Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Periode Kedua Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di
kantor pada hari Rabu, 17 Juni 2026.

2. Pelaksanaan Training akan dilakukan di kantor Sains untuk Konservasi di Manokwari, Papua
Barat.

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training yang akan
dilaksanakan pada tanggal 17-19 Juni 2026.

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota

“Setuju Sekali!”: Awal Mimpi Om Jen untuk Menjaga Laut Namatota

Penulis

Habema Monim

Tanggal

09 Juni 2026

“Ma… kalau saya jadi dive master dan jadi dive guide, Mama setuju kah tidak?”
“Setuju sekali!”

Itulah sepenggal percakapan hangat antara sepasang suami istri di sebuah rumah sederhana di pesisir Kampung Namatota, Kaimana. Percakapan yang menjadi awal dari sebuah mimpi besar.

Selama lima hari, pada 15 – 19 April 2026, saya bersama tim melaksanakan kegiatan monitoring kesehatan karang atau yang dikenal sebagai Reef Health Monitoring (RHM) di perairan sekitar Kampung Namatota. Tim kami terdiri dari empat tenaga ahli dan lima tenaga lokal. Salah satu  tenaga lokal adalah Jen, yang akrab disapa Om Jen.

Om Jen saat terlibat dalam briefing tim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Foto bersama om Jen dan tim RHM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Om Jen merupakan salah seorang penyelam dari kelompok POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) yang dibentuk di Kampung Namatota. Ini adalah pertama kalinya ia terlibat dalam kegiatan RHM (Reef Health Monitoring). Pengalaman tersebut memberinya banyak pelajaran baru, meskipun tidak tanpa tantangan.

“Awalnya saya takut salah,” ujar Om Jen. “Saya juga masih takut menyelam di tempat baru, apalagi yang dalam dan ada gua. Tapi justru itu jadi pengalaman yang baik untuk saya.”

Rasa takut itu perlahan berubah menjadi semangat belajar. Saat saya menanyakan harapannya ke depan, Om Jen menyampaikan keinginannya dengan penuh antusias. “Pertama, saya ingin menyelam lebih baik lagi, karena saya rasa masih kurang,” ujarnya. “Saya juga lihat kakak-kakak pegang kamera, foto dan video di bawah laut. Saya ingin ke depan bisa begitu juga, bisa mendokumentasikan keindahan bawah laut Namatota.”

Om Jen saat membantu tim dalam pengisian tabung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Om Jen saat bersiap untuk melakukan penyelaman
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Ia juga menceritakan pengalamannya saat menyelam bersama salah satu anggota tim. “Selama menyelam, saya selalu buddy dengan Kakak Bema. Dia selalu pegang papan tulis, ada kertas dan di kertas itu ada tulisan tapi ada kotak-kotak juga di dalamnya, lalu Kakak Bema selalu mencatat. Saya sering intip dari belakang dan penasaran, apa yang dicatat. Jadi, saya juga ingin bisa belajar mencatat data seperti itu. Sekarang saya memang hanya gulung-gulung transek saja, tapi kalau ada RHM lagi, saya tidak hanya lihat-lihat lagi, tidak gulung-gulung transek saja tapi bisa ikut ambil data.”

Lebih dari itu, Om Jen memiliki cita-cita yang besar, yaitu menjadi seorang dive master bersertifikat resmi. Baginya, sertifikasi bukan hanya sekadar pengakuan, tetapi juga sebuah peluang. “Kalau saya sudah punya sertifikat, saya bisa jadi guide, bisa foto-foto bawah laut, bisa ambil data. Kalau ada kapal wisata datang, saya juga bisa ikut sebagai guide.”

Saat ditanya pesannya untuk rekan-rekan lain di kampungnya, Om Jen menjawab dengan tegas namun penuh harapan. “Jangan jadi penonton saja. Ini tempat kita, ini laut kita. Kakak-kakak yang datang ini membantu mengangkat potensi tempat kita. Setelah itu, tugas kita yang kelola. Jadi mari kita belajar dari pengalaman yang ada dan bergerak maju.”

Om Jen saat membantu tim memasang transek pengamatan
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Om Jen saat membantu tim memasang transek pengamatan
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Di akhir percakapan, Om Jen kembali mengingat momen sederhana yang justru menjadi sumber motivasi terbesarnya. “Satu kali saya duduk di teras rumah dengan maitua (istri). Lalu saya tanya, Ma… kalau saya jadi dive master dan jadi guide, mama setuju kah tidak? Dan dia jawab, setuju sekali!”. Jawaban singkat itu menjadi dorongan besar bagi Om Jen untuk terus melangkah, mengejar mimpi, dan tumbuh bersama laut yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Periode Kedua Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Periode Kedua Tahun 2026

 

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 20 pelamar dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara offline (bagi yang berdomisili di Manokwari) atau online (bagi
yang berdomisili di luar Manokwari) melalui zoom pada hari Selasa, 09 Juni 2026.

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara (link zoom dan waktu
menyusul).

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali.

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Penulis

Thomas Sembai

Tanggal

16 Mei 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Tambrauw, sebuah wilayah dengan visualisasi pegunungan, perbukitan, lembah yang elok, hutan, sungai panjang berkelok, serta lautan dan garis pantai panjang yang merupakan habitat penyu. Di pesisir Pantai Abun terdapat dua kampung kecil, tempat suara ombak dan angin menjadi lagu sehari-hari. Keduanya dipisahkan jalan setapak: bagian barat Kampung Wau, bagian timur Kampung Weyaf. Meski berbeda nama, masyarakatnya hidup berdampingan dan terhubung erat. Kedua kampung ini terletak di teluk yang berhadapan dengan laut, dengan kehidupan yang bergantung pada hasil alam yang melimpah, tanpa listrik, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang terbatas.

Di antara kedua kampung itu berdiri sebuah rumah sederhana berdinding setengah tembok dan papan. Setiap sore rumah itu ramai oleh anak-anak. Rumah itu bukan sekolah resmi, tanpa seragam, lonceng, maupun ijazah. Namun, di sanalah pendidikan tumbuh dan memberi harapan bagi masa depan anak-anak.

Rumah sederhana itu dikenal sebagai rumah belajar, sarana pendidikan bagi anak-anak. Setiap sore mereka berkumpul untuk belajar dengan suasana santai dan menyenangkan. Kegiatan diawali dan diakhiri dengan doa bersama. Materi yang dipelajari meliputi baca-tulis, hitung, Computer-English (COMENG), pendidikan lingkungan hidup (PLH), serta ekstrakurikuler. Rumah belajar ini juga dilengkapi perpustakaan mini. Di sana, tidak ada rasa takut salah. Anak-anak bebas bertanya dan berdiskusi tentang hal-hal yang mereka temui setiap hari.

Thomas Sembai diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Anak-anak belajar cara melindungi sarang penyu dalam praktik PLH Penyu

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

 

Di kampung, anak-anak dan orang tua lebih mengenal kami sebagai “guru”, meskipun peran kami adalah PMNH (Pendamping Masyarakat dan Narahubung). Karena itu, bersama Ottow, Titin, dan saya membagi tugas serta jadwal mengajar dari Senin hingga Sabtu. Adapun kelas dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelas kecil yang terdiri dari anak-anak SD kelas 1-2 yang diajarkan oleh Titin, kelas sedang yang terdiri dari anak-anak SD kelas 3-4 yang diajarkan oleh saya, dan kelas besar yang terdiri dari anak-anak SD kelas 5-6 yang diajarkan oleh Ottow. Jadwal pembelajaran yang diajarkan adalah hari Senin baca-tulis, Selasa hitung, Rabu Computer-English, Kamis pendidikan lingkungan hidup (PLH penyu dan PLH series 1-3 setiap akhir bulan), Jumat review materi, dan Sabtu ekstrakurikuler (apotek hidup, perpustakaan keliling, mencuci tangan, menggosok gigi, dan makan bersama). Kami tidak hanya mengajar di rumah belajar saja, melainkan kami juga diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam proses pembelajaran, banyak tantangan yang dialami, seperti menemukan karakter anak-anak yang berbeda, banyak anak-anak yang ikut orang tua pergi dulang emas saat libur, dan membantu orang tua mencari nafkah yang membuat mereka tidak hadir di rumah belajar. Setiap sore, kami berkeliling kampung, menyapa dan mengajak anak-anak untuk datang ke rumah belajar dan mengikuti pembelajaran. Setiap kelas yang diajar rata-rata paling banyak anak-anak adalah delapan orang dan paling sedikit satu orang, walaupun dengan kondisi seperti itu pembelajaran tetap dilakukan terkecuali anak-anak tidak ada yang datang ke rumah belajar untuk ikut pembelajaran.

Mengajar anak-anak tentang Computer – English

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pendidikan Lingkungan Hidup Bulanan tentang Abiotik dan Biotik

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Mengajar adalah panggilan hati, sebuah misi untuk menyalakan cahaya dalam diri manusia lain. Di balik setiap pelajaran yang disampaikan, ada empati, kesabaran, dan cinta yang tidak bisa dihitung dengan angka. Profesi lain mungkin berurusan dengan benda, sistem, atau angka. Tapi guru berurusan dengan jiwa manusia – sesuatu yang halus, rapuh, dan berharga. Itulah mengapa mengajar memerlukan hati yang tulus, bukan hanya kemampuan akademik. Ilmu tanpa hati hanya menjadi hafalan, sedangkan hati tanpa ilmu mudah kehilangan arah.

Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tapi menanamkan nilai. Seorang guru sejati tahu bahwa setiap anak datang dengan latar belakang, luka, dan potensi yang berbeda. Ia tidak memperlakukan mereka sebagai angka dalam rapor, melainkan sebagai pribadi yang sedang bertumbuh. Ia melihat lebih dalam daripada nilai ujian, karena mengetahui bahwa karakter jauh lebih penting daripada sekadar kepintaran. Guru yang mengajar dengan hati tidak hanya menuntun anak-anak untuk memahami pelajaran, tetapi juga memahami dirinya sendiri. Ia membimbing bukan untuk menjadikan anak-anak seperti dirinya, melainkan untuk membantu anak-anak menemukan versinya sendiri. Inilah yang membuat setiap kelas yang diisinya terasa hidup, karena ada cinta yang menyapa, bukan sekadar instruksi yang diperintahkan.

Mengajar anak-anak tentang baca-tulis

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tidak ada murid yang sama, ada yang cepat menangkap pelajaran, ada yang butuh waktu. Ada yang tenang, ada yang berisik. Guru biasa mungkin mudah lelah menghadapi perbedaan itu, tapi guru yang mengajar dengan hati melihatnya sebagai ladang pengertian. Ia tahu bahwa setiap anak punya jalan tumbuhnya sendiri, dan tugasnya bukan menyeragamkan, tapi mendampingi. Ketika hati terlibat, pengajaran berubah menjadi proses kemanusiaan. Guru tidak sekadar menilai, tetapi juga mendengarkan. Ia tidak hanya menegur, tetapi juga memahami alasan di balik perilaku. Dari kesabaran itulah lahir kepercayaan, hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar penghormatan formal di dalam kelas.

Dari rumah belajar sederhana itu, lahir mimpi-mimpi baru bagi setiap orang yang berhak untuk belajar dan berkembang. Cerita kampung di pesisir itu adalah tentang perjuangan di tengah keterbatasan, tentang anak-anak yang berlari mengejar mimpi di antara pasir, ombak dan angin. Di sana, pendidikan bukan sekadar belajar di kelas, tetapi juga tentang harapan bahwa suatu hari, mereka bisa membawa perubahan bagi kampung yang mereka cintai.

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

30 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Semangat belajar tidak hanya hadir di Kampung Wau dan Weyaf,  Klik disini untuk membaca cerita pelatihan di Kampung Wau dan Weyaf. Pada bagian terakhir ini, cerita berlanjut ke Kampung Resye dan Womom, lalu ditutup dengan refleksi tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan yang lahir dari proses sederhana.

Sementara kami di Kampung Wau dan Weyaf sibuk dengan pelatihan, tim lain bergerak di Kampung Resye dan Womom. Mereka memulai pada tanggal 17 Maret 2026, dengan jumlah peserta 9 orang yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja perempuan. Saya tidak berada di sana secara langsung, tetapi dari update yang masuk, semangat peserta tidak kalah besar.

Hermina Langoday pelatih amigurumi di Kampung Resye sedang menghitung jumlah anyaman amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

Ibu Bastian Yekwam sedang menyulam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

“Mereka juga mengalami kesulitan di awal,” kata Ina, PMNH yang melatih membuat amigurumi, saat kami berkomunikasi lewat WhatsApp. “Tetapi setelah beberapa kali mencoba, mulai ada yang menangkap polanya.”

Meskipun tim monev tidak dapat tiba di Kampung Resye dan Womom karena cuaca laut yang buruk, kegiatan pelatihan amigurumi penyu berhasil dilakukan. Proses pendampingan di lapangan masih terus dilakukan, tim PMNH setempat rutin mengunjungi para peserta untuk melihat perkembangan dan memberi koreksi jika ada yang lupa tahapannya.

Sampai pada akhir Maret ini, kami menghitung berapa banyak yang benar-benar berhasil menyelesaikan satu amigurumi penyu utuh dari awal hingga akhir. Kami menghitung bersama: untuk lokasi Kampung Wau dan Weyaf ada 2 orang yang berhasil menyelesaikan amigurumi penyu pertama mereka. Sedangkan di lokasi Kampung Resye dan Womom, lima orang ibu dan remaja perempuan berhasil. Mereka masing-masing lalu berfoto sambil memegang gantungan kunci amigurumi penyu hasil karya sendiri dengan bangga.

Kerajinan tangan sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Tetapi di kampung-kampung terpencil seperti Wau, Weyaf, Resye, dan Womom, amigurumi bukan sekadar hobi. Ini adalah pintu kecil menuju kemandirian ekonomi. Setiap tusukan benang bisa menjadi awal dari penghasilan tambahan. Setiap penyu yang selesai adalah bukti bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu yang bernilai.

Bastiana Yekwam di Kampung Womom yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Ibu Vince Yeum di Kampung Resye yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Saat malam hari ketika kami bersiap untuk perjalanan kembali ke Manokwari besok pagi dengan kapal, Maria mendekati saya dan berkata, “Ibu-ibu ini luar biasa. Bahkan ketika hari sudah gelap dan tidak ada penerangan yang baik, mereka tetap melanjutkan amigurumi-nya. Dan akhirnya mereka selesai. Ternyata mereka gigih.”

Saya mengangguk. Usaha tidak menghianati hasil, itulah yang saya tulis dalam catatan kecil saya malam itu. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa ketekunan tidak mengenal medan. Ketekunan menemukan jalannya, meskipun harus dimulai dari sebuah cincin ajaib dan tusuk tunggal.

Dari goyangan Kapal Sabuk Nusantara 112 yang menguji nyali, gelombang yang membuat kami mabuk laut, hingga senyum bangga para perempuan saat menyelesaikan amigurumi pertama mereka, semua terasa berarti. Meskipun ini tahun ketiga belas saya melayani dan melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi ini, selalu ada cerita yang berbeda dari setiap perjalanan yang saya lakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

22 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setelah perjalanan yang menantang dari Manokwari menuju Tambrauw, tim yang akan memberi pelatihan Amigurumi bersiap memulai pelatihan. Pada bagian ini, kita melihat bagaimana para peserta di Kampung Wau dan Weyaf belajar dari nol, menghadapi kesulitan, lalu perlahan menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Klik disini untuk membaca bagian awal perjalanan tim menuju lokasi agar cerita ini terasa lebih utuh.

Pagi itu, langit masih mendung. Namun, Balai Kampung Wau mulai ramai dengan kedatangan para peserta. Saya menghitung satu per satu: 21 orang ibu-ibu dan remaja perempuan datang dengan langkah penuh rasa ingin tahu. Ada yang membawa anak kecil di gendongan, ada yang datang bersama tetangganya sambil tertawa kecil. Mereka duduk di kursi-kursi plastik yang telah kami atur sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan belum pernah memegang jarum rajut seumur hidup.

Maria memulai dengan sabar. “Ini namanya magic ring,” katanya sambil memperagakan. “Ini fondasi awal untuk merajut. Kalau cincin ajaib ini sudah kuat, nanti penyu kita bisa berdiri dengan bagus.”

Maria pelatih Amigurumi sedang menjelaskan cara membuat magic ring kepada seorang ibu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Proses pembuatan magic ring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu-ibu mengamati dengan serius. Ada yang mengerutkan kening, ada yang maju mendekat agar lebih jelas. Satu per satu mereka mencoba. Beberapa kali benang terlepas, simpul kendor, bahkan ada yang tertawa karena jari-jarinya terasa kaku.

“Ibu, santai saja,” kata Maria sambil membetulkan posisi kait (hook) di tangan seorang peserta. “Ini latihan, tidak perlu terburu-buru.”

Hari pertama diisi dengan latihan magic ring dan tusuk tunggal (single crochet). Prosesnya pelan, penuh koreksi, tapi semuanya serius. Saya melihat salah satu ibu bernama Ibu Flirce Bonsapia terus mengulang-ulang meskipun tangannya sudah sedikit gemetar. “Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Maria yang sedang menunjukan hitungan magic ring kepada Mama Jack
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Maria sedang menghitung jahitan Mama Maria
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tidak semua peserta berhasil menguasai magic ring di pelatihan hari ini, tetapi mereka bersepakat untuk melanjutkan sore hari di rumah belajar. “Tidak apa-apa, yang penting belajar,” kata Mama Jack sambil merapikan benangnya. Kami kemudian bubar dan pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIT.

Hari kedua, ketiga, dan keempat kami lanjutkan. Setelah magic ring, Maria mengajarkan cara membuat kepala, lalu flipper (sirip), dan karapaks (punggung). Setiap bagian membutuhkan ketelitian yang berbeda. Peserta mulai memahami pola, meskipun masih ada yang tertukar antara increase (teknik dalam merajut yang digunakan untuk menambah jumlah tusukan dalam satu baris atau putaran) dan decrease (teknik dalam merajut yang digunakan untuk mengurangi jumlah tusukan pada baris atau putaran tertentu).

Yang menarik perhatian saya adalah inisiatif mereka sendiri. Beberapa peserta datang ke rumah belajar setelah pelatihan di hari pertama. Mereka datang setelah mengurus anak dan memasak, lalu duduk di ruang belakang sambil merajut. Saya melihat Maria yang melatih, sabar mendampingi mereka hingga sore menjelang magrib.

Salah satu Amigurumi yang telah selesai dibuat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Ibu Aplena Anari di Weyaf yang berhasil membuat Amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

“Kami ingin cepat selesai, Kaka Ibu,” kata salah satu dari mereka sambil memperlihatkan karapaks yang hampir jadi. “Supaya bisa segera dipasang kait kuncinya.”

Dari proses belajar yang penuh kesabaran, mulai terlihat bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ada semangat, ada kemauan untuk terus mencoba, dan ada harapan kecil yang mulai tumbuh dari setiap tusukan benang. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan juga berlangsung di Kampung Resye dan Womom, serta bagaimana cerita ini berujung pada makna ketekunan dan kemandirian.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 19 pelamar dinyatakan LOLOS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Kandidat diundang untuk mengikuti pembekalan sesuai dengan posisi yang dilamar. Jadwal pelaksanaan pembekalan untuk masing-masing posisi dapat dilihat pada file PDF pengumuman

2. Peserta yang dinyatakan lolos seleksi wawancara diwajibkan mengisi form kesediaan klik di sini, paling lambat pada hari Jumat, 17 April 2026 pukul 16.00 WIT

3. Peserta yang namanya tidak tercantum di atas akan masuk ke dalam Daftar Tunggu dan akan dihubungi jika terpilih paling lambat pada hari Selasa, 21 April 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template Uncategorized @id

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Penulis

Yusuf Jentewo

Tanggal

14 April 2026

Gagasan pembentukan kelompok kerja penyu belimbing Indonesia pertama kali mengemuka dalam Leatherback Expert Meeting di Jakarta pada September 2025. Dari ruang diskusi tersebut, muncul kesadaran bersama akan pentingnya sebuah wadah kolaboratif yang dapat menyatukan berbagai pihak dalam upaya pelestarian penyu belimbing di Indonesia. Sebagai langkah awal, dilakukan penyebaran kuesioner penjaringan aspirasi pada 2–30 November 2025 kepada instansi dan kelompok terkait. Sebanyak 18 responden berpartisipasi dan secara kuat menyuarakan bahwa kelompok kerja ini perlu segera dibentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pertemuan inisiasi akhirnya dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam proses ini, Program Sains untuk Konservasi (S4C) tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga berperan sebagai salah satu penggerak utama. Keterlibatan ini berangkat dari pengalaman panjang tim S4C dalam melakukan upaya pelestarian penyu—khususnya penyu belimbingdi Taman Pesisir Jeen Womom, yang menjadi salah satu lokasi kunci bagi keberlangsungan populasi penyu belimbing di Pasifik Barat.

Pemaparan materi oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupang 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Kelompok kerja ini diperlukan sebagai wadah kolaborasi pemerintah, pemerhati, praktisi, dan peneliti penyu belimbing di Indonesia. Pertemuan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Jakarta serta daring melalui Zoom bagi mitra di daerah. Sekitar belasan peserta hadir langsung dan 62 peserta mengikuti secara daring. Peserta berasal dari satu direktorat KKP, empat balai pengelolaan kelautan (Denpasar, Kupang, Pontianak, dan Pekanbaru), dua loka pengelolaan kelautan, tiga universitas dalam negeri (Universitas Syiah Kuala, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi), dua universitas luar negeri (University of Hawaii dan Wageningen University), dua laboratorium genetik, serta tiga yayasan lingkungan.

Pertemuan ini dibuka oleh perwakilan Direktorat Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang menyampaikan bahwa penyu belimbing merupakan spesies prioritas dalam EPANJI serta tercakup dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) penyu Indonesia. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 13 pemateri yang memaparkan program pemantauan penyu belimbing, mencakup aktivitas di pantai peneluran, interaksi dengan nelayan, temuan individu terdampar, serta analisis genetik spesies ini.

Pemaparan materi oleh Program Sains untuk Konservai, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Deasy Lontoh)

Program Sains untuk Konservasi (S4C), yang diwakili oleh Deasy Lontoh sebagai koordinator penelitian penyu, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, perlindungan sarang, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadartahuan terkait penyu. Dalam paparannya, disampaikan bahwa Pantai Jeen Womom di Tambrauw, Papua Barat Daya, merupakan salah satu lokasi peneluran utama bagi penyu belimbing subpopulasi Pasifik Barat. Lebih jauh, Deasy juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian spesies, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kemitraan, guna memastikan keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang. Dalam sesi yang sama, perwakilan lembaga lain turut memaparkan keberadaan penyu belimbing dari populasi Samudra Hindia yang bertelur di sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan.

Pemaparan awal terkait kebijakan penyu di Indonesia
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Materi yang dipaparkan menegaskan bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi penyu belimbing, spesies penyu terbesar yang masih hidup. Keberadaan dua populasi, yaitu Pasifik dan Hindia, menjadikan Indonesia wilayah yang unik. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi instansi, peneliti, dan pemerhati dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah tersebut.

Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai bentuk kelompok kerja dan peluang kolaborasi ke depan. Kelompok ini diharapkan aktif dan produktif dalam menghasilkan luaran kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kapasitas melalui pertukaran metode dan pembelajaran dari berbagai lokasi.

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi New Template Uncategorized @id

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

02 April 2026

Pada 9–14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah “The 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature-Based Climate Solutions Conference.” Kegiatan ini mengumpulkan peneliti-peneliti dari berbagai penjuru dunia yang fokus pada tumbuhan ataupun keanekaragaman hayati lainnya di Asia Tenggara termasuk wilayah Indonesia serta Papua.

Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA juga menghadiri kegiatan tersebut, mengirimkan empat perwakilan di mana satu orang presentasi lisan/ pemaparan materi Yusup Jentewo dan tiga orang sebagai presentasi poster Kezia Salosso, Arnoldus Ananta dan Dahlia Manufandu. Keempat perwakilan ini mempresentasikan data dari program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang serta Monitoring Sosial di Kepala Burung Papua.

Slide pertama Power Point Yusup Jentewo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Yusup Jentewo memaparkan presentasi berjudul “The Dangerous Beauty: Morning Glory (Ipomoea pes-caprae) and Its Impact on the Sea Turtle Conservation in Tambrauw”, dimana terdapat fenomena interaksi antara tumbuhan Ipomoea dengan konservasi penyu di Pantai Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Tumbuhan Ipomoea adalah tumbuhan merambat yang banyak ditemui di wilayah pesisir pantai di Indonesia. Diketahui bahwa tumbuhan ini memiliki akar serabut yang dapat masuk ke dalam sarang penyu belimbing dan penyu lainnya serta merusak telur-telur penyu yang berharga. Fenomena ini diangkat Yusup dalam presentasinya. Data tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa dari total 88 sarang penyu yang terpantau, sebanyak 65 sarang (75%) mengalami kerusakan akibat akar Ipomoea. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi upaya perlindungan penyu yang populasinya memang telah lama terancam.

Tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Masyarakat lokal membersihkan akar-akar tumbuhan Ipomoea saat pembuatan kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Dalam presentasinya, Yusup juga menjelaskan bahwa tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dari Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA, melalui berbagai percobaan di lapangan, telah menemukan solusi untuk meningkatkan penetasan sarang penyu yang terancam oleh akar tumbuhan Ipomoea. Sarang penyu belimbing dipindahkan ke kandang relokasi dengan dasar pasir yang telah dibersihkan dari akar Ipomoea. Metode ini meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan, dari yang sebelumnya rata-rata 0%, menjadi 53% pada tahun 2024 dan 47% pada tahun 2025.

Hasil ini menegaskan bahwa usaha perlindungan sarang di Pantai Jeen Womom terus berinovasi dalam menjawab berbagai ancaman terhadap sarang penyu.

Foto tim bersama masyarakat lokal 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Masyarakat lokal pun berperan aktif dalam pembuatan kandang relokasi dan serta pemindahan sarang ke kandang relokasi. Semua kandang relokasi di Jeen Womom dibuat oleh kelompok masyarakat, seperti di Pantai Jeen Syuab, masyarakat dari Kampung Wau dan Weyaf yang berdekatan dengan pantai tersebut yang membuat kandang-kandang ini. Masyarakat harus memastikan untuk membersihkan tumbuhan serta akar-akar tumbuhan Ipomoea setelah konstruksi rangka dan atap selesai. Tiap tahunnya kurang lebih ada 6 kandang relokasi yang beroperasi di Pantai Jeen Syuab.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya