Kategori
Hubungan Publik Kehidupan Sosial Masyarakat Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten New Template Uncategorized @id

Program Sains untuk Konservasi – LPPM UNIPA Gelar Rangkaian FPIC dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Sorong

Program Sains untuk Konservasi - LPPM UNIPA Gelar Rangkaian FPIC dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Sorong

Penulis

Meilani R. Nanlohy dan Kartika Zohar

Tanggal

03ย  Juli 2026

Pada akhir Juni hingga awal Juli 2026, tepatnya pada 29 Juni sampai 1 Juli, Tim Sains untuk Konservasi (S4C) dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) melanjutkan tahapan penting dalam proses Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) atau juga disebut PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan). Setelah sebelumnya berinteraksi langsung dengan masyarakat di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom pada bulan Mei (baca ceritanya di sini), pada kesempatan ini proses FPIC diperluas melalui koordinasi bersama pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di Kota Sorong sebagai mitra strategis dalam pelaksanaan program.

Melalui rangkaian pertemuan tersebut, Tim S4C LPPM UNIPA tidak hanya memperkenalkan rencana pelaksanaan program yang didukung oleh Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA), tetapi juga membangun kesepahaman dengan pemerintah daerah, memperoleh masukan terhadap rencana kegiatan, serta memastikan bahwa pelaksanaan program selaras dengan prioritas pembangunan daerah. Proses ini merupakan bagian dari penerapan prinsip FPIC yang menekankan penyampaian informasi secara terbuka, pelibatan para pemangku kepentingan sejak tahap awal, serta penghimpunan masukan sebelum program dilaksanakan.

Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) merupakan prrogram kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat, program ini berfokus pada konservasi ekosistem terumbu karang serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dalam pelaksanaannya, TFCCA didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Langkah awal koordinasi dimulai di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya. Tim S4C LPPM UNIPA yang diwakili oleh Kartika Zohar selaku Koordinator Program Pemberdayaan dan Meilani Nanlohy sebagai Asisten Koordinator Hubungan Masyarakat disambut oleh Sarlota Mobalen, Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan, bersama jajarannya. Dalam pertemuan tersebut, Sarlota Mobalen menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan S4C yang dinilai mampu menjangkau wilayah-wilayah terpencil, yang selama ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah.

Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan – DKP PBD Ibu Sarlota Mobalen.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R. Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA dengan DKP PBD.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Diskusi berlangsung dinamis, mencakup berbagai program seperti penguatan tata kelola kawasan, pemantauan penyu, hingga program beasiswa bagi generasi muda Papua. Sarlota Mobalen juga menegaskan pentingnya peran dinas dalam mendukung penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk pengelolaan Taman Pesisir Jeen Womom, sekaligus menyoroti perlunya pengawasan terhadap aktivitas tambang dulang di kawasan pantai peneluran penyu.

Masih pada hari yang sama, tim melanjutkan kunjungan ke Kantor Balai Pengelolaan Kelautan Kupang โ€“ Satuan Pelayanan Sorong. Pertemuan dipimpin oleh Indri Widhiastuti selaku Koordinator Satuan Pelayanan Sorong. Dalam kesempatan ini, Indri menekankan pentingnya sinkronisasi data, khususnya terkait monitoring sosial-ekonomi dan kesehatan terumbu karang, yang akan mendukung penilaian dan pengelolaan kawasan konservasi. Ia juga meminta agar S4C dapat berbagi data serta menyampaikan rencana kegiatan secara lebih awal guna menghindari tumpang tindih program.

Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA bersama Balai Pengelolaan Kelautan Kupangโ€“
Satuan Pelayanan Sorong.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R. Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosialisasi Program TFCCA dengan Balai Pengelolaan Kelautan Kupangโ€“
Satuan Pelayanan Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Memasuki hari kedua, 1 Juli 2026, koordinasi berlanjut bersama Pemerintah Kabupaten Tambrauw. Bertempat di Rumah Aman, Perumahan Jupiter, tim bertemu dengan Merina M. Kmurawak, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Tambrauw. Dalam pertemuan tersebut, Merina menyampaikan dukungan penuh terhadap program pemberdayaan masyarakat dengan dukungan pendanaan TFCCA, khususnya pengembangan produk turunan kelapa sebagai komoditas unggulan daerah. Ia juga membuka peluang dukungan berupa penyediaan peralatan produksi, dan berharap kebutuhan tersebut disampaikan secara rinci oleh pihak S4C LPPM UNIPA.

Koordinasi dan Sosialisasi Kegiatan Program TFCCA bersama Dinas Pertanian Tambrauw, DP3AKB Tambrauw, Dinas Sosial PBD, dan FASDA PBD.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pada kesempatan yang sama, tim juga berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3A) Kabupaten Tambrauw yang dipimpin oleh dr. Lenny F. Hae. Dalam diskusi ini, dr. Lenny menyoroti pentingnya sinergi antara program TFCCA dengan prioritas pemerintah daerah, seperti peningkatan literasi bagi perempuan dan anak putus sekolah serta penguatan Indeks Pembangunan Gender. Ia juga menekankan bahwa setiap kegiatan harus mencerminkan kolaborasi nyata antara pemerintah dan mitra, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Selain itu, pertemuan ini turut dihadiri oleh fasilitator daerah dari DP3A Provinsi Papua Barat Daya serta perwakilan Dinas Sosial Provinsi Papua Barat Daya, yang memberikan masukan teknis terkait penguatan program keluarga, optimalisasi balai KB, serta pengembangan usaha berbasis masyarakat.

Koordinasi dan Sosilisasi Program TFCCA oleh Tim S4C LPPM UNIPA kepada Bapak Hasan dan Bapak Syarif Tuharea dari BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R.Nanlohy)

Foto bersama setelah Koordinasi dan Sosilisasi Program TFCCA oleh Tim S4C LPPM UNIPA dengan Tim BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Meilani R.Nanlohy)

Rangkaian koordinasi ditutup dengan pertemuan strategis bersama Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pengelolaan Teknis Daerah (UPTD) Raja Ampat di Vega Hotel Sorong. Pertemuan ini dihadiri oleh Hasan Makasar selaku Kepala BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat, Syafri Tuharea yang merupakan Asisten Teknis Konservasi di BLUD UPTD Kepulauan Raja Ampat, serta Fitryanti Pakiding sebagai Pengelola Program Sains untuk Konservasi. Dalam forum ini, Fitryanti memaparkan rencana kegiatan penjangkauan dan survei persepsi, termasuk survei di kapal PELNI menuju Raja Ampat serta pengembangan media edukasi bawah laut interaktif bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluhย  November.

Hasan Makasar menyampaikan dukungan penuh terhadap program tersebut, termasuk fasilitasi sarana seperti speed boat, pos lapangan, dan peralatan selam. Ia juga membuka peluang kolaborasi pendanaan guna memastikan keberlanjutan program konservasi di wilayah Raja Ampat.

Seluruh rangkaian kegiatan ini menegaskan adanya komitmen bersama antara S4C LPPM UNIPA, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta berbagai mitra strategis lainnya. Melalui koordinasi yang intensif dan terstruktur, program-program TFCCA diharapkan tidak hanya memperkuat upaya konservasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir di Papua Barat Daya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Kehidupan Sosial Masyarakat Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten New Template Uncategorized @id

Sosialisasi PADIATAPA di Taman Pesisir Jeen Womomโ€‹

Sosialisasi PADIATAPA di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

03 Juli 2026

Tim Hubungan Masyarakatย dari Program Sains untuk Konservasi (S4C) telah melaksanakan Sosialisasiย PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan) untuk Program TFCCA (Tropical Forest and Reef Conservation Act). Sosialisasi ini diadakandi Taman Pesisir Jeen Womom pada 19 Mei 2026 di Pantai Jeen Syuab dan 26 Mei 2026 di Pantai Jeen Yessa.

Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Syuab oleh Abraham Leleran.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Yessa oleh Abraham Leleran.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Sosialisasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.ย 

Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat yang tinggal berbatasan dengan Pantai Jeen Yessa dan Pantai Jeen Syuab mengenai rencana kegiatan yang didukung TFCCA, memastikan keterlibatan dan persetujuan masyarakat secara sadar tanpa paksaan, serta membangun kolaborasi dalam mendukung upaya pelestarian penyu yang berkelanjutan.ย 

Sosialisasi ini diikuti oleh perwakilan masyarakat dari Kampung Wau, Weyaf, Resye, Womom, dan Syukwo. Peserta terdiri atas pemerintah kampung, pemilik pantai, tokoh perempuan, dan pemuda.

Selama sosialisasi berlangsung, peserta, khususnya masyarakat, menunjukkan antusiasme hingga kegiatan berakhir. Hal ini terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan, serta adanya sesi berbagi cerita dan penyampaian aspirasi maupun keresahan, salah satunya terkait kondisi wilayah Jeen Syuab. Perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tambrauw pun turut memberikan tanggapan serta membantu menjawab pertanyaan peserta mengenai kondisi lingkungan di wilayah tersebut.

Penandatangan berita acara Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Syuab.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Penandatangan berita acara Sosialisasi PADIATAPA di Jeen Yessa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Kegiatan berjalan dengan baik dan ditutup dengan penandatanganan berita acara sosialisasi sebagai bentuk kesepakatan bersama serta komitmen para pihak dalam mendukung pelaksanaan program.

Foto bersama dengan masyarakat dan tenaga lapangan yang hadir saat sosialisasi PADIATAPA.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Dari pelaksanaan sosialisasi PADIATAPA, tim Sains untuk Konservasi mengharapkan adanya kerjasama yang baik dengan masyarakat tanpa ada tekanan atau paksaan demi pelestarian penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Pelatihan PMNH Periode II Tahun 2026: Membangun Kapasitas Pendamping Masyarakat

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

01 Juli 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) Periode II Tahun 2026 telah dilaksanakan pada 17โ€“19 Juni 2026 bertempat di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh beberapa mitra dan donor, termasuk Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yaitu program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini berfokus pada upaya konservasi ekosistem terumbu karang dan penguatan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Meskipun kegiatan ini mencakup berbagai materi, pelatihan lebih difokuskan pada teknik produksi produk turunan kelapa, khususnya briket arang dan cocopeat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas PMNH dalam menguasai teknik pengolahan produk turunan kelapa sebagai upaya pengembangan mata pencaharian alternatif berbasis komoditas unggulan lokal, sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya konservasi penyu yang berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah melalui tahapan seleksi sebelumnya. Dari total 114 peserta yang mendaftar, sebanyak 20 peserta berhasil lolos seleksi tahap pertama, hingga akhirnya terpilih 9 peserta yang mengikuti tahap pelatihan PMNH Periode II.

Sejalan dengan pelatihan sebelumnya, kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh mengenai program, meningkatkan keterampilan teknis di lapangan, serta memperkuat kemampuan dalam bekerja sama secara efektif dan profesional dalam mendukung pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.

Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan diawali dengan penandatanganan kontrak kerja oleh seluruh peserta bersama Human Resources Development (HRD). Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Pengelola Program Sains untuk Konservasi (S4C), Fitryanti Pakiding, dan secara resmi dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno.

Pembukaan pelatihan PMNH oleh Freddy Pattiselanno.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti pemaparan lima materi utama yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai program pelestarian penyu di TP Jeen Womom, sistem kerja dan pengelolaan program, mekanisme pelaporan kegiatan, administrasi keuangan, serta strategi pendampingan masyarakat melalui program pendidikan formal maupun informal.

Pengenalan Program oleh Kartika Zohar.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Sistem Keuangan oleh Aflia Pongbatu.ย 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Memasuki hari kedua, kegiatan berfokus pada pendalaman pembelajaran di Rumah Belajar, meliputi materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan Computerโ€“English (COMENG). Peserta juga mendapatkan sesi praktik mengajar, pemahaman mengenai indikator dan subindikator pembelajaran di Rumah Belajar, serta proses penilaian berdasarkan indikator tersebut.

Pemaparan materi Pengenalan Indikator dan Subindikator Pembelajaran di Rumah Belajar oleh Alberto Allo.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Teori Pembuatan Minyak Kelapa Yang Bersih dan Rumah Produksi Minyak Kelapa oleh Fitri Iriani.ย 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Selain materi pendidikan, peserta juga dibekali pemahaman mengenai program pemberdayaan masyarakat melalui pengenalan produk dan proses pembuatannya. Materi tersebut mencakup Sharing terkait Program Kerajinan Tangan
(Amigurumi, dan Noken HP) , Teori Pembuatan Minyak Kelapa Bersih, serta pengelolaan Rumah produksi Minyak Kelapa yang dapat mendukung peningkatan kapasitas masyarakat Abun, Tobouw, dan Amberbaken. Pada hari yang sama, peserta juga menerima materi Manajemen Dokumentasi Foto dan Persyaratan Dokumentasi sebagai bagian dari pendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Pada hari terakhir pelatihan, peserta mendapatkan dua materi penting yang mendukung pelaksanaan program. Materi pertama disampaikan oleh Wilson Palelingan Aman mengenai Teori Pembuatan Turunan Kelapa berupa Cocopeat dan Briket Arang, sekaligus pengenalan mesin penepung arang. Materi kedua mengenai Pengenalan Penyu dan Upaya Konservasinya di TP Jeen Womom disampaikan oleh Asisten Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, Petrus Batubara, sebagai pendukung pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH).

Walaupun kegiatan ini diisi dengan berbagai materi akan tetapi, pelatihan lebih mengutamakan pelatihan teknik produksi turunan kelapa dalam hal ini briket arang dan cocopeat agar PMNH memiliki kapasitas terkait teknik produksi turunan kelapa untuk mengembangkan mata pencaharian alternatif masyarakat berbasis komoditas unggulan lokal sebagai bagian dari penguatan dukungan terhadap konservasi penyu yang berkelanjutan.

Pemaparan materi Teori dan Pembuatan Turunan Kelapa oleh Wilson Palelingan Aman.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi Pengenalan Penyu dan Upaya
Konservasinya di TP Jeen Womom oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fitri Iriani)

Usai pelatihan, pada 23 Juni 2026, para peserta melakukan praktik membuat minyak kelapa dan briket arang sebagai persiapan untuk mendukung proses produksi minyak kelapa dan briket arang di kampung pendampingan.

Peserta sedang memarut kelapa menggunakan mesin parut kelapa.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Proses pembakaran tempurung.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Melalui rangkaian pelatihan ini, peserta PMNH diharapkan mampu memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mendukung program konservasi serta pemberdayaan masyarakat di TP Jeen Womom. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan, para peserta diharapkan dapat menjadi penghubung yang efektif antara program dan masyarakat dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri โ€œSeri Cerita Jejak Penjaga Bentang Lautโ€, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjagaย lautย bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8โ€“9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu, ย kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet โ€” kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah โ€” yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template Uncategorized @id

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Penulis

Yusuf Jentewo

Tanggal

14 April 2026

Gagasan pembentukan kelompok kerja penyu belimbing Indonesia pertama kali mengemuka dalam Leatherback Expert Meeting di Jakarta pada September 2025. Dari ruang diskusi tersebut, muncul kesadaran bersama akan pentingnya sebuah wadah kolaboratif yang dapat menyatukan berbagai pihak dalam upaya pelestarian penyu belimbing di Indonesia. Sebagai langkah awal, dilakukan penyebaran kuesioner penjaringan aspirasi pada 2โ€“30 November 2025 kepada instansi dan kelompok terkait. Sebanyak 18 responden berpartisipasi dan secara kuat menyuarakan bahwa kelompok kerja ini perlu segera dibentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pertemuan inisiasi akhirnya dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam proses ini, Program Sains untuk Konservasi (S4C) tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga berperan sebagai salah satu penggerak utama. Keterlibatan ini berangkat dari pengalaman panjang tim S4C dalam melakukan upaya pelestarian penyuโ€”khususnya penyu belimbingdi Taman Pesisir Jeen Womom, yang menjadi salah satu lokasi kunci bagi keberlangsungan populasi penyu belimbing di Pasifik Barat.

Pemaparan materi oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupangย 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Kelompok kerja ini diperlukan sebagai wadah kolaborasi pemerintah, pemerhati, praktisi, dan peneliti penyu belimbing di Indonesia. Pertemuan dilaksanakan secaraย hybrid, yakni luring di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Jakarta serta daring melalui Zoom bagi mitra di daerah. Sekitar belasan peserta hadir langsung dan 62 peserta mengikuti secara daring. Peserta berasal dari satu direktorat KKP, empat balai pengelolaan kelautan (Denpasar, Kupang, Pontianak, dan Pekanbaru), dua loka pengelolaan kelautan, tiga universitas dalam negeri (Universitas Syiah Kuala, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi), dua universitas luar negeri (University of Hawaii dan Wageningen University), dua laboratorium genetik, serta tiga yayasan lingkungan.

Pertemuan ini dibuka oleh perwakilan Direktorat Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang menyampaikan bahwa penyu belimbing merupakan spesies prioritas dalam EPANJI serta tercakup dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) penyu Indonesia. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 13 pemateri yang memaparkan program pemantauan penyu belimbing, mencakup aktivitas di pantai peneluran, interaksi dengan nelayan, temuan individu terdampar, serta analisis genetik spesies ini.

Pemaparan materi oleh Program Sains untuk Konservai, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Deasy Lontoh)

Program Sains untuk Konservasi (S4C), yang diwakili oleh Deasy Lontoh sebagai koordinator penelitian penyu, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, perlindungan sarang, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadartahuan terkait penyu. Dalam paparannya, disampaikan bahwa Pantai Jeen Womom di Tambrauw, Papua Barat Daya, merupakan salah satu lokasi peneluran utama bagi penyu belimbing subpopulasi Pasifik Barat. Lebih jauh, Deasy juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian spesies, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kemitraan, guna memastikan keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang. Dalam sesi yang sama, perwakilan lembaga lain turut memaparkan keberadaan penyu belimbing dari populasi Samudra Hindia yang bertelur di sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan.

Pemaparan awal terkait kebijakan penyu di Indonesia
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Materi yang dipaparkan menegaskan bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi penyu belimbing, spesies penyu terbesar yang masih hidup. Keberadaan dua populasi, yaitu Pasifik dan Hindia, menjadikan Indonesia wilayah yang unik. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi instansi, peneliti, dan pemerhati dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah tersebut.

Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai bentuk kelompok kerja dan peluang kolaborasi ke depan. Kelompok ini diharapkan aktif dan produktif dalam menghasilkan luaran kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kapasitas melalui pertukaran metode dan pembelajaran dari berbagai lokasi.

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi New Template Uncategorized @id

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

02 April 2026

Pada 9โ€“14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah โ€œThe 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature-Based Climate Solutions Conference.โ€ Kegiatan ini mengumpulkan peneliti-peneliti dari berbagai penjuru dunia yang fokus pada tumbuhan ataupun keanekaragaman hayati lainnya di Asia Tenggara termasuk wilayah Indonesia serta Papua.

Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA juga menghadiri kegiatan tersebut, mengirimkan empat perwakilan di mana satu orang presentasi lisan/ pemaparan materi Yusup Jentewo dan tiga orang sebagai presentasi poster Kezia Salosso, Arnoldus Ananta dan Dahlia Manufandu. Keempat perwakilan ini mempresentasikan data dari program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang serta Monitoring Sosial di Kepala Burung Papua.

Slide pertama Power Point Yusup Jentewo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Yusup Jentewo memaparkan presentasi berjudul โ€œThe Dangerous Beauty: Morning Glory (Ipomoea pes-caprae) and Its Impact on the Sea Turtle Conservation in Tambrauwโ€, dimana terdapat fenomena interaksi antara tumbuhan Ipomoea dengan konservasi penyu di Pantai Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Tumbuhanย Ipomoea adalah tumbuhan merambat yang banyak ditemui di wilayah pesisir pantai di Indonesia. Diketahui bahwa tumbuhan ini memiliki akar serabut yang dapat masuk ke dalam sarang penyu belimbing dan penyu lainnya serta merusak telur-telur penyu yang berharga. Fenomena ini diangkat Yusup dalam presentasinya. Data tahun 2024โ€“2025 menunjukkan bahwa dari total 88 sarang penyu yang terpantau, sebanyak 65 sarang (75%) mengalami kerusakan akibat akar Ipomoea. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi upaya perlindungan penyu yang populasinya memang telah lama terancam.

Tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Masyarakat lokal membersihkan akar-akar tumbuhan Ipomoea saat pembuatan kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Dalam presentasinya, Yusup juga menjelaskan bahwa tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dari Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA, melalui berbagai percobaan di lapangan, telah menemukan solusi untuk meningkatkan penetasan sarang penyu yang terancam oleh akar tumbuhan Ipomoea. Sarang penyu belimbing dipindahkan ke kandang relokasi dengan dasar pasir yang telah dibersihkan dari akar Ipomoea. Metode ini meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan, dari yang sebelumnya rata-rata 0%, menjadi 53% pada tahun 2024 dan 47% pada tahun 2025.

Hasil ini menegaskan bahwa usaha perlindungan sarang di Pantai Jeen Womom terus berinovasi dalam menjawab berbagai ancaman terhadap sarang penyu.

Foto tim bersama masyarakat lokalย 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Masyarakat lokal pun berperan aktif dalam pembuatan kandang relokasi dan serta pemindahan sarang ke kandang relokasi. Semua kandang relokasi di Jeen Womom dibuat oleh kelompok masyarakat, seperti di Pantai Jeen Syuab, masyarakat dari Kampung Wau dan Weyaf yang berdekatan dengan pantai tersebut yang membuat kandang-kandang ini. Masyarakat harus memastikan untuk membersihkan tumbuhan serta akar-akar tumbuhan Ipomoea setelah konstruksi rangka dan atap selesai. Tiap tahunnya kurang lebih ada 6 kandang relokasi yang beroperasi di Pantai Jeen Syuab.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Salam Lestariโ€ฆ

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 11 orang calon KP2, 13 orang calon TLP2, dan 7 orang calon TPS dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 31 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 2ย halaman, harap diperiksa dengan saksama.ย Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 26 Maret 2026

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom
yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan
anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA:ย 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasiโ€‹

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi

Penulis

Khofifah Indah Pratiwi Syahrudin

Tanggal

11 Februari 2026

Dalam seri โ€œSeri Cerita Jejak Penjaga Bentang Lautโ€, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjagaย lautย bersama.

Panggilan yang Membawa ke Timur

Semuanya berawal dari sebuah postingan di Instagram milik Science for Conservation yang di-repost salah satu akun komunitas konservasi di Sulawesi Tengah tentang pembukaan lowongan kru pantai peneluran penyu. Awalnya aku tidak berniat untuk mendaftar, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku mencoba melengkapi semua berkas. Tak ada ekspektasi besar untuk diterima, namun Tuhan berkehendak lain.

Aku berangkat dari Sulawesi menuju Manokwariโ€”tempat yang bahkan belum pernah kupijak sebelumnya. Perjalanan ini terasa seperti keputusan besar, karena aku datang tanpa siapa-siapa, hanya membawa keyakinan dan rasa ingin tahu tentang dunia konservasi, khususnya penyu.

Aku pernah meneliti kura-kura saat kuliah, dan dari situlah muncul pertanyaan sederhana: โ€œBagaimana kalau kali ini aku belajar dari penyu?โ€ Akhirnya, aku tiba di pantai tempat aku akan tinggal selama berbulan-bulan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pasir, aku terdiam lamaโ€”menyadari bahwa langkah kecil ini akan menjadi awal dari perjalanan besar.

Foto bersama tamu dari luar negeri yang ingin melihat penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama tim pantai dan tim pemberdayaan masyarakat S4C
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kehidupan di Lapangan: Antara Dini Hari dan Cahaya Bulan

Kehidupan di pantai dimulai ketika kebanyakan orang sedang tidur. Setiap malam pukul sepuluh, kami memulai patroli di bawah cahaya bulan, berjalan menyusuri pasir sejauh beberapa kilometer hingga dini hari. Suara ombak dan gelapnya menyesuaikan diri.

Malam-malam itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku menemukan jejak penyu, lalu bertemu langsung dengan penyu belimbing pertamakuโ€”raksasa lembut yang membuatku kagum, gugup sekaligus takut. Saat memasang Passive Integrated Transponder (PIT) tag untuk pertama kali, aku menangis. Sebab aku takut menyakiti penyu belimbing tersebut, tetapi setelah aku berhasil melakukan pemasangan chip pada induk penyu belimbing aku sadar bahwa, aku sedang menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kehidupan.

Keesokan harinya, kami melindungi sarang-sarang penyu. Ada sarang yang harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan ombak, ada yang diberi pagar daun pakis agar aman dari predator. Di sanalah aku belajar bahwa setiap tindakan kecil, seperti menancapkan pagar atau memindahkan telur, punya arti besar untuk kelangsungan hidup mereka.

Rasa lelah terbayar setiap kali melihat tukik menetas dan berlari menuju laut. Ada rasa haru yang sulit dijelaskanโ€”seolah setiap langkah kecil mereka membawa pesan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Khofifah dan tim melakukan pengukuran terhadap penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifah Pratiwi)

Interaksi dan Toleransi: Cerita di Balik Konservasi

Awalnya, beradaptasi dengan tim bukan hal yang mudah. Logat mereka cepat, nada bicara tinggi, dan aku sempat mengira mereka marah. Namun ternyata, itulah cara mereka menunjukkan keakraban. Lama-kelamaan, suasana berubah. Dari yang awalnya pendiam, aku menjadi orang yang suka bercanda, ikut tertawa, bahkan saling roasting satu sama lain.

Aku satu-satunya yang muslim di antara mereka semua di awal musim, akan tetapi mereka menerimaku sepenuhnya. Mereka menghargai waktuku untuk ibadah dan sebaliknya, dan aku belajar bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan justru memperkaya. Dari mereka, aku belajar banyak hal: tentang keterbukaan, tentang cara berkomunikasi yang jujur, dan tentang keluarga yang bisa terbentuk tanpa ikatan darah.

Di sisi lain, aku juga menyadari bahwa pendidikan di sekitar pantai peneluran memegang peran penting. Di salah satu kampung di sekitar pantai peneluran penyu, ada sekolah yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar beberapa kelas sekaligus. Di tengah keterbatasan itu Science for Conservation juga menghadirkan rumah belajarโ€”tempat anak-anak bisa menambah pengetahuan mereka di sore hari. Dari sana aku sadar, konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, tetapi juga tentang memberdayakan manusia agar tumbuh bersama alamnya.

Ombak, Arus dan Keberanian

Tak semua hari di pantai berjalan dengan tenang. Ada hari-hari ketika laut bergelombang tinggi dan arus terasa kuat. Saat itu, keberanian diuji. Aku masih ingat momen ketika kami harus mendorong perahu ke laut, menghitung waktu di antara ombak agar tidak terbalik. Terkadang mesin perahu tidak mau menyala, membuat detak jantungku berpacu. Tetapi setiap kali perahu berhasil menembus ombak, ada rasa lega dan bangga yang sulit dijelaskan. Dari laut, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tentang tetap bergerak meski takut ada.

Foto bersama setelah mencari udang di sungai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penutup: Menjaga yang Hidup, Menemukan yang Bermakna

Lima bulan di pantai peneluran penyu mengubah banyak hal dalam diriku. Aku yang dulu ragu kini lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memahami arti kesabaran. Konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, hutan, atau laut, tetapi juga tentang menjaga nurani manusia agar tetap peka terhadap kehidupan.

Dari pasir yang lembut hingga ombak yang keras, aku belajar bahwa setiap bentuk kehidupan punya caranya sendiri untuk bertahan, dan tugas kita hanyalah menghormati ritme itu.ย Setiap tukik yang dilepaskan ke laut mengingatkanku bahwa menjaga kehidupan juga berarti berani melepaskanโ€”melepaskan ego, ketakutan, dan keinginan untuk selalu mengendalikan.

Dari pantai ini, aku tidak hanya menemukan makna konservasi, tetapi juga menemukan diriku yang lebih utuh. Bahwa menjaga alam, sejatinya, adalah belajar hidup selaras dengannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS) 2026

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi. Pada periode awal April โ€“ tengah Oktober 2026, kami membutuhkan tenaga perlindungan sarang sebanyak 3 orang setiap 3 bulan (April โ€“ Juni, Juni โ€“ Oktober) dengan tugas utama melindungi sarang penyu dari berbagai ancaman dengan metode yang telah dikaji secara ilmiah dan melakukan evaluasi sukses penetasan pada masa penetasan. Tenaga perlindungan sarang juga diharapkan membantu tim S4C LPPM UNIPA dalam melakukan tugas-tugas yang lain. Kesempatan ini terbuka bagi lulusan D3 atau S1, terutama dalam bidang Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan.

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Perlindungan Sarang

1. Pengalaman langsung bekerja di habitat alami penyu di pantai peneluran
2. Dukungan finansial melalui kompensasi bulanan
3. Perlindungan kerja dengan Jaminan Kecelakaan Kerja
4. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja ditanggung program (transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri)
5. Konsumsi selama di lapangan disediakanย olehย program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 30 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Mengunggah transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Diutamakan yang memiliki pengalaman bekerja di lapangan/tempat terpencil
Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
8. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
9. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
10. Foto close up ukuran 3 x 4 maksimal 1 MB**

Linimasa

๐Ÿ“Œ 9 โ€“ 25 Feb 2026: Pendaftaran
๐Ÿ“Œ 26 Feb โ€“ 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
๐Ÿ“Œ 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
๐Ÿ“Œ 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
๐Ÿ“Œ 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
๐Ÿ“Œ 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 3 orang/periode

Periode 1: 1 April – 30 Juni 2026

Periode 2: 15 Juni – 15 Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera,ย paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Uncategorized @id

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) 2026

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April โ€“ Oktober 2026, kami membutuhkan Tenaga Lapangan sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Memantau aktivitas peneluran semua jenis penyu dengan melaksanakan patroli pagi
2. Mendata induk penyu saat patroli malam
3. Melindungi sarang-sarang penyu dengan menerapkan metode yang telah dikaji secara ilmiah
4. Melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
5. Mendokumentasi perubahan habitat peneluran dengan mengukur lebar pantai dan suhu pasir
6. Membantu pelaksanaan penelitian ilmiah untuk menunjang upaya pelestarian penyu

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Lapangan

1. Kesempatan berharga untuk terlibat langsung dalam konservasi penyu di habitat alaminya
2. Pembelajaran langsung dalam pemantauan aktivitas peneluran dan perlindungan sarang
3. Kompensasi bulanan sesuai ketentuan program
4. Jaminan Kecelakaan Kerja sebagai perlindungan selama bertugas
5. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja disediakan (transportasi dari luar daerah ke Manokwari menjadi tanggung jawab pribadi)
6. Akomodasi dan konsumsi selama di lapangan ditanggungย program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 35 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
5. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,5 dibuktikan dengan transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Memiliki pengalaman bekerja di pantai peneluran penyu ataupun pengalaman lain yang relevan
8. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
9. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
10. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
11. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
12. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

๐Ÿ“Œ 9 โ€“ 25 Feb 2026: Pendaftaran
๐Ÿ“Œ 26 Feb โ€“ 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
๐Ÿ“Œ 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
๐Ÿ“Œ 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
๐Ÿ“Œ 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
๐Ÿ“Œ 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera,ย paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!