Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

22 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setelah perjalanan yang menantang dari Manokwari menuju Tambrauw, tim yang akan memberi pelatihan Amigurumi bersiap memulai pelatihan. Pada bagian ini, kita melihat bagaimana para peserta di Kampung Wau dan Weyaf belajar dari nol, menghadapi kesulitan, lalu perlahan menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Klik disini untuk membaca bagian awal perjalanan tim menuju lokasi agar cerita ini terasa lebih utuh.

Pagi itu, langit masih mendung. Namun, Balai Kampung Wau mulai ramai dengan kedatangan para peserta. Saya menghitung satu per satu: 21 orang ibu-ibu dan remaja perempuan datang dengan langkah penuh rasa ingin tahu. Ada yang membawa anak kecil di gendongan, ada yang datang bersama tetangganya sambil tertawa kecil. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang telah kami atur sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang jarum rajut seumur hidup.

Maria memulai dengan sabar. “Ini namanya magic ring,” katanya sambil memperagakan. “Ini fondasi awal untuk merajut. Kalau cincin ajaib ini sudah kuat, nanti penyu kita bisa berdiri dengan bagus.”

Maria pelatih Amigurumi sedang menjelaskan cara membuat magic ring kepada seorang ibu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Proses pembuatan magic ring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu-ibu mengamati dengan serius. Ada yang mengerutkan kening, ada yang maju mendekat agar lebih jelas. Satu per satu mereka mencoba. Beberapa kali benang terlepas, simpul kendor, bahkan ada yang tertawa karena jari-jarinya terasa kaku.

“Ibu, santai saja,” kata Maria sambil membetulkan posisi kait (hook) di tangan seorang peserta. “Ini latihan, tidak perlu terburu-buru.”

Hari pertama diisi dengan latihan magic ring dan tusuk tunggal (single crochet). Prosesnya pelan, penuh koreksi, tapi semuanya serius. Saya melihat salah satu ibu bernama Ibu Flirce Bonsapia terus mengulang-ulang meskipun tangannya sudah sedikit gemetar. “Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Maria yang sedang menunjukan hitungan magic ring kepada Mama Jack
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Maria sedang menghitung jahitan Mama Maria
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tidak semua peserta berhasil menguasai magic ring di pelatihan hari ini, tetapi mereka bersepakat untuk melanjutkan sore hari di rumah belajar. “Tidak apa-apa, yang penting belajar,” kata Mama Jack sambil merapikan benangnya. Kami kemudian bubar dan pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIT.

Hari kedua, ketiga, dan keempat kami lanjutkan. Setelah magic ring, Maria mengajarkan cara membuat kepala, lalu flipper (sirip), dan karapaks (punggung). Setiap bagian membutuhkan ketelitian yang berbeda. Peserta mulai memahami pola, meskipun masih ada yang tertukar antara increase (teknik dalam merajut yang digunakan untuk menambah jumlah tusukan dalam satu baris atau putaran) dan decrease (teknik dalam merajut yang digunakan untuk mengurangi jumlah tusukan pada baris atau putaran tertentu).

Yang menarik perhatian saya adalah inisiatif mereka sendiri. Beberapa peserta datang ke rumah belajar setelah pelatihan di hari pertama. Mereka datang setelah mengurus anak dan memasak, lalu duduk di ruang belakang sambil merajut. Saya melihat Maria yang melatih, sabar mendampingi mereka hingga sore menjelang magrib.

Salah satu Amigurumi yang telah selesai dibuat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu Aplena Anari di Weyaf yang berhasil membuat Amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

“Kami ingin cepat selesai, Kaka Ibu,” kata salah satu dari mereka sambil memperlihatkan karapaks yang hampir jadi. “Supaya bisa segera dipasang kait kuncinya.”

Dari proses belajar yang penuh kesabaran, mulai terlihat bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ada semangat, ada kemauan untuk terus mencoba, dan ada harapan kecil yang mulai tumbuh dari setiap tusukan benang. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan juga berlangsung di Kampung Resye dan Womom, serta bagaimana cerita ini berujung pada makna ketekunan dan kemandirian.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya