Kategori
Belum Publish Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Uncategorized @id

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Penulis

Thomas Sembai

Tanggal

20 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Tambrauw, sebuah wilayah dengan visualisasi pegunungan, perbukitan, lembah yang elok, hutan, sungai panjang berkelok, serta lautan dan garis pantai panjang yang merupakan habitat penyu. Di pesisir Pantai Abun terdapat dua kampung kecil, tempat suara ombak dan angin menjadi lagu sehari-hari. Keduanya dipisahkan jalan setapak: bagian barat Kampung Wau, bagian timur Kampung Weyaf. Meski berbeda nama, masyarakatnya hidup berdampingan dan terhubung erat. Kedua kampung ini terletak di teluk yang berhadapan dengan laut, dengan kehidupan yang bergantung pada hasil alam yang melimpah, tanpa listrik, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang terbatas.

Di antara kedua kampung itu berdiri sebuah rumah sederhana berdinding setengah tembok dan papan. Setiap sore rumah itu ramai oleh anak-anak. Rumah itu bukan sekolah resmi, tanpa seragam,lonceng, maupun ijazah. Namun, di sanalah pendidikan tumbuh dan memberi harapan bagi masa depan anak-anak.

Rumah sederhana itu dikenal sebagai rumah belajar, sarana pendidikan bagi anak-anak. Setiap sore mereka berkumpul untuk belajar dengan suasana santai dan menyenangkan. Kegiatan diawali dan diakhiri dengan doa bersama. Materi yang dipelajari meliputi baca-tulis, hitung, computer-English (COMENG), pendidikan lingkungan hidup (PLH), serta ekstrakurikuler. Rumah belajar ini juga dilengkapi perpustakaan mini. Di sana, tidak ada rasa takut salah. Anak-anak bebas bertanya dan berdiskusi tentang hal-hal yang mereka temui setiap hari.

Thomas Sembai diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pendidikan Lingkungan Hidup tentang Penyu

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

 

Di kampung, anak-anak dan orang tua lebih mengenal kami sebagai “guru”, meskipun peran kami adalah PMNH (Pendamping Masyarakat dan Narahubung). Karena itu, bersama Ottow dan Titin, saya membagi tugas serta jadwal mengajar dari Senin hingga Sabtu. Adapun kelas dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelas kecil yang terdiri dari anak-anak SD kelas 1-2 yang diajarkan oleh Titin, kelas sedang yang terdiri dari anak-anak SD kelas 3-4 yang diajarkan oleh saya, dan kelas besar yang terdiri dari anak-anak SD kelas 5-6 yang diajarkan oleh Ottow. Jadwal pembelajaran yang diajarkan adalah hari Senin baca-tulis, Selasa hitung, Rabu computer-English, Kamis pendidikan lingkungan hidup (PLH penyu dan PLH series 1-3 setiap akhir bulan), Jumat review materi, dan Sabtu ekstrakurikuler (apotek hidup, perpustakaan keliling, mencuci tangan, menggosok gigi, dan makan bersama). Kami tidak hanya mengajar di rumah belajar saja, melainkan kami juga diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam proses pembelajaran, banyak tantangan yang dialami, seperti menemukan karakter anak-anak yang berbeda, banyak anak-anak yang ikut orang tua pergi dulang emas saat libur, dan membantu orang mencari nafkah yang membuat mereka tidak hadir di rumah belajar. Setiap sore, kami berkeliling kampung, menyapa dan mengajak anak-anak untuk datang ke rumah belajar dan mengikuti pembelajaran. Setiap kelas yang diajar rata-rata paling banyak anak-anak adalah delapan orang dan paling sedikit satu orang, walaupun dengan kondisi seperti itu pembelajaran tetap dilakukan terkecuali anak-anak tidak ada yang datang ke rumah belajar untuk ikut pembelajaran.

Mengajar anak-anak tentang computer – English

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Pendidikan Lingkungan Hidup Bulanan tentang Abiotik dan Biotik

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Mengajar adalah panggilan hati, sebuah misi untuk menyalakan cahaya dalam diri manusia lain. Di balik setiap pelajaran yang disampaikan, ada empati, kesabaran, dan cinta yang tidak bisa dihitung dengan angka. Profesi lain mungkin berurusan dengan benda, sistem, atau angka. Tapi guru berurusan dengan jiwa manusia – sesuatu yang halus, rapuh, dan berharga. Itulah mengapa mengajar memerlukan hati yang tulus, bukan hanya kemampuan akademik. Ilmu tanpa hati hanya melahirkan hafalan, tapi hati tanpa ilmu bisa menumbuhkan kesadaran.

Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tapi menanamkan nilai. Seorang guru sejati tahu bahwa setiap anak datang dengan latar belakang, luka, dan potensi yang berbeda. Ia tidak memperlakukan mereka sebagai angka dalam rapor, melainkan sebagai pribadi yang sedang bertumbuh. Ia melihat lebih dalam daripada nilai ujian, karena mengetahui bahwa karakter jauh lebih penting daripada sekadar kepintaran. Guru yang mengajar dengan hati tidak hanya menuntun anak-anak untuk memahami pelajaran, tetapi juga memahami dirinya sendiri. Ia membimbing bukan untuk menjadikan anak-anak seperti dirinya, melainkan untuk membantu anak-anak menemukan versinya sendiri. Inilah yang membuat setiap kelas yang diisinya terasa hidup, karena ada cinta yang menyapa, bukan sekadar instruksi yang diperintahkan.

Mengajar anak-anak tentang baca-tulis

(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tidak ada murid yang sama, ada yang cepat menangkap pelajaran, ada yang butuh waktu. Ada yang tenang, ada yang berisik. Guru biasa mungkin mudah lelah menghadapi perbedaan itu, tapi guru yang mengajar dengan hati melihatnya sebagai ladang pengertian. Ia tahu bahwa setiap anak punya jalan tumbuhnya sendiri, dan tugasnya bukan menyeragamkan, tapi mendampingi. Ketika hati terlibat, pengajaran berubah menjadi proses kemanusiaan. Guru tidak sekadar menilai, tetapi juga mendengarkan. Ia tidak hanya menegur, tetapi juga memahami alasan di balik perilaku.  Dari kesabaran itulah lahir kepercayaan, hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar penghormatan formal di dalam kelas.

Dari rumah belajar sederhana itu, lahir mimpi-mimpi baru bagi setiap orang yang berhak untuk belajar dan berkembang. Cerita kampung di pesisir itu adalah tentang perjuangan di tengah keterbatasan, tentang anak-anak yang berlari mengejar mimpi di antara pasir, ombak dan angin. Di sana, pendidikan bukan sekadar belajar di kelas, tetapi juga tentang harapan bahwa suatu hari, mereka bisa membawa perubahan bagi kampung yang mereka cintai.

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template Uncategorized @id

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Penulis

Yusuf Jentewo

Tanggal

30 Maret 2026

Gagasan pembentukan kelompok kerja penyu belimbing Indonesia pertama kali mengemuka dalam Leatherback Expert Meeting di Jakarta pada September 2025. Dari ruang diskusi tersebut, muncul kesadaran bersama akan pentingnya sebuah wadah kolaboratif yang dapat menyatukan berbagai pihak dalam upaya pelestarian penyu belimbing di Indonesia. Sebagai langkah awal, dilakukan penyebaran kuesioner penjaringan aspirasi pada 2–30 November 2025 kepada instansi dan kelompok terkait. Sebanyak 18 responden berpartisipasi dan secara kuat menyuarakan bahwa kelompok kerja ini perlu segera dibentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pertemuan inisiasi akhirnya dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam proses ini, Program Sains untuk Konservasi (S4C) tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga berperan sebagai salah satu penggerak utama. Keterlibatan ini berangkat dari pengalaman panjang tim S4C dalam melakukan upaya pelestarian penyu—khususnya penyu belimbingdi Taman Pesisir Jeen Womom, yang menjadi salah satu lokasi kunci bagi keberlangsungan populasi penyu belimbing di Pasifik Barat.

Pemaparan materi oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupang 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Kelompok kerja ini diperlukan sebagai wadah kolaborasi pemerintah, pemerhati, praktisi, dan peneliti penyu belimbing di Indonesia. Pertemuan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Jakarta serta daring melalui Zoom bagi mitra di daerah. Sekitar belasan peserta hadir langsung dan 62 peserta mengikuti secara daring. Peserta berasal dari satu direktorat KKP, empat balai pengelolaan kelautan (Denpasar, Kupang, Pontianak, dan Pekanbaru), dua loka pengelolaan kelautan, tiga universitas dalam negeri (Universitas Syiah Kuala, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi), dua universitas luar negeri (University of Hawaii dan Wageningen University), dua laboratorium genetik, serta tiga yayasan lingkungan.

Pertemuan ini dibuka oleh perwakilan Direktorat Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang menyampaikan bahwa penyu belimbing merupakan spesies prioritas dalam EPANJI serta tercakup dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) penyu Indonesia. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 13 pemateri yang memaparkan program pemantauan penyu belimbing, mencakup aktivitas di pantai peneluran, interaksi dengan nelayan, temuan individu terdampar, serta analisis genetik spesies ini.

Pemaparan materi oleh Program Sains untuk Konservai, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Deasy Lontoh)

Program Sains untuk Konservasi (S4C), yang diwakili oleh Deasy Lontoh sebagai koordinator penelitian penyu, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, perlindungan sarang, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadartahuan terkait penyu. Dalam paparannya, disampaikan bahwa Pantai Jeen Womom di Tambrauw, Papua Barat Daya, merupakan salah satu lokasi peneluran utama bagi penyu belimbing subpopulasi Pasifik Barat. Lebih jauh, Deasy juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian spesies, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kemitraan, guna memastikan keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang. Dalam sesi yang sama, perwakilan lembaga lain turut memaparkan keberadaan penyu belimbing dari populasi Samudra Hindia yang bertelur di sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan.

Pemaparan awal terkait kebijakan penyu di Indonesia
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Materi yang dipaparkan menegaskan bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi penyu belimbing, spesies penyu terbesar yang masih hidup. Keberadaan dua populasi, yaitu Pasifik dan Hindia, menjadikan Indonesia wilayah yang unik. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi instansi, peneliti, dan pemerhati dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah tersebut.

Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai bentuk kelompok kerja dan peluang kolaborasi ke depan. Kelompok ini diharapkan aktif dan produktif dalam menghasilkan luaran kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kapasitas melalui pertukaran metode dan pembelajaran dari berbagai lokasi.

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Yaku Danyel Bafat: Menjaga dan Melindungi Penyu di Jeen Syuab Selama Musim Teduh dan Musim Ombak

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Yaku Danyel Bafat: Menjaga dan Melindungi  Penyu  di Jeen Syuab Selama Musim Teduh dan  Musim Ombak 

Penulis

Danyel Bafat

Tanggal

05 Maret 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo teman-teman, perkenalkan saya Danyel Bafat. Banyak teman atau orang terdekat biasa memanggil saya dengan sebutan Dani atau Niel. Saya bergabung dalam Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA pada tahun 2024. Tepat pada tanggal 15 April 2024, saya resmi menjadi tim pantai (kru) dan ditempatkan di Pos Jeen Syuab untuk dua musim, yaitu musim teduh dan musim ombak. Sebagai penjelasan, Pantai Jeen Syuab memiliki dua musim peneluran, yaitu musim teduh pada bulan April hingga September dan musim ombak pada bulan Oktober hingga Maret. Saya menjadi Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Jeen Syuab dari April 2024 hingga Maret 2026.

Pengalaman ini sangat berharga bagi saya. Sejak kecil, saya sering melihat penyu dewasa dan telur penyu karena saya berasal dari kampung yang berdekatan dengan pantai peneluran penyu Jeen Syuab, tetapi belum pernah melihat tukik (anak penyu). Baru setelah bergabung sebagai kru, saya bisa melihat dan memegang tukik hasil relokasi sarang yang dipindahkan ke kandang relokasi.  Tujuan saya bergabung dalam tim pantai Program Sains untuk Konservasi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) adalah untuk belajar dan bekerja dalam upaya konservasi penyu di Kabupaten Tambrauw yang kini terancam akibat perburuan daging penyu serta pengambilan telur untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan. Saya percaya dengan hadirnya LPPM UNIPA, penyu di Tambrauw dapat selamat dari berbagai ancaman tersebut. Penyu sangat penting bagi ekosistem laut dan juga menjadi kebanggaan masyarakat Tambrauw serta Tanah Papua.

Dalam upaya ini, UNIPA juga berkomitmen untuk terus meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan di pantai peneluran. Berbagai perannya termasuk yang sudah berjalan seperti penyediaan kandang relokasi, tenaga pemindahan sarang, dan patroler lokal yang berkontribusi penting dalam kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang.

Pengukuran kedalaman logger suhu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Herman Ayomi)

Tim sedang merelokasi sarang yang terancam pasang surut
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Saat pertama tiba di Pos Wermon, saya dilatih oleh Kakak Jhoni Mau (TLP2 lama) dan Petrus Batubara (Koordinator Pantai) mengenai aktivitas monitoring malam: mengukur penyu, melakukan scan, dan memasang penanda pada penyu baru. Pagi hari biasanya kami berolahraga sambil melakukan monitoring jejak penyu, menikmati pemandangan pantai yang indah, dan suara ombak yang merdu. Seiring berjalannya waktu, saya semakin terbiasa melakukan monitoring malam secara mandiri hingga pagi hari.

Dalam monitoring malam, saya bertemu banyak penyu baru dan juga penyu lama dengan nomor penanda PIT (Passive Integrated Transponder) tag berawalan 12 dan 13. Penyu lama ini biasa disebut “orang lama” karena sudah naik sejak tahun 2010–2015. Bahkan saya pernah bertemu penyu lama dengan PIT tag tanggal 25 Januari 2006. Menariknya, penyu baru yang dipasang penanda bisa kembali naik hingga 7 kali dalam sebulan selama masih bertelur. Dari sini saya belajar bahwa tidak semua penyu hilang setelah naik. Mereka hanya pergi mencari makan atau kawin hingga ke Amerika atau tempat lain, tapi tetap kembali ke Pantai Jeen Syuab sebagai tempat ternyaman untuk bertelur. Selain penyu belimbing, saya juga sering bertemu penyu sisik, penyu hijau, dan jenis penyu kecil lainnya yang biasanya naik paling banyak pada bulan April hingga Juni.

Pengukuran lebar karapas penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Proses scan penanda PIT Tag kepada penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pantai Jeen Syuab)

Suatu kebanggaan bagi saya saat bekerja di musim teduh adalah ketika dilatih dan dipercaya membawa perahu Vien, menjaga genset pos, mengontrol sarang relokasi, serta menginput data untuk dikirim ke kantor. Tantangan terbesar adalah saat monitoring malam, kadang bertemu dengan hewan melata yang berbahaya, seperti ular, dan buaya. Saat membawa perahu, salah hitung ombak bisa berbahaya karena ombak bisa masuk ke perahu. Kadang saat menjemput barang di kapal, kami harus berhadapan dengan gelombang besar dan angin kencang. Namun, kami selalu percaya masih dalam lindungan Tuhan.

Tantangan di musim ombak berbeda. Pantai hanya selebar 10 meter dengan tebing curam. Setiap hari Sabtu kami berjalan kaki pulang-pergi sejauh 12 km menuju kampung untuk mengikuti ibadah Minggu. Biarpun bekerja keras di pantai peneluran, kami senang ketika kembali ke kampung, selain beribadah, juga berjumpa dengan masyarakat lain untuk berbagi cerita.

Dalam upaya melindungi penyu dan sarangnya di Pantai Jeen Syuab, saya menyadari bahwa penyu belimbing telah memilih pesisir Pantai Jeen Womom di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw sebagai tempat yang nyaman untuk bertelur. Ini menjadi berkat sekaligus kepercayaan bagi kita untuk memastikan mereka tetap merasa aman di pantai ini, sehingga terus kembali untuk bertelur di masa mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Heading

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Resye dan Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Dari ...
/

Dari Sulaman Benang ke Penyu: Pelatihan Amigurumi di Kampung Wau dan Weyaf

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Dari ...
/

Mengajar: Sebuah Profesi yang Berdenyut di Ruang Hati

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Mengajar: ...
/

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Akhir KP2, TLP2, dan TPS Tahun 2026 Salam Lestari…Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang ...
/

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua Cerita ...
/

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana PenulisYusup JentewoTanggal02 April 2026 Pada 9–14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah “The 12th ...
/