Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template Uncategorized @id

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Penulis

Yusuf Jentewo

Tanggal

30 Maret 2026

Gagasan pembentukan kelompok kerja penyu belimbing Indonesia pertama kali mengemuka dalam Leatherback Expert Meeting di Jakarta pada September 2025. Dari ruang diskusi tersebut, muncul kesadaran bersama akan pentingnya sebuah wadah kolaboratif yang dapat menyatukan berbagai pihak dalam upaya pelestarian penyu belimbing di Indonesia. Sebagai langkah awal, dilakukan penyebaran kuesioner penjaringan aspirasi pada 2–30 November 2025 kepada instansi dan kelompok terkait. Sebanyak 18 responden berpartisipasi dan secara kuat menyuarakan bahwa kelompok kerja ini perlu segera dibentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pertemuan inisiasi akhirnya dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam proses ini, Program Sains untuk Konservasi (S4C) tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga berperan sebagai salah satu penggerak utama. Keterlibatan ini berangkat dari pengalaman panjang tim S4C dalam melakukan upaya pelestarian penyu—khususnya penyu belimbingdi Taman Pesisir Jeen Womom, yang menjadi salah satu lokasi kunci bagi keberlangsungan populasi penyu belimbing di Pasifik Barat.

Pemaparan materi oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupang 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Kelompok kerja ini diperlukan sebagai wadah kolaborasi pemerintah, pemerhati, praktisi, dan peneliti penyu belimbing di Indonesia. Pertemuan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Jakarta serta daring melalui Zoom bagi mitra di daerah. Sekitar belasan peserta hadir langsung dan 62 peserta mengikuti secara daring. Peserta berasal dari satu direktorat KKP, empat balai pengelolaan kelautan (Denpasar, Kupang, Pontianak, dan Pekanbaru), dua loka pengelolaan kelautan, tiga universitas dalam negeri (Universitas Syiah Kuala, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi), dua universitas luar negeri (University of Hawaii dan Wageningen University), dua laboratorium genetik, serta tiga yayasan lingkungan.

Pertemuan ini dibuka oleh perwakilan Direktorat Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang menyampaikan bahwa penyu belimbing merupakan spesies prioritas dalam EPANJI serta tercakup dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) penyu Indonesia. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 13 pemateri yang memaparkan program pemantauan penyu belimbing, mencakup aktivitas di pantai peneluran, interaksi dengan nelayan, temuan individu terdampar, serta analisis genetik spesies ini.

Pemaparan materi oleh Program Sains untuk Konservai, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Deasy Lontoh)

Program Sains untuk Konservasi (S4C), yang diwakili oleh Deasy Lontoh sebagai koordinator penelitian penyu, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, perlindungan sarang, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadartahuan terkait penyu. Dalam paparannya, disampaikan bahwa Pantai Jeen Womom di Tambrauw, Papua Barat Daya, merupakan salah satu lokasi peneluran utama bagi penyu belimbing subpopulasi Pasifik Barat. Lebih jauh, Deasy juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian spesies, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kemitraan, guna memastikan keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang. Dalam sesi yang sama, perwakilan lembaga lain turut memaparkan keberadaan penyu belimbing dari populasi Samudra Hindia yang bertelur di sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan.

Pemaparan awal terkait kebijakan penyu di Indonesia
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Materi yang dipaparkan menegaskan bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi penyu belimbing, spesies penyu terbesar yang masih hidup. Keberadaan dua populasi, yaitu Pasifik dan Hindia, menjadikan Indonesia wilayah yang unik. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi instansi, peneliti, dan pemerhati dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah tersebut.

Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai bentuk kelompok kerja dan peluang kolaborasi ke depan. Kelompok ini diharapkan aktif dan produktif dalam menghasilkan luaran kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kapasitas melalui pertukaran metode dan pembelajaran dari berbagai lokasi.

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Yaku Danyel Bafat: Menjaga dan Melindungi Penyu di Jeen Syuab Selama Musim Teduh dan Musim Ombak

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Yaku Danyel Bafat: Menjaga dan Melindungi  Penyu  di Jeen Syuab Selama Musim Teduh dan  Musim Ombak 

Penulis

Danyel Bafat

Tanggal

05 Maret 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo teman-teman, perkenalkan saya Danyel Bafat. Banyak teman atau orang terdekat biasa memanggil saya dengan sebutan Dani atau Niel. Saya bergabung dalam Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA pada tahun 2024. Tepat pada tanggal 15 April 2024, saya resmi menjadi tim pantai (kru) dan ditempatkan di Pos Jeen Syuab untuk dua musim, yaitu musim teduh dan musim ombak. Sebagai penjelasan, Pantai Jeen Syuab memiliki dua musim peneluran, yaitu musim teduh pada bulan April hingga September dan musim ombak pada bulan Oktober hingga Maret. Saya menjadi Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Jeen Syuab dari April 2024 hingga Maret 2026.

Pengalaman ini sangat berharga bagi saya. Sejak kecil, saya sering melihat penyu dewasa dan telur penyu karena saya berasal dari kampung yang berdekatan dengan pantai peneluran penyu Jeen Syuab, tetapi belum pernah melihat tukik (anak penyu). Baru setelah bergabung sebagai kru, saya bisa melihat dan memegang tukik hasil relokasi sarang yang dipindahkan ke kandang relokasi.  Tujuan saya bergabung dalam tim pantai Program Sains untuk Konservasi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) adalah untuk belajar dan bekerja dalam upaya konservasi penyu di Kabupaten Tambrauw yang kini terancam akibat perburuan daging penyu serta pengambilan telur untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan. Saya percaya dengan hadirnya LPPM UNIPA, penyu di Tambrauw dapat selamat dari berbagai ancaman tersebut. Penyu sangat penting bagi ekosistem laut dan juga menjadi kebanggaan masyarakat Tambrauw serta Tanah Papua.

Dalam upaya ini, UNIPA juga berkomitmen untuk terus meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan di pantai peneluran. Berbagai perannya termasuk yang sudah berjalan seperti penyediaan kandang relokasi, tenaga pemindahan sarang, dan patroler lokal yang berkontribusi penting dalam kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang.

Pengukuran kedalaman logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Tim sedang merelokasi sarang yang terancam pasang surut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Saat pertama tiba di Pos Wermon, saya dilatih oleh Kakak Jhoni Mau (TLP2 lama) dan Petrus Batubara (Koordinator Pantai) mengenai aktivitas monitoring malam: mengukur penyu, melakukan scan, dan memasang penanda pada penyu baru. Pagi hari biasanya kami berolahraga sambil melakukan monitoring jejak penyu, menikmati pemandangan pantai yang indah, dan suara ombak yang merdu. Seiring berjalannya waktu, saya semakin terbiasa melakukan monitoring malam secara mandiri hingga pagi hari.

Dalam monitoring malam, saya bertemu banyak penyu baru dan juga penyu lama dengan nomor penanda PIT (Passive Integrated Transponder) tag berawalan 12 dan 13. Penyu lama ini biasa disebut “orang lama” karena sudah naik sejak tahun 2010–2015. Bahkan saya pernah bertemu penyu lama dengan PIT tag tanggal 25 Januari 2006. Menariknya, penyu baru yang dipasang penanda bisa kembali naik hingga 7 kali dalam sebulan selama masih bertelur. Dari sini saya belajar bahwa tidak semua penyu hilang setelah naik. Mereka hanya pergi mencari makan atau kawin hingga ke Amerika atau tempat lain, tapi tetap kembali ke Pantai Jeen Syuab sebagai tempat ternyaman untuk bertelur. Selain penyu belimbing, saya juga sering bertemu penyu sisik, penyu hijau, dan jenis penyu kecil lainnya yang biasanya naik paling banyak pada bulan April hingga Juni.

Pengukuran lebar karapas penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Proses scan penanda PIT Tag kepada penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Suatu kebanggaan bagi saya saat bekerja di musim teduh adalah ketika dilatih dan dipercaya membawa perahu Vien, menjaga genset pos, mengontrol sarang relokasi, serta menginput data untuk dikirim ke kantor. Tantangan terbesar adalah saat monitoring malam, kadang bertemu dengan hewan melata yang berbahaya, seperti ular, dan buaya. Saat membawa perahu, salah hitung ombak bisa berbahaya karena ombak bisa masuk ke perahu. Kadang saat menjemput barang di kapal, kami harus berhadapan dengan gelombang besar dan angin kencang. Namun, kami selalu percaya masih dalam lindungan Tuhan.

Tantangan di musim ombak berbeda. Pantai hanya selebar 10 meter dengan tebing curam. Setiap hari Sabtu kami berjalan kaki pulang-pergi sejauh 12 km menuju kampung untuk mengikuti ibadah Minggu. Biarpun bekerja keras di pantai peneluran, kami senang ketika kembali ke kampung, selain beribadah, juga berjumpa dengan masyarakat lain untuk berbagi cerita.

Dalam upaya melindungi penyu dan sarangnya di Pantai Jeen Syuab, saya menyadari bahwa penyu belimbing telah memilih pesisir Pantai Jeen Womom di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw sebagai tempat yang nyaman untuk bertelur. Ini menjadi berkat sekaligus kepercayaan bagi kita untuk memastikan mereka tetap merasa aman di pantai ini, sehingga terus kembali untuk bertelur di masa mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Heading

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Dari ...
/

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Dari ...
/

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Mengajar: ...
/

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026 Salam Lestari…Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang ...
/

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Cerita ...
/

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana PenulisYusup JentewoTanggal02 April 2026 Pada 9–14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah “The 12th ...
/
Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Dari Manokwari ke Warmamedi: Cerita Vio Menjaga Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Manokwari ke Warmamedi: Cerita Vio Menjaga Penyu

Penulis

Yusuf Adrian Jentewo

Tanggal

22 September 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Angelica Violin Karubaba, atau sering dipanggil Vio oleh teman-temannya, merupakan anak Manokwari yang berkesempatan menjadi tenaga magang di periode pertama bulan Mei-Juli 2025. Ini sedikit cerita terkait magang Vio di salah satu peneluran penyu Tambrauw, yaitu Pantai Warmamedi. Pada awalnya, ia mendapat informasi terkait magang ini dari grup PAM (Persekutuan Anggota Muda) gereja dan merasa tertarik karena ia belum pernah melihat penyu secara langsung. Walaupun ini bukan pekerjaan pertamanya, magang ini adalah pekerjaan di bidang konservasi laut pertama bagi Vio.

Tenaga magang merupakan salah satu posisi di tim Monitoring Penyu dan Perlindungan Sarang, Program Sains untuk Konservasi, LPPM Universitas Papua (UNIPA) di pantai peneluran Jeen Womom. Posisi ini berfokus menunjang usaha perlindungan sarang penyu. Vio membantu melindungi sarang-sarang penyu di Pantai Warmamedi dengan dua metode, yaitu pagar untuk sarang penyu belimbing dan percobaan perlindungan fiber glass untuk penyu sisik. Di Pantai Warmamedi, Vio bertugas bersama Spenyel (koordinator pantai), Denis (tenaga lapangan), Antho (tenaga lapangan), dan Kofifa (tenaga lapangan).

Vio menulis papan nomor sektor di Pos Warmamedi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Selain fokus pada perlindungan sarang, Vio juga terlibat dalam pekerjaan lain seperti patroli malam. Aktivitas ini bertujuan mendata individu penyu yang naik ketika malam. Saat patroli, tim berjalan di sepanjang pantai pada malam hari. Aktivitas ini menarik bagi Vio karena ia dapat merasakan uniknya berjalan, duduk, dan memantau penyu bersama tim. Vio juga beberapa kali berkesempatan membantu menandai penyu dengan PIT (Passive Integrated Transpondertag. Awalnya, hal ini menantang baginya. Namun, setelah diajari beberapa kali oleh teman timnya, ia pun dapat melakukannya.

Seperti motivasinya di awal, di pantai Vio berhasil berjumpa langsung dengan penyu, bukan hanya satu jenis melainkan empat jenis. Pada malam pertama patroli, ia menemukan penyu lekang yang sedang bertelur. Di malam ketiga, ia berjumpa dengan penyu belimbing dan penyu hijau. Penyu hijau yang ia lihat sangat sensitif ketika didekati. Di antara keempat jenis penyu, yang paling jarang terlihat adalah penyu sisik. Vio beruntung melihatnya langsung saat berenang di pinggir kapal. Menurutnya, penyu merupakan hewan yang sangat cantik dan perlu dilestarikan.

Vio mengukur lebar karapas penyu belimbing menggunakan meteran saku
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Vio memindai PIT tag pada penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Violin Karubaba)

Baca juga : Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Seperti layaknya pekerjaan di lapangan, tidak semua menyenangkan. Vio pernah mengalami sakit di lapangan pada bulan Mei. Dia mengalami demam dan sakit lambung karena adaptasi dengan pekerjaan. Vio sampai harus dilarikan ke puskesmas di Kwor (pusat distrik) dan selanjutnya ke Manokwari. Namun, di situlah dia melihat kekompakan teman-teman yang saling membantu dan memperhatikannya. Akhirnya, ia dapat kembali bergabung dengan tim pada awal Juni.

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Selain bekerja, Vio juga senang menikmati suasana alam di pantai peneluran. Keindahan sunset dan sunrise adalah waktu favoritnya, di mana langit berwarna jingga dan pepohonan bertemu pantai serta laut, menciptakan landscape yang menakjubkan.

Selama tiga bulan bekerja di lapangan, Vio semakin mengenal satwa penyu secara langsung dan menumbuhkan rasa sayang terhadap hewan ini. Dia sangat menyayangkan masih ada orang yang berburu penyu di lokasi lain. Dia pun mengapresiasi pekerjaan tim lapangan di pantai peneluran yang ia sebut “di luar prediksi” karena sangat berdedikasi dalam menjaga penyu dan melindungi sarang-sarang di sana.

Akhir kata, Vio dalam wawancaranya mengucapkan terima kasih atas kesempatan bekerja sebagai tenaga magang ini, dan apabila terdapat hal yang tidak berkenan selama dia bekerja, ia mohon maaf sebesar-besarnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Jackson: Menjaga Penyu di Pantai Wembrak

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Jackson: Menjaga Penyu di Pantai Wembrak

Penulis

Jackson Bundah

Tanggal

13 Juli 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo Sobat Lestari! perkenalkan saya Jackson Bundah, tetapi banyak yang memanggil saya dengan sebutan “Jacky” dan “Jek”. Sebelum saya bergabung di Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, saya pernah bergabung dalam tim yang lain di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA. Sejak tahun 2023 hingga Februari 2025, saya bergabung dalam tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosial Ekonomi. Dan terhitung bulan Maret 2025 saya diberi kesempatan untuk bergabung bersama kru pantai (begitu istilah yang diberikan untuk kami yang bekerja memantau dan melindungi sarang penyu di pantai). Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Alasan saya tertarik bergabung dalam tim ini adalah karena saya ingin memperluas wawasan dan pengalaman saya dibidang konservasi, khususnya di bidang pelestarian penyu yang unik dan penuh tantangan. Saya percaya bahwa pelestarian penyu tidak hanya penting bagi keseimbangan ekosistem laut, tapi juga menjadi bagian dari warisan alam yang harus kita jaga bersama. Apalagi penyu yang akan saya temui adalah penyu belimbing, si penjelajah laut dari pesisir Papua hingga ke pesisir Amerika Serikat! Saya sangat takjub saat pertama kali menginjakan kaki di Pantai Jeen Yessa karena tidak menyangka bahwa pantainya memiliki pemandangan yang sangat bagus dan memanjakan mata. Selain itu, banyak hal baru serta tantangan seru dan menarik yang saya dapatkan selama bekerja di Pantai Jeen Yessa. Siapa sangka, saya yang jarang melihat penyu dan hanya mengenal penyu dari cerita teman-teman, pada akhirnya bekerja untuk konservasi penyu di salah satu pantai peneluran terbesar di Pasifik Barat! Saya ditugaskan di Pos Pemantauan Pantai Wembrak, Jeen Yessa. Salah satu pengalaman yang paling seru bagi saya adalah ketika kami harus mengantar bahan makanan dan beberapa kebutuhan ke pos-pos di pantai lain menggunakan perahu. Sebelum menepi ke pantai atau saat mau keluar dari pantai, kami harus menghitung deburan ombak yang datang agar perahu kami tidak dimasuki air atau agar tidak terbalik bila ada ombak besar.  Kalau salah perhitungan, sudah pasti perahu bisa terbalik; kru pantai menyebutnya dengan istilah “salto biawak”, hal penting yang saya pelajari adalah cara menyiapkan bama (bahan makanan) atau perlengkapan pos di setiap pantai dengan benar agar semua perlengkapan aman dan tidak mudah rusak. Selain itu, saya juga harus belajar menghitung ombak dengan teliti sebelum masuk ke pantai. Kalau salah perhitungan, sudah pasti perahu bisa terbalik seperti salto biawak, yang tentu sangat berbahaya. Kadang, ketika ombak sedang besar, saya harus mendorong perahu ke laut dengan cara menggantungkan badan di perahu supaya tetap seimbang dan tidak terbawa arus. Pengalaman ini sangat menantang sekaligus mengajarkan saya untuk selalu waspada dan beradaptasi dengan kondisi laut yang sangat dinamis.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat saya pertama kali melihat penyu bertelur di Pantai Wembrak. Melihat langsung proses penyu bertelur adalah pengalaman yang jarang didapatkan banyak orang. Meskipun awalnya saya sempat takut, terutama saat melihat penyu belimbing yang ukurannya cukup besar, perlahan rasa takut itu hilang dan saya mulai terbiasa dengan kehadiran mereka. Momen itu membuat saya semakin mengagumi keindahan dan keajaiban alam yang tersembunyi di balik pantai yang saya kunjungi. Selain penyu belimbing, di sana saya bertemu dengan beberapa jenis penyu lainnya seperti penyu lekang dan penyu hijau.

Mengukur panjang karapas induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengukur lebar karapas induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pantai Wembrak hingga Pantai Batu Rumah menjadi tempat favorit saya untuk berlatih menjaga kebugaran. Area ini saya anggap sebagai sport center karena di sini saya tidak perlu mencari tempat lain untuk olahraga. Kondisi pantai yang asik dan suasananya yang mendukung membuat saya nyaman berlatih setiap hari. Selain itu, berlatih di tengah alam terbuka seperti pantai membuat saya merasa lebih segar dan semangat, berbeda dengan berolahraga di tempat gym atau lapangan biasa. Pantai ini juga memberikan energi positif yang membantu saya tetap optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain pengalaman dan latihan fisik, saya juga mendapatkan banyak teman baru dari tiga pantai yang saya kunjungi. Mereka adalah teman-teman yang asik dan memiliki banyak cerita unik tentang kehidupan di pesisir. Selain itu, saya juga bertemu dengan orang-orang kampung yang sangat ramah dan bersahabat. Interaksi dengan mereka membuat pengalaman saya semakin berwarna dan menyenangkan. Mereka selalu menyambut saya dengan hangat, memberikan bantuan, dan berbagi cerita tentang budaya serta kebiasaan setempat yang saya anggap sangat menarik.

Memasang chip pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Dari keseluruhan perjalanan ini, saya belajar banyak hal tidak hanya tentang alam dan tantangan fisik, tapi juga tentang nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Setiap pantai dan orang-orang yang saya temui membawa warna dan pelajaran baru dalam hidup saya. Pengalaman ini membuat saya merasa lebih dekat dengan alam sekaligus memperkaya wawasan sosial saya. Saya sangat bersyukur bisa merasakan langsung keindahan dan keunikan dari pantai-pantai tersebut, serta bertemu dengan teman-teman dan masyarakat lokal yang begitu ramah dan hangat. Sampai disini perkenalan singkat dari saya, jangan pernah bosan untuk membaca cerita seru kami dari pantai peneluran, jika teman teman pembaca ada waktu kesempatan, mari! datang dan berkunjung di Pantai Jeen Yessa, melihat penyu dan menikmati indahnya alam Papua di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Dari Papua ke Aceh: Mempelajari Konservasi Penyu

Dari Papua ke Aceh: Mempelajari Konservasi Penyu

Penulis

Petrus Batubara, M. Faisal, Thomas Homba homba, Michael Tuhuteru

Tanggal

18 Februari 2025

Pada tanggal 21 Januari – 1 Februari 2025 Tim Konservasi Penyu Belimbing Aceh dan Papua melakukan pertukaran kunjungan yang pertama. Pada kunjungan pertama ini, Tim Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA melakukan kunjungan ke Yayasan Penyu Indonesia (YPI) di Pantai Along, Simeulue, Aceh.

Tujuan pertukaran kunjungan ini adalah pembandingan metode konservasi pada dua populasi penyu belimbing yang berbeda, yaitu penyu belimbing Samudera Pasifik dan penyu belimbing Samudera Hindia.

Aspek yang dinilai adalah :

  • Susunan tim lapangan dan monitoring pelaksanaan tugas
  • Pengambilan dan pengelolaan data
  • Relokasi sarang dan pengelolaan hatchery
  • Kerjasama dengan masyarakat setempat.

Pertukaran kunjungan ini merupakan proyek peningkatan kapasitas yang didanai oleh Darwin Initiative melalui Turtle Foundation.
Tim Papua mengunjungi beberapa lokasi yaitu Desa Along, Desa Langi, dan Pulau Salaut.

Kunjungan ke hatchery kelompok konservasi penyu dan hatchery pulau Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Kunjungan ke hatchery kelompok konservasi penyu dan hatchery pulau Salaut
(Foto : Thomas-S4C_LPPM UNIPA)

Kunjungan ke Desa Along: Pertukaran Pengetahuan Konservasi

Desa Along menjadi lokasi pertama kegiatan pertukaran kunjungan. Tim berada di Desa Along selama empat hari (21-24 Januari 2025) dan banyak mempelajari teknik konservasi yang diterapkan oleh kelompok yang beranggotakan enam orang ini. Pantai Along memiliki karakteristik unik karena berada dekat dengan pemukiman, berbeda dengan Pantai di Papua yang lebih terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Keberadaan masyarakat di sekitar pantai membawa tantangan tersendiri, seperti aktivitas perikanan dan pengambilan telur penyu yang dapat mengganggu proses peneluran alami. Oleh karena itu, pendekatan sosialisasi dan edukasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan konservasi.

Diskusi bersama kelompok konservasi penyu Aceh
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Monitoring malam bersama kelompok konservasi penyu dan Ranger Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Tim berkenalan dengan kelompok konservasi setempat dan bertukar pengalaman mengenai metode kandang relokasi di Papua, khususnya di Pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Salah satu perbedaan utama yang ditemukan adalah bahwa kandang relokasi di Simeulue tidak menggunakan naungan atau atap.

Tim kemudian mengamati langsung proses evaluasi sarang penyu, yang mencakup identifikasi telur yang gagal menetas dan pembuangan cangkang ke laut untuk menghindari predator seperti anjing. Prosedur ini dilakukan dengan sangat detail oleh tim YPI, meskipun tim Papua menyampaikan bahwa metode serupa pernah diterapkan tetapi telah dikaji ulang.

Foto bersama dengan kelompok konservasi penyu pantai peneluran Mafal
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama di basecamp tim penyu Pulau Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Pada malam harinya, tim mengikuti patroli malam bersama kelompok konservasi Mafal, yang dibagi dalam dua shift:

  • Shift 1 (21:00 – 02:00 WIB): Monitoring dan penandaan sarang.
  • Shift 2 (02:00 – 06:00 WIB): Monitoring, relokasi, dan evaluasi sarang penyu.

Eksplorasi di Desa Langi dan Pulau Salaut

Selanjutnya, tim melanjutkan perjalanan ke Desa Langi, yang merupakan basecamp YPI Simeulue, dan melakukan berbagai kegiatan konservasi dari 24-26 Januari 2025. Pada malam hari, tim mengikuti patroli di Pantai Peneluran Mafela (Lubuk Baik) untuk mengamati lebih lanjut metode konservasi yang diterapkan di sana.
Dari 26-29 Januari 2025, tim melanjutkan perjalanan ke Pulau Salaut menggunakan speed boat dengan waktu tempuh sekitar satu jam dalam kondisi cuaca baik. Di Pulau Salaut, tim berkenalan dengan para ranger YPI dan melakukan diskusi mendalam mengenai konservasi penyu di Papua dan Aceh. Selain itu, tim juga diajak untuk melakukan patroli, mengamati kondisi pantai peneluran, kandang hatchery, serta mengikuti rangkaian patroli malam.
Selain belajar dari metode yang diterapkan, tim Papua juga berdiskusi dengan komunitas lokal dan pengelola konservasi untuk memahami tantangan yang dihadapi serta bagaimana mereka mencari solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Hasil kunjungan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan meningkatkan efektivitas upaya konservasi penyu belimbing. Sebagai langkah selanjutnya, tim YPI dari Simeulue berencana melakukan kunjungan balasan ke Papua pada bulan Juni 2025.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Maju Bersama Indonesia Raya: Pemuda Papua di Garda Terdepan Konservasi Penyu Belimbing

Maju Bersama Indonesia Raya: Pemuda Papua di Garda Terdepan Konservasi Penyu Belimbing

Penulis

Noviyanti

Tanggal

24 Oktober 2024

Dilansir situs resmi Kemenpora RI, Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-96 tahun 2024 mengusung tema “Maju Bersama Indonesia Raya”. Tema ini mengusung semangat sinergi dan kolaborasi pemuda. Selain itu, tema Hari Sumpah Pemuda 2024 diharapkan mendorong para pemuda Indonesia untuk berkontribusi membawa bangsa menuju kejayaan global. Semangat ini mengantarkan kami untuk berbagi cerita tentang tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA yang bekerja bahu membahu bersama masyarakat lokal untuk melakukan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Taman Pesisir Jeen Womom. Tugas penting ini memberi kontribusi secara global untuk konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), spesies penyu terbesar di dunia.

Wilayah pesisir Kepala Burung Papua di Kabupaten Tambrauw merupakan wilayah peneluran penting bagi penyu belimbing yang bermigrasi ke laut Amerika bagian barat untuk makan disana. Penelitian penyu dan upaya perlindungan dilakukan di kedua sisi Samudera Pasifik. Penelitian dari Tapilatu dkk tahun 2013 memperkirakan aktivitas peneluran penyu belimbing di wilayah Taman Pesisir Jeen Womom menurun 5,9% per tahun dari tahun 1984 hingga 2011.

Telur penyu belimbing di sarang relokasi pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Pelepasan tukik penyu belimbing di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) turut mengambil bagian dalam upaya global untuk memulihkan populasi penyu belimbing di wilayah samudra Pasifik. Upaya konservasi holistik dilakukan agar tujuan ini bisa tercapai. Tim LPPM UNIPA menjalin kerjasama dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan penyu belimbing di daerah ini. Di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang berada di Distrik Abun dan Tobouw, tim LPPM UNIPA bersama masyarakat lokal dari 5 kampung dekat pantai peneluran yakni; Kampung Resye, Kampung Womom, kampung Syukwo, Kampung Wau, dan Kampung Weyaf. Tim berupaya untuk melindungi sebanyak mungkin sarang penyu belimbing agar produksi tukik maksimal untuk menopang populasi. Setiap tahunnya kru pantai*) direkrut dan diberikan pelatihan untuk memastikan mereka bekerja sesuai prosedur ilmiah yang sudah ditetapkan.

Masyarakat kampung Wau Weyaf melakukan pelepasan tukik penyu belimbing di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Dalam melaksanakan tugasnya, kru pantai juga berupaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam perlindungan penyu dengan pelatihan dan bekerja di pantai peneluran bersama-sama dengan kru pantai. Sebagian dari masyarakat yang tinggal di kampung-kampung di dekat pantai peneluran bertindak sebagai tenaga patroli lokal. Mereka bekerjasama dengan tim LPPM UNIPA dalam kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Peran mereka sangat penting. Kearifan lokal yang mereka miliki sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi letak sarang penyu. Dari data yang tercatat, tingkat akurasi tenaga patroli lokal dalam mengidentifikasi sarang penyu belimbing mencapai angka 94.7%! Pada musim ombak di pantai Jeen Yessa, dimana tim LPPM UNIPA tidak bisa mengirimkan kru pantai karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, tenaga patroli lokal mencatat jumlah penyu yang naik bertelur. Bahkan ketika pandemi COVID-19, dimana pembatasan perjalanan membuat hampir seluruh pantai peneluran di berbagai negara kehilangan kesempatan untuk melakukan kegiatan pemantauan penyu, tenaga patroli lokal justru menjadi tenaga andalan kala itu.

Masyarakat lokal juga terlibat dalam membuat kandang relokasi yang digunakan sebagai area aman membenamkan sarang dari lokasi yang terancam. Kandang relokasi merupakan kandang semi tertutup dengan bentuk persegi yang dibuat di dekat dengan areal peneluran dan di atas batas pasang. Setiap musim peneluran, tim LPPM UNIPA selalu melibatkan masyarakat lokal untuk membangun kandang relokasi. Karena kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahunnya, masyarakat sudah terbiasa dan dapat membuat kandang relokasi yang sesuai dengan prosedur ilmiah yang ditetapkan oleh tim LPPM UNIPA. Tim LPPM UNIPA juga melatih dan mendampingi masyarakat lokal dalam memindahkan sarang penyu belimbing ke kandang relokasi agar sukses penetasan sarang tetap terjaga. Para tenaga relokasi menerima upah per sarang yang mereka pindahkan. Upah yang diterima dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga, biaya sekolah, atau kebutuhan keluarga lainnya.

Masyarakat membuat perlindungan sarang untuk telur penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Faisal)

Masyarakat membuat perlindungan sarang telur penyu dari ancaman predator
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Faisal)

Kami melakukan wawancara singkat dengan Faisal, salah satu kru pantai yang sudah bekerja sejak tahun 2020. Faisal bercerita bahwa bekerja bersama masyarakat lokal sangat menyenangkan. Kehadiran mereka memberi warna dalam keseharian kru pantai. Seringkali di waktu-waktu istirahat, mereka berkumpul bercerita kisah pengalaman hidup hingga bercanda bersama. Mereka sering sekali membawakan kru pantai sayur-sayuran dari kampung mereka atau membawa daging hasil buruan di hutan untuk dimakan. “Kehadiran masyarakat lokal di pos pemantauan penyu sangat penting. Ketika ada hal-hal teknis dalam membangun pos yang tidak kami ketahui, beberapa dari mereka bekerjasama dengan kami membangun fasilitas-fasilitas pos kami.” Ujar Faisal ketika bercerita mereka pernah membangun fasilitas di pos pemantauan penyu tempat mereka bekerja.

Kisah kolaborasi ini tidak hanya menjadi upaya melindungi satwa langka, tetapi juga menggambarkan semangat persatuan dan sinergi pemuda serta masyarakat lokal dalam menjaga warisan alam Indonesia. Dengan semangat ‘Maju Bersama Indonesia Raya’, kita percaya bahwa langkah-langkah kecil di pesisir Papua ini akan berdampak besar bagi masa depan ekosistem dunia.

Footnotes: Kru pantai adalah istilah yang digunakan untuk tenaga patroli yang direkrut tim LPPM UNIPA yang berasal dari alumni berbagai universitas.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan : Kisah Komunitas Wau dan Weyaf Membangun Kandang Relokasi Penyu

Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan: Kisah Komunitas Wau dan Weyaf Membangun Kandang Relokasi Penyu

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

03 Juni 2024

Di Kampung Wau dan Weyaf, komunitas Gereja Katolik penuh semangat dan kebersamaan, berupaya mengumpulkan dana untuk kegiatan Natal di Gereja Katolik St. Agustinus Wau. Mereka mengajukan kepada Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA terutama untuk kru monitoring penyu di Pantai Jeen Syuab untuk membangun kandang relokasi penyu di lokasi tersebut. Mereka berharap dapat dana yang terkumpul dari pembuatan kandang relokasi tersebut dapat menjadi pemasukan untuk kegiatan Natal di gereja mereka.

Pantai Jeen Syuab dengan pasir hitam yang panjang merupakan tempat ideal bagi penyu untuk bertelur. Namun pantai ini tidak lepas dari berbagai ancaman seperti invasi akar Ipomoea sp., suhu pasir tinggi, predasi, abrasi pantai, dan genangan air pasang. Pemindahan sarang ke kandang relokasi merupakan strategi yang diterapkan tim LPPM UNIPA untuk melindungi dari ancaman tersebut. Menyadari hal ini, masyarakat Katolik di Wau dan Weyaf berinisiatif untuk membantu mendirikan kandang relokasi sebagai bagian dari usaha konservasi yang juga bisa memberikan pemasukan untuk kas gereja mereka.

Pekerjaan pembangunan kandang dimulai dengan semangat yang membara. Hari yang dijadwalkan pun tiba, warga dari berbagai kalangan usia berkumpul di pantai, total kurang lebih ada sekitar belasan orang. Mereka membawa bahan-bahan yang diperlukan, seperti bambu, daun kelapa, alat-alat pertukangan dan bahan makanan. Setiap orang memiliki peran masing-masing: kaum pria dan pemuda bertugas menggali lubang dan memasang tiang-tiang kayu, sementara para wanita menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja.

Pengiriman bahan pembuatan kandang menggunakan perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pembuatan tenda untuk masyarakat yang tinggal di pantai peneluran Wermon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari pertama, suasana penuh dengan semangat gotong royong. Masyarakat bahu membahu untuk membersihkan lokasi kandang relokasi; disitu banyak sekali tanaman patatas pantai (Ipomoea sp.) yang tumbuh sebagai hama. Masyarakat memotong, membabat dan mencangkul area sekitar itu agar bersih dari tanaman tersebut. Setelah itu dilakukan penggalian pasir di area tersebut agar tanah tersebut betul-betul bersih dari akar tanaman patatas pantai yang masih merayap ke dalam pasir. Cuaca yang sangat panas dan terik tidak membuat surut semangat masyarakat yang bekerja.

Hari kedua, konstruksi mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Area kandang yang sudah bersih dari tanaman hama akan dipasang kayu sebagai tiang bangunan. Masyarakat membagi tugas, ada yang pergi ambil kayu di hutan untuk dijadikan tiang penyangga kandang relokasi, ada juga yang mengukur dan mematok untuk menancapkan tiang tersebut.

Pembersihan petatas pantai untuk nantinya dibangun kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pemasangan patok untuk nantinya ditancapkan tiang kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah tiang berdiri, mereka membuat atap dan menggunakan jaring paranet, daun kelapa dan pakis agar suhu pasir di kandang menjadi lebih teduh untuk menaruh telur-telur penyu. Seluruh proses dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk memastikan keamanan telur penyu yang akan direlokasi ke kandang tersebut. Ketika pekerjaan hampir selesai, anak-anak kampung dengan riang gembira membantu membersihkan sisa-sisa material dan merapikan area sekitar kandang.

Setelah dua hari yang penuh kerja keras, kandang relokasi penyu di Pantai Jeen Syuab akhirnya berdiri kokoh. Terpancar kegembiraan karena pekerjaan tersebut telah selesai dengan baik. Selain itu juga masyarakat kampung juga sempat melakukan proses pelepasan tukik ke laut pada sore hari saat sunset tenggelam di ufuk barat.

Tancap tiang kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kandang relokasi yang dibuat oleh masyarakat selesai didirikan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Dana yang diperoleh dari proyek konservasi ini sangat berarti bagi masyarakat Wau dan Weyaf terutama bagi Masyarakat Katolik di kampung tersebut. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk mempersiapkan acara Natal di gereja Katolik.

Kisah masyarakat Katolik di Wau dan Weyaf ini mencerminkan sinergi antara upaya pelestarian lingkungan dan penggalangan dana komunitas. Dengan membangun kandang relokasi penyu, mereka tidak hanya berkontribusi pada kelestarian ekosistem penyu di Pantai Jeen Syuab, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di kampung mereka. Di balik setiap tiang kayu, bambu dan jaring yang terpasang, tersembunyi cerita tentang ketekunan, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cocomesh: bahan alternatif untuk menaungi sarang penyu yang terancam suhu pasir tinggi

Cocomesh: bahan alternatif untuk menaungi sarang penyu yang terancam suhu pasir tinggi

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

27 Mei 2024

Ancaman utama pada pantai Wembrak, salah satu pantai Jeen Yessa di Taman Pesisir Jeen Womom adalah suhu pasir tinggi. Suhu pasir tinggi merendahkan sukses penetasan sarang dan menyebabkan sarang penyu memproduksi lebih banyak tukik betina.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sesar sedang melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah kurang lebih empat bulan di lapangan (Juni sampai September 2022) melakukan penelitian di Pantai Wembrak,  Elisa Secsio Hendra Putra atau biasa disapa Sesar, mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Papua akhirnya telah menyelesaikan penelitiannya tentang potensi cocomesh sebagai bahan alternatif untuk menaungi sarang-sarang yang terancam suhu pasir tinggi. Sesar menyelidiki kemampuan cocomesh dalam meningkatkan sukses penetasan sarang penyu belimbing dan menurunkan suhu pasir pada kedalaman sarang penyu belimbing (70 – 75 cm).

Pengaruh cocomesh terhadap sukses penetasan

Untuk mengetahui pengaruh cocomesh pada sukses penetasan sarang, Sesar membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan naungan cocomesh, naungan pakis, dan sarang tanpa perlindungan (kontrol). Diketahui dari evaluasi sukses penetasan sarang yang dijadikan sampel, terpantau sarang-sarang yang dilindungi daun pakis memiliki tingkat kesuksesan sarang yang lebih tinggi dibandingkan sarang yang dilindungi cocomesh. Namun tetap rata-rata hasil penetasan sarang yang dilindungi cocomesh lebih baik dibanding sarang yang tidak dilindungi sama sekali (sarang kontrol).

Kemampuan cocomesh menurunkan suhu pasir

Pengukuran suhu dilakukan selama kurang lebih tiga bulan menggunakan logger suhu yang ditanam pada kedalaman sarang (70 – 75 cm) di tiga wilayah dengan jarak tertentu di pantai Wembrak. Suhu rata-rata di pantai Wembrak berkisar pada 32°C; suhu ini melebihi batas suhu optimal yang diperlukan untuk inkubasi yaitu sekitar 29,50°C – 30,50°C. Jika tidak diberi naungan, sarang akan terancam gagal menetas. Naungan cocomesh mampu menurunkan suhu sebesar 0,73°C-0,86 °C. Sedangkan naungan pakis mampu menurunkan suhu 0,76°C-1,11°C. Naungan cocomesh mampu merendahkan suhu pasir pada kedalaman sarang penyu belimbing namun tidak sebaik naungan pakis.

Perlindungan sarang menggunakan naungan pakiscocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kesimpulan

Dari penelitian yang dilaksanakan Sesar, dapat disimpulkan bahwa naungan cocomesh mampu menurunkan suhu pasir pada kedalaman sarang dan berpotensi untuk meningkatkan sukses penetasan sarang yang terancam suhu pasir tinggi. Dengan terbatasnya daun pakis di pantai Wembrak, cocomesh menjadi bahan alternatif untuk naungan sarang di masa depan.

Sesar pernah mempresentasikan hasil penelitiannya melalui Sekolah Alam Virtual yang kami laksanakan. Jika sobat lestari tertarik, bisa melihat video rekamannya di sini dan bisa mendownload materi presentasinya di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring Konservasi Penyu Belimbing Training

Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

28 Maret 2024

Hai, perkenalkan nama saya Elisa Secsio Hendra Putra, biasa dipanggil Sesar. Saya mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Papua (FMIPA-UNIPA) Jurusan Biologi yang melakukan penelitian terkait metode baru perlindungan sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea) menggunakan anyaman sabut kelapa (cocomesh) di pantai Wembrak. Pantai Wembrak merupakan pantai dengan panjang 6 km yang merupakan salah satu pantai peneluran penyu di dalam area Pantai Jeen Yessa, Kabupaten Tambrauw. Melihat penyu merupakan salah satu bucket list saya sejak kecil dan akhirnya saya pun berkesempatan untuk melihatnya secara langsung serta ikut melakukan upaya konservasi penyu lewat penelitian ini. Topik penelitian terkait konservasi penyu belimbing ini telah saya lama persiapkan, sejak semester empat, karena selain saya ingin melihat penyu dan saya senang belajar terkait alam Papua. Banyak perubahan rencana selama saya merancang penelitian ini, mulai dari lokasi, judul, hingga metode penelitiannya. Awalnya saya sedikit khawatir karena penelitian saya ini merupakan penelitian yang bisa dibilang baru. Tim UNIPA di pantai Wembrak menggunakan perlindungan naungan pakis ditambah pagar untuk melindungi sarang secara in situ namun karena keterbatasan tumbuhan pakis di area Pantai Wembrak membuat tim sulit membuat cukup banyak perlindungan ini. Selain hal tersebut, saya juga selalu bertanya selama menjalani penelitian ini apakah penelitian saya akan  berhasil. Saya bersyukur terdapat banyak orang yang mendukung saya. Mereka mengatakan bahwa saya akan menjadi peneliti pertama yang melakukan penelitian dengan metode ini, hal itu membuat saya menjadi semangat dan percaya diri. Setelah semua persiapan seperti mendatangkan bahan, menganyam tali menjadi jaring, membeli kayu dan mempersiapkan diri sendiri, saya pun melakukan petualangan penelitian saya di Tambrauw.

Selama di pantai saya sangat terbantu dengan tim UNIPA dan tenaga patroli lokal yang selalu membantu saya dalam merangkai perlindungan cocomesh ataupun membawa bahan ke lokasi sarang. Kesulitan yang saya alami selama di lapang adalah ketika hujan, beberapa sungai di pantai Wembrak meluap sehingga saya harus menunda kunjungan ke lokasi sarang sampel saya. Lebar sungai di pantai Wembrak sebenarnya tidak terlalu lebar kurang lebih sekitar 40-100 meter namun cukup deras sehingga saya dan tim UNIPA harus menunggu hingga air sungai turun untuk bisa lewat.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Setelah kurang lebih tiga bulan melakukan penelitian di Pantai Wembrak hasil yang saya dapatkan tidak mengecewakan semua usaha yang saya lakukan untuk penelitian ini. Selain melakukan penelitian  saya mendapatkan banyak kesempatan belajar hal baru tentang berbagai upaya  konservasi penyu, seperti melakukan kegiatan pemantauan penyu saat malam hari, memasang perlindungan sarang, dan evaluasi sarang. Saya juga diajarkan bagaimana cara mengukur karapas penyu, pemindaian (scanning) Passive Integrated Transponder (PIT tag), dan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah pada saat saya memasang PIT tag pada induk penyu untuk pertama kalinya.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Hal yang tidak kalah saya syukuri adalah dapat berinteraksi dengan masyarakat setempat di Kampung Resye dan Womom yang sebagian juga bekerja di pantai sebagai tenaga patroli lokal, tenaga perlindungan sarang, pembuat kandang relokasi atau kontribusi lainnya yang membantu kegiatan pemantauan dan perlindungan sarang. Dengan terlibat dalam penelitian ini bersama tim UNIPA belajar tentang kemampuan dan potensi diri yang saya belum ketahui

Karena saya perlu membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan cocomesh, pakis, dan yang tidak dilindungi dalam penelitian ini, saya harus menunggu sampai masa penetasan sarang di pantai. Sementara menunggu sampel sarang penelitian saya menetas, saya berotasi ke pantai lain yaitu Pantai Batu Rumah dan Warmamedi (dua pantai yang juga bagian dari Pantai Jeen Yessa) untuk belajar ancaman dan metode perlindungan sarang yang berbeda disana. Ketiga pantai ini sangat unik menurut saya karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ditambah, panorama yang begitu memanjakan mata membuat saya lupa akan suasana hiruk pikuk perkotaan. Saya menjadi sangat betah untuk tinggal di pantai hingga tak terasa bahwa sudah waktunya untuk kembali ke kota untuk menyelesaikan skripsi. Pantai Jeen Yessa  membuat saya tidak pernah berhenti berpikir kapan lagi saya bisa kembali lagi ke sana.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Perjalanan dan Kerja Tim Pemantauan Penyu Di Awal Musim Ombak

Cerita Perjalanan dan Kerja Tim Pemantauan Penyu Di Awal Musim Ombak

Penulis

Petrus Batubara

Tanggal

22 Februari 2024

Pada hari Kamis tanggal 1 November 2023 kami Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA berangkat dari Manokwari ke Tambrauw untuk mulai melakukan monitoring di musim ombak (Oktober 2023-Maret 2024). Tujuan kami adalah Pantai Jeen Syuab di Distrik Abun yang berdekatan dengan kampung Wau-Weyaf. Kami menggunakan transportasi laut yaitu kapal Sabuk Nusantara 112 dan berangkat dari Pelabuhan Manokwari pukul 23:03 WIT. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 18 jam, esok harinya kami tiba di kampung Wau-Weyaf pada pukul 17:00 WIT.

Kapal berhenti tepat di perairan depan kampung. Karena tidak ada dermaga untuk kapal bersandar, kami menunggu perahu yang akan menjemput kami perbekalan dan perlengkapan kerja yang kami simpan di gudang kapal. Perahu pun tidak lama datang dan bersandar di samping kapal berdekatan dengan tangga. Setelah itu kami melanjutkan menurunkan muatan barang kami dari kapal ke perahu untuk diantar ke kampung.

Tim mempersiapkan logistik dan makanan untuk dibawa ke lapangan
(Foto : Fian/S4C_LPPM UNIPA)

Kapal Sabuk Nusantara
(Foto : Yusup/S4C_LPPM UNIPA)

Kapal bersandar di Kampung Wau Weyaf
(Foto : Mike/S4C_LPPM UNIPA)

Waktu menunjukan pukul 18:00 WIT hari sudah gelap, tim pun sesuai rencana bermalam di kampung Weyaf dan menginap di rumah belajar yang juga merupakan rumah yang dipergunakan oleh tim Pemberdayaan Masyarakat Program Sains untuk Konservasi. Keesokan paginya pukul 09:00 WIT tim bersiap-siap untuk melakukan perjalanan dari kampung Weyaf ke Pantai Jeen Syuab. Kami menggunakan perahu untuk mengantarkan tim ke pantai peneluran dua kali karena barang-barang yang cukup banyak. Seringkali di musim ombak, kami harus bersandar di bagian pantai yang cukup jauh dari pos dan membawa barang yang cukup banyak dan berat dengan berjalan kaki. Namun kali ini tim sangat bersyukur untuk kondisi laut yang teduh dan bersahabat sehingga perahu yang digunakan bisa bersandar dengan baik di pantai tepat di depan pos. Tim segera menurunkan barang-barang dari perahu dan mengangkutnya langsung ke pos.

Musim ini jumlah kru yang bekerja sebanyak 6 orang, antara lain yang bertugas sebagai Koordinator Pantai Jeen Syuab Petrus Pieter Batubara dan dibantu oleh Johni Mau, Muhamad Faisal, Thomas Hombahomba, Bernadus Duwit dan Mayustilo Abraham Hokoyoku. Satu orang lagi yaitu Tonny Duwiri bergabung di bulan Januari.

Kandang relokasi di musim ombak
(Foto : Petrus Batubara/S4C_LPPM UNIPA)

Bulan Oktober hingga Maret kami sebut sebagai musim ombak, karena pada musim ini ombak dan gelombang pasang sangat tinggi dan mengakibatkan banyak sarang penyu terendam air laut. Ada banyak penyu yang naik bertelur di pantai Jeen Syuab selama musim ini dan sebagian besar sarang akan terendam dan hanyut terbawa oleh air pasang yang sangat tinggi. Oleh sebab itu kami harus memindahkan sarang-sarang yang terancam tersebut ke kandang relokasi untuk mengamankannya.

Tim sedang melakukan briefing di depan pos pantai Jeen Syuab
(Foto : Thomas/S4C_LPPM UNIPA)

Petrus Batubara sedang berkoordinasi dengan salah seorang tenaga lokal pemindahan sarang
(Foto : Thomas/S4C_LPPM UNIPA)

Pada tanggal 3 November 2023, hari pertama tim berada di pos, tim melakukan pembersihan halaman pos lalu melakukan briefing bersama untuk menyamakan persepsi dan merencanakan pekerjaan. Kegiatan di hari pertama dimulai dengan memasang logger suhu (alat pencatat suhu otomatis di pantai) di beberapa titik pantai dan melakukan monitoring harian untuk mendata sarang-sarang di pantai. Tim juga melakukan pengecekan kandang relokasi sarang yang sudah menetas lalu mengevaluasi sarang tersebut. Terdapat satu sarang penyu belimbing yang juga kami pindahkan pada hari pertama ini ke kandang relokasi. Malam harinya tim melakukan patroli malam untuk memantau indukan penyu yang naik bertelur.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya