Kategori
Belum Publish Uncategorized @id

Catatan Si Karang

Catatan Si Karang

Penulis

Habema Monim

Tanggal

14 Januari 2026

Aku tumbuh perlahan, jauh lebih lambat daripada waktu yang dipahami manusia. Setiap tahun, tubuhku hanya bertambah beberapa milimeter lapisan tipis kalsium yang merekam suhu laut, kejernihan air, dan cahaya matahari. Aku tidak bisa berpindah ketika arus membawa lumpur atau panas datang terlalu lama. Aku hanya bertahan, diam, dan mencatat dengan caraku sendiri.

Dulu, kehidupan di sekitarku terasa seimbang. Ikan herbivora memakan alga yang mencoba menutup tubuhku, ikan besar melintas seperti penjaga yang setia, dan larva karang muda menemukan tempat untuk tumbuh. Kini, keseimbangan itu mulai goyah. Ikan-ikan semakin jarang, alga tumbuh lebih cepat, dan ruang bernapas makin sempit. Dari atas permukaan, laut ini mungkin masih tampak indah. Namun keindahan sering kali menipu.

Aku tidak bisa berteriak ketika warnaku memudar akibat panas yang berlebihan. Aku tidak bisa memberi tanda ketika alga mulai mengalahkanku sedikit demi sedikit. Perubahanku berlangsung pelan, nyaris tak terlihat, tetapi pasti. Tanpa seseorang yang mau mengamati dan mencatat, penderitaanku akan dianggap biasa atau bahkan tidak ada.

Karang Memudar (Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Karang Tertuup Alga (Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suatu hari, manusia datang. Mereka turun perlahan, membawa meteran, papan tulis, dan kamera. Mereka membentangkan garis lurus di atas tubuhku dan menghitung apa yang hidup, apa yang mati, dan apa yang mulai berubah. Mereka menyebutnya ”Reef Health Monitoring”. Aku tidak mengerti istilah itu, tetapi aku merasakan kehati-hatian mereka. Mereka tidak merusak, hanya mengamati. Seolah mereka tahu bahwa setiap sentuhan yang salah bisa menjadi luka baru bagiku.

Pengambilan Data Karang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Tahun demi tahun, mereka datang kembali ke tempat yang sama. Mereka mencatat tutupan karang hidup, jumlah ikan yang hadir dan yang lainnya. Dari sudut pandangku, kunjungan itu adalah satu-satunya saat ketika perubahan sunyiku diperhatikan. Dari sudut pandang mereka, data itu menjadi bukti: ”bahwa terumbu tidak rusak secara tiba-tiba, tetapi menurun perlahan ketika tekanan dibiarkan terus terjadi”.

Ketika laut memanas dan aku memutih, mereka mencatatnya. Ketika ikan herbivora berkurang dan alga meningkat, mereka menuliskannya. Mereka mengubah tubuhku menjadi angka dan grafik, tetapi justru melalui itulah ceritaku didengar. Tanpa monitoring, manusia mungkin hanya akan datang saat aku telah runtuh menjadi puing.

Hamparan Karang Sehat (Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Aku hanyalah satu karang kecil di antara ribuan, tetapi dataku menjadi bagian dari kisah ekosistem yang lebih besar. Dari catatan-catatan itu, manusia mulai memahami bahwa pengelolaan laut tidak bisa didasarkan pada apa yang terlihat sesaat, melainkan pada perubahan yang terukur dari waktu ke waktu. Reef Health Monitoring adalah bahasa yang menjembatani dunia mereka dan dunia kami.

Aku tidak tahu bagaimana masa depan kami dan laut ini. Namun selama masih ada yang datang untuk mengamati, mencatat, dan belajar, masih ada harapan bahwa catatan sunyiku tidak berakhir sia-sia.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi​

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Khofifa: Dari Konservasi ke Kontemplasi

Penulis

Khofifa Indah Pratiwi Syahrudin

Tanggal

06 Januari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Panggilan yang Membawa ke Timur

Semuanya berawal dari sebuah postingan di Instagram milik Science for Conservation yang di-repost salah satu akun komunitas konservasi di Sulawesi Tengah tentang pembukaan lowongan kru pantai peneluran penyu. Awalnya aku tidak berniat untuk mendaftar, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku mencoba melengkapi semua berkas. Tak ada ekspektasi besar untuk diterima, namun Tuhan berkehendak lain.

Aku berangkat dari Sulawesi menuju Manokwari—tempat yang bahkan belum pernah kupijak sebelumnya. Perjalanan ini terasa seperti keputusan besar, karena aku datang tanpa siapa-siapa, hanya membawa keyakinan dan rasa ingin tahu tentang dunia konservasi, khususnya penyu.

Aku pernah meneliti kura-kura saat kuliah, dan dari situlah muncul pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau kali ini aku belajar dari penyu?” Akhirnya, aku tiba di pantai tempat aku akan tinggal selama berbulan-bulan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pasir, aku terdiam lama—menyadari bahwa langkah kecil ini akan menjadi awal dari perjalanan besar.

Foto bersama tamu dari luar negeri yang ingin melihat penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Foto bersama tim pantai dan tim Pemberdayaan Masyarakat S4C
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Kehidupan di Lapangan: Antara Dini Hari dan Cahaya bulan

Kehidupan di pantai dimulai ketika kebanyakan orang sedang tidur. Setiap malam pukul sepuluh, kami memulai patroli di bawah cahaya bulan, berjalan menyusuri pasir sejauh beberapa kilometer hingga dini hari. Suara ombak dan gelapnya menyesuaikan diri.

Malam-malam itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku menemukan jejak penyu, lalu bertemu langsung dengan penyu belimbing pertamaku—raksasa lembut yang membuatku kagum, gugup sekaligus takut. Saat memasang Passive Integrated Transponder (PIT) tag untuk pertama kali, aku menangis. Sebab aku takut menyakiti penyu belimbing tersebut, tetapi setelah aku berhasil melakukan pemasangan chip pada induk penyu belimbing aku sadar bahwa, aku sedang menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kehidupan.

Keesokan harinya, kami melindungi sarang-sarang penyu. Ada sarang yang harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan ombak, ada yang diberi pagar daun pakis agar aman dari predator. Di sanalah aku belajar bahwa setiap tindakan kecil, seperti menancapkan pagar atau memindahkan telur, punya arti besar untuk kelangsungan hidup mereka.

Rasa lelah terbayar setiap kali melihat tukik menetas dan berlari menuju laut. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—seolah setiap langkah kecil mereka membawa pesan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Khofifa dan tim melakukan pengukuran terhadap penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Interaksi dan Toleransi: Cerita di Balik Konservasi

Awalnya, beradaptasi dengan tim bukan hal yang mudah. Logat mereka cepat, nada bicara tinggi, dan aku sempat mengira mereka marah. Namun ternyata, itulah cara mereka menunjukkan keakraban. Lama-kelamaan, suasana berubah. Dari yang awalnya pendiam, aku menjadi orang yang suka bercanda, ikut tertawa, bahkan saling roasting satu sama lain.

Aku satu-satunya yang muslim di antara mereka semua di awal musim, akan tetapi mereka menerimaku sepenuhnya. Mereka menghargai waktuku untuk ibadah dan sebaliknya, dan aku belajar bahwa perbedaan bukan penghalang—ia justru memperkaya. Dari mereka, aku belajar banyak hal: tentang keterbukaan, tentang cara berkomunikasi yang jujur, dan tentang keluarga yang bisa terbentuk tanpa ikatan darah.

Di sisi lain, aku juga menyadari bahwa pendidikan di sekitar pantai peneluran memegang peran penting. Di salah satu kampung di sekitar pantai peneluran penyu, ada sekolah yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar beberapa kelas sekaligus. Di tengan keterbatasan itu Science for Conservation juga menghadirkan rumah belajar—tempat anak-anak bisa menambah pengetahuan mereka di sore hari. Dari sana aku sadar, konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, tetapi juga tentang memberdayakan manusia agar tumbuh bersama alamnya.

Ombak, Arus dan Keberanian

Tak semua hari di pantai berjalan dengan tenang. Ada hari-hari ketika laut bergelombang tinggi dan arus terasa kuat. Saat itu, keberanian diuji. Aku masih ingat momen ketika kami harus mendorong perahu ke laut, menghitung waktu di antara ombak agar tidak terbalik. Terkadang mesin perahu tidak mau menyala, membuat detak jantungku berpacu. Tetapi setiap kali perahu berhasil menembus ombak, ada rasa lega dan bangga yang sulit dijelaskan. Dari laut, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tentang tetap bergerak meski takut ada.

Foto bersama setelah mencari udang di sungai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifa Pratiwi)

Penutup: Menjaga yang Hidup, Menemukan yang Bermakna

Lima bulan di pantai peneluran penyu mengubah banyak hal dalam diriku. Aku yang dulu ragu kini lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memahami arti kesabaran. Konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, hutan, atau laut—tetapi tentang menjaga nurani manusia agar tetap peka terhadap kehidupan.

Dari pasir yang lembut hingga ombak yang keras, aku belajar bahwa setiap bentuk kehidupan punya caranya sendiri untuk bertahan, dan tugas kita hanyalah menghormati ritme itu. Setiap tukik yang dilepaskan ke laut mengingatkanku bahwa menjaga kehidupan juga berarti berani melepaskan—melepaskan ego, ketakutan, dan keinginan untuk selalu mengendalikan.

Dari pantai ini, aku tidak hanya menemukan makna konservasi, tetapi juga menemukan diriku yang lebih utuh. Bahwa menjaga alam, sejatinya, adalah belajar hidup selaras dengannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Jejak Sosial dari Teluk Mayalibit​

Jejak Sosial dari Teluk Mayalibit

Tim monitoring sosial Teluk Mayalibit 2025

Penulis

Jeniffer Maleke dan Elisa Putra

Tanggal

30 Desember 2025

Kawasan konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Di dalam dan di sekitarnya, ada masyarakat yang hidup, beraktivitas, dan berinteraksi langsung dengan alam setiap hari. Oleh karena itu, memahami hubungan antara kawasan konservasi dan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pengelolaan yang berkelanjutan.

Pada tahun 2025, kami kembali melaksanakan monitoring sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Monitoring sosial merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun sekitar kawasan tersebut.

Rivaldo Heipon dan Jelly Palle sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warsambin
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Agustinus Aiwor dan Jackson Bundah sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Arawai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kezia Salosso)

Bersama Masyarakat di Teluk Mayalibit

Kegiatan ini dilaksanakan oleh 11 orang tim lapangan, yang terdiri atas 4 staf program—Kezia Salosso, Arnoldus Ananta, Marthinus Rumere, dan Jeniffer Maleke—serta 7 enumerator, yaitu Agustinus Aiwor, Jackson Bundah, Jelly Palle, Maria Bame, Rivaldo Heipon, Spenyel Yenusy, dan Thomas Sembai.

Spenyel Yenusy dan Maria Bame sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warsambin
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Jeniffer Maleke sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warimak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Selama berada di lapangan, tim banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat serta aparat kampung. Interaksi ini menjadi bagian penting dari proses monitoring, sekaligus ruang belajar bersama untuk memahami kehidupan masyarakat yang berada di dalam kawasan konservasi maupun wilayah sekitarnya.

Waktu dan Lokasi Kegiatan

Seluruh rangkaian kegiatan lapangan dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada 23 Oktober hingga 19 November 2025, di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Kawasan ini merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Area II dalam Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 13/KEPMEN-KP/2021 Tahun 2021.

Dalam periode tersebut, tim mengunjungi 13 kampung, dengan dua kampung berada di luar kawasan konservasi dan digunakan sebagai daerah kontrol untuk melengkapi proses pengumpulan informasi.

Pemandangan sore hari di Kampung Kabui
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ebi (udang kering)–salah satu hasil laut Kampung Beo
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Kezia Salosso)

Monitoring sebagai Peninjauan Berkala

Monitoring sosial tahun 2025 ini merupakan pengulangan kelima sejak survei dasar (Baseline Survey) tahun 2010. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari peninjauan berkala untuk melihat bagaimana kondisi sosial masyarakat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ekologi yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, serta interaksi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam, menjadi latar belakang penting dilakukannya monitoring ini. Melalui kegiatan ini, dilakukan pula peninjauan terhadap tata kelola sumber daya perairan sebagai referensi dalam pengelolaan KKP yang bersifat dinamis.

Proses Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaannya, tim melakukan pengumpulan data kondisi sosial masyarakat melalui wawancara rumah tangga. Selain itu, informasi mengenai tata kelola sumber daya perairan dikumpulkan melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara dengan informan kunci. Kegiatan ini juga mencakup upaya untuk mempelajari peran perempuan di dalam kawasan KKP dan wilayah sekitarnya, sebagai bagian dari gambaran sosial masyarakat secara menyeluruh.

Kezia Salosso dan Marthinus Rumere melakukan diskusi kelompok terarah bersama beberapa anggota masyarakat di Kampung Beo
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jackson Bundah)

Diskusi kelompok terarah bersama beberapa anggota masyarakat di Kampung Warimak
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Menjadi Dasar Pengelolaan ke Depan

Dari rangkaian kegiatan ini, kami memperoleh gambaran mengenai dinamika sosial masyarakat serta bagaimana masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Informasi yang terkumpul akan diolah lebih lanjut dan digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan KKP ke depan.

Melalui monitoring sosial ini, upaya pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit diharapkan dapat terus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat, seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan kawasan konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya