
Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia
Penulis
Yusuf Jentewo
Tanggal
30 Maret 2026
Gagasan pembentukan kelompok kerja penyu belimbing Indonesia pertama kali mengemuka dalam Leatherback Expert Meeting di Jakarta pada September 2025. Dari ruang diskusi tersebut, muncul kesadaran bersama akan pentingnya sebuah wadah kolaboratif yang dapat menyatukan berbagai pihak dalam upaya pelestarian penyu belimbing di Indonesia. Sebagai langkah awal, dilakukan penyebaran kuesioner penjaringan aspirasi pada 2–30 November 2025 kepada instansi dan kelompok terkait. Sebanyak 18 responden berpartisipasi dan secara kuat menyuarakan bahwa kelompok kerja ini perlu segera dibentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pertemuan inisiasi akhirnya dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam proses ini, Program Sains untuk Konservasi (S4C) tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga berperan sebagai salah satu penggerak utama. Keterlibatan ini berangkat dari pengalaman panjang tim S4C dalam melakukan upaya pelestarian penyu—khususnya penyu belimbingdi Taman Pesisir Jeen Womom, yang menjadi salah satu lokasi kunci bagi keberlangsungan populasi penyu belimbing di Pasifik Barat.
Pemaparan materi oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupang
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)
Kelompok kerja ini diperlukan sebagai wadah kolaborasi pemerintah, pemerhati, praktisi, dan peneliti penyu belimbing di Indonesia. Pertemuan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Jakarta serta daring melalui Zoom bagi mitra di daerah. Sekitar belasan peserta hadir langsung dan 62 peserta mengikuti secara daring. Peserta berasal dari satu direktorat KKP, empat balai pengelolaan kelautan (Denpasar, Kupang, Pontianak, dan Pekanbaru), dua loka pengelolaan kelautan, tiga universitas dalam negeri (Universitas Syiah Kuala, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi), dua universitas luar negeri (University of Hawaii dan Wageningen University), dua laboratorium genetik, serta tiga yayasan lingkungan.
Pertemuan ini dibuka oleh perwakilan Direktorat Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang menyampaikan bahwa penyu belimbing merupakan spesies prioritas dalam EPANJI serta tercakup dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) penyu Indonesia. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 13 pemateri yang memaparkan program pemantauan penyu belimbing, mencakup aktivitas di pantai peneluran, interaksi dengan nelayan, temuan individu terdampar, serta analisis genetik spesies ini.
Pemaparan materi oleh Program Sains untuk Konservai, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Deasy Lontoh)
Program Sains untuk Konservasi (S4C), yang diwakili oleh Deasy Lontoh sebagai koordinator penelitian penyu, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, perlindungan sarang, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadartahuan terkait penyu. Dalam paparannya, disampaikan bahwa Pantai Jeen Womom di Tambrauw, Papua Barat Daya, merupakan salah satu lokasi peneluran utama bagi penyu belimbing subpopulasi Pasifik Barat. Lebih jauh, Deasy juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian spesies, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kemitraan, guna memastikan keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang. Dalam sesi yang sama, perwakilan lembaga lain turut memaparkan keberadaan penyu belimbing dari populasi Samudra Hindia yang bertelur di sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan.
Pemaparan awal terkait kebijakan penyu di Indonesia
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)
Materi yang dipaparkan menegaskan bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi penyu belimbing, spesies penyu terbesar yang masih hidup. Keberadaan dua populasi, yaitu Pasifik dan Hindia, menjadikan Indonesia wilayah yang unik. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi instansi, peneliti, dan pemerhati dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah tersebut.
Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai bentuk kelompok kerja dan peluang kolaborasi ke depan. Kelompok ini diharapkan aktif dan produktif dalam menghasilkan luaran kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kapasitas melalui pertukaran metode dan pembelajaran dari berbagai lokasi.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya















