Kategori
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Ketika Karya Kolaborasi Sains dan Desain Berlayar Membawa Pesan Konservasi

Ketika Karya Kolaborasi Sains dan Desain Berlayar Membawa Pesan Konservasi

Penulis

Elisa Putra

Tanggal

14 Agustus 2026

Cerita ini berawal dari kolaborasi antara Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua (UNIPA). Kegiatan ini didukung melalui pendanaan program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat UNIPA dengan dukungan pendanaan dari Blue Abadi Fund (BAF), Whitley Fund for Nature (WFN), serta ITS melalui skema riset World Class University (WCU)-Equity ITS, Kolaborasi ini diketuai oleh Octaviyanti Dwi Wahyurini dengan anggota tim Ellya Zulaikha, Putri Dwitasari, dan Yosia Enggar Kurniawan. Dalam proses pengembangan media kampanye, tim juga melibatkan enam mahasiswa ITS, yaitu Muhammad Zharfan Firdaus, Farah Jinan Huwaida, Nuansa Harmoni, Mochammad Arsy Algifany Fudam, Anak Agung Sagung Laksmi Dharmika Yowani, dan Nadiah Syarifah Aini. Melalui kolaborasi antara dua perguruan tinggi tersebut, tim berupaya menjawab satu pertanyaan utama: bagaimana menghadirkan pesan konservasi agar tidak sekadar menjadi informasi, tetapi juga relevan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Papua?

Menariknya, proses ini tidak hanya mempertemukan perspektif desain dan sains konservasi di Indonesia. Tim juga mendapatkan masukan dari Prof. David Blakesley dari Clemson University, South Carolina, Amerika Serikat. Berbagai perspektif tersebut kemudian bertemu dalam proses merancang strategi komunikasi yang lebih kontekstual—mulai dari memahami siapa yang akan menerima pesan, bagaimana pesan tersebut disampaikan, hingga di mana pesan tersebut paling mungkin didengar. Dari sinilah perjalanan penelitian kemudian membawa tim DKV ITS dari Surabaya menuju Papua, bertemu masyarakat, penumpang kapal, awak kapal, hingga para pegiat konservasi di kawasan Jeen Womom.

Penyampaian Hasil Survei dan Desain Media oleh Zharfan Firdaus (Mas Afan)
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

“Ternyata bikin beginian ada sekolahnya, ya?” Begitu ungkap kami, tim penjangkauan di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA, setelah berdiskusi bersama mahasiswa dan dosen dari Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Dalam diskusi ini, tim ITS menampilkan beberapa draf materi penjangkauan yang sedang mereka susun untuk kegiatan penyadartahuan konservasi laut di Kapal Sabuk Nusantara 112.  Kegiatan ini penting karena mendukung upaya konservasi yang dilakukan Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua di Taman Pesisir Jeen Womom, khususnya dalam melindungi penyu belimbing dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman seperti perubahan iklim dan sampah laut. Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat melalui kapal tol laut, kegiatan penyadartahuan di atas kapal menjadi peluang strategis untuk menjangkau lebih banyak orang dengan pesan-pesan konservasi yang relevan bagi kawasan tersebut. Pada bulan Oktober 2025, tim peneliti dari DKV ITS yang kebetulan diwakili oleh Bapak Yosia Enggar Kurniawan, S.Ds., M.Sn. (Dosen) dan Muh. Zarfan Firdaus (mahasiswa) yang akrab dipanggil Pak Yosi dan Mas Afan datang jauh-jauh dari Surabaya ke Papua untuk melakukan survei kepada penumpang Kapal Sabuk Nusantara 112, awak kapal, masyarakat lokal di pesisir Jeen Womom, serta tim UNIPA. Survei ini dilakukan untuk membantu mereka menyusun strategi penjangkauan dan materi edukasi yang komunikatif serta mudah dipahami oleh masyarakat.

Awal Pertukaran Cerita

Awalnya, kami menceritakan kegiatan edukasi di Kapal Sabuk Nusantara 112 kepada tim ITS di Surabaya pada bulan Juli 2025. Kami memilih untuk bekerja sama dengan tim dosen dan mahasiswa dari Departemen DKV ITS karena kompetensi akademik mereka selaras dengan kebutuhan kami dalam mengembangkan materi pendidikan lingkungan hidup yang efektif.

Dalam diskusi tersebut, kami memaparkan latar belakang pemilihan kapal tol laut sebagai lokasi penjangkauan, pentingnya Taman Pesisir Jeen Womom sebagai habitat peneluran penyu belimbing, karakteristik kehidupan masyarakat pesisir di sekitar kawasan konservasi, serta pengalaman kami dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat setempat. Pembahasan ini menjadi landasan bagi tim DKV ITS untuk memahami konteks sosial dan ekologis yang akan diterjemahkan ke dalam materi komunikasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Diskusi berlanjut secara daring hingga tim ITS tiba di Papua. Selama berada di Papua, Mas Afan (begitu sapaan kami kepada perwakilan mahasiswa dari ITS) dan Pak Yosi (perwakilan dosen dari ITS) sangat bersemangat karena banyak sekali pengalaman pertama yang mereka alami. Mulai dari naik kapal Sabuk Nusantara 112, naik perahu pada tengah malam yang gelap, hingga perjalanan darat yang cukup menantang di tengah hutan Papua. Selain memperoleh pengalaman berkesan, mereka juga mendapatkan berbagai informasi menarik melalui diskusi selama perjalanan di Tanah Papua.

Mengenalkan Media Edukasi
dari Rumah Belajar kepada Mas Afan
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)

Pertemuan Bersama Masyarakat Lokal di Balai Kampung Distrik Amberbaken
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Informasi tersebut menjadi dasar bagi para mahasiswa untuk mengembangkan karya yang menarik, informatif, mudah dipahami oleh masyarakat, serta sesuai dengan karakter ruang dan aktivitas di kapal. Melalui proses ini, tim ITS berupaya merancang media yang mampu menarik perhatian penumpang untuk membaca pesan-pesan konservasi, memilih media visual dan audiovisual yang paling sesuai untuk digunakan di kapal penumpang, menjelaskan kehidupan penyu dengan bahasa yang sederhana tanpa mengurangi akurasi informasi ilmiah, serta tetap memperhatikan konteks sosial dan budaya masyarakat. 

Selain itu, mereka juga mengeksplorasi berbagai bagian kapal sebagai ruang strategis untuk memasang media edukasi visual. Berbagai pertimbangan tersebut menjadi titik awal lahirnya berbagai konsep media kampanye.

Mas Afan Saat Mewawancarai Salah Satu Penumpang di KM Sabuk Nusantara 112
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)

Pak Yosi saat Mengenalkan Media Edukasi ke
Salah Satu Penumpang Anak
(Foto: DKV_ITS/Zharfan Firdaus)

Dari Konsep Menjadi Media

Perjalanan tim ITS ke Tanah Papua membawa hasil berupa pesan utama yang akan dibawa dalam kampanye, karakter yang akan ditampilkan selama kampanye, serta lokasi pemasangan media edukasi di dalam kapal. Setelah menentukan lokasi, karakter, dan pesan utama, mahasiswa ITS mengembangkan konsep tersebut menjadi berbagai media edukasi berbahasa Melayu Papua agar pesan konservasi mudah dipahami oleh masyarakat lokal. Proses penyusunan media edukasi ini melibatkan enam mahasiswa dan tiga dosen serta menjadi bagian dari tugas akhir mahasiswa Departemen DKV ITS.

Sebagian dari mereka merancang stiker informasi yang kemudian akan ditempatkan di pintu, ranjang, dinding, dan tempat sampah. Mahasiswa lainnya mengembangkan buku cerita berseri dan komik yang mengajarkan tentang kehidupan alami penyu belimbing. Untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan kepada penumpang, materi-materi tersebut dikembangkan menjadi animasi dua dimensi dan jingle anak-anak. Kampanye ini kami sebut sebagai kampanye #JagaPenyu.

Dalam prosesnya, anggota tim kami dari UNIPA juga terlibat sebagai pengisi suara. Proses rekaman juga menjadi pengalaman tersendiri karena kami harus menyesuaikan intonasi dengan karakter yang telah diciptakan. Selain media informasi, mahasiswa juga merancang berbagai cenderamata yang akan dibagikan kepada para penumpang. Seluruh media tersebut kemudian disatukan melalui konsep “Pojok Penyu”, tempat masyarakat dapat duduk, membaca buku, belajar, dan bermain.

Proses penyusunan media yang  tetap mengedepankan konteks budaya menjadi semakin menantang karena tim ITS dan tim kami memiliki latar belakang budaya yang berbeda; mereka berasal dari Pulau Jawa, sedangkan kami dari Papua. Namun, semuanya bisa berjalan dengan baik, bahkan tim ITS juga mendapatkan pengetahuan tentang dialek baru, yaitu dialek Melayu Papua. 

Pemaparan Hasil Survei Selama di Papua
(Foto: DKV_ITS/Farah Huwaida)

Pendampingan dan Pemantapan

Setiap karya yang dibuat harus melalui proses asistensi dan perbaikan. Setelah mengembangkan media informasi, mereka mempresentasikan hasilnya kepada kami. Tidak semua ide dapat langsung digunakan. Ada media yang perlu disederhanakan, ada ilustrasi yang perlu disesuaikan, dan ada pula desain yang harus diubah karena belum sesuai dengan kondisi kapal. 

Perlahan-lahan, gagasan yang sebelumnya masih berupa hasil diskusi dan sketsa kemudian diubah menjadi buku yang siap dibaca, stiker yang siap dicetak dan dibagikan,  jingle yang siap dinyanyikan, animasi yang siap diputar, dan merchandise yang siap dibagikan kepada penumpang. 

Selanjutnya, teman-teman mahasiswa memamerkan karya mereka dalam pameran yang diselenggarakan oleh Departemen Desain Komunikasi Visual ITS. Kami yang hanya menyaksikannya dari jauh melalui dokumentasi gambar dan video juga ikut senang dan semangat karena penyu belimbing tidak hanya selesai disampaikan di Papua saja, tetapi juga bisa sampai di Pulau Jawa, dengan harapan pesan konservasi dan perlindungan penyuguhan penyu akan terus berlanjut. Selama kurang lebih enam bulan, dari Januari hingga Juni 2026, teman-teman mahasiswa berhasil menyelesaikan pembuatan media informasi. 

Pameran tim DKV ITS
(Foto: DKV_ITS/Putri Dwitasari)

Karya yang Akhirnya Digunakan

Setelah melalui proses diskusi, survei, riset, perancangan, asistensi, revisi, dan produksi, berbagai media yang dikembangkan akhirnya mulai digunakan dalam kegiatan penjangkauan di KM Sabuk Nusantara 112.

Kegiatan penjangkauan pertama dilaksanakan pada akhir Juli 2026. Namun, pada pelayaran tersebut belum seluruh media kampanye dapat digunakan. Kami baru memanfaatkan beberapa media, seperti buku cerita, komik, permainan edukasi, jingle, animasi, pojok baca, dan merchandise untuk berinteraksi secara langsung dengan para penumpang.

Suasana Saat di Pojok Baca
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Feri Toja)

Sementara itu, stiker kampanye yang dirancang untuk ditempatkan pada dinding dan sejumlah bagian kapal belum dapat dipasang. Pada saat itu, KM Sabuk Nusantara 112 akan segera menjalani proses docking atau perawatan tahunan. Dalam proses tersebut, beberapa bagian kapal akan diperbaiki dan dicat kembali.

Agar stiker tidak rusak atau terlepas selama proses perawatan, pemasangannya disarankan dilakukan setelah kapal selesai menjalani docking. Dengan demikian, media kampanye dapat dipasang pada permukaan yang telah diperbarui dan digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Kegiatan pada Juli menjadi tahap awal untuk melihat secara langsung bagaimana para penumpang merespons media edukasi yang telah dibuat. Hasil dan pengalaman dari pelayaran tersebut juga menjadi bahan evaluasi bagi tim sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya.

Penjangkauan akan kembali dilakukan pada September 2026, setelah KM Sabuk Nusantara 112 selesai menjalani perawatan tahunan. Pada pelaksanaan berikutnya, media kampanye diharapkan dapat digunakan secara lebih lengkap, termasuk pemasangan stiker edukasi di berbagai bagian kapal yang telah ditentukan.

Dengan demikian, perjalanan karya ini belum selesai. Media-media tersebut mulai bertemu dengan masyarakat pada pelayaran pertama, kemudian akan terus dikembangkan dan digunakan kembali ketika kapal siap berlayar dengan tampilan yang telah diperbarui.

Berita Lainnya

Kategori
New Template

Satu Meja, Banyak Cerita

Satu Meja, Banyak Cerita

Penulis

Prisca Nanda

Tanggal

2 September 2026

“Selamat pagi, Prisca,” atau “Selamat pagi, Kak Prisca.” Sapaan itulah yang hampir selalu terdengar mengawali hari antara pukul delapan hingga sembilan pagi. Hal ini dikarenakan meja kerja saya yang berada di dekat pintu masuk dan keluar karyawan, sehingga hampir setiap pagi saya menjadi salah satu orang pertama yang menyambut mereka.

Bagi banyak orang, Human Resources Department (HRD) mungkin hanya dipahami sebagai bagian yang mengurus gaji atau mencari pegawai baru. Namun, pada kenyataannya tugas HRD ternyata cukup beragam. Saya tidak hanya mencatat kehadiran karyawan, tetapi juga memastikan data mereka selalu diperbarui, membantu proses cuti dan keterangan sakit, menyiapkan kontrak kerja, serta mendukung kebutuhan tim yang akan bekerja di lapangan. Semua pekerjaan ini membutuhkan ketelitian karena berkaitan dengan karyawan dan pekerjaan yang mereka jalankan. 

Rekapitulasi absensi karyawan.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)

Tampilan awal aplikasi My Cicle.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca Nanda)

Dari meja inilah pekerjaan saya dimulai. Salah satunya adalah mencatat dan merekap presensi karyawan. Nama-nama karyawan, jam datang, dan jam pulang semuanya tercatat. Secara rutin, saya juga mengingatkan seluruh karyawan untuk mengisi aplikasi MyCicle. 

Aplikasi MyCicle digunakan untuk melaporkan pekerjaan harian yang telah diselesaikan oleh karyawan selama satu pekan. Kelihatannya sederhana, tetapi jika tidak diingatkan, karyawan bisa tercatat “terlambat menyelesaikan pekerjaan” dan hal tersebut dapat memengaruhi performance mereka pada aplikasi MyCicle. 

Setiap bulan, sistem aplikasi MyCicle akan merekap performance pekerjaan setiap karyawan. Rekapan tersebut menjadi acuan dalam melihat kinerja karyawan, khususnya dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.  Dengan adanya MyCicle, pekerjaan saya juga menjadi lebih mudah. Saya tidak perlu lagi mengingat satu per satu pekerjaan yang telah dilakukan oleh setiap karyawan, karena semuanya sudah tercatat di dalam sistem. Ketika pimpinan bertanya tentang kinerja seorang karyawan, saya dapat memberikan penjelasan berdasarkan catatan pekerjaan yang ada. 

Penjelasan travel authorization ke salah satu karyawan.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)

Tampilan awal aplikasi My Cicle.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca Nanda)

Selain itu, MyCicle mempermudah saya untuk  memantau pengajuan cuti, memproses keterangan sakit, serta mengatur kesepakatan bagi mereka yang bekerja secara WFA (Work from Anywhere). Semua pekerjaan ini membutuhkan ketelitian karena berkaitan dengan data dan hak karyawan. Saya harus memastikan data karyawan selalu lengkap, benar, dan diperbarui. Hal ini penting agar hak karyawan dapat terpenuhi sesuai aturan dan pekerjaan kantor dapat berjalan dengan baik.

Selama kurang lebih dua tahun bekerja, saya juga mulai mengenal berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan oleh tim. Ada tim atau program yang lebih banyak bekerja di kantor, ada yang harus turun ke lapangan pada waktu tertentu, dan ada pula yang memang direkrut khusus untuk bekerja di lapangan. Karena itu, pekerjaan saya tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan karyawan di kantor, tetapi juga mendukung persiapan tim yang akan berangkat ke lapangan.

Ketika tim akan turun ke lapangan, salah satu tugas saya adalah menyiapkan travel authorization. Saya juga perlu memastikan kontrak kerja setiap tim sudah sesuai karena di dalamnya terdapat informasi penting mengenai pekerjaan dan ketentuan yang harus diperhatikan. Data tersebut harus dijaga kerahasiaannya dan hanya dapat diketahui oleh pimpinan, HRD, dan pihak yang bertanda tangan.

Kontrak juga menjadi bagian penting dalam proses penerimaan karyawan baru. Ketika ada pembukaan lowongan kerja di suatu program, pekerjaan administrasi saya menjadi lebih banyak karena saya terlibat mulai dari proses perekrutan, menyiapkan dokumen, hingga memastikan kebutuhan administrasi tim terpenuhi. 

Selama bekerja di Sains untuk Konservasi, saya melihat antusiasme yang tinggi dari pelamar yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, dari ujung barat hingga timur. Dalam kurun waktu 2024–2026, jumlah pelamar sudah mencapai sekitar 541 orang. Bagi saya, angka tersebut menunjukkan besarnya minat orang-orang untuk menjadi bagian dari pekerjaan yang dilakukan oleh Sains untuk Konservasi.

Penandatanganan kontrak dengan tim PMNH.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)

Penandatanganan kontrak dengan tim PMNH.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)

Dari pekerjaan sehari-hari tersebut, saya melihat bahwa pekerjaan HRD bukan hanya tentang dokumen. Di balik absen ada karyawan yang sedang memulai pekerjaannya. Di balik kontrak ada tugas dan tanggung jawab yang akan dijalankan. Di balik travel authorization ada tim yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke lapangan. Semua pekerjaan tersebut saling berkaitan dan menjadi bagian dari cara saya membantu karyawan menjalankan tugas mereka.

Pada akhirnya, dari meja kerja sederhana ini saya belajar bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan cara kerja yang berbeda. Ada yang setiap hari bekerja di kantor, ada pula yang harus pergi jauh serta tinggal berbulan-bulan di pelosok pesisir. Mungkin bagi orang lain, meja ini hanyalah tempat kerja biasa. Namun, bagi saya, dari sinilah saya belajar mengenal banyak orang dan menyadari bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana dapat membantu orang lain menjalankan tugasnya dengan lebih baik.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Menyapa Novel: Kisah Tenaga Lokal Menjaga Penyu di Jeen Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Menyapa Novel: Kisah Tenaga Lokal Menjaga Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom​

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

01 September 2026

Di balik upaya menjaga penyu di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, ada orang-orang lokal yang ikut melindungi penyu. Salah satunya adalah Novelius Benjamin Yesnath, atau yang akrab dipanggil Novel, merupakan tenaga lokal pemindahan sarang penyu asal Kampung Resye yang bekerja di Pantai Batu Rumah, Jeen Yessa. Tenaga lokal adalah istilah yang kami gunakan untuk masyarakat lokal di sekitar pantai peneluran penyu yang tergabung dalam tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Keterlibatan Novel dalam kegiatan perlindungan penyu masih terbilang baru. Namun, sebelum resmi bergabung, ia sudah belajar terlebih dahulu dari tenaga lokal lain yang berpengalaman memindahkan sarang penyu di TP Jeen Womom.

Meskipun Novel berasal dari kampung yang dekat dengan tempat penyu bertelur, pengalaman pertamanya memindahkan telur penyu tetap diwarnai rasa takut.

“Pertama kali angkat telur penyu itu, takut kalau telurnya pecah,” kenangnya.

Kaka Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi1

Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Loise Liberta Loar)

Kaka Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi2

Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Loise Liberta Loar)

Seiring berjalannya waktu, rasa takut itu perlahan berubah menjadi keberanian. Novel mulai terbiasa mengangkat dan memindahkan telur dengan lebih hati-hati. Ia menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekadar memindahkan telur dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga merupakan bagian penting untuk memastikan telur tetap aman hingga menetas.

Dalam proses belajar, ada satu tahap yang menurut Novel cukup sulit, yaitu ketika ia harus belajar “menusuk sarang” untuk menemukan posisi telur. Pada tahap ini, ia masih membutuhkan arahan dari tenaga lokal yang lebih terampil.

Menusuk sarang adalah istilah yang kami gunakan ketika tenaga lokal mencari posisi telur penyu. Karena pantai yang cukup panjang, terkadang tenaga perlindungan sarang penyu tidak sempat melihat penyu bertelur sehingga tempat penyu meletakkan telurnya tidak ditandai. Meskipun jejak penyu dapat membantu petugas mengidentifikasi lokasi sarang tempat penyu bertelur, hal ini bukan berarti mudah bagi tenaga perlindungan sarang untuk menemukannya, karena penyu biasanya juga membuat sarang yang terkamuflase dan sulit dibedakan dari sarang aslinya. Untuk membedakan sarang kamuflase dan sarang asli, beberapa masyarakat lokal di pesisir Tambrauw yang terlatih memiliki kearifan lokal untuk “menusuk sarang”. Mereka menusuk bukan dengan benda tajam, dan mereka mampu melakukannya tanpa membuat telur ikut tertusuk.

“Kalau rasa susah itu waktu belajar mencoba menusuk sarang. Waktu itu saya masih perlu arahan dari tenaga yang sudah lebih lihai,” ceritanya.

Bagi seseorang yang baru belajar menusuk sarang, pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian dan keberanian. Setiap gerakan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak membahayakan telur yang berada di dalam sarang. Karena itu, belajar dari mereka yang lebih berpengalaman menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Kini, setelah beberapa kali mencoba, rasa takut itu mulai berganti menjadi kepercayaan diri. Novel perlahan memahami cara memperlakukan telur penyu dengan lebih hati-hati. Namun, semakin ia belajar, semakin ia menyadari bahwa menjaga sarang bukan hanya tentang keterampilan teknis. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan kehidupan baru di dalam telur-telur tersebut tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Cerita di atas dan kepedulian terhadap kondisi penyu yang ia lihat semakin berkurang merupakan latar belakang Novel untuk memutuskan terlibat sebagai tenaga lokal. “Motivasi saya menjadi tenaga lokal pemindahan sarang karena saya sadar bahwa semakin hari penyu semakin berkurang,” ujarnya. 

Sebelum menjalankan tugasnya sebagai tenaga lokal, Novel dibekali pelatihan tentang pemantauan penyu dan perlindungan sarang selama dua hari di Pantai Batu Rumah, Jeen Yessa. Dua hari pelatihan menjadi kesempatan bagi Novel untuk menambah pengetahuan tentang pemindahan dan perlindungan sarang penyu. Ia tidak hanya mendapatkan materi dan kesempatan untuk praktik, tetapi juga mendengarkan cerita serta pengalaman para tenaga lokal yang berasal dari kampung.

“Dari pelatihan dua hari ini yang saya dapatkan itu pengalaman baru dan juga cerita-cerita pengalaman dari bapak-bapak yang dari kampung, mendapatkan materi, dan praktik,” katanya. 

Dari pelatihan ini, Novel memperoleh pengetahuan baru mengenai berbagai ancaman yang dapat memengaruhi keberlangsungan penyu di TP Jeen Womom, salah satunya aktivitas manusia (perburuan dan perdagangan penyu). “Saya baru tahu soal ini dari materi kemarin di pelatihan. Kemarin ada penyu yang diburu dan dijual, jadi saya rasa kasihan,” katanya. 

Keterlibatannya sebagai tenaga lokal membuat Novel semakin memahami bahwa menjaga penyu tidak berhenti pada telur yang berhasil dipindahkan, tetapi juga mencakup perlindungan pantai sebagai tempat penyu bertelur. Pemahaman tersebut membuatnya menyadari bahwa upaya menjaga penyu bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga yang bekerja di lapangan, tetapi juga membutuhkan kerja sama masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar pantai peneluran. Kesadaran itu, menurut Novel, dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga pantai tetap aman bagi penyu yang datang untuk bertelur. 

“Harapan saya, kita di sini harus memiliki kesadaran untuk menjaga,” ungkapnya. “Kita juga harus melindungi pantai, seperti yang sudah dikatakan saat pelatihan. Jangan bakar api di pantai. Kebanyakan ada yang membakar api dan ketika penyu naik, dia mati. Terus ada yang lewat-lewat dengan perahu dan membuang minyak, takutnya penyu makan dan mati. Harapan saya jangan seperti itu, harus tetap menjaga.”

Ketika ditanya mengenai adanya kegiatan pertambangan di kawasan Jeen Womom, Novel berharap kegiatan yang berpotensi berdampak pada penyu tidak dilakukan. “Menurut saya, kegiatan itu tidak usah dilakukan karena material-material tersebut berdampak pada penyu,” ucapnya. “Jadi, takutnya penyu-penyu itu terkena virus dan tidak naik lagi ke pantai ini. Jadi rasa kasihan juga,” 

Walaupun mendapatkan banyak pengetahuan baru, Novel merasa masih ada hal yang perlu ditingkatkan dalam proses belajarnya. Baginya, pengalaman mencoba secara langsung dan mendapatkan arahan dari tenaga yang lebih berpengalaman merupakan bagian penting dalam proses belajar. “Lain kali pelatihannya langsung praktik saja, karena ada yang hanya diberi materi dan kurang mengerti. Materi sedikit saja dan diperbanyak dengan praktik,” ungkapnya. 

Novel sedang mengikuti praktik relokasi sarang oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Maurens Sundoy)

Novel baru menjalani pekerjaan ini dalam waktu singkat. Walaupun begitu, ia justru menemukan sisi lain yang menyenangkan dari berada di pantai. Menurutnya, mengangkat telur penyu sembari menikmati pemandangan pantai menjadi pengalaman yang ia nikmati. “Pengalaman yang berkesan sementara mengangkat telur penyu itu ya healing,” ujarnya. “Sambil mengangkat telur penyu, saya bisa melihat pemandangan pantai. Saya merasa senang dan menikmati.” 

Pemandangan Pantai Batu Rumah.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Perjalanan Novel sebagai tenaga lokal pemindahan sarang penyu memang baru dimulai. Dari rasa takut telur akan pecah saat pertama kali mengangkatnya, kini ia perlahan memahami bahwa setiap telur yang dipindahkan membawa tanggung jawab untuk menjaga kehidupan baru. Ia masih belajar. Namun, dari pengalaman singkatnya, ia sadar bahwa menjaga penyu berarti kita perlu menjaga pantai agar tetap aman bagi penyu untuk kembali.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat berlayar ke Wau-Weyaf

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat Berlayar ke Wau-Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

21 Agustus 2026

Pagi itu, Kamis, 6 Agustus 2026, Balai Kampung Wau menjadi tempat masyarakat Kampung Wau dan Weyaf berkumpul bersama Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM Universitas Papua. Melalui kisah yang dibagikan, mereka diajak sejenak “berkunjung” ke Raja Ampat, salah satu ikon konservasi laut dunia.

Kegiatan bertajuk “Sharing is Caring: Berbagi Cerita Konservasi dari Raja Ampat dan Pelatihan Ecoprint” ini digelar sebagai bagian dari program Penguatan Konservasi Penyu dan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung. Tujuannya sederhana namun mendalam, yaitu menghubungkan pengalaman keberhasilan konservasi di satu ujung Kepala Burung dengan semangat menjaga alam di ujung yang lain. 

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya konservasi ekosistem terumbu karang guna mendukung kesejahteraan masyarakat. 

Belajar dari Konservasi di Raja Ampat, untuk Wau dan Weyaf

Raja Ampat telah lama dikenal sebagai jantung keanekaragaman hayati laut dunia. Di balik terumbu karang yang memukau, ada kisah masyarakat adat yang menjaga laut mereka lewat tradisi turun-temurun, dan perempuan-perempuan yang membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya alam secara adat bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan ekonomi.

Kisah-kisah itulah yang dibawa ke Kampung Weyaf dan Kampung Wau melalui sesi berbagi cerita bersama Ibu Meity Mongdong, pemerhati konservasi lingkungan dan kelautan di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Ia membuka cerita dengan mengingatkan bahwa apa yang terjadi di Raja Ampat sesungguhnya “sama dengan di Tambrauw”, seperti hutan yang masih utuh, laut yang masih kaya, tetapi juga menghadapi ancaman yang serupa: pembukaan lahan, penebangan liar, hingga tekanan terhadap sumber daya pesisir.

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity membawa anggota masyarakat yang hadir untuk menelusuri perjalanan panjang Raja Ampat sejak kawasan konservasi pertama dibentuk pada 2007, awalnya untuk melindungi sumber daya ikan masyarakat, yang kemudian membawa “bonus” berupa pariwisata berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya monitoring dan peningkatan kapasitas masyarakat secara terus-menerus. Dengan cara yang sederhana, ia juga menjelaskan mengapa ikan besar begitu berharga: satu ekor ikan berukuran 36 cm memberi kontribusi bibit yang setara dengan 20 ekor ikan berukuran 18 cm. Karena itu, induk-induk besar merupakan aset penting bagi pemulihan stok ikan, bukan target tangkapan.

Ia juga membagikan hasil nyata dari penguatan penegakan hukum dan kepatuhan di Raja Ampat. Patroli gabungan yang melibatkan Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat, masyarakat, dan kepolisian dilakukan sedikitnya 10 kali setiap bulan dan telah berkontribusi pada penurunan praktik overfishing hingga 90%. Tingkat kepatuhan di kawasan konservasi perairan pun mencapai 89,9%, sementara nelayan lokal kini menyumbang 85% dari total tangkapan di wilayah mereka sendiri.

Raja Ampat menunjukkan bagaimana kekayaan alam yang terjaga dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi Tambrauw, yang memiliki potensi serupa untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Di Tambrauw, potensi tersebut antara lain mencakup wisata burung dengan kekayaan spesies seperti cenderawasih, maleo, kakatua, julang, dan kasuari; wisata budaya yang menawarkan kekayaan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat; serta wisata berbasis konservasi penyu dan ekosistem pesisir. Namun, Ibu Meity juga mengingatkan bahwa seluruh potensi tersebut hanya dapat berkembang jika ekosistem tetap sehat dan masyarakat siap mengambil peran.

Di Raja Ampat, berbagai ancaman seperti perburuan liar, pembalakan, pemboman ikan, dan penggunaan racun sianida masih menjadi tantangan dalam menjaga kelestarian alam. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya penguatan konservasi dan penegakan hukum yang berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan pariwisata. Masyarakat dapat berperan sebagai pemandu, pelaku usaha, maupun pengelola wisata di wilayahnya sendiri.

Sementara itu, Tambrauw memiliki konteks dan tantangan tersendiri, salah satunya tekanan akibat pembukaan lahan yang dapat mempengaruhi kelestarian hutan dan pesisir serta  sumber daya alam. Perbedaan tantangan di kedua wilayah ini menunjukkan bahwa upaya konservasi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, namun tetap menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari upaya perlindungan alam. Ibu Meity berpesan bahwa konservasi dan pariwisata perlu berjalan bersamaan: ketika alam dijaga, pada saat yang sama terbuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Sesi diskusi bersama Ibu Meity
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Diskusi tentang potensi alam di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Sesi ini ditutup dengan diskusi hangat bersama warga Wau dan Weyaf, yang sehari-hari hidup berdampingan dengan habitat peneluran penyu. Pengalaman Raja Ampat menjadi cermin bahwa aturan dan penegakan hukum itu penting, tapi keterlibatan aktif masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam yang membuatnya bertahan. Bagi Wau dan Weyaf, pesan ini menjadi penting: konservasi akan lebih berkelanjutan ketika masyarakat menjadi bagian dari penjaga sekaligus penerima manfaat dari kekayaan alam di kampung mereka sendiri.

Pelatihan Ecoprint

Setelah cerita, giliran tangan yang bekerja. Bersama fasilitator, Ibu Bertha Matatar, warga diperkenalkan pada ecoprint – dari kata “eco” (alam/ekosistem) dan “print” (mencetak). Ecoprint merupakan teknik mewarnai dan membuat motif pada kain menggunakan bahan-bahan alami di sekitar kita. Prosesnya mirip dengan pembuatan batik, tetapi sepenuhnya memanfaatkan unsur alam, seperti dedaunan, bunga, batang, bahkan ranting, tanpa bahan sintetis atau kimia yang dapat merusak lingkungan.

Ibu Bertha mengenalkan beberapa teknik dasar ecoprint. Dalam pelatihan di Wau-Weyaf, ia secara khusus mengajarkan teknik blanket, yaitu teknik mencetak motif menggunakan dua lembar kain sekaligus. Satu lembar digunakan sebagai kain utama, sedangkan lembar lainnya menjadi “kain blanket” atau kain selimut yang membantu menjaga tekanan warna selama proses pemasakan.

Tahapan yang dipraktikkan warga cukup panjang dan membutuhkan ketelitian. Bahan pewarna yang dipakai bermacam-macam sesuai apa yang tersedia di sekitar kampung,  mulai dari daun mangrove yang menghasilkan corak hijau-kehitaman, daun jati dan daun mangga yang memberi corak kuning-oranye, hingga daun “lanang” untuk sentuhan warna lain. Setiap lembar kain yang dihasilkan pun unik, tidak ada satu motif yang benar-benar sama dengan yang lain, karena bentuk dan susunan daun setiap orang berbeda.

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Bertha juga menunjukkan bahwa ecoprint bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Hasilnya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti tas, dompet, sepatu, syal, hingga sarung botol minum. Kerajinan ini membuka potensi ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Wau-Weyaf ke depannya.

Dalam paparan Ibu Meity, ecoprint disebut sebagai salah satu contoh nyata ‘ekonomi lainnya dari pariwisata’ yang telah tumbuh di Raja Ampat, berdampingan dengan produk berbasis alam lain seperti VCO (Virgin Coconut Oil ), minyak pijat, dan abon ikan. Ini menjadi pengingat sederhana bahwa alam di sekitar kampung jika dijaga bisa jadi sumber penghidupan jangka panjang.

Di penghujung kegiatan, ibu-ibu berfoto bersama hasil karya ecoprint yang mereka buat selama pelatihan. Kain-kain dengan corak daun jati, bunga, daun ubi, dan daun mangga yang tumbuh di pesisir Wau-Weyaf menjadi bukti kreativitas warga setelah melalui rangkaian proses mulai dari mordanting, penyusunan motif, pengukusan, hingga fiksasi yang dilakukan selama beberapa hari. Di sela-sela itu, muncul diskusi kecil tentang potensi pengembangan produk ke depan, mulai dari taplak meja hingga pembuatan seragam ibu-ibu PW (Persekutuan Wanita), sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk memperbaiki kegiatan serupa di masa mendatang.

Tahapan mordanting (perendaman dengan tawas)
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil ecoprint
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Dorlince Bame, salah satu peserta, menyampaikan bahwa akan mencoba mengulangi teknik ecoprint dengan menggunakan daun lain yang ada di sekitar rumahnya. Bagi S4C LPPM UNIPA sendiri, kegiatan ini menjadi pijakan awal sebelum program pendampingan lanjutan dilakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 – Part 2

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 2

Penulis

Anjely Novianti Kondororik, Minggas Natraka dan Chatarina Galis Aprisia

Tanggal

6 Agustus 2026

Teduh di Bawah Langit yang Sama – Anjely

Setelah tiga hari ditemani debur ombak dan semilir angin laut, akhirnya kami menapakkan kaki di Kota Sorong. Mentari pagi menyambut kami dengan hangat, seolah menjadi jeda yang kami perlukan sebelum kembali menempuh perjalanan menuju Manokwari. Kami menginap di sebuah hotel kecil bernama Rumberpon. Tubuh yang lelah akhirnya menemukan waktu untuk beristirahat.

Menjelang sore, kami memutuskan untuk menikmati sedikit waktu dengan menjelajahi Kota Sorong. Ada yang memilih menikmati hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, ada yang berburu kuliner yang sedang viral di Sorong, dan ada pula yang menyempatkan diri melepas rindu dengan kerabat. Meski tujuan kami berbeda, senja mempertemukan kami kembali di tempat yang sama, yaitu Reklamasi.

Di tepi laut itu, kami duduk bersama ditemani secangkir kopi dan es krim, memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Langit melukis warna-warna jingga keemasan, seakan memberi penghormatan pada perjalanan yang telah kami lalui. Waktu terasa berjalan lebih lambat. Setiap menit dipenuhi tawa, canda, dan kebahagiaan yang mampu menghapus lelah akibat berhari-hari di atas kapal. Senja itu mengajarkan bahwa kebersamaan sering kali menjadi obat terbaik bagi rasa letih.

Pelabuhan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Menikmati sunset di Reklamasi Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Federika Kondororik)

Ketika malam mengambil alih langit, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan. Setelah makan, kami menghabiskan sisa malam di Tuan Tana Cafe. Di sana, tawa kembali pecah, diselingi refleksi tentang perjalanan, tantangan, dan pelajaran yang kami temui selama menjadi relawan. Malam itu bukan sekadar waktu untuk bersantai, tetapi juga ruang untuk mempererat ikatan, membangun rasa saling percaya, dan menguatkan semangat sebelum kembali menempuh perjalanan pulang. Sepulang dari kafe, sebelum benar-benar mengakhiri hari, kami masih menyempatkan diri berbincang bersama kakak-kakak pendamping yang selama ini menjadi teman sekaligus pembimbing dalam perjalanan kami. Malam itu kami menutup mata dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang penuh syukur.

Keesokan harinya, kami memanfaatkan sisa waktu di Kota Sorong dengan mengunjungi Paragon Mall. Kami menikmati makan siang bersama, membeli beberapa kebutuhan, dan mengabadikan momen-momen terakhir sebelum kembali ke hotel.

Setelah semuanya siap, kami melangkah menuju Pelabuhan Sorong. Perjalanan ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi makna yang dibawanya akan tinggal jauh lebih lama. Laut telah mengajarkan kami tentang kesabaran, penyu mengingatkan kami akan pentingnya menjaga kehidupan, dan kebersamaan menghadirkan kenangan yang akan selalu hidup di dalam hati. Di antara ombak yang terus bergulung, senja yang perlahan tenggelam, dan cahaya bulan yang menyapa, kami belajar bahwa perjalanan paling berharga bukan hanya tentang tempat yang dituju, melainkan tentang manusia, alam, dan cerita yang tumbuh di sepanjang perjalanan.

Melawan Ombak, Menjaga Arah – Minggas

Pada jumat malam, kami kembali menaiki Kapal Sabuk Nusantara 112 untuk menempuh perjalanan pulang dari Kota Sorong. Kami mengawali perjalanan dengan semangat yang sama seperti sebelumnya, meskipun kondisi di lapangan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ombak yang cukup besar membuat kapal terus bergoyang sepanjang pelayaran menuju Sausapor. Akibatnya, beberapa anggota tim mulai mengalami mabuk laut dan harus beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi. Setelah keadaan berangsur membaik, kami kembali melanjutkan perjalanan dan kegiatan yang telah direncanakan. 

Pada Sabtu pagi, kami mulai menyapa para penumpang dan masyarakat sekitar untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga penyu dan kelestarian laut. Tidak semua penumpang menyambut kami dengan antusias. Ada yang menolak berbicara karena sedang terburu-buru; ada pula yang menganggap pelestarian penyu bukan tanggung jawab mereka. Bahkan, beberapa orang hanya tersenyum lalu pergi tanpa sempat mendengarkan penjelasan kami.

Keberangkatan dari Pelabuhan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Padatnya jadwal kapal serta terbatasnya waktu pelayaran dari Sorong menuju Sausapor, yakni mulai pukul 00.30 WIT hingga sekitar pukul 09.00 WIT, membuat kesempatan kami untuk berinteraksi dengan para penumpang menjadi sangat terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan pelaksanaan pre-test dan post-test serta penjangkauan melalui Pojok Baca belum dapat berjalan secara maksimal. 

Meskipun demikian, kami tetap berupaya memanfaatkan setiap kesempatan agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh lebih banyak penumpang. Sebagai alternatif penjangkauan, kami membagikan flyer kepada para penumpang yang turun di Pelabuhan Sausapor. 

Walaupun menghadapi berbagai tantangan, kami tidak menyerah. Kami mengubah cara penyampaian dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mengajak masyarakat berdiskusi secara santai. Kami juga membagikan informasi singkat yang mudah dipahami agar mereka tetap memperoleh pengetahuan meskipun hanya memiliki sedikit waktu.

Usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Beberapa penumpang yang awalnya tidak tertarik akhirnya bersedia mendengarkan penjelasan kami. Ada juga yang mengajukan pertanyaan mengenai cara menjaga habitat penyu dan mengurangi sampah plastik di laut. Respons positif itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melanjutkan kegiatan.

Dari pengalaman hari itu, kami belajar bahwa setiap kegiatan pengabdian pasti memiliki hambatan. Cuaca, kondisi perjalanan, keterbatasan waktu, dan perbedaan pandangan masyarakat merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan kerja sama. Kami menyadari bahwa perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, tetapi melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa melawan ombak bukan hanya tentang menghadapi gelombang di laut, tetapi juga menghadapi berbagai rintangan dalam menyampaikan pesan kebaikan. Dengan semangat, kesabaran, dan kerja sama, kami tetap mampu menjaga arah dan menjalankan misi pelestarian penyu demi masa depan laut yang lebih baik.

Seperti Penyu yang Selalu Pulang – Chatarina

Kembali pulang, pada akhirnya perjalanan kami menemui pelabuhan tujuan. Malam tepat sebelum kaki kembali menapaki daratan, kami berkumpul di ruangan kecil istimewa favorit kami. Bersama makanan yang disediakan oleh Om Koki, kami menanti hasil perjuangan kami dengan harap-harap cemas jika kami tidak mencapai target penjangkauan.

Dua Ratus Tujuh Puluh Lima!!!” hitung Kak Yeni pada tarikan terakhir kertas penjangkauan yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari kami yang puas mengetahui bahwa kami, enam orang relawan, dapat menjangkau begitu banyak penumpang. Rasanya semua masalah kamar mandi, masalah kepanasan, masalah ditolak, masalah dimarahi beberapa oknum penumpang, hingga masalah sakit tenggorokan, sirna begitu saja. Kami tersenyum satu sama lain, mengingat segala usaha keras yang sudah dilakukan selama kurang lebih enam hari di kapal. Enam hari terasa panjang ketika dijalani, tetapi tiba-tiba terasa begitu singkat ketika akhirnya harus berakhir.

Istirahat sejenak di sela pre-test dan post-test bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Kami memilih menutup malam terakhir perjalanan dengan berkumpul di geladak terbuka, dengan speaker yang kalah saing dari “tetangga” sebelah. Menikmati angin tengah malam bersama riuh rendah deru mesin kapal, beratapkan cahaya bintang yang telah bersinar ribuan tahun silam. Kartu UNO yang dimainkan sebanyak enam ronde -penuh tawa, intrik, dan gimik—menjadi kegiatan penutup sebelum akhirnya kami menghempaskan diri pada kasur sempit dengan beragam aroma beraneka rasa hingga pagi menjelang.

Tim tiba di Pelabuhan Manokwari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Tim sedang menurunkan panel.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Penyu mungkin tidak pernah tahu namanya disebut ratusan kali di atas geladak Kapal Sabuk Nusantara 112, hingga kami sering dipanggil “Kakak Penyu! Ibu Guru Penyu!”. Namun mungkin, tanpa kami sadari, perjalanan ini justru mengajarkan kami sesuatu tentang mereka: bahwa pulang bukanlah perkara sederhana.

Seperti penyu yang berenang melintasi lautan luas untuk kembali ke tempat ia dilahirkan, kami pun akhirnya kembali ke daratan. Membawa pulang tubuh yang lelah, tenggorokan yang serak, kulit yang mungkin sedikit lebih gelap, dan kepala yang penuh dengan cerita. Namun, lebih dari itu, kami membawa pulang kesadaran bahwa enam hari di atas kapal ternyata mampu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada yang kami kira.

Kami datang sebagai orang yang hanya tahu penyu sebatas hewan laut yang harus dilindungi. Kami pulang dengan nama-nama, cerita, dan wajah yang melekat di kepala. Tentang penyu yang mati-matian kembali ke pantai tempatnya berasal. Tentang mereka yang tanpa suara menghadapi begitu banyak ancaman di laut. Tentang orang-orang yang memilih untuk tetap peduli, bahkan ketika pekerjaannya tidak selalu mudah dan hasilnya tidak selalu terlihat.

Akhir kata, terima kasih kepada Science for Conservation LPPM UNIPA yang sudah mengizinkan kami, enam orang dengan beragam latar belakang, menjadi bagian dari kisah ini. Enam hari di atas kapal Sabuk Nusantara 112 mungkin telah berakhir, tetapi cerita, tawa, lelah, dan setiap pertemuan yang kami bawa pulang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kami. Terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk belajar, berbagi, bertemu orang baru, merasakan pengalaman, dan mengenal laut serta penyu lebih dekat. Sampai jumpa di lain waktu, di perjalanan berikutnya, dan semoga selalu ada alasan bagi kita untuk kembali menjaga mereka yang selalu menemukan jalan pulang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 – Part 1

Menjaga Laut Bersama: Cerita Kami, Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 1

Penulis

Siti Fatimah Az Zahro, Maria Anggriani Way, Martha Maria Heipon

Tanggal

6 Agustus 2026

Sebelum Jejak Pertama di Kapal – Zahro

Setiap perjalanan selalu dimulai jauh sebelum kapal meninggalkan dermaga. Seminggu sebelum pelaksanaan penjangkauan di atas kapal, kami dilatih untuk siap dengan bekal ilmu dan mental yang matang. Setiap hari, mulai pukul sembilan, kadang pukul sepuluh, dan berakhir sore hari, banyak hal dipelajari, mulai dari perkenalan program sampai praktik langsung simulasi penjangkauan kepada masyarakat dengan berbagai latar belakang. Kami berhadapan dengan lembar-lembar materi yang masih berbau tinta printer dan hati yang dipenuhi tanya tentang bagaimana nantinya ketika sudah berhadapan langsung dengan masyarakat.

Dalam pembekalan itu, kami tidak hanya belajar tentang penyu, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan sesuatu yang rumit menjadi sederhana, bagaimana mendengar sebelum berbicara, dan bagaimana menghargai cara pandang masyarakat pesisir terhadap laut yang selama ini menghidupi mereka. Kantor Science for Conservation di Manokwari, yang biasanya sepi, mendadak ramai oleh suara diskusi, tawa kecil, dan sesekali keluhan karena materi yang terasa berat untuk dicerna dalam waktu singkat.

Simulasi pre/post test.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Suasana di kantor Sains untuk Konservasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Siti Zahro)

Suatu siang, ketika latihan simulasi penjangkauan sedang berjalan, salah satu senior menegur cara kami menyampaikan penjangkauan kepada masyarakat. Bahasanya terlalu berat dan bisa jadi menyinggung masyarakat. “Ko jang bicara macam baca buku terus, nanti dong bosan dengar. Ko harus bicara dari hati, baru dong mau dengar,”  katanya sambil tersenyum. Kami yang masih canggung hanya bisa mengangguk, mencoba meresapi setiap kata. Seorang teman di sebelah saya berbisik pelan, “Ini baru latihan sa su deg-degan, apalagi nanti langsung di kapal.”

Malam harinya, di ruang kantor yang mulai redup, kami duduk melingkar membahas kembali materi hari itu. Ada yang mencatat, ada yang sekadar mendengarkan sambil menyeruput kopi. Rasa lelah jelas ada, tapi ada juga semacam kegembiraan yang tumbuh diam-diam, kegembiraan karena tahu bahwa apa yang kami pelajari akan segera diuji langsung di lapangan, di antara masyarakat yang menanti dan laut yang menyimpan banyak cerita.

Mengikuti Arus yang Membawa Harapan – Maria

Berlayar menggunakan kapal perintis seperti Kapal Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112) bukan sekadar perjalanan untuk berpindah tempat, melainkan juga latihan kesabaran dan proses adaptasi yang unik. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya melakukan perjalanan bersama teman-teman relawan dan Science for Conservation

Saya belum pernah menggunakan kapal seperti ini sebelumnya, sehingga belum bisa membayangkan situasi yang akan kami lalui. Perasaan takut terhadap gelombang bahkan sempat membuat saya hampir menyerah ketika berada di Pelabuhan Manokwari sebelum keberangkatan. Namun, dukungan dari teman-teman membuat saya kembali mengingat alasan dan tujuan awal saya untuk ikut berlayar. Semangat itu akhirnya tidak padam. Saya berhasil melewati proses ini, mengalahkan rasa takut, menemukan hal-hal baru, serta bertemu dengan orang-orang baru selama pelayaran.

Maria melakukan pre/post test dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hal yang paling berkesan dari pelayaran dengan Sabuk Nusantara 112 adalah interaksi sosialnya. Penumpang kapal perintis umumnya terdiri atas warga lokal, pedagang antarpulau, dan anak-anak daerah yang hendak bersekolah. Pada akhirnya, berlayar bersama teman-teman relawan menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 mengajarkan saya bahwa beradaptasi bukan tentang melawan ketakutan saya, melainkan tentang bagaimana saya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di atas laut. Ketika saya tidak berusaha memaksakan kenyamanan berada di darat saat saya berlayar di atas kapal, saya belajar bahwa pelayaran ini bukan hanya sekadar perjalanan di atas laut, tetapi menjadi bagian dari pengalaman hidup yang manis. 

Ketika Riak Menjadi Ruang BelajarMartha

Perjalanan di atas dek Kapal Sabuk Nusantara 112 yang sedang membelah lautan: gerakan gelombang air tidak hanya menggerakkan kapal, tetapi juga mengalirkan inspirasi. Di tengah perjalanan panjang antarpulau, setiap sudut ruang kapal berubah menjadi ruang cerita yang penuh kehangatan. Kami, tim relawan, berhasil mengubah kejenuhan perjalanan laut menjadi sebuah momen edukasi yang sangat berharga bagi anak-anak pesisir.

Momen indah terekam saat tim kami, Kak Sesar, duduk bersama anak-anak. Menggunakan rompi krem bertuliskan pesan “Jaga Penyu”, ia tampak memberikan penjelasan dengan penuh kesabaran. Di sekelilingnya, anak-anak mendengarkan dengan penuh antusias. Keseriusan terpancar dari mata mereka. Ada yang berdiri bersandar pada kursi kapal, ada pula yang duduk merapat, seolah-olah tidak ingin kehilangan satu kata pun dari cerita yang disampaikan oleh Kak Sesar.

Martha selesai melakukan pre/post test orang dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Mas Sesar sedang membacakan buku Seri Pembi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Martha Heipon)

Interaksi ini membuktikan bahwa edukasi konservasi tidak harus kaku dan formal di dalam ruang kelas. Di atas kapal, dengan latar belakang “pojok baca” dan dekorasi penyu yang terlihat di belakang spanduk, sains didekatkan melalui cerita dan aktivitas interaktif. Anak-anak diajak mengenal kekayaan laut Papua, mulai dari terumbu karang yang cantik hingga pentingnya menjaga penyu (teteruga) dari kepunahan. Suara riak air laut yang terdengar dari dinding kapal menjadi musik latar dari sebuah cerita penting tentang masa depan Bumi.

Bagi kami sebagai tim relawan Science for Conservation, setiap perjalanan pelayaran dari satu kampung ke kampung lain adalah peluang emas. Anak-anak dan orang dewasa yang kami temui di kapal ini adalah calon penjaga pulau-pulau terdepan Papua. Dengan menanamkan rasa cinta kepada alam Papua sejak dini, percakapan di atas kapal Sabuk Nusantara 112 ini diharapkan mampu membesar menjadi gelombang kesadaran yang besar saat mereka kembali ke kampung masing-masing. Perjalanan yang melelahkan berubah menjadi ruang berbagi mimpi. Lewat kepedulian teman-teman relawan, sains tidak lagi terasa jauh dan rumit, melainkan hadir sebagai sahabat yang siap menemani anak-anak ini untuk menjaga laut tetap biru.

Setelah melewati lautan bersama Kapal Sabuk Nusantara 112, kini kami tiba di perairan Wau-Weyaf, disini Kapal Sabuk Nusantara 112 harus berlabuh dalam waktu yang cukup lama. Perjalanan penumpang yang akan turun menuju daratan Kampung Wau-Weyaf dilanjutkan dengan transportasi andalan masyarakat pesisir, yaitu perahu fiber. Meskipun berukuran kecil, perahu fiber ini mampu membelah ombak dengan lincah, membawa penumpang dan beberapa logistik mendekati bibir pantai. Karena kapal berlabuh cukup lama, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Kampung Wau-Weyaf menggunakan perahu. Disinilah kami memasuki babak baru yang sangat seru, air laut yang tadinya hanya menjadi percakapan di dek kapal kini terasa begitu dekat di kanan dan kiri lambung perahu. Setibanya di darat, saya bersama teman-teman relawan yang lain langsung menuju Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf. Setelah perjalanan laut yang sangat gerah, kami menumpang mandi dan menyegarkan diri di rumah belajar dengan suasana yang penuh keheningan. Kampung yang begitu gelap tanpa adanya lampu membuat kami mengandalkan cahaya dari api yang dibuat oleh kakak-kakak tim rumah belajar. Aroma asap kayu-kayu kering yang dibakar begitu khas, sekaligus membantu menerangi kami dan mengusir agas.

Volunteer turun ke perahu menuju Kampung Wau.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Aktivitas sederhana ini menjadi momen penting yang tidak terlupakan. Namun, kunjungan ke daratan hanyalah sebuah persinggahan singkat. Usai membersihkan badan dan bercerita sambil meminum kopi dan teh yang disediakan oleh kakak-kakak tim lapangan rumah belajar, yang menghangatkan tubuh, kami segera kembali ke pantai untuk diantarkan kembali ke kapal. Dalam perjalanan, kami merasa sangat senang karena pemandangan langit yang begitu indah, dengan bintang-bintang yang begitu banyak dan bulan yang begitu terang.

Begitu kami tiba di atas Kapal Sabuk Nusantara 112, kami segera bersiap-siap untuk agenda berikutnya, yaitu menonton film bersama di kapal, tepatnya di depan kafetaria. Sebelum pemutaran film dimulai, kru kapal membantu mengumumkan kegiatan menonton bersama melalui pengeras suara kapal, sehingga para penumpang mengetahui adanya kegiatan tersebut dan dipersilakan untuk bergabung.

Kami memutar film tentang kekayaan laut dan pentingnya menjaga kebersihan laut dari sampah plastik serta pemanasan global. Penumpang kapal, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak yang sedang melakukan perjalanan antarpulau, berkumpul di lokasi pemutaran. Menonton bersama ini menjadi jembatan edukasi yang sangat efektif. Di sela-sela pemutaran film, kami membagikan beberapa makanan ringan untuk dimakan bersama dan bersantai saat menonton. Perjalanan panjang antarpulau tidak lagi terasa membosankan, melainkan menjelma menjadi ruang kelas terapung yang penuh dengan transfer ilmu dan kesadaran lingkungan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi ​

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

4 Agustus 2026

Manifes kapal mencatat total 439 penumpang, dan kami berangkat dengan membawa segudang pertanyaan: “Apakah nanti banyak penumpang yang tertarik?” “Target 75% penumpang kapal, kira-kira bisa tercapai tidak ya?”

Sebelas orang membawa misi edukasi di atas kapal ini. Rombongan kami terdiri dari Tim Program: Kak Trisye, Kak Yeni, Mas Sesar, saya (Abigail), dan Fery. Sementara Anjely, Karin, Minggas, dan Martha (dari Manokwari), serta Maria dan Zahro (dari Sorong) yang menjadi tim volunteer.

Perasaan campur aduk ini bermula ketika seluruh tim bertemu dengan kapten dan kru kapal pada H-3 menjelang kegiatan.

Malam keberangkatan dari Pelabuhan Manokwari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Hari Pertama – Keberangkatan yang Mendebarkan

Senin, 20 Juli 2026 dimulai dengan instruksi dari Mas Sesar, salah satu anggota tim kami. Kami diminta tiba di pelabuhan pukul 19.00 karena jadwal keberangkatan kapal adalah pukul 21.00. Setibanya di pelabuhan, kami mendapat kabar bahwa kapal masih harus menunggu rombongan wisata rohani dari Biak, Korido. Mereka sedang menuju Manokwari menggunakan KM Sabuk Nusantara 94 dan akan melanjutkan perjalanan bersama kami di KM Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112). Saat menunggu, seorang penumpang berseru, “Rombongan wisata rohani ini sekitar ratusan orang!”

Kami semua menghela napas, saling bertatap, dan berharap kegiatan ini akan tetap berjalan lancar dengan respons yang baik. Ketika rombongan tiba, masyarakat tak henti-hentinya memindahkan barang dari kapal satu ke Sanus 112. Tepat pukul 22.30, stom ketiga berbunyi menandakan kapal akan segera berangkat. Kami mulai menempati kasur masing-masing di Dek 2. Malam itu, tim sepakat untuk beristirahat dan baru memulai aktivitas keesokan harinya.

Hari Kedua – Antusiasme di Pojok Baca & Nobar

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Setelah disuguhkan makanan hangat oleh koki kapal, tim melakukan briefing sembari sarapan. Lembaran pre-test dan post-test dibagikan, dan tanggung jawab masing-masing diserahkan.

Para volunteer dibekali starter pack untuk memulai penjangkauan kepada penumpang. Sementara itu, saya dan Mas Sesar berjaga di area “Pojok Baca”. Kak Trisye dan Kak Yeni menyiapkan berbagai perlengkapan—mulai dari merchandise, buku cerita seri 1-3, komik, hingga camilan ringan untuk dibagikan—sambil memantau pergerakan volunteer. (Sebagai catatan, buku-buku tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara tim UNIPA dan Program Studi Desain dan Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (DKV ITS), lengkap dengan ilustrasi karya mahasiswa mereka). Di sisi lain, Ferry menjadi ujung tombak dokumentasi yang sibuk mengabadikan momen dengan kameranya.

Briefing tim di pagi hari untuk memulai aktivitas.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Suasana ramai di Pojok Baca pada pagi hari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Salah satu area kafetaria kapal kami sulap menjadi “Pojok Baca”. Tepat pukul 09.00 pagi, kami membukanya dan, BOOM! Masyarakat tak henti-hentinya datang silih berganti untuk menukarkan voucher. Keraguan yang selama ini menjadi keluh kesah kami akhirnya sirna; ternyata sebagian besar penumpang sangat antusias.

Tiga jam berlalu tanpa terasa. Ada yang datang menukarkan voucher, meminjam buku, hingga bermain games. Dari anak-anak hingga orang dewasa, laki-laki dan perempuan, semuanya ikut terlibat. Permainan edukasi yang kami bawa dirancang agar pesannya mudah diterima, seperti: kartu memori Ingat Penyu, ular tangga versi Dunia Penyu, puzzle menyusun karapas penyu.

Di sini, kami juga mengajarkan jingle “Tukik, Ayo Lari ke Laut” dan menyanyikannya bersama-sama. Menjelang siang, aktivitas di Pojok Baca mulai mereda karena rombongan wisata rohani telah turun di kampung persinggahan. Meski jumlah penumpang berkurang, anak-anak tetap berdatangan untuk bermain.

Dari Dek 3, pemandangan sunset tampak jelas menyinari kapal. Kampung demi kampung terlewati hingga akhirnya kami tiba di Kampung Wau pada malam hari. Waktu bersandar ini kami manfaatkan untuk menggelar Nonton Bareng (Nobar) di depan kafetaria. Tepat pukul 21.00, kami memperkenalkan tim dari UNIPA dan memutar video edukasi tentang pelestarian penyu, perubahan iklim, dan sampah plastik. Sesi pemutaran video dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif bertabur hadiah, sebelum ditutup dengan pemutaran film action (yang sudah lulus sensor) sebagai hiburan bagi penumpang.

Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hari ketiga – Menuju Sorong

Rabu, 22 Juli 2026 tim sudah semakin terbiasa dengan ritme kegiatan. Pagi harinya, kami kembali membuka Pojok Baca. Fery masih tampak lalu-lalang dari Dek 2 ke Dek 3 untuk memastikan semua momen terdokumentasi.

Pada malam hari, kami kembali mengadakan Nobar yang dipandu Kak Yeni. Ini terbukti menjadi salah satu strategi paling efektif untuk menjalin kedekatan dengan penumpang. Hari-hari selama perjalanan Manokwari–Sorong pun berakhir. Pukul 23.00, setelah Nobar selesai, kami beristirahat karena kapal dijadwalkan berlabuh di Pelabuhan Sorong keesokan paginya.

Setibanya di Sorong, kami memanfaatkan waktu dengan baik. Skenario yang kami susun sebelumnya ternyata berjalan sangat mendekati realitas di lapangan. Barang-barang logistik kami titipkan di kapal, karena pada Jumat malam tim harus kembali berlayar.

“Kak, ini besok kita sudah balik lagi ke kapal. Iya Kak, sekali lagi ini besok sudah balik,” kataku ke Kak Yeni sambil tertawa, masih dengan sisa-sisa rasa mabuk laut.

Nonton bareng film edukasi saat kapal bermalam.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Trip Balik: Sorong – Manokwari (24 – 26 Juli 2026)

Kak Trisye menginstruksikan tim untuk siap di pelabuhan pada pukul 23.00. Karena kapal berangkat pada pukul 00.30 dini hari, tidak ada aktivitas edukasi yang dilakukan pada malam tersebut.

Hari Kedua – Bertahan di Arus Balik 

Sabtu, 25 Juli 2026 Pagi harinya, kami mulai menyebarkan flyer “Fakta Menarik Penyu Belimbing”. Pendekatan langsung ini harus dilakukan dengan cepat karena penumpang tujuan Sausapor akan turun pada pukul 09.30. Di arus balik ini, jumlah penumpang memang lebih sedikit. Beberapa di antaranya bahkan penumpang yang sama yang sebelumnya naik dari kampung menuju Manokwari.

Malam harinya, kapal bersandar di Kampung Warmandi. Seorang bapak menghampiri Kak Trisye dan bertanya, “Kaka, ini masih ada mau Nobar kah?” Melihat antusiasme yang masih menyala, kami memutuskan untuk tetap mengadakan Nobar. Video edukasi kembali diputar dan kuis tanya jawab kembali dilontarkan. Meski penumpang semakin hari semakin sedikit, semangat tim tidak luntur; kami sangat menikmati setiap prosesnya.

Mama sedang membaca flyer edukasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Pojok Baca: Edukasi interaktif bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hari Ketiga – Reuni di Atas Kapal: Kembalinya Rombongan Wisata Rohani 

Minggu, 26 Juli 2026 tidak terasa, kami sudah melakukan empat hari penuh penjangkauan di atas kapal. Kami mendapat kabar bahwa rombongan wisata rohani akan kembali naik pada malam hari. Karena penumpang di sore hari masih sepi, sebagian tim menyempatkan diri duduk santai menikmati sunset di Dek 3.

Sekitar pukul 19.00, kapal tiba di Imbuan. Kak Trisye memanggil kami untuk segera turun ke Pojok Baca. Ternyata, rombongan yang naik sangat banyak! Karena mereka sudah familier dengan kegiatan kami dari perjalanan sebelumnya, mereka sendiri yang proaktif meminta pre-test dan post-test kepada volunteer. Suasana kembali hectic. Anak-anak hingga orang dewasa antusias terlibat dan bermain. Kami bahkan sudah saling mengenal wajah satu sama lain sejak keberangkatan awal dari Manokwari. Setelah kegiatan selesai, tim melakukan crosscheck final untuk menghitung total penumpang yang berhasil dijangkau.

Senin, 27 Juli 2026 pagi hari, kapal kembali bersandar di Pelabuhan Manokwari. Seluruh tim disambut hiruk pikuk pelabuhan—dan tentu saja, efek gelombang laut yang masih membuat jalanan di depan mata terasa bergoyang.

Lebih dari Sekadar Angka

Sebanyak 275 penumpang mengikuti rangkaian kegiatan edukasi, termasuk pre-test dan post-test. Peserta terdiri atas 150 remaja dan orang dewasa serta 125 anak-anak. Selain itu, 159 penumpang lainnya menerima informasi edukatif melalui pembagian flyer. Bagi tim kami, keberhasilan tidak hanya diukur dari angka statistik atau jumlah partisipan. Edukasi yang disampaikan selama pelayaran diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan mendorong tindakan nyata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Meski perjalanan berakhir saat kapal kembali merapat di pelabuhan, pesan tentang #JagaPenyu, bahaya sampah plastik, dan ancaman perubahan iklim diharapkan ikut dibawa pulang oleh para penumpang melalui ingatan dan lembar “Fakta Menarik Penyu Belimbing” yang telah dibagikan.

Pelayaran selama tujuh hari ini membuktikan satu hal: edukasi tidak selalu membutuhkan mimbar mewah atau ruang kelas yang kaku. Kadang-kadang, kesadaran tentang laut dan kehidupan yang bergantung padanya justru lahir dan bersemi dari sebuah sudut kecil di atas geladak kapal.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Kehidupan Sosial Masyarakat Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten New Template

Program Sains untuk Konservasi – LPPM UNIPA Gelar Rangkaian FPIC dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Sorong

Program Sains untuk Konservasi - LPPM UNIPA Gelar Rangkaian FPIC dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Sorong

Penulis

Meilani R. Nanlohy dan Kartika Zohar

Tanggal

06  Juli 2026

Pada akhir Juni hingga awal Juli 2026, tepatnya pada 29 Juni sampai 1 Juli, Tim Sains untuk Konservasi (S4C) dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melanjutkan tahapan penting dalam proses Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) atau juga disebut PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan). Setelah sebelumnya berinteraksi langsung dengan masyarakat di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom pada bulan Mei (baca ceritanya di sini), pada kesempatan ini proses FPIC diperluas melalui koordinasi bersama pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di Kota Sorong sebagai mitra strategis dalam pelaksanaan program.

Melalui rangkaian pertemuan tersebut, Tim S4C LPPM UNIPA tidak hanya memperkenalkan rencana pelaksanaan program yang didukung oleh Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA), tetapi juga membangun kesepahaman dengan pemerintah daerah, memperoleh masukan terhadap rencana kegiatan, serta memastikan bahwa pelaksanaan program selaras dengan prioritas pembangunan daerah. Proses ini merupakan bagian dari penerapan prinsip FPIC yang menekankan penyampaian informasi secara terbuka, pelibatan para pemangku kepentingan sejak tahap awal, serta penghimpunan masukan sebelum program dilaksanakan.

Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) merupakan prrogram kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat, program ini berfokus pada konservasi ekosistem terumbu karang serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dalam pelaksanaannya, TFCCA didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Langkah awal koordinasi dimulai di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya. Tim S4C LPPM UNIPA yang diwakili oleh Kartika Zohar selaku Koordinator Program Pemberdayaan dan Meilani Nanlohy sebagai Asisten Koordinator Hubungan Masyarakat disambut oleh Sarlota Mobalen, Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan, bersama jajarannya. Dalam pertemuan tersebut, Sarlota Mobalen menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan S4C yang dinilai mampu menjangkau wilayah-wilayah terpencil, yang selama ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah.

Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan – DKP PBD Ibu Sarlota Mobalen.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R. Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA dengan DKP PBD.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Diskusi berlangsung dinamis, mencakup berbagai program seperti penguatan tata kelola kawasan, pemantauan penyu, hingga program beasiswa bagi generasi muda Papua. Sarlota Mobalen juga menegaskan pentingnya peran dinas dalam mendukung penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk pengelolaan Taman Pesisir Jeen Womom, sekaligus menyoroti perlunya pengawasan terhadap aktivitas tambang dulang di kawasan pantai peneluran penyu.

Masih pada hari yang sama, tim melanjutkan kunjungan ke Kantor Balai Pengelolaan Kelautan Kupang – Satuan Pelayanan Sorong. Pertemuan dipimpin oleh Indri Widhiastuti selaku Koordinator Satuan Pelayanan Sorong. Dalam kesempatan ini, Indri menekankan pentingnya sinkronisasi data, khususnya terkait monitoring sosial-ekonomi dan kesehatan terumbu karang, yang akan mendukung penilaian dan pengelolaan kawasan konservasi. Ia juga meminta agar S4C dapat berbagi data serta menyampaikan rencana kegiatan secara lebih awal guna menghindari tumpang tindih program.

Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Balai Pengelolaan Kelautan Kupang
Satuan Pelayanan Sorong.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R. Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA dengan Balai Pengelolaan Kelautan Kupang
Satuan Pelayanan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Memasuki hari kedua, 1 Juli 2026, koordinasi berlanjut bersama Pemerintah Kabupaten Tambrauw. Bertempat di Rumah Aman, Perumahan Jupiter, tim bertemu dengan Merina M. Kmurawak, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Tambrauw. Dalam pertemuan tersebut, Merina menyampaikan dukungan penuh terhadap program pemberdayaan masyarakat dengan dukungan pendanaan TFCCA, khususnya pengembangan produk turunan kelapa sebagai komoditas unggulan daerah. Ia juga membuka peluang dukungan berupa penyediaan peralatan produksi, dan berharap kebutuhan tersebut disampaikan secara rinci oleh pihak S4C LPPM UNIPA.

Koordinasi dan Sosialisasi Kegiatan Program TFCCA bersama Dinas Pertanian Tambrauw, DP3AKB Tambrauw, Dinas Sosial PBD, dan FASDA PBD.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada kesempatan yang sama, tim juga berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3A) Kabupaten Tambrauw yang dipimpin oleh dr. Lenny F. Hae. Dalam diskusi ini, dr. Lenny menyoroti pentingnya sinergi antara program TFCCA dengan prioritas pemerintah daerah, seperti peningkatan literasi bagi perempuan dan anak putus sekolah serta penguatan Indeks Pembangunan Gender. Ia juga menekankan bahwa setiap kegiatan harus mencerminkan kolaborasi nyata antara pemerintah dan mitra, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Selain itu, pertemuan ini turut dihadiri oleh fasilitator daerah dari DP3A Provinsi Papua Barat Daya serta perwakilan Dinas Sosial Provinsi Papua Barat Daya, yang memberikan masukan teknis terkait penguatan program keluarga, optimalisasi balai KB, serta pengembangan usaha berbasis masyarakat.

Koordinasi dan Sosilisasi Program TFCCA oleh Tim S4C LPPM UNIPA kepada Bapak Hasan dan Bapak Syarif Tuharea dari BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R.Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosilisasi Program TFCCA oleh Tim S4C LPPM UNIPA dengan Tim BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R.Nanlohy)

Rangkaian koordinasi ditutup dengan pertemuan strategis bersama Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pengelolaan Teknis Daerah (UPTD) Raja Ampat di Vega Hotel Sorong. Pertemuan ini dihadiri oleh Hasan Makasar selaku Kepala BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat, Syafri Tuharea yang merupakan Asisten Teknis Konservasi di BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat, serta Fitryanti Pakiding sebagai Pengelola Program Sains untuk Konservasi. Dalam forum ini, Fitryanti memaparkan rencana kegiatan penjangkauan dan survei persepsi, termasuk survei di kapal PELNI menuju Raja Ampat serta pengembangan media edukasi bawah laut interaktif bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh  November.

Hasan Makasar menyampaikan dukungan penuh terhadap program tersebut, termasuk fasilitasi sarana seperti speed boat, pos lapangan, dan peralatan selam. Ia juga membuka peluang kolaborasi pendanaan guna memastikan keberlanjutan program konservasi di wilayah Raja Ampat.

Seluruh rangkaian kegiatan ini menegaskan adanya komitmen bersama antara S4C LPPM UNIPA, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta berbagai mitra strategis lainnya. Melalui koordinasi yang intensif dan terstruktur, program-program TFCCA diharapkan tidak hanya memperkuat upaya konservasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir di Papua Barat Daya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Kehidupan Sosial Masyarakat Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten New Template

Sosialisasi PADIATAPA di Taman Pesisir Jeen Womom​

Sosialisasi PADIATAPA di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

03 Juli 2026

Tim Hubungan Masyarakat dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) telah melaksanakan Sosialisasi PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan) untuk Program TFCCA (Tropical Forest and Reef Conservation Act). Sosialisasi ini diadakandi Taman Pesisir Jeen Womom pada 19 Mei 2026 di Pantai Jeen Syuab dan 26 Mei 2026 di Pantai Jeen Yessa.

Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Syuab oleh Abraham Leleran.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Yessa oleh Abraham Leleran.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Sosialisasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. 

Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat yang tinggal berbatasan dengan Pantai Jeen Yessa dan Pantai Jeen Syuab mengenai rencana kegiatan yang didukung TFCCA, memastikan keterlibatan dan persetujuan masyarakat secara sadar tanpa paksaan, serta membangun kolaborasi dalam mendukung upaya pelestarian penyu yang berkelanjutan. 

Sosialisasi ini diikuti oleh perwakilan masyarakat dari Kampung Wau, Weyaf, Resye, Womom, dan Syukwo. Peserta terdiri atas pemerintah kampung, pemilik pantai, tokoh perempuan, dan pemuda.

Selama sosialisasi berlangsung, peserta, khususnya masyarakat, menunjukkan antusiasme hingga kegiatan berakhir. Hal ini terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan, serta adanya sesi berbagi cerita dan penyampaian aspirasi maupun keresahan, salah satunya terkait kondisi wilayah Jeen Syuab. Perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tambrauw pun turut memberikan tanggapan serta membantu menjawab pertanyaan peserta mengenai kondisi lingkungan di wilayah tersebut.

Penandatangan berita acara Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Syuab.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Penandatangan berita acara Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Yessa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Kegiatan berjalan dengan baik dan ditutup dengan penandatanganan berita acara sosialisasi sebagai bentuk kesepakatan bersama serta komitmen para pihak dalam mendukung pelaksanaan program.

Foto bersama dengan masyarakat dan tenaga lapangan yang hadir saat sosialisasi PADIATAPA.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Dari pelaksanaan sosialisasi PADIATAPA, tim Sains untuk Konservasi mengharapkan adanya kerjasama yang baik dengan masyarakat tanpa ada tekanan atau paksaan demi pelestarian penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

01 Juli 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) Periode II Tahun 2026 telah dilaksanakan pada 17–19 Juni 2026 bertempat di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Meskipun kegiatan ini mencakup berbagai materi, pelatihan lebih difokuskan pada teknik produksi produk turunan kelapa, khususnya briket arang dan cocopeat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas PMNH dalam menguasai teknik pengolahan produk turunan kelapa sebagai upaya pengembangan mata pencaharian alternatif berbasis komoditas unggulan lokal, sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya konservasi penyu yang berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah melalui tahapan seleksi sebelumnya. Dari total 114 peserta yang mendaftar, sebanyak 20 peserta berhasil lolos seleksi tahap pertama, hingga akhirnya terpilih 9 peserta yang mengikuti tahap pelatihan PMNH Periode II.

Sejalan dengan pelatihan sebelumnya, kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh mengenai program, meningkatkan keterampilan teknis di lapangan, serta memperkuat kemampuan dalam bekerja sama secara efektif dan profesional dalam mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.

Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan diawali dengan penandatanganan kontrak kerja oleh seluruh peserta bersama Human Resources Development (HRD). Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Pengelola Program Sains untuk Konservasi (S4C), Fitryanti Pakiding, dan secara resmi dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno.

Pembukaan pelatihan PMNH oleh Freddy Pattiselanno.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti pemaparan lima materi utama yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai program pelestarian penyu di TP Jeen Womom, sistem kerja dan pengelolaan program, mekanisme pelaporan kegiatan, administrasi keuangan, serta strategi pendampingan masyarakat melalui program pendidikan formal maupun informal.

Pengenalan Program oleh Kartika Zohar.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Sistem Keuangan oleh Aflia Pongbatu. 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Memasuki hari kedua, kegiatan berfokus pada pendalaman pembelajaran di Rumah Belajar, meliputi materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan ComputerEnglish (COMENG). Peserta juga mendapatkan sesi praktik mengajar, pemahaman mengenai indikator dan subindikator pembelajaran di Rumah Belajar, serta proses penilaian berdasarkan indikator tersebut.

Pemaparan materi Pengenalan Indikator dan Subindikator Pembelajaran di Rumah Belajar oleh Alberto Allo.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Teori Pembuatan Minyak Kelapa Yang Bersih dan Rumah Produksi Minyak Kelapa oleh Fitri Iriani. 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Selain materi pendidikan, peserta juga dibekali pemahaman mengenai program pemberdayaan masyarakat melalui pengenalan produk dan proses pembuatannya. Materi tersebut mencakup Sharing terkait Program Kerajinan Tangan
(Amigurumi, dan Noken HP) , Teori Pembuatan Minyak Kelapa Bersih, serta pengelolaan Rumah produksi Minyak Kelapa yang dapat mendukung peningkatan kapasitas masyarakat Abun, Tobouw, dan Amberbaken. Pada hari yang sama, peserta juga menerima materi Manajemen Dokumentasi Foto dan Persyaratan Dokumentasi sebagai bagian dari pendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Pada hari terakhir pelatihan, peserta mendapatkan dua materi penting yang mendukung pelaksanaan program. Materi pertama disampaikan oleh Wilson Palelingan Aman mengenai Teori Pembuatan Turunan Kelapa berupa Cocopeat dan Briket Arang, sekaligus pengenalan mesin penepung arang. Materi kedua mengenai Pengenalan Penyu dan Upaya Konservasinya di TP Jeen Womom disampaikan oleh Asisten Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, Petrus Batubara, sebagai pendukung pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Walaupun kegiatan ini diisi dengan berbagai materi akan tetapi, pelatihan lebih mengutamakan pelatihan teknik produksi turunan kelapa dalam hal ini briket arang dan cocopeat agar PMNH memiliki kapasitas terkait teknik produksi turunan kelapa untuk mengembangkan mata pencaharian alternatif masyarakat berbasis komoditas unggulan lokal sebagai bagian dari penguatan dukungan terhadap konservasi penyu yang berkelanjutan.

Pemaparan materi Teori dan Pembuatan Turunan Kelapa oleh Wilson Palelingan Aman.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Pengenalan Penyu dan Upaya
Konservasinya di TP Jeen Womom oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fitri Iriani)

Usai pelatihan, pada 23 Juni 2026, para peserta melakukan praktik membuat minyak kelapa dan briket arang sebagai persiapan untuk mendukung proses produksi minyak kelapa dan briket arang di kampung pendampingan.

Peserta sedang memarut kelapa menggunakan mesin parut kelapa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Proses pembakaran tempurung.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Melalui rangkaian pelatihan ini, peserta PMNH diharapkan mampu memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mendukung program konservasi serta pemberdayaan masyarakat di TP Jeen Womom. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan, para peserta diharapkan dapat menjadi penghubung yang efektif antara program dan masyarakat dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya