Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di kantor.

2. Pelaksanaan Training (Seleksi Akhir) dilakukan di Manokwari, Papua Barat

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training  yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 – 30 Januari 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Tahun 2026

 

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 24 pelamar dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Loise Liberta Loar

Tanggal

06 Januari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Hai, saya Loise Liberta Loar biasanya dipanggil Loise. Latar belakang pendidikan saya adalah Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Setelah lulus saya mempunyai keinginan yang besar untuk bisa bekerja di tempat yang langsung berinteraksi dengan satwa liar. Saya pun mendapat kesempatan untuk bekerja di Science for Conservation pada tahun 2024 sebagai Tenaga Perlindungan Sarang periode April-Oktober dan ditempatkan di Pantai Batu Rumah. Sebagai Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Batu Rumah tugas utamanya adalah patroli pagi, kegiatannya meliputi mencatat jejak penyu, perlindungan sarang penyu menggunakan metode perlindungan pagar dan perlindungan naungan pakis pada sarang yang telah ditemukan titik peletakan telur penyu (tusuk sarang), serta evaluasi sarang penyu. Saya juga ikut berpartisipasi melakukan patroli malam. Selama mengikuti patroli malam saya mendapatkan kesempatan untuk scan atau mendeteksi nomor Passive Integrated Transponder (PIT) tag pada penyu dan memasang PIT tag pada penyu yang belum memiliki nomor PIT tag, serta mengukur panjang dan lebar karapas penyu. Saya juga membantu mengukur lebar pantai dan suhu pasir, serta mencatat data tersebut di buku maupun di Excel.

Rasa penasaran terhadap penyu dan tempat penyu bertelur tampaknya masih belum terbayarkan, sehingga saya memutuskan untuk kembali mendaftarkan diri. Pada tahun 2025 lalu saya masih diberikan kesempatan untuk bergabung kembali di Science for Conservation sebagai Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Batu Rumah. Tugas TLP2 mencakup semua pekerjaan di pantai yaitu patroli pagi, patroli malam, menginput data, mengukur panjang pantai dan suhu pasir, serta jam kerjanya pun bertambah. Mengerjakan pekerjaan TLP2 menjadi mudah untuk saya karena semuanya sudah saya pelajari ketika menjadi Tenaga Perlindungan Sarang.

Memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bekerja di Pantai Batu Rumah seperti sedang berlibur namun diberikan challenges yang harus diselesaikan sebelum pulang berlibur. Bagaimana tidak, setiap harinya saya berjalan di pantai dengan pemandangan indah sembari menyelesaikan challenge yang diberikan. Ketika melaksanakan challenge di pagi sampai sore hari saya dapat menikmati sunrise, langit biru yang indah dipadu dengan bentang laut yang luas, sunset dan juga pemandangan pantai yang selalu menarik perhatian saya. Sedangkan di malam hari saya dapat melihat Galaksi Bimasakti dengan sangat jelas, langit yang dihiasi dengan berjuta-juta bintang, bulan dan fenomena-fenomena langit yang terjadi di malam hari. Melihat galaksi dan bintang menjadi salah satu hal favorit saya di pantai. Tidak hanya itu saya juga bisa melihat rusa yang keluar ke pantai untuk minum air laut, biawak, lumba-lumba, dan berbagai jenis burung.

Saat merasa jenuh di pantai, saya dan tim bisa berkunjung ke hutan sekadar menikmati keindahan hutan dan kehidupan yang ada di dalamnya, mengunjungi air terjun, ikut memasang dan memeriksa jerat yang dipasang oleh masyarakat. Terkadang hanya tinggal di pos atau tempat tinggal tim saja, saya sudah bisa menghilangkan jenuh dengan melihat berbagai jenis kupu-kupu, burung, ular, kadal, tokek dan juga katak. Hal yang lebih menakjubkan adalah semua yang saya sebut tidak hanya dapat dinikmati di Pantai Batu Rumah tetapi dapat dinikmati di dua pantai lainnya (Pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi), dengan kata lain semuanya dapat dinikmati di sepanjang pantai Jeen Yessa.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya juga belajar mengemudi perahu yang menurut saya cukup menguji adrenalin. Adat istiadat masyarakat yang tinggal di sekitar Jeen Yessa juga menarik perhatian saya. Hal yang paling menarik perhatian saya adalah cara mereka memasak menggunakan bambu dan upacara pemanggilan penyu yang sangat unik.

Penyu memiliki daya tarik yang luar biasa bagi sebagian orang yang menyukai satwa. Salah satu hal yang menarik menurut saya adalah perjalanan hidupnya dari anak penyu (tukik) hingga menjadi dewasa. Setelah induk penyu mengubur telur di pantai peneluran, telur akan dibiarkan menetas sendiri dengan bantuan alam sekitarnya. Setelah menjadi tukik dan keluar dari sarang, tukik-tukik itu harus berjuang sendiri melawan predator di darat untuk menuju laut, kemudian ketika sampai di laut, tukik-tukik pun harus menghadapi predator di laut agar bisa bertahan hidup. Setelah menghadapi berbagai ancaman di laut, tukik-tukik pun tumbuh menjadi dewasa dan kembali ke pantai peneluran untuk bertelur. Hal itu menjadi suatu hal menarik yang dapat diteliti lebih lanjut. Keberadaan penyu di pantai Jeen Yessa menarik perhatian sebagian orang, banyak wisatawan yang datang ke pantai ini untuk melihat penyu dan juga keindahan alamnya. Wisatawan yang datang pun ada yang berasal dari mancanegara. Pantai Jeen Yessa dapat dikatakan sebagai aset yang sangat berharga untuk masyarakat setempat dan sudah sepatutnya dijaga kelestariannya. Pemantauan dan perlindungan penyu yang dilakukan Science for Conservation menjadi salah satu tindakan konservasi yang harus terus dilaksanakan agar populasi penyu yang datang ke pantai Jeen Yessa semakin meningkat. Akhir kata lestarikan alam untuk masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Konservasi di Kepulauan Misool: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Lingkungan

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Januari 2026

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Misool, yang mencakup bagian selatan dari Raja Ampat, adalah salah satu kawasan konservasi laut paling luas di Raja Ampat, dengan luas sekitar 348.518,74 hektare (sumber: SK Penetapan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2021). Ekosistem di Kepulauan Misool secara ekologis sangat kaya. Raja Ampat secara keseluruhan dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Dari total spesies karang keras dunia, sekitar 75% berada di wilayah Raja Ampat. Keanekaragaman ini mencakup tidak hanya karang dan ikan terumbu, tapi juga moluska, karang lunak, serta fauna besar seperti penyu, manta, dan ikan besar.

Transek Terumbu Karang
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Secara geografis, bentuk pulau dan perairan di Kepulauan Misool mendukung struktur habitat yang kompleks; terumbu di perairan dangkal, beberapa lokasi dengan topografi lereng, laguna yang terlindungi, kawasan karst dan gua laut, bahkan danau-laut (marine lakes) di daratan semu-terisolasi. Contoh unik: Danau Lenmakana, Balbullol, Lenkafal, Keramat, dan Kawarapop, sebuah danau laut di Kepulauan Misool ini menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya kaya laut, tapi juga punya fitur geografis yang khas. Oleh karena itu, kawasan Kepulauan Misool bukan hanya dikenal sebagai “tempat menyelam yang indah”, tetapi dari sudut ilmiah dan konservasi sebagai “laboratorium alam”: perairan yang kompleks dengan biodiversitas yang sangat tinggi, namun juga sensitif terhadap tekanan lingkungan maupun manusia.

Dengan latar belakang di atas, tim monitoring LPPM UNIPA bersama BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat sebagai pengelola kawasan, serta beberapa tenaga ahli dari berbagai instansi, kembali ke Kepulauan Misool setelah tiga tahun untuk melakukan pemantauan kembali kondisi karang, ikan, dan lingkungannya. Berikut adalah ringkasan temuan dari 19-23 November 2025 selama 5 hari penyelaman di Kepulauan Misool.

Keragaman Spesies yang Tinggi dan Habitat yang Masih Terjaga.

  • Di beberapa titik, kami mendapati hewan ukuran besar seperti bumphead, napoleon, penyu, hingga pari manta dan keberadaan schooling ikan karang. Hal ini menunjukkan bahwa struktur habitat masih mampu menopang fauna besar.
  • Struktur terumbu, termasuk koloni karang besar dan area dengan tutupan karang yang relatif rapat masih tampak, terutama di beberapa zona dangkal dan curam.
  • Keberadaan kima besar dan adanya indikasi regenerasi (juvenile fish, rekrutmen karang) menunjukkan bahwa proses ekologis dasar masih berjalan; reproduksi, pertumbuhan dan juga keanekaragaman masih terjaga.

Ini semua menunjukkan bahwa sebagian dari Kepulauan Misool masih memiliki kondisi cukup ideal, sesuai dengan karakter wilayah ini sebagai kawasan laut dengan biodiversitas tinggi.

Pari Manta
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Namun ada Sinyal yang Membutuhkan Perhatian.

  • Di beberapa lokasi, terlihat banyak rubble (patahan karang) menunjukkan bahwa ada daerah dengan beban kerusakan, entah dari alam maupun jejak tekanan manusia di masa lalu.
  • Kekeruhan air dan sedimentasi di beberapa titik menghasilkan visibilitas rendah. Hal ini menyulitkan pengamatan, sekaligus bisa menjadi indikator gangguan lingkungan seperti peningkatan sedimen atau gangguan arus.
  • Beberapa lokasi menunjukan tanda terjadinya stres pada komunitas karang, indikator utama adalah dominasi alga akibat suplai sedimen berlebih. Hal ini memberi isyarat bahwa kehidupan lingkungan ini sedang bekerja untuk bertahan.

Membaca Dua Sisi-Antara Harapan dan Realita.

Meskipun dinamika ekosistem selalu berubah, banyak bagian terumbu di kawasan Kepulauan Misool masih menunjukkan ciri-ciri proses ekologis yang berfungsi, seperti pertumbuhan karang baru dan keragaman spesies yang tinggi. Namun, tekanan dan kerusakan di titik-titik tertentu juga menunjukkan bahwa kawasan ini tetap rentan. Hanya karena sebagian besar bagus, bukan berarti keseluruhan aman. Variabilitas spasial dan kondisi lokal bisa berbeda tajam di antara titik satu dengan titik lainnya.

Bagi konservasi, ini berarti dua hal penting:

  1. Monitoring rutin mutlak diperlukan agar perubahan, baik positif maupun negatif, bisa terdeteksi sejak dini.
  2. Intervensi serta pengelolaan yang cermat, baik terhadap aktivitas manusia maupun dampak lingkungan harus diiringi dengan kesadaran bahwa tidak semua habitat bisa dianggap sama kuat.

Secara keseluruhan, Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Misool tetap menunjukkan ketangguhan alamnya, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan seindah ini tetap perlu dijaga dengan serius.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Jejak Sosial dari Teluk Mayalibit​

Jejak Sosial dari Teluk Mayalibit

Tim monitoring sosial Teluk Mayalibit 2025

Penulis

Jeniffer Maleke dan Elisa Putra

Tanggal

30 Desember 2025

Kawasan konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Di dalam dan di sekitarnya, ada masyarakat yang hidup, beraktivitas, dan berinteraksi langsung dengan alam setiap hari. Oleh karena itu, memahami hubungan antara kawasan konservasi dan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pengelolaan yang berkelanjutan.

Pada tahun 2025, kami kembali melaksanakan monitoring sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Monitoring sosial merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun sekitar kawasan tersebut.

Rivaldo Heipon dan Jelly Palle sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warsambin
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Agustinus Aiwor dan Jackson Bundah sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Arawai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kezia Salosso)

Bersama Masyarakat di Teluk Mayalibit

Kegiatan ini dilaksanakan oleh 11 orang tim lapangan, yang terdiri atas 4 staf program—Kezia Salosso, Arnoldus Ananta, Marthinus Rumere, dan Jeniffer Maleke—serta 7 enumerator, yaitu Agustinus Aiwor, Jackson Bundah, Jelly Palle, Maria Bame, Rivaldo Heipon, Spenyel Yenusy, dan Thomas Sembai.

Spenyel Yenusy dan Maria Bame sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warsambin
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Jeniffer Maleke sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warimak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Selama berada di lapangan, tim banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat serta aparat kampung. Interaksi ini menjadi bagian penting dari proses monitoring, sekaligus ruang belajar bersama untuk memahami kehidupan masyarakat yang berada di dalam kawasan konservasi maupun wilayah sekitarnya.

Waktu dan Lokasi Kegiatan

Seluruh rangkaian kegiatan lapangan dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada 23 Oktober hingga 19 November 2025, di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Kawasan ini merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Area II dalam Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 13/KEPMEN-KP/2021 Tahun 2021.

Dalam periode tersebut, tim mengunjungi 13 kampung, dengan dua kampung berada di luar kawasan konservasi dan digunakan sebagai daerah kontrol untuk melengkapi proses pengumpulan informasi.

Pemandangan sore hari di Kampung Kabui
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ebi (udang kering)–salah satu hasil laut Kampung Beo
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Kezia Salosso)

Monitoring sebagai Peninjauan Berkala

Monitoring sosial tahun 2025 ini merupakan pengulangan kelima sejak survei dasar (Baseline Survey) tahun 2010. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari peninjauan berkala untuk melihat bagaimana kondisi sosial masyarakat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ekologi yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, serta interaksi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam, menjadi latar belakang penting dilakukannya monitoring ini. Melalui kegiatan ini, dilakukan pula peninjauan terhadap tata kelola sumber daya perairan sebagai referensi dalam pengelolaan KKP yang bersifat dinamis.

Proses Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaannya, tim melakukan pengumpulan data kondisi sosial masyarakat melalui wawancara rumah tangga. Selain itu, informasi mengenai tata kelola sumber daya perairan dikumpulkan melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara dengan informan kunci. Kegiatan ini juga mencakup upaya untuk mempelajari peran perempuan di dalam kawasan KKP dan wilayah sekitarnya, sebagai bagian dari gambaran sosial masyarakat secara menyeluruh.

Kezia Salosso dan Marthinus Rumere melakukan diskusi kelompok terarah bersama beberapa anggota masyarakat di Kampung Beo
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jackson Bundah)

Diskusi kelompok terarah bersama beberapa anggota masyarakat di Kampung Warimak
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Menjadi Dasar Pengelolaan ke Depan

Dari rangkaian kegiatan ini, kami memperoleh gambaran mengenai dinamika sosial masyarakat serta bagaimana masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Informasi yang terkumpul akan diolah lebih lanjut dan digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan KKP ke depan.

Melalui monitoring sosial ini, upaya pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit diharapkan dapat terus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat, seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan kawasan konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Brian: Peran sebagai Penjaga Sarang yang Mengubah Cara Pandang Saya tentang Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Penulis

Brian Marcel Crisanto Fatem

Tanggal

17 Desember 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Perkenalkan saya Brian Marcel Crisanto Fatem atau lebih dikenal dengan nama Brian. Asal suku saya dari Sorong namun saya tumbuh besar di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Tahun ini saya berkesempatan menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Pantai Peneluran periode pertama April-Juli 2025. Pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya di Pantai Peneluran Jeen Yessa Kabupaten Tambrauw. Awalnya saya mendapat informasi terkait Tenaga Perlindungan Sarang ini dari kakak tingkat di Universitas Papua (UNIPA) yaitu Kakak Kevin di akhir tahun 2024 yang telah mengikuti program ini di tahun 2023, dan merasa tertarik karena saya penasaran dengan pekerjaan menjaga penyu di pantai peneluran yang diceritakan Kakak Kevin. Latar belakang pendidikan saya sebelumnya yaitu Sarjana Peternakan UNIPA, lulusan tahun 2014.

Tenaga Perlindungan Sarang ini adalah pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah. Sebelumnya saya hanya pernah melihat penyu hijau di Pantai  Sidey, salah satu pantai wisata di Distrik Masni. Kalau boleh jujur, saya juga pernah  melihat masyarakat lokal di salah satu pantai memburu penyu. Namun karena saat itu saya tidak tahu mendalam terkait ancaman kepunahan penyu, saya  tidak menghiraukan perbuatan tersebut.

Bulan Mei 2025, saya dan tim turun lapangan ke Pantai Jeen Womom, tepatnya di dekat Kampung Resye (dahulu disebut Saubeba). Tantangan pertama langsung saya hadapi ketika tiba di pantai peneluran Batu Rumah: saya harus berjalan sekitar 9 km menuju Pantai Wembrak, lokasi kerja saya. Karena masih awal bekerja di pantai peneluran, saya cukup kaget dengan aktivitas berjalan sejauh itu di pasir pantai; kaki saya belum beradaptasi, dan langkah terasa lebih berat karena setiap pijakan membuat telapak kaki saya masuk ke dalam pasir, tidak seperti berjalan di permukaan yang keras. Namun setelah terbiasa, boleh dikatakan saya cukup “rajin berjalan” untuk mendata dan melindungi sarang penyu. Saya ditugaskan di Pantai Wembrak bersama Kakak Tonny Duwiri sebagai koordinator pantai, Mayustilo dan Jackson sebagai tenaga lapangan pantai peneluran, serta Titus dan Nikodemus Yesnat tenaga lokal yang ikut bekerja di pantai. Saya bekerja dari 9 April sampai 11 Juli 2025.

Pantai Wembrak merupakan lokasi kerja yang sangat nyaman untuk saya, karena itu saya sangat rajin berjalan untuk mendata dan melindungi sarang sejak awal saya bertugas. Hampir setiap hari saya melakukan perlindungan sarang yang merupakan tugas utama saya. Selain itu saya juga senang melakukan patroli malam. Bahkan pengalaman yang saya rasa paling menarik adalah ketika belajar cara memasang chip PIT tag karena sangat menantang. Saya membutuhkan beberapa kali percobaan sampai akhirnya benar-benar memahami caranya. Meski tampak sederhana, pemasangan chip PIT tag harus dilakukan pada waktu yang tepat—saat penyu belimbing menghembuskan napas dan terlihat cukup rileks—dan orang yang memasang chip juga harus cukup sigap agar tidak terlambat.

Brian sedang memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Wembrak)

Brian dan anggota tim lainnya sedang mengangkat gulungan cocomesh untuk perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Perlindungan sarang juga tidak kalah menantang, khususnya perlindungan sarang menggunakan cocomesh. Perlindungan cocomesh adalah inovasi perlindungan sarang dari tali serat kelapa yang dianyam. Untuk melakukannya, kami harus membawa kayu dan anyaman tali tersebut menuju lokasi sarang penyu yang ditentukan dan merangkainya di atas sarang penyu.

Selama bertugas, saya juga pernah berpindah lokasi kerja untuk membantu tim di Pantai Warmamedi yang terletak di sebelah timur Wembrak. Saat itu, tim Warmamedi membutuhkan tenaga tambahan karena terdapat banyak sarang penyu yang harus dilindungi, sementara mereka harus bergerak cepat untuk mengamankan sarang-sarang tersebut dari predator alami seperti babi hutan, soa-soa, dan anjing. Saya pindah tugas pada bulan Juni 2025 dan bertugas di sana selama satu minggu.

Brian sedang membuat perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mayustilo Hokoyoku)

Brian melepaskan tukik saat di pantai Wembrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Wembrak)

Selain bekerja, saya juga berbaur dengan masyarakat lokal yang dengan hangat menerima saya sebagai orang baru. Saya sangat menikmati bekerja di pantai bersama tim Wembrak maupun tim di lokasi lain; meskipun pekerjaan kadang melelahkan, suasana penuh canda membuat semuanya terasa ringan. Kami saling bekerja sama sekaligus bersaing secara positif untuk mencapai target perlindungan sarang. Bekerja di pantai juga mengajarkan saya untuk hidup lebih teratur—bangun pagi, sarapan, bekerja, beristirahat, lalu kembali menjalankan tugas dengan ritme yang jelas dan berkesinambungan.

Terakhir, saat saya selesai dari pantai, saya melihat penyu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Di awal, saya sempat bertemu dengan orang-orang yang memburu penyu dan tidak mengerti bahayanya. Namun kini saya sadar bahwa penyu adalah spesies yang sangat terancam dan perlu kita lindungi bersama. Jika masih tersedia pilihan makanan lain, saya ingin mengajak siapapun yang masih mengkonsumsi penyu untuk berhenti, demi masa depan anak cucu kita agar mereka tetap bisa melihat penyu hidup di alam bebas.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Kontribusi Sains untuk Konservasi dalam Memperkuat Pengelolaan BLKB pada Workshop Siklus 5 BAF​

Kontribusi Sains untuk Konservasi dalam Memperkuat Pengelolaan BLKB pada Workshop Siklus 5 BAF

Penulis

Kei Mongdong

Tanggal

12 Desember 2025

Blue Abadi Fund (BAF) adalah program pendanaan perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal dalam mengelola sumber daya kelautan secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. Mendekati akhir tahun 2025, administrator Blue Abadi Fund (BAF) menggelar Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF di Kantor Gubernur Papua Barat pada 25 November 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sharing pembelajaran dari implementasi program Blue Abadi Fund, guna meningkatkan pengetahuan dan membuka jejaring/potensi kerjasama antar penerima hibah BAF. Pada sesi pembukaan, 15 mitra diberi kesempatan memperkenalkan profil, kegiatan yang mereka lakukan dan wilayah kerja mereka secara singkat.

Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA sebagai salah satu penerima Hibah BAF pada Tahun 2025 juga diundang dalam Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF tersebut. Fitryanti Pakiding selaku pengelola Program Sains untuk Konservasi menyampaikan secara singkat profil S4C dan tujuan utama program yaitu menghubungkan sains dengan upaya konservasi di Bentang Laut Kepala Burung.

Berdasarkan surat Nomor 252/Dir/BAF-CFP5/KHT/VII/2024 S4C LPPM UNIPA pada BAF Siklus 5 akan bekerja pada 6 bagian kegiatan yaitu : 1) Perlindungan Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, Kab. Tambrauw Papua Barat Daya; 2) Pelaksanaan Monitoring Kesehatan Karang; 3) Pelaksanaan Monitoring Sosial Ekonomi – Kesejahteraan Rumah Tangga dan Tata Kelola Sumber Daya Laut; 4) Penyusunan Laporan Monitoring Kesehatan Karang dan Laporan Monitoring Sosial Ekonomi yang dilaksanakan; 5) Diseminasi atas hasil studi/monitoring dan kegiatan pemberdayaan; 6) Penyusunan laporan “State of The Seascape Report 2025”.

Pada Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF mengelompokkan lima sesi diskusi dengan tema yang berbeda, yaitu:
Sesi 1: Pengelolaan Kawasan Konservasi (KK) di Perairan Bentang Laut Kepala Burung, termasuk monitoring sosial dan ekologi;
Sesi 2: Pendidikan lingkungan hidup, penjangkauan, dan peningkatan kapasitas;
Sesi 3: Konservasi spesies langka, terancam punah, dilindungi, dan ekosistem kritis di Bentang Laut Kepala Burung;
Sesi 4: Peran masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi;
Sesi 5: Pembangunan berkelanjutan dan mata pencaharian pesisir.

Suasana workshop yang dihadiri oleh 15 mitra BAF
(Foto: Blue Abadi Fund/Burhan)

Suasana diskusi para mitra saat moderator memandu salah satu sesi diskusi
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pengenalan profil oleh 15 mitra BAF
(Foto: Blue Abadi Fund/Burhan)

Pada setiap sesi, para mitra dipandu oleh moderator dan secara bergantian diberi kesempatan untuk memaparkan tujuan, capaian, tantangan, serta pembelajaran dari kegiatan yang telah mereka lakukan. S4C LPPM UNIPA termasuk di dalam kelima sesi tersebut, namun karena model diskusi setiap sesi ditentukan masing-masing moderator sesi sehingga presentasi detail dari S4C LPPM UNIPA pada sesi 1, 3, dan 5.

Pada sesi pertama, Dahlia Menufandu selaku Asisten Koordinator Analisis Data Sosial menyampaikan hasil monitoring kesehatan karang, sosial ekonomi rumah tangga, dan tata kelola sumber daya laut selama periode Mei–Juni 2025 melalui Program Sains untuk Konservasi. Ia menjelaskan bahwa kesehatan karang di empat kawasan konservasi di Kepulauan Raja Ampat (Selat Dampier, Teluk Mayalibit, Ayau–Asia, dan KKP Waigeo Sebelah Barat) berada dalam kondisi cukup baik, kecuali di Ayau–Asia yang mengalami penurunan biomassa ikan. Pada periode Juni–Juli 2025, dilakukan monitoring sosial ekonomi di empat kampung di Kepulauan Kofiau–Boo dan empat kampung di Kepulauan Sembilan. Ditemukan bahwa masih banyak praktik pengambilan hasil laut yang tidak sesuai atau ilegal, seperti nelayan dari luar Raja Ampat yang menggunakan berbagai alat tangkap dan mengambil sirip hiu.

Pada sesi kedua, S4C LPPM UNIPA dimintai pendapat tentang tantangan utama dari Pendidikan lingkungan hidup, penjangkauan, dan peningkatan kapasitas. Fitryanti Pakiding sebagai pengelola kemudian memberikan respon bahwa tantangan utama adalah memastikan bagaimana mengukur perubahan yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan dilakukan.

Pada sesi ketiga, Deasy Lontoh selaku Koordinator Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang menyampaikan bahwa dari hasil pemantauan di Taman Pesisir  Jeen Womom tercatat 1.653 sarang yang dilindungi, 57 anggota masyarakat lokal terlibat aktif, dan lebih dari 70.000 tukik penyu belimbing berhasil menetas dan dilepaskan. Pada sesi ini juga Deasy menekankan bahwa capaian besar yang diperoleh pada musim ini merupakan hasil dari kerjasama dengan masyarakat lokal yang mendukung upaya pemantauan dan perlindungan yang dilakukan di wilayah ini.

Pada sesi keempat tentang peran masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi, penerima hibah lain diberikan kesempatan lebih banyak untuk menyampaikan pembelajaran yang diperoleh. S4C LPPM UNIPA sendiri pada sesi ini telah mempersiapkan pembelajaran utama pada sesi ini yaitu, pentingnya melibatkan peran aktif pada pemilik ulayat dalam pelaksanaan kegiatan di Taman Pesisir Jeen Womom.

Dahlia Menufandu memaparkan hasil monitoring karang, sosial ekonomi, dan tata kelola sumberdaya laut.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)

Penyampaian capaian dan tantangan produksi dan pemasaran minyak kelapa abun oleh Kartika Zohar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Abraham Leleran)

Pada sesi kelima yang berdiskusi mengenai pembangunan berkelanjutan dan mata pencaharian pesisir, Kartika Zohar, menyoroti bahwa upaya konservasi yang dilakukan di Taman Pesisir Jeen Womom memberikan manfaat ekonomi secara langsung. Sejak 2020, saat pandemi Covid-19 melanda, S4C LPPM UNIPA secara konsisten menghitung manfaat ekonomi langsung yang diterima masyarakat di kawasan melalui program konservasi penyu di Taman Pesisir Jeen Womom. Memasuki akhir Oktober 2025, total manfaat ekonomi langsung yang diterima masyarakat mencapai sekitar Rp760 juta. Angka tersebut akan terus bertambah hingga akhir tahun. Materi sharing Program Sains untuk Konservasi bisa di akses di sini.

Melalui rangkaian sesi diskusi dan pemaparan para mitra, Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF tidak hanya menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kelestarian Bentang Laut Kepala Burung, tetapi juga menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis sains, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan keanekaragaman hayati dapat memberikan dampak nyata di lapangan. Berbagai capaian yang dihasilkan, mulai dari peningkatan pengetahuan ekologi, perlindungan spesies penting, hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat menjadi bukti bahwa upaya konservasi yang terarah dan inklusif mampu memperkuat pengelolaan BLKB secara berkelanjutan. Ke depan, sinergi antara lembaga, masyarakat, dan pemangku kepentingan diharapkan terus berkembang sehingga konservasi di Bentang Laut Kepala Burung semakin kokoh dan membawa manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama

Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

28 November 2025

Sejak diinisiasi pada tahun 2014, produksi minyak kelapa telah menjadi salah satu program pengembangan ekonomi masyarakat yang tumbuh seiring dengan pelaksanaan Konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Jeen Womom. Inisiatif ini muncul dari kebutuhan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah peneluran penyu, sehingga kegiatan konservasi dapat berjalan berdampingan dengan penguatan kesejahteraan komunitas.

Selama bertahun-tahun, proses produksi minyak kelapa berkembang dari kegiatan berskala kecil menjadi usaha yang lebih terstruktur. Perjalanan panjang ini semakin kuat ketika Pemerintah Kabupaten Tambrauw, melalui Dinas Pertanian, memberikan dukungan berupa alat produksi minyak kelapa serta membangun rumah produksi di Kampung Wau dan Weyaf. Kehadiran fasilitas terutama mesin press santan ini membantu masyarakat meningkatkan kualitas dan jumlah produksi secara lebih konsisten.

Proses cincang kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses pemarutan kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Memasuki periode Januari hingga akhir Oktober 2025, produksi minyak kelapa mencatat pencapaian yang menggembirakan. Dalam waktu sepuluh bulan, masyarakat dari empat kampung yaitu Resye, Womom, Wau-Weyaf, dan Syukwo, berhasil menghasilkan lebih dari seribu liter minyak kelapa, tepatnya 1.070 liter. Angka ini masih akan terus bertambah hingga akhir tahun. Seluruh proses produksi dilakukan melalui 44 kali kegiatan bersama, yang melibatkan total 87 warga dari keempat kampung tersebut. Yang menarik, perempuan menjadi motor utama dalam usaha ini di mana dari total pelaku, 56 adalah perempuan dan 31 adalah laki-laki, semuanya bekerja aktif mulai dari pengupasan buah kelapa hingga pengemasan minyak dalam kemasan gen untuk dikirim ke Manokwari.

Proses mengambil minyak hasil endapan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses memasak minyak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Partisipasi dari masing-masing kampung juga menunjukkan antusiasme yang kuat. Di Kampung Resye, sebanyak 36 orang turut terlibat, sementara di Kampung Womom terdapat 16 orang yang berperan aktif. Kampung Wau-Weyaf menjadi salah satu pusat kegiatan dengan keterlibatan 31 warga, sementara Kampung Syukwo berkontribusi dengan 16 masyarakat. Tingkat partisipasi ini mencerminkan bahwa kegiatan produksi minyak kelapa telah menjadi aktivitas bersama yang menyatukan berbagai kelompok usia dan peran dalam masyarakat.

Dari sisi jumlah produksi, capaian setiap kampung menunjukkan dinamika dan kapasitas lokal yang beragam. Kampung Wau–Weyaf menjadi penghasil terbesar dengan total 750 liter minyak kelapa hingga akhir Oktober. Diikuti oleh Kampung Resye dengan 147,9 liter, Kampung Womom dengan 128 liter, dan Kampung Syukwo dengan 45 liter. Variasi produksi ini mencerminkan perbedaan fasilitas dan dukungan yang tersedia di masing-masing kampung, terutama keberadaan mesin press santan yang merupakan alat pengolahan yang berpengaruh langsung terhadap jumlah minyak yang dapat dihasilkan.

Proses pengukuran minyak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Inisiatif ini tidak hanya memperkuat perekonomian masyarakat tetapi juga berkontribusi langsung pada keberlanjutan konservasi. Dengan terciptanya mata pencaharian alternatif, masyarakat yang tinggal di sekitar pantai-pantai peneluran merasakan manfaat nyata dari keberadaan program konservasi. Mereka bukan hanya menjaga habitat peneluran penyu belimbing, tetapi juga memperoleh kesempatan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui usaha pengolahan minyak kelapa.

Program ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana konservasi dapat berjalan selaras dengan pembangunan ekonomi lokal dengan menguatkan komunitas, menjaga alam, dan menciptakan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang mereka lindungi setiap hari.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat​

Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat

Penulis

Jennifer Maleke, Marthinus Rumere, dan Arnoldus Ananta

Tanggal

10 November 2025

Survei sosial merupakan kegiatan pemantauan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun di sekitar kawasan tersebut. Survei sosial yang dilakukan meliputi survei rumah tangga, survei gender, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci

Pada tahun 2025, tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosek (Sosial-Ekonomi) melaksanakan survei sosial pada 13 kampung di Kawasan Konservasi Teluk Mayalibit, Raja Ampat, sebagai pemantauan pengulangan ke-5 dari kegiatan pemantauan sosial yang telah dilakukan sejak tahun 2010.

Untuk menyukseskan pelaksanaan survei sosial, diadakan pelatihan bagi para surveyor selama tiga hari, dari tanggal 15 hingga 17 Oktober 2025. Pelatihan ini dibuka oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding, dengan narasumber Koordinator BHS, Kezia Salosso, serta anggota BHS Sosek, Jennifer Maleke dan Marthinus Rumere. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh para enumerator, yaitu Thomas Sembai, Jelly Palle, Spenyel Yenusy, Maria Bame, Jackson Bundah, Rivaldo Heipon, dan Agus Aiwor.

Pada hari pertama, kegiatan dimulai dengan pembukaan resmi oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding. Setelah itu, peserta mendapatkan pengantar Survei Sosial BLKB (Bentang Laut Kepala Burung) Papua Tahun 2025, yang mencakup tujuan dan lokasi survei, jenis dan jumlah data yang akan dikumpulkan, serta penjelasan detail mengenai instrumen survei rumah tangga.

Pengelola Program Sains Untuk Konservasi Membuka Pelatihan Surveyor Lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Penjelasan instrumen rumah tangga oleh Koordinator BHS Sosek
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Memasuki hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan praktik lapangan di Pulau Mansinam. Tim terlebih dahulu melapor kepada aparat kampung setempat, kemudian melaksanakan latihan wawancara survei rumah tangga, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci bersama beberapa responden. Kegiatan FGD dan survei rumah tangga dilakukan secara terpisah, di mana FGD dipimpin oleh Koordinator BHS Sosek bersama aparat kampung, beberapa masyarakat, dan tetua adat.

Tim mempersiapkan perlengkapan survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Sementara itu, survei rumah tangga dilakukan oleh para enumerator yang terbagi dalam tiga kelompok untuk mewawancarai masing-masing satu penduduk. Sesi ini berlangsung sekitar dua jam. Setelah itu, tim melakukan pembersihan dan pengecekan data untuk memastikan akurasi serta pemahaman para peserta terhadap prosedur survei.

Briefing sebelum pelaksanaan pre-test wawancara survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pre-test wawancara FGD
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Pada hari ketiga, kegiatan difokuskan pada evaluasi dan refleksi hasil pelatihan. Tim melakukan review terhadap hasil try-out atau pre-test, serta mendiskusikan tindak lanjut dari proses wawancara yang telah dilakukan. Sebagai penutup, peserta menyusun rencana kerja lapangan dan mempersiapkan perlengkapan survei yang akan digunakan selama pelaksanaan pemantauan sosial.

Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya memperdalam keterampilan teknis, tetapi juga membangun pijakan penting untuk menghadirkan hasil pemantauan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya alam yang mereka jaga.

Pre-test wawancara salah satu penduduk mengunakan survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pengecekan dan pembersihan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Uncategorized @id

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Penulis

Christian Zakarias Kaisiepo

Tanggal

31 Oktober 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Saat pertama kali saya berlayar di pesisir Kabupaten Tambrauw selama 3 hari 2 malam dengan kapal kecil menuju sebuah kampung yang akan saya tempati sementara, saya langsung merasakan keindahan serta kekayaan alamnya yang begitu khas dan berbeda.

Bagaimana tidak? Kampung yang bernama Saubeba (dalam bahasa Biak) atau Resye (dalam bahasa Abun), yang sebelumnya sama sekali belum saya kenal, ternyata berada di lokasi strategis.

Menikmati senja di Pesisir Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Terbentang di Samudra Pasifik sekaligus berada dalam kawasan hutan konservasi yang kaya keragaman hayati. Dari hamparan pepohonan luas, aliran sungai kecil dengan mata air segar, beragam satwa yang masih terlindungi di darat, laut, dan udara, hingga budaya masyarakat asli yang tetap menjunjung tinggi bahasa lokal, semuanya membuat saya terkesan. Saat itu juga saya tersadar bahwa kehidupan manusia tidak pernah jauh dan selalu bergantung pada alam di sekitarnya.

Saya berada di Kampung Resye, Kabupaten Tambrauw untuk melaksanakan tugas sebagai Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH). PMNH merupakan bagian dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (Papua).

Pada suatu hari yang cerah, sebuah pertanyaan muncul di benak saya, “Jika lingkungan yang begitu kaya dan indah ini tidak dijaga oleh manusia sendiri, apa yang akan terjadi kelak?” Waktu itu, saya tengah duduk menikmati segarnya kelapa muda dan menatap indahnya senja yang perlahan tenggelam di ufuk barat pesisir Kampung Resye.

Namun, seiring berjalannya waktu berada di kampung ini, saya mulai menyadari betapa beragamnya kekayaan hayati yang dimilikinya. Dari kehidupan di pesisir pantai, aktivitas berkebun di hutan, hingga statusnya sebagai kawasan konservasi penyu dan berbagai keragaman hayati lainnya, yang mana membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga sumber daya alam dan lingkungan sekitar.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

Salah satu tugas PMNH adalah mengajar di rumah belajar, termasuk memberikan edukasi lingkungan untuk anak-anak. Edukasi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) mengajak anak-anak untuk memahami bahwa manusia hidup selalu berdampingan dengan alam di sekitar tempat tinggalnya, sehingga kesadaran itu memberi dampak positif bagi keberlangsungan hidup. Dengan mengenal berbagai ekosistem di pesisir pantai maupun hutan, anak-anak dibekali kemampuan menjaga lingkungan agar tetap bersih, asri, dan lestari.

Menonton video tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pembelajaran tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kampung ini dikenal sebagai wilayah yang dekat dengan habitat peneluran penyu, di mana terdapat 4 dari 7 jenis penyu di dunia, termasuk Penyu Belimbing. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangat penting untuk menjaga kelestarian populasi penyu yang hampir tergolong punah. Melalui media pembelajaran visual, anak-anak dibekali pemahaman tentang kehidupan penyu, mulai dari membedakan penyu dan kura-kura, mengenal berbagai ancaman yang dihadapi, hingga memahami cara menjaga siklus hidup penyu agar tetap berlanjut, khususnya di sepanjang pesisir Pantai Jeen Yessa.

Pembuatan sarang perlindungan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pengenalan jenis-jenis sampah
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Anak-anak di Kampung Resye juga belajar secara langsung untuk cara melakukan perlindungan penyu dari berbagai ancaman. Sebelumnya mereka telah belajar tentang ancaman melalui video dan materi di Rumah Belajar. Dengan mempelajari ancaman, anak-anak dapat memahami siklus hidup penyu yang tidak mudah dilalui. Pengetahuan ini membantu anak-anak belajar tentang apa yang mereka dapat lakukan untuk melindungi penyu

Selain mempelajari siklus hidup penyu, anak-anak juga dibimbing untuk turun ke lapangan dan mempraktikkan pembelajaran melalui pengenalan jenis-jenis sampah, dengan menelaah penyebab yang memengaruhi kebersihan lingkungan, seperti sampah organik dan non-organik. Dengan rasa ingin tahu yang besar, mereka antusias mengamati poster “Do’s & Don’ts”, sekaligus diberi kesempatan menentukan aktivitas legal dan ilegal untuk memahami dampaknya terhadap lingkungan.

Pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Setiap benda yang ditemukan sepanjang pesisir pantai menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar membedakan jenis-jenis sampah. Mulai dari dedaunan kering, ranting kayu, dan rumput laut kering, hingga kantong maupun botol plastik, yang jelas memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, semangat tinggi anak-anak dalam membersihkan lingkungan menjadi peran penting dalam menumbuhkan kepedulian terhadap alam.

Pada umumnya, anak-anak sangat senang mengikuti pembelajaran langsung di lapangan. Selain menyenangkan, cara ini juga memudahkan mereka memahami setiap materi yang diberikan. Dalam kesempatan ini, anak-anak tidak hanya dibekali pengetahuan tentang lingkungan yang berdampak pada manusia, tetapi juga didorong untuk mengenal interaksi antar ekosistem pesisir, baik komponen biotik maupun abiotik. Rumput laut, misalnya, merupakan salah satu tumbuhan laut yang bermanfaat bagi kehidupan organisme akuatik.  Sementara itu, aliran sungai menjadi elemen penting yang menopang keberlangsungan hidup berbagai ekosistem di sekitarnya. Kedua komponen ini sangat penting untuk diketahui anak-anak, karena mereka hidup di lingkungan yang erat kaitannya dengan komponen-komponen tersebut.

Pengenalan jenis ekosistem abiotic pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Diskusi singkat bersama wisatawan macanegara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Berada di Kampung Resye, salah satu kampung di dekat Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, memberikan pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan. Peran saya sebagai PMNH tidak hanya mendorong untuk bersikap profesional dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri saya dalam memperkenalkan kepada wisatawan mancanegara bahwa rumah belajar adalah salah satu upaya penting bagi keberlanjutan konservasi penyu di TP Jeen Womom.

Saya merasa bersyukur atas pengalaman berharga selama menjadi PMNH di Kampung Resye. Setiap momen yang saya jalani di sini benar-benar tak ternilai. Saya juga bangga karena pekerjaan ini merupakan investasi penting bagi upaya konservasi penyu, tidak hanya di Papua Barat, tetapi juga untuk dunia. Meski tampak sederhana, pekerjaan ini memberikan dampak luar biasa bagi masa depan bumi.

Berfoto dengan penyu belimbing di wilayah pesisir Jeen Yessa Syuwen
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya