Kategori
Uncategorized @id

Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112-Part 2​

Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112-Part 2

Penulis

Anjely Novianti Kondororik, Minggas Natraka, dan Chatarina Galis Aprisia

Tanggal

6 Agustus 2026

Teduh di Bawah Langit yang Sama – Anjely

Setelah tiga hari ditemani debur ombak dan semilir angin laut, akhirnya kami menapakkan kaki di Kota Sorong. Mentari pagi menyambut kami dengan hangat, seolah menjadi jeda yang kami perlukan sebelum kembali menempuh perjalanan menuju Manokwari. Kami menginap di sebuah hotel kecil bernama Rumberpon. Tubuh yang lelah akhirnya menemukan waktu untuk beristirahat.

Menjelang sore, kami memutuskan untuk menikmati sedikit waktu dengan menjelajahi Kota Sorong. Ada yang memilih menikmati hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, ada yang berburu kuliner yang sedang viral di Sorong, dan ada pula yang menyempatkan diri melepas rindu dengan kerabat. Meski tujuan kami berbeda, senja mempertemukan kami kembali di satu tempat yang sama, yaitu Reklamasi.

Di tepi laut itu, kami duduk bersama ditemani secangkir kopi dan es krim, memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Langit melukis warna-warna jingga keemasan, seakan memberi penghormatan pada perjalanan yang telah kami lalui. Waktu terasa berjalan lebih lambat. Setiap menit dipenuhi tawa, canda, dan kebahagiaan yang mampu menghapus lelah akibat berhari-hari di atas kapal. Senja itu mengajarkan bahwa kebersamaan sering kali menjadi obat terbaik bagi rasa letih.

Pelabuhan Sorong
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Menikmati sunset di Reklamasi Sorong.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Federika Kondororik)

Ketika malam mengambil alih langit, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan. Setelah makan, kami menghabiskan sisa malam di Tuan Tana Cafe. Di sana, tawa kembali pecah, diselingi refleksi tentang perjalanan, tantangan, dan pelajaran yang kami temui selama menjadi relawan. Malam itu bukan sekadar waktu untuk bersantai, tetapi juga ruang untuk mempererat ikatan, membangun rasa saling percaya, dan menguatkan semangat sebelum kembali menempuh perjalanan pulang. Sepulang dari kafe, sebelum benar-benar mengakhiri hari, kami masih menyempatkan diri berbincang bersama kakak-kakak pendamping yang selama ini menjadi teman sekaligus pembimbing dalam perjalanan kami. Malam itu kami menutup mata dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang penuh syukur.

Keesokan harinya, kami memanfaatkan sisa waktu di Kota Sorong dengan mengunjungi Paragon Mall. Kami menikmati makan siang bersama, membeli beberapa kebutuhan, dan mengabadikan momen-momen terakhir sebelum kembali ke hotel.

Setelah semuanya siap, kami melangkah menuju Pelabuhan Sorong. Perjalanan ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi makna yang dibawanya akan tinggal jauh lebih lama. Laut telah mengajarkan kami tentang kesabaran, penyu mengingatkan kami akan pentingnya menjaga kehidupan, dan kebersamaan menghadirkan kenangan yang akan selalu hidup di dalam hati. Di antara ombak yang terus bergulung, senja yang perlahan tenggelam, dan cahaya bulan yang menyapa, kami belajar bahwa perjalanan paling berharga bukan hanya tentang tempat yang dituju, melainkan tentang manusia, alam, dan cerita yang tumbuh di sepanjang perjalanan.

Melawan Ombak, Menjaga Arah – Minggas

Pada malam Sabtu, kami kembali menaiki Kapal Sabuk Nusantara 112 untuk menempuh perjalanan pulang dari Kota Sorong. Kami mengawali perjalanan dengan semangat yang sama seperti sebelumnya, meskipun kondisi di lapangan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ombak yang cukup besar membuat kapal terus bergoyang sepanjang pelayaran menuju Sausapor. Akibatnya, beberapa anggota tim mulai mengalami mabuk laut dan harus beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi. Setelah keadaan berangsur membaik, kami kembali melanjutkan perjalanan dan kegiatan yang telah direncanakan. 

Pada Sabtu pagi, kami mulai menyapa para penumpang dan masyarakat sekitar untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga penyu dan kelestarian laut. Tidak semua penumpang menyambut kami dengan antusias. Ada yang menolak berbicara karena sedang terburu-buru; ada pula yang menganggap pelestarian penyu bukan tanggung jawab mereka. Bahkan, beberapa orang hanya tersenyum lalu pergi tanpa sempat mendengarkan penjelasan kami.

Keberangkatan dari Pelabuhan Sorong
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Padatnya jadwal kapal serta terbatasnya waktu pelayaran dari Sorong menuju Sausapor, yakni mulai pukul 00.30 WIT hingga sekitar pukul 09.00 WIT, membuat kesempatan kami untuk berinteraksi dengan para penumpang menjadi sangat terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan pelaksanaan pre-test dan post-test serta penjangkauan melalui Pojok Baca belum dapat berjalan secara maksimal. 

Meskipun demikian, kami tetap berupaya memanfaatkan setiap kesempatan agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh lebih banyak penumpang. Sebagai alternatif penjangkauan, kami membagikan flyer kepada para penumpang yang turun di Pelabuhan Sausapor. 

Walaupun menghadapi berbagai tantangan, kami tidak menyerah. Kami mengubah cara penyampaian dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mengajak masyarakat berdiskusi secara santai. Kami juga membagikan informasi singkat yang mudah dipahami agar mereka tetap memperoleh pengetahuan meskipun hanya memiliki sedikit waktu.

Usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Beberapa penumpang yang awalnya tidak tertarik akhirnya bersedia mendengarkan penjelasan kami. Ada juga yang mengajukan pertanyaan mengenai cara menjaga habitat penyu dan mengurangi sampah plastik di laut. Respons positif itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melanjutkan kegiatan.

Dari pengalaman hari itu, kami belajar bahwa setiap kegiatan pengabdian pasti memiliki hambatan. Cuaca, kondisi perjalanan, keterbatasan waktu, dan perbedaan pandangan masyarakat merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan kerja sama. Kami menyadari bahwa perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, tetapi melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa melawan ombak bukan hanya tentang menghadapi gelombang di laut, tetapi juga menghadapi berbagai rintangan dalam menyampaikan pesan kebaikan. Dengan semangat, kesabaran, dan kerja sama, kami tetap mampu menjaga arah dan menjalankan misi pelestarian penyu demi masa depan laut yang lebih baik.

Seperti Penyu yang Selalu Pulang – Karin

Kembali pulang, pada akhirnya perjalanan kami menemui pelabuhan tujuan. Malam tepat sebelum kaki kembali menapaki daratan, kami berkumpul di ruangan kecil istimewa favorit kami. Bersama makanan yang disediakan oleh Om Koki, kami menanti hasil perjuangan kami dengan harap-harap cemas jika kami tidak mencapai target penjangkauan.

Dua Ratus Tujuh Puluh Lima!!!” hitung Kak Yeni pada tarikan terakhir kertas penjangkauan yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari kami yang puas mengetahui bahwa kami, enam orang relawan, dapat menjangkau begitu banyak penumpang. Rasanya semua masalah kamar mandi, masalah kepanasan, masalah ditolak, masalah dimarahi beberapa oknum penumpang, hingga masalah sakit tenggorokan, sirna begitu saja. Kami tersenyum satu sama lain, mengingat segala usaha keras yang sudah dilakukan selama kurang lebih enam hari di kapal. Enam hari terasa panjang ketika dijalani, tetapi tiba-tiba terasa begitu singkat ketika akhirnya harus berakhir.

Istirahat sejenak di sela pre-test dan post-test bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Kami memilih menutup malam terakhir perjalanan dengan berkumpul di geladak terbuka, dengan speaker yang kalah saing dari “tetangga” sebelah. Menikmati angin tengah malam bersama riuh rendah deru mesin kapal, beratapkan cahaya bintang yang telah bersinar ribuan tahun silam. Kartu UNO yang dimainkan sebanyak enam ronde -penuh tawa, intrik, dan gimik—menjadi kegiatan penutup sebelum akhirnya kami menghempaskan diri pada kasur sempit dengan beragam aroma beraneka rasa hingga pagi menjelang.

Tim tiba ke Pelabuhan Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Tim sedang mnurunkan panel.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Penyu mungkin tidak pernah tahu namanya disebut ratusan kali di atas geladak Kapal Sabuk Nusantara 112, hingga kami sering dipanggil “Kakak Penyu! Ibu Guru Penyu!”. Namun mungkin, tanpa kami sadari, perjalanan ini justru mengajarkan kami sesuatu tentang mereka: bahwa pulang bukanlah perkara sederhana.

Seperti penyu yang berenang melintasi lautan luas untuk kembali ke tempat ia dilahirkan, kami pun akhirnya kembali ke daratan. Membawa pulang tubuh yang lelah, tenggorokan yang serak, kulit yang mungkin sedikit lebih gelap, dan kepala yang penuh dengan cerita. Namun, lebih dari itu, kami membawa pulang kesadaran bahwa enam hari di atas kapal ternyata mampu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada yang kami kira.

Kami datang sebagai orang yang hanya tahu penyu sebatas hewan laut yang harus dilindungi. Kami pulang dengan nama-nama, cerita, dan wajah yang melekat di kepala. Tentang penyu yang mati-matian kembali ke pantai tempatnya berasal. Tentang mereka yang tanpa suara menghadapi begitu banyak ancaman di laut. Tentang orang-orang yang memilih untuk tetap peduli, bahkan ketika pekerjaannya tidak selalu mudah dan hasilnya tidak selalu terlihat.

Akhir kata, terima kasih kepada Science for Conservation LPPM UNIPA yang sudah mengizinkan kami, enam orang dengan beragam latar belakang, menjadi bagian dari kisah ini. Enam hari di atas kapal Sabuk Nusantara 112 mungkin telah berakhir, tetapi cerita, tawa, lelah, dan setiap pertemuan yang kami bawa pulang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kami. Terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk belajar, berbagi, bertemu orang baru, merasakan pengalaman, dan mengenal laut serta penyu lebih dekat. Sampai jumpa di lain waktu, di perjalanan berikutnya, dan semoga selalu ada alasan bagi kita untuk kembali menjaga mereka yang selalu menemukan jalan pulang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112-Part 1

Menjaga yang Kembali ke Pantai: Catatan Kolaborasi Enam Relawan di Kapal Sabuk Nusantara 112 - Part 1

Penulis

Siti Fatimah Az Zahro, Maria Anggriani Way, Martha Maria Heipon

Tanggal

6 Agustus 2026

Sebelum Jejak Pertama di Pasir – Zahro

Setiap perjalanan selalu dimulai jauh sebelum kapal meninggalkan dermaga. Seminggu sebelum pelaksanaan penjangkauan di atas kapal, kami dilatih untuk siap dengan bekal ilmu dan mental yang matang. Setiap hari, mulai pukul sembilan, kadang pukul sepuluh, dan berakhir sore hari, banyak hal dipelajari, mulai dari perkenalan program sampai praktik langsung simulasi penjangkauan kepada masyarakat dengan berbagai latar belakang. Kami berhadapan dengan lembar-lembar materi yang masih berbau tinta printer dan hati yang dipenuhi tanya tentang bagaimana nantinya ketika sudah berhadapan langsung dengan masyarakat.

Dalam pembekalan itu, kami tidak hanya belajar tentang penyu, tapi juga tentang bagaimana menyampaikan sesuatu yang rumit menjadi sederhana, bagaimana mendengar sebelum berbicara, dan bagaimana menghargai cara pandang masyarakat pesisir terhadap laut yang selama ini menghidupi mereka. Kantor Science for Conservation di Manokwari, yang biasanya sepi, mendadak ramai oleh suara diskusi, tawa kecil, dan sesekali keluhan karena materi yang terasa berat untuk dicerna dalam waktu singkat.

Simulasi pre/post test.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Suasana di kantor Sains untuk Konservasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Siti Zahro)

Suatu siang, ketika latihan simulasi penjangkauan sedang berjalan, salah satu senior menegur cara kami menyampaikan penjangkauan kepada masyarakat. Bahasanya terlalu berat dan bisa jadi menyinggung masyarakat. “Ko jang bicara macam baca buku terus, nanti dong bosan dengar. Ko harus bicara dari hati, baru dong mau dengar,”  katanya sambil tersenyum. Kami yang masih canggung hanya bisa mengangguk, mencoba meresapi setiap kata. Seorang teman di sebelah saya berbisik pelan, “Ini baru latihan sa su deg-degan, apalagi nanti langsung di kapal.”

Malam harinya, di ruang kantor yang mulai redup, kami duduk melingkar membahas kembali materi hari itu. Ada yang mencatat, ada yang sekadar mendengarkan sambil menyeruput kopi. Rasa lelah jelas ada, tapi ada juga semacam kegembiraan yang tumbuh diam-diam, kegembiraan karena tahu bahwa apa yang kami pelajari akan segera diuji langsung di lapangan, di antara masyarakat yang menanti dan laut yang menyimpan banyak cerita.

Mengikuti Arus yang Membawa Harapan – Maria

Berlayar menggunakan kapal perintis seperti Kapal Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112) bukan sekadar perjalanan untuk berpindah tempat, melainkan juga latihan kesabaran dan proses adaptasi yang unik. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya melakukan perjalanan bersama teman-teman relawan dan Science for Conservation

Saya belum pernah menggunakan kapal seperti ini sebelumnya, sehingga belum bisa membayangkan situasi yang akan kami lalui. Perasaan takut terhadap gelombang bahkan sempat membuat saya hampir menyerah ketika berada di Pelabuhan Manokwari sebelum keberangkatan. Namun, dukungan dari teman-teman membuat saya kembali mengingat alasan dan tujuan awal saya untuk ikut berlayar. Semangat itu akhirnya tidak padam. Saya berhasil melewati proses ini, mengalahkan rasa takut, menemukan hal-hal baru, serta bertemu dengan orang-orang baru selama pelayaran.

Maria melakukan pre/post test dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hal yang paling berkesan dari pelayaran dengan Sabuk Nusantara 112 adalah interaksi sosialnya. Penumpang kapal perintis umumnya terdiri atas warga lokal, pedagang antarpulau, dan anak-anak daerah yang hendak bersekolah. Pada akhirnya, berlayar bersama teman-teman relawan menggunakan kapal Sabuk Nusantara 112 mengajarkan saya bahwa beradaptasi bukan tentang melawan ketakutan saya, melainkan tentang bagaimana saya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di atas laut. Ketika saya tidak berusaha memaksakan kenyamanan berada di darat saat saya berlayar di atas kapal, saya belajar bahwa pelayaran ini bukan hanya sekadar perjalanan di atas laut, tetapi menjadi bagian dari pengalaman hidup yang manis. 

Ketika Riak Menjadi Ruang BelajarMartha

Perjalanan di atas dek Kapal Sabuk Nusantara 112 yang sedang membelah lautan: gerakan gelombang air tidak hanya menggerakkan kapal, tetapi juga mengalirkan inspirasi. Di tengah perjalanan panjang antarpulau, setiap sudut ruang kapal berubah menjadi ruang cerita yang penuh kehangatan. Kami, tim relawan, berhasil mengubah kejenuhan perjalanan laut menjadi sebuah momen edukasi yang sangat berharga bagi anak-anak pesisir.

Foto di atas merekam momen indah saat tim kami, Kak Sesar, duduk bersama anak-anak. Menggunakan rompi krem bertuliskan pesan “Jaga Penyu”, ia tampak memberikan penjelasan dengan penuh kesabaran. Di sekelilingnya, anak-anak mendengarkan dengan penuh antusias. Keseriusan terpancar dari mata mereka. Ada yang berdiri bersandar pada kursi kapal, ada pula yang duduk merapat, seolah-olah tidak ingin kehilangan satu kata pun dari cerita yang disampaikan oleh Kak Sesar.

Martha selesai melakukan pre/post test orang dewasa.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Mas Sesar sedang membacakan buku Seri Pembi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Martha Heipon)

Interaksi ini membuktikan bahwa edukasi konservasi tidak harus kaku dan formal di dalam ruang kelas. Di atas kapal, dengan latar belakang “pojok baca” dan dekorasi penyu yang terlihat di belakang spanduk, sains didekatkan melalui cerita dan aktivitas interaktif. Anak-anak diajak mengenal kekayaan laut Papua, mulai dari terumbu karang yang cantik hingga pentingnya menjaga penyu (teteruga) dari kepunahan. Suara riak air laut yang terdengar dari dinding kapal menjadi musik latar dari sebuah cerita penting tentang masa depan Bumi.

Bagi kami sebagai tim relawan Science for Conservation, setiap perjalanan pelayaran dari satu kampung ke kampung lain adalah peluang emas. Anak-anak dan orang dewasa yang kami temui di kapal ini adalah calon penjaga pulau-pulau terdepan Papua. Dengan menanamkan rasa cinta kepada alam Papua sejak dini, percakapan di atas kapal Sabuk Nusantara 112 ini diharapkan mampu membesar menjadi gelombang kesadaran yang besar saat mereka kembali ke kampung masing-masing. Perjalanan yang melelahkan berubah menjadi ruang berbagi mimpi. Lewat kepedulian teman-teman relawan, sains tidak lagi terasa jauh dan rumit, melainkan hadir sebagai sahabat yang siap menemani anak-anak ini untuk menjaga laut tetap biru.

Setelah melewati lautan bersama Kapal Sabuk Nusantara 112, kami, tim relawan, memasuki babak baru yang sangat seru. Setibanya di perairan Wau-Weyaf, Kapal Sabuk Nusantara 112 harus berlabuh dan perjalanan menuju daratan Kampung Wau-Weyaf dilanjutkan dengan transportasi andalan masyarakat pesisir, yaitu perahu fiber. Masyarakat yang hendak berangkat menuju kapal menggunakan perahu fiber sambil memuat barang-barang jualan mereka.

Perahu fiber berukuran kecil ini mampu membelah ombak dengan lincah, membawa beberapa logistik beserta tim mendekati bibir pantai. Air laut yang tadinya hanya menjadi percakapan di dek kapal kini terasa begitu dekat di kanan dan kiri lambung perahu. Karena kapal berlabuh cukup lama, kami pun memutuskan untuk ikut turun ke Kampung Wau-Weyaf. Kami menggunakan perahu lapangan milik Science for Conservation yang dibawa oleh tim penjaga penyu di Pantai Wermon. Setibanya di darat, saya bersama teman-teman relawan yang lain langsung menuju Rumah Belajar Kampung Wau-Weyaf. Setelah perjalanan laut yang sangat gerah, kami menumpang mandi dan menyegarkan diri di rumah belajar dengan suasana yang penuh keheningan. Kampung yang begitu gelap tanpa adanya lampu membuat kami mengandalkan cahaya dari api yang dibuat oleh kakak-kakak tim rumah belajar. Aroma asap kayu-kayu kering yang dibakar begitu khas, sekaligus membantu menerangi kami dan mengusir agas.

Volunteer turun ke perahu menuju Kampung Wau.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Aktivitas sederhana ini menjadi momen penting yang tidak terlupakan. Namun, kunjungan ke daratan hanyalah sebuah persinggahan singkat. Usai membersihkan badan dan bercerita sambil meminum kopi dan teh yang disediakan oleh kakak-kakak tim lapangan rumah belajar, yang menghangatkan tubuh, kami segera kembali ke pantai untuk diantarkan kembali ke kapal. Dalam perjalanan, kami merasa sangat senang karena pemandangan langit yang begitu indah, dengan bintang-bintang yang begitu banyak dan bulan yang begitu terang.

Begitu kami tiba di atas Kapal Sabuk Nusantara 112, kami segera bersiap-siap untuk agenda berikutnya, yaitu menonton film bersama di kapal, tepatnya di depan kafetaria. Sebelum pemutaran film dimulai, kru KM Sabuk Nusantara 112 membantu mengumumkan kegiatan menonton bersama melalui pengeras suara kapal, sehingga para penumpang mengetahui adanya kegiatan tersebut dan dipersilakan untuk bergabung.

Kami memutar film tentang kekayaan laut dan pentingnya menjaga kebersihan laut dari sampah plastik serta pemanasan global. Penumpang kapal, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak yang sedang melakukan perjalanan antarpulau, berkumpul di lokasi pemutaran. Menonton bersama ini menjadi jembatan edukasi yang sangat efektif. Di sela-sela pemutaran film, kami membagikan beberapa makanan ringan untuk dimakan bersama dan bersantai saat menonton. Perjalanan panjang antarpulau tidak lagi terasa membosankan, melainkan menjelma menjadi ruang kelas terapung yang penuh dengan transfer ilmu dan kesadaran lingkungan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template Uncategorized @id

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Penulis

Yusuf Jentewo

Tanggal

14 April 2026

Gagasan pembentukan kelompok kerja penyu belimbing Indonesia pertama kali mengemuka dalam Leatherback Expert Meeting di Jakarta pada September 2025. Dari ruang diskusi tersebut, muncul kesadaran bersama akan pentingnya sebuah wadah kolaboratif yang dapat menyatukan berbagai pihak dalam upaya pelestarian penyu belimbing di Indonesia. Sebagai langkah awal, dilakukan penyebaran kuesioner penjaringan aspirasi pada 2–30 November 2025 kepada instansi dan kelompok terkait. Sebanyak 18 responden berpartisipasi dan secara kuat menyuarakan bahwa kelompok kerja ini perlu segera dibentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pertemuan inisiasi akhirnya dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam proses ini, Program Sains untuk Konservasi (S4C) tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga berperan sebagai salah satu penggerak utama. Keterlibatan ini berangkat dari pengalaman panjang tim S4C dalam melakukan upaya pelestarian penyu—khususnya penyu belimbingdi Taman Pesisir Jeen Womom, yang menjadi salah satu lokasi kunci bagi keberlangsungan populasi penyu belimbing di Pasifik Barat.

Pemaparan materi oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupang 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Kelompok kerja ini diperlukan sebagai wadah kolaborasi pemerintah, pemerhati, praktisi, dan peneliti penyu belimbing di Indonesia. Pertemuan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Jakarta serta daring melalui Zoom bagi mitra di daerah. Sekitar belasan peserta hadir langsung dan 62 peserta mengikuti secara daring. Peserta berasal dari satu direktorat KKP, empat balai pengelolaan kelautan (Denpasar, Kupang, Pontianak, dan Pekanbaru), dua loka pengelolaan kelautan, tiga universitas dalam negeri (Universitas Syiah Kuala, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi), dua universitas luar negeri (University of Hawaii dan Wageningen University), dua laboratorium genetik, serta tiga yayasan lingkungan.

Pertemuan ini dibuka oleh perwakilan Direktorat Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang menyampaikan bahwa penyu belimbing merupakan spesies prioritas dalam EPANJI serta tercakup dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) penyu Indonesia. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 13 pemateri yang memaparkan program pemantauan penyu belimbing, mencakup aktivitas di pantai peneluran, interaksi dengan nelayan, temuan individu terdampar, serta analisis genetik spesies ini.

Pemaparan materi oleh Program Sains untuk Konservai, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Deasy Lontoh)

Program Sains untuk Konservasi (S4C), yang diwakili oleh Deasy Lontoh sebagai koordinator penelitian penyu, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, perlindungan sarang, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadartahuan terkait penyu. Dalam paparannya, disampaikan bahwa Pantai Jeen Womom di Tambrauw, Papua Barat Daya, merupakan salah satu lokasi peneluran utama bagi penyu belimbing subpopulasi Pasifik Barat. Lebih jauh, Deasy juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian spesies, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kemitraan, guna memastikan keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang. Dalam sesi yang sama, perwakilan lembaga lain turut memaparkan keberadaan penyu belimbing dari populasi Samudra Hindia yang bertelur di sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan.

Pemaparan awal terkait kebijakan penyu di Indonesia
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Materi yang dipaparkan menegaskan bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi penyu belimbing, spesies penyu terbesar yang masih hidup. Keberadaan dua populasi, yaitu Pasifik dan Hindia, menjadikan Indonesia wilayah yang unik. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi instansi, peneliti, dan pemerhati dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah tersebut.

Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai bentuk kelompok kerja dan peluang kolaborasi ke depan. Kelompok ini diharapkan aktif dan produktif dalam menghasilkan luaran kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kapasitas melalui pertukaran metode dan pembelajaran dari berbagai lokasi.

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi New Template Uncategorized @id

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

02 April 2026

Pada 9–14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah “The 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature-Based Climate Solutions Conference.” Kegiatan ini mengumpulkan peneliti-peneliti dari berbagai penjuru dunia yang fokus pada tumbuhan ataupun keanekaragaman hayati lainnya di Asia Tenggara termasuk wilayah Indonesia serta Papua.

Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA juga menghadiri kegiatan tersebut, mengirimkan empat perwakilan di mana satu orang presentasi lisan/ pemaparan materi Yusup Jentewo dan tiga orang sebagai presentasi poster Kezia Salosso, Arnoldus Ananta dan Dahlia Manufandu. Keempat perwakilan ini mempresentasikan data dari program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang serta Monitoring Sosial di Kepala Burung Papua.

Slide pertama Power Point Yusup Jentewo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Yusup Jentewo memaparkan presentasi berjudul “The Dangerous Beauty: Morning Glory (Ipomoea pes-caprae) and Its Impact on the Sea Turtle Conservation in Tambrauw”, dimana terdapat fenomena interaksi antara tumbuhan Ipomoea dengan konservasi penyu di Pantai Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Tumbuhan Ipomoea adalah tumbuhan merambat yang banyak ditemui di wilayah pesisir pantai di Indonesia. Diketahui bahwa tumbuhan ini memiliki akar serabut yang dapat masuk ke dalam sarang penyu belimbing dan penyu lainnya serta merusak telur-telur penyu yang berharga. Fenomena ini diangkat Yusup dalam presentasinya. Data tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa dari total 88 sarang penyu yang terpantau, sebanyak 65 sarang (75%) mengalami kerusakan akibat akar Ipomoea. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi upaya perlindungan penyu yang populasinya memang telah lama terancam.

Tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Masyarakat lokal membersihkan akar-akar tumbuhan Ipomoea saat pembuatan kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Dalam presentasinya, Yusup juga menjelaskan bahwa tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dari Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA, melalui berbagai percobaan di lapangan, telah menemukan solusi untuk meningkatkan penetasan sarang penyu yang terancam oleh akar tumbuhan Ipomoea. Sarang penyu belimbing dipindahkan ke kandang relokasi dengan dasar pasir yang telah dibersihkan dari akar Ipomoea. Metode ini meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan, dari yang sebelumnya rata-rata 0%, menjadi 53% pada tahun 2024 dan 47% pada tahun 2025.

Hasil ini menegaskan bahwa usaha perlindungan sarang di Pantai Jeen Womom terus berinovasi dalam menjawab berbagai ancaman terhadap sarang penyu.

Foto tim bersama masyarakat lokal 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Masyarakat lokal pun berperan aktif dalam pembuatan kandang relokasi dan serta pemindahan sarang ke kandang relokasi. Semua kandang relokasi di Jeen Womom dibuat oleh kelompok masyarakat, seperti di Pantai Jeen Syuab, masyarakat dari Kampung Wau dan Weyaf yang berdekatan dengan pantai tersebut yang membuat kandang-kandang ini. Masyarakat harus memastikan untuk membersihkan tumbuhan serta akar-akar tumbuhan Ipomoea setelah konstruksi rangka dan atap selesai. Tiap tahunnya kurang lebih ada 6 kandang relokasi yang beroperasi di Pantai Jeen Syuab.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 11 orang calon KP2, 13 orang calon TLP2, dan 7 orang calon TPS dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 31 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 2 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 26 Maret 2026

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom
yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan
anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi​

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi

Penulis

Khofifah Indah Pratiwi Syahrudin

Tanggal

11 Februari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Panggilan yang Membawa ke Timur

Semuanya berawal dari sebuah postingan di Instagram milik Science for Conservation yang di-repost salah satu akun komunitas konservasi di Sulawesi Tengah tentang pembukaan lowongan kru pantai peneluran penyu. Awalnya aku tidak berniat untuk mendaftar, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku mencoba melengkapi semua berkas. Tak ada ekspektasi besar untuk diterima, namun Tuhan berkehendak lain.

Aku berangkat dari Sulawesi menuju Manokwari—tempat yang bahkan belum pernah kupijak sebelumnya. Perjalanan ini terasa seperti keputusan besar, karena aku datang tanpa siapa-siapa, hanya membawa keyakinan dan rasa ingin tahu tentang dunia konservasi, khususnya penyu.

Aku pernah meneliti kura-kura saat kuliah, dan dari situlah muncul pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau kali ini aku belajar dari penyu?” Akhirnya, aku tiba di pantai tempat aku akan tinggal selama berbulan-bulan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pasir, aku terdiam lama—menyadari bahwa langkah kecil ini akan menjadi awal dari perjalanan besar.

Foto bersama tamu dari luar negeri yang ingin melihat penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama tim pantai dan tim pemberdayaan masyarakat S4C
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kehidupan di Lapangan: Antara Dini Hari dan Cahaya Bulan

Kehidupan di pantai dimulai ketika kebanyakan orang sedang tidur. Setiap malam pukul sepuluh, kami memulai patroli di bawah cahaya bulan, berjalan menyusuri pasir sejauh beberapa kilometer hingga dini hari. Suara ombak dan gelapnya menyesuaikan diri.

Malam-malam itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku menemukan jejak penyu, lalu bertemu langsung dengan penyu belimbing pertamaku—raksasa lembut yang membuatku kagum, gugup sekaligus takut. Saat memasang Passive Integrated Transponder (PIT) tag untuk pertama kali, aku menangis. Sebab aku takut menyakiti penyu belimbing tersebut, tetapi setelah aku berhasil melakukan pemasangan chip pada induk penyu belimbing aku sadar bahwa, aku sedang menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kehidupan.

Keesokan harinya, kami melindungi sarang-sarang penyu. Ada sarang yang harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan ombak, ada yang diberi pagar daun pakis agar aman dari predator. Di sanalah aku belajar bahwa setiap tindakan kecil, seperti menancapkan pagar atau memindahkan telur, punya arti besar untuk kelangsungan hidup mereka.

Rasa lelah terbayar setiap kali melihat tukik menetas dan berlari menuju laut. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—seolah setiap langkah kecil mereka membawa pesan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Khofifah dan tim melakukan pengukuran terhadap penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifah Pratiwi)

Interaksi dan Toleransi: Cerita di Balik Konservasi

Awalnya, beradaptasi dengan tim bukan hal yang mudah. Logat mereka cepat, nada bicara tinggi, dan aku sempat mengira mereka marah. Namun ternyata, itulah cara mereka menunjukkan keakraban. Lama-kelamaan, suasana berubah. Dari yang awalnya pendiam, aku menjadi orang yang suka bercanda, ikut tertawa, bahkan saling roasting satu sama lain.

Aku satu-satunya yang muslim di antara mereka semua di awal musim, akan tetapi mereka menerimaku sepenuhnya. Mereka menghargai waktuku untuk ibadah dan sebaliknya, dan aku belajar bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan justru memperkaya. Dari mereka, aku belajar banyak hal: tentang keterbukaan, tentang cara berkomunikasi yang jujur, dan tentang keluarga yang bisa terbentuk tanpa ikatan darah.

Di sisi lain, aku juga menyadari bahwa pendidikan di sekitar pantai peneluran memegang peran penting. Di salah satu kampung di sekitar pantai peneluran penyu, ada sekolah yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar beberapa kelas sekaligus. Di tengah keterbatasan itu Science for Conservation juga menghadirkan rumah belajar—tempat anak-anak bisa menambah pengetahuan mereka di sore hari. Dari sana aku sadar, konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, tetapi juga tentang memberdayakan manusia agar tumbuh bersama alamnya.

Ombak, Arus dan Keberanian

Tak semua hari di pantai berjalan dengan tenang. Ada hari-hari ketika laut bergelombang tinggi dan arus terasa kuat. Saat itu, keberanian diuji. Aku masih ingat momen ketika kami harus mendorong perahu ke laut, menghitung waktu di antara ombak agar tidak terbalik. Terkadang mesin perahu tidak mau menyala, membuat detak jantungku berpacu. Tetapi setiap kali perahu berhasil menembus ombak, ada rasa lega dan bangga yang sulit dijelaskan. Dari laut, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tentang tetap bergerak meski takut ada.

Foto bersama setelah mencari udang di sungai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penutup: Menjaga yang Hidup, Menemukan yang Bermakna

Lima bulan di pantai peneluran penyu mengubah banyak hal dalam diriku. Aku yang dulu ragu kini lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memahami arti kesabaran. Konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, hutan, atau laut, tetapi juga tentang menjaga nurani manusia agar tetap peka terhadap kehidupan.

Dari pasir yang lembut hingga ombak yang keras, aku belajar bahwa setiap bentuk kehidupan punya caranya sendiri untuk bertahan, dan tugas kita hanyalah menghormati ritme itu. Setiap tukik yang dilepaskan ke laut mengingatkanku bahwa menjaga kehidupan juga berarti berani melepaskan—melepaskan ego, ketakutan, dan keinginan untuk selalu mengendalikan.

Dari pantai ini, aku tidak hanya menemukan makna konservasi, tetapi juga menemukan diriku yang lebih utuh. Bahwa menjaga alam, sejatinya, adalah belajar hidup selaras dengannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS) 2026

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi. Pada periode awal April – tengah Oktober 2026, kami membutuhkan tenaga perlindungan sarang sebanyak 3 orang setiap 3 bulan (April – Juni, Juni – Oktober) dengan tugas utama melindungi sarang penyu dari berbagai ancaman dengan metode yang telah dikaji secara ilmiah dan melakukan evaluasi sukses penetasan pada masa penetasan. Tenaga perlindungan sarang juga diharapkan membantu tim S4C LPPM UNIPA dalam melakukan tugas-tugas yang lain. Kesempatan ini terbuka bagi lulusan D3 atau S1, terutama dalam bidang Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan.

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Perlindungan Sarang

1. Pengalaman langsung bekerja di habitat alami penyu di pantai peneluran
2. Dukungan finansial melalui kompensasi bulanan
3. Perlindungan kerja dengan Jaminan Kecelakaan Kerja
4. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja ditanggung program (transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri)
5. Konsumsi selama di lapangan disediakan oleh program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 30 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Mengunggah transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Diutamakan yang memiliki pengalaman bekerja di lapangan/tempat terpencil
Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
8. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
9. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
10. Foto close up ukuran 3 x 4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 3 orang/periode

Periode 1: 1 April – 30 Juni 2026

Periode 2: 15 Juni – 15 Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Uncategorized @id

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) 2026

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Tenaga Lapangan sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Memantau aktivitas peneluran semua jenis penyu dengan melaksanakan patroli pagi
2. Mendata induk penyu saat patroli malam
3. Melindungi sarang-sarang penyu dengan menerapkan metode yang telah dikaji secara ilmiah
4. Melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
5. Mendokumentasi perubahan habitat peneluran dengan mengukur lebar pantai dan suhu pasir
6. Membantu pelaksanaan penelitian ilmiah untuk menunjang upaya pelestarian penyu

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Lapangan

1. Kesempatan berharga untuk terlibat langsung dalam konservasi penyu di habitat alaminya
2. Pembelajaran langsung dalam pemantauan aktivitas peneluran dan perlindungan sarang
3. Kompensasi bulanan sesuai ketentuan program
4. Jaminan Kecelakaan Kerja sebagai perlindungan selama bertugas
5. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja disediakan (transportasi dari luar daerah ke Manokwari menjadi tanggung jawab pribadi)
6. Akomodasi dan konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 35 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
5. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,5 dibuktikan dengan transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Memiliki pengalaman bekerja di pantai peneluran penyu ataupun pengalaman lain yang relevan
8. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
9. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
10. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
11. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
12. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Kategori
Uncategorized @id

Koordinator Pantai Peneluran (KP2) 2026

Koordinator Pantai Peneluran (KP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Koordinator Pantai sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Mengkoordinir tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang terdiri dari tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal dari hari ke hari.
2. Melatih, mendampingi, dan mengevaluasi tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal agar kualitas kerja terjamin.
3. Melaksanakan seluruh program kerja sesuai rencana dan panduan kerja.
4. Mengelola dan menjamin kualitas data dari lapangan.
5. Mempertanggungjawabkan penggunaan dana dengan jujur dan tepat waktu, dan sesuai SOP Keuangan Program.

Manfaat yang diterima oleh Koordinator Pantai

1. Kesempatan bekerja di pantai peneluran penyu
2. Mendapatkan pengalaman mengelola tim
3. Kompensasi disesuaikan dengan pengalaman kerja
4. Mendapatkan Jaminan Kecelakaan Kerja
5. Biaya transportasi dari Manokwari ke lapangan ditanggung program. Transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri
6. Konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 40 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Memiliki pengalaman memimpin tim dan bekerja di pantai peneluran/lokasi terpencil yang dituliskan dalam resume atau CV*
4. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
5. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
6. Melampirkan transkrip nilai pendidikan terakhir*
7. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
8. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
9. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
10. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
11. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!