Kategori
Uncategorized @id

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

20 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Semangat belajar tidak hanya hadir di Kampung Wau dan Weyaf,  Klik disini untuk membaca cerita pelatihan di Kampung Wau dan Weyaf. Pada bagian terakhir ini, cerita berlanjut ke Resye dan Womom, lalu ditutup dengan refleksi tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan yang lahir dari proses sederhana.

Sementara kami di Kampung Wau dan Weyaf sibuk dengan pelatihan, tim lain bergerak di Kampung Resye dan Womom. Mereka memulai pada tanggal 17 Maret 2026, dengan jumlah peserta 9 orang yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja perempuan. Saya tidak berada di sana secara langsung, tetapi dari laporan yang masuk, semangat peserta tidak kalah besar.

Hermina Langoday pelatih amigurumi di Kampung Resye sedang menghitung jumlah anyaman amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

Ibu Bastian Yekwam sedang menyulam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Potrosina Daunema)

“Mereka juga mengalami kesulitan di awal,” kata Ina, PMNH yang melatih membuat amigurumi, saat kami berkomunikasi lewat WhatsApp. “Tetapi setelah beberapa kali mencoba, mulai ada yang menangkap polanya.”

Meskipun tim monev tidak dapat tiba di Kampung Resye dan Womom karena cuaca laut yang buruk, kegiatan pelatihan amigurumi penyu berhasil dilakukan. Proses pendampingan di lapangan masih terus dilakukan hingga saat ini. Tim PMNH setempat rutin mengunjungi para peserta untuk melihat perkembangan dan memberi koreksi jika ada yang lupa tahapannya.

Sampai pada akhir Maret ini, kami menghitung berapa banyak yang benar-benar berhasil menyelesaikan satu amigurumi penyu utuh dari awal hingga akhir. Kami menghitung bersama: untuk lokasi Kampung Wau dan Weyaf ada 2 orang yang berhasil menyelesaikan amigurumi penyu pertama mereka. Sedangkan di lokasi Kampung Resye dan Womom, lima orang ibu dan remaja perempuan berhasil. Mereka masing-masing lalu berfoto sambil memegang gantungan kunci amigurumi penyu hasil karya sendiri dengan bangga.

Kerajinan tangan sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Tetapi di kampung-kampung terpencil seperti Wau, Weyaf, Resye, dan Womom, amigurumi bukan sekadar hobi. Ini adalah pintu kecil menuju kemandirian ekonomi. Setiap tusukan benang bisa menjadi awal dari penghasilan tambahan. Setiap penyu yang selesai adalah bukti bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu yang bernilai.

Bastiana Yekwam di Kampung Womom yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Ibu Vince Yeum di Kampung Resye yang berhasil membuat amigurumi pertamanya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Hermina Langoday)

Saat malam hari ketika kami bersiap untuk perjalanan kembali ke Manokwari besok pagi dengan kapal, Maria mendekati saya dan berkata, “Ibu-ibu ini luar biasa. Bahkan ketika hari sudah gelap dan tidak ada penerangan yang baik, mereka tetap melanjutkan amigurumi-nya. Dan akhirnya mereka selesai. Ternyata mereka gigih.”

Saya mengangguk. Usaha tidak menghianati hasil, itulah yang saya tulis dalam catatan kecil saya malam itu. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa ketekunan tidak mengenal medan. Ketekunan menemukan jalannya, meskipun harus dimulai dari sebuah cincin ajaib dan tusuk tunggal.

Dari goyangan Kapal Sabuk Nusantara 112 yang menguji nyali, gelombang yang membuat kami mabuk laut, hingga senyum bangga para perempuan saat menyelesaikan amigurumi pertama mereka, semua terasa berarti. Meskipun ini tahun ketiga belas saya melayani dan melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi ini, selalu ada cerita yang berbeda dari setiap perjalanan yang saya lakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Uncategorized @id

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Penulis

Thomas Sembai

Tanggal

20 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Tambrauw, sebuah wilayah dengan visualisasi pegunungan, perbukitan, lembah yang elok, hutan, sungai panjang berkelok, serta lautan dan garis pantai panjang yang merupakan habitat penyu. Di pesisir Pantai Abun terdapat dua kampung kecil, tempat suara ombak dan angin menjadi lagu sehari-hari. Keduanya dipisahkan jalan setapak: bagian barat Kampung Wau, bagian timur Kampung Weyaf. Meski berbeda nama, masyarakatnya hidup berdampingan dan terhubung erat. Kedua kampung ini terletak di teluk yang berhadapan dengan laut, dengan kehidupan yang bergantung pada hasil alam yang melimpah, tanpa listrik, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang terbatas.

Di antara kedua kampung itu berdiri sebuah rumah sederhana berdinding setengah tembok dan papan. Setiap sore rumah itu ramai oleh anak-anak. Rumah itu bukan sekolah resmi, tanpa seragam,lonceng, maupun ijazah. Namun, di sanalah pendidikan tumbuh dan memberi harapan bagi masa depan anak-anak.

Rumah sederhana itu dikenal sebagai rumah belajar, sarana pendidikan bagi anak-anak. Setiap sore mereka berkumpul untuk belajar dengan suasana santai dan menyenangkan. Kegiatan diawali dan diakhiri dengan doa bersama. Materi yang dipelajari meliputi baca-tulis, hitung, computer-English (COMENG), pendidikan lingkungan hidup (PLH), serta ekstrakurikuler. Rumah belajar ini juga dilengkapi perpustakaan mini. Di sana, tidak ada rasa takut salah. Anak-anak bebas bertanya dan berdiskusi tentang hal-hal yang mereka temui setiap hari.

Thomas Sembai diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pendidikan Lingkungan Hidup tentang Penyu

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

 

Di kampung, anak-anak dan orang tua lebih mengenal kami sebagai “guru”, meskipun peran kami adalah PMNH (Pendamping Masyarakat dan Narahubung). Karena itu, bersama Ottow dan Titin, saya membagi tugas serta jadwal mengajar dari Senin hingga Sabtu. Adapun kelas dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelas kecil yang terdiri dari anak-anak SD kelas 1-2 yang diajarkan oleh Titin, kelas sedang yang terdiri dari anak-anak SD kelas 3-4 yang diajarkan oleh saya, dan kelas besar yang terdiri dari anak-anak SD kelas 5-6 yang diajarkan oleh Ottow. Jadwal pembelajaran yang diajarkan adalah hari Senin baca-tulis, Selasa hitung, Rabu computer-English, Kamis pendidikan lingkungan hidup (PLH penyu dan PLH series 1-3 setiap akhir bulan), Jumat review materi, dan Sabtu ekstrakurikuler (apotek hidup, perpustakaan keliling, mencuci tangan, menggosok gigi, dan makan bersama). Kami tidak hanya mengajar di rumah belajar saja, melainkan kami juga diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam proses pembelajaran, banyak tantangan yang dialami, seperti menemukan karakter anak-anak yang berbeda, banyak anak-anak yang ikut orang tua pergi dulang emas saat libur, dan membantu orang mencari nafkah yang membuat mereka tidak hadir di rumah belajar. Setiap sore, kami berkeliling kampung, menyapa dan mengajak anak-anak untuk datang ke rumah belajar dan mengikuti pembelajaran. Setiap kelas yang diajar rata-rata paling banyak anak-anak adalah delapan orang dan paling sedikit satu orang, walaupun dengan kondisi seperti itu pembelajaran tetap dilakukan terkecuali anak-anak tidak ada yang datang ke rumah belajar untuk ikut pembelajaran.

Mengajar anak-anak tentang computer – English

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pendidikan Lingkungan Hidup Bulanan tentang Abiotik dan Biotik

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Mengajar adalah panggilan hati, sebuah misi untuk menyalakan cahaya dalam diri manusia lain. Di balik setiap pelajaran yang disampaikan, ada empati, kesabaran, dan cinta yang tidak bisa dihitung dengan angka. Profesi lain mungkin berurusan dengan benda, sistem, atau angka. Tapi guru berurusan dengan jiwa manusia – sesuatu yang halus, rapuh, dan berharga. Itulah mengapa mengajar memerlukan hati yang tulus, bukan hanya kemampuan akademik. Ilmu tanpa hati hanya melahirkan hafalan, tapi hati tanpa ilmu bisa menumbuhkan kesadaran.

Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tapi menanamkan nilai. Seorang guru sejati tahu bahwa setiap anak datang dengan latar belakang, luka, dan potensi yang berbeda. Ia tidak memperlakukan mereka sebagai angka dalam rapor, melainkan sebagai pribadi yang sedang bertumbuh. Ia melihat lebih dalam daripada nilai ujian, karena mengetahui bahwa karakter jauh lebih penting daripada sekadar kepintaran. Guru yang mengajar dengan hati tidak hanya menuntun anak-anak untuk memahami pelajaran, tetapi juga memahami dirinya sendiri. Ia membimbing bukan untuk menjadikan anak-anak seperti dirinya, melainkan untuk membantu anak-anak menemukan versinya sendiri. Inilah yang membuat setiap kelas yang diisinya terasa hidup, karena ada cinta yang menyapa, bukan sekadar instruksi yang diperintahkan.

Mengajar anak-anak tentang baca-tulis

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tidak ada murid yang sama, ada yang cepat menangkap pelajaran, ada yang butuh waktu. Ada yang tenang, ada yang berisik. Guru biasa mungkin mudah lelah menghadapi perbedaan itu, tapi guru yang mengajar dengan hati melihatnya sebagai ladang pengertian. Ia tahu bahwa setiap anak punya jalan tumbuhnya sendiri, dan tugasnya bukan menyeragamkan, tapi mendampingi. Ketika hati terlibat, pengajaran berubah menjadi proses kemanusiaan. Guru tidak sekadar menilai, tetapi juga mendengarkan. Ia tidak hanya menegur, tetapi juga memahami alasan di balik perilaku.  Dari kesabaran itulah lahir kepercayaan, hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar penghormatan formal di dalam kelas.

Dari rumah belajar sederhana itu, lahir mimpi-mimpi baru bagi setiap orang yang berhak untuk belajar dan berkembang. Cerita kampung di pesisir itu adalah tentang perjuangan di tengah keterbatasan, tentang anak-anak yang berlari mengejar mimpi di antara pasir, ombak dan angin. Di sana, pendidikan bukan sekadar belajar di kelas, tetapi juga tentang harapan bahwa suatu hari, mereka bisa membawa perubahan bagi kampung yang mereka cintai.

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi New Template Uncategorized @id

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

02 April 2026

Pada 9–14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah “The 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature-Based Climate Solutions Conference.” Kegiatan ini mengumpulkan peneliti-peneliti dari berbagai penjuru dunia yang fokus pada tumbuhan ataupun keanekaragaman hayati lainnya di Asia Tenggara termasuk wilayah Indonesia serta Papua.

Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA juga menghadiri kegiatan tersebut, mengirimkan empat perwakilan di mana satu orang presentasi lisan/ pemaparan materi Yusup Jentewo dan tiga orang sebagai presentasi poster Kezia Salosso, Arnoldus Ananta dan Dahlia Manufandu. Keempat perwakilan ini mempresentasikan data dari program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang serta Monitoring Sosial di Kepala Burung Papua.

Slide pertama Power Point Yusup Jentewo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Yusup Jentewo memaparkan presentasi berjudul “The Dangerous Beauty: Morning Glory (Ipomoea pes-caprae) and Its Impact on the Sea Turtle Conservation in Tambrauw”, dimana terdapat fenomena interaksi antara tumbuhan Ipomoea dengan konservasi penyu di Pantai Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Tumbuhan Ipomoea adalah tumbuhan merambat yang banyak ditemui di wilayah pesisir pantai di Indonesia. Diketahui bahwa tumbuhan ini memiliki akar serabut yang dapat masuk ke dalam sarang penyu belimbing dan penyu lainnya serta merusak telur-telur penyu yang berharga. Fenomena ini diangkat Yusup dalam presentasinya. Data tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa dari total 88 sarang penyu yang terpantau, sebanyak 65 sarang (75%) mengalami kerusakan akibat akar Ipomoea. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi upaya perlindungan penyu yang populasinya memang telah lama terancam.

Tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Masyarakat lokal membersihkan akar-akar tumbuhan Ipomoea saat pembuatan kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Dalam presentasinya, Yusup juga menjelaskan bahwa tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dari Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA, melalui berbagai percobaan di lapangan, telah menemukan solusi untuk meningkatkan penetasan sarang penyu yang terancam oleh akar tumbuhan Ipomoea. Sarang penyu belimbing dipindahkan ke kandang relokasi dengan dasar pasir yang telah dibersihkan dari akar Ipomoea. Metode ini meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan, dari yang sebelumnya rata-rata 0%, menjadi 53% pada tahun 2024 dan 47% pada tahun 2025.

Hasil ini menegaskan bahwa usaha perlindungan sarang di Pantai Jeen Womom terus berinovasi dalam menjawab berbagai ancaman terhadap sarang penyu.

Foto tim bersama masyarakat lokal 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Masyarakat lokal pun berperan aktif dalam pembuatan kandang relokasi dan serta pemindahan sarang ke kandang relokasi. Semua kandang relokasi di Jeen Womom dibuat oleh kelompok masyarakat, seperti di Pantai Jeen Syuab, masyarakat dari Kampung Wau dan Weyaf yang berdekatan dengan pantai tersebut yang membuat kandang-kandang ini. Masyarakat harus memastikan untuk membersihkan tumbuhan serta akar-akar tumbuhan Ipomoea setelah konstruksi rangka dan atap selesai. Tiap tahunnya kurang lebih ada 6 kandang relokasi yang beroperasi di Pantai Jeen Syuab.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template Uncategorized @id

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Penulis

Yusuf Jentewo

Tanggal

30 Maret 2026

Gagasan pembentukan kelompok kerja penyu belimbing Indonesia pertama kali mengemuka dalam Leatherback Expert Meeting di Jakarta pada September 2025. Dari ruang diskusi tersebut, muncul kesadaran bersama akan pentingnya sebuah wadah kolaboratif yang dapat menyatukan berbagai pihak dalam upaya pelestarian penyu belimbing di Indonesia. Sebagai langkah awal, dilakukan penyebaran kuesioner penjaringan aspirasi pada 2–30 November 2025 kepada instansi dan kelompok terkait. Sebanyak 18 responden berpartisipasi dan secara kuat menyuarakan bahwa kelompok kerja ini perlu segera dibentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pertemuan inisiasi akhirnya dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam proses ini, Program Sains untuk Konservasi (S4C) tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga berperan sebagai salah satu penggerak utama. Keterlibatan ini berangkat dari pengalaman panjang tim S4C dalam melakukan upaya pelestarian penyu—khususnya penyu belimbingdi Taman Pesisir Jeen Womom, yang menjadi salah satu lokasi kunci bagi keberlangsungan populasi penyu belimbing di Pasifik Barat.

Pemaparan materi oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupang 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Kelompok kerja ini diperlukan sebagai wadah kolaborasi pemerintah, pemerhati, praktisi, dan peneliti penyu belimbing di Indonesia. Pertemuan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Jakarta serta daring melalui Zoom bagi mitra di daerah. Sekitar belasan peserta hadir langsung dan 62 peserta mengikuti secara daring. Peserta berasal dari satu direktorat KKP, empat balai pengelolaan kelautan (Denpasar, Kupang, Pontianak, dan Pekanbaru), dua loka pengelolaan kelautan, tiga universitas dalam negeri (Universitas Syiah Kuala, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi), dua universitas luar negeri (University of Hawaii dan Wageningen University), dua laboratorium genetik, serta tiga yayasan lingkungan.

Pertemuan ini dibuka oleh perwakilan Direktorat Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang menyampaikan bahwa penyu belimbing merupakan spesies prioritas dalam EPANJI serta tercakup dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) penyu Indonesia. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 13 pemateri yang memaparkan program pemantauan penyu belimbing, mencakup aktivitas di pantai peneluran, interaksi dengan nelayan, temuan individu terdampar, serta analisis genetik spesies ini.

Pemaparan materi oleh Program Sains untuk Konservai, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Deasy Lontoh)

Program Sains untuk Konservasi (S4C), yang diwakili oleh Deasy Lontoh sebagai koordinator penelitian penyu, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, perlindungan sarang, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadartahuan terkait penyu. Dalam paparannya, disampaikan bahwa Pantai Jeen Womom di Tambrauw, Papua Barat Daya, merupakan salah satu lokasi peneluran utama bagi penyu belimbing subpopulasi Pasifik Barat. Lebih jauh, Deasy juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian spesies, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kemitraan, guna memastikan keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang. Dalam sesi yang sama, perwakilan lembaga lain turut memaparkan keberadaan penyu belimbing dari populasi Samudra Hindia yang bertelur di sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan.

Pemaparan awal terkait kebijakan penyu di Indonesia
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Materi yang dipaparkan menegaskan bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi penyu belimbing, spesies penyu terbesar yang masih hidup. Keberadaan dua populasi, yaitu Pasifik dan Hindia, menjadikan Indonesia wilayah yang unik. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi instansi, peneliti, dan pemerhati dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah tersebut.

Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai bentuk kelompok kerja dan peluang kolaborasi ke depan. Kelompok ini diharapkan aktif dan produktif dalam menghasilkan luaran kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kapasitas melalui pertukaran metode dan pembelajaran dari berbagai lokasi.

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 11 orang calon KP2, 13 orang calon TLP2, dan 7 orang calon TPS dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 31 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 2 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 26 Maret 2026

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom
yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan
anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi​

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi

Penulis

Khofifah Indah Pratiwi Syahrudin

Tanggal

11 Februari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Panggilan yang Membawa ke Timur

Semuanya berawal dari sebuah postingan di Instagram milik Science for Conservation yang di-repost salah satu akun komunitas konservasi di Sulawesi Tengah tentang pembukaan lowongan kru pantai peneluran penyu. Awalnya aku tidak berniat untuk mendaftar, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku mencoba melengkapi semua berkas. Tak ada ekspektasi besar untuk diterima, namun Tuhan berkehendak lain.

Aku berangkat dari Sulawesi menuju Manokwari—tempat yang bahkan belum pernah kupijak sebelumnya. Perjalanan ini terasa seperti keputusan besar, karena aku datang tanpa siapa-siapa, hanya membawa keyakinan dan rasa ingin tahu tentang dunia konservasi, khususnya penyu.

Aku pernah meneliti kura-kura saat kuliah, dan dari situlah muncul pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau kali ini aku belajar dari penyu?” Akhirnya, aku tiba di pantai tempat aku akan tinggal selama berbulan-bulan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pasir, aku terdiam lama—menyadari bahwa langkah kecil ini akan menjadi awal dari perjalanan besar.

Foto bersama tamu dari luar negeri yang ingin melihat penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama tim pantai dan tim pemberdayaan masyarakat S4C
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kehidupan di Lapangan: Antara Dini Hari dan Cahaya Bulan

Kehidupan di pantai dimulai ketika kebanyakan orang sedang tidur. Setiap malam pukul sepuluh, kami memulai patroli di bawah cahaya bulan, berjalan menyusuri pasir sejauh beberapa kilometer hingga dini hari. Suara ombak dan gelapnya menyesuaikan diri.

Malam-malam itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku menemukan jejak penyu, lalu bertemu langsung dengan penyu belimbing pertamaku—raksasa lembut yang membuatku kagum, gugup sekaligus takut. Saat memasang Passive Integrated Transponder (PIT) tag untuk pertama kali, aku menangis. Sebab aku takut menyakiti penyu belimbing tersebut, tetapi setelah aku berhasil melakukan pemasangan chip pada induk penyu belimbing aku sadar bahwa, aku sedang menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kehidupan.

Keesokan harinya, kami melindungi sarang-sarang penyu. Ada sarang yang harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan ombak, ada yang diberi pagar daun pakis agar aman dari predator. Di sanalah aku belajar bahwa setiap tindakan kecil, seperti menancapkan pagar atau memindahkan telur, punya arti besar untuk kelangsungan hidup mereka.

Rasa lelah terbayar setiap kali melihat tukik menetas dan berlari menuju laut. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—seolah setiap langkah kecil mereka membawa pesan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Khofifah dan tim melakukan pengukuran terhadap penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifah Pratiwi)

Interaksi dan Toleransi: Cerita di Balik Konservasi

Awalnya, beradaptasi dengan tim bukan hal yang mudah. Logat mereka cepat, nada bicara tinggi, dan aku sempat mengira mereka marah. Namun ternyata, itulah cara mereka menunjukkan keakraban. Lama-kelamaan, suasana berubah. Dari yang awalnya pendiam, aku menjadi orang yang suka bercanda, ikut tertawa, bahkan saling roasting satu sama lain.

Aku satu-satunya yang muslim di antara mereka semua di awal musim, akan tetapi mereka menerimaku sepenuhnya. Mereka menghargai waktuku untuk ibadah dan sebaliknya, dan aku belajar bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan justru memperkaya. Dari mereka, aku belajar banyak hal: tentang keterbukaan, tentang cara berkomunikasi yang jujur, dan tentang keluarga yang bisa terbentuk tanpa ikatan darah.

Di sisi lain, aku juga menyadari bahwa pendidikan di sekitar pantai peneluran memegang peran penting. Di salah satu kampung di sekitar pantai peneluran penyu, ada sekolah yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar beberapa kelas sekaligus. Di tengah keterbatasan itu Science for Conservation juga menghadirkan rumah belajar—tempat anak-anak bisa menambah pengetahuan mereka di sore hari. Dari sana aku sadar, konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, tetapi juga tentang memberdayakan manusia agar tumbuh bersama alamnya.

Ombak, Arus dan Keberanian

Tak semua hari di pantai berjalan dengan tenang. Ada hari-hari ketika laut bergelombang tinggi dan arus terasa kuat. Saat itu, keberanian diuji. Aku masih ingat momen ketika kami harus mendorong perahu ke laut, menghitung waktu di antara ombak agar tidak terbalik. Terkadang mesin perahu tidak mau menyala, membuat detak jantungku berpacu. Tetapi setiap kali perahu berhasil menembus ombak, ada rasa lega dan bangga yang sulit dijelaskan. Dari laut, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tentang tetap bergerak meski takut ada.

Foto bersama setelah mencari udang di sungai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penutup: Menjaga yang Hidup, Menemukan yang Bermakna

Lima bulan di pantai peneluran penyu mengubah banyak hal dalam diriku. Aku yang dulu ragu kini lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memahami arti kesabaran. Konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, hutan, atau laut, tetapi juga tentang menjaga nurani manusia agar tetap peka terhadap kehidupan.

Dari pasir yang lembut hingga ombak yang keras, aku belajar bahwa setiap bentuk kehidupan punya caranya sendiri untuk bertahan, dan tugas kita hanyalah menghormati ritme itu. Setiap tukik yang dilepaskan ke laut mengingatkanku bahwa menjaga kehidupan juga berarti berani melepaskan—melepaskan ego, ketakutan, dan keinginan untuk selalu mengendalikan.

Dari pantai ini, aku tidak hanya menemukan makna konservasi, tetapi juga menemukan diriku yang lebih utuh. Bahwa menjaga alam, sejatinya, adalah belajar hidup selaras dengannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS) 2026

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi. Pada periode awal April – tengah Oktober 2026, kami membutuhkan tenaga perlindungan sarang sebanyak 3 orang setiap 3 bulan (April – Juni, Juni – Oktober) dengan tugas utama melindungi sarang penyu dari berbagai ancaman dengan metode yang telah dikaji secara ilmiah dan melakukan evaluasi sukses penetasan pada masa penetasan. Tenaga perlindungan sarang juga diharapkan membantu tim S4C LPPM UNIPA dalam melakukan tugas-tugas yang lain. Kesempatan ini terbuka bagi lulusan D3 atau S1, terutama dalam bidang Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan.

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Perlindungan Sarang

1. Pengalaman langsung bekerja di habitat alami penyu di pantai peneluran
2. Dukungan finansial melalui kompensasi bulanan
3. Perlindungan kerja dengan Jaminan Kecelakaan Kerja
4. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja ditanggung program (transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri)
5. Konsumsi selama di lapangan disediakan oleh program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 30 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Mengunggah transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Diutamakan yang memiliki pengalaman bekerja di lapangan/tempat terpencil
Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
8. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
9. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
10. Foto close up ukuran 3 x 4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 3 orang/periode

Periode 1: 1 April – 30 Juni 2026

Periode 2: 15 Juni – 15 Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Uncategorized @id

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) 2026

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Tenaga Lapangan sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Memantau aktivitas peneluran semua jenis penyu dengan melaksanakan patroli pagi
2. Mendata induk penyu saat patroli malam
3. Melindungi sarang-sarang penyu dengan menerapkan metode yang telah dikaji secara ilmiah
4. Melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
5. Mendokumentasi perubahan habitat peneluran dengan mengukur lebar pantai dan suhu pasir
6. Membantu pelaksanaan penelitian ilmiah untuk menunjang upaya pelestarian penyu

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Lapangan

1. Kesempatan berharga untuk terlibat langsung dalam konservasi penyu di habitat alaminya
2. Pembelajaran langsung dalam pemantauan aktivitas peneluran dan perlindungan sarang
3. Kompensasi bulanan sesuai ketentuan program
4. Jaminan Kecelakaan Kerja sebagai perlindungan selama bertugas
5. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja disediakan (transportasi dari luar daerah ke Manokwari menjadi tanggung jawab pribadi)
6. Akomodasi dan konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 35 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
5. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,5 dibuktikan dengan transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Memiliki pengalaman bekerja di pantai peneluran penyu ataupun pengalaman lain yang relevan
8. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
9. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
10. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
11. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
12. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Uncategorized @id

Koordinator Pantai Peneluran (KP2) 2026

Koordinator Pantai Peneluran (KP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Koordinator Pantai sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Mengkoordinir tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang terdiri dari tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal dari hari ke hari.
2. Melatih, mendampingi, dan mengevaluasi tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal agar kualitas kerja terjamin.
3. Melaksanakan seluruh program kerja sesuai rencana dan panduan kerja.
4. Mengelola dan menjamin kualitas data dari lapangan.
5. Mempertanggungjawabkan penggunaan dana dengan jujur dan tepat waktu, dan sesuai SOP Keuangan Program.

Manfaat yang diterima oleh Koordinator Pantai

1. Kesempatan bekerja di pantai peneluran penyu
2. Mendapatkan pengalaman mengelola tim
3. Kompensasi disesuaikan dengan pengalaman kerja
4. Mendapatkan Jaminan Kecelakaan Kerja
5. Biaya transportasi dari Manokwari ke lapangan ditanggung program. Transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri
6. Konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 40 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Memiliki pengalaman memimpin tim dan bekerja di pantai peneluran/lokasi terpencil yang dituliskan dalam resume atau CV*
4. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
5. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
6. Melampirkan transkrip nilai pendidikan terakhir*
7. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
8. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
9. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
10. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
11. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!