Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Cerita Perjalanan ke Jawa: Training Cocopeat dan Studi Banding Briket

Cerita Perjalanan ke Jawa: Training Cocopeat dan Studi Banding Briket

Penulis

Mikardes Albert dan Mika Palimbong

Tanggal

15 September 2026

Kami berdua masih mengingat betul rasa antusias saat berangkat menuju Jawa untuk mengikuti pelatihan pembuatan cocopeat dan studi banding pengolahan briket arang tempurung kelapa. Bagi kami, perjalanan ke Kebumen dan Yogyakarta ini bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi menjadi kesempatan berharga untuk belajar secara langsung dari mereka yang telah lebih dahulu mengembangkan pengolahan produk turunan kelapa menjadi produk yang bernilai.

Selama ini, di Papua, tempurung dan bagian lain dari buah kelapa masih sering dipandang sebagai sisa yang tidak memiliki nilai. Karena itu, perjalanan ini menjadi pengalaman yang membuka wawasan kami bahwa tentang bagaimana hasil samping produk minyak kelapa dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Perjalanan kami dimulai dari Manokwari pada 18 Juli 2026. Kami kemudian mengikuti pelatihan pembuatan cocopeat selama tiga hari, pada 20–22 Juli 2026. Setelah pelatihan selesai, perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta pada 23–26 Juli 2026 untuk melakukan studi banding terkait pengolahan briket arang tempurung kelapa. Pada 27 Juli 2026, kami kembali tiba di Manokwari dengan membawa berbagai pengalaman, pengetahuan, inspirasi, dan gagasan baru untuk dikembangkan di Papua.

Perjalanan ini dapat terlaksana berkat dukungan Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya konservasi ekosistem terumbu karang guna mendukung kesejahteraan masyarakat.

Tiga Hari Belajar Cocopeat di Kebumen

Tujuan pertama kami adalah pabrik cocopeat Oesaka di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tempat kami mengikuti training pembuatan cocopeat selama tiga hari penuh. Di sana, kami baru benar-benar menyadari betapa besar potensi sabut kelapa yang selama ini kami anggap sebagai limbah biasa.

Hari pertama diawali dengan perkenalan kami dengan pemilik pabrik cocopeat Oesaka. Dari beliau, kami mendapat gambaran bahwa hampir seluruh bagian buah kelapa ternyata bisa dimanfaatkan, termasuk sabutnya yang bisa diolah menjadi berbagai produk. Kami diperkenalkan pada cocopeat, yaitu media tanam yang terbuat dari serat halus sabut kelapa, beserta manfaat, karakteristik yang baik, dan peluang pemanfaatannya dalam kegiatan pertanian serta pembibitan. Kami juga dikenalkan pada peralatan produksi dan tahapan pengolahannya, mulai dari pemilihan bahan baku, pemisahan serat (cocofiber) dan cocopeat, pengeringan, hingga pengemasan. Di penghujung hari, pihak Oesaka mengajak kami melihat langsung semua mesin yang digunakan: mesin pencacah untuk memisahkan cocopeat dan cocofiber, mesin pengering (oven), hingga mesin press untuk mengemas cocopeat menjadi balok.

Mikardes Albert dan Mika Palimbong bertemu dengan pemilik pabrik cocopeat Oeska.
(Foto :S4C_LPPM UNIPA)

Mikardes Albert sedang menggunakan mesin pemisah cocopeat dan cocofiber.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Hari kedua menjadi hari praktik bagi kami. Dengan pendampingan dari pihak Oesaka, kami mengolah sabut kelapa secara bertahap, mulai dari menyiapkan bahan, memisahkan cocopeat dari cocofiber menggunakan mesin pencacah, menyaring cocopeat agar berukuran lebih halus, hingga mengeringkannya agar siap digunakan. Kami terlibat langsung dalam setiap tahapan sehingga dapat memahami proses produksinya secara utuh, termasuk cara mengoperasikan peralatan dengan benar dan aman. Pihak Oesaka juga mengingatkan kami tentang pentingnya menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), salah satunya dengan memakai masker saat mengoperasikan mesin.

Mika Palimbong sedang mempelajari proses mencetak cocopeat balok.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Hari ketiga kami lanjutkan dengan proses pengemasan dan penyimpanan. Tim Oesaka kembali menjelaskan hal-hal yang perlu kami perhatikan agar cocopeat memiliki kualitas baik, terutama soal kadar air, pengemasan, dan penyimpanan. Kami belajar menimbang cocopeat kering agar hasilnya lebih merata, memadatkannya hingga berbentuk balok hingga menjadi cocopeat balok, lalu mengemasnya dengan plastik wrapping. Bagi kami, tahap pengemasan ini penting karena menjaga kualitas produk sekaligus menaikkan nilai jualnya. Diskusi kami dengan pihak Oesaka pun semakin hidup karena kami mulai mengaitkan materi pelatihan dengan potensi kelapa yang ada di Papua. Di penghujung kegiatan, kami diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman, kendala, dan pengetahuan yang kami peroleh selama tiga hari itu.

Pengalaman ini semakin berkesan berkat keramahan orang-orang di Kebumen. Mereka dengan sabar menjelaskan setiap detail dan tidak segan menjawab pertanyaan kami yang mungkin terdengar sederhana. Suasana tersebut membuat kami merasa nyaman dan semakin bersemangat untuk terus belajar. Kami pun semakin memahami bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Mika Palimbong dan Mikardes Albert berfoto bersama dengan pemilik pabrik cocopeat Oesaka.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Studi Banding Briket di Yogyakarta

Setelah menuntaskan pelatihan pembuatan cocopeat, kami melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk studi banding ke dua pabrik briket, yaitu Cocogreen dan CV Wahyu. Di kedua tempat ini, kami berkesempatan berdiskusi langsung dengan para pemilik dan pengelola pabrik mengenai seluk-beluk usaha briket, mulai dari persiapan bahan baku, proses pembuatan arang, penghalusan arang, pencampuran bahan, pencetakan, pengeringan, pengemasan, hingga strategi pemasaran.

Mikardes Albert dan Mika berfoto bersama dengan pemilik pabrik briket CV Wahyu.
(Foto :S4C_LPPM UNIPA)

Suasana ruang produksi briket di pabrik briket Cocogreen.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong

Bagi kami, diskusi-diskusi ini sangat berharga karena kami tidak hanya mendapat teori, tetapi juga gambaran nyata tentang tantangan yang mungkin kami hadapi jika kelak memulai usaha briket sendiri. Kami pulang membawa banyak catatan dan pelajaran yang rasanya sulit didapat hanya dari membaca buku.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat berlayar ke Wau-Weyaf

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat Berlayar ke Wau-Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

21 Agustus 2026

Pagi itu, Kamis, 6 Agustus 2026, Balai Kampung Wau menjadi tempat masyarakat Kampung Wau dan Weyaf berkumpul bersama Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM Universitas Papua. Melalui kisah yang dibagikan, mereka diajak sejenak “berkunjung” ke Raja Ampat, salah satu ikon konservasi laut dunia.

Kegiatan bertajuk “Sharing is Caring: Berbagi Cerita Konservasi dari Raja Ampat dan Pelatihan Ecoprint” ini digelar sebagai bagian dari program Penguatan Konservasi Penyu dan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung. Tujuannya sederhana namun mendalam, yaitu menghubungkan pengalaman keberhasilan konservasi di satu ujung Kepala Burung dengan semangat menjaga alam di ujung yang lain. 

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya konservasi ekosistem terumbu karang guna mendukung kesejahteraan masyarakat. 

Belajar dari Konservasi di Raja Ampat, untuk Wau dan Weyaf

Raja Ampat telah lama dikenal sebagai jantung keanekaragaman hayati laut dunia. Di balik terumbu karang yang memukau, ada kisah masyarakat adat yang menjaga laut mereka lewat tradisi turun-temurun, dan perempuan-perempuan yang membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya alam secara adat bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan ekonomi.

Kisah-kisah itulah yang dibawa ke Kampung Weyaf dan Kampung Wau melalui sesi berbagi cerita bersama Ibu Meity Mongdong, pemerhati konservasi lingkungan dan kelautan di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Ia membuka cerita dengan mengingatkan bahwa apa yang terjadi di Raja Ampat sesungguhnya “sama dengan di Tambrauw”, seperti hutan yang masih utuh, laut yang masih kaya, tetapi juga menghadapi ancaman yang serupa: pembukaan lahan, penebangan liar, hingga tekanan terhadap sumber daya pesisir.

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity membawa anggota masyarakat yang hadir untuk menelusuri perjalanan panjang Raja Ampat sejak kawasan konservasi pertama dibentuk pada 2007, awalnya untuk melindungi sumber daya ikan masyarakat, yang kemudian membawa “bonus” berupa pariwisata berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya monitoring dan peningkatan kapasitas masyarakat secara terus-menerus. Dengan cara yang sederhana, ia juga menjelaskan mengapa ikan besar begitu berharga: satu ekor ikan berukuran 36 cm memberi kontribusi bibit yang setara dengan 20 ekor ikan berukuran 18 cm. Karena itu, induk-induk besar merupakan aset penting bagi pemulihan stok ikan, bukan target tangkapan.

Ia juga membagikan hasil nyata dari penguatan penegakan hukum dan kepatuhan di Raja Ampat. Patroli gabungan yang melibatkan Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat, masyarakat, dan kepolisian dilakukan sedikitnya 10 kali setiap bulan dan telah berkontribusi pada penurunan praktik overfishing hingga 90%. Tingkat kepatuhan di kawasan konservasi perairan pun mencapai 89,9%, sementara nelayan lokal kini menyumbang 85% dari total tangkapan di wilayah mereka sendiri.

Raja Ampat menunjukkan bagaimana kekayaan alam yang terjaga dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi Tambrauw, yang memiliki potensi serupa untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Di Tambrauw, potensi tersebut antara lain mencakup wisata burung dengan kekayaan spesies seperti cenderawasih, maleo, kakatua, julang, dan kasuari; wisata budaya yang menawarkan kekayaan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat; serta wisata berbasis konservasi penyu dan ekosistem pesisir. Namun, Ibu Meity juga mengingatkan bahwa seluruh potensi tersebut hanya dapat berkembang jika ekosistem tetap sehat dan masyarakat siap mengambil peran.

Di Raja Ampat, berbagai ancaman seperti perburuan liar, pembalakan, pemboman ikan, dan penggunaan racun sianida masih menjadi tantangan dalam menjaga kelestarian alam. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya penguatan konservasi dan penegakan hukum yang berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan pariwisata. Masyarakat dapat berperan sebagai pemandu, pelaku usaha, maupun pengelola wisata di wilayahnya sendiri.

Sementara itu, Tambrauw memiliki konteks dan tantangan tersendiri, salah satunya tekanan akibat pembukaan lahan yang dapat mempengaruhi kelestarian hutan dan pesisir serta  sumber daya alam. Perbedaan tantangan di kedua wilayah ini menunjukkan bahwa upaya konservasi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, namun tetap menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari upaya perlindungan alam. Ibu Meity berpesan bahwa konservasi dan pariwisata perlu berjalan bersamaan: ketika alam dijaga, pada saat yang sama terbuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Sesi diskusi bersama Ibu Meity
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Diskusi tentang potensi alam di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Sesi ini ditutup dengan diskusi hangat bersama warga Wau dan Weyaf, yang sehari-hari hidup berdampingan dengan habitat peneluran penyu. Pengalaman Raja Ampat menjadi cermin bahwa aturan dan penegakan hukum itu penting, tapi keterlibatan aktif masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam yang membuatnya bertahan. Bagi Wau dan Weyaf, pesan ini menjadi penting: konservasi akan lebih berkelanjutan ketika masyarakat menjadi bagian dari penjaga sekaligus penerima manfaat dari kekayaan alam di kampung mereka sendiri.

Pelatihan Ecoprint

Setelah cerita, giliran tangan yang bekerja. Bersama fasilitator, Ibu Bertha Matatar, warga diperkenalkan pada ecoprint – dari kata “eco” (alam/ekosistem) dan “print” (mencetak). Ecoprint merupakan teknik mewarnai dan membuat motif pada kain menggunakan bahan-bahan alami di sekitar kita. Prosesnya mirip dengan pembuatan batik, tetapi sepenuhnya memanfaatkan unsur alam, seperti dedaunan, bunga, batang, bahkan ranting, tanpa bahan sintetis atau kimia yang dapat merusak lingkungan.

Ibu Bertha mengenalkan beberapa teknik dasar ecoprint. Dalam pelatihan di Wau-Weyaf, ia secara khusus mengajarkan teknik blanket, yaitu teknik mencetak motif menggunakan dua lembar kain sekaligus. Satu lembar digunakan sebagai kain utama, sedangkan lembar lainnya menjadi “kain blanket” atau kain selimut yang membantu menjaga tekanan warna selama proses pemasakan.

Tahapan yang dipraktikkan warga cukup panjang dan membutuhkan ketelitian. Bahan pewarna yang dipakai bermacam-macam sesuai apa yang tersedia di sekitar kampung,  mulai dari daun mangrove yang menghasilkan corak hijau-kehitaman, daun jati dan daun mangga yang memberi corak kuning-oranye, hingga daun “lanang” untuk sentuhan warna lain. Setiap lembar kain yang dihasilkan pun unik, tidak ada satu motif yang benar-benar sama dengan yang lain, karena bentuk dan susunan daun setiap orang berbeda.

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Bertha juga menunjukkan bahwa ecoprint bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Hasilnya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti tas, dompet, sepatu, syal, hingga sarung botol minum. Kerajinan ini membuka potensi ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Wau-Weyaf ke depannya.

Dalam paparan Ibu Meity, ecoprint disebut sebagai salah satu contoh nyata ‘ekonomi lainnya dari pariwisata’ yang telah tumbuh di Raja Ampat, berdampingan dengan produk berbasis alam lain seperti VCO (Virgin Coconut Oil ), minyak pijat, dan abon ikan. Ini menjadi pengingat sederhana bahwa alam di sekitar kampung jika dijaga bisa jadi sumber penghidupan jangka panjang.

Di penghujung kegiatan, ibu-ibu berfoto bersama hasil karya ecoprint yang mereka buat selama pelatihan. Kain-kain dengan corak daun jati, bunga, daun ubi, dan daun mangga yang tumbuh di pesisir Wau-Weyaf menjadi bukti kreativitas warga setelah melalui rangkaian proses mulai dari mordanting, penyusunan motif, pengukusan, hingga fiksasi yang dilakukan selama beberapa hari. Di sela-sela itu, muncul diskusi kecil tentang potensi pengembangan produk ke depan, mulai dari taplak meja hingga pembuatan seragam ibu-ibu PW (Persekutuan Wanita), sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk memperbaiki kegiatan serupa di masa mendatang.

Tahapan mordanting (perendaman dengan tawas)
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil ecoprint
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Dorlince Bame, salah satu peserta, menyampaikan bahwa akan mencoba mengulangi teknik ecoprint dengan menggunakan daun lain yang ada di sekitar rumahnya. Bagi S4C LPPM UNIPA sendiri, kegiatan ini menjadi pijakan awal sebelum program pendampingan lanjutan dilakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

01 Juli 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) Periode II Tahun 2026 telah dilaksanakan pada 17–19 Juni 2026 bertempat di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Meskipun kegiatan ini mencakup berbagai materi, pelatihan lebih difokuskan pada teknik produksi produk turunan kelapa, khususnya briket arang dan cocopeat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas PMNH dalam menguasai teknik pengolahan produk turunan kelapa sebagai upaya pengembangan mata pencaharian alternatif berbasis komoditas unggulan lokal, sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya konservasi penyu yang berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah melalui tahapan seleksi sebelumnya. Dari total 114 peserta yang mendaftar, sebanyak 20 peserta berhasil lolos seleksi tahap pertama, hingga akhirnya terpilih 9 peserta yang mengikuti tahap pelatihan PMNH Periode II.

Sejalan dengan pelatihan sebelumnya, kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh mengenai program, meningkatkan keterampilan teknis di lapangan, serta memperkuat kemampuan dalam bekerja sama secara efektif dan profesional dalam mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.

Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan diawali dengan penandatanganan kontrak kerja oleh seluruh peserta bersama Human Resources Development (HRD). Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Pengelola Program Sains untuk Konservasi (S4C), Fitryanti Pakiding, dan secara resmi dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno.

Pembukaan pelatihan PMNH oleh Freddy Pattiselanno.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti pemaparan lima materi utama yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai program pelestarian penyu di TP Jeen Womom, sistem kerja dan pengelolaan program, mekanisme pelaporan kegiatan, administrasi keuangan, serta strategi pendampingan masyarakat melalui program pendidikan formal maupun informal.

Pengenalan Program oleh Kartika Zohar.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Sistem Keuangan oleh Aflia Pongbatu. 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Memasuki hari kedua, kegiatan berfokus pada pendalaman pembelajaran di Rumah Belajar, meliputi materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan ComputerEnglish (COMENG). Peserta juga mendapatkan sesi praktik mengajar, pemahaman mengenai indikator dan subindikator pembelajaran di Rumah Belajar, serta proses penilaian berdasarkan indikator tersebut.

Pemaparan materi Pengenalan Indikator dan Subindikator Pembelajaran di Rumah Belajar oleh Alberto Allo.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Teori Pembuatan Minyak Kelapa Yang Bersih dan Rumah Produksi Minyak Kelapa oleh Fitri Iriani. 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Selain materi pendidikan, peserta juga dibekali pemahaman mengenai program pemberdayaan masyarakat melalui pengenalan produk dan proses pembuatannya. Materi tersebut mencakup Sharing terkait Program Kerajinan Tangan
(Amigurumi, dan Noken HP) , Teori Pembuatan Minyak Kelapa Bersih, serta pengelolaan Rumah produksi Minyak Kelapa yang dapat mendukung peningkatan kapasitas masyarakat Abun, Tobouw, dan Amberbaken. Pada hari yang sama, peserta juga menerima materi Manajemen Dokumentasi Foto dan Persyaratan Dokumentasi sebagai bagian dari pendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Pada hari terakhir pelatihan, peserta mendapatkan dua materi penting yang mendukung pelaksanaan program. Materi pertama disampaikan oleh Wilson Palelingan Aman mengenai Teori Pembuatan Turunan Kelapa berupa Cocopeat dan Briket Arang, sekaligus pengenalan mesin penepung arang. Materi kedua mengenai Pengenalan Penyu dan Upaya Konservasinya di TP Jeen Womom disampaikan oleh Asisten Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, Petrus Batubara, sebagai pendukung pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Walaupun kegiatan ini diisi dengan berbagai materi akan tetapi, pelatihan lebih mengutamakan pelatihan teknik produksi turunan kelapa dalam hal ini briket arang dan cocopeat agar PMNH memiliki kapasitas terkait teknik produksi turunan kelapa untuk mengembangkan mata pencaharian alternatif masyarakat berbasis komoditas unggulan lokal sebagai bagian dari penguatan dukungan terhadap konservasi penyu yang berkelanjutan.

Pemaparan materi Teori dan Pembuatan Turunan Kelapa oleh Wilson Palelingan Aman.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Pengenalan Penyu dan Upaya
Konservasinya di TP Jeen Womom oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fitri Iriani)

Usai pelatihan, pada 23 Juni 2026, para peserta melakukan praktik membuat minyak kelapa dan briket arang sebagai persiapan untuk mendukung proses produksi minyak kelapa dan briket arang di kampung pendampingan.

Peserta sedang memarut kelapa menggunakan mesin parut kelapa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Proses pembakaran tempurung.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Melalui rangkaian pelatihan ini, peserta PMNH diharapkan mampu memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mendukung program konservasi serta pemberdayaan masyarakat di TP Jeen Womom. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan, para peserta diharapkan dapat menjadi penghubung yang efektif antara program dan masyarakat dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

30 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Semangat belajar tidak hanya hadir di Kampung Wau dan Weyaf,  Klik disini untuk membaca cerita pelatihan di Kampung Wau dan Weyaf. Pada bagian terakhir ini, cerita berlanjut ke Kampung Resye dan Womom, lalu ditutup dengan refleksi tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan yang lahir dari proses sederhana.

Sementara kami di Kampung Wau dan Weyaf sibuk dengan pelatihan, tim lain bergerak di Kampung Resye dan Womom. Mereka memulai pada tanggal 17 Maret 2026, dengan jumlah peserta 9 orang yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja perempuan. Saya tidak berada di sana secara langsung, tetapi dari update yang masuk, semangat peserta tidak kalah besar.

Hermina Langoday pelatih amigurumi di Kampung Resye sedang menghitung jumlah anyaman amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

Ibu Bastian Yekwam sedang menyulam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

“Mereka juga mengalami kesulitan di awal,” kata Ina, PMNH yang melatih membuat amigurumi, saat kami berkomunikasi lewat WhatsApp. “Tetapi setelah beberapa kali mencoba, mulai ada yang menangkap polanya.”

Meskipun tim monev tidak dapat tiba di Kampung Resye dan Womom karena cuaca laut yang buruk, kegiatan pelatihan amigurumi penyu berhasil dilakukan. Proses pendampingan di lapangan masih terus dilakukan, tim PMNH setempat rutin mengunjungi para peserta untuk melihat perkembangan dan memberi koreksi jika ada yang lupa tahapannya.

Sampai pada akhir Maret ini, kami menghitung berapa banyak yang benar-benar berhasil menyelesaikan satu amigurumi penyu utuh dari awal hingga akhir. Kami menghitung bersama: untuk lokasi Kampung Wau dan Weyaf ada 2 orang yang berhasil menyelesaikan amigurumi penyu pertama mereka. Sedangkan di lokasi Kampung Resye dan Womom, lima orang ibu dan remaja perempuan berhasil. Mereka masing-masing lalu berfoto sambil memegang gantungan kunci amigurumi penyu hasil karya sendiri dengan bangga.

Kerajinan tangan sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Tetapi di kampung-kampung terpencil seperti Wau, Weyaf, Resye, dan Womom, amigurumi bukan sekadar hobi. Ini adalah pintu kecil menuju kemandirian ekonomi. Setiap tusukan benang bisa menjadi awal dari penghasilan tambahan. Setiap penyu yang selesai adalah bukti bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu yang bernilai.

Bastiana Yekwam di Kampung Womom yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Ibu Vince Yeum di Kampung Resye yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Saat malam hari ketika kami bersiap untuk perjalanan kembali ke Manokwari besok pagi dengan kapal, Maria mendekati saya dan berkata, “Ibu-ibu ini luar biasa. Bahkan ketika hari sudah gelap dan tidak ada penerangan yang baik, mereka tetap melanjutkan amigurumi-nya. Dan akhirnya mereka selesai. Ternyata mereka gigih.”

Saya mengangguk. Usaha tidak menghianati hasil, itulah yang saya tulis dalam catatan kecil saya malam itu. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa ketekunan tidak mengenal medan. Ketekunan menemukan jalannya, meskipun harus dimulai dari sebuah cincin ajaib dan tusuk tunggal.

Dari goyangan Kapal Sabuk Nusantara 112 yang menguji nyali, gelombang yang membuat kami mabuk laut, hingga senyum bangga para perempuan saat menyelesaikan amigurumi pertama mereka, semua terasa berarti. Meskipun ini tahun ketiga belas saya melayani dan melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi ini, selalu ada cerita yang berbeda dari setiap perjalanan yang saya lakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

22 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setelah perjalanan yang menantang dari Manokwari menuju Tambrauw, tim yang akan memberi pelatihan Amigurumi bersiap memulai pelatihan. Pada bagian ini, kita melihat bagaimana para peserta di Kampung Wau dan Weyaf belajar dari nol, menghadapi kesulitan, lalu perlahan menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Klik disini untuk membaca bagian awal perjalanan tim menuju lokasi agar cerita ini terasa lebih utuh.

Pagi itu, langit masih mendung. Namun, Balai Kampung Wau mulai ramai dengan kedatangan para peserta. Saya menghitung satu per satu: 21 orang ibu-ibu dan remaja perempuan datang dengan langkah penuh rasa ingin tahu. Ada yang membawa anak kecil di gendongan, ada yang datang bersama tetangganya sambil tertawa kecil. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang telah kami atur sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang jarum rajut seumur hidup.

Maria memulai dengan sabar. “Ini namanya magic ring,” katanya sambil memperagakan. “Ini fondasi awal untuk merajut. Kalau cincin ajaib ini sudah kuat, nanti penyu kita bisa berdiri dengan bagus.”

Maria pelatih Amigurumi sedang menjelaskan cara membuat magic ring kepada seorang ibu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Proses pembuatan magic ring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu-ibu mengamati dengan serius. Ada yang mengerutkan kening, ada yang maju mendekat agar lebih jelas. Satu per satu mereka mencoba. Beberapa kali benang terlepas, simpul kendor, bahkan ada yang tertawa karena jari-jarinya terasa kaku.

“Ibu, santai saja,” kata Maria sambil membetulkan posisi kait (hook) di tangan seorang peserta. “Ini latihan, tidak perlu terburu-buru.”

Hari pertama diisi dengan latihan magic ring dan tusuk tunggal (single crochet). Prosesnya pelan, penuh koreksi, tapi semuanya serius. Saya melihat salah satu ibu bernama Ibu Flirce Bonsapia terus mengulang-ulang meskipun tangannya sudah sedikit gemetar. “Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Maria yang sedang menunjukan hitungan magic ring kepada Mama Jack
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Maria sedang menghitung jahitan Mama Maria
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tidak semua peserta berhasil menguasai magic ring di pelatihan hari ini, tetapi mereka bersepakat untuk melanjutkan sore hari di rumah belajar. “Tidak apa-apa, yang penting belajar,” kata Mama Jack sambil merapikan benangnya. Kami kemudian bubar dan pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIT.

Hari kedua, ketiga, dan keempat kami lanjutkan. Setelah magic ring, Maria mengajarkan cara membuat kepala, lalu flipper (sirip), dan karapaks (punggung). Setiap bagian membutuhkan ketelitian yang berbeda. Peserta mulai memahami pola, meskipun masih ada yang tertukar antara increase (teknik dalam merajut yang digunakan untuk menambah jumlah tusukan dalam satu baris atau putaran) dan decrease (teknik dalam merajut yang digunakan untuk mengurangi jumlah tusukan pada baris atau putaran tertentu).

Yang menarik perhatian saya adalah inisiatif mereka sendiri. Beberapa peserta datang ke rumah belajar setelah pelatihan di hari pertama. Mereka datang setelah mengurus anak dan memasak, lalu duduk di ruang belakang sambil merajut. Saya melihat Maria yang melatih, sabar mendampingi mereka hingga sore menjelang magrib.

Salah satu Amigurumi yang telah selesai dibuat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu Aplena Anari di Weyaf yang berhasil membuat Amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

“Kami ingin cepat selesai, Kaka Ibu,” kata salah satu dari mereka sambil memperlihatkan karapaks yang hampir jadi. “Supaya bisa segera dipasang kait kuncinya.”

Dari proses belajar yang penuh kesabaran, mulai terlihat bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ada semangat, ada kemauan untuk terus mencoba, dan ada harapan kecil yang mulai tumbuh dari setiap tusukan benang. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan juga berlangsung di Kampung Resye dan Womom, serta bagaimana cerita ini berujung pada makna ketekunan dan kemandirian.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kelapa dan Mimpi Pesisir: Cerita Monev dari Kampung-Kampung di Sekitar TP Jeen Womom

Kelapa dan Mimpi Pesisir: Cerita Monev dari Kampung-Kampung di Sekitar TP Jeen Womom

Penulis

Putri Kawilarang, Kartika Zohar

Tanggal

06 Mei 2025

Setiap perjalanan menyimpan cerita. Setelah satu bulan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) bekerja di kampung-kampung sekitar Taman Pesisir Jeen Womom, akhir April menjadi momen penting bagi Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) untuk kembali turun ke lapangan. Selain memastikan keberlangsungan program konservasi, tim juga membawa pasokan bahan makanan (bama) dan logistik untuk kebutuhan sebulan ke depan.

Langkah Pertama: Menuju Kampung Penjaga Pesisir

Pada Jumat malam, 25 April 2025 pukul 21.00 WIT, lima anggota Tim Monev berangkat dari Manokwari dengan menumpang KM Sabuk Nusantara 112. Mereka menuju lima titik lokasi pendampingan di tiga distrik: Distrik Amberbaken (empat kampung binaan), Distrik Abun (tiga kampung binaan), dan Distrik Tobouw (dua kampung binaan).

Sabtu pagi, 26 April 2025, kapal tiba di perairan Saukorem. Mikardes Albert turun dan melanjutkan perjalanan darat ke Distrik Amberbaken. Sore harinya, Kartika Zohar tiba di Kampung Wau-Weyaf. Esok pagi, 27 April 2025, Aflia Pongbatu melanjutkan ke Kampung Syukwo, sementara Fitri Iriani dan Putri Kawilarang menuju Kampung Resye.

Kegiatan Monev Bersama Tim di Kampung Wau-Weyaf. Tim PMNH melengkapi dokumen-dokumen program.
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Kegiatan Monev Bersama Tim di Kampung Womom. Tim PMNH melengkapi dokumen-dokumen program.
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Setibanya di lokasi, Tim Monev melaksanakan tugas sesuai rencana kerja yang tertuang dalam TOR, diantaranya memeriksa kesesuaian logistik dan bahan makanan, memastikan kegiatan belajar-mengajar di Rumah Belajar berjalan, serta memantau pelaksanaan teknis kegiatan lapangan. Sesi diskusi dengan para PMNH juga menjadi bagian penting, mendengarkan kendala, menyampaikan evaluasi, dan mencari solusi bersama.

Kegiatan Pengolahan Kelapa (proses cincang) untuk praktikum bersama di Kampung Resye dan Womom
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Proses penggantian mesin parut kelapa yang telah rusak di lokasi Resye – Womom
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Belajar dari Lapangan: Minyak Kelapa dan Kolaborasi

Di Kampung Resye dan Womom, Tim Monev bersama PMNH melakukan praktik pembuatan minyak kelapa. Sebelumnya, hasil produksi dari lokasi ini belum lolos uji kualitas oleh tim di Manokwari. Untuk itu, para pendamping ditugaskan mengumpulkan sekitar 150 buah kelapa untuk praktik bersama.

Tantangan teknis pun muncul, seperti mesin parut aus dan tidak bisa digunakan karena kunci L untuk mengganti mata parut tidak tersedia. Saat beralih ke pencacahan manual, parang terlepas dari gagangnya. Pasokan solar pun sempat habis, sehingga tim harus menimba air dari sungai yang nyaris kering. Meski begitu, semua kendala dapat diatasi dengan semangat gotong royong. Produksi minyak kelapa tetap terlaksana.

Sementara itu, di Kampung Wau-Weyaf, tim bersama PMNH melakukan dua teknik olahan kelapa sekaligus yaitu pembuatan minyak kelapa melalui pemanasan, dan Virgin Coconut Oil (VCO) dengan metode fermentasi. Mereka juga berdiskusi dengan kelompok masyarakat dan aparat kampung tentang penggunaan rumah produksi.

Cerita dari kampung Syukwo pun tak kalah menarik. Mereka mempraktikan pembuatan pot dari sabut kelapa. Kedepannya ini mungkin menjadi salah satu alternatif pendapatan untuk pemanfaatan kelapa di wilayah ini. Namun tentunya ini masih merupakan pekerjaan rumah untuk dapat melatih anggota masyarakat untuk dapat memproduksinya secara berkelanjutan.

Percobaan untuk Produksi VCO
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Proses Memasak Minyak Kelapa
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Tawa, Kejutan, dan Kehangatan Komunitas

Di tengah kegiatan padat, momen-momen ringan turut memberi warna. Di Resye-Womom, tim diajak anak-anak kampung mengunjungi air terjun, meski ternyata sedang kering, kebersamaan tetap jadi pengalaman yang berharga.

Di Syukwo, atap dapur bocor dan tungku masak perlu ditata ulang. Meski sederhana, aktivitas ini menjadi momen kolaborasi sambil berbagi cerita di dalam tim.

Di Wau-Weyaf, waktu luang di tengah-tengah produksi diisi dengan membuat kue lemet dari singkong parut dan gula merah, lalu dinikmati bersama di Rumah Belajar. Sementara di Amberbaken, di sela hujan, tim menyempatkan diri memancing dan menikmati hasil tangkapan bersama masyarakat.

Kembali Pulang, Membawa Cerita dan Harapan

Pada Jumat, 2 Mei 2025, Tim Monev kembali ke Manokwari. Mereka membawa dokumen hasil evaluasi, 11 liter minyak kelapa dari Resye-Womom, 46 liter minyak kelapa dan 4,5 liter VCO dari Wau-Weyaf yang diproduksi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Seluruh hasil produksi ini akan diproses dan dikemas sebelum dijual di toko swalayan di Manokwari.

Setiap kunjungan monev menjadi ruang belajar bersama untuk merawat hubungan dan memperkuat kerja sama dengan PMNH dan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat upaya pelestarian penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mendukung konservasi yang berkelanjutan di pesisir Papua Barat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

12 Maret 2025

Dalam upaya memperkuat peran pendamping masyarakat dan tenaga magang dalam konservasi lingkungan, Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melaksanakan kegiatan Pembekalan Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung (PMNH) dan Tenaga Magang Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 11-13 Maret 2025 bertempat di Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA. Peserta pelatihan adalah 12 calon anggota Tim PMNH serta 4 tenaga magang yang akan ditempatkan di beberapa lokasi di Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Kaimana.

Acara ini dibuka oleh Prof. Freddy Pattiselanno selaku Kepala LPPM UNIPA. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Fitryanti Pakiding, Ph.D. selaku penanggung jawab program, yang juga menjadi salah satu pemateri dalam sesi pembekalan. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai konservasi penyu dan strategi pemberdayaan masyarakat. Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pengenalan kegiatan “Sains untuk Konservasi: Program Upaya Pelestarian Penyu yang Holistik di Distrik Tobouw dan Abun, Kabupaten Tambrauw.” Materi ini memperkenalkan pendekatan ilmiah dan sosial dalam upaya perlindungan penyu serta keterlibatan masyarakat dalam program konservasi.

Pembukaan oleh Prof. Freddy Pattiselanno
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Sambutan dari Ibu Fitryanti Pakiding, Ph.D.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai peran pendamping masyarakat dan narahubung program, yang bertugas untuk mendukung kegiatan konservasi dan pemberdayaan di berbagai lokasi. Terdapat berbagai pelatihan praktis yang akan diberikan selama 3 hari pelatihan, yaitu prosedur pencatatan dan pelaporan keuangan, pelatihan cara mengajar, serta teknik dokumentasi lapangan yang penting dalam pencatatan dan pelaporan kegiatan. Materi menarik yang juga akan diberikan dalam pembekalan ini adalah pelatihan pembuatan minyak kelapa bersih, yang bertujuan untuk memberikan keterampilan tambahan dalam mendukung ekonomi masyarakat lokal. Tidak hanya itu, sesi team building juga akan diselenggarakan untuk memperkuat kerja sama dan sinergi antar peserta, sehingga mereka dapat bekerja secara efektif di lapangan.

Pembekalan ini memiliki tujuan utama untuk memberikan kapasitas kepada tenaga pendamping masyarakat dan narahubung program untuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi penyu, dan membangun kemitraan dengan komunitas lokal. Para tenaga magang yang akan terlibat dalam pembekalan ini juga mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai peran mereka di lokasi penempatan, sehingga dapat berkontribusi lebih optimal dalam kegiatan konservasi dan pembangunan masyarakat.

Suasana saat pembekalan calon PMNH dan Tenaga Magang 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suasana saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Saat ini, program pendampingan pemberdayaan masyarakat telah mencakup lima kampung utama, yaitu Wau, Weyaf, Syukwo, Womom, dan Resye yang terletak dalam wilayah administrasi Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Namun, pada tahun ini lokasi program semakin berkembang dengan penambahan total lima kampung baru, yaitu empat kampung (Wefiani, Warpaperi, Waramui, dan Manggapnud) di Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, serta satu kampung (Adijaya) yang terletak di Distrik Buruway, yang berdekatan dengan Pulau Venu—salah satu habitat utama tempat penyu bertelur di Kaimana. Sementara itu, para tenaga magang yang dibekali akan terlibat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pada lokasi-lokasi penempatan pendamping masyarakat program pemberdayaan.

Diharapkan melalui pembekalan ini, peserta dapat memahami dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dalam mendukung program konservasi penyu dan pemberdayaan masyarakat. Dengan kolaborasi antara Tim PMNH dan tenaga magang, diharapkan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Bersama, kita dapat menjaga ekosistem laut dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi penyu untuk generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kelapa: Pohon Kehidupan dan Potensi Ekonomi di Kabupaten Tambrauw

Kelapa: Pohon Kehidupan dan Potensi Ekonomi di Kabupaten Tambrauw.

Penulis

Kartika Zohar, Mikardes Albert

Tanggal

30 Oktober 2024

Tumbuhan kelapa (Cocos nucifera) dikenal sebagai pohon kehidupan (tree of life) karena banyaknya manfaat yang diperoleh dari bagian tumbuhan ini. Meskipun kelapa sangat terkenal di pesisir dan bernilai ekonomi tinggi, namun nyatanya dalam pengembangannya masih memiliki berbagai tantang seperti tingkat pengolahan yang rendah, akses pasar yang terbatas, serta infrastruktur pengelolaan yang masih kurang.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi telah secara konsisten melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Tambrauw khususnya Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pemberdayaan masyarakat untuk pemanfaatan kelapa yang diolah menjadi minyak kelapa. Kegiatan ini telah menghasilkan setidaknya 500 – 1.000 liter minyak kelapa setiap tahunnya.

Pemanfaatan kelapa ini berpotensi untuk dikembangkan. Namun informasi terkait jumlah lahan kelapa masih minim. Pada pertengahan tahun 2024, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tambrauw bekerja sama dengan Program Sains untuk Konservasi menginisiasi untuk melakukan pendataan luas kebun kelapa yang berada di pesisir Kabupaten Tambrauw. Pengambilan data dan penghitungan jumlah tegakan pohon kelapa dilakukan dengan menggunakan Metode drone. Terdapat total 8 Distrik dan 31 kampung yang menjadi lokasi pengambilan data.

Drone yang digunakan untuk pemetaan mengambil foto dari udara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Proses pengambilan foto dari udara untuk pemetaan kebun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Berdasarkan hasil pemetaan jumlah luasan total kebun kelapa sebesar 447,93 hektar dengan jumlah total tegakan pohon kelapa sebanyak 48.403 pohon. Informasi persentase luas untuk setiap distrik dan distribusi jumlah pohon pada setiap distrik disajikan dalam grafik berikut. Informasi luas lahan dan jumlah tegakan pohon kelapa penting untuk menjadi data awal rencana pengelolaan kelapa di masa depan bagi kabupaten Tambrauw. Kira-kira kampung mana saja yang mempunyai potensi kelapa yang tinggi ya?

Berdasarkan pengambilan data, kampung Werur di Distrik Bikar merupakan kampung yang memiliki luasan kebun kelapa yang terluas dibandingkan dengan kampung lainnya di distrik lain, yaitu 59,77 hektar. Namun jika dibandingkan dengan informasi berdasarkan jumlah pohon kelapa, kampung Hopmaree di Distrik Kwoor memiliki jumlah pohon kelapa yang terbanyak yaitu 6.897 pohon kelapa jika dibandingkan jumlah pohon kelapa di kampung pada distrik lainnya.

Persentase luas kebun kelapa tiap distrik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tegakan pohon kelapa tiap distrik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menariknya jika diurutkan berdasarkan kepadatan, kami menemukan kampung Orwen di Distrik Kwoor dengan luasan kebun 2,1 hektar mempunyai kepadatan yang tertinggi. Terdapat 158 pohon kelapa pada luasan 1 hektar. Kegiatan Pendataan Kelapa yang dilakukan pada 31 kampung ini memberikan informasi penting dalam rencana pemanfaatan kelapa yang berkelanjutan di Kabupaten Tambrauw. Silakan kunjungi Album Peta Kelapa di Kabupaten Tambrauw Tahun 2024 disini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Drone di Langit Tambrauw: Menyusun Peta Kelapa di Pesisir Kabupaten Tambrauw

Drone di Langit Tambrauw : Menyusun Peta Kelapa di Pesisir Kabupaten Tambrauw

Penulis

Mikardes Albert, Kartika Zohar

Tanggal

27 Juni 2024

Mengawali Juni 2024, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tambrauw bersama Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA melakukan kegiatan survei pendataan luas kebun kelapa di pesisir Kabupaten Tambrauw. Dengan memanfaatkan teknologi drone, kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh data akurat mengenai jumlah tegakan pohon kelapa, yang kemudian akan dianalisis lebih lanjut. Program ini merupakan bagian dari upaya Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tambrauw untuk menyediakan data yang mendukung pengelolaan dan pemanfaatan kelapa di distrik-distrik sepanjang pesisir.

Tim survei, yang terdiri dari Kepala Bidang Perkebunan Urusan Produksi dan Komoditi Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw Cosmas Aibesa, Staff Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA Mikardes Albert, ahli drone dari Fakultas Kehutanan UNIPA Zulfikar Mardiyadi dan assistant-nya Victor Mandacan, menghabiskan lima hari dalam perjalanan ini. Mereka mengumpulkan data dari 26 kampung di enam distrik. Ekspedisi dimulai dari Manokwari menggunakan mobil double cabin Hilux, dengan pemberhentian pertama di Distrik Amberbaken yang meliputi Kampung Wekari, Saukorem, Wefiani, Warpaperi, Manggapnud, dan Waramui.

Bapak Kepala Bidang Perkebunan Urusan Produksi dan Komoditi Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw sedang berdiskusi dengan masyakat tentang tujuan pemetaan dusun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan dusun kelapa di kampung imbuan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Perjalanan kemudian berlanjut ke Distrik Amberbaken Barat yang mencakup Kampung Saurabon dan Inbuan, dilanjutkan ke Distrik Abun (Kampung Waibem, Wau, Weyaf, Syukwo—pendataan di Syukwo dilakukan menggunakan satelit karena hujan). Tim juga mengunjungi Distrik Tobouw (Kampung Resye dan Womom), Distrik Kwoor (Kampung Kwoor, Hopmaree, dan Esmambo), dan Distrik Bikar (Kampung Werur, Wertam, Werwaf, Wertim, Werbes, dan Bikar). Terakhir, data dikumpulkan dari Distrik Sausapor yang mencakup Kampung Wembru, Sausapor, dan Jokte.

Pemetaan dusun kelapa di distrik kwoor
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan dusun kelapa di kampung Samfarmum dan Saurabon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan kelapa di kampung Wekari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan kelapa di Wefiani sambil makan siang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Secara teknis, data diambil dari 17 titik dengan drone yang merekam informasi mengenai luas pohon kelapa. Tantangan utama dalam perjalanan ini adalah cuaca buruk dan kondisi jalan yang rusak, mengharuskan tim menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk mobil, perahu, pesawat, dan kapal.

Saat ini, data yang dikumpulkan sedang dalam tahap analisis untuk mengetahui jumlah pohon kelapa di sepanjang pesisir Tambrauw. Data ini akan menjadi dasar penting bagi Pemerintah Kabupaten Tambrauw, khususnya Dinas Pertanian dan Pangan, dalam mengambil kebijakan terkait pengelolaan komoditi kelapa di masa depan.

Drone yang digunakan untuk pemetaan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Dusun kelapa yang ada di Kampung Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya