
Satu Meja, Banyak Cerita
Penulis
Prisca Nanda
Tanggal
2 September 2026
“Selamat pagi, Prisca,” atau “Selamat pagi, Kak Prisca.” Sapaan itulah yang hampir selalu terdengar mengawali hari antara pukul delapan hingga sembilan pagi. Hal ini dikarenakan meja kerja saya yang berada di dekat pintu masuk dan keluar karyawan, sehingga hampir setiap pagi saya menjadi salah satu orang pertama yang menyambut mereka.
Bagi banyak orang, Human Resources Department (HRD) mungkin hanya dipahami sebagai bagian yang mengurus gaji atau mencari pegawai baru. Namun, pada kenyataannya tugas HRD ternyata cukup beragam. Saya tidak hanya mencatat kehadiran karyawan, tetapi juga memastikan data mereka selalu diperbarui, membantu proses cuti dan keterangan sakit, menyiapkan kontrak kerja, serta mendukung kebutuhan tim yang akan bekerja di lapangan. Semua pekerjaan ini membutuhkan ketelitian karena berkaitan dengan karyawan dan pekerjaan yang mereka jalankan.
Rekapitulasi absensi karyawan.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)
Tampilan awal aplikasi My Cicle.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca Nanda)
Dari meja inilah pekerjaan saya dimulai. Salah satunya adalah mencatat dan merekap presensi karyawan. Nama-nama karyawan, jam datang, dan jam pulang semuanya tercatat. Secara rutin, saya juga mengingatkan seluruh karyawan untuk mengisi aplikasi MyCicle.
Aplikasi MyCicle digunakan untuk melaporkan pekerjaan harian yang telah diselesaikan oleh karyawan selama satu pekan. Kelihatannya sederhana, tetapi jika tidak diingatkan, karyawan bisa tercatat “terlambat menyelesaikan pekerjaan” dan hal tersebut dapat memengaruhi performance mereka pada aplikasi MyCicle.
Setiap bulan, sistem aplikasi MyCicle akan merekap performance pekerjaan setiap karyawan. Rekapan tersebut menjadi acuan dalam melihat kinerja karyawan, khususnya dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan. Dengan adanya MyCicle, pekerjaan saya juga menjadi lebih mudah. Saya tidak perlu lagi mengingat satu per satu pekerjaan yang telah dilakukan oleh setiap karyawan, karena semuanya sudah tercatat di dalam sistem. Ketika pimpinan bertanya tentang kinerja seorang karyawan, saya dapat memberikan penjelasan berdasarkan catatan pekerjaan yang ada.
Penjelasan travel authorization ke salah satu karyawan.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)
Tampilan awal aplikasi My Cicle.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca Nanda)
Selain itu, MyCicle mempermudah saya untuk memantau pengajuan cuti, memproses keterangan sakit, serta mengatur kesepakatan bagi mereka yang bekerja secara WFA (Work from Anywhere). Semua pekerjaan ini membutuhkan ketelitian karena berkaitan dengan data dan hak karyawan. Saya harus memastikan data karyawan selalu lengkap, benar, dan diperbarui. Hal ini penting agar hak karyawan dapat terpenuhi sesuai aturan dan pekerjaan kantor dapat berjalan dengan baik.
Selama kurang lebih dua tahun bekerja, saya juga mulai mengenal berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan oleh tim. Ada tim atau program yang lebih banyak bekerja di kantor, ada yang harus turun ke lapangan pada waktu tertentu, dan ada pula yang memang direkrut khusus untuk bekerja di lapangan. Karena itu, pekerjaan saya tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan karyawan di kantor, tetapi juga mendukung persiapan tim yang akan berangkat ke lapangan.
Ketika tim akan turun ke lapangan, salah satu tugas saya adalah menyiapkan travel authorization. Saya juga perlu memastikan kontrak kerja setiap tim sudah sesuai karena di dalamnya terdapat informasi penting mengenai pekerjaan dan ketentuan yang harus diperhatikan. Data tersebut harus dijaga kerahasiaannya dan hanya dapat diketahui oleh pimpinan, HRD, dan pihak yang bertanda tangan.
Kontrak juga menjadi bagian penting dalam proses penerimaan karyawan baru. Ketika ada pembukaan lowongan kerja di suatu program, pekerjaan administrasi saya menjadi lebih banyak karena saya terlibat mulai dari proses perekrutan, menyiapkan dokumen, hingga memastikan kebutuhan administrasi tim terpenuhi.
Selama bekerja di Sains untuk Konservasi, saya melihat antusiasme yang tinggi dari pelamar yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, dari ujung barat hingga timur. Dalam kurun waktu 2024–2026, jumlah pelamar sudah mencapai sekitar 541 orang. Bagi saya, angka tersebut menunjukkan besarnya minat orang-orang untuk menjadi bagian dari pekerjaan yang dilakukan oleh Sains untuk Konservasi.
Penandatanganan kontrak dengan tim PMNH.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)
Penandatanganan kontrak dengan tim PMNH.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kei Mongdong)
Dari pekerjaan sehari-hari tersebut, saya melihat bahwa pekerjaan HRD bukan hanya tentang dokumen. Di balik absen ada karyawan yang sedang memulai pekerjaannya. Di balik kontrak ada tugas dan tanggung jawab yang akan dijalankan. Di balik travel authorization ada tim yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke lapangan. Semua pekerjaan tersebut saling berkaitan dan menjadi bagian dari cara saya membantu karyawan menjalankan tugas mereka.
Pada akhirnya, dari meja kerja sederhana ini saya belajar bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan cara kerja yang berbeda. Ada yang setiap hari bekerja di kantor, ada pula yang harus pergi jauh serta tinggal berbulan-bulan di pelosok pesisir. Mungkin bagi orang lain, meja ini hanyalah tempat kerja biasa. Namun, bagi saya, dari sinilah saya belajar mengenal banyak orang dan menyadari bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana dapat membantu orang lain menjalankan tugasnya dengan lebih baik.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
