Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

22 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setelah perjalanan yang menantang dari Manokwari menuju Tambrauw, tim yang akan memberi pelatihan Amigurumi bersiap memulai pelatihan. Pada bagian ini, kita melihat bagaimana para peserta di Kampung Wau dan Weyaf belajar dari nol, menghadapi kesulitan, lalu perlahan menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Klik disini untuk membaca bagian awal perjalanan tim menuju lokasi agar cerita ini terasa lebih utuh.

Pagi itu, langit masih mendung. Namun, Balai Kampung Wau mulai ramai dengan kedatangan para peserta. Saya menghitung satu per satu: 21 orang ibu-ibu dan remaja perempuan datang dengan langkah penuh rasa ingin tahu. Ada yang membawa anak kecil di gendongan, ada yang datang bersama tetangganya sambil tertawa kecil. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang telah kami atur sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang jarum rajut seumur hidup.

Maria memulai dengan sabar. “Ini namanya magic ring,” katanya sambil memperagakan. “Ini fondasi awal untuk merajut. Kalau cincin ajaib ini sudah kuat, nanti penyu kita bisa berdiri dengan bagus.”

Maria pelatih Amigurumi sedang menjelaskan cara membuat magic ring kepada seorang ibu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Proses pembuatan magic ring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu-ibu mengamati dengan serius. Ada yang mengerutkan kening, ada yang maju mendekat agar lebih jelas. Satu per satu mereka mencoba. Beberapa kali benang terlepas, simpul kendor, bahkan ada yang tertawa karena jari-jarinya terasa kaku.

“Ibu, santai saja,” kata Maria sambil membetulkan posisi kait (hook) di tangan seorang peserta. “Ini latihan, tidak perlu terburu-buru.”

Hari pertama diisi dengan latihan magic ring dan tusuk tunggal (single crochet). Prosesnya pelan, penuh koreksi, tapi semuanya serius. Saya melihat salah satu ibu bernama Ibu Flirce Bonsapia terus mengulang-ulang meskipun tangannya sudah sedikit gemetar. “Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Maria yang sedang menunjukan hitungan magic ring kepada Mama Jack
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Maria sedang menghitung jahitan Mama Maria
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tidak semua peserta berhasil menguasai magic ring di pelatihan hari ini, tetapi mereka bersepakat untuk melanjutkan sore hari di rumah belajar. “Tidak apa-apa, yang penting belajar,” kata Mama Jack sambil merapikan benangnya. Kami kemudian bubar dan pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIT.

Hari kedua, ketiga, dan keempat kami lanjutkan. Setelah magic ring, Maria mengajarkan cara membuat kepala, lalu flipper (sirip), dan karapaks (punggung). Setiap bagian membutuhkan ketelitian yang berbeda. Peserta mulai memahami pola, meskipun masih ada yang tertukar antara increase (teknik dalam merajut yang digunakan untuk menambah jumlah tusukan dalam satu baris atau putaran) dan decrease (teknik dalam merajut yang digunakan untuk mengurangi jumlah tusukan pada baris atau putaran tertentu).

Yang menarik perhatian saya adalah inisiatif mereka sendiri. Beberapa peserta datang ke rumah belajar setelah pelatihan di hari pertama. Mereka datang setelah mengurus anak dan memasak, lalu duduk di ruang belakang sambil merajut. Saya melihat Maria yang melatih, sabar mendampingi mereka hingga sore menjelang magrib.

Salah satu Amigurumi yang telah selesai dibuat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu Aplena Anari di Weyaf yang berhasil membuat Amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

“Kami ingin cepat selesai, Kaka Ibu,” kata salah satu dari mereka sambil memperlihatkan karapaks yang hampir jadi. “Supaya bisa segera dipasang kait kuncinya.”

Dari proses belajar yang penuh kesabaran, mulai terlihat bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ada semangat, ada kemauan untuk terus mencoba, dan ada harapan kecil yang mulai tumbuh dari setiap tusukan benang. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan juga berlangsung di Kampung Resye dan Womom, serta bagaimana cerita ini berujung pada makna ketekunan dan kemandirian.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kelapa dan Mimpi Pesisir: Cerita Monev dari Kampung-Kampung di Sekitar TP Jeen Womom

Kelapa dan Mimpi Pesisir: Cerita Monev dari Kampung-Kampung di Sekitar TP Jeen Womom

Penulis

Putri Kawilarang, Kartika Zohar

Tanggal

06 Mei 2025

Setiap perjalanan menyimpan cerita. Setelah satu bulan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) bekerja di kampung-kampung sekitar Taman Pesisir Jeen Womom, akhir April menjadi momen penting bagi Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) untuk kembali turun ke lapangan. Selain memastikan keberlangsungan program konservasi, tim juga membawa pasokan bahan makanan (bama) dan logistik untuk kebutuhan sebulan ke depan.

Langkah Pertama: Menuju Kampung Penjaga Pesisir

Pada Jumat malam, 25 April 2025 pukul 21.00 WIT, lima anggota Tim Monev berangkat dari Manokwari dengan menumpang KM Sabuk Nusantara 112. Mereka menuju lima titik lokasi pendampingan di tiga distrik: Distrik Amberbaken (empat kampung binaan), Distrik Abun (tiga kampung binaan), dan Distrik Tobouw (dua kampung binaan).

Sabtu pagi, 26 April 2025, kapal tiba di perairan Saukorem. Mikardes Albert turun dan melanjutkan perjalanan darat ke Distrik Amberbaken. Sore harinya, Kartika Zohar tiba di Kampung Wau-Weyaf. Esok pagi, 27 April 2025, Aflia Pongbatu melanjutkan ke Kampung Syukwo, sementara Fitri Iriani dan Putri Kawilarang menuju Kampung Resye.

Kegiatan Monev Bersama Tim di Kampung Wau-Weyaf. Tim PMNH melengkapi dokumen-dokumen program.
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Kegiatan Monev Bersama Tim di Kampung Womom. Tim PMNH melengkapi dokumen-dokumen program.
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Setibanya di lokasi, Tim Monev melaksanakan tugas sesuai rencana kerja yang tertuang dalam TOR, diantaranya memeriksa kesesuaian logistik dan bahan makanan, memastikan kegiatan belajar-mengajar di Rumah Belajar berjalan, serta memantau pelaksanaan teknis kegiatan lapangan. Sesi diskusi dengan para PMNH juga menjadi bagian penting, mendengarkan kendala, menyampaikan evaluasi, dan mencari solusi bersama.

Kegiatan Pengolahan Kelapa (proses cincang) untuk praktikum bersama di Kampung Resye dan Womom
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Proses penggantian mesin parut kelapa yang telah rusak di lokasi Resye – Womom
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Belajar dari Lapangan: Minyak Kelapa dan Kolaborasi

Di Kampung Resye dan Womom, Tim Monev bersama PMNH melakukan praktik pembuatan minyak kelapa. Sebelumnya, hasil produksi dari lokasi ini belum lolos uji kualitas oleh tim di Manokwari. Untuk itu, para pendamping ditugaskan mengumpulkan sekitar 150 buah kelapa untuk praktik bersama.

Tantangan teknis pun muncul, seperti mesin parut aus dan tidak bisa digunakan karena kunci L untuk mengganti mata parut tidak tersedia. Saat beralih ke pencacahan manual, parang terlepas dari gagangnya. Pasokan solar pun sempat habis, sehingga tim harus menimba air dari sungai yang nyaris kering. Meski begitu, semua kendala dapat diatasi dengan semangat gotong royong. Produksi minyak kelapa tetap terlaksana.

Sementara itu, di Kampung Wau-Weyaf, tim bersama PMNH melakukan dua teknik olahan kelapa sekaligus yaitu pembuatan minyak kelapa melalui pemanasan, dan Virgin Coconut Oil (VCO) dengan metode fermentasi. Mereka juga berdiskusi dengan kelompok masyarakat dan aparat kampung tentang penggunaan rumah produksi.

Cerita dari kampung Syukwo pun tak kalah menarik. Mereka mempraktikan pembuatan pot dari sabut kelapa. Kedepannya ini mungkin menjadi salah satu alternatif pendapatan untuk pemanfaatan kelapa di wilayah ini. Namun tentunya ini masih merupakan pekerjaan rumah untuk dapat melatih anggota masyarakat untuk dapat memproduksinya secara berkelanjutan.

Percobaan untuk Produksi VCO
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Proses Memasak Minyak Kelapa
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Tawa, Kejutan, dan Kehangatan Komunitas

Di tengah kegiatan padat, momen-momen ringan turut memberi warna. Di Resye-Womom, tim diajak anak-anak kampung mengunjungi air terjun, meski ternyata sedang kering, kebersamaan tetap jadi pengalaman yang berharga.

Di Syukwo, atap dapur bocor dan tungku masak perlu ditata ulang. Meski sederhana, aktivitas ini menjadi momen kolaborasi sambil berbagi cerita di dalam tim.

Di Wau-Weyaf, waktu luang di tengah-tengah produksi diisi dengan membuat kue lemet dari singkong parut dan gula merah, lalu dinikmati bersama di Rumah Belajar. Sementara di Amberbaken, di sela hujan, tim menyempatkan diri memancing dan menikmati hasil tangkapan bersama masyarakat.

Kembali Pulang, Membawa Cerita dan Harapan

Pada Jumat, 2 Mei 2025, Tim Monev kembali ke Manokwari. Mereka membawa dokumen hasil evaluasi, 11 liter minyak kelapa dari Resye-Womom, 46 liter minyak kelapa dan 4,5 liter VCO dari Wau-Weyaf yang diproduksi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Seluruh hasil produksi ini akan diproses dan dikemas sebelum dijual di toko swalayan di Manokwari.

Setiap kunjungan monev menjadi ruang belajar bersama untuk merawat hubungan dan memperkuat kerja sama dengan PMNH dan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat upaya pelestarian penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mendukung konservasi yang berkelanjutan di pesisir Papua Barat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

12 Maret 2025

Dalam upaya memperkuat peran pendamping masyarakat dan tenaga magang dalam konservasi lingkungan, Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melaksanakan kegiatan Pembekalan Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung (PMNH) dan Tenaga Magang Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 11-13 Maret 2025 bertempat di Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA. Peserta pelatihan adalah 12 calon anggota Tim PMNH serta 4 tenaga magang yang akan ditempatkan di beberapa lokasi di Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Kaimana.

Acara ini dibuka oleh Prof. Freddy Pattiselanno selaku Kepala LPPM UNIPA. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Fitryanti Pakiding, Ph.D. selaku penanggung jawab program, yang juga menjadi salah satu pemateri dalam sesi pembekalan. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai konservasi penyu dan strategi pemberdayaan masyarakat. Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pengenalan kegiatan “Sains untuk Konservasi: Program Upaya Pelestarian Penyu yang Holistik di Distrik Tobouw dan Abun, Kabupaten Tambrauw.” Materi ini memperkenalkan pendekatan ilmiah dan sosial dalam upaya perlindungan penyu serta keterlibatan masyarakat dalam program konservasi.

Pembukaan oleh Prof. Freddy Pattiselanno
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Sambutan dari Ibu Fitryanti Pakiding, Ph.D.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai peran pendamping masyarakat dan narahubung program, yang bertugas untuk mendukung kegiatan konservasi dan pemberdayaan di berbagai lokasi. Terdapat berbagai pelatihan praktis yang akan diberikan selama 3 hari pelatihan, yaitu prosedur pencatatan dan pelaporan keuangan, pelatihan cara mengajar, serta teknik dokumentasi lapangan yang penting dalam pencatatan dan pelaporan kegiatan. Materi menarik yang juga akan diberikan dalam pembekalan ini adalah pelatihan pembuatan minyak kelapa bersih, yang bertujuan untuk memberikan keterampilan tambahan dalam mendukung ekonomi masyarakat lokal. Tidak hanya itu, sesi team building juga akan diselenggarakan untuk memperkuat kerja sama dan sinergi antar peserta, sehingga mereka dapat bekerja secara efektif di lapangan.

Pembekalan ini memiliki tujuan utama untuk memberikan kapasitas kepada tenaga pendamping masyarakat dan narahubung program untuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi penyu, dan membangun kemitraan dengan komunitas lokal. Para tenaga magang yang akan terlibat dalam pembekalan ini juga mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai peran mereka di lokasi penempatan, sehingga dapat berkontribusi lebih optimal dalam kegiatan konservasi dan pembangunan masyarakat.

Suasana saat pembekalan calon PMNH dan Tenaga Magang 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suasana saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Saat ini, program pendampingan pemberdayaan masyarakat telah mencakup lima kampung utama, yaitu Wau, Weyaf, Syukwo, Womom, dan Resye yang terletak dalam wilayah administrasi Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Namun, pada tahun ini lokasi program semakin berkembang dengan penambahan total lima kampung baru, yaitu empat kampung (Wefiani, Warpaperi, Waramui, dan Manggapnud) di Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, serta satu kampung (Adijaya) yang terletak di Distrik Buruway, yang berdekatan dengan Pulau Venu—salah satu habitat utama tempat penyu bertelur di Kaimana. Sementara itu, para tenaga magang yang dibekali akan terlibat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pada lokasi-lokasi penempatan pendamping masyarakat program pemberdayaan.

Diharapkan melalui pembekalan ini, peserta dapat memahami dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dalam mendukung program konservasi penyu dan pemberdayaan masyarakat. Dengan kolaborasi antara Tim PMNH dan tenaga magang, diharapkan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Bersama, kita dapat menjaga ekosistem laut dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi penyu untuk generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kelapa: Pohon Kehidupan dan Potensi Ekonomi di Kabupaten Tambrauw

Kelapa: Pohon Kehidupan dan Potensi Ekonomi di Kabupaten Tambrauw.

Penulis

Kartika Zohar, Mikardes Albert

Tanggal

30 Oktober 2024

Tumbuhan kelapa (Cocos nucifera) dikenal sebagai pohon kehidupan (tree of life) karena banyaknya manfaat yang diperoleh dari bagian tumbuhan ini. Meskipun kelapa sangat terkenal di pesisir dan bernilai ekonomi tinggi, namun nyatanya dalam pengembangannya masih memiliki berbagai tantang seperti tingkat pengolahan yang rendah, akses pasar yang terbatas, serta infrastruktur pengelolaan yang masih kurang.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi telah secara konsisten melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Tambrauw khususnya Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pemberdayaan masyarakat untuk pemanfaatan kelapa yang diolah menjadi minyak kelapa. Kegiatan ini telah menghasilkan setidaknya 500 – 1.000 liter minyak kelapa setiap tahunnya.

Pemanfaatan kelapa ini berpotensi untuk dikembangkan. Namun informasi terkait jumlah lahan kelapa masih minim. Pada pertengahan tahun 2024, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tambrauw bekerja sama dengan Program Sains untuk Konservasi menginisiasi untuk melakukan pendataan luas kebun kelapa yang berada di pesisir Kabupaten Tambrauw. Pengambilan data dan penghitungan jumlah tegakan pohon kelapa dilakukan dengan menggunakan Metode drone. Terdapat total 8 Distrik dan 31 kampung yang menjadi lokasi pengambilan data.

Drone yang digunakan untuk pemetaan mengambil foto dari udara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Proses pengambilan foto dari udara untuk pemetaan kebun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Berdasarkan hasil pemetaan jumlah luasan total kebun kelapa sebesar 447,93 hektar dengan jumlah total tegakan pohon kelapa sebanyak 48.403 pohon. Informasi persentase luas untuk setiap distrik dan distribusi jumlah pohon pada setiap distrik disajikan dalam grafik berikut. Informasi luas lahan dan jumlah tegakan pohon kelapa penting untuk menjadi data awal rencana pengelolaan kelapa di masa depan bagi kabupaten Tambrauw. Kira-kira kampung mana saja yang mempunyai potensi kelapa yang tinggi ya?

Berdasarkan pengambilan data, kampung Werur di Distrik Bikar merupakan kampung yang memiliki luasan kebun kelapa yang terluas dibandingkan dengan kampung lainnya di distrik lain, yaitu 59,77 hektar. Namun jika dibandingkan dengan informasi berdasarkan jumlah pohon kelapa, kampung Hopmaree di Distrik Kwoor memiliki jumlah pohon kelapa yang terbanyak yaitu 6.897 pohon kelapa jika dibandingkan jumlah pohon kelapa di kampung pada distrik lainnya.

Persentase luas kebun kelapa tiap distrik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tegakan pohon kelapa tiap distrik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menariknya jika diurutkan berdasarkan kepadatan, kami menemukan kampung Orwen di Distrik Kwoor dengan luasan kebun 2,1 hektar mempunyai kepadatan yang tertinggi. Terdapat 158 pohon kelapa pada luasan 1 hektar. Kegiatan Pendataan Kelapa yang dilakukan pada 31 kampung ini memberikan informasi penting dalam rencana pemanfaatan kelapa yang berkelanjutan di Kabupaten Tambrauw. Silakan kunjungi Album Peta Kelapa di Kabupaten Tambrauw Tahun 2024 disini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Drone di Langit Tambrauw: Menyusun Peta Kelapa di Pesisir Kabupaten Tambrauw

Drone di Langit Tambrauw : Menyusun Peta Kelapa di Pesisir Kabupaten Tambrauw

Penulis

Mikardes Albert, Kartika Zohar

Tanggal

27 Juni 2024

Mengawali Juni 2024, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tambrauw bersama Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA melakukan kegiatan survei pendataan luas kebun kelapa di pesisir Kabupaten Tambrauw. Dengan memanfaatkan teknologi drone, kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh data akurat mengenai jumlah tegakan pohon kelapa, yang kemudian akan dianalisis lebih lanjut. Program ini merupakan bagian dari upaya Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tambrauw untuk menyediakan data yang mendukung pengelolaan dan pemanfaatan kelapa di distrik-distrik sepanjang pesisir.

Tim survei, yang terdiri dari Kepala Bidang Perkebunan Urusan Produksi dan Komoditi Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw Cosmas Aibesa, Staff Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA Mikardes Albert, ahli drone dari Fakultas Kehutanan UNIPA Zulfikar Mardiyadi dan assistant-nya Victor Mandacan, menghabiskan lima hari dalam perjalanan ini. Mereka mengumpulkan data dari 26 kampung di enam distrik. Ekspedisi dimulai dari Manokwari menggunakan mobil double cabin Hilux, dengan pemberhentian pertama di Distrik Amberbaken yang meliputi Kampung Wekari, Saukorem, Wefiani, Warpaperi, Manggapnud, dan Waramui.

Bapak Kepala Bidang Perkebunan Urusan Produksi dan Komoditi Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw sedang berdiskusi dengan masyakat tentang tujuan pemetaan dusun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan dusun kelapa di kampung imbuan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Perjalanan kemudian berlanjut ke Distrik Amberbaken Barat yang mencakup Kampung Saurabon dan Inbuan, dilanjutkan ke Distrik Abun (Kampung Waibem, Wau, Weyaf, Syukwo—pendataan di Syukwo dilakukan menggunakan satelit karena hujan). Tim juga mengunjungi Distrik Tobouw (Kampung Resye dan Womom), Distrik Kwoor (Kampung Kwoor, Hopmaree, dan Esmambo), dan Distrik Bikar (Kampung Werur, Wertam, Werwaf, Wertim, Werbes, dan Bikar). Terakhir, data dikumpulkan dari Distrik Sausapor yang mencakup Kampung Wembru, Sausapor, dan Jokte.

Pemetaan dusun kelapa di distrik kwoor
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan dusun kelapa di kampung Samfarmum dan Saurabon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan kelapa di kampung Wekari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan kelapa di Wefiani sambil makan siang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Secara teknis, data diambil dari 17 titik dengan drone yang merekam informasi mengenai luas pohon kelapa. Tantangan utama dalam perjalanan ini adalah cuaca buruk dan kondisi jalan yang rusak, mengharuskan tim menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk mobil, perahu, pesawat, dan kapal.

Saat ini, data yang dikumpulkan sedang dalam tahap analisis untuk mengetahui jumlah pohon kelapa di sepanjang pesisir Tambrauw. Data ini akan menjadi dasar penting bagi Pemerintah Kabupaten Tambrauw, khususnya Dinas Pertanian dan Pangan, dalam mengambil kebijakan terkait pengelolaan komoditi kelapa di masa depan.

Drone yang digunakan untuk pemetaan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Dusun kelapa yang ada di Kampung Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Melindungi Penyu, Memberdayakan Kampung: Cerita Monitoring dan Evaluasi dari Kampung-kampung di Taman Pesisir Jeen Womom

Melindungi Penyu, Memberdayakan Kampung: Cerita Monitoring dan Evaluasi dari Kampung-kampung di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Kartika Zohar, Putri Kawilarang, Mika Palimbong

Tanggal

11 Juni 2024

Di sekitar Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, lima kampung hidup berdampingan dengan alam yang indah dan penuh tantangan. Sejak tahun 2013, Program Sains untuk Konservasi dari LPPM UNIPA telah menjalin kemitraan erat dengan masyarakat lokal dalam upaya melindungi penyu belimbing yang bertelur di pantai-pantai mereka. Program ini bukan hanya tentang konservasi, tetapi juga tentang memberdayakan masyarakat dan membangun masa depan yang lebih baik.

Setiap hari pada semester pertama tahun 2024, terdapat 8-9 tenaga pendamping masyarakat dan narahubung yang bekerja di empat lokasi dengan mencakup lima kampung. Mereka fokus pada dua bidang utama: peningkatan perekonomian dan pendidikan. Dalam bidang perekonomian, pendamping membantu masyarakat mengolah kelapa menjadi minyak, membuat noken dari benang, dan memproduksi cocomesh untuk melindungi sarang penyu. Produk-produk ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, baik secara ekonomi maupun lingkungan.

Salah satu kegiatan monev yang dilakukan yaitu Diskusi terkait progress pembuatan cocomesh di Kampung Resya dan Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Salah satu kegiatan monev yang dilakukan yaitu Menguji mesin peras santan di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Di bidang pendidikan, para pendamping mengajar anak-anak di Rumah Belajar. Mereka mengajarkan enam kemampuan dasar: membaca, menulis, berhitung, pendidikan lingkungan hidup, komputer, dan bahasa Inggris dasar. Mereka juga membantu proses belajar mengajar di sekolah-sekolah dasar yang berada pada kampung-kampung ini.

Untuk memastikan program berjalan lancar dan menghadapi setiap tantangan, tim pemberdayaan masyarakat melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) secara rutin. Kegiatan Monev dilakukan bersamaan dengan jadwal kapal, yang membawa tim dari Manokwari ke kampung-kampung yang tersebar di sepanjang TP Jeen Womom.

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Pada 21 Mei 2024, tim Monev berangkat dari Manokwari dengan kapal Sabuk Nusantara 112. Kami tiba di Kampung Resye dan Womom pada 23 Mei, memulai perjalanan selama 11 hari yang menantang. Dalam setiap kunjungan, kami membawa daftar tugas yang telah disusun dengan cermat, termasuk mendokumentasikan kegiatan di lapangan, mengecek pelaksanaan program, mencari solusi atas kendala, mengisi form inventarisasi, dan mengantar logistik.

Meskipun perjalanan ini melelahkan, momen ketika berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan perahu, serta berdiskusi dengan tim dan masyarakat selalu menyenangkan. Pertemuan dengan semua tim di lapangan memberikan semangat baru dan perasaan senang ketika mengetahui mereka dalam keadaan sehat.

Tim monev berpindah pindah dari satu kampung ke kampung lain menggunakan perahu kecil
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Tim monev mengantar logistik ke tim PMNH yang ada di lapang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Setiap sesi ngobrol panjang lebar tentang kehidupan di lapangan selalu menyedot waktu berjam-jam. Salah satu momen paling ditunggu adalah pertukaran makanan. Tim Monev menikmati makanan kampung seperti pisang rebus, kasbi rebus, sayuran dari kebun, dan daging hasil buruan. Sementara itu, teman-teman di lapangan sangat antusias menerima tempe dan “sayur kota” seperti wortel dan kentang yang dibawa oleh tim Monev. Meskipun sederhana, tapi tempe dan “sayur kota” hanya bisa mereka nikmati saat ada tim yang membawa dari kota.

Waktu 11 hari yang terlihat panjang terasa sangat cepat karena interaksi yang hangat dan diskusi yang panjang. Tim Monev mengunjungi semua tim lapangan di Kampung Resye, Womom, Batu Rumah, Syukwo, dan Wau-Weyaf. Kegiatan Monev bulanan ini memberikan dorongan semangat baru bagi semua orang, membangun harapan, dan memastikan bahwa upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan dapat terus berlanjut dengan baik.

Dengan setiap perjalanan yang tercipta, Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA dan masyarakat Jeen Womom semakin erat terhubung, saling menguatkan dalam upaya melestarikan penyu belimbing dan membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Menikmati indahnya sunset di pantai Saubeba (Resye)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

“Dari Rintisan Hingga Difasilitasi Pemerintah: Kisah Inspiratif LPPM UNIPA dalam Mengembangkan Minyak Kelapa”

“Dari Rintisan Hingga Difasilitasi Pemerintah: Kisah Inspiratif LPPM UNIPA dalam Mengembangkan Minyak Kelapa”

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

22 Agustus 2023

Perjuangan panjang tim Pendampingan Masyarakat Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua untuk mendampingi masyarakat di Wau dan Weyaf sejak tahun 2013 dalam mengolah minyak kelapa akhirnya berbuah manis. Kurang lebih 10 tahun penguatan kapasitas masyarakat dan kekonsistenan untuk menghasilkan produk minyak kelapa yang berkualitas yang diproduksi oleh masyarakat Wau dan Weyaf akhirnya dilirik oleh pemerintah daerah setempat dalam hal ini oleh Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw.

Pada awal Agustus 2023 kemarin, Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw menyatakan komitmen mereka untuk membangun Rumah Produksi yang terletak di Kampung Wau dan Weyaf Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Pembangunan Rumah Produksi ini dilatarbelakangi oleh produksi minyak kelapa yang dihasilkan oleh masyarakat Wau dan Weyaf yang didampingi oleh tim Pendampingan Masyarakat LPPM UNIPA.

Tim dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA bersama dengan Kepala Dinas Pertanian dan Kepala Bidang Perkebunan Kabupaten Tambrauw melakukan kunjungan ke Kampung Wau dan Weyaf pada tanggal 12 Agustus 2023 dalam rangka melakukan “Sosialisasi Pembangunan Rumah Produksi Minyak Kelapa”. Sosialisasi ini dilakukan di balai Kampung Weyaf, namun turut dihadiri oleh seluruh masyarakat Wau dan Weyaf. Banyak topik yang dibahas pada sosialisasi ini, terutama yang memiliki hubungannya dengan pertanian, akan tetapi topik utamanya lebih menekankan untuk membahas produksi minyak kelapa.

Tim Sosialisasi tiba dengan perahu di Pantai Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Balai kampung Weyaf yang digunakan untuk Sosialisasi Rumah Produksi Minyak Kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Hasil produksi minyak kelapa yang dibuat oleh masyarakat Wau dan Weyaf cukup menggembirakan secara ekonomi. Namun, kendala yang mereka hadapi yaitu dalam pemasaran produk itu sendiri, karena perizinan dokumen yang dimiliki hanya ada PIRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) dan Sertifikat Halal saja. Sementara yang seharusnya dibutuhkan juga untuk kedepannya yaitu sertifikat dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), agar pemasaran produk dari minyak kelapa bisa lebih luas area penjualannya dan tingkat kepercayaan konsumen akan semakin lebih tinggi.

Tim Sosialisasi sedang menyampaikan rencana untuk membangun Rumah Produksi Minyak Kelapa kepada masyarakat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Antusias masyarakat Wau dan Weyaf untuk mengahadiri Sosialisasi Rumah Produksi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Oleh karena itu, masyarakat dengan antusias menyediakan tanah mereka untuk dibangun Rumah Produksi Minyak Kelapa seluas 6×10 meter persegi. Besar harapan mereka agar nantinya produk minyak kelapa ini menjadi alternatif tambahan pemasukan bagi mereka dan menjadi sumber pemasukan selain bertani / berkebun dan berburu.

Masyarakat menyambut baik tentang pembuatan Rumah Produksi Minyak Kelapa di kampung mereka
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Foto bersama tim sosialisasi dan masyarakat Wau Weyaf seusai Sosialisasi Rumah Produksi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Noken Rajutan sebagai salah satu alternatif penghasilan pada Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw

Noken Rajutan sebagai salah satu alternatif penghasilan pada Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw

Penulis

Kartika Zohar, Monica Arung Padang

Tanggal

04 Agustus 2023

Melalui dukungan International Sea Turtle Society (ISTS), Tim Sains untuk Konservasi di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNIPA melakukan pelatihan dan penguatan kapasitas bagi masyarakat yang berada di lima kampung di Distrik Abun dan Distrik Tobouw Kabupaten Tambrauw dalam bidang kerajinan tangan berupa noken rajutan yang berbahan dasar benang. Adapun lima kampung tersebut adalah kampung Resye, Womom, Syukwo, Wau, dan Weyaf. Kelima kampung ini terletak dekat dengan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, sebuah kawasan pantai peneluran terbesar bagi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang tersisa di Pasifik Barat.

Paulina Esyah Membuat Noken Rajutan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Martina Yenggren yang sedang didampingi oleh Pendamping Masyarakat Hermina Langoday membuat noken
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan Pelatihan dan Penguatan Kapasitas ini dilaksanakan sejak Februari hingga Juli 2023 ini. Dimulai dengan pembekalan bagi tenaga pendamping masyarakat dan narahubung yang menjadi fasilitator di lapangan, hingga pelatihan dan penguatan bagi total 10 orang perempuan yang tertarik untuk melakukan kerajinan tangan. Pelatihan dan pengembangan kapasitas ini dilakukan satu persatu (orang perorang) dengan metode diskusi dan melihat melalui video pelatihan. Setelah itu, para pengrajin ini kemudian berlatih untuk membuat karya nokennya secara mandiri. Sejak akhir Februari hingga kini, sedikitnya telah dihasilkan 48 buah noken rajutan. Noken-noken rajutan ini terdiri atas dua kombinasi warna dengan bagian tengahnya terdapat siluet penyu.

Ibu Agusta Sundoy, salah satu pengrajin noken rajut di Kampung Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kesepuluh pengrajin ini menggunakan waktu senggang mereka untuk menganyam noken rajutannya. Di sela-sela kesibukan mereka sebagai seorang ibu yang mengurus rumah tangga maupun berkebun, mereka membagi waktu dengan cukup baik. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan noken sekitar 10 hari, ini bergantung pada tingkat kesibukan mereka di kampung. Kami mencatat, waktu paling cepat yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 noken rajutan adalah 2 hari, dan yang tercatat paling lama yaitu 26 hari. Biasanya waktu yang lama ini karena mereka sedang keluar dari kampung, sehingga tidak fokus untuk menghasilkan noken rajutannya.

Salah satu Noken rajutan hasil kerajinan tangan Martina Yenggrean
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu Noken rajutan hasil kerajinan tangan Agusta Sundoy
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menganyam noken rajutan memiliki tantangan tersendiri karena terdapat pola siluet yang harus diikuti. Namun para perempuan ini tetap tekun menyelesaikan noken mereka dan ini membuat mereka semakin mahir untuk menghasilkan noken. Kami mencatat total penghasilan yang diperoleh oleh para pengrajin ini adalah Rp. 3.670.000, jumlah ini merupakan pendapatan bersih yang diterima oleh mereka (tidak termasuk modal benang dan jarum yang telah disediakan). Beberapa dari pengrajin wanita ini bahkan ada yang tertarik untuk membuat noken rajutan secara konsisten sehingga mempunyai penghasilan yang pasti di waktu senggang mereka.

Pelatihan dan pengembangan kapasitas masyarakat ini merupakan bagian dari upaya konservasi penyu yang dilakukan di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Anggota masyarakat ini memperoleh manfaat secara langsung dengan mendapat penghasilan dan keahlian merajut yang dapat digunakan di masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Berbagi Cerita Konservasi melalui Kegiatan Harvesting Gerakan Nasional di Papua Barat

Berbagi Cerita Konservasi melalui Kegiatan Harvesting Gerakan Nasional di Papua Barat

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

13 Mei 2023

Produk lokal yang ada di Papua Barat sangat beragam jenisnya. Bank Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat mengajak beberapa UMKM di Papua Barat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan mempromosikan produk lokal untuk kemudian masuk ke pasar internasional.
Selama 3 hari, mulai dari Senin-Rabu, 08-10 Mei 2023 telah diadakan pameran dengan tema “Harvesting Gerakan Nasional: Bangga Buatan Indonesia dan Bangga Berwisata di Indonesia”. Banyak sekali peristiwa dan kegiatan menarik yang telah disediakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya menggunakan produk lokal yang tidak kalah menarik dengan produk di luar daerah, sehingga pemerintah diharapkan untuk dapat dan terus memberikan dukungan kepada pelaku usaha lokal. Selain itu diadakan pameran kesenian dan budaya agar masyarakat tertarik melakukan kegiatan wisata di wilayah Papua Barat.

Gerbang masuk menuju ke pameran
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Booth pameran produk lokal Abun
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Dari 55 UMKM unggulan yang diikutsertakan, Produk Lokal Abun ikut hadir menjadi salah satu produk yang dipasarkan pada pameran kemarin, dengan menampilkan produk lokal yakni Minyak Kelapa dan Noken dari Abun, Kab. Tambrauw. Kami dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA antusias mengikuti kegiatan ini karena ini merupakan potensi kami untuk mempromosikan produk lokal yang dibuat oleh masyarakat yang tinggal di kampung-kampung yang berdekatan dengan Taman Pesisir Jeen Womom. Promosi Produk Lokal Abun merupakan salah satu bagian penting dari misi kami untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.

UMKM lainnya yang mengikut kegiatan ini terdiri dari sektor kriya, makanan, minuman, fashion, dan teknologi. Panitia bekerja dengan sangat baik. Kami melihat tata letak booth di pameran disusun sangat menarik, indah dan artistik; cocok untuk muda-mudi yang ingin mengambil foto dan video pada kegiatan di pameran tersebut. Masing-masing booth UMKM tersebut dihimbau untuk melakukan transaksi menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), dengan memindai kode barcode dari handphone dan membayar sesuai dengan harga produk yang dipasarkan. “Pelaksanaan kurasi (Kegiatan mengelola produk lokal dalam pameran ini-Red) bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk, menciptakan diversifikasi serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang tren atau perkembangan pasar bagi pelaku usaha agar dapat memenuhi kebutuhan dan selera konsumen yang semakin beragam serta mampu memasuki ekosistem digital” kata pak Dance Sangkek selaku PJ Sekda Papua Barat yang dikutip dalam video Youtube TVRI Papua Barat.

Booth produk lokal Abun
(Foto: S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Tampilan booth pameran dari berbagai UMKM dan Instansi
(Foto: S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Keterlibatan dan antusias dari masyarakat Manokwari, dapat dilihat dari ramainya pengunjung; musim pancaroba tidak menjadi halangan bagi masyarakat yang bergantian berkunjung dari pagi hingga malam hari. “Hujan hanya membasahi, bukan menghalangi” ujar dari penjaga booth, Monika Arung Padang, sebagai staf Tenaga Pengolahan dan Pemasaran Produk Lokal Abun. Ada beberapa dari kami dari Program Sains untuk Konservasi yang datang langsung melihat rangkaian keseruan selama 3 hari, kami juga turut serta dengan lomba yang diadakan oleh panitia kegiatan yaitu lomba Photo Booth. Di akhir dari kegiatan ini, ditutup dengan konser musik dari artis lokal dengan menghujani lagu-lagu hits.
Pameran ini bisa menjadi inspirasi untuk UMKM yang ada di Papua Barat, untuk terus mengoptimalkan penggunaan QRIS dapat dilakukan oleh penjual dan pembeli di pasar, dengan meningkatkan proses pembelanjaan secara modern di Papua Barat.
Melalui pameran ini, kami berhasil menjual Noken dan Minyak Kelapa kepada beberapa pengunjung. Kami sangat senang karena kami punya kesempatan untuk bercerita tentang program konservasi yang kami lakukan di Taman Pesisir Jeen Womom kepada para pengunjung booth kami melalui Noken dan Minyak Kelapa yang dijual.

Tampak booth pameran di malam hari
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Tampilan suasana booth pameran di malam hari
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya