Menyapa Novel: Kisah Tenaga Lokal Menjaga Penyu di Jeen Womom

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

11 Agustus 2026

Setelah pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang di Taman Pesisir Jeen Womom berakhir, kami dari Tim Outreach beranggotakan 2 orang, yaitu Elisa Putra dan Kei Mongdong, mewancarai salah satu tenaga lokal asal Kampung Resye bernama Novel yang terlihat antusias selama mengikuti pelatihan di Pantai Batu Rumah pada tanggal 26–27 Mei 2026. Berikut isi hati Novel yang telah saya tuliskan dalam artikel ini.

Novelius Benjamin Yesnath, yang akrab dipanggil Novel, merupakan salah satu tenaga lokal pemindahan sarang penyu asal Kampung Resye. Keterlibatannya dalam kegiatan perlindungan penyu masih terbilang baru. Namun, sebelum resmi bergabung, ia telah lebih dulu belajar dari tenaga lokal lain yang sudah berpengalaman dalam memindahkan sarang penyu di Jeen Womom.

Bagi Novel, pengalaman pertamanya memindahkan telur penyu tidak datang tanpa rasa takut. Saat tangannya mulai mengangkat telur-telur kecil dari dalam sarang, ia khawatir telur-telur tersebut akan pecah.

“Pertama kali angkat telur penyu itu, takut kalau telurnya pecah,” kenangnya. 

Seiring berjalannya waktu, rasa takut itu perlahan berubah. Ia mulai terbiasa mengangkat dan memindahkan telur dengan lebih hati-hati. Namun, dari pengalaman tersebut ia juga memahami bahwa pekerjaan ini bukan sekadar memindahkan telur dari satu tempat ke tempat lain. Ada tanggung jawab untuk memastikan telur tetap aman hingga nantinya menetas.

Kaka Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi1

Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Loise Liberta Loar)

Kaka Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi2

Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Loise Liberta Loar)

Keputusan Novel untuk terlibat sebagai tenaga lokal pun berangkat dari kepedulian terhadap kondisi penyu yang ia lihat semakin berkurang.

“Motivasi saya menjadi tenaga lokal pemindahan sarang karena sadar bahwa semakin hari penyu semakin berkurang,” ujarnya.

Dalam proses belajar, ada satu tahap yang menurut  Novel cukup sulit, yaitu ketika ia harus belajar menusuk sarang untuk menemukan posisi telur. Pada tahap ini, ia masih membutuhkan arahan dari tenaga yang lebih terampil.

“Kalau rasa susah itu waktu belajar mencoba menusuk sarang. Waktu itu saya masih perlu adanya arahan dari tenaga yang sudah lebih lihai,” ceritanya.

Bagi seseorang yang baru belajar, pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian dan keberanian. Setiap gerakan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak membahayakan telur yang berada di dalam sarang. Karena itu, belajar dari mereka yang lebih berpengalaman menjadi bagian penting dalam prosesnya. Kini, setelah beberapa kali mencoba, rasa takut itu mulai berganti dengan kepercayaan diri. Novel perlahan memahami cara memperlakukan telur penyu dengan lebih hati-hati. Namun, semakin ia belajar, semakin ia menyadari bahwa menjaga sarang bukan hanya tentang keterampilan teknis. Ada tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan kehidupan baru di dalam telur-telur tersebut tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh. Keterlibatannya sebagai tenaga lokal juga membuat Novel semakin memahami bahwa perlindungan penyu tidak berhenti pada telur yang berhasil dipindahkan. Pantai peneluran penyu juga harus dijaga. Melalui pelatihan yang diikutinya, ia mendapatkan pengetahuan baru mengenai berbagai ancaman yang dapat memengaruhi keberlangsungan penyu di Jeen Womom. Salah satunya adalah aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu habitat mereka.

Ketika ditanya mengenai adanya kegiatan pertambangan di kawasan Jeen Womom, Novel berharap kegiatan yang dapat berdampak terhadap penyu tidak dilakukan.

“Menurut saya, kegiatan itu tidak usah dilakukan karena materi-materi berdampak ke penyu. Jadi, takutnya penyu-penyu itu terkena virus dan penyu-penyu itu tidak naik lagi ke pantai ini. Jadi rasa kasihan juga,” ungkapnya.

Tidak semua ancaman terhadap penyu sebelumnya ia ketahui. Ia mengaku baru memahami beberapa di antaranya setelah mengikuti pelatihan. Salah satu hal yang membuatnya prihatin adalah informasi mengenai penyu yang diburu dan diperjualbelikan.

“Saya baru tahu soal ini dari materi kemarin di pelatihan. Kemarin ada penyu yang diburu dan dijual, jadi saya rasa kasihan,” katanya.

Pengetahuan baru tersebut kemudian membuat pandangannya terhadap perlindungan penyu semakin luas. Menurutnya, menjaga penyu bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga yang bekerja di lapangan. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar pantai juga memiliki peran yang sama pentingnya.

Kesadaran itu, menurut Novel, dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Pantai perlu dijaga agar tetap aman bagi penyu yang datang untuk bertelur.

“Harapan saya, kita di sini harus memiliki kesadaran dalam menjaga. Kita juga harus melindungi pantai seperti yang sudah dikatakan waktu pelatihan. Jangan bakar api di pantai. Kebanyakan ada yang membakar api dan ketika penyu naik, dia mati.”

Ia juga mengingatkan aktivitas perahu di sekitar pantai. Minyak yang terbuang ke laut dikhawatirkan dapat menjadi ancaman bagi penyu apabila termakan.

“Terus ada yang lewat-lewat dengan perahu dan buang minyak, takutnya penyu makan dan mati. Harapan saya jangan kayak begitu, harus tetap menjaga.

Meski baru menjalani pekerjaan ini dalam waktu yang singkat, Novel telah menemukan pengalaman yang berkesan. Di tengah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, ia justru menemukan sisi lain yang menyenangkan dari berada di pantai. Menurutnya, mengangkat telur penyu sembari melihat pemandangan pantai menjadi pengalaman yang ia nikmati.

Pemandangan Pantai Batu Rumah.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

“Pengalaman yang berkesan sementara mengangkat telur penyu itu ya healing. Sambil mengangkat telur penyu, saya bisa melihat pemandangan pantai. Saya merasa asyik dan menikmati,” ujarnya.

Bagi dirinya, pantai kini bukan hanya tempat ia menjalankan tugas. Di sana ia belajar tentang penyu, belajar dari tenaga yang lebih berpengalaman, sekaligus menikmati lingkungan yang sedang ia bantu jaga.

Dua hari pelatihan yang diikutinya menjadi kesempatan bagi Novel untuk menambah pengetahuan. Ia tidak hanya mendapatkan materi dan kesempatan untuk praktik, tetapi juga mendengarkan cerita serta pengalaman dari para tenaga lokal yang berasal dari kampung. “Dari pelatihan dua hari ini yang saya dapatkan itu pengalaman baru dan juga cerita-cerita pengalaman dari bapak-bapak yang dari kampung, mendapatkan materi, dan praktik,” katanya. Meski begitu, sebagai seseorang yang masih dalam tahap belajar, ia merasa praktik langsung di lapangan akan membuat proses memahami materi menjadi lebih mudah. Baginya, pengalaman mencoba secara langsung dan mendapatkan arahan dari tenaga yang lebih berpengalaman merupakan bagian penting dalam proses belajar.

Novel sedang mengikuti praktik relokasi sarang oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Maurens Sundoy)

“Lain kali pelatihannya langsung praktik saja karena ada yang hanya diberikan materi kurang mengerti. Materi sedikit saja dan diperbanyak dengan praktik,” harapnya.

Perjalanan Novel sebagai tenaga lokal pemindahan sarang penyu memang baru dimulai. Dari rasa takut saat pertama kali memindahkan telur penyu, kini ia perlahan memahami bahwa setiap telur yang dipindahkan membawa tanggung jawab untuk menjaga kehidupan baru.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya