Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

23 Juni 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) Periode II Tahun 2026 telah dilaksanakan pada 17–19 Juni 2026 bertempat di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah melalui tahapan seleksi sebelumnya. Dari total 114 peserta yang mendaftar, sebanyak 20 peserta berhasil lolos seleksi tahap pertama, hingga akhirnya terpilih 9 peserta yang mengikuti tahap pelatihan PMNH Periode II.

Sejalan dengan pelatihan sebelumnya, kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh mengenai program, meningkatkan keterampilan teknis di lapangan, serta memperkuat kemampuan dalam bekerja sama secara efektif dan profesional dalam mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.

Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan diawali dengan penandatanganan kontrak kerja oleh seluruh peserta bersama Human Resources Development (HRD). Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Pengelola Program Sains untuk Konservasi (S4C), Fitryanti Pakiding, dan secara resmi dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno.

Pembukaan pelatihan PMNH oleh Freddy Pattiselanno.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti pemaparan lima materi utama yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai program pelestarian penyu di TP Jeen Womom, sistem kerja dan pengelolaan program, mekanisme pelaporan kegiatan, administrasi keuangan, serta strategi pendampingan masyarakat melalui program pendidikan formal maupun informal.

Pengenalan Program oleh Kartika Zohar.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Sistem Keuangan oleh Aflia Pongbatu. 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Memasuki hari kedua, kegiatan berfokus pada pendalaman pembelajaran di Rumah Belajar, meliputi materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan ComputerEnglish (COMENG). Peserta juga mendapatkan sesi praktik mengajar, pemahaman mengenai indikator dan subindikator pembelajaran di Rumah Belajar, serta proses penilaian berdasarkan indikator tersebut.

Pemaparan materi Pengenalan Indikator dan Subindikator Pembelajaran di Rumah Belajar oleh Alberto Allo.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Teori Pembuatan Minyak Kelapa Yang Bersih dan Rumah Produksi Minyak Kelapa oleh Fitri Iriani. 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Selain materi pendidikan, peserta juga dibekali pemahaman mengenai program pemberdayaan masyarakat melalui pengenalan produk dan proses pembuatannya. Materi tersebut mencakup Sharing terkait Program Kerajinan Tangan
(Amigurumi, dan Noken HP) , Teori Pembuatan Minyak Kelapa Bersih, serta pengelolaan Rumah produksi Minyak Kelapa yang dapat mendukung peningkatan kapasitas masyarakat Abun, Tobouw, dan Amberbaken. Pada hari yang sama, peserta juga menerima materi Manajemen Dokumentasi Foto dan Persyaratan Dokumentasi sebagai bagian dari pendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Pada hari terakhir pelatihan, peserta mendapatkan dua materi penting yang mendukung pelaksanaan program. Materi pertama disampaikan oleh Wilson Palelingan Aman mengenai Teori Pembuatan Turunan Kelapa berupa Cocopeat dan Briket Arang, sekaligus pengenalan mesin penepung arang. Materi kedua mengenai Pengenalan Penyu dan Upaya Konservasinya di TP Jeen Womom disampaikan oleh Asisten Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, Petrus Batubara, sebagai pendukung pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Pemaparan materi Teori dan Pembuatan Turunan Kelapa oleh Wilson Aman.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Pengenalan Penyu dan Upaya
Konservasinya di TP Jeen Womom oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fitri Iriani)

Usai pelatihan, pada 23 Juni 2026, para peserta melakukan praktik membuat minyak kelapa dan briket arang sebagai persiapan untuk mendukung proses produksi minyak kelapa dan briket arang di kampung pendampingan.

Peserta sedang memarut kelapa menggunakan mesin parut kelapa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Peserta sedang membuat arang dari tempurung kelapa menggunakan mesin pembuat arang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Melalui rangkaian pelatihan ini, peserta PMNH diharapkan mampu memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mendukung program konservasi serta pemberdayaan masyarakat di TP Jeen Womom. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan, para peserta diharapkan dapat menjadi penghubung yang efektif antara program dan masyarakat dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya