
Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut
Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua
Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang
Penulis
Liana Mongdong
Tanggal
03 Juni 2026
Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.
Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang telah dilaksanakan pada 19–20 Mei 2026 di Pantai Jeen Syuab dan 26–27 Mei 2026 di Pantai Jeen Yessa. Kedua lokasi tersebut berada di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya.Pada umumnya, pelatihan bagi tim pelaksana program pemantauan penyu dan perlindungan sarang diselenggarakan di Manokwari. Namun, pada musim ini sebagian besar tenaga lapangan yang direkrut merupakan tenaga lokal yang berasal dari kampung-kampung di sekitar Pantai Jeen Syuab dan Pantai Jeen Yessa. Oleh karena itu, pelatihan dilaksanakan langsung di lokasi pantai peneluran agar lebih mudah menjangkau peserta, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar dan berlatih secara langsung di lapangan sesuai dengan kondisi kerja yang akan dihadapi selama program berlangsung.
Selain Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, dua perwakilan dari Tim Outreach, serta Koordinator Tim Humas, kegiatan ini juga dihadiri oleh masyarakat setempat, pemilik hak ulayat, perwakilan pemerintah desa, dan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw.
Pada Sabtu, 16 Mei 2026, tim program berangkat dari Manokwari menuju pantai peneluran menggunakan Kapal Sabuk Nusantara (Sanus) 112. Setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam, tim beristirahat selama satu hari di Kampung Wau sebelum mempersiapkan pelatihan di Pantai Jeen Syuab pada Senin, 18 Mei 2026.
Untuk mendukung pelaksanaan pelatihan, Sains untuk Konservasi menghadirkan sejumlah pemateri yang kompeten sesuai bidangnya. Materi pelatihan disampaikan oleh Deasy Lontoh sebagai Koordinator Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang; Yairus Swabra, Arfiandra Andika Wanaputra, dan Petrus Batubara sebagai Asisten Koordinator Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang; serta Elisa Secsio Hendra Putra sebagai Asisten Koordinator Produk Informasi. Selain penyampaian materi teknis, peserta juga menerima sosialisasi dari Abraham Leleran selaku Koordinator Humas dan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw.
Peserta mengisi pre-test.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)
Sosialisasi dari Humas Sains untuk Konservasi.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)
Dalam kedua pelatihan , tenaga lapangan lokal dan non lokal mengikuti pre-test sebelum pelatihan serta post-test pada akhir kegiatan. Tes ini dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 94% dari seluruh 35 peserta mengalami peningkatan pemahaman berdasarkan perbandingan niai pre-test dan post-test.
Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang di Jeen Syuab yang dilaksanakan di Pantai Wermon, diawali dengan sesi perkenalan antarpeserta. Sesi ini bertujuan membangun kebersamaan sekaligus memperkuat koordinasi tim. Setelah itu, peserta mengikuti sosialisasi dari Humas, kemudian menerima materi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali jenis-jenis penyu, melakukan identifikasi penyu di lapangan, serta memahami berbagai ancaman terhadap penyu di habitat alaminya.
Rangkaian kegiatan pada hari kedua mencakup pelatihan teknik dokumentasi, praktik pemindahan sarang, evaluasi sarang, dan patroli pagi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan program kerja serta sosialisasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tambrauw. Pada malam hari, peserta melaksanakan praktik patroli malam sebagai bentuk penerapan pengetahuan yang telah diperoleh selama pelatihan.
Pemaparan program kerja.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)
Setelah pelatihan di Jeen Syuab selesai, tim melanjutkan perjalanan menuju Jeen Yessa untuk mempersiapkan pelaksanaan pelatihan berikutnya. Di lokasi ini, kegiatan hari pertama berlangsung lebih singkat karena menyesuaikan waktu kedatangan tenaga lapangan lokal yang harus menempuh perjalanan dari kampung menggunakan perahu. Usai sesi perkenalan yang dimulai pada siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dari Humas, penyampaian materi tentang pengenalan jenis-jenis penyu dan berbagai ancamannya, serta praktik pelaksanaan patroli malam.
Materi Mengenal Penyu oleh Deasy Lontoh.
(Foto : S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong)
Keesokan harinya, peserta menerima materi tentang teknik dokumentasi dan identifikasi penyu, kemudian mengikuti praktik perlindungan sarang, evaluasi dan relokasi sarang, serta praktik patroli pagi. Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga lapangan lokal dalam mendukung pemantauan dan perlindungan penyu secara berkelanjutan.
Materi Patroli Pagi oleh Yairus Swabra.
(Photo: S4C_LPPM UNPA/Liana Mongdong )
Materi Relokasi Kandang dan Evaluasi oleh Petrus Batubara.
(Photo: S4C_LPPM UNPA/Maurens Sundoy )
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya








Penguatan kapasitas tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung konservasi penyu, khususnya penyu belimbing. Selain memperkuat keterampilan teknis di lapangan, kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya pesisir di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom bagi generasi mendatang.