Menggapai Bintang: Kisah Terwujudnya Impian Melalui Penelitian

Bagikan Tulisan

Tanggal

28 Maret 2024

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

28 Maret 2024

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Hai, perkenalkan nama saya Elisa Secsio Hendra Putra, biasa dipanggil Sesar. Saya mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Papua (FMIPA-UNIPA) Jurusan Biologi yang melakukan penelitian terkait metode baru perlindungan sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea) menggunakan anyaman sabut kelapa (cocomesh) di pantai Wembrak. Pantai Wembrak merupakan pantai dengan panjang 6 km yang merupakan salah satu pantai peneluran penyu di dalam area Pantai Jeen Yessa, Kabupaten Tambrauw. Melihat penyu merupakan salah satu bucket list saya sejak kecil dan akhirnya saya pun berkesempatan untuk melihatnya secara langsung serta ikut melakukan upaya konservasi penyu lewat penelitian ini. Topik penelitian terkait konservasi penyu belimbing ini telah saya lama persiapkan, sejak semester empat, karena selain saya ingin melihat penyu dan saya senang belajar terkait alam Papua. Banyak perubahan rencana selama saya merancang penelitian ini, mulai dari lokasi, judul, hingga metode penelitiannya. Awalnya saya sedikit khawatir karena penelitian saya ini merupakan penelitian yang bisa dibilang baru. Tim UNIPA di pantai Wembrak menggunakan perlindungan naungan pakis ditambah pagar untuk melindungi sarang secara in situ namun karena keterbatasan tumbuhan pakis di area Pantai Wembrak membuat tim sulit membuat cukup banyak perlindungan ini. Selain hal tersebut, saya juga selalu bertanya selama menjalani penelitian ini apakah penelitian saya akan  berhasil. Saya bersyukur terdapat banyak orang yang mendukung saya. Mereka mengatakan bahwa saya akan menjadi peneliti pertama yang melakukan penelitian dengan metode ini, hal itu membuat saya menjadi semangat dan percaya diri. Setelah semua persiapan seperti mendatangkan bahan, menganyam tali menjadi jaring, membeli kayu dan mempersiapkan diri sendiri, saya pun melakukan petualangan penelitian saya di Tambrauw.

Selama di pantai saya sangat terbantu dengan tim UNIPA dan tenaga patroli lokal yang selalu membantu saya dalam merangkai perlindungan cocomesh ataupun membawa bahan ke lokasi sarang. Kesulitan yang saya alami selama di lapang adalah ketika hujan, beberapa sungai di pantai Wembrak meluap sehingga saya harus menunda kunjungan ke lokasi sarang sampel saya. Lebar sungai di pantai Wembrak sebenarnya tidak terlalu lebar kurang lebih sekitar 40-100 meter namun cukup deras sehingga saya dan tim UNIPA harus menunggu hingga air sungai turun untuk bisa lewat.

Sesar sedang merangkai perlindungan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar sedang menanam logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Setelah kurang lebih tiga bulan melakukan penelitian di Pantai Wembrak hasil yang saya dapatkan tidak mengecewakan semua usaha yang saya lakukan untuk penelitian ini. Selain melakukan penelitian  saya mendapatkan banyak kesempatan belajar hal baru tentang berbagai upaya  konservasi penyu, seperti melakukan kegiatan pemantauan penyu saat malam hari, memasang perlindungan sarang, dan evaluasi sarang. Saya juga diajarkan bagaimana cara mengukur karapas penyu, pemindaian (scanning) Passive Integrated Transponder (PIT tag), dan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah pada saat saya memasang PIT tag pada induk penyu untuk pertama kalinya.

Sesar sedang memindai indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Sesar mencoba mengukur indukan penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Sesar)

Hal yang tidak kalah saya syukuri adalah dapat berinteraksi dengan masyarakat setempat di Kampung Resye dan Womom yang sebagian juga bekerja di pantai sebagai tenaga patroli lokal, tenaga perlindungan sarang, pembuat kandang relokasi atau kontribusi lainnya yang membantu kegiatan pemantauan dan perlindungan sarang. Dengan terlibat dalam penelitian ini bersama tim UNIPA belajar tentang kemampuan dan potensi diri yang saya belum ketahui.

Karena saya perlu membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan cocomesh, pakis, dan yang tidak dilindungi dalam penelitian ini, saya harus menunggu sampai masa penetasan sarang di pantai. Sementara menunggu sampel sarang penelitian saya menetas, saya berotasi ke pantai lain yaitu Pantai Batu Rumah dan Warmamedi (dua pantai yang juga bagian dari Pantai Jeen Yessa) untuk belajar ancaman dan metode perlindungan sarang yang berbeda disana. Ketiga pantai ini sangat unik menurut saya karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ditambah, panorama yang begitu memanjakan mata membuat saya lupa akan suasana hiruk pikuk perkotaan. Saya menjadi sangat betah untuk tinggal di pantai hingga tak terasa bahwa sudah waktunya untuk kembali ke kota untuk menyelesaikan skripsi. Pantai Jeen Yessa  membuat saya tidak pernah berhenti berpikir kapan lagi saya bisa kembali lagi ke sana.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.