Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara Tahun 2023

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara Tahun 2023

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara pada tanggal 8-9 Maret 2023. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI WAWANCARA dan terpilih sebagai KANDIDAT UTAMA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. KANDIDAT UTAMA diharapkan memberikan konfirmasi kesediaan dengan mengisi formulir paling lambat Jumat, 24 Maret 2023. Apabila KANDIDAT UTAMA tidak mengisi, kami anggap mengundurkan diri.

2. Setelah KANDIDAT UTAMA memberikan konfirmasi kesediaan mengisi lowongan kerja, kami akan menghubungi Anda terkait hal teknis seperti kedatangan ke Manokwari dan persiapan lainnya.

3. KANDIDAT UTAMA pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti seleksi Tahap Akhir.

4. Pelatihan direncanakan dilaksanakan pada minggu ke-2 April 2023.

5. Para pelamar yang tidak tercantum namanya di sini dimasukkan dalam DAFTAR TUNGGU. Apabila KANDIDAT UTAMA berhalangan atau mengundurkan diri, maka kami akan menghubungi DAFTAR TUNGGU paling lambat Rabu, 29 Maret 2023.

6. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, Anda dapat menghubungi Admin WhatsApp Grup.

Sampai bertemu di Manokwari!

NoNamaJenis KelaminPosisi
1Johni MauLaki-LakiKP2
2Muhamad Faisal
Laki-LakiKP2
3Petrus BatubaraLaki-LakiKP2
4Tonny DuwiriLaki-LakiKP2
5Bernadus DuwitLaki-LakiTLP2
6Elvritha MorinPerempuanTLP2
7Hermanus AyomiLaki-LakiTLP2
8Mayustilo HokoyokuLaki-LakiTLP2
9Thomas Homba HombaLaki-LakiTLP2
10Yonas SaiduiLaki-LakiTLP2
11Kevin Juliand SuruanLaki-LakiTMP2 (April-Mei 2023)
12Konster Mans Yansen Toni
Laki-LakiTMP2 (April-Mei 2023)
13Pilipus Y AsaribabLaki-LakiTMP2 (April-Mei 2023)
14Zilvani Anita Pare DatuPerempuanTMP2 (April-Mei 2023)
15Alif Almer Muhammad
Laki-LakiTMP2 (Juni-Juli 2023)
16Amani Khairunnisa PermanaPerempuanTMP2 (Juni-Juli 2023)
17Anthoneta Martenci AwakPerempuanTMP2 (Juni-Juli 2023)
18Pemes MalingLaki-LakiTMP2 (Juni-Juli 2023)
19I Gede Agus Mahat MandiraLaki-LakiTMP2 (Agustus-September 2023)
20Lidia Faiza Jasmine
PerempuanTMP2 (Agustus-September 2023)
21Spenyel YenusyLaki-LakiTMP2 (Agustus-September 2023)
22Yohanis P. NuntianLaki-LakiTMP2 (Agustus-September 2023)
23Sandona Hans Luter KuweiLaki-LakiPMNH
24Noritha Fentiana MuraferPerempuanPMNH
25Ignasius BuuLaki-LakiPMNH
26Chintiya Anggaraine WambrauwPerempuanPMNH
27ZarastianaPerempuanPMNH
28Potrosina DaunemaPerempuanPMNH
29Yakomina BuramePerempuanPMNH
30Geraldo Ravenski RombeLaki-LakiPMNH
31Hans William MnuseferLaki-LakiPMNH
32Elisabeth Flowerencia Putri KawilarangPerempuanPMNH
33Evanora Insoraki AwomPerempuanPMNH
34Kristina Ifana RahailPerempuanPMNH

Kategori
Uncategorized @id

Pengumuman Penundaan Hasil Seleksi Wawancara Tahun 2023

Pengumuman Penundaan Hasil Seleksi Wawancara Tahun 2023

Karena banyaknya kandidat yang kami seleksi, proses seleksi wawancara MASIH BERLANGSUNG. Untuk itu kami MENUNDA pengumuman hasil seleksi wawancara menjadi 23 Maret 2023.

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara DITUNDA menjadi tanggal 23 Maret 2023.

Kami berharap para pelamar bersabar menunggu hasil seleksi wawancara dari kami. Terima kasih atas pengertiannya.

PosisiLaki-lakiPerempuanDomisili Tanah PapuaDomisili luar Tanah PapuaTotal
KP2Jumlah total berkas masuk3618193554
KP2Jumlah kandidat lolos seleksi tahap 171538
KP2Jumlah kandidat yang hadir dalam wawancara71538
TLP2Jumlah total berkas masuk60554570115
TLP2Jumlah kandidat lolos seleksi tahap 1187111425
TLP2Jumlah kandidat yang hadir dalam wawancara164101020
TMP2Jumlah total berkas masuk1924182543
TMP2Jumlah kandidat lolos seleksi tahap 12318172441
TMP2Jumlah kandidat yang hadir dalam wawancara1510151025
PMNHJumlah total berkas masuk2646403272
PMNHJumlah kandidat lolos seleksi tahap 11330162743
PMNHJumlah kandidat yang hadir dalam wawancara825161733

Jumlah total berkas masuk: 284
Jumlah kandidat lolos seleksi tahap 1: 117
Jumlah kandidat yang hadir dalam wawancara: 86

Kategori
Uncategorized @id

Informasi Jadwal Seleksi Wawancara Tahun 2023

Informasi Jadwal Seleksi Wawancara Tahun 2023

Salam Lestari.

Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Dari hasil seleksi tahap 1 tersebut 117 Orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) daftar nama peserta dan waktu untuk SELEKSI WAWANCARA pada setiap posisi. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Link Zoom Meeting akan dinfokan paling lambat jam 08:00 WIT sebelum kegiatan wawancara dimulai setiap harinya melalui WA Grup Peserta Wawancara

2. Peserta Wawancara diharapkan masuk ke dalam ruang zoom utama 15 menit sebelum jadwalnya.

3. Peserta menggunakan kemeja / berkerah.

4. Diharapkan peserta menggunakan jaringan internet yang stabil pada saat wawancara.

5. Peserta yang tidak mengikuti wawancara dengan sendirinya dinyatakan mengundurkan diri.

6. Peserta wawancara harus masuk dengan format nama sebagai berikut:
RUANGAN_KODE LOWONGAN_NAMA LENGKAP.
Contoh: A_KP2_SRI LOKESWARA.

Kategori
Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Wawancara Tahun 2023

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Wawancara Tahun 2023

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil Seleksi Tahap 1 tersebut 117 Orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

 

1. Wawancara dilaksanakan secara online pada tanggal 8-9 Maret 2023.

2. Jadwal Wawancara akan diberikan lewat Grup WA jadi pastikan anda tergabung.

3. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA : 081343313836

 

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea

Inisiasi Kegiatan Konservasi Penyu Belimbing di Teluk Huon, Papua Nugini

Inisiasi Kegiatan Konservasi Penyu Belimbing di Teluk Huon, Papua Nugini

Penulis

Tonny Duwiri, Yusup Jentewo dan Deasy Lontoh

Tanggal

21 Februari 2023

Jumlah penyu belimbing di Pasifik Barat telah jauh berkurang dari tahun 1980 karena berbagai tekanan dalam empat dekade terakhir. Aktivitas peneluran terkonsentrasi di Papua Barat, Indonesia (sekitar 75%), Papua New Guinea (5-25%), dan selebihnya di Kepulauan Solomon dan Vanuatu. Sayangnya kegiatan pemantauan aktivitas peneluran dan perlindungan sarang penyu belimbing di Papua Nugini (PNG) terhenti sejak tahun 2013. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melalui program Sains untuk Konservasi (S4C) dipercayakan untuk mendampingi tim lokal untuk memulai kembali kegiatan konservasi penyu belimbing di Teluk Huon, PNG. Donor memberikan kepercayaan tersebut karena mereka menganggap kegiatan konservasi penyu belimbing yang holistik di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw yang dilakukan UNIPA berhasil. Menjelang akhir tahun 2022, tim LPPM UNIPA dan penasehat teknis dari US NOAA memulai proses ini dengan mengidentifikasi dua penasehat lokal dan merekrut anggota tim lokal, Maureen Ewai sebagai Project Manager dan John Ben sebagai Field Coordinator.

Sesaat sebelum tim S4C menyeberang dari Skouw Indonesia ke Wutung Papua Nugini
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim bertemu dengan Kepala Divisi Sumber Daya Alam Provinsi Morobe
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Pada tanggal 14 Januari 2023, tiga anggota tim S4C, Deasy Lontoh, Yusup Jentewo dan Tonny Duwiri berangkat ke PNG untuk bertemu dengan tim lokal di PNG dan berkoordinasi dengan pemerintah, mitra, dan masyarakat kampung yang tinggal di pantai peneluran. Perjalanan dari Manokwari menggunakan transportasi udara ke Bandara Sentani  dan dilanjutkan jalur darat ke perbatasan dan ke Vanimo. Dari Vanimo, tim berangkat dengan pesawat ke kota Lae, Provinsi Morobe. Tim berdiskusi dengan salah satu penasehat proyek, Ibu Modi Pontio, dari Tree Kangaroo Conservation Project dan pemerintah terkait seperti pemerintah Distrik Huon dan pemerintah provinsi Morobe yang diwakili Kepada Divisi Sumber Daya Alam. Selain itu tim juga bertemu dua organisasi masyarakat yaitu Kamiali Foundation dan Morobe Development Foundation. Dalam pertemuan-pertemuan ini, tim S4C dan tim PNG memperkenalkan anggota tim dan rencana kerja yang akan dilakukan, dan berdiskusi tentang peluang bermitra.

Peran serta masyarakat lokal sangat diperlukan bagi kegiatan konservasi. Oleh sebab itu, kami bersama tim PNG mengunjungi dua kampung prioritas, Busama dan Kamiali antara 19 dan 23 Januari 2023 untuk mengetahui respon masyarakat terhadap kegiatan ini. Diskusi-diskusi dilakukan dengan masyarakat secara umum maupun berkelompok. Semua masyarakat menyambut baik inisiasi kegiatan konservasi penyu di kampung mereka, terlebih karena kegiatan kali ini memiliki program pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang tinggal berdekatan dengan pantai peneluran, dan bentuknya akan disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. Bentuk program pemberdayaan yang cocok menjadi salah satu topik diskusi dengan masyarakat Busama dan Kamiali.

Tim berdiskusi dengan masyarakat di Kampung Busama
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Tim berdiskusi dengan ibu-ibu di Kampung Kamiali
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Selain itu, tim juga melakukan penghitungan sarang penyu belimbing di beberapa pantai dengan perahu, dan menemukan 134 sarang antara Labu Tale sampai Paiawa.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

“Ternyata Tidak Seperti Yang Ditakutkan” Pengalaman Arifat Mahasiswa PKL Dari UNIPA

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

“Ternyata Tidak Seperti Yang Ditakutkan” Pengalaman Arifat Mahasiswa PKL Dari UNIPA

Penulis

Arifatul Hasanah

Tanggal

15 Februari 2023

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Saya, Arifatul Hasanah biasa dipanggil Arifat atau Ifah, mahasiswi semester empat dari Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua. Semester lalu saya melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di pantai peneluran Jeen Yessa di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA bersama dua teman saya, Jaenet Nunaki dan Hans Sawai. Ini pengalaman pertama saya melaksanakan praktek di lapangan karena saya menjalani perkuliahan di masa Covid-19 yang membuat sebagian besar kelas diadakan secara online. Sebelum berangkat sejujurnya saya memiliki rasa takut yang berlebihan karena belum pernah kesana dan akan berada selama sebulan di lokasi terpencil yang tidak memiliki akses sinyal telepon.

Arifat bersama kedua teman PKLnya sedang mengikuti pembekalan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sebelum turun lapangan, kami mengikuti pembekalan pada tanggal 15 Juni 2022. Kami belajar cara mengidentifikasi jenis penyu, sarana dan prasarana di lokasi, dan aktivitas yang dilakukan tenaga lapangan di pantai peneluran. Serta juga dibahas judul PKL dari kami bertiga. Setelah berdiskusi dengan pembimbing PKL, saya mengambil judul: “Jumlah Telur dan Dimensi Sarang Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Jeen Yessa. Penyu lekang? Iya benar, penyu lekang. Bukan hanya penyu belimbing yang dapat ditemukan di Pantai Jeen Yessa namun juga penyu lekang, penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Setibanya di lokasi semua kekuatiran saya yang sebelumnya, saya rasakan berubah dengan sendirinya. Seperti pepatah mengatakan “ Baik buruknya segala sesuatu di dunia, tergantung pandangan seseorang.” Saya hanya melihat dari sisi cerita namun nyatanya, sungguh luar biasa. Nuansa alamnya yang masih sangat sehat begitu pula dengan masyarakat disana yang masih kental akan budaya, mereka pun sangat ramah dan baik. Bagi saya semua itu merupakan hal yang sangat berkesan dan pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Arifat sedang menghitung jumlah telur penyu lekang dalam sarang pada masa pasca penetasan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya melaksanakan PKL sebulan lamanya, dari Juli sampai Agustus 2022. Banyak hal di lapangan yang saya pelajari, terutama menjadi lebih berani dan lebih baik. Semenjak mengikuti rutinitas patroli malam, saya menjadi berani beraktivitas pada malam hari dengan cahaya terbatas atau tanpa penerang sama sekali. Ini perlu dilakukan karena penyu sensitif terhadap cahaya. Kru lapangan mengajari dan membantu saya menggali sarang penyu lekang, mengukur kedalaman dan lebar sarang, dan menghitung jumlah telur. Penggalian sarang ini kami lakukan pada sarang-sarang penyu yang perlu direlokasi karena terancam rendaman air laut ataupun erosi dan saat telur-telur telah menetas dan dilakukan evaluasi sukses penetasan. Saya berhasil mendapatkan sampel sejumlah 34 sarang penyu lekang yaitu 10 sarang di pantai Warmamedi, 17 di pantai Batu Rumah, dan 7 di pantai Wembrak. Kedalaman sarang penyu lekang yang berkisar antara 32-54 cm dengan rata-rata 42,4 ± 5,2 cm (± 1 SD) dan diameter berkisar antara 18-38 cm dengan rata-rata 27,2 ± 4,9 (± 1 SD). Jumlah telur penyu lekang yang ditemui dalam sarang berkisar antara 37 butir sampai 119 butir dengan rata-rata 87,4 ± 21,4 butir (± 1 SD).

Saya sempat sakit dan perlu dibawa kembali ke kota, syukurnya saya pulih dan kembali ke pantai peneluran. Sampai pada akhirnya saya bersama Jaenet dan Hans kembali ke kota dan menyusun laporan PKL. Saya mendapatkan banyak dukungan saat menyusun laporan PKL, baik dari teman-teman, kakak-kakak tingkat, dan dosen pembimbing. Menurut mereka topik PKL saya menarik karena memberi pengetahuan baru. Ini menambah semangat saya untuk menyelesaikan laporan dan mempresentasikannya dalam seminar hasil PKL di tanggal 28 Oktober 2022. Beberapa kakak-kakak tenaga lapangan pantai peneluran Jeen Yessa pun datang saat saya seminar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Mengikuti Seminar Ilmiah Internasional di Raja Ampat

Mengikuti Seminar Ilmiah Internasional di Raja Ampat

Penulis

Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal

Tanggal

29 Desember 2022

Pascasarjana Universitas Papua tahun ini berkesempatan menyelenggarakan seminar ilmiah International Conference of Post Graduate University of Papua (ICOPOD) 2022 di Raja Ampat pada tanggal 24-25 November 2022. Program Sains untuk Konservasi berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut dan mempresentasikan dua hasil studi yang dilaksanakan di pantai peneluran Jeen Yessa di Tambrauw. Perwakilan program dalam hal ini adalah Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal, keduanya termasuk dalam tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang.

Ruang Seminar di Aula Bapeda Pemda Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Faisal yang musim ini bertugas di Pantai Jeen Syuab sebagai tenaga lapangan pantai peneluran, harus berangkat ke Manokwari untuk bersama Yusup ke Raja Ampat. Faisal berangkat dari Kampung Wau menggunakan perahu yang diantar oleh masyarakat bersama beberapa orang kru. Sebenarnya lokasi pantai peneluran lebih dekat ke Raja Ampat dibanding Manokwari, namun karena kapal yang biasa ke Sorong tidak bertepatan jadwal ke Sorong, maka Faisal harus terlebih dahulu ke Manokwari. Berbeda dengan Faisal, Yusup memang berkantor di Manokwari. Tanggal 23 November 2022 Yusup dan Faisal berangkat ke Sorong menggunakan pesawat dan melanjutkan perjalanan Raja Ampat dengan kapal laut.

Seminar internasional ini dihadiri oleh Wakil Bupati Raja Ampat Bapak Orideko Iriano Burdam, beberapa Dinas di lingkup Pemda Raja Ampat, Wakil Rektor bidang Akademik, Direktur Pascasarjana UNIPA serta beberapa perwakilan NGO yang bekerja di Papua Barat seperti Yayasan Konservasi Indonesia, WRI Indonesia dan beberapa lainnya. Acara dibuka oleh Wakil Bupati dan dilanjutkan dengan pemaparan beberapa pembicara utama (keynote speaker). Pada sesi presentasi parallel, Yusup memaparkan studi mengenai dampak buka sasi dalam pengurangan predator sarang penyu di pantai Jeen Yessa sedangkan Faisal membawa topik mengenai peningkatan sukses penetasan sarang penyu belimbing yang dilindungi di Pantai Batu Rumah. Kegiatan ini penting sebagai sarana berbagi hasil studi di lapangan dan bertukar pikiran sesama peneliti, akademisi serta penggiat konservasi di Papua Barat. Seperti yang dikatakan Wakil Rektor 1 UNIPA dalam sambutannya bahwa penting untuk mengaitkan dunia penelitian teori dengan dunia praktek yang menunjang pemecahan masalah-masalah di lapangan.

Suasana saat Yusup Jentewo melakukan presentasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana saat Muhamad Faisal melakukan presentasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Apa yang dipaparkan Yusup dan Faisal dalam dalam bahasa inggris merupakan studi di lapangan dalam memecahkan masalah yang dihadapi di pantai peneluran serta memaksimalkan keberhasilan penetasan sarang penyu di pantai peneluran. Dalam paparan Yusup, dikatakan sasi di Jeen Yessa telah menurunkan jumlah gangguan terhadap sarang penyu belimbing sampai 50% dan juga untuk semua jenis penyu mencapai 85% pada tahun 2021. Sedangkan untuk perlindungan sarang dikatakan Faisal dalam presentasinya berhasil meningkatkan keberhasilan sukses penetasan dibanding sarang yang dibiarkan alami terpapar terhadap gangguan. Metode menaungi sarang pun direkomendasikan karena menghasilkan sukses penetasan yang berbeda secara signifikan dengan sarang alami di Batu Rumah. Di kegiatan ini pula hasil rangkuman hasil studi yang dipaparkan telah diserahkan pada Pemda Raja Ampat sebagai rekomendasi kebijakan (Policy recommendation) dalam menunjang pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya hayati.

Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal saat di Telaga Bintang)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Hari kedua kegiatan dilanjutkan dengan field trip ke beberapa lokasi wisata di Raja Ampat, seperti Piaynemo, Telaga Bintang, Arborek, Pasir Timbul, Yenbuba dan Friwen dimana peserta yang ikut terpukau dengan keindahan Raja Ampat yang menyajikan pemandangan yang jarang ditemui di tempat lainnya. Faisal yang ternyata pertama kali ke Raja Ampat pun bersyukur dapat berkesempatan mengunjungi daerah ini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Mengikuti Seminar Ilmiah Internasional di Raja Ampat

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/mengikuti-seminar-ilmiah-internasional-di-raja-ampat” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/mengikuti-seminar-ilmiah-internasional-di-raja-ampat” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/mengikuti-seminar-ilmiah-internasional-di-raja-ampat” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

29 Desember 2022

Penulis

Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal

Tanggal

29 Desember 2022

Penulis

Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal

Pascasarjana Universitas Papua tahun ini berkesempatan menyelenggarakan seminar ilmiah International Conference of Post Graduate University of Papua (ICOPOD) 2022 di Raja Ampat pada tanggal 24-25 November 2022. Program Sains untuk Konservasi berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut dan mempresentasikan dua hasil studi yang dilaksanakan di pantai peneluran Jeen Yessa di Tambrauw. Perwakilan program dalam hal ini adalah Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal, keduanya termasuk dalam tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang.

Faisal yang musim ini bertugas di Pantai Jeen Syuab sebagai tenaga lapangan pantai peneluran, harus berangkat ke Manokwari untuk bersama Yusup ke Raja Ampat. Faisal berangkat dari Kampung Wau menggunakan perahu yang diantar oleh masyarakat bersama beberapa orang kru. Sebenarnya lokasi pantai peneluran lebih dekat ke Raja Ampat dibanding Manokwari, namun karena kapal yang biasa ke Sorong tidak bertepatan jadwal ke Sorong, maka Faisal harus terlebih dahulu ke Manokwari. Berbeda dengan Faisal, Yusup memang berkantor di Manokwari. Tanggal 23 November 2022 Yusup dan Faisal berangkat ke Sorong menggunakan pesawat dan melanjutkan perjalanan Raja Ampat dengan kapal laut.

Ruang Seminar di Aula Bapeda Pemda Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Seminar internasional ini dihadiri oleh Wakil Bupati Raja Ampat Bapak Orideko Iriano Burdam, beberapa Dinas di lingkup Pemda Raja Ampat, Wakil Rektor bidang Akademik, Direktur Pascasarjana UNIPA serta beberapa perwakilan NGO yang bekerja di Papua Barat seperti Yayasan Konservasi Indonesia, WRI Indonesia dan beberapa lainnya. Acara dibuka oleh Wakil Bupati dan dilanjutkan dengan pemaparan beberapa pembicara utama (keynote speaker). Pada sesi presentasi parallel, Yusup memaparkan studi mengenai dampak buka sasi dalam pengurangan predator sarang penyu di pantai Jeen Yessa sedangkan Faisal membawa topik mengenai peningkatan sukses penetasan sarang penyu belimbing yang dilindungi di Pantai Batu Rumah. Kegiatan ini penting sebagai sarana berbagi hasil studi di lapangan dan bertukar pikiran sesama peneliti, akademisi serta penggiat konservasi di Papua Barat. Seperti yang dikatakan Wakil Rektor 1 UNIPA dalam sambutannya bahwa penting untuk mengaitkan dunia penelitian teori dengan dunia praktek yang menunjang pemecahan masalah-masalah di lapangan.

Suasana saat Yusup Jentewo melakukan Presentasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana saat Muhamad Faisal melakukan Presentasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Apa yang dipaparkan Yusup dan Faisal dalam dalam bahasa inggris merupakan studi di lapangan dalam memecahkan masalah yang dihadapi di pantai peneluran serta memaksimalkan keberhasilan penetasan sarang penyu di pantai peneluran. Dalam paparan Yusup, dikatakan sasi di Jeen Yessa telah menurunkan jumlah gangguan terhadap sarang penyu belimbing sampai 50% dan juga untuk semua jenis penyu mencapai 85% pada tahun 2021. Sedangkan untuk perlindungan sarang dikatakan Faisal dalam presentasinya berhasil meningkatkan keberhasilan sukses penetasan dibanding sarang yang dibiarkan alami terpapar terhadap gangguan. Metode menaungi sarang pun direkomendasikan karena menghasilkan sukses penetasan yang berbeda secara signifikan dengan sarang alami di Batu Rumah. Di kegiatan ini pula hasil rangkuman hasil studi yang dipaparkan telah diserahkan pada Pemda Raja Ampat sebagai rekomendasi kebijakan (Policy recommendation) dalam menunjang pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya hayati.

Yusup Jentewo dan Muhamad Faisal saat di Telaga Bintang)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Hari kedua kegiatan dilanjutkan dengan field trip ke beberapa lokasi wisata di Raja Ampat, seperti Piaynemo, Telaga Bintang, Arborek, Pasir Timbul, Yenbuba dan Friwen dimana peserta yang ikut terpukau dengan keindahan Raja Ampat yang menyajikan pemandangan yang jarang ditemui di tempat lainnya. Faisal yang ternyata pertama kali ke Raja Ampat pun bersyukur dapat berkesempatan mengunjungi daerah ini.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/mengikuti-seminar-ilmiah-internasional-di-raja-ampat” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/mengikuti-seminar-ilmiah-internasional-di-raja-ampat” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/mengikuti-seminar-ilmiah-internasional-di-raja-ampat” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Cerita Pendamping Masyarakat dari Kampung Womom: Sukacita dan Tantangan Melayani di Bidang Pendidikan

Cerita Pendamping Masyarakat dari Kampung Womom: Sukacita dan Tantangan Melayani di Bidang Pendidikan

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Penulis

Armandho Rumpaidus

Tanggal

23 Desember 2022

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Suara unggas mulai melantun, udara pagi hari yang dingin begitu menusuk hingga ke tulang. Namun bersama dengan hadirnya mentari, pertanda hari ‘kan segera dimulai. Saling membangunkan antara guru dan murid adalah rutinitas setiap hari sekolah, saling mengecek apakah semua sudah mandi dan mengenakan seragam sesuai hari penggunaannya menjadi hal wajib.

Inilah kisah saya sebagai PMNH (Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program) bersama anak-anak di Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Saat hari sekolah, saling membangunkan dan mengecek apakah para murid yang tinggal di Kampung Womom sudah mandi pagi serta menggunakan seragam hingga saling menunggu untuk berangkat ke sekolah menjadi rutinitas kami.

Foto Bersama Anak-anak SD dari Kampung Womom
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Foto di Depan Papan Nama Kampung Womom Distrik Tobouw
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Perjalanan ke sekolah biasanya kami tempuh dalam waktu 15-20 menit dari Kampung Womom hingga tiba di halaman sekolah. Jam 07.00 WIT merupakan waktu dimana kami akan mulai berjalan dari Kampung Womom ke Kampung Resye, jarak tempuh sekitar 600-700 meter. SD terdekat dari Kampung Womom hanya ada di Kampung Resye. Perjalanan ke sekolah hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki melewati pantai. Jangan harap anak-anak murid mau pakai sepatu saat berjalan ke sekolah, medan yang kami lewati membuat sepatu hanya akan digunakan saat kami tiba di Kampung Resye.

Ketika berjalan kaki ke sekolah bersama para murid, alangkah bahagianya kami jika air sedang meti (air laut surut). Berjalan melewati pasir pantai akan terasa begitu santai dan bebas untuk bercerita, kadang juga kami akan bernyanyi lagu yang kami tau. Atau sekedar saling bertukar dan belajar kosakata dalam bahasa daerah kami masing-masing (Bahasa Biak dan Abun), bahkan bercerita tentang harapan dan cita-cita mereka di masa depan. Tetapi situasi akan sangat menegangkan apabila di pagi hari air sedang naik (air laut pasang), drama hitung-menghitung ombak serta lari-larian demi menghindari terjangan ombak akan terjadi selama perjalanan ke sekolah. Jika sebelumnya pada malam hari turun hujan lebat, maka di pagi hari kami harus melewati 2 muara kali yang meluap ke laut. Jika intensitas air kali deras dan dalam, maka menggendong anak murid melewati kali tentu harus dilakukan. Itulah kisah paling seru. Semua demi pendidikan.

Andarias N. Yesawen Belajar Komputer di Rumah Belajar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Hermina)

Kegiatan Belajar mengajar Komputer di Rumah Belajar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Anak-anak Kampung Womom yang bersekolah di SD YPK Lahai-Roi Saubeba berjumlah 3 orang, yakni Beren Yekwam (kelas 6), Andarias Novaldo Yesawen (kelas 3) dan Piter Yekwam (kelas 3). Saya bersama rekan PMNH, Hermina G. Langoday, yang bertugas di Kampung Womom bergantian mengajar di sekolah setiap 2 hari sekali. Oleh karena itu, saya mendapatkan jatah 3 hari dalam seminggu mengajar di sekolah.

Inilah kisah saya sebagai PMNH di Kampung Womom selama bulan April-Oktober. Tantangan ke sekolah memang berat. Tetapi semua demi pendidikan, karena buahnya pasti manis.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Kemampuan Belajar Anak Secara Umum di Rumah Belajar Konservasi Penyu

Kemampuan Belajar Anak Secara Umum di Rumah Belajar Konservasi Penyu

Penulis

Alberto Y. T. Allo

Tanggal

20 Desember 2022

Apa Saja Kegiatan di Rumah Belajar Kami?

Program Pemberdayaan Masyarakat pada bidang pendidikan terus berlanjut, pada tahun 2022 periode I dilaksanakan selama bulan April-September 2022. Program Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Papua (LPPM – UNIPA) menugaskan empat tim pendamping masyarakat dan narahubung program (disingkat ‘PMNH’) untuk mendukung program konservasi penyu belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Bentuk dukungan memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak.

Di bidang pendidikan, ada dua program utama yaitu mendukung program pendidikan formal (PMNH membantu mengajar di Sekolah Dasar) dan program pendidikan informal (PMNH mengajar di rumah belajar). Pada tulisan ini yang akan kita bahas tentang program pendidikan Informal di rumah belajar. Rumah belajar adalah sebuah rumah tempat anak-anak di kampung datang belajar pada sore hari dan rumah tersebut juga sebagai rumah tempat tinggal para PMNH di lapang. Pendidik atau guru di rumah belajar adalah PMNH. Mereka adalah alumni minimal D3 yang direkrut dan diberikan pelatihan sebelum melaksanakan tugasnya pada masing-masing rumah belajar.

Pembelajaran Berhitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yana Rumbrawer)

Kegiatan Belajar Mengajar PLH di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada tahun 2021 intervensi pendidikan yang diberikan masih terbatas pada 3 lokasi rumah belajar dan pelajaran yang dievaluasi pada 5 bidang pelajaran (Baca, Tulis, Hitung, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Lingkungan Hidup) dan 1 bidang pelajaran masih diajarkan secara terbatas hanya di Rumah Belajar Resye yaitu pembelajaran komputer dasar.

Sedangkan pada tahun 2022, rumah belajar sudah berada di 4 lokasi yaitu Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf, Rumah Belajar Kampung Syukwo, Rumah Belajar Kampung Womom, dan Rumah Belajar Kampung Resye. Di tahun ini pembelajaran yang diberikan kepada anak di semua rumah belajar sebanyak 6 pelajaran, dimana pelajaran Komputer Dasar menjadi pelajaran baru bagi beberapa rumah belajar.

Kegiatan lain di rumah belajar yang dilaksanakan tetapi tidak diambil nilai evaluasinya yaitu kegiatan perpustakaan keliling (meningkatkan literasi baca anak melalui buku cerita dan dongeng); kegiatan kebersihan pribadi (cuci tangan pakai sabun dan sikat gigi yang benar); dan kegiatan Apotek hidup (Mengajarkan cara menanam tanaman obat di pekarangan rumah).

Seperti Apa Kemampuan Anak di Rumah Belajar?

Seperti apa kemampuan anak secara umum di masing-masing rumah belajar? Berikut kami buat kompulasi cerita perwakilan beberapa anak yang disampaikan secara langsung oleh PMNH yang mengajar di sana selama 5 bulan.

Namanya Kundrat. Ia adalah salah satu anak dari Rumah Belajar Resye. Pada awal bulan April 2022, Kundrat Yesnath bersekolah di kelas 4 SD YPK Lachai-Roy Resye. Pada bulan April, PMNH bertanya apakah Kundrat pernah melihat komputer atau laptop, ia menjawab pernah melihat fotonya dari telepon selular (handphone) tetapi belum pernah memegang langsung atau mengoperasikannya. Sebelum pembelajaran Komputer Dasar dilakukan test kemampuan pengoperasian komputer dasar, ia memperoleh nilai kemampuan 37.5% (berada dalam kategori Tidak Bisa (TB)). Artinya Kundrat belum bisa mengoperasikan komputer. Walaupun demikian, Kundrat sangat rajin mengikuti Pembelajaran Komputer Dasar. Dalam pembelajaran, setiap anak diberikan kesempatan untuk langsung praktik menggunakan komputer/laptop. Kundrat mampu mengikuti semua pembelajaran dengan baik. Dan pada evaluasi akhir di bulan September 2022, Kundrat memperoleh kemampuan 100% dalam kategori Bisa (B) dari semua sub indikator yang diajarkan. Kundrat sudah dapat mengoperasikan komputer dengan  sangat baik. Misalnya menyalakan dan mematikan komputer, menyebutkan dan membedakan perangkat keras komputer yang satu dengan yang lain. Selain itu dapat membuka dan menutup MS.Word, MS.Excel dan MS.Power Point dan juga dapat menyimpan file (save as) yang telah dikerjakan (mengetik, memasukan foto, gambat, video dan audio).

Lain lagi cerita dari Aldo. Ia bersekolah di sekolah yang sama dengan Kundrat, ia duduk di bangku kelas 3 SD. Andarias Novaldo Yesawen, atau biasa dipanggil Aldo, tinggal di Kampung Womom. Kampung ini bersebelahan dengan kampung tempat Kundrat tinggal. Pada evaluasi pembelajaran sebelum periode dimulai, kemampuan Aldo berada pada angka 25% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Secara spesifik Aldo belum punya pengetahuan dasar Bahasa Inggris mengenai huruf, abjad, nama hewan, makanan, warna, salam, nama hari, waktu, serta benda-benda di sekitar rumah dan sekolah. Setelah diajarkan kurang lebih 5 bulan, nilai evaluasi akhir Aldo meningkat menjadi 75% dalam kategori Bisa (B).  Artinya Aldo sudah bisa menyebutkan huruf, abjad, salam, nama hewan (yang ada di kampung), nama hari dalam Bahasa Inggris.

Dari Rumah Belajar Syukwo, kami mengenal Sance. Sance Dorce Yesnath berada di kelas 6 SD Negeri Warmandi. Dalam kemampuan awal berhitung Sance Yesnath berada pada 21.05% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Artinya bahwa ada beberapa Sub Indikator yang Sance belum mengerti pada awal pertemuan, diantaranya masih kesulitan dalam mengenal angka ratusan ribu dan angka jutaan. Karena semangat belajar yang tinggi dari Sance dan diajarkan berulang-ulang, Sance dapat mengerti dengan cukup baik angka ratusan ribu dan angka jutaan. Sance memperoleh evaluasi 100% dalam kategori Bisa (B). Artinya Sance sudah bisa melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian menggunakan angka pecahan campuran berdasarkan sub indikator yang diajarkan.

Dari Rumah Belajar Wau-Weyaf, Yohanis Jokser memiliki kemampuan membaca yang sangat menonjol. Saat April 2022, Yohanis Jokser berada di kelas 4 SD Inpres 36 Wau. Kemampuan awal membaca Yohanis berada pada 28.57% dalam kategori Tidak Bisa (TB). Artinya bahwa ada beberapa Sub Indikator yang Yohanis belum mengerti pada awal pertemuan, diantaranya mengeja ketika mendapatkan kalimat yang sulit, namun masih belum bisa dalam penggunaan tanda baca dan menggunakan intonasi yang tepat sesuai tanda baca. Setelah belajar membaca di selama kurang lebih 5 bulan, dengan giat dan rajin Yohanis datang belajar membaca sehingga diperoleh evaluasi akhir 100% dalam kategori Bisa (B). Artinya Yohanis sudah bisa membaca tanpa dengan mengeja dan membaca menggunakan tanda baca.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Musim Teduh: Menilik Aktivitas Pemantauan dan Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Musim Teduh: Menilik Aktivitas Pemantauan dan Perlindungan Sarang di Pantai Jeen Syuab

Penulis

Petrus Pieter Batubara

Tanggal

22 November 2022

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo! Perkenalkan nama saya Petrus Pieter Batubara, akrab disapa teman-teman dengan  panggilan Ompet. Saya dipercayakan sebagai Koordinator Pantai Jeen Syuab (dahulu disebut pantai Wermon) pada musim peneluran April-September 2022. Pantai Jeen Syuab merupakan satu dari dua pantai peneluran penting bagi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Saya telah bergabung dalam tim sejak tahun 2013 dan cukup punya pengalaman dalam beberapa musim peneluran sebagai anggota tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Taman Pesisir Jeen Womom.

Foto tim Jeen Syuab musim teduh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim LPPM Universitas Papua (UNIPA) di pantai Jeen Syuab berjumlah enam orang yang terdiri dari saya sebagai koordinator pantai, lalu Yonas Saidui, Paitu Tomas Yesyak, dan Hermanus Maklon Ayomi sebagai tenaga lapangan dan tenaga magang, yaitu Osorio Mariano S. S. Embulaba dan Mayustilo Abraham Hokoyoku. Kami bekerja bersama kurang lebih 24 masyarakat lokal dari Kampung Wau dan Kampung Weyaf (dua kampung di dekat pantai) dalam berbagai aktivitas di pantai. Masyarakat yang terlibat  adalah 4 orang pemilik pantai, 6 patroler lokal yang bergantian setiap bulan, dan 2 pemuda sebagai tenaga magang. Para patroler lokal bertanggung jawab mencatat jejak penyu dan menandai posisi sarang penyu. Dalam sehari patroler lokal dapat menandai 5 sampai 10 posisi sarang dengan menggunakan besi stainless untuk merasakan pasir diatas sarang.

Memindahkan sarang ke dalam kandang relokasi merupakan metode melindungi sarang-sarang penyu belimbing dari invasi akar Ipomoea sp. di pantai Jeen Syuab. Empat orang masyarakat lokal menyediakan kandang relokasi dan 12 anggota masyarakat lokal dengan antusias membantu memindahkan telur dari sarang alami ke sarang buatan dalam kandang relokasi. Tenaga relokasi dapat memindahkan sarang sebanyak 10 sarang dalam sehari dan dilakukan secara individual maupun berkelompok. Keterlibatan wanita pun meningkat di musim ini diketahui 9 dari 12 orang yang terlibat sebagai tenaga relokasi adalah perempuan (75%). Mereka membantu upaya perlindungan sarang di pantai dan upah yang diterima pun dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Tim melakukan crosscheck data di pos
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Bapak Lukas sedang menandai sarang Penyu Belimbing
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Musim peneluran tahun ini sangat luar biasa menurut saya, di awal musim jumlah aktivitas penyu sudah cukup banyak, di setiap malam tercatat terdapat 3-5 individu penyu yang naik untuk bertelur. Dua bulan awal yaitu bulan April dan Mei tercatat 127 sarang penyu belimbing dan 41 individu yang terdata dan terus meningkat sampai mencapai 773 sarang. Ditemui total 218 individu di akhir September, 90 individu baru terdata dan 128 telah terdata di musim sebelumnya. Bukan hanya penyu belimbing namun kami juga menemui sarang penyu lain seperti 5 sarang penyu hijau (Chelonia mydas), 5 sarang penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan 134 sarang penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Musim ini terdapat enam kandang relokasi yang dibuat oleh masyarakat lokal yang mengakomodir 517 sarang penyu belimbing, dan diketahui jumlah telur yang dipindahkan ke dalam kandang relokasi sebanyak 38.259 telur. Terdapat pula 45 sarang kontrol yang ditandai untuk menjadi perbandingan dengan sarang yang dilindungi. Selain memindahkan sarang ke kandang relokasi, tim juga harus mengontrol kandang relokasi dari pemangsa alami seperti anjing yang berusaha masuk ke dalam kandang untuk memakan telur penyu. Kurang lebih masa inkubasi telur yaitu selama 60 hari kemudian sarang siap untuk menetas, pekerjaan selanjutnya adalah mengevaluasi sarang yang sudah menetas untuk meninjau seberapa berhasilnya metode yang dilakukan melindungi sarang. Dari kegiatan evaluasi sukses penetasan diketahui rata-rata sukses penetasan di kandang relokasi pantai Jeen Syuab di musim ini adalah 49%, jauh lebih tinggi dibanding sukses penetasan sarang kontrol yang hanya mencapai 3%. Diartikan bahwa penggunaan kandang relokasi di Jeen Syuab berhasil meningkatkan penetasan telur penyu belimbing disana. Diestimasikan tukik yang berhasil menetas dari sarang pada musim ini adalah sebanyak 19008 tukik.

Yemima Bame dan Oktovina Jokson sedang menggali sarang buatan
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Petrus Batubara)

Penyu Belimbing bertelur dipagi hari
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Tim UNIPA melakukan presentasi di tengah masyarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Keberhasilan yang kami dapat ini terjadi karena antusiasme dan kekompakan dari tim dan masyarakat lokal yang terlibat dalam upaya pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Hasil kegiatan kami ini telah kami paparkan di tengah masyarakat kampung Wau dan Weyaf pada tanggal 24 September 2022 di Balai Kampung Weyaf, agar seluruh masyarakat dapat mengetahui kegiatan konservasi yang dilakukan di pantai Jeen Syuab dengan terbuka. Masyarakat memberikan apresiasi mendengar paparan kami dan berharap agar di musim-musim peneluran selanjutnya tim UNIPA dapat terus bekerja di pantai bersama masyarakat dalam menjaga penyu.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya