Kategori
Lowongan Kerja New Template

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Tahun 2026​

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Pertama PMNH Tahun 2026

 

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap Pertama. Dari hasil seleksi tersebut 24 pelamar dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri tahap seleksi selanjutnya, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Uji Coba Buku dan Video ke Sekolah

Uji Coba Produk Informasi ke Sekolah di Manokwari

Penulis

Noviyanti

Tanggal

20 Januari 2026

Mengawali tahun 2026, kami melakukan uji coba beberapa produk informasi ke sekolah-sekolah di Manokwari. Produk informasi ini terdiri dari buku cerita bergambar, komik, dan video edukasi yang ditujukan untuk kelompok usia yang berbeda.

 

Buku cerita bergambar dan komik kami rancang bersama tim dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Sepuluh November (Prodi DKV ITS) Surabaya. Kami sangat senang akhirnya bisa melihat buku-buku ini hadir secara fisik. Sebelumnya, proses perancangan dilakukan secara daring bersama mahasiswa dan dosen dari Prodi DKV ITS. Kedua mahasiswa yang berperan sebagai illustrator buku adalah Farah Jinan Huwaida dan Anak Agung Sagung Laksmi Dharmika Yowani. Dalam proses ini, ide dan pengalaman lapangan dari tim kami diterjemahkan ke dalam bentuk visual dan cerita yang dekat dengan dunia anak dan remaja.

 

Buku cerita bergambar berjudul Petualangan Pembi si Penyu Belimbing ditujukan untuk anak usia 7–12 tahun. Pembi adalah nama karakter penyu belimbing yang kami ciptakan. Buku ini bercerita tentang seekor mama penyu yang bertelur di pantai, hingga akhirnya tukik-tukik menetas dan berlari menuju laut. Salah satu tukik bernama Pembi berhasil mencapai laut dengan selamat. Melalui cerita ini, anak-anak diajak mengenal peran penting manusia dalam menjaga sarang telur penyu, baik dari predator di darat maupun dari ancaman suhu pasir yang terlalu tinggi.

Anak-anak sekolah dasar membaca buku cerita bergambar 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Para siswa SD mengisi mini kuis 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Salah satu halaman buku yang menampilkan Pembi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Berbeda dengan buku cerita bergambar, kami juga menyusun sebuah komik edukasi berjudul Jejak Penyu Belimbing: Belajar dari Laut, Menjaga BLKB. Buku ini ditujukan untuk anak usia pra-remaja (13–15 tahun). Komik ini bercerita tentang dua tokoh pra-remaja, Kristina dan Obed, yang belajar berbagai informasi tentang penyu dari seorang tokoh dewasa bernama Bapa Ayub. Beberapa topik yang dibahas dalam komik ini antara lain perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu, serta persebaran penyu di berbagai belahan dunia.

Untuk kelompok usia remaja (16–18 tahun), kami mengembangkan sebuah video edukasi. Video ini berisi informasi tentang jenis-jenis penyu yang bertelur di Papua, peran penting penyu bagi ekosistem laut, serta bahaya mengonsumsi daging dan telur penyu. Ketiga materi outreach ini disusun dengan pendekatan budaya Papua. Karakter dalam buku dan komik digambarkan dengan raut wajah dan postur orang asli Papua, sementara bahasa tulisan dan lisan menggunakan dialek Papua Melayu.

Hasil visual edukasi – Buku cerita bergambar dan komik 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Ketiga produk ini dirancang untuk berbagi informasi tentang upaya perlindungan penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, dengan sasaran utama generasi muda, di mana pun mereka berada. Sebelum disebarluaskan secara lebih luas, kami merasa penting untuk menguji langsung materi-materi ini kepada siswa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pesan pelestarian penyu dapat dipahami dengan baik, relevan dengan kehidupan mereka, dan disampaikan dengan cara yang menarik sesuai usia.

Oleh karena itu, pada 9, 12, dan 13 Januari 2026, kami mengunjungi tiga kelas VII di SMP Negeri 6 Manokwari, satu kelas III di SD Santa Sisilia Manokwari, serta satu kelas XII di SMA Negeri 1 Manokwari. Jumlah kelas yang dikunjungi menyesuaikan ketersediaan waktu dan persetujuan dari masing-masing pihak sekolah. Secara keseluruhan, sebanyak 123 siswa terlibat dalam uji coba materi edukasi ini. Siswa SD diminta membaca buku cerita bergambar, siswa SMP membaca komik, sedangkan siswa SMA menonton video edukasi.

Nonton bareng video edukasi siswa SMA Negeri 1
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Naqliya Arum)

Uji coba komik – siswa SMP Negeri 6 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Hasil Uji Coba

Kami mengajukan pertanyaan sebelum dan setelah para siswa membaca buku atau menonton video. Pertanyaan kami susun menggunakan informasi yang ada pada buku dan video. Hasil uji coba menunjukkan bahwa ketiga materi edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan siswa di semua jenjang. Pada siswa SD, nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 43,47% sebelum membaca buku menjadi 85,86% setelahnya. Pada siswa SMP, nilai rata-rata meningkat dari 16,85% menjadi 58,33% setelah membaca komik. Sementara itu, pada siswa SMA, nilai rata-rata meningkat dari 57,93% menjadi 89,66% setelah menonton video edukasi.

Selain peningkatan pengetahuan, hasil kuesioner juga menunjukkan respons yang sangat positif dari siswa. Sebagian besar siswa menilai materi yang mereka terima menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan mereka, khususnya karena menggunakan pendekatan visual dan budaya Papua. Pada siswa SMP dan SMA, materi edukasi juga mendorong kepedulian terhadap penyu dan lingkungan laut, serta menumbuhkan keinginan untuk ikut menjaga penyu dan wilayah pesisir.

Uji coba ini menjadi langkah awal yang penting bagi kami sebelum materi-materi edukasi ini digunakan secara lebih luas. Melalui proses ini, kami belajar bahwa pendekatan yang sesuai usia, visual yang kuat, serta kedekatan budaya memiliki peran besar dalam membantu generasi muda memahami dan peduli terhadap isu konservasi. Kami berharap buku, komik, dan video ini dapat terus digunakan sebagai sarana belajar dan berbagi cerita tentang penyu belimbing dan upaya pelestariannya, tidak hanya di Papua, tetapi juga di berbagai wilayah.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Kontribusi Sains untuk Konservasi dalam Memperkuat Pengelolaan BLKB pada Workshop Siklus 5 BAF​

Kontribusi Sains untuk Konservasi dalam Memperkuat Pengelolaan BLKB pada Workshop Siklus 5 BAF

Penulis

Kei Mongdong

Tanggal

12 Desember 2025

Blue Abadi Fund (BAF) adalah program pendanaan perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal dalam mengelola sumber daya kelautan secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. Mendekati akhir tahun 2025, administrator Blue Abadi Fund (BAF) menggelar Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF di Kantor Gubernur Papua Barat pada 25 November 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sharing pembelajaran dari implementasi program Blue Abadi Fund, guna meningkatkan pengetahuan dan membuka jejaring/potensi kerjasama antar penerima hibah BAF. Pada sesi pembukaan, 15 mitra diberi kesempatan memperkenalkan profil, kegiatan yang mereka lakukan dan wilayah kerja mereka secara singkat.

Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM UNIPA sebagai salah satu penerima Hibah BAF pada Tahun 2025 juga diundang dalam Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF tersebut. Fitryanti Pakiding selaku pengelola Program Sains untuk Konservasi menyampaikan secara singkat profil S4C dan tujuan utama program yaitu menghubungkan sains dengan upaya konservasi di Bentang Laut Kepala Burung.

Berdasarkan surat Nomor 252/Dir/BAF-CFP5/KHT/VII/2024 S4C LPPM UNIPA pada BAF Siklus 5 akan bekerja pada 6 bagian kegiatan yaitu : 1) Perlindungan Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, Kab. Tambrauw Papua Barat Daya; 2) Pelaksanaan Monitoring Kesehatan Karang; 3) Pelaksanaan Monitoring Sosial Ekonomi – Kesejahteraan Rumah Tangga dan Tata Kelola Sumber Daya Laut; 4) Penyusunan Laporan Monitoring Kesehatan Karang dan Laporan Monitoring Sosial Ekonomi yang dilaksanakan; 5) Diseminasi atas hasil studi/monitoring dan kegiatan pemberdayaan; 6) Penyusunan laporan “State of The Seascape Report 2025”.

Pada Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF mengelompokkan lima sesi diskusi dengan tema yang berbeda, yaitu:
Sesi 1: Pengelolaan Kawasan Konservasi (KK) di Perairan Bentang Laut Kepala Burung, termasuk monitoring sosial dan ekologi;
Sesi 2: Pendidikan lingkungan hidup, penjangkauan, dan peningkatan kapasitas;
Sesi 3: Konservasi spesies langka, terancam punah, dilindungi, dan ekosistem kritis di Bentang Laut Kepala Burung;
Sesi 4: Peran masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi;
Sesi 5: Pembangunan berkelanjutan dan mata pencaharian pesisir.

Suasana workshop yang dihadiri oleh 15 mitra BAF
(Foto: Blue Abadi Fund/Burhan)

Suasana diskusi para mitra saat moderator memandu salah satu sesi diskusi
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Pengenalan profil oleh 15 mitra BAF
(Foto: Blue Abadi Fund/Burhan)

Pada setiap sesi, para mitra dipandu oleh moderator dan secara bergantian diberi kesempatan untuk memaparkan tujuan, capaian, tantangan, serta pembelajaran dari kegiatan yang telah mereka lakukan. S4C LPPM UNIPA termasuk di dalam kelima sesi tersebut, namun karena model diskusi setiap sesi ditentukan masing-masing moderator sesi sehingga presentasi detail dari S4C LPPM UNIPA pada sesi 1, 3, dan 5.

Pada sesi pertama, Dahlia Menufandu selaku Asisten Koordinator Analisis Data Sosial menyampaikan hasil monitoring kesehatan karang, sosial ekonomi rumah tangga, dan tata kelola sumber daya laut selama periode Mei–Juni 2025 melalui Program Sains untuk Konservasi. Ia menjelaskan bahwa kesehatan karang di empat kawasan konservasi di Kepulauan Raja Ampat (Selat Dampier, Teluk Mayalibit, Ayau–Asia, dan KKP Waigeo Sebelah Barat) berada dalam kondisi cukup baik, kecuali di Ayau–Asia yang mengalami penurunan biomassa ikan. Pada periode Juni–Juli 2025, dilakukan monitoring sosial ekonomi di empat kampung di Kepulauan Kofiau–Boo dan empat kampung di Kepulauan Sembilan. Ditemukan bahwa masih banyak praktik pengambilan hasil laut yang tidak sesuai atau ilegal, seperti nelayan dari luar Raja Ampat yang menggunakan berbagai alat tangkap dan mengambil sirip hiu.

Pada sesi kedua, S4C LPPM UNIPA dimintai pendapat tentang tantangan utama dari Pendidikan lingkungan hidup, penjangkauan, dan peningkatan kapasitas. Fitryanti Pakiding sebagai pengelola kemudian memberikan respon bahwa tantangan utama adalah memastikan bagaimana mengukur perubahan yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan dilakukan.

Pada sesi ketiga, Deasy Lontoh selaku Koordinator Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang menyampaikan bahwa dari hasil pemantauan di Taman Pesisir  Jeen Womom tercatat 1.653 sarang yang dilindungi, 57 anggota masyarakat lokal terlibat aktif, dan lebih dari 70.000 tukik penyu belimbing berhasil menetas dan dilepaskan. Pada sesi ini juga Deasy menekankan bahwa capaian besar yang diperoleh pada musim ini merupakan hasil dari kerjasama dengan masyarakat lokal yang mendukung upaya pemantauan dan perlindungan yang dilakukan di wilayah ini.

Pada sesi keempat tentang peran masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi, penerima hibah lain diberikan kesempatan lebih banyak untuk menyampaikan pembelajaran yang diperoleh. S4C LPPM UNIPA sendiri pada sesi ini telah mempersiapkan pembelajaran utama pada sesi ini yaitu, pentingnya melibatkan peran aktif pada pemilik ulayat dalam pelaksanaan kegiatan di Taman Pesisir Jeen Womom.

Dahlia Menufandu memaparkan hasil monitoring karang, sosial ekonomi, dan tata kelola sumberdaya laut.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)

Penyampaian capaian dan tantangan produksi dan pemasaran minyak kelapa abun oleh Kartika Zohar
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Abraham Leleran)

Pada sesi kelima yang berdiskusi mengenai pembangunan berkelanjutan dan mata pencaharian pesisir, Kartika Zohar, menyoroti bahwa upaya konservasi yang dilakukan di Taman Pesisir Jeen Womom memberikan manfaat ekonomi secara langsung. Sejak 2020, saat pandemi Covid-19 melanda, S4C LPPM UNIPA secara konsisten menghitung manfaat ekonomi langsung yang diterima masyarakat di kawasan melalui program konservasi penyu di Taman Pesisir Jeen Womom. Memasuki akhir Oktober 2025, total manfaat ekonomi langsung yang diterima masyarakat mencapai sekitar Rp760 juta. Angka tersebut akan terus bertambah hingga akhir tahun. Materi sharing Program Sains untuk Konservasi bisa di akses di sini.

Melalui rangkaian sesi diskusi dan pemaparan para mitra, Workshop Pembelajaran Hibah Siklus 5 BAF tidak hanya menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kelestarian Bentang Laut Kepala Burung, tetapi juga menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis sains, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan keanekaragaman hayati dapat memberikan dampak nyata di lapangan. Berbagai capaian yang dihasilkan, mulai dari peningkatan pengetahuan ekologi, perlindungan spesies penting, hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat menjadi bukti bahwa upaya konservasi yang terarah dan inklusif mampu memperkuat pengelolaan BLKB secara berkelanjutan. Ke depan, sinergi antara lembaga, masyarakat, dan pemangku kepentingan diharapkan terus berkembang sehingga konservasi di Bentang Laut Kepala Burung semakin kokoh dan membawa manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Uncategorized @id

Rumah Belajar Womom: Pendidikan Nonformal untuk Literasi, Kreativitas, dan Ekopedagogi​

Rumah Belajar Womom: Pendidikan Nonformal untuk Literasi, Kreativitas, dan Ekopedagogi

Penulis

Kristina Ifana Rahail

Tanggal

18 September 2025

Sebuah rumah kecil sederhana berdinding papan ternyata memberi manfaat dan dampak besar bagi generasi penerus Kampung Womom. Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Science for Conservation (S4C), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua menghadirkan sekolah nonformal yang kami sebut Rumah Belajar Womom, atau kerap dikenal anak-anak dan masyarakat setempat sebagai “Rumah Les”.

Di Rumah Belajar Womom, proses pembelajaran didampingi oleh para pengajar yang tergabung dalam Tim PMNH (Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung). Tim ini tidak hanya mengajar di Kampung Womom, tetapi juga di beberapa kampung lainnya yang bertugas di wilayah sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Rumah Belajar ini berdiri di tengah Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Tujuan pendiriannya adalah membantu meningkatkan kemampuan literasi anak, pendidik, dan masyarakat setempat agar pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Dengan adanya rumah belajar, proses belajar diharapkan tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebab sejatinya, belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi dapat berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di Rumah Belajar Womom.

Belajar baca, tulis dan hitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah Belajar ini berdiri di tengah Kampung Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Tujuan pendiriannya adalah membantu meningkatkan kemampuan literasi anak, pendidik, dan masyarakat setempat agar pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja. Dengan adanya rumah belajar, proses belajar diharapkan tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebab sejatinya, belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi dapat berlangsung di berbagai tempat, salah satunya di Rumah Belajar Womom.

Belajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan belajar mengajar di Rumah Belajar Womom biasanya dimulai pukul 16.00 WIT hingga selesai. Kelas baca dan tulis dilaksanakan setiap Senin, sedangkan kelas hitung setiap Selasa. Dalam kelas baca dan tulis, anak-anak diajarkan mengenal huruf dan mendengarkan cerita. Agar pembelajaran lebih interaktif, kami menggunakan kartu huruf. Anak-anak diminta mengenali huruf, lalu menyebutkan nama benda atau hewan yang diawali huruf yang mereka pegang. Demikian pula dalam kelas hitung, anak-anak diperkenalkan angka dengan cara yang sama, menggunakan kartu sebagai media belajar.

Setiap Rabu, kami mengajarkan anak-anak menggunakan komputer dan belajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Womom. Kegiatan ini bertujuan memberi kesempatan bagi anak-anak yang belum mendapatkan pelajaran Komputer dan Bahasa Inggris di sekolah, agar tetap dapat mengenal dan mempelajarinya. Harapannya, mereka mampu mengoperasikan komputer secara dasar serta memahami kosakata dan

Belajar menghitung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar computer-english
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

percakapan sederhana dalam bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. Kehidupan anak-anak Rumah Belajar Womom sangat dekat dengan alam. Mereka tinggal di pesisir pantai yang menjadi habitat peneluran penyu. Kami pun berinisiatif mengajarkan mereka cara menjaga dan melindungi penyu serta spesies lain di lingkungan sekitar, baik yang dilindungi maupun tidak, agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH): mengenal ekosistem pesisir
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perpustakaan keliling
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Baca Juga:

Belajar Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selain belajar PLH tentang penyu, Rumah Belajar Womom juga memiliki materi PLH bulanan dari series 1 hingga series 5. Dalam pembelajaran ini, anak-anak diajarkan mengenal jenis sampah organik dan anorganik, memahami ekosistem pesisir, mengenali hewan di sekitar tempat tinggal, mengetahui berbagai sumber air, serta mengenal tumbuhan dan tanaman di lingkungan mereka.

Pada kelas perpustakaan keliling, kami mengenalkan anak-anak terhadap berbagai jenis buku, membacakan dongeng, dan membuat peta cerita.

Tujuannya agar mereka mampu menanggapi bacaan serta menghubungkannya dengan diri sendiri, bacaan lain, dan dunia di sekitar mereka. Hidup di atas tanah yang kaya akan sumber daya alam, baik flora maupun fauna, kami mengajak anak-anak mengenal berbagai tanaman yang berkhasiat bagi kesehatan sekaligus dapat digunakan sebagai bumbu dapur. Anak-anak diajarkan membuat media tanam di sekitar halaman Rumah Belajar Womom, lalu diajak mengambil tanaman yang dapat dijadikan ramuan. Mereka tampak sangat antusias menanam kembali tanaman tersebut di halaman rumah masing-masing. Anak-anak juga terlihat paham mengenai jenis tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan maupun sebagai bumbu masak. Dengan tangan-tangan kecil mereka, tanaman dipilah dengan lihai dan ditanam pada media yang telah disiapkan.

Hidup sehat: sikat gigi dan cuci tangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Hidup sehat: makan bubur kacang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menggambar dan mewarnai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah Belajar Womom kami mengajarkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi serta menjaga kebersihan diri melalui kebiasaan mencuci tangan dan menyikat gigi. Kegiatan di Rumah Belajar Womom tidak hanya berfokus pada pelajaran sekolah, tetapi juga menghadirkan aktivitas seru melalui ruang kreasi. Anak-anak bebas menggambar dan mewarnai apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Tujuannya agar mereka dapat mengekspresikan diri serta menuangkan gagasan dan imajinasi ke dalam bentuk gambar.

Kehadiran Rumah Belajar di Kampung Womom mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan memberikan dampak positif yang nyata. Di kampung yang tergolong kecil ini, jumlah kepala keluarga yang terdaftar sebenarnya sebanyak 21 KK (Data survei Tahun 2021). Namun, saat ini dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan di lapangan, hanya ditemukan 8 KK yang benar-benar tinggal menetap. Kondisi ini juga berpengaruh pada jumlah anak yang mengikuti kegiatan di Rumah Belajar, yaitu sebanyak 7 orang anak.

Tangkapan peta Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun jumlahnya tidak banyak, semangat mereka luar biasa. Setiap kali jam belajar dimulai, anak-anak selalu datang dengan penuh antusias, duduk rapi, dan siap menerima pelajaran baru. Mereka tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga melalui pengenalan komputer, bahasa Inggris, hingga kegiatan belajar dari alam sekitar. Hal yang menarik, antusiasme ini tidak hanya terlihat dari anak-anak, tetapi juga dari para orang tua. Mereka kerap hadir untuk menyaksikan anak-anak belajar, bahkan memberi dukungan agar anak-anak tetap semangat. Suasana kebersamaan ini menjadi bukti bahwa meskipun Kampung Womom kecil dan jumlah anak yang ada terbatas, semangat untuk belajar dan berkembang tidak pernah surut. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh sebuah harapan besar—bahwa setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan meraih masa depan yang lebih baik.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template Uncategorized @id

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Wayag di Persimpangan: Surga Raja Ampat yang Terancam

Penulis

Habema Monim

Tanggal

16 September 2025

Apa yang terbersit di pikiran Anda jika ditawari mengunjungi salah satu tempat paling eksotis di dunia, yaitu Wayag? Tempat yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata impian bagi banyak orang ini berada di Raja Ampat, Papua. Wayag memiliki keunikan yang jika berada di puncaknya mata kita akan disuguhi batu karst ikonik berbentuk seperti jamur yang menjulang dari dalam air berwarna biru nan indah. Pemandangan ini tentu sering muncul pada promosi-promosi wisata dan berbagai media sosial.

Bagi para penyelam, Wayag tidak hanya menawarkan keindahan pulau-pulaunya, tetapi juga keindahan bawah laut yang tak tertandingi. Laut Wayag menawarkan berjuta keindahan yang akan selalu dikenang para penyelam. Karang berwarna khas tumbuh di tepian dasar perairan yang berbentuk dinding atau wall akibat dari kejernihan air dan juga cahaya matahari yang menembus langsung ke dasar perairan. Keunikan ini membuat banyak hewan langka mudah dijumpai, seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobbegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, lumba-lumba, pari manta, hingga berbagai jenis ikan yang berenang bergerombol (schooling).

Penyu sisik di salah satu titik penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Pari manta yang sedang mencari makan tetapi terdapat banyak sampah yang hanyut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Pada perjalanan monitoring kali ini, kami mengunjungi Wayag dan sekitarnya selama 4 hari, dari tanggal 6 hingga 9 Juni 2025. Banyak hal menarik yang kami jumpai, tidak hanya di permukaan perairan tetapi juga saat penyelaman. Schooling ikan selalu terlihat, begitu pula hewan khas seperti blacktip reef shark, whitetip reef shark, wobegong, penyu hijau, penyu sisik, ikan bumphead, ikan napoleon, dan pari manta. Kehadiran hewan-hewan ini bukan kebetulan, melainkan didukung oleh pantauan visual langsung kami bahwa kondisi karangnya masih terjaga dengan baik.

Baca juga : Belajar Sambil Bertualang: Pelajaran Berharga di Pantai Peneluran – Bagian 1

Akan tetapi, akhir-akhir ini Raja Ampat mendapat perhatian khusus dari penjuru negeri hingga mancanegara akibat pertambangan yang sedang beroperasi. Bagaimana tidak, sebagai jantung keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, tambang membuat semua mata menaruh perhatian akan keindahan serta keunikan yang sedang mengalami ancaman nyata. Perjalanan monitoring kami yang semula nyaman dengan temuan menarik berubah mencekam karena keberadaan tambang dan ulah manusia yang tidak peduli lingkungan, terbukti dengan ditemukannya sampah hanyut di permukaan perairan

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Temuan karang memutih di salah satu lokasi penyelaman
(Foto : Loka PSPL Sorog/Prehadi)

Beberapa spot penyelaman favorit dunia sekaligus titik pengamatan kesehatan karang berada berdekatan dengan salah satu pulau pusat pertambangan. Ancaman ini memang belum terlihat jelas, tetapi dari pola arus yang ada diperkirakan akan berdampak langsung dalam waktu yang tidak lama. Tidak hanya ancaman dari aktivitas pertambangan, wilayah yang merupakan lokasi pari manta mencari makan (feeding) dan membersihkan diri dari ikan-ikan kecil dari parasit atau kotoran di tubuhnya (cleaning) ini pun mengalami ancaman berupa sampah plastik yang banyak ditemukan mengapung di permukaan perairan. Mirisnya, sampah-sampah tersebut hanyut bersamaan dengan aktivitas pari manta dan penyu yang sedang mencari makan

Salah satu titik pengamatan kondisi kesehatan karang dengan latar lokasi tambang nikel di Pulau Kawe, Raja Ampat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Siput Drupella diatas karang yang telah mati dan tutupi alga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain bekerja, Vio juga senang menikmati suasana alam di pantai peneluran. Keindahan sunset dan sunrise adalah waktu favoritnya, di mana langit berwarna jingga dan pepohonan bertemu pantai serta laut, menciptakan landscape yang menakjubkan.

Selain ancaman nyata di permukaan perairan, ekosistem di dasar perairan juga terancam, terutama adalah temuan karang yang memutih serta banyaknya siput Drupella. Temuan ini dapat menyebabkan kematian karang sehingga fungsi dari ekosistem terumbu karang menurun atau bahkan dapat hilang hingga hewan yang harusnya berasosiasi di terumbu karang juga pun ikut hilang

Dari temuan menarik dan ancaman yang mulai terlihat ini, kita harus memilih: apakah Wayag di masa depan tetap menampilkan keunikan dan keindahan ekosistemnya ataukah hanya menjadi cerita belaka. “Keputusan kita saat ini menentukan masa depan alam kita”

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Survei Sosial di Kawasan Konservasi Kepulauan Kofiau-Boo: Suara Masyarakat dan Harapan Konservasi

Survei Sosial di Kawasan Konservasi Kepulauan Kofiau-Boo: Suara Masyarakat dan Harapan Konservasi

Penulis

Arnoldus Ananta, Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere

Tanggal

23 Juli 2025

Pada akhir Mei 2025, tim Program Sains untuk Konservasi dari LPPM Universitas Papua (UNIPA) melakukan survei kesejahteraan masyarakat yang hidup berdampingan dengan Kawasan Konservasi (KK) di Kepulauan Raja Ampat, tepatnya di Kepulauan Kofiau-Boo. Survei ini bertujuan untuk mengkaji dampak penetapan dan pengelolaan kawasan Konservasi terhadap kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar KK. Survei sosial ini adalah bagian dari kerjasama antara Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi dari LPPM, BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat, Pemerintah Daerah (Distrik dan Kampung), serta masyarakat lokal.

Sejak 31 Mei hingga 2 Juli 2025, tim yang terdiri dari Dr. Elfira Suawa, Arnoldus Ananta, Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere, Maria Bame, Jelly Palle, dan Agustinus Aiwor, belajar dengan masyarakat di 8 kampung yang berada di wilayah Kepulauan Kofiau-Boo. Perjalanan dimulai dari Distrik Kofiau, yakni Kampung Deer, Kampung Mikiran, Kampung Tolobi, dan Kampung Dibalal. Setelah itu, tim melanjutkan perjalanan menuju Distrik Kepulauan Sembilan di Kampung Wejim Timur, Kampung Wejim Barat, Kampung Satukurano (Meoskapal), dan Kampung Pulau Tikus. Setiap kampung yang dikunjungi oleh tim memiliki cerita, tantangan, dan karakteristik yang berbeda.

Dari survei ini, tim berhasil belajar dari 286 kepala keluarga yang menjadi responden. Mereka berbagi kisah tentang kehidupan sehari-hari, perubahan yang mereka rasakan sejak adanya kawasan konservasi, serta bagaimana kondisi laut dan hasil tangkapan mereka berubah dari waktu ke waktu.

Kampung pertama yang dikunjungi, Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Melapor ke salah satu aparat kampung di Kampung Mikiran
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Selain wawancara rumah tangga, tim juga melakukan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara dengan tokoh-tokoh kunci kampung untuk mendata bagaimana masyarakat mengelola laut mereka. Mereka juga belajar secara khusus tentang peran perempuan di wilayah Kepulauan Kofiau-Boo.

Rute yang terbatas dan cuaca yang tak selalu bersahabat tidak menyurutkan semangat tim untuk tetap menjangkau setiap kampung sesuai jadwal. Kampung Deer berfungsi sebagai titik masuk utama di Distrik Kofiau. Sedangkan Kampung Wejim Timur dijadikan sebagai homebase (tempat tinggal tetap/titik pusat aktivitas tim survei) selama survei berlangsung di Kepulauan Sembilan, karena kapal logistik dan transportasi umum hanya berlabuh di sana.

Menariknya, di setiap lokasi yang dikunjungi, masyarakat selalu menyambut tim dengan hangat. Sambutan ini tidak hanya menunjukkan keterbukaan mereka, tetapi juga menjadi cerminan dari harapan bahwa mereka ingin terlibat dan didengarkan dalam proses pengelolaan kawasan konservasi.

Tim melakukan FGD di Kampung Wejim Timur dan Kampung Wejim Barat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Ikan asin atau ikan garam, salah satu bentuk olahan ikan oleh masyarakat di Kampung Tolobi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagi tim survei, ini lebih dari sekadar pengumpulan data. Ini adalah proses membangun kepercayaan, memahami dinamika sosial lokal, dan merancang masa depan konservasi yang inklusif, di mana masyarakat bukan hanya sekadar “penonton”, melainkan mitra utama.

Konservasi, dalam konteks ini, tidak hanya soal melindungi laut dari kerusakan. Konservasi adalah tentang menjaga hubungan antara manusia dan alam, menciptakan ruang hidup yang berkelanjutan, serta memastikan bahwa anak cucu masyarakat pesisir tetap memiliki laut yang sehat dan produktif.

Salah satu tim surveyor melakukan wawancara gender
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

“Menjaga, melindungi, dan melestarikan adalah istilah sederhana dari konservasi. Tapi di lapangan, kami menyaksikan sendiri bahwa ketiganya hanya mungkin terjadi jika masyarakat turut terlibat di dalamnya.”

Survei sosial ini bukanlah akhir. Ia adalah pijakan awal untuk melihat kawasan konservasi tidak hanya dari kacamata ekologi, tetapi juga dari sisi sosial atau kemanusiaan, karena laut yang lestari juga dapat dicapai jika manusia hidup sejahtera berdampingan dengan alam.

Masyarakat lokal di Kampung Tolobi menangkap ikan menggunakan alat tangkap sederhana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ikan laut menjadi sumber protein penting bagi masyarakat di Kepulauan Kofiau-Boo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Kopi darat pecinta penyu seluruh dunia: Pengalaman kami dalam Simposium Penyu Internasional ke 42 di Pattaya Thailand

Kopi darat pecinta penyu seluruh dunia: Pengalaman kami dalam Simposium Penyu Internasional ke 42 di Pattaya Thailand

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/simposium-penyu-internasional-ke-42-di-thailand” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/simposium-penyu-internasional-ke-42-di-thailand” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/simposium-penyu-internasional-ke-42-di-thailand” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

16 April 2024

Penulis

Noviyanti & Alberto Y. T. Allo

Tanggal

16 April 2024

Penulis

Noviyanti & Alberto Y. T. Allo

Pada tanggal 24-29 Maret 2024, kami dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA berkesempatan hadir dan membawakan beberapa bahan presentasi oral dan poster pada Simposium Penyu Internasional ke 42 (The 42nd International Sea Turtle Symposium -ISTS42).

Simposium Penyu ini merupakan acara rutin yang dilakukan setiap tahun. Untuk tahun ini, dilaksanakan di Pattaya, Thailand. Simposium tahun depan 2025 akan dijadwalkan di Ghana, Afrika Barat dan tahun berikutnya 2026 akan diadakan di Hawai, Amerika Serikat dan tahun 2027 akan diadakan di Srilanka, informasi ini kami peroleh pada saat acara Closing Banquet / Awards Ceremony. Kami sangat senang bisa menghadiri acara ini karena kami punya kesempatan bertemu dengan para peserta dari berbagai negara.

Tema ISTS42 Pattaya Thailand adalah “All In, All Together – Inspiring the Next Generations of Global Sea Turtle Conservationists“. Bertujuan menyatukan komunitas ahli biologi penyu, praktisi lingkungan hidup, pegiat konservasi, kelompok masyarakat adat, peneliti, akademisi, dan advokat yang berasal dari lebih dari 60 negara untuk berbagi pengetahuan, membangun kapasitas, berjejaring dan berkolaborasi dan pada akhirnya, untuk mempromosikan perlindungan dan konservasi penyu.

Presentasi tentang Cocomesh sebagai metode perlindungan sarang penyu oleh Deasy
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Presentasi tentang estimasi biaya untuk melindungi sarang penyu di TP Jeen Womom oleh Fitryanti
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Sesi seminar Fitryanti Pakiding dan Deasy Natalia Lontoh, membawakan presentasi oral dengan respons audiens sangat positif dan tertarik dengan materi yang disampaikan. Poster yang kami pajang menceritakan bagimana perlindungan sarang penyu dari predator alami dan bagaimana manfaat rumah belajar bagi anak lokal di wilayah konservasi penyu.

Alberto sedang mempresentasikan poster kepada pengunjung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Deasy berfoto dengan salah satu pengunjung usai melakukan presentasi poster
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Kami juga berkesempatan berkontribusi dalam acara Silent Auction (acara amal) dimana noken bermotif penyu yang merupakan salah satu produk lokal dari masyarakat lokal di TP Jeen Womom dijual dalam acara amal. Dalam acara ini beberapa jenis barang dilelang dengan harga yang tertulis di selembar kertas, dan harga tertinggilah yang akan menjadi harga jualnya. Hasil dari pelelangan ini sepenuhnya didonasikan kepada International Sea Turtle Society (ISTS) untuk menyediakan travel grants bagi para peserta ISTS selanjutnya.

Salah satu noken Abun yang terjual saat Silent Auction
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Alberto)

Kami berpartisipasi dalam Video Night dengan mengirimkan 1 video singkat yang menceritakan pekerjaan tim kami untuk konservasi penyu yang holistik di Taman Pesisir Jeen Womom. Link video ini dapat dilihat di sini dan cerita tentang video night kami tulis di sini.
3 orang dari kami ikut mempresentasikan makalah kami melalui presentasi oral dan poster. Berikut adalah judul makalah yang kami presentasikan.

Nama penulis dan presenterJudul MakalahJenis presentasi
Petrus Pieter Batubara, Deasy Natalia Lontoh, Yusup Adrian Jentewo, Yairus Swabra, Arfiandra Andika Wanaputra, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariAccuracy of local communities in identifying leatherback turtle nest locations at Jeen Yessa beach in the Bird’s Head region of Papua, IndonesiaPoster
Fitryanti Pakiding, Deasy Lontoh, Meity Mongdong, Manjula TiwariMinimum Cost Estimate to Protect 80%-100% of Western Pacific Leatherback Nests at the Jeen Womom Coastal Park in the Bird’s Head Region of Papua, IndonesiaPresentasi Oral
Deasy Natalia Lontoh, Yusup Adrian Jentewo, Arfiandra Andika Wanaputra, Tonny Willem Duwiri, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariCocomesh as a nest shading material to lower sand surface temperatures at Jeen Yessa beach at the Bird’s Head region of Papua, IndonesiaPresentasi Oral

Alberto Y.T. Allo, Kartika Zohar, Fitryanti PakidingBenefits of House of Learning, an after-school program as part of a marine turtle conservation effort, to local studentsPoster

Apabila Sobat Lestari ingin mengetahui kegiatan ISTS42 ini lebih jauh, kalian bisa cek informasinya di website mereka di sini.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/dimulainya-kembali-kegiatan-pemantauan-penyu-di-teluk-huon-papua-new-guinea” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/dimulainya-kembali-kegiatan-pemantauan-penyu-di-teluk-huon-papua-new-guinea” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/dimulainya-kembali-kegiatan-pemantauan-penyu-di-teluk-huon-papua-new-guinea” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Musim Teduh dari Pantai Jeen Yessa di Tahun 2022

Cerita Musim Teduh dari Pantai Jeen Yessa di Tahun 2022

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/cerita-musim-teduh-dari-pantai-jeen-yessa-di-tahun-2022″ target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/cerita-musim-teduh-dari-pantai-jeen-yessa-di-tahun-2022″ target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/cerita-musim-teduh-dari-pantai-jeen-yessa-di-tahun-2022″ target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

12 Desember 2022

Penulis

Tonny Duwiri

Tanggal

12 Desember 2022

Penulis

Tonny Duwiri

Provinsi Papua Barat yang berada di timur Indonesia merupakan lokasi peneluran penyu penting untuk keberlangsungan penyu di alam. Salah satu kabupaten yang menjadi lokasi krusial bagi peneluran penyu adalah Kabupaten Tambrauw. Kabupaten yang diresmikan tahun 2009 ini memiliki dua pantai peneluran utama bagi penyu. Dua pantai tersebut adalah Pantai Jeen Yessa (dahulu disebut Jamursba Medi) dan Pantai Jeen Syuab (dahulu disebut Wermon). Kedua pantai ini masuk dalam Kawasan Taman Pesisir Jeen Womom yang ditetapkan tahun 2017 melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan. Kawasan ini menjadi habitat peneluran empat jenis penyu yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Nama Saya Tonny Duwiri sering dipanggil “Todu”. Pada musim teduh (April-September) tahun ini, saya dipercayakan sebagai koordinator pantai Jeen Yessa. Salah satu pantai di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Saya bergabung di tim Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA sejak tahun 2018. Bersama masyarakat lokal dari Kampung Resye dan Womom kami secara aktif melaksanakan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang pada setiap musim peneluran. Pada musim ini, tim UNIPA yang bertugas di pantai Jeen Yessa berjumlah 12 orang, terdiri dari 9 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.

Bersama sekitar 23 orang masyarakat lokal yang terlibat sebagai pemilik hak ulayat, patroler lokal, tenaga magang, tenaga relokasi sarang dan penyedia kandang relokasi. Seluruh tim dan masyarakat terbagi dalam tiga lokasi kerja menurut tiga bagian pantai di Jeen Yessa yaitu pantai Wembrak, pantai Batu Rumah, dan pantai Warmamedi. Di masing-masing pantai juga terdapat koordinator pantai yang mengkoordinir kegiatan di pantai tersebut, untuk Wembrak saya juga bertugas sebagai koordinator pantai ini, lalu untuk Batu Rumah ada Johni Mau dan Warmamedi ada Mesak Adadikam sebagai koordinator disana.

Sarang-sarang penyu di pantai ini perlu dilindungi karena terancam beberapa ancaman serius di pantai. Beberapa ancaman bagi sarang penyu di Pantai Jeen Yessa adalah suhu pasir tinggi, predasi oleh babi, anjing, dan biawak (Pakiding dkk, 2022). Uniknya masing-masing pantai memiliki ancaman terhadap sarang penyu yang berbeda. Seperti di pantai Wembrak ancaman utama terhadap sarang penyu adalah suhu pasir tinggi. Logger suhu yang ditempatkan di pantai ini menunjukan rata-rata suhu pantai di Wembrak adalah 32,0°C, lebih tinggi dari suhu pantai Batu Rumah dan Warmamedi (Data 2021). Hal tersebut membuat kami menerapkan metode perlindungan naungan pakis (Cycas sp.) untuk menghalau paparan sinar matahari ke sarang dan juga dengan bantuan masyarakat membuat 2 kandang relokasi karena tingkat sukses penetasan yang sangat rendah di beberapa sektor. Untuk pantai Batu Rumah ancaman utama yang ditemui adalah suhu pasir tinggi dan predasi oleh babi, anjing dan biawak hal tersebut membuat tim melakukan metode perlindungan naungan pakis serta metode pagar dimana ditempatkan kayu mengelilingi sarang untuk mengantisipasi hewan-hewan tersebut merusak sarang. Sedangkan untuk pantai Warmamedi, suhu pasir tidak menjadi ancaman di sana melainkan predasi oleh babi. Untuk melindungi sarang di Warmamedi, tim menggunakan metode pagar.

Patroler Lokal sedang mencari letak sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tony)

Kru melakukan scan PIT tag kepada induk penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tony)

Patroler Lokal sedang mencari letak sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tomas)

Dari proses pemantauan aktivitas peneluran di musim ini diketahui terdapat 4128 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan 1669 merupakan sarang penyu belimbing (59%) dan sisanya sarang penyu lekang (33%), penyu hijau (5%) dan penyu sisik (3%). Kami juga mendata indukan yang memakai pantai Jeen Yessa untuk bertelur dengan menandai dengan Passive Integrated Transponder (PIT) tag, berhasil terdata sebanyak 402 indukan penyu belimbing, 133 diantaranya adalah indukan yang baru mendapatkan tag dan 269 indukan terdata kembali dari pemasangan tag di musim-musim sebelumnya.

Jumlah sarang yang dilindungi pada musim teduh tahun ini mencapai total 877 sarang (53% dari keseluruhan sarang penyu belimbing). Perlindungan sarang ini secara umum menghasilkan sukses penetasan yang lebih baik dibandingkan dengan sarang asli yang dibiarkan (sarang kontrol). Sukses penetasan sarang-sarang yang dilindungi diketahui dari hasil evaluasi sukses penetasan lebih tinggi dibanding sarang kontrol di ketiga pantai. Estimasi produksi tukik yang dihasilkan dari kegiatan perlindungan sarang di pantai Jeen Yessa mencapai jumlah 89.648 tukik di musim ini. Harapannya generasi-generasi penyu ini dapat membantu peningkatan populasi penyu belimbing di masa depan. Hasil ini merupakan buah dari kerja keras tim bersama masyarakat lokal yang terlibat aktif. Suatu kebahagian tersendiri bagi tim dimana sarang-sarang yang dilindungi menghasilkan tukik yang banyak. Beberapa data ini telah kami paparkan di tengah masyarakat kampung Resye dan Womom pada tanggal 17 September 2022 untuk memberi tahu semua masyarakat terkait hasil kerja yang tim bersama anggota masyarakat lakukan pada musim ini. Secara umum masyarakat sangat senang dengan pekerjaan di pantai dan berharap agar mereka dapat terus melakukan kegiatan-kegiatan ini di musim-musim mendatang.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/cerita-musim-teduh-dari-pantai-jeen-yessa-di-tahun-2022″ target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/cerita-musim-teduh-dari-pantai-jeen-yessa-di-tahun-2022″ target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/cerita-musim-teduh-dari-pantai-jeen-yessa-di-tahun-2022″ target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Bagaimana kemampuan membaca para siswa di Rumah Belajar UNIPA pada Periode April – September tahun 2022?

Bagaimana kemampuan membaca para siswa di Rumah Belajar UNIPA pada Periode April – September tahun 2022?

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/kemampuan-membaca-para-siswa-di-rumah-belajar-unipa” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/kemampuan-membaca-para-siswa-di-rumah-belajar-unipa” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/kemampuan-membaca-para-siswa-di-rumah-belajar-unipa” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Tanggal

6 Desember 2022

Penulis

Kartika Zohar dan Aflia Pongbatu

Tanggal

6 Desember 2022

Penulis

Kartika Zohar dan Aflia Pongbatu

Buku adalah jendela untuk melihat dunia. Salah satu cara membuka jendela dunia tersebut adalah dengan membaca. Kemampuan membaca sangat penting untuk kehidupan sehari-hari bagi seorang individu. Berdasarkan pemahaman ini, pembelajaran membaca telah menjadi bagian yang diajarkan pada kegiatan belajar mengajar informal yang dilakukan di Rumah Belajar UNIPA yang terletak di Distrik Abun dan Distrik Tobouw Kabupaten Tambrauw.

Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian Universitas Papua secara konsisten telah berkomitmen untuk memajukan Pendidikan bagi anak-anak usia sekolah dengan menyediakan fasilitas Rumah Belajar sejak tahun 2013 lalu. Pada tahun 2022 ini terdapat 4 fasilitas rumah belajar yang melayani total 5 kampung yaitu Kampung Wau, Weyaf, Syukwo (Warmandi), Womom, dan Resye (Saubeba).

Berdasarkan data dari lapangan, terdapat total 117 anak yang terdata telah mengikuti pembelajaran membaca pada 4 lokasi Rumah Belajar. Anak-anak ini diajar oleh 2-3 orang tenaga pendamping masyarakat yang bertugas pada setiap lokasi Rumah Belajar.

Kegiatan Membaca di RB. Wau-Weyaf
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan Membaca di RB. Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada kemampuan membaca terdapat 14 Sub Indikator yang disusun untuk membantu proses pembelajaran. 14 Sub indikator ini kemudian akan dinilai dengan 3 kategori yaitu:

  • BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik dengan benar (80-100%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian diujikan.
  • KURANG BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik dengan kurang benar (50 – 79%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian yang diujikan.
  • TIDAK BISA (ditunjukan dengan kemampuan peserta didik tidak dapat melakukan (0-49%) melakukan/menunjukan sub indikator penilaian yang diujikan.

Pada periode April – September 2022 ini kami mendata berapa jumlah rata-rata siswa yang berada pada kategori BISA untuk setiap sub indikator pembelajaran yang diberikan. Berdasarkan data tersebut kami memperoleh data bahwa sub indikator yang paling mudah yaitu sub indikator B1 (menyebut abjad secara berurutan A-Z) terdapat total rata-rata 41 orang anak yang berada di kategori BISA. Jumlah ini sekitar 35,04% dari total anak yang datang ke Rumah Belajar. Sedangkan pada sub indikator yang paling sulit yaitu sub indikator B14 (menyebutkan dengan benar setiap kalimat dalam sebuah paragraf menggunakan tanda baca dengan benar – intonasi, tanda baca dapat terdengar/diketahui) terdapat total rata-rata 3 orang anak yang berada pada kategori BISA, jumlah ini hanya 2,56% dari total anak yang datang ke rumah belajar.

Kemampuan membaca peserta didik dapat meningkat apabila di tahun berikutnya para siswa dapat lebih giat lagi datang belajar membaca pada fasilitas Rumah Belajar yang telah disediakan. Kehadiran di Rumah Belajar masih menjadi salah satu tantangan bagi para peserta didik untuk meningkatkan kemampuan membacanya. Kabar baiknya, kami melihat perkembangan dari 2-3 orang peserta didik yang belum dapat membaca sama sekali tetapi mereka telah dapat mengenal huruf dan mengeja perlahan setelah tekun belajar di Rumah Belajar. Kami berharap di masa depan akan ada lebih banyak peserta didik yang meningkat kemampuan membacanya dengan fasilitas Rumah Belajar UNIPA yang berada di kampung-kampung ini.

Bagikan Tulisan

[icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-whatsapp” size=”fa-lg” type=”circle” link=”whatsapp://send?text=https://science4conservation.com/kemampuan-membaca-para-siswa-di-rumah-belajar-unipa” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-twitter” size=”fa-lg” type=”circle” link=”https://twitter.com/intent/tweet?url=https://science4conservation.com/kemampuan-membaca-para-siswa-di-rumah-belajar-unipa” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”][icons icon_pack=”font_awesome_5″ font_awesome_5=”fab fa-facebook” size=”fa-lg” type=”circle” link=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://science4conservation.com/kemampuan-membaca-para-siswa-di-rumah-belajar-unipa” target=”_self” icon_color=”#1e73be” icon_hover_color=”#ffffff” background_color=”#e0e0e0″ hover_background_color=”#1e73be”]

Ikuti Survei

Bantu kami meningkatkan kualitas informasi hasil monitoring sosial dan ekologi di BLKB-Papua.

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Penampakan Stand Sanus Coconut di Trade Expo Indonesia

Monica Jupiter Arung Padang – November 15, 2022

7

Abigail Lang, Federika Kondororik, Habema Monim – November 10, 2022