-jerigen berisi bahan bakar minyak.

Saya mendengar cerita dari seorang kakek penduduk Kampung Womom, dulu belum ada kapal yang menjadi sarana penghubung antarkampung di sepanjang pesisir BLKB. Perjalanan jauh ke kampung maupun kota ditempuh dengan jalan kaki atau mendayung perahu. Maka dari itu, keberadaan Kapal Sabuk Nusantara dapat menunjang kemudahan transportasi masyarakat dan tentu punya dampak positif dari segi ekonomi dan sosial.

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Di antara hiruk-pikuk bongkar-muat kapal, saya menyaksikan kehangatan di tengah kesederhanaan pada diri mereka. Canda, tawa, teriakan penuh semangat menyambut aktivitas rutin, celoteh riang anak-anak kampung yang menikmati jajanan kapal, juga anak-anak dan remaja yang berkecimpung di laut dalam dengan penuh keberanian.

Memori di Kampung Resye dan Womom

Kami tiba di Kampung Resye tepat pada tengah hari. Baru saja menginjak kaki di pesisirnya, seorang Mama dari kampung langsung menyambut kami dan memberi petuah untuk mengoles pasir di dahi. Menurut tradisi kampung, hal tersebut harus dilakukan oleh pendatang baru sebagai pencegahan terhadap penyakit. Setelah itu, kami pun berjalan kaki di pesisir menuju Kampung Womom yang berjarak sekitar 20 menit.

Di Kampung Resye dan Womom kami akan melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan penjangkauan masyarakat selama 4 hari. Kegiatan yang kami lakukan diantaranya pembuatan minyak kelapa untuk mendukung perekonomian masyarakat, sosialisasi tentang konservasi penyu melalui pemutaran film dan games, serta acara nonton bareng (nobar) film “Di Timur Matahari” dengan masyarakat.

Di kampung berpenduduk kurang dari 20 kepala keluarga ini, listrik dan bahan bakar masih terbatas. Listrik menyala dari pukul 18.30 – 24.00 WIT dengan menggunakan genset. Itu pun kalau ada cadangan bahan bakar. Listrik dinyalakan hanya untuk keperluan yang sangat penting bagi hajat orang banyak, seperti mengalirkan air ke rumah-rumah masyarakat. Kesempatan ini dipergunakan oleh para pegiat literasi dari Universitas Papua untuk mengajarkan pengetahuan dasar pengoperasian komputer atau hiburan komunal berupa menonton film di Rumah Belajar dari UNIPA. Para pegiat literasi ini disebut sebagai Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program.

(Foto : Y. Yulia Andriani)

Bahan bakar minyak adalah hal yang tergolong mewah. Pengadaannya harus dibawa dari ibukota provinsi (Manokwari) melalui pelayaran kapal Sabuk Nusantara 112. Pun demikian dengan biskuit, jajanan anak-anak, dan cita rasa makanan khas supermarket. Bagi mereka, cita rasa itu memiliki keistimewaan tersendiri, sama halnya dengan saya bahwa kedamaian dan kesederhanaan di sana merupakan kado istimewa dalam perjalanan itu.

Selesai nobar di malam pertama, esok harinya kami bergerak di kegiatan berikutnya: membuat minyak kelapa! Ini pengalaman pertama saya juga. Pengolahan minyak kelapa ini betul-betul dari hulu ke hilir, mulai dari mencari buah yang layak panen, mengupas tempurung kelapa secara manual, memarutnya, memeras santan, memasaknya hingga menjadi minyak, hingga dibawa ke Manokwari untuk proses labeling dan pemasaran.

Mengingat betapa pegal dan sabarnya mengupas tempurung keras kelapa tua, oke deh, saya tidak akan mempertanyakan label harga minyak kelapa homemade. Harganya ya itu sudah, sa tra akan tawar!

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari kisah perjalanan volunteering trip oleh Y. Yulia Andriani. Simak bagian kedua di sini

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten

Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat

Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat

Penulis

Kartika Zohar & Abraham Leleran

Tanggal

14 Juli 2022

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melalui Program Sains untuk Konservasi bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat terus melakukan koordinasi dan komunikasi untuk meningkatkan pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom Kabupaten Tambrauw, Papua Barat.

Secara teknis kegiatan pengelolaan TP Jeen Womom dilaksanakan oleh Program Sains untuk Konservasi yang merupakan bagian dari LPPM UNIPA bekerjasama dengan DKP Provinsi Papua Barat dalam hal ini bersama Bidang Pengelolaan Ruang Laut dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PRL PSDKP) serta Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Pesisir Jeen Womom.

Dokumentasi diskusi draft PKS antara LPPM UNIPA dan DKP Papua Barat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Koordinasi dan kerjasama yang telah dilakukan oleh kedua pihak ini kemudian disepakati dalam suatu Perjanjian Kerja Sama (PKS) melalui Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Sekretariat Daerah Provinsi Papua yang mengkoordinir rencana pertemuan hingga pembahasan draft. Koordinasi terkait PKS ini telah dilakukan sejak November 2021 hingga pembahasan draft pada 8 Juni 2022. Perjanjian Kerja Sama ini merupakan turunan dari Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Papua dan Pemerintah Provinsi Papua Barat yang telah ditandatangani pada 29 Juli 2020 lalu.

Pertemuan guna membahas draft PKS ini dihadiri oleh Bpk. Roberth Rumbekwan sebagai Asisten 1 Setda Papua Barat bersama 14 orang yang berasal dari pemerintahan provinsi Papua Barat. Bapak Roberth Rumbekwan (Asisten 1) dalam pembukaan kegiatan berharap agar draft Perjanjian Kerja Sama ini dapat segera selesai dan ditandatangani oleh kedua belah pihak yaitu DKP Papua Barat dan LPPM UNIPA sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penandatangan MoU antara Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Universitas Papua pada tahun 2020. Ibu Fitryanti Pakiding yang mewakili ketua LPPM UNIPA dalam kesempatan menyampaikan satu dua kata memberikan informasi terkait pentingnya PKS dan koordinasi bersama para pihak dalam hal ini terutama pemerintah daerah dalam pekerjaan yang dilakukan di TP Jeen Womom. Bapak Jefry Heumasse selaku Kepala Bidang PRL PSDKP DKP Provinsi Papua Barat juga menyambung hal yang sama berharap bahwa melalui penandatanganan PKS ini teknis upaya perlindungan serta sinergitas pekerjaan dapat lebih baik lagi, sehingga kegiatan konservasi yang dilakukan juga memberikan manfaat kepada masyarakat yang berada di Kawasan. Beliau menyampaikan bahwa DKP bersama UPTD Jeen Womom akan selalu berkoordinasi dengan LPPM UNIPA dalam teknis pelaksanaan kegiatan.

Pembukaan Kegiatan oleh Bapak Roberth Rumbekwan selaku Asisten 1 Provinsi Papua Barat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Terdapat beberapa point utama yang menjadi catatan dalam pembahasan PKS yaitu masa berlaku PKS menyesuaikan dengan masa berlaku MoU, dan perlu adanya surat kuasa dari Gubernur Provinsi Papua Barat kepada Kepala DKP Provinsi Papua Barat, serta surat kuasa dari Rektor Universitas Papua kepada Ketua LPPM UNIPA untuk melakukan penandatangan Perjanjian Kerja Sama yang dimaksud. Hal lain yang didiskusikan berupa penjelasan setiap pasal terkait ruang lingkup dan lokasi kegiatan serta beberapa revisi terkait typo untuk beberapa redaksi.

Diskusi yang terjadi kurang lebih 3 jam ini berakhir dengan selesainya draft PKS yang akan dilengkapi oleh nomor surat dari masing-masing pihak. Menutup kegiatan diskusi, Asisten 1 menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mengupayakan penyelesaian PKS ini, beliau juga menyampaikan bahwa hasil diskusi PKS ini akan segera tiba di meja Gubernur Provinsi Papua Barat sebagai laporan kelanjutan penandatanganan MoU UNIPA dan informasi terkait PKS pertama sejak MoU bersama tahun 2020 lalu. Kegiatan diskusi ditutup dengan foto bersama dan koordinasi teknis untuk waktu penandatangan PKS.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
The Consumer Survey - Survei

Pelaksanaan Survei Konsumen Bank Indonesia di Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong

Pelaksanaan Survei Konsumen Bank Indonesia di Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong

Penulis

Petra Otsinar dan Cinthia Rianita Tumbio

Tanggal

11 Juli 2022

Awal bulan dimana dari tanggal 1 sampai tanggal 10 Tim Survei Konsumen Bank Indonesia harus bekerja keras dalam mengumpulkan Responden baik yang ada di Kabupaten Manokwari maupun di Kota Sorong. Tujuan Kegiatan Survei Konsumen Bank Indonesia ini untuk mengetahui perkembangan tingkat keyakinan konsumen, ekspektasi konsumen terhadap harga/ barang dan jasa dan kondisi stabilitas keuangan konsumen. Adapun manfaat dari Kegiatan Survei Konsumen Bank Indonesia sebagai salah satu informasi dalam kebijakan moneter yang akan berdampak langsung maupun tidak langsung pada perbankan, dunia usaha, dan masyarakat secara umum.

Melakukan survey dengan cara berkunjung ke rumah responden
(Foto: S4C_LPPM/Cinthia)

Pemberian souvenir kepada responden
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Cinthia)

Tim Survei Konsumen Bank Indonesia dikenal dengan sebutan enumerator, dimana pada Kabupaten Manokwari memiliki 10 enumerator dan Kota Sorong memiliki 9 enumerator. Pembagian Wilayah Survei Konsumen Bank Indonesia di Kabupaten Manokwari terdiri dari 5 Distrik yaitu Manokwari Barat, Manokwari Timur, Manokwari Selatan, Prafi dan juga Masni. Pada Kota Sorong pembagian wilayah terdiri dari 5 Distrik yaitu Sorong Utara, Sorong Barat, Sorong Manoi, Sorong, dan Sorong Timur. Dimana Jumlah data yang diambil pada kabupaten Manokwari berjumlah 150 data dan juga pada Kota Sorong berjumlah 150 data.

Target Survei Konsumen Bank Indonesia adalah responden yang mempunyai golongan ekonomi menengah ke atas dan memiliki usia 20 tahun keatas dimana responden tersebut merupakan penentu, pembuat keputusan pengeluaran rumah tangga dan berpendidikan terakhir minimal SMA. Metode wawancara yang dilakukan pun ada 2 yaitu Door to Door Interview dan Phone Survey Interview. Door to door Interview dimana enumerator melakukan survey dengan cara bertemu langsung atau berkunjung ke rumah responden, dan Phone Survey Interview adalah melakukan wawancara melalui telefon yang mana ini merupakan cara yang dilakukan selama masa pandemic Covid-19.

Sebelum melakukan Survei Konsumen Bank Indonesia para anggota enumerator yang ada di Kabupaten Manokwari maupun yang ada di Kota Sorong mempersiapkan Kuesioner dan juga Souvenir. Saat enumerator telah selesai wawancara dengan responden, enumerator akan memberikan cinderamata berupa Souvenir kepada responden sebagai reward karena telah meluangkan waktu untuk diwawancarai. Adapun souvenir yang diberikan adalah berasal dari Bank Indonesia kantor cabang Provinsi Papua Barat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Pentingnya Tumbuhan Pakis Pantai (Cycas sp.) bagi Perlindungan Penyu Belimbing di Pantai Jeen Yessa

Pentingnya Tumbuhan Pakis Pantai (Cycas sp.) bagi Perlindungan Penyu Belimbing di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Yusup Jentewo & Deasy Lontoh

Tanggal

5 Juli 2022

Pantai Jeen Yessa adalah satu dari dua pantai peneluran penting untuk penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang berada di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Pantai ini berlokasi di Distrik Tobouw dan berdekatan dengan Kampung Resye, Womom dan Warmandi. LPPM Universitas Papua melalui program Sains untuk Konservasi bersama masyarakat lokal melakukan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di pantai ini.

Foto Kru bersama Patroler Lokal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Foto Patroler Lokal membuat Perlindungan Sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup)

Namun sayangnya tidak semua wilayah di pantai Jeen Yessa ditumbuhi oleh tumbuhan pakis pantai ini. Salah satu wilayah yang cenderung jarang ditemui pakis pantai adalah Pantai Wembrak, yang berada paling barat di wilayah pantai Jeen Yessa. Tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang di pantai ini bersama masyarakat harus memotong daun pakis pantai dari beberapa lokasi untuk mendapatkan cukup daun pakis untuk mendirikan naungan yang efektif. Biasanya untuk mensiasati terbatasnya pakis pantai digunakan daun pinang hutan (Areca sp.) ataupun daun kelapa (Cocos sp.). Namun pakis pantai tetap pilihan yang terbaik karena tidak cepat layu dan lebih baik dalam memblokir sinar matahari dibandingkan daun pinang atau daun kelapa. Saat ini tim LPPM UNIPA sedang menyelidiki keefektifan naungan yang terbuat dari anyaman tali sabut kelapa (cocomesh) sebagai alternatif dari naungan pakis pantai.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Kandang Relokasi Menyelamatkan Sarang Penyu dari Invasi akar Petatas Pantai (Ipomoea sp.)

Kandang Relokasi Menyelamatkan Sarang Penyu dari Invasi akar Petatas Pantai (Ipomoea sp.)

Penulis

Jane Lense

Tanggal

29 Juni 2022

Pantai Jeen Syuab atau dahulu dikenal sebagai Pantai Wermon merupakan satu dari dua pantai peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Dengan panjang pantai sekitar 6 kilometer dari Tanjung Sapan hingga muara Wermon, pantai ini berdekatan dengan Kampung Wau, Weyaf, dan Wermon di Distrik Abun. Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA bersama masyarakat lokal terus memantau aktivitas peneluran penyu dan melindungi sarang di Pantai Jeen Syuab. Ancaman utama bagi sarang penyu di pantai ini pada musim peneluran April – September adalah invasi akar tumbuhan petatas pantai. Setelah beberapa musim mencoba berbagai metode, tim S4C LPPM UNIPA menemukan bahwa pemindahan ke dalam kandang relokasi berhasil meningkatkan penetasan, hingga lebih dari 50% telur menetas per sarang.

Tumbuhan Petatas Pantai di Pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup)

Foto Kru memindahkan telur ke kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup)

Kenapa dengan Petatas Pantai?

Petatas pantai (Ipomoea sp.) adalah tumbuhan merambat dengan daun melebar dan bunga ungu yang biasa terdapat di pinggiran pantai. Akar petatas pantai mampu menjangkau lebih dalam dibanding akar rumput, bahkan hingga kedalaman sarang penyu belimbing (70-75 cm) yang terbilang jauh lebih dalam dibandingkan kedalaman sarang penyu lain. Akar tumbuhan menjalar ini masuk ke dalam sarang-sarang penyu dan menghisap habis nutrisi dalam telur sehingga telur-telur tidak dapat menetas. Tanpa intervensi, kurang dari 5% telur menetas per sarang.

Kandang Relokasi

Kandang relokasi merupakan kandang semi tertutup dengan bentuk persegi yang dibuat di dekat dengan areal peneluran dan diatas batas pasang. Sebelum digunakan, pasir di dalam dan di sekitar kandang relokasi dan dibersihkan dari akar petatas pantai dan rumput di permukaan hingga kedalaman satu meter. Bagian atap kandang diberikan naungan dari daun kelapa untuk merendahkan suhu pasir, yang juga menjadi ancaman bagi telur penyu di Pantai Jeen Syuab. Paranet dibentangkan sebagai dinding kandang relokasi dan sekaligus perlindungan dari hewan pemangsa seperti anjing dan babi. Hampir setiap hari pada musim peneluran, anggota tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang (sering disebut kru) bersama masyarakat sekitar bekerja keras untuk memindahkan telur-telur dalam sarang yang terancam (relokasi) ke dalam kandang-kandang relokasi. Upaya ini dilakukan untuk memastikan banyak tukik dihasilkan bagi keberlanjutan populasi penyu belimbing di masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Produk Lokal Abun berpartisipasi mendukung pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022 di Manokwari, Papua Barat.

Produk Lokal Abun berpartisipasi mendukung pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022 di Manokwari, Papua Barat.

Penulis

Monika Arung Padang & Kartika Zohar

Tanggal

27 Juni 2022

Group of Twenty atau G20 merupakan sebuah forum utama kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia yang terdiri dari 19 negara utama dan satu lembaga Uni Eropa. Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara G20 yang diselenggarakan sejak 1 Desember 2021 hingga Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) November 2022. Dalam hal ini Papua Barat menjadi tuan rumah tempat pelaksanaan side event W20 (Women 20) yang merupakan bagian dari G20 Indonesia Presidency 2022.

Dalam rangka mendukung Provinsi Papua Barat sebagai tuan rumah event Y20 (Youth 20) dan W20 (Women 20), Fakultas Kehutanan Universitas Papua bekerja sama dengan GIZ Forclime melaksanakan acara Talkshow Y20 dan W20 Forclime Internship Programme: Supporting Papua’s Green Future & Perempuan dalam Pengelolaan Hutan Lestari di Tanah Papua. Pada kegiatan yang dilaksanakan pada 20 – 21 Mei 2022 ini terdapat pameran hasil hutan bukan kayu dan produk-produk hasil olahan lainnya.

Booth Produk Lokal Abun Pada Pameran bertema Cultural Exhibition, Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Gubernur Papua Barat mengunjungi dan berdiskusi di Booth Produk Lokal Abun tentang Produk Noken Abun
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Monica Arung Padang)

Event Pameran lainnya diselenggarakan oleh Pihak Bank Indonesia dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang bertema “Cultural Exhibition”. Pameran ini diikuti oleh para pelaku UMKM di Papua Barat. Pelaksanaan pameran ini dibagi menjadi dua bagian yaitu W20 dan Y20. Kegiatan W20 dilaksanakan pada 9 – 11 Juni 2022 sedangkan Y20 dilaksanakan pada 17 – 18 Juni di Manokwari City Mall. Kegiatan W20 ini dihadiri langsung oleh Gubernur Papua Barat, Komjen Pol (Purn.) Drs. Paulus Waterpauw, M.Si. dan beberapa delegasi seperti Angkie Yudistia (Staf Khusus Presiden Bidang Disabilitas), Perwakilan Perempuan Indonesia dan beberapa delegasi lainnya.

Produk Lokal Abun berpartisipasi dalam dua event yang diselenggarakan tersebut dengan hadir memperkenalkan produk-produk hasil pendampingan masyarakat di Distrik Abun dan Tobouw Kabupaten Tambrauw. Produk yang dihadirkan berupa minyak kelapa dan noken. Minyak kelapa dan noken yang dihasilkan merupakan bagian dari manfaat upaya perlindungan penyu bagi anggota masyarakat yang berada di kampung-kampung yang terletak di sekitar pantai peneluran Taman Pesisir Jeen Womom (TP Jeen Womom).

Pada dua event ini Produk Lokal Abun juga telah menggunakan fitur transaksi QRIS. Hasil penjualan produk pada kedua event ini cukup tinggi dibandingkan penjualan harian diluar event. Terdapat total 38 botol minyak kelapa kemasan 1 liter dan 31 buah noken dengan motif penyu dijual dalam dua event ini. Selain menjual produk, tim pemberdayaan masyarakat yang terlibat langsung dalam event pameran ini juga aktif menyampaikan informasi terkait upaya perlindungan penyu yang dilakukan di Kawasan TP Jeen Womom kepada pengunjung booth. Penyampaian informasi diberikan melalui leaflet tentang penyu dan diskusi dengan para pengunjung booth tentang penyu yang berada di TP Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya