Kategori
Uncategorized @id

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi​

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Khofifa: Dari Konservasi ke Kontemplasi

Penulis

Khofifa Indah Pratiwi Syahrudin

Tanggal

06 Januari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Panggilan yang Membawa ke Timur

Semuanya berawal dari sebuah postingan di Instagram milik Science for Conservation yang di-repost salah satu akun komunitas konservasi di Sulawesi Tengah tentang pembukaan lowongan kru pantai peneluran penyu. Awalnya aku tidak berniat untuk mendaftar, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku mencoba melengkapi semua berkas. Tak ada ekspektasi besar untuk diterima, namun Tuhan berkehendak lain.

Aku berangkat dari Sulawesi menuju Manokwari—tempat yang bahkan belum pernah kupijak sebelumnya. Perjalanan ini terasa seperti keputusan besar, karena aku datang tanpa siapa-siapa, hanya membawa keyakinan dan rasa ingin tahu tentang dunia konservasi, khususnya penyu.

Aku pernah meneliti kura-kura saat kuliah, dan dari situlah muncul pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau kali ini aku belajar dari penyu?” Akhirnya, aku tiba di pantai tempat aku akan tinggal selama berbulan-bulan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pasir, aku terdiam lama—menyadari bahwa langkah kecil ini akan menjadi awal dari perjalanan besar.

Foto bersama tamu dari luar negeri yang ingin melihat penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Foto bersama tim pantai dan tim Pemberdayaan Masyarakat S4C
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Kehidupan di Lapangan: Antara Dini Hari dan Cahaya bulan

Kehidupan di pantai dimulai ketika kebanyakan orang sedang tidur. Setiap malam pukul sepuluh, kami memulai patroli di bawah cahaya bulan, berjalan menyusuri pasir sejauh beberapa kilometer hingga dini hari. Suara ombak dan gelapnya menyesuaikan diri.

Malam-malam itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku menemukan jejak penyu, lalu bertemu langsung dengan penyu belimbing pertamaku—raksasa lembut yang membuatku kagum, gugup sekaligus takut. Saat memasang Passive Integrated Transponder (PIT) tag untuk pertama kali, aku menangis. Sebab aku takut menyakiti penyu belimbing tersebut, tetapi setelah aku berhasil melakukan pemasangan chip pada induk penyu belimbing aku sadar bahwa, aku sedang menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kehidupan.

Keesokan harinya, kami melindungi sarang-sarang penyu. Ada sarang yang harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan ombak, ada yang diberi pagar daun pakis agar aman dari predator. Di sanalah aku belajar bahwa setiap tindakan kecil, seperti menancapkan pagar atau memindahkan telur, punya arti besar untuk kelangsungan hidup mereka.

Rasa lelah terbayar setiap kali melihat tukik menetas dan berlari menuju laut. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—seolah setiap langkah kecil mereka membawa pesan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Khofifa dan tim melakukan pengukuran terhadap penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Interaksi dan Toleransi: Cerita di Balik Konservasi

Awalnya, beradaptasi dengan tim bukan hal yang mudah. Logat mereka cepat, nada bicara tinggi, dan aku sempat mengira mereka marah. Namun ternyata, itulah cara mereka menunjukkan keakraban. Lama-kelamaan, suasana berubah. Dari yang awalnya pendiam, aku menjadi orang yang suka bercanda, ikut tertawa, bahkan saling roasting satu sama lain.

Aku satu-satunya yang muslim di antara mereka semua di awal musim, akan tetapi mereka menerimaku sepenuhnya. Mereka menghargai waktuku untuk ibadah dan sebaliknya, dan aku belajar bahwa perbedaan bukan penghalang—ia justru memperkaya. Dari mereka, aku belajar banyak hal: tentang keterbukaan, tentang cara berkomunikasi yang jujur, dan tentang keluarga yang bisa terbentuk tanpa ikatan darah.

Di sisi lain, aku juga menyadari bahwa pendidikan di sekitar pantai peneluran memegang peran penting. Di salah satu kampung di sekitar pantai peneluran penyu, ada sekolah yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar beberapa kelas sekaligus. Di tengan keterbatasan itu Science for Conservation juga menghadirkan rumah belajar—tempat anak-anak bisa menambah pengetahuan mereka di sore hari. Dari sana aku sadar, konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, tetapi juga tentang memberdayakan manusia agar tumbuh bersama alamnya.

Ombak, Arus dan Keberanian

Tak semua hari di pantai berjalan dengan tenang. Ada hari-hari ketika laut bergelombang tinggi dan arus terasa kuat. Saat itu, keberanian diuji. Aku masih ingat momen ketika kami harus mendorong perahu ke laut, menghitung waktu di antara ombak agar tidak terbalik. Terkadang mesin perahu tidak mau menyala, membuat detak jantungku berpacu. Tetapi setiap kali perahu berhasil menembus ombak, ada rasa lega dan bangga yang sulit dijelaskan. Dari laut, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tentang tetap bergerak meski takut ada.

Foto bersama setelah mencari udang di sungai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Penutup: Menjaga yang Hidup, Menemukan yang Bermakna

Lima bulan di pantai peneluran penyu mengubah banyak hal dalam diriku. Aku yang dulu ragu kini lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memahami arti kesabaran. Konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, hutan, atau laut—tetapi tentang menjaga nurani manusia agar tetap peka terhadap kehidupan.

Dari pasir yang lembut hingga ombak yang keras, aku belajar bahwa setiap bentuk kehidupan punya caranya sendiri untuk bertahan, dan tugas kita hanyalah menghormati ritme itu. Setiap tukik yang dilepaskan ke laut mengingatkanku bahwa menjaga kehidupan juga berarti berani melepaskan—melepaskan ego, ketakutan, dan keinginan untuk selalu mengendalikan.

Dari pantai ini, aku tidak hanya menemukan makna konservasi, tetapi juga menemukan diriku yang lebih utuh. Bahwa menjaga alam, sejatinya, adalah belajar hidup selaras dengannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Loise: Tempat Indah yang Tersembunyi di Pantai Jeen Yessa

Penulis

Loise Liberta Loar

Tanggal

06 Januari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Hai, saya Loise Liberta Loar biasanya dipanggil Loise. Latar belakang pendidikan saya adalah Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Setelah lulus saya mempunyai keinginan yang besar untuk bisa bekerja di tempat yang langsung berinteraksi dengan satwa liar. Saya pun mendapat kesempatan untuk bekerja di Science for Conservation pada tahun 2024 sebagai Tenaga Perlindungan Sarang periode April-Oktober dan ditempatkan di Pantai Batu Rumah. Sebagai Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Batu Rumah tugas utamanya adalah patroli pagi, kegiatannya meliputi mencatat jejak penyu, perlindungan sarang penyu menggunakan metode perlindungan pagar dan perlindungan naungan pakis pada sarang yang telah ditemukan titik peletakan telur penyu (tusuk sarang), serta evaluasi sarang penyu. Saya juga ikut berpartisipasi melakukan patroli malam. Selama mengikuti patroli malam saya mendapatkan kesempatan untuk scan atau mendeteksi nomor Passive Integrated Transponder (PIT) tag pada penyu dan memasang PIT tag pada penyu yang belum memiliki nomor PIT tag, serta mengukur panjang dan lebar karapas penyu. Saya juga membantu mengukur lebar pantai dan suhu pasir, serta mencatat data tersebut di buku maupun di Excel.

Rasa penasaran terhadap penyu dan tempat penyu bertelur tampaknya masih belum terbayarkan, sehingga saya memutuskan untuk kembali mendaftarkan diri. Pada tahun 2025 ini saya masih diberikan kesempatan untuk bergabung kembali di Science for Conservation sebagai Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Batu Rumah. Tugas TLP2 mencakup semua pekerjaan di pantai yaitu patroli pagi, patroli malam, menginput data, mengukur panjang pantai dan suhu pasir, serta jam kerjanya pun bertambah. Mengerjakan pekerjaan TLP2 menjadi mudah untuk saya karena semuanya sudah saya pelajari ketika menjadi Tenaga Perlindungan Sarang.

Memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bekerja di Pantai Batu Rumah seperti sedang berlibur namun diberikan challenges yang harus diselesaikan sebelum pulang berlibur. Bagaimana tidak, setiap harinya saya berjalan di pantai dengan pemandangan indah sembari menyelesaikan challenge yang diberikan. Ketika melaksanakan challenge di pagi sampai sore hari saya dapat menikmati sunrise, langit biru yang indah dipadu dengan bentang laut yang luas, sunset dan juga pemandangan pantai yang selalu menarik perhatian saya. Sedangkan di malam hari saya dapat melihat Galaksi Bimasakti dengan sangat jelas, langit yang dihiasi dengan berjuta-juta bintang, bulan dan fenomena-fenomena langit yang terjadi di malam hari. Melihat galaksi dan bintang menjadi salah satu hal favorit saya di pantai. Tidak hanya itu saya juga bisa melihat rusa yang keluar ke pantai untuk minum air laut, biawak, lumba-lumba, serta beragama jenis burung.

Ketika merasa jenuh di pantai saya dan tim bisa berkunjung ke hutan sekedar menikmati keindahan hutan dan kehidupan yang ada di dalamnya, mengunjungi air terjun, ikut memasang dan memeriksa jerat yang dipasang oleh masyarakat. Terkadang hanya tinggal di pos atau tempat tinggal tim saja, saya sudah bisa menghilangkan jenuh dengan melihat beragama jenis kupu-kupu, burung, ular, kadal, tokek dan juga katak. Hal yang lebih menakjubkan adalah semua yang saya sebut tidak hanya dapat dinikmati di Pantai Batu Rumah tetapi dapat dinikmati di dua pantai lainnya (Pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi), dengan kata lain semuanya dapat dinikmati di sepanjang pantai Jeen Yessa.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya juga belajar mengemudi perahu yang menurut saya cukup menguji adrenalin. Adat istiadat masyarakat yang tinggal di sekitar Jeen Yessa juga menarik perhatian saya. Hal yang paling menarik perhatian saya adalah cara mereka memasak menggunakan bambu dan upacara pemanggilan penyu yang sangat unik.

Penyu memiliki daya tarik yang luar biasa bagi sebagian orang yang menyukai satwa. Salah satu hal yang menarik menurut saya adalah perjalanan hidupnya dari anak penyu (tukik) hingga menjadi dewasa. Setelah induk penyu mengubur telur di pantai peneluran, telur akan dibiarkan menetas sendiri dengan bantuan alam sekitarnya. Setelah menjadi tukik dan keluar dari sarang, tukik-tukik itu harus berjuang sendiri melawan predator di darat untuk menuju laut, kemudian ketika sampai di laut, tukik-tukik pun harus menghadapi predator di laut agar bisa bertahan hidup. Setelah menghadapi berbagai ancaman di laut, tukik-tukik pun tumbuh menjadi dewasa dan kembali ke pantai peneluran untuk bertelur. Hal itu menjadi suatu hal menarik yang dapat diteliti lebih lanjut. Keberadaan penyu di pantai Jeen Yessa menarik perhatian sebagian orang, banyak wisatawan yang datang ke pantai ini untuk melihat penyu dan juga keindahan alamnya. Wisatawan yang datang pun ada yang berasal dari mancanegara. Pantai Jeen Yessa dapat dikatakan sebagai aset yang sangat berharga untuk masyarakat setempat dan sudah sepatutnya dijaga kelestariannya. Pemantauan dan perlindungan penyu yang dilakukan Science for Conservation menjadi salah satu tindakan konservasi yang harus terus dilaksanakan agar populasi penyu yang datang ke pantai Jeen Yessa semakin meningkat. Akhir kata lestarikan alam untuk masa depan

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Lowongan Kerja Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) 2026

Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Bergabunglah dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Apakah Anda ingin berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi? Inilah kesempatan Anda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di Distrik Abun, Distrik Tobouw, dan Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Universitas Papua (UNIPA), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), membuka kesempatan bagi alumni UNIPA dan lulusan perguruan tinggi lainnya untuk bergabung sebagai Tenaga Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Konservasi (PMNH). Dalam program ini, Anda akan berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dan perekonomian, serta membantu mereka dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan di kawasan konservasi.

Tugas Utama

Melaksanakan pendampingan, fasilitasi, dan koordinasi program di tingkat masyarakat serta menjadi penghubung antara program, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal.

Persyaratan

1. Minimal D3 semua jurusan (diutamakan Pendidikan, Pertanian, dan Pengolahan hasil Pertanian)
2. Pengalaman minimal 1 tahun di bidang pendampingan masyarakat (menjadi nilai lebih).
3. IPK minimal 2,75
4. Bersedia ditempatkan di daerah dengan akses terbatas.
5. Mahir komputer (Microsoft Office, Google Forms)

Kompensasi

1. Gaji pokok kompetitif (min. Rp 3.200.000)
2. BPJS Kesehatan + Asuransi Perjalanan
3. Akomodasi, transportasi, konsumsi ditanggung
4. Pelatihan teknis dan sertifikat

Linimasa

📌 29 Des 2025 – 11 Jan 2026: Pendaftaran & Seleksi Tahap 1
📌 17 Jan 2026: Wawancara (online/offline)
📌 22 Jan 2026: Penandatangan kontrak
📌 23–26 Jan 2026: Pelatihan PMNH

Kuota : 11-12 orang

Periode : 22 Januari – 30 April 2026

Apakah kamu tertarik bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan dan perekonomian?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 11 Januari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
New Template Uncategorized @id

Brian: Peran sebagai Penjaga Sarang yang Mengubah Cara Pandang Saya tentang Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Penulis

Brian Marcel Crisanto Fatem

Tanggal

17 Desember 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Perkenalkan saya Brian Marcel Crisanto Fatem atau lebih dikenal dengan nama Brian. Asal suku saya dari Sorong namun saya tumbuh besar di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Tahun ini saya berkesempatan menjadi Tenaga Perlindungan Sarang Pantai Peneluran periode pertama April-Juli 2025. Pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya di Pantai Peneluran Jeen Yessa Kabupaten Tambrauw. Awalnya saya mendapat informasi terkait Tenaga Perlindungan Sarang ini dari kakak tingkat di Universitas Papua (UNIPA) yaitu Kakak Kevin di akhir tahun 2024 yang telah mengikuti program ini di tahun 2023, dan merasa tertarik karena saya penasaran dengan pekerjaan menjaga penyu di pantai peneluran yang diceritakan Kakak Kevin. Latar belakang pendidikan saya sebelumnya yaitu Sarjana Peternakan UNIPA, lulusan tahun 2014.

Tenaga Perlindungan Sarang ini adalah pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah. Sebelumnya saya hanya pernah melihat penyu hijau di Pantai  Sidey, salah satu pantai wisata di Distrik Masni. Kalau boleh jujur, saya juga pernah  melihat masyarakat lokal di salah satu pantai memburu penyu. Namun karena saat itu saya tidak tahu mendalam terkait ancaman kepunahan penyu, saya  tidak menghiraukan perbuatan tersebut.

Bulan Mei 2025, saya dan tim turun lapangan ke Pantai Jeen Womom, tepatnya di dekat Kampung Resye (dahulu disebut Saubeba). Tantangan pertama langsung saya hadapi ketika tiba di pantai peneluran Batu Rumah: saya harus berjalan sekitar 9 km menuju Pantai Wembrak, lokasi kerja saya. Karena masih awal bekerja di pantai peneluran, saya cukup kaget dengan aktivitas berjalan sejauh itu di pasir pantai; kaki saya belum beradaptasi, dan langkah terasa lebih berat karena setiap pijakan membuat telapak kaki saya masuk ke dalam pasir, tidak seperti berjalan di permukaan yang keras. Namun setelah terbiasa, boleh dikatakan saya cukup “rajin berjalan” untuk mendata dan melindungi sarang penyu. Saya ditugaskan di Pantai Wembrak bersama Kakak Tonny Duwiri sebagai koordinator pantai, Mayustilo dan Jackson sebagai tenaga lapangan pantai peneluran, serta Titus dan Nikodemus Yesnat tenaga lokal yang ikut bekerja di pantai. Saya bekerja dari 9 April sampai 11 Juli 2025.

Pantai Wembrak merupakan lokasi kerja yang sangat nyaman untuk saya, karena itu saya sangat rajin berjalan untuk mendata dan melindungi sarang sejak awal saya bertugas. Hampir setiap hari saya melakukan perlindungan sarang yang merupakan tugas utama saya. Selain itu saya juga senang melakukan patroli malam. Bahkan pengalaman yang saya rasa paling menarik adalah ketika belajar cara memasang chip PIT tag karena sangat menantang. Saya membutuhkan beberapa kali percobaan sampai akhirnya benar-benar memahami caranya. Meski tampak sederhana, pemasangan chip PIT tag harus dilakukan pada waktu yang tepat—saat penyu belimbing menghembuskan napas dan terlihat cukup rileks—dan orang yang memasang chip juga harus cukup sigap agar tidak terlambat.

Brian sedang memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Wembrak)

Brian dan anggota tim lainnya sedang mengangkat gulungan cocomesh untuk perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny Duwiri)

Perlindungan sarang juga tidak kalah menantang, khususnya perlindungan sarang menggunakan cocomesh. Perlindungan cocomesh adalah inovasi perlindungan sarang dari tali serat kelapa yang dianyam. Untuk melakukannya, kami harus membawa kayu dan anyaman tali tersebut menuju lokasi sarang penyu yang ditentukan dan merangkainya di atas sarang penyu.

Selama bertugas, saya juga pernah berpindah lokasi kerja untuk membantu tim di Pantai Warmamedi yang terletak di sebelah timur Wembrak. Saat itu, tim Warmamedi membutuhkan tenaga tambahan karena terdapat banyak sarang penyu yang harus dilindungi, sementara mereka harus bergerak cepat untuk mengamankan sarang-sarang tersebut dari predator alami seperti babi hutan, soa-soa, dan anjing. Saya pindah tugas pada bulan Juni 2025 dan bertugas di sana selama satu minggu.

Brian sedang membuat perlindungan sarang dengan metode pagar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mayustilo Hokoyoku)

Brian melepaskan tukik saat di pantai Wembrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Wembrak)

Selain bekerja, saya juga berbaur dengan masyarakat lokal yang dengan hangat menerima saya sebagai orang baru. Saya sangat menikmati bekerja di pantai bersama tim Wembrak maupun tim di lokasi lain; meskipun pekerjaan kadang melelahkan, suasana penuh canda membuat semuanya terasa ringan. Kami saling bekerja sama sekaligus bersaing secara positif untuk mencapai target perlindungan sarang. Bekerja di pantai juga mengajarkan saya untuk hidup lebih teratur—bangun pagi, sarapan, bekerja, beristirahat, lalu kembali menjalankan tugas dengan ritme yang jelas dan berkesinambungan.

Terakhir, saat saya selesai dari pantai, saya melihat penyu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Di awal, saya sempat bertemu dengan orang-orang yang memburu penyu dan tidak mengerti bahayanya. Namun kini saya sadar bahwa penyu adalah spesies yang sangat terancam dan perlu kita lindungi bersama. Jika masih tersedia pilihan makanan lain, saya ingin mengajak siapapun yang masih mengkonsumsi penyu untuk berhenti, demi masa depan anak cucu kita agar mereka tetap bisa melihat penyu hidup di alam bebas.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Kontribusi Sains untuk Konservasi dalam Memperkuat Pengelolaan BLKB pada Workshop Siklus 5 BAF​

Kontribusi Sains untuk Konservasi dalam Memperkuat Pengelolaan BLKB pada Workshop Siklus 5 BAF

Penulis

Kei Mongdong

Tanggal

12 Desember 2025

Blue Abadi Fund (BAF) adalah program pendanaan perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal dalam mengelola sumber daya kelautan secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. Mendekati akhir tahun 2025, administrator Blue Abadi Fund (BAF) menggelar Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF di Kantor Gubernur Papua Barat pada 25 November 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sharing pembelajaran dari implementasi program Blue Abadi Fund, guna meningkatkan pengetahuan dan membuka jejaring/potensi kerjasama antar penerima hibah BAF. Pada sesi pembukaan, 15 mitra diberi kesempatan memperkenalkan profil, kegiatan yang mereka lakukan dan wilayah kerja mereka secara singkat.

Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA sebagai salah satu penerima Hibah BAF pada Tahun 2025 juga diundang dalam Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF tersebut. Fitryanti Pakiding selaku pengelola Program Sains untuk Konservasi menyampaikan secara singkat profil S4C dan tujuan utama program yaitu menghubungkan sains dengan upaya konservasi di Bentang Laut Kepala Burung.

Berdasarkan surat Nomor 252/Dir/BAF-CFP5/KHT/VII/2024 S4C LPPM UNIPA pada BAF Siklus 5 akan bekerja pada 6 bagian kegiatan yaitu : 1) Perlindungan Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, Kab. Tambrauw Papua Barat Daya; 2) Pelaksanaan Monitoring Kesehatan Karang; 3) Pelaksanaan Monitoring Sosial Ekonomi – Kesejahteraan Rumah Tangga dan Tata Kelola Sumber Daya Laut; 4) Penyusunan Laporan Monitoring Kesehatan Karang dan Laporan Monitoring Sosial Ekonomi yang dilaksanakan; 5) Diseminasi atas hasil studi/monitoring dan kegiatan pemberdayaan; 6) Penyusunan laporan “State of The Seascape Report 2025”.

Pada Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF mengelompokkan lima sesi diskusi dengan tema yang berbeda, yaitu:
Sesi 1: Pengelolaan Kawasan Konservasi (KK) di Perairan Bentang Laut Kepala Burung, termasuk monitoring sosial dan ekologi;
Sesi 2: Pendidikan lingkungan hidup, penjangkauan, dan peningkatan kapasitas;
Sesi 3: Konservasi spesies langka, terancam punah, dilindungi, dan ekosistem kritis di Bentang Laut Kepala Burung;
Sesi 4: Peran masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi;
Sesi 5: Pembangunan berkelanjutan dan mata pencaharian pesisir.

Suasana workshop yang dihadiri oleh 15 mitra BAF
(Foto: Blue Abadi Fund/Burhan)

Suasana diskusi para mitra saat moderator memandu salah satu sesi diskusi
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pengenalan profil oleh 15 mitra BAF
(Foto: Blue Abadi Fund/Burhan)

Pada setiap sesi, para mitra dipandu oleh moderator dan secara bergantian diberi kesempatan untuk memaparkan tujuan, capaian, tantangan, serta pembelajaran dari kegiatan yang telah mereka lakukan. S4C LPPM UNIPA termasuk di dalam kelima sesi tersebut, namun karena model diskusi setiap sesi ditentukan masing-masing moderator sesi sehingga presentasi detail dari S4C LPPM UNIPA pada sesi 1, 3, dan 5.

Pada sesi pertama, Dahlia Menufandu selaku Asisten Koordinator Analisis Data Sosial menyampaikan hasil monitoring kesehatan karang, sosial ekonomi rumah tangga, dan tata kelola sumber daya laut selama periode Mei–Juni 2025 melalui Program Sains untuk Konservasi. Ia menjelaskan bahwa kesehatan karang di empat kawasan konservasi di Kepulauan Raja Ampat (Selat Dampier, Teluk Mayalibit, Ayau–Asia, dan KKP Waigeo Sebelah Barat) berada dalam kondisi cukup baik, kecuali di Ayau–Asia yang mengalami penurunan biomassa ikan. Pada periode Juni–Juli 2025, dilakukan monitoring sosial ekonomi di empat kampung di Kepulauan Kofiau–Boo dan empat kampung di Kepulauan Sembilan. Ditemukan bahwa masih banyak praktik pengambilan hasil laut yang tidak sesuai atau ilegal, seperti nelayan dari luar Raja Ampat yang menggunakan berbagai alat tangkap dan mengambil sirip hiu.

Pada sesi kedua, S4C LPPM UNIPA dimintai pendapat tentang tantangan utama dari Pendidikan lingkungan hidup, penjangkauan, dan peningkatan kapasitas. Fitryanti Pakiding sebagai pengelola kemudian memberikan respon bahwa tantangan utama adalah memastikan bagaimana mengukur perubahan yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan dilakukan.

Pada sesi ketiga, Deasy Lontoh selaku Koordinator Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang menyampaikan bahwa dari hasil pemantauan di Taman Pesisir  Jeen Womom tercatat 1.653 sarang yang dilindungi, 57 anggota masyarakat lokal terlibat aktif, dan lebih dari 70.000 tukik penyu belimbing berhasil menetas dan dilepaskan. Pada sesi ini juga Deasy menekankan bahwa capaian besar yang diperoleh pada musim ini merupakan hasil dari kerjasama dengan masyarakat lokal yang mendukung upaya pemantauan dan perlindungan yang dilakukan di wilayah ini.

Pada sesi keempat tentang peran masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi, penerima hibah lain diberikan kesempatan lebih banyak untuk menyampaikan pembelajaran yang diperoleh. S4C LPPM UNIPA sendiri pada sesi ini telah mempersiapkan pembelajaran utama pada sesi ini yaitu, pentingnya melibatkan peran aktif pada pemilik ulayat dalam pelaksanaan kegiatan di Taman Pesisir Jeen Womom.

Dahlia Menufandu memaparkan hasil monitoring karang, sosial ekonomi, dan tata kelola sumberdaya laut.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)

Penyampaian capaian dan tantangan produksi dan pemasaran minyak kelapa abun oleh Kartika Zohar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Abraham Leleran)

Pada sesi kelima yang berdiskusi mengenai pembangunan berkelanjutan dan mata pencaharian pesisir, Kartika Zohar, menyoroti bahwa upaya konservasi yang dilakukan di Taman Pesisir Jeen Womom memberikan manfaat ekonomi secara langsung. Sejak 2020, saat pandemi Covid-19 melanda, S4C LPPM UNIPA secara konsisten menghitung manfaat ekonomi langsung yang diterima masyarakat di kawasan melalui program konservasi penyu di Taman Pesisir Jeen Womom. Memasuki akhir Oktober 2025, total manfaat ekonomi langsung yang diterima masyarakat mencapai sekitar Rp760 juta. Angka tersebut akan terus bertambah hingga akhir tahun. Materi sharing Program Sains untuk Konservasi bisa di akses di sini.

Melalui rangkaian sesi diskusi dan pemaparan para mitra, Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF tidak hanya menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kelestarian Bentang Laut Kepala Burung, tetapi juga menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis sains, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan keanekaragaman hayati dapat memberikan dampak nyata di lapangan. Berbagai capaian yang dihasilkan, mulai dari peningkatan pengetahuan ekologi, perlindungan spesies penting, hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat menjadi bukti bahwa upaya konservasi yang terarah dan inklusif mampu memperkuat pengelolaan BLKB secara berkelanjutan. Ke depan, sinergi antara lembaga, masyarakat, dan pemangku kepentingan diharapkan terus berkembang sehingga konservasi di Bentang Laut Kepala Burung semakin kokoh dan membawa manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama

Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

28 November 2025

Sejak diinisiasi pada tahun 2014, produksi minyak kelapa telah menjadi salah satu program pengembangan ekonomi masyarakat yang tumbuh seiring dengan pelaksanaan Konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Jeen Womom. Inisiatif ini muncul dari kebutuhan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah peneluran penyu, sehingga kegiatan konservasi dapat berjalan berdampingan dengan penguatan kesejahteraan komunitas.

Selama bertahun-tahun, proses produksi minyak kelapa berkembang dari kegiatan berskala kecil menjadi usaha yang lebih terstruktur. Perjalanan panjang ini semakin kuat ketika Pemerintah Kabupaten Tambrauw, melalui Dinas Pertanian, memberikan dukungan berupa alat produksi minyak kelapa serta membangun rumah produksi di Kampung Wau dan Weyaf. Kehadiran fasilitas terutama mesin press santan ini membantu masyarakat meningkatkan kualitas dan jumlah produksi secara lebih konsisten.

Proses cincang kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses pemarutan kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Memasuki periode Januari hingga akhir Oktober 2025, produksi minyak kelapa mencatat pencapaian yang menggembirakan. Dalam waktu sepuluh bulan, masyarakat dari empat kampung yaitu Resye, Womom, Wau-Weyaf, dan Syukwo, berhasil menghasilkan lebih dari seribu liter minyak kelapa, tepatnya 1.070 liter. Angka ini masih akan terus bertambah hingga akhir tahun. Seluruh proses produksi dilakukan melalui 44 kali kegiatan bersama, yang melibatkan total 87 warga dari keempat kampung tersebut. Yang menarik, perempuan menjadi motor utama dalam usaha ini di mana dari total pelaku, 56 adalah perempuan dan 31 adalah laki-laki, semuanya bekerja aktif mulai dari pengupasan buah kelapa hingga pengemasan minyak dalam kemasan gen untuk dikirim ke Manokwari.

Proses mengambil minyak hasil endapan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses memasak minyak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Partisipasi dari masing-masing kampung juga menunjukkan antusiasme yang kuat. Di Kampung Resye, sebanyak 36 orang turut terlibat, sementara di Kampung Womom terdapat 16 orang yang berperan aktif. Kampung Wau-Weyaf menjadi salah satu pusat kegiatan dengan keterlibatan 31 warga, sementara Kampung Syukwo berkontribusi dengan 16 masyarakat. Tingkat partisipasi ini mencerminkan bahwa kegiatan produksi minyak kelapa telah menjadi aktivitas bersama yang menyatukan berbagai kelompok usia dan peran dalam masyarakat.

Dari sisi jumlah produksi, capaian setiap kampung menunjukkan dinamika dan kapasitas lokal yang beragam. Kampung Wau–Weyaf menjadi penghasil terbesar dengan total 750 liter minyak kelapa hingga akhir Oktober. Diikuti oleh Kampung Resye dengan 147,9 liter, Kampung Womom dengan 128 liter, dan Kampung Syukwo dengan 45 liter. Variasi produksi ini mencerminkan perbedaan fasilitas dan dukungan yang tersedia di masing-masing kampung, terutama keberadaan mesin press santan yang merupakan alat pengolahan yang berpengaruh langsung terhadap jumlah minyak yang dapat dihasilkan.

Proses pengukuran minyak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Inisiatif ini tidak hanya memperkuat perekonomian masyarakat tetapi juga berkontribusi langsung pada keberlanjutan konservasi. Dengan terciptanya mata pencaharian alternatif, masyarakat yang tinggal di sekitar pantai-pantai peneluran merasakan manfaat nyata dari keberadaan program konservasi. Mereka bukan hanya menjaga habitat peneluran penyu belimbing, tetapi juga memperoleh kesempatan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui usaha pengolahan minyak kelapa.

Program ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana konservasi dapat berjalan selaras dengan pembangunan ekonomi lokal dengan menguatkan komunitas, menjaga alam, dan menciptakan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang mereka lindungi setiap hari.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Uncategorized @id

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

PMNH untuk Kampung Resye: Pendidikan Lingkungan dan Pelestarian Penyu

Penulis

Christian Zakarias Kaisiepo

Tanggal

31 Oktober 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Saat pertama kali saya berlayar di pesisir Kabupaten Tambrauw selama 3 hari 2 malam dengan kapal kecil menuju sebuah kampung yang akan saya tempati sementara, saya langsung merasakan keindahan serta kekayaan alamnya yang begitu khas dan berbeda.

Bagaimana tidak? Kampung yang bernama Saubeba (dalam bahasa Biak) atau Resye (dalam bahasa Abun), yang sebelumnya sama sekali belum saya kenal, ternyata berada di lokasi strategis.

Menikmati senja di Pesisir Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Terbentang di Samudra Pasifik sekaligus berada dalam kawasan hutan konservasi yang kaya keragaman hayati. Dari hamparan pepohonan luas, aliran sungai kecil dengan mata air segar, beragam satwa yang masih terlindungi di darat, laut, dan udara, hingga budaya masyarakat asli yang tetap menjunjung tinggi bahasa lokal, semuanya membuat saya terkesan. Saat itu juga saya tersadar bahwa kehidupan manusia tidak pernah jauh dan selalu bergantung pada alam di sekitarnya.

Saya berada di Kampung Resye, Kabupaten Tambrauw untuk melaksanakan tugas sebagai Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH). PMNH merupakan bagian dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (Papua).

Pada suatu hari yang cerah, sebuah pertanyaan muncul di benak saya, “Jika lingkungan yang begitu kaya dan indah ini tidak dijaga oleh manusia sendiri, apa yang akan terjadi kelak?” Waktu itu, saya tengah duduk menikmati segarnya kelapa muda dan menatap indahnya senja yang perlahan tenggelam di ufuk barat pesisir Kampung Resye.

Namun, seiring berjalannya waktu berada di kampung ini, saya mulai menyadari betapa beragamnya kekayaan hayati yang dimilikinya. Dari kehidupan di pesisir pantai, aktivitas berkebun di hutan, hingga statusnya sebagai kawasan konservasi penyu dan berbagai keragaman hayati lainnya, yang mana membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga sumber daya alam dan lingkungan sekitar.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

Salah satu tugas PMNH adalah mengajar di rumah belajar, termasuk memberikan edukasi lingkungan untuk anak-anak. Edukasi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) mengajak anak-anak untuk memahami bahwa manusia hidup selalu berdampingan dengan alam di sekitar tempat tinggalnya, sehingga kesadaran itu memberi dampak positif bagi keberlangsungan hidup. Dengan mengenal berbagai ekosistem di pesisir pantai maupun hutan, anak-anak dibekali kemampuan menjaga lingkungan agar tetap bersih, asri, dan lestari.

Menonton video tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pembelajaran tentang kehidupan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kampung ini dikenal sebagai wilayah yang dekat dengan habitat peneluran penyu, di mana terdapat 4 dari 7 jenis penyu di dunia, termasuk Penyu Belimbing. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangat penting untuk menjaga kelestarian populasi penyu yang hampir tergolong punah. Melalui media pembelajaran visual, anak-anak dibekali pemahaman tentang kehidupan penyu, mulai dari membedakan penyu dan kura-kura, mengenal berbagai ancaman yang dihadapi, hingga memahami cara menjaga siklus hidup penyu agar tetap berlanjut, khususnya di sepanjang pesisir Pantai Jeen Yessa.

Pembuatan sarang perlindungan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pengenalan jenis-jenis sampah
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Anak-anak di Kampung Resye juga belajar secara langsung untuk cara melakukan perlindungan penyu dari berbagai ancaman. Sebelumnya mereka telah belajar tentang ancaman melalui video dan materi di Rumah Belajar. Dengan mempelajari ancaman, anak-anak dapat memahami siklus hidup penyu yang tidak mudah dilalui. Pengetahuan ini membantu anak-anak belajar tentang apa yang mereka dapat lakukan untuk melindungi penyu

Selain mempelajari siklus hidup penyu, anak-anak juga dibimbing untuk turun ke lapangan dan mempraktikkan pembelajaran melalui pengenalan jenis-jenis sampah, dengan menelaah penyebab yang memengaruhi kebersihan lingkungan, seperti sampah organik dan non-organik. Dengan rasa ingin tahu yang besar, mereka antusias mengamati poster “Do’s & Don’ts”, sekaligus diberi kesempatan menentukan aktivitas legal dan ilegal untuk memahami dampaknya terhadap lingkungan.

Pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil pengumpulan sampah organik dan anorganik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Setiap benda yang ditemukan sepanjang pesisir pantai menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar membedakan jenis-jenis sampah. Mulai dari dedaunan kering, ranting kayu, dan rumput laut kering, hingga kantong maupun botol plastik, yang jelas memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, semangat tinggi anak-anak dalam membersihkan lingkungan menjadi peran penting dalam menumbuhkan kepedulian terhadap alam.

Pada umumnya, anak-anak sangat senang mengikuti pembelajaran langsung di lapangan. Selain menyenangkan, cara ini juga memudahkan mereka memahami setiap materi yang diberikan. Dalam kesempatan ini, anak-anak tidak hanya dibekali pengetahuan tentang lingkungan yang berdampak pada manusia, tetapi juga didorong untuk mengenal interaksi antar ekosistem pesisir, baik komponen biotik maupun abiotik. Rumput laut, misalnya, merupakan salah satu tumbuhan laut yang bermanfaat bagi kehidupan organisme akuatik.  Sementara itu, aliran sungai menjadi elemen penting yang menopang keberlangsungan hidup berbagai ekosistem di sekitarnya. Kedua komponen ini sangat penting untuk diketahui anak-anak, karena mereka hidup di lingkungan yang erat kaitannya dengan komponen-komponen tersebut.

Pengenalan jenis ekosistem abiotic pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Diskusi singkat bersama wisatawan macanegara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Berada di Kampung Resye, salah satu kampung di dekat Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, memberikan pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan. Peran saya sebagai PMNH tidak hanya mendorong untuk bersikap profesional dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri saya dalam memperkenalkan kepada wisatawan mancanegara bahwa rumah belajar adalah salah satu upaya penting bagi keberlanjutan konservasi penyu di TP Jeen Womom.

Saya merasa bersyukur atas pengalaman berharga selama menjadi PMNH di Kampung Resye. Setiap momen yang saya jalani di sini benar-benar tak ternilai. Saya juga bangga karena pekerjaan ini merupakan investasi penting bagi upaya konservasi penyu, tidak hanya di Papua Barat, tetapi juga untuk dunia. Meski tampak sederhana, pekerjaan ini memberikan dampak luar biasa bagi masa depan bumi.

Berfoto dengan penyu belimbing di wilayah pesisir Jeen Yessa Syuwen
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea New Template Uncategorized @id

Leatherback Monitoring Continues on the Huon Coast, Papua New Guinea

Leatherback Monitoring Continues on the Huon Coast, Papua New Guinea

Author

Yusuf Adrian Jentewo

Date

23 Oktober 2025

In April 2025, Huon Coast Leatherback Turtle Project (HCLTP) wrapped up the second monitoring season at Lababia nesting beach, in Huon Gulf, Papua New Guinea. The first monitoring was conducted from December 2023 until March 2024. The Huon Gulf coastline is the second-largest nesting site for the Western Pacific leatherback sea turtle (Dermochelys coriacea), following West Papua, which hosts the highest nesting density for this population. This gulf is located in Morobe province, specifically within the Huon District. This sub-population is listed as critically endangered on The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List (2013) and urgently needs protection in its vital habitats.

To protect leatherback turtles along the Huon Gulf coast, the Huon Coast Leatherback Turtle Project (HCLTP) was launched in 2022 by the Ocean Ecology Network, with the University of Papua as the implementing partner. During the latest nesting season, monitoring was conducted from 16 November 2024 to 8 April 2025. A total of 147 people from Lababia Village participated, working in rotating teams of 13 each week. The community showed strong enthusiasm for the project, as it provided meaningful employment through work as local rangers. Beyond direct income, the project also strengthened the local economy, as earnings from the rangers circulated within the community and supported local livelihoods.

Lababia Rangers after their weekly refresher training
(Photo : HCLTP Team)

One of the Kamiali Wildlife Management Area (WMA) leaders signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Ocean Ecology Network
(Photo : HCLTP Team)

On 13 November 2024, leaders of the Kamiali Wildlife Management Area (WMA) signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Ocean Ecology Network, witnessed by village elders and community members. The agreement formalized the community’s trust and support for the project in their area. Through the MoU, the project committed to implementing its activities with transparency and inclusivity. In return, the community pledged their support by appointing local representatives to serve as rangers each week, helping ensure the work was carried out with dedication and responsibility.

Field Coordinator John Ben worked tirelessly to ensure the program ran smoothly on the ground. Throughout the nesting season, he traveled almost every week from Lae to Lababia, working closely with Lababia Coordinator Jack Nala to oversee local rangers who patrolled the nesting beach daily. The rangers recorded every nest and protected vulnerable ones from threats such as dogs, invasive plants, and high waves. They also built bamboo grids to prevent predators from digging up nests and relocated nests that were at risk due to environmental conditions. These efforts were critical in increasing hatchling survival and supporting leatherback population recovery.

Lababia Coordinator briefing rangers
(Photo : HCLTP Team)

Leatherback turtle nest protected from predators using a bamboo grid
(Photo : HCLTP Team)

The team recorded a significant rise in nesting activity this season, with 221 leatherback nests laid—an increase from 174 nests in 2023–2024. Of these, 152 nests were protected, representing 69% of the total, compared to 119 nests (68%) in the previous season. This progress is largely due to the extended monitoring period, which enabled more complete data collection and increased the number of recorded nests. While the previous season covered only four months (December–March), the 2024–2025 season was successfully extended to nearly six months (November–April).

Share this post

Related News

Our Videos

Other Categories

Other News

Kategori
New Template Uncategorized @id

Rumah Belajar Womom: Pendidikan Nonformal untuk Literasi, Kreativitas, dan Ekopedagogi​

Rumah Belajar Womom: Pendidikan Nonformal untuk Literasi, Kreativitas, dan Ekopedagogi

Penulis

Kristina Ifana Rahail

Tanggal

18 September 2025

Sebuah rumah kecil sederhana berdinding papan ternyata memberi manfaat dan dampak besar bagi generasi penerus Kampung Womom. Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Science for Conservation (S4C), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua menghadirkan sekolah nonformal yang kami sebut Rumah Belajar Womom, atau kerap dikenal anak-anak dan masyarakat setempat sebagai “Rumah Les”.

Di Rumah Belajar Womom, proses pembelajaran didampingi oleh para pengajar yang tergabung dalam Tim PMNH (Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung). Tim ini tidak hanya mengajar di Kampung Womom, tetapi juga di beberapa kampung lainnya yang bertugas di wilayah sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Rumah Belajar ini berdiri di tengah Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Tujuan pendiriannya adalah membantu meningkatkan kemampuan literasi anak, pendidik, dan masyarakat setempat agar pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Dengan adanya rumah belajar, proses belajar diharapkan tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebab sejatinya, belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi dapat berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di Rumah Belajar Womom.

Belajar baca, tulis dan hitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah Belajar ini berdiri di tengah Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Tujuan pendiriannya adalah membantu meningkatkan kemampuan literasi anak, pendidik, dan masyarakat setempat agar pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Dengan adanya rumah belajar, proses belajar diharapkan tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebab sejatinya, belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi dapat berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di Rumah Belajar Womom.

Belajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan belajar mengajar di Rumah Belajar Womom biasanya dimulai pukul 16.00 WIT hingga selesai. Kelas baca dan tulis dilaksanakan setiap Senin, sedangkan kelas hitung setiap Selasa. Dalam kelas baca dan tulis, anak-anak diajarkan mengenal huruf dan mendengarkan cerita. Agar pembelajaran lebih interaktif, kami menggunakan kartu huruf. Anak-anak diminta mengenali huruf, lalu menyebutkan nama benda atau hewan yang diawali huruf yang mereka pegang. Demikian pula dalam kelas hitung, anak-anak diperkenalkan angka dengan cara yang sama, menggunakan kartu sebagai media belajar.

Setiap Rabu, kami mengajarkan anak-anak menggunakan komputer dan belajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Womom. Kegiatan ini bertujuan memberi kesempatan bagi anak-anak yang belum mendapatkan pelajaran Komputer dan Bahasa Inggris di sekolah, agar tetap dapat mengenal dan mempelajarinya. Harapannya, mereka mampu mengoperasikan komputer secara dasar serta memahami kosakata dan

Belajar menghitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar computer-english
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

percakapan sederhana dalam bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. Kehidupan anak-anak Rumah Belajar Womom sangat dekat dengan alam. Mereka tinggal di pesisir pantai yang menjadi habitat peneluran penyu. Kami pun berinisiatif mengajarkan mereka cara menjaga dan melindungi penyu serta spesies lain di lingkungan sekitar, baik yang dilindungi maupun tidak, agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH): mengenal ekosistem pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perpustakaan keliling
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Baca Juga:

Belajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selain belajar PLH tentang penyu, Rumah Belajar Womom juga memiliki materi PLH bulanan dari series 1 hingga series 5. Dalam pembelajaran ini, anak-anak diajarkan mengenal jenis sampah organik dan anorganik, memahami ekosistem pesisir, mengenali hewan di sekitar tempat tinggal, mengetahui berbagai sumber air, serta mengenal tumbuhan dan tanaman di lingkungan mereka.

Pada kelas perpustakaan keliling, kami mengenalkan anak-anak terhadap berbagai jenis buku, membacakan dongeng, dan membuat peta cerita.

Tujuannya agar mereka mampu menanggapi bacaan serta menghubungkannya dengan diri sendiri, bacaan lain, dan dunia di sekitar mereka. Hidup di atas tanah yang kaya akan sumber daya alam, baik flora maupun fauna, kami mengajak anak-anak mengenal berbagai tanaman yang berkhasiat bagi kesehatan sekaligus dapat digunakan sebagai bumbu dapur. Anak-anak diajarkan membuat media tanam di sekitar halaman Rumah Belajar Womom, lalu diajak mengambil tanaman yang dapat dijadikan ramuan. Mereka tampak sangat antusias menanam kembali tanaman tersebut di halaman rumah masing-masing. Anak-anak juga terlihat paham mengenai jenis tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan maupun sebagai bumbu masak. Dengan tangan-tangan kecil mereka, tanaman dipilah dengan lihai dan ditanam pada media yang telah disiapkan.

Hidup sehat: sikat gigi dan cuci tangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Hidup sehat: makan bubur kacang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menggambar dan mewarnai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah Belajar Womom kami mengajarkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi serta menjaga kebersihan diri melalui kebiasaan mencuci tangan dan menyikat gigi. Kegiatan di Rumah Belajar Womom tidak hanya berfokus pada pelajaran sekolah, tetapi juga menghadirkan aktivitas seru melalui ruang kreasi. Anak-anak bebas menggambar dan mewarnai apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Tujuannya agar mereka dapat mengekspresikan diri serta menuangkan gagasan dan imajinasi ke dalam bentuk gambar.

Kehadiran Rumah Belajar di Kampung Womom mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan memberikan dampak positif yang nyata. Di kampung yang tergolong kecil ini, jumlah kepala keluarga yang terdaftar sebenarnya sebanyak 21 KK (Data survei Tahun 2021). Namun, saat ini dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan di lapangan, hanya ditemukan 8 KK yang benar-benar tinggal menetap. Kondisi ini juga berpengaruh pada jumlah anak yang mengikuti kegiatan di Rumah Belajar, yaitu sebanyak 7 orang anak.

Tangkapan peta Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun jumlahnya tidak banyak, semangat mereka luar biasa. Setiap kali jam belajar dimulai, anak-anak selalu datang dengan penuh antusias, duduk rapi, dan siap menerima pelajaran baru. Mereka tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga melalui pengenalan komputer, bahasa Inggris, hingga kegiatan belajar dari alam sekitar. Hal yang menarik, antusiasme ini tidak hanya terlihat dari anak-anak, tetapi juga dari para orang tua. Mereka kerap hadir untuk menyaksikan anak-anak belajar, bahkan memberi dukungan agar anak-anak tetap semangat. Suasana kebersamaan ini menjadi bukti bahwa meskipun Kampung Womom kecil dan jumlah anak yang ada terbatas, semangat untuk belajar dan berkembang tidak pernah surut. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh sebuah harapan besar—bahwa setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan meraih masa depan yang lebih baik.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template Uncategorized @id

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Penulis

Habema Monim

Tanggal

16 September 2025

Apa yang terbersit di pikiran Anda jika ditawari mengunjungi salah satu tempat paling eksotis di dunia, yaitu Wayag? Tempat yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata impian bagi banyak orang ini berada di Raja Ampat, Papua. Wayag memiliki keunikan yang jika berada di puncaknya mata kita akan disuguhi batu karst ikonik berbentuk seperti jamur yang menjulang dari dalam air berwarna biru nan indah. Pemandangan ini tentu sering muncul pada promosi-promosi wisata dan berbagai media sosial.

Bagi para penyelam, Wayag tidak hanya menawarkan keindahan pulau-pulaunya, tetapi juga keindahan bawah laut yang tak tertandingi. Laut Wayag menawarkan berjuta keindahan yang akan selalu dikenang para penyelam. Karang berwarna khas tumbuh di tepian dasar perairan yang berbentuk dinding atau wall akibat dari kejernihan air dan juga cahaya matahari yang menembus langsung ke dasar perairan. Keunikan ini membuat banyak hewan langka mudah dijumpai, seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobbegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, lumba-lumba, pari manta, hingga berbagai jenis ikan yang berenang bergerombol (schooling).

Penyu sisik di salah satu titik penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang sedang mencari makan tetapi terdapat banyak sampah yang hanyut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Pada perjalanan monitoring kali ini, kami mengunjungi Wayag dan sekitarnya selama 4 hari, dari tanggal 6 hingga 9 Juni 2025. Banyak hal menarik yang kami jumpai, tidak hanya di permukaan perairan tetapi juga saat penyelaman. Schooling ikan selalu terlihat, begitu pula hewan khas seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, dan pari manta. Kehadiran hewan-hewan ini bukan kebetulan, melainkan didukung oleh pantauan visual langsung kami bahwa kondisi karangnya masih terjaga dengan baik.

Baca juga : Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Akan tetapi, akhir-akhir ini Raja Ampat mendapat perhatian khusus dari penjuru negeri hingga mancanegara akibat pertambangan yang sedang beroperasi. Bagaimana tidak, sebagai jantung keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, tambang membuat semua mata menaruh perhatian akan keindahan serta keunikan yang sedang mengalami ancaman nyata. Perjalanan monitoring kami yang semula nyaman dengan temuan menarik berubah mencekam karena keberadaan tambang dan ulah manusia yang tidak peduli lingkungan, terbukti dengan ditemukannya sampah hanyut di permukaan perairan

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorog/Prehadi)

Beberapa spot penyelaman favorit dunia sekaligus titik pengamatan kesehatan karang berada berdekatan dengan salah satu pulau pusat pertambangan. Ancaman ini memang belum terlihat jelas, tetapi dari pola arus yang ada diperkirakan akan berdampak langsung dalam waktu yang tidak lama. Tidak hanya ancaman dari aktivitas pertambangan, wilayah yang merupakan lokasi pari manta mencari makan (feeding) dan membersihkan diri dari ikan-ikan kecil dari parasit atau kotoran di tubuhnya (cleaning) ini pun mengalami ancaman berupa sampah plastik yang banyak ditemukan mengapung di permukaan perairan. Mirisnya, sampah-sampah tersebut hanyut bersamaan dengan aktivitas pari manta dan penyu yang sedang mencari makan

Salah satu titik pengamatan kondisi kesehatan karang dengan latar lokasi tambang nikel di Pulau Kawe, Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Siput Drupella diatas karang yang telah mati dan tutupi alga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain bekerja, Vio juga senang menikmati suasana alam di pantai peneluran. Keindahan sunset dan sunrise adalah waktu favoritnya, di mana langit berwarna jingga dan pepohonan bertemu pantai serta laut, menciptakan landscape yang menakjubkan.

Selain ancaman nyata di permukaan perairan, ekosistem di dasar perairan juga terancam, terutama adalah temuan karang yang memutih serta banyaknya siput Drupella. Temuan ini dapat menyebabkan kematian karang sehingga fungsi dari ekosistem terumbu karang menurun atau bahkan dapat hilang hingga hewan yang harusnya berasosiasi di terumbu karang juga pun ikut hilang

Dari temuan menarik dan ancaman yang mulai terlihat ini, kita harus memilih: apakah Wayag di masa depan tetap menampilkan keunikan dan keindahan ekosistemnya ataukah hanya menjadi cerita belaka. “Keputusan kita saat ini menentukan masa depan alam kita”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya