Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training New Template

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

25 Juni 2026

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang telah dilaksanakan pada 19–20 Mei 2026 di Pantai Jeen Syuab dan 26–27 Mei 2026 di Pantai Jeen Yessa. Kedua lokasi tersebut berada di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya mendukung konservasi ekosistem terumbu karang dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui program ini, berbagai kegiatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan, termasuk penguatan kapasitas tenaga lapangan dalam mendukung upaya perlindungan ekosistem pesisir.

 

Pada umumnya, pelatihan bagi tim pelaksana program pemantauan penyu dan perlindungan sarang diselenggarakan di Manokwari. Namun, pada musim ini sebagian besar tenaga lapangan yang direkrut merupakan tenaga lokal yang berasal dari kampung-kampung di sekitar Pantai Jeen Syuab dan Pantai Jeen Yessa. Oleh karena itu, pelatihan dilaksanakan langsung di lokasi pantai peneluran agar lebih mudah menjangkau peserta, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar dan berlatih secara langsung di lapangan sesuai dengan kondisi kerja yang akan dihadapi selama program berlangsung. 

Selain Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, dua perwakilan dari Tim Outreach, serta Koordinator Tim Humas, kegiatan ini juga dihadiri oleh masyarakat setempat, pemilik hak ulayat, perwakilan pemerintah desa, dan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw.

Pada Sabtu, 16 Mei 2026, tim program berangkat dari Manokwari menuju pantai peneluran menggunakan Kapal Sabuk Nusantara (Sanus) 112. Setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam, tim beristirahat selama satu hari di Kampung Wau sebelum mempersiapkan pelatihan di Pantai Jeen Syuab pada Senin, 18 Mei 2026.

Untuk mendukung pelaksanaan pelatihan, Sains untuk Konservasi menghadirkan sejumlah pemateri yang kompeten sesuai bidangnya. Materi pelatihan disampaikan oleh Deasy Lontoh sebagai Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang; Yairus Swabra, Arfiandra Andika Wanaputra, dan Petrus Batubara sebagai Asisten Koordinator Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang; serta Elisa Secsio Hendra Putra sebagai Asisten Koordinator Produk Informasi. Selain penyampaian materi teknis, peserta juga menerima sosialisasi dari Abraham Leleran selaku Koordinator Humas dan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw.

Peserta mengisi pre-test.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Sosialisasi dari Humas Sains untuk Konservasi.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Dalam kedua pelatihan tersebut, tenaga lapangan lokal dan non lokal yang bertugas di pantai peneluran mengikuti pre-test sebelum pelatihan dan post-test pada akhir kegiatan. Tes ini dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan selama pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 94% dari 35 tenaga lapangan yang mengikuti kedua tes tersebut mengalami peningkatan pemahaman berdasarkan perbandingan nilai pre-test dan post-test. Selain tenaga lapangan, sejumlah masyarakat setempat juga turut mengikuti beberapa sesi materi dan sosialisasi, termasuk sosialisasi PADIATAPA.

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang di Jeen Syuab yang dilaksanakan di Pantai Wermon, diawali dengan sesi perkenalan antarpeserta. Sesi ini bertujuan membangun kebersamaan sekaligus memperkuat koordinasi tim. Setelah itu, peserta mengikuti sosialisasi dari Humas, kemudian menerima materi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali jenis-jenis penyu, melakukan identifikasi penyu di lapangan, serta memahami berbagai ancaman terhadap penyu di habitat alaminya.

Rangkaian kegiatan pada hari kedua mencakup pemaparan materi Pengenalan Teknik Dokumentasi, Praktik Pemindahan Sarang, Evaluasi sarang, dan Patroli Pagi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan program kerja serta sosialisasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tambrauw. Pada malam hari, peserta melaksanakan praktik patroli malam sebagai bentuk penerapan pengetahuan yang telah diperoleh selama pelatihan.

Pemaparan program kerja.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Setelah pelatihan di Jeen Syuab selesai, tim melanjutkan perjalanan menuju Jeen Yessa untuk mempersiapkan pelaksanaan pelatihan berikutnya. Di lokasi ini, kegiatan hari pertama berlangsung lebih singkat karena menyesuaikan waktu kedatangan tenaga lapangan lokal yang harus menempuh perjalanan dari kampung menggunakan perahu. Usai sesi perkenalan yang dimulai pada siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dari Humas, penyampaian materi tentang pengenalan jenis-jenis penyu dan berbagai ancamannya, serta praktik pelaksanaan patroli malam.

Materi Mengenal Penyu oleh Deasy Lontoh.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)

Keesokan harinya, peserta menerima materi tentang Teknik Dokumentasi dan Identifikasi Penyu, kemudian mengikuti praktik Perlindungan Sarang, Evaluasi dan Selokasi Sarang, serta praktik Patroli Pagi. Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga lapangan lokal dalam mendukung pemantauan dan perlindungan penyu secara berkelanjutan.

Materi Patroli Pagi oleh Yairus Swabra.
(Photo: S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong )

Materi Relokasi Kandang dan Evaluasi oleh Petrus Batubara.
(Photo: S4C_LPPM UNPA/Maurens Sundoy )

Penguatan kapasitas tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung konservasi penyu, khususnya penyu belimbing. Selain memperkuat keterampilan teknis di lapangan, kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya pesisir di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom bagi generasi mendatang.

 

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Kuatkan Tim, Selamatkan Penyu: Integrasi Sains dan Inovasi untuk Konservasi

Kuatkan Tim, Selamatkan Penyu: Integrasi Sains dan Inovasi untuk Konservasi

Penulis

Abigail Lang, Noviyanti

Tanggal

15 April 2025

Sebagai bagian dari upaya pelestarian Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), salah satu spesies kunci (keystone species) yang semakin langka, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas bagi Tim Pelaksana Program Sains untuk Konservasi: Menghubungkan Sains dengan Inovasi untuk Upaya Konservasi Penyu Belimbing yang Holistik di Bentang Laut Kepala Burung.”

Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 April 2025 ini dipusatkan di Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA, dan menjadi rangkaian dari Program Sains untuk Konservasi yang telah digagas oleh LPPM UNIPA sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap penyelamatan spesies-spesies penting di Tanah Papua.

Pengenalan program Sains untuk Konservasi oleh Ibu Fitryanti Pakiding
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Penjelasan Materi Ekologi Penyu Oleh Ibu Deasy
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Freddy Pattiselanno, selaku Kepala LPPM UNIPA. Dalam sambutannya, Prof. Freddy menekankan bahwa pelestarian penyu belimbing tidak dapat dilakukan secara parsial. “Konservasi harus bersifat holistik, berbasis pada sains namun mampu berinovasi sesuai kondisi lapangan. Melalui pelatihan ini, kita ingin menyiapkan tim yang bukan hanya paham teori, tetapi juga terampil dan siap menghadapi tantangan nyata di lapangan,” ujarnya.

Peserta pembekalan terdiri dari 15 orang, yakni 11 laki-laki dan 4 perempuan, yang nantinya akan bertugas di lokasi konservasi, kawasan Taman Pesisir Jeen Womom. Pada hari pertama, peserta menerima materi-materi dasar seperti: Pengenalan Biologi dan Ekologi Penyu (peran penyu dalam ekosistem laut, karakteristik, siklus hidup, dan perilaku peneluran), Ancaman dan Upaya Perlindungan Penyu (status konservasi, ancaman penyu di pantai dan perairan, undang-undang perlindungan penyu), Identifikasi Jenis Penyu, serta Pemantauan dan Perlindungan Sarang Penyu yang diterapkan di TP Jeen Womom. Pada hari kedua peserta melakukan praktik langsung yang berlokasi di Pantai Amban. Selama praktik, peserta belajar cara melakukan patroli pagi dan patroli malam, cara melindungi sarang, dan cara melakukan evaluasi sukses penetasan sarang. Setelah mempelajari kegiatan teknis di lapangan, pada hari ketiga peserta diajak mengenal lokasi kerja di TP Jeen Womom, mempelajari sistem penginputan data, pencatatan laporan harian, dan pertanggungjawaban keuangan.

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang: Berlatih memasang naungan pada sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar Protokol Pemantauan Penyu Bersama Ibu Deasy Lontoh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran peserta akan pentingnya perlindungan penyu, serta mendorong pemahaman bahwa misi bersama tim adalah meningkatkan jumlah tukik penyu belimbing yang berhasil dilepasliarkan ke laut. Selain itu, peserta juga akan dibekali dengan pengetahuan teknis mengenai pelaksanaan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di lapangan.

Setelah pelatihan selesai, peserta nantinya akan ditempatkan di TP Jeen Womom pada empat pantai peneluran: 1) Pantai Wembrak, 2) Pantai Batu Rumah, 3) Pantai Warmamedi dan 4) Pantai Jeen Syuab. Pantai-pantai ini memiliki panjang garis pantai antara 4 hingga 6 kilometer, dan merupakan lokasi peneluran penting bagi populasi Penyu Belimbing di Pasifik Barat.

Melalui kegiatan ini, LPPM UNIPA berharap dapat membentuk tim konservasi yang memiliki pemahaman ilmiah yang kuat, namun juga mampu mengaplikasikan inovasi-inovasi praktis dalam perlindungan penyu. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan pendekatan lokal dianggap sangat penting, mengingat konservasi tidak hanya soal data, tapi juga soal empati, budaya, dan keterlibatan masyarakat. Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan konservasi penyu di era perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya, serta menegaskan komitmen UNIPA untuk terus menjadi bagian dari solusi berbasis sains di Tanah Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Pembekalan Kru Musim Teduh 2024

Pembekalan Kru Musim Teduh 2024

Penulis

Yusuf Jentewo & Deasy Lontoh

Tanggal

28 Mei 2024

Musim peneluran penyu belimbing di bulan-bulan laut teduh di tahun 2024 dimulai pada bulan April sampai September. Untuk mempersiapkan tim, pada tanggal 16 sampai 18 April 2024 tim mendapat pembekalan. Pembekalan ini bertajuk “Peningkatan Kapasitas Bagi Tim Pelaksana Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Tahun 2024”. Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Ir. Budi Santoso, M.P selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) di Ruangan Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) UNIPA.

Kegiatan ini dihadiri total 13 peserta yang terdiri dari 4 orang koordinator pantai peneluran (KP2), 6 orang tenaga lapangan pantai peneluran (TLP2), 3 orang tenaga perlindungan sarang periode 1 (April – Juli). Selain peserta yang langsung hadir di lokasi kegiatan, turut hadir tenaga perlindungan sarang periode 2 (Juli – Oktober) secara online berjumlah tiga orang. Dalam tim, terdapat tiga pemuda yang berasal dari kampung yang berdekatan dengan pantai peneluran yaitu Sergius Asrouw dari kampung Imbuan, Danyel Bafat dan Yesaya Arnol Bame dari kampung Weyaf. Terdapat pula partisipasi perempuan dalam tim yaitu Anthoneta Martenci Awak dari Tambrauw dan Loise Liberta Loar dari Manokwari.

Koordinator penelitian sedang menerangkan biologi penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Koordinator Monitoring sedang menjelaskan lokasi kerja kru
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Pada hari pertama peserta mendapat materi terkait pengenalan Program Sains untuk Konservasi, biologi penyu, cara membedakan penyu dan mengenal lokasi kerja yakni Taman Pesisir Jeen Womom. Hari kedua, peserta mendapatkan materi mengenai patroli pagi, patroli malam, belajar metode perlindungan sarang, metode evaluasi sukses penetasan sarang dan cara menulis buku catatan dan log harian. Pada hari terakhir peserta belajar mengenai sistem keuangan, mengukur lebar pantai, dan membahas program kerja tim. Narasumber dalam kegiatan pembekalan ini adalah koordinator program pemantauan penyu dan perlindungan sarang, koordinator penelitian, beberapa asisten koordinator, serta koordinator pantai turut berbagi dalam beberapa kesempatan materi.

Yusup salah satu asisten koordinator sedang menjelaskan terkait cara membedakan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Titi salah seorang asisten koordinator sedang menjelaskan terkait alur keuangan kantor
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Secara umum kegiatan ini berjalan lancar, peserta yang baru bergabung menyatakan sangat senang mendapat informasi penting yang berguna untuk dipakai saat bekerja di lapangan dan bagi anggota lama ini merupakan penyegaran materi agar mereka tetap terasah ilmunya. Kegiatan ini ditutup oleh Ibu Fitry Pakiding, Ph.D selaku Koordinator Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring Konservasi Penyu Belimbing Training

Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

28 Maret 2024

Hai, perkenalkan nama saya Elisa Secsio Hendra Putra, biasa dipanggil Sesar. Saya mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Papua (FMIPA-UNIPA) Jurusan Biologi yang melakukan penelitian terkait metode baru perlindungan sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea) menggunakan anyaman sabut kelapa (cocomesh) di pantai Wembrak. Pantai Wembrak merupakan pantai dengan panjang 6 km yang merupakan salah satu pantai peneluran penyu di dalam area Pantai Jeen Yessa, Kabupaten Tambrauw. Melihat penyu merupakan salah satu bucket list saya sejak kecil dan akhirnya saya pun berkesempatan untuk melihatnya secara langsung serta ikut melakukan upaya konservasi penyu lewat penelitian ini. Topik penelitian terkait konservasi penyu belimbing ini telah saya lama persiapkan, sejak semester empat, karena selain saya ingin melihat penyu dan saya senang belajar terkait alam Papua. Banyak perubahan rencana selama saya merancang penelitian ini, mulai dari lokasi, judul, hingga metode penelitiannya. Awalnya saya sedikit khawatir karena penelitian saya ini merupakan penelitian yang bisa dibilang baru. Tim UNIPA di pantai Wembrak menggunakan perlindungan naungan pakis ditambah pagar untuk melindungi sarang secara in situ namun karena keterbatasan tumbuhan pakis di area Pantai Wembrak membuat tim sulit membuat cukup banyak perlindungan ini. Selain hal tersebut, saya juga selalu bertanya selama menjalani penelitian ini apakah penelitian saya akan  berhasil. Saya bersyukur terdapat banyak orang yang mendukung saya. Mereka mengatakan bahwa saya akan menjadi peneliti pertama yang melakukan penelitian dengan metode ini, hal itu membuat saya menjadi semangat dan percaya diri. Setelah semua persiapan seperti mendatangkan bahan, menganyam tali menjadi jaring, membeli kayu dan mempersiapkan diri sendiri, saya pun melakukan petualangan penelitian saya di Tambrauw.

Selama di pantai saya sangat terbantu dengan tim UNIPA dan tenaga patroli lokal yang selalu membantu saya dalam merangkai perlindungan cocomesh ataupun membawa bahan ke lokasi sarang. Kesulitan yang saya alami selama di lapang adalah ketika hujan, beberapa sungai di pantai Wembrak meluap sehingga saya harus menunda kunjungan ke lokasi sarang sampel saya. Lebar sungai di pantai Wembrak sebenarnya tidak terlalu lebar kurang lebih sekitar 40-100 meter namun cukup deras sehingga saya dan tim UNIPA harus menunggu hingga air sungai turun untuk bisa lewat.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Setelah kurang lebih tiga bulan melakukan penelitian di Pantai Wembrak hasil yang saya dapatkan tidak mengecewakan semua usaha yang saya lakukan untuk penelitian ini. Selain melakukan penelitian  saya mendapatkan banyak kesempatan belajar hal baru tentang berbagai upaya  konservasi penyu, seperti melakukan kegiatan pemantauan penyu saat malam hari, memasang perlindungan sarang, dan evaluasi sarang. Saya juga diajarkan bagaimana cara mengukur karapas penyu, pemindaian (scanning) Passive Integrated Transponder (PIT tag), dan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah pada saat saya memasang PIT tag pada induk penyu untuk pertama kalinya.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Hal yang tidak kalah saya syukuri adalah dapat berinteraksi dengan masyarakat setempat di Kampung Resye dan Womom yang sebagian juga bekerja di pantai sebagai tenaga patroli lokal, tenaga perlindungan sarang, pembuat kandang relokasi atau kontribusi lainnya yang membantu kegiatan pemantauan dan perlindungan sarang. Dengan terlibat dalam penelitian ini bersama tim UNIPA belajar tentang kemampuan dan potensi diri yang saya belum ketahui

Karena saya perlu membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan cocomesh, pakis, dan yang tidak dilindungi dalam penelitian ini, saya harus menunggu sampai masa penetasan sarang di pantai. Sementara menunggu sampel sarang penelitian saya menetas, saya berotasi ke pantai lain yaitu Pantai Batu Rumah dan Warmamedi (dua pantai yang juga bagian dari Pantai Jeen Yessa) untuk belajar ancaman dan metode perlindungan sarang yang berbeda disana. Ketiga pantai ini sangat unik menurut saya karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ditambah, panorama yang begitu memanjakan mata membuat saya lupa akan suasana hiruk pikuk perkotaan. Saya menjadi sangat betah untuk tinggal di pantai hingga tak terasa bahwa sudah waktunya untuk kembali ke kota untuk menyelesaikan skripsi. Pantai Jeen Yessa  membuat saya tidak pernah berhenti berpikir kapan lagi saya bisa kembali lagi ke sana.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Berbagi di Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu di Sorong

Berbagi di Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu di Sorong

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh

Tanggal

9 Oktober 2023

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan salah satu kekayaan alam di BLKB adalah penyu. Pantai-pantai di pesisir BLKB menyediakan habitat peneluran bagi penyu belimbing, penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik. Aktivitas peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik terdapat di BLKB. Pelatihan bagi masyarakat pesisir BLKB tentang bagaimana menjaga penyu diperlukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap penyu sehingga penyu tetap lestari. FFI Indonesia-Program Papua menyelenggarakan Pelatihan Teknik Survei dan Monitoring Penyu bagi perwakilan masyarakat pesisir antara Sorong dan Sausapor di Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, dan mengundang Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA sebagai narasumber. Pelatihan ini berlangsung selama empat hari mulai dari 11 sampai 14 September 2023 yang dilaksanakan dua hari di Kasuari Valley Beach Resort untuk materi kelas dan Pulau Soop untuk praktek.

Deasy memberikan materi terkait evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Yusup memberikan materi terkait evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Peserta kegiatan berasal dari beberapa kampung di pesisir Kabupaten Sorong sampai Tambrauw seperti Kampung Kuadas, Della, Megame, Klasbon, Bontolala, Nanggouw, Jokte dan Kelurahan Soop. Tujuan umum dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan teknik survei dan monitoring penyu yang dapat diterapkan peserta di kampung mereka masing-masing. Selain dari Program Sains untuk Konservasi, narasumber lain berasal dari Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Papua Barat, FFI Indonesia-Program Papua dan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Kabupaten Tambrauw.

Yusup menerangkan perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : Deasy/S4C_LPPM UNIPA)

Yusup menerangkan perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : Deasy/S4C_LPPM UNIPA)

Perwakilan Program Sains untuk Konservasi yang hadir menjadi narasumber adalah Deasy Lontoh (Koordinator Penelitian) dan Yusup Jentewo (Program Development Asistant). Materi yang dibawakan seperti teknik patroli pagi, teknik patroli malam, cara melindungi sarang, cara merelokasi sarang, evaluasi sukses penetasan serta ancaman dan upaya pelestarian penyu. Praktek yang dilaksanakan di Pulau Soop seperti praktek perlindungan sarang dengan pagar dan naungan lalu praktek patrol pagi dan malam. Selain materi, dalam pelatihan ini juga diputarkan beberapa video produksi program sains untuk konservasi yang bertemakan penyu. Peserta terpantau sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pelatihan ini.

Deasy membantu peserta melakukan pengukuran panjang penyu
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Deasy berbagi cara melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : FFI Indonesia-Program Papua)

Harapannya, pelatihan ini menambah wawasan peserta tentang penyu dan membekali mereka dengan teknik-teknik pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang dapat mereka terapkan di pantai peneluran dekat kampung mereka dan dengan demikian memperkuat perlindungan penyu di BLKB.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Peningkatan Kapasitas Bagi Tim Pelaksana Program Sains untuk Konservasi

Peningkatan Kapasitas Bagi Tim Pelaksana Program Sains untuk Konservasi

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh dan Kartika Zohar

Tanggal

30 Mei 2023

Pada tanggal 12 sampai 17 April 2023 Program Sains untuk Konservasi (S4C) menyelenggarakan kegiatan pembekalan bagi tim lapangan pemberdayaan masyarakat dan narahubung serta tim lapangan pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Tiap tahunnya program di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) ini melakukan perekrutan tim lapangan yang akan bekerja di empat pantai peneluran penyu di Kabupaten Tambrauw dan lima kampung di sekitar pantai tersebut. Tim lapangan pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang direkrut tahun ini terdiri dari 4 orang Koordinator Pantai Peneluran (KP2), 6 orang Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2) dan 12 orang Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2). Sedangkan, tim lapangan pemberdayaan masyarakat dan narahubung (PMNH) yang yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 10 orang.

Pembukaan kegiatan oleh Fitryanti Pakiding mewakili Ketua LPPM UNIPA
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Penyampaian materi biologi penyu oleh Deasy Lontoh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abraham)

Pembekalan ini dilangsungkan selama empat hari, sebagian besar berlokasi di kantor S4C namun juga terdapat praktek pembuatan minyak kelapa yang dilaksanakan di laboratorium Fakultas Teknologi Hasil Pertanian UNIPA. Materi yang disampaikan berjumlah 24 materi yakni pengenalan program secara umum, pengembangan tim, penanganan konflik serta materi-materi terkait pekerjaan yang akan dilakukan di lapangan. Pemateri dalam pembekalan ini terdiri dari 15 orang, 10 orang dari internal program dan 5 orang dari luar program. Pemateri dari luar program terdiri dari perwakilan dosen di lingkup UNIPA dan perwakilan LSM yang bergerak di bidang konservasi seperti Yayasan Konservasi Indonesia dan Rare Indonesia. Kegiatan ini dilangsungkan secara hybrid dengan sebagian besar pemateri dan peserta hadir langsung di lokasi dan sebagian kecil secara daring.

Pemateri dari Yayasan Konservasi Indonesia hadir secara daring
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Praktek materi membangun tim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

“Ternyata Tidak Seperti Yang Ditakutkan” Pengalaman Arifat Mahasiswa PKL Dari UNIPA

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

“Ternyata Tidak Seperti Yang Ditakutkan” Pengalaman Arifat Mahasiswa PKL Dari UNIPA

Penulis

Arifatul Hasanah

Tanggal

15 Februari 2023

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Saya, Arifatul Hasanah biasa dipanggil Arifat atau Ifah, mahasiswi semester empat dari Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua. Semester lalu saya melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di pantai peneluran Jeen Yessa di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA bersama dua teman saya, Jaenet Nunaki dan Hans Sawai. Ini pengalaman pertama saya melaksanakan praktek di lapangan karena saya menjalani perkuliahan di masa Covid-19 yang membuat sebagian besar kelas diadakan secara online. Sebelum berangkat sejujurnya saya memiliki rasa takut yang berlebihan karena belum pernah kesana dan akan berada selama sebulan di lokasi terpencil yang tidak memiliki akses sinyal telepon.

Arifat bersama kedua teman PKLnya sedang mengikuti pembekalan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sebelum turun lapangan, kami mengikuti pembekalan pada tanggal 15 Juni 2022. Kami belajar cara mengidentifikasi jenis penyu, sarana dan prasarana di lokasi, dan aktivitas yang dilakukan tenaga lapangan di pantai peneluran. Serta juga dibahas judul PKL dari kami bertiga. Setelah berdiskusi dengan pembimbing PKL, saya mengambil judul: “Jumlah Telur dan Dimensi Sarang Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Jeen Yessa. Penyu lekang? Iya benar, penyu lekang. Bukan hanya penyu belimbing yang dapat ditemukan di Pantai Jeen Yessa namun juga penyu lekang, penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Setibanya di lokasi semua kekuatiran saya yang sebelumnya, saya rasakan berubah dengan sendirinya. Seperti pepatah mengatakan “ Baik buruknya segala sesuatu di dunia, tergantung pandangan seseorang.” Saya hanya melihat dari sisi cerita namun nyatanya, sungguh luar biasa. Nuansa alamnya yang masih sangat sehat begitu pula dengan masyarakat disana yang masih kental akan budaya, mereka pun sangat ramah dan baik. Bagi saya semua itu merupakan hal yang sangat berkesan dan pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Arifat sedang menghitung jumlah telur penyu lekang dalam sarang pada masa pasca penetasan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya melaksanakan PKL sebulan lamanya, dari Juli sampai Agustus 2022. Banyak hal di lapangan yang saya pelajari, terutama menjadi lebih berani dan lebih baik. Semenjak mengikuti rutinitas patroli malam, saya menjadi berani beraktivitas pada malam hari dengan cahaya terbatas atau tanpa penerang sama sekali. Ini perlu dilakukan karena penyu sensitif terhadap cahaya. Kru lapangan mengajari dan membantu saya menggali sarang penyu lekang, mengukur kedalaman dan lebar sarang, dan menghitung jumlah telur. Penggalian sarang ini kami lakukan pada sarang-sarang penyu yang perlu direlokasi karena terancam rendaman air laut ataupun erosi dan saat telur-telur telah menetas dan dilakukan evaluasi sukses penetasan. Saya berhasil mendapatkan sampel sejumlah 34 sarang penyu lekang yaitu 10 sarang di pantai Warmamedi, 17 di pantai Batu Rumah, dan 7 di pantai Wembrak. Kedalaman sarang penyu lekang yang berkisar antara 32-54 cm dengan rata-rata 42,4 ± 5,2 cm (± 1 SD) dan diameter berkisar antara 18-38 cm dengan rata-rata 27,2 ± 4,9 (± 1 SD). Jumlah telur penyu lekang yang ditemui dalam sarang berkisar antara 37 butir sampai 119 butir dengan rata-rata 87,4 ± 21,4 butir (± 1 SD).

Saya sempat sakit dan perlu dibawa kembali ke kota, syukurnya saya pulih dan kembali ke pantai peneluran. Sampai pada akhirnya saya bersama Jaenet dan Hans kembali ke kota dan menyusun laporan PKL. Saya mendapatkan banyak dukungan saat menyusun laporan PKL, baik dari teman-teman, kakak-kakak tingkat, dan dosen pembimbing. Menurut mereka topik PKL saya menarik karena memberi pengetahuan baru. Ini menambah semangat saya untuk menyelesaikan laporan dan mempresentasikannya dalam seminar hasil PKL di tanggal 28 Oktober 2022. Beberapa kakak-kakak tenaga lapangan pantai peneluran Jeen Yessa pun datang saat saya seminar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Dukung Konservasi Penyu di Papua Barat, UNIPA Berbagi Pengetahuan Pemantauan dan Perlindungan Penyu

Dukung Konservasi Penyu di Papua Barat, UNIPA Berbagi Pengetahuan Pemantauan dan Perlindungan Penyu

Penulis

Abigail Lang, Noviyanti, Kartika Zohar, Yusup Jentewo

Tanggal

6 Oktober 2022

Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA dengan dukungan Blue Abadi Fund dan Kerjasama Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat melaksanakan kegiatan Berbagi Pengetahuan Tentang Pemantauan dan Perlindungan Penyu untuk Upaya Konservasi di Papua Barat. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua  hari pada Selasa dan Rabu tanggal 27 – 28 September 2022.

Sambutan pembukaan dari Ketua LPPM UNIPA
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Latihan mengukur morfologi penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Upaya konservasi penyu di wilayah Bentang Laut Kepala Burung Papua telah dilakukan oleh masyarakat dan penggiat konservasi. Namun, upaya yang baik ini sering kali terkendala kurangnya pengetahuan teknis terkait pemantauan dan perlindungan penyu yang didasari oleh pengetahuan ilmiah. Diketahui terdapat empat jenis penyu yang bertelur di wilayah Papua Barat yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik semu atau lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dimana semua jenis tersebut terancam populasinya di alam.

Kegiatan ini diikuti oleh 16 peserta perwakilan dari beberapa pihak seperti BBTN Teluk Cenderawasih, BBKSDA Papua Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat (DKP PB), Dinas Lingkungan Hidup Papua Barat (DLH PB), Satuan  Kepolisian  Perairan  dan  Udara (Sat Polairud) Manokwari, BEM FPIK UNIPA, Kelompok Penyu Bremi-Manokwari, Yayasan Misool Baseftin, Pokdarwis Amban Pantai, KUB Manduni Putra, Ketapang Dive Community, dan Kelompok  pelestari penyu di Nuni.

Hari pertama kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Solideo Gloria SMK 3, Reremi Manokwari. Terdapat empat materi yang dibawakan bagi peserta kegiatan yaitu :

  1. Materi Biologi Penyu
  2. Materi identifikasi jenis dan jejak penyu
  3. Teknik pemantauan penyu dan perlindungan sarang di pantai peneluran
  4. Ancaman terhadap penyu dan upaya pelestariannya.

Kegiatan hari kedua dilaksanakan di Pondok Ka’Mis Kampung Nusantara, Amban Pantai Manokwari. Sesi pada hari kedua diisi dengan praktik lapangan untuk mendalami materi yang telah didapatkan pada sesi di ruangan. Teori yang diberikan pada hari pertama dipraktikan pada hari kedua seperti mengidentifikasi jejak penyu, cara melindungi sarang dengan menggunakan metode pagar, dan melakukan relokasi sarang yang terletak di daerah yang terancam serta melakukan evaluasi sukses penetasan pada sarang dan penerapannya pada lokasi masing-masing. Peserta juga berdiskusi untuk mengidentifikasi bagaimana peran setiap pihak dalam pengelolaan penyu terutama di Papua Barat.

Praktek identifikasi jejak penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Praktek evaluasi sukses penetasan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Praktek perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Seluruh peserta yang konsisten mengikuti kegiatan sejak hari pertama mengalami peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap materi yang diberikan terlihat dari naiknya rata-rata skor tes peserta sebanyak 90%. Baik secara teori maupun praktik tidak terdapat kendala yang berarti bagi peserta untuk memahami dan mengikutinya. Melalui kegiatan ini kami berharap informasi terkait penyu dan teknik pemantauan dan perlindungannya dapat disebarluaskan untuk meningkatkan upaya konservasi penyu di wilayah Papua Barat.

Foto para peserta di hari kedua
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Berbagi Pengalaman dan Belajar Bersama sebelum Menjadi Penjaga Penyu

Berbagi Pengalaman dan Belajar Bersama sebelum Menjadi Penjaga Penyu

Penulis

Yusup Adrian Jentewo & Deasy Lontoh

Tanggal

9 Mei 2022

Musim peneluran penyu belimbing di Pantai Jeen Jeen Yessa dan Jeen Syuab, Kabupaten Tambrauw di tahun 2022 akan segera tiba, yaitu pada bulan Mei sampai September. Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua bersiap untuk kembali bertugas di pantai peneluran. Tim ini biasa kami panggil dengan sebutan “Kru pantai”. Beberapa anggota dalam tim merupakan kru lama yang sudah berpengalaman bekerja di pantai peneluran penyu. Namun terdapat juga beberapa anggota baru yang diterima melalui proses seleksi. Jumlah kru yang akan bertugas di lapangan ada 29 orang yang terdiri dari 4 koordinator pantai, 7 tenaga lapangan, 4 tenaga magang, 4 tenaga magang lokal dan 10 tenaga patroli lokal (4 perempuan dan 25 laki-laki).

Koordinator Penelitian dan Salah Satu Koordinator Pantai Memberikan Materi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Tim ini akan bertugas pada empat pantai yaitu: 1) Pantai Wembrak 2) Pantai Warmamedi 3) Pantai Batu Rumah, dan 4) Pantai Jeen Syuab. Sebelum berangkat ke lapangan, 10 orang kru yang terdiri dari 2 orang kru lama (1 tenaga lapang dan 1 tenaga magang) dan 8 orang kru baru (5 tenaga lapangan dan 3 tenaga magang) mendapat pembekalan. Pembekalan ini bertujuan untuk memberi informasi teknis terkait metode pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Bertempat di ruang rapat Program Sains untuk Konservasi, kegiatan pembekalan ini berlangsung selama empat hari yaitu pada hari Senin sampai Kamis (11 – 14 April 2022). Materi pembekalan mencakup: tugas dan tanggung jawab tenaga lapang dan tenaga magang, pengenalan lokasi pantai peneluran, fasilitas di pantai, kegiatan patroli pagi dan patroli malam, ancaman terhadap sarang dan penyu di pantai, cara melindungi sarang, cara mengukur lebar pantai, dan cara melakukan evaluasi sukses penetasan.

Persiapan Pengemasan Keperluan Tim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arfiandra Wanaputra)

Tim mengangkut barang-barang ke kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pemateri dalam kegiatan pembekalan ini adalah Ibu Deasy Lontoh sebagai Koordinator Penelitian; Arfiandra Wanaputra sebagai Asisten Koordinator Penelitian; Yairus Swabra sebagai Koordinator Program; dan para Koordinator Pantai Peneluran yaitu Petrus Batubara, Tonny Duwiri, John Mau, Mesak Adadikam, dan Muhamad Faisal. Pembekalan ini juga diselingi persiapan turun lapangan yang harus dilakukan oleh setiap tim pantai. Persiapan yang dilakukan adalah berbelanja kebutuhan selama di lapangan dan mengemasnya agar siap dibawa ke lapangan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Heading

Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112-Part 2​

Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112-Part 2 PenulisAnjely Novianti Kondororik, Minggas Natraka, Chatarina ...
/

Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112

Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 1 PenulisSiti Fatimah Az ...
/

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi ​

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi PenulisAbigail LangTanggal4 Agustus 2026 Manifes kapal mencatat total 439 ...
/

Sosialisasi PADIATAPA di Taman Pesisir Jeen Womom​

Sosialisasi PADIATAPA di Taman Pesisir Jeen Womom PenulisLiana MongdongTanggal03 Juli 2026 Tim Hubungan Masyarakat dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) telah ...
/

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat PenulisLiana MongdongTanggal01 Juli 2026 Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) ...
/
Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Cerita dari tenaga magang: Pengalaman Magang Konservasi Penyu Belimbing di Jamursba Medi, Kecamatan Abun, Kabupaten Tambrauw

Cerita dari tenaga magang: Pengalaman Magang Konservasi Penyu Belimbing di Jamursba Medi, Kecamatan Abun, Kabupaten Tambrauw

Penulis

Thomas Hombahomba

Tanggal

30 November 2021

Bersama penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya ingin berbagi pengalaman saat melakukan magang di program Konservasi Penyu Belimbing di Jamursba Medi, Kabupaten Tambrauw. Semua berawal ketika saya membaca iklan magang yang ditawarkan oleh LPPM UNIPA, kampus asal saya. Setelah saya melamar dan mengikuti proses wawancara, saya terpilih sebagai salah satu peserta magang untuk program tersebut. Sebelum turun ke lapangan, kami mengikuti rangkaian pelatihan membuat shelter/perlindungan sarang penyu belimbing dan mendirikan tenda.

Kami berangkat ke Kabupaten Tambrauw menggunakan transportasi laut, kapal Sabuk Nusantara 112. Anggota tim perlindungan dan pemantauan penyu dan anggota tim pemberdayaan masyarakat menemani kami dalam perjalanan. Sesampainya di Desa Saubeba, kami menginap di kamp tim pemberdayaan masyarakat. Kami bermalam untuk menunggu anggota tim lain yang berangkat dari Manokwari ke Saubeba dengan kapal fiber. Keesokan harinya kami menghadiri kebaktian di gereja Lahai Roi. Setelah ibadah, kami mengadakan pertemuan untuk membahas perjalanan kami ke lokasi.

Dalam waktu sebulan di pantai Jamursba Medi, saya dan anggota tim sudah membersihkan Pos Batu Rumah. Pantai ini diberi nama “Batu Rumah” karena di pinggir pantai terdapat batu besar berbentuk seperti rumah (batu dalam Bahasa: Batu, rumah dalam Bahasa: Rumah). Setelah itu, kami memperbaiki Pos di Pantai Warmamedi dan Pantai Wembrak. Dari Pos Batu Rumah kami harus berjalan kaki ke Warmamedi dan Wembrak. Sebagai tenaga magang tugas saya membantu anggota tim dalam mengumpulkan data pasang surut mingguan, logger pasang surut, pasang patok tambahan, pemasangan petak, dan pemantauan malam di pantai Wembrak. Sepanjang kegiatan saya berkenalan dengan beberapa warga lokal seperti Bapak Mesak, Bapak Musa, Bapak Korinus dan Om Yan yang biasa kami panggil dengan “Ai” (“Ai” dalam bahasa lokal Abun berarti “Bapak”).

Banyak pengalaman menyenangkan dan menarik yang saya dapatkan selama berada di lapangan. Saya berjalan kaki dari Pos Wembrak menuju Desa Womom dan Saubeba dan harus melalui tanjakan. Saya melakukan patroli malam dengan Kaka Todu dan Kaka Mesak di Pantai Wembrak. Saya berkesempatan melihat langsung penyu belimbing dewasa. Saya belajar mengoperasikan kapal fiber. Saya mengambil begitu banyak gambar matahari terbenam dan matahari terbit. Saya membawa pisang dari lokbon (bekas perusahaan kayu) ke Saubeba. Saya berbagi cerita dan lelucon dengan anggota tim dan petugas patroli lokal (Om Piter, Kaka Todu, Kaka Mesak, Kaka Fian, Kaka Ronal, Kaka Faizal, Sister Namy, Om Yan, Bapak Korinus, Bapak Mesak, Bapak Moses, dan pekerja masyarakat di Desa). Masih banyak cerita dan pengalaman seru yang belum pernah saya temukan di tempat lain sebelumnya. Saya berharap KKP ini akan terus sama sehingga anak cucu kita dapat mengalami hal yang sama seperti kita.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya