Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi

Diseminasi Hasil Monitoring Sosial Ekonomi dan Monitoring Ekologi Pada KKP TNTC di Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Universitas Papua bekerjasama dengan USAID, Blue Abadi Fund (BAF), CI dan TNC telah melakukan monitoring sosial ekonomi dan ekologi masyarakat di daerah Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Monitoring ini dilakukan pada enam Kawasan Konservasi Perairan (KKP), dimana salah satunya adalah wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC). Kegiatan yang dilakukan sejak tahun 2010 ini memberikan banyak sekali informasi. Informasi yang diperoleh disajikan dalam bentuk laporan profil kampung, profil distrik, laporan KKP, dan laporan social impact KKP. Salah satu tujuan dari monitoring ini adalah untuk memberikan gambaran bagaimana keadaan sosial masyarakat dan bagaimana keadaan ekologi di daerah KKP yang mana keadaan ini dapat menjadi acuan pihak-pihak pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah daerah setempat. Penyampaian hasil monitoring dilakukan pada kegiatan diseminasi di beberapa tempat dimana lokasi KKP berada, salah satunya adalah di Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC).

Diseminasi Hasil Monitoring Sosial Ekonomi dan Monitoring Ekologi pada KKP TNTC di Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Foto : Tim BHS Ekologi Unipa

Pertemuan antara Universitas Papua dan BBTNTC berlangsung  pada hari  Jumat 19 Juli 2019 pukul 09.30 s.d selesai, bertempat di Ruang Rapat Kantor Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan dibuka oleh Kepala BBTNTC. Kegiatan ini dihadiri oleh delapan belas orang. Hasil kegiatan monitoring sosial dan ekologi yang dilaporkan meliputi hasil survei di semua kampung KKP Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Pemaparan yang dilakukan meliputi pendekatan monitoring yang digunakan, teknik penarikan sampel, metode pengumpulan data, indikator yang digunakan untuk sosial ekonomi maupun ekologi. Informasi yang dimaksud terdiri dari kondisi saat  ini dan perkembangan yang terjadi mengenai bidang sosial dan ekonomi serta bidang ekologi.

Kondisi saat ini dianalisa dari hasil survei yang dilakukan tahun terakhir yaitu Tahun 2017, sedangkan perubahan/trend diamati dari hasil monitoring awal/baseline sampai pada monitoring terakhir, total ada 4 kali monitoring. Selain itu, perbandingan hasil survei sosial ekonomi maupun ekologi di area KKP TNTC dengan area KKP yang ada di Bentang Laut Kepala Burung dipaparkan pada kegiatan ini. Hal ini bertujuan untuk melihat posisi area KKP TNTC terhadap area KKP lainnya, untuk semua indikator pendukung   yang berkaitan dengan sosial ekonomi dan ekologi.

Hasil kegiatan monitoring yang telah dilakukan, diharapkan dapat membantu BBTNTC untuk mengambil tindakan atau kebijakan yang dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat serta perlindungan dan konservasi KKP Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Kategori
Uncategorized @id

Pengumuman Lulus Seleksi Tahap 2 Calon Pendamping Masyarakat (Periode Oktober-Desember 2019)

Pengumuman Lulus Seleksi Tahap 2 Calon Pendamping Masyarakat

(Periode Oktober-Desember 2019)

Pengelola kegiatan pemberdayaan masyarakat di Distrik Abun Kabupaten Tambrauw, telah melaksanakan tahap seleksi ke-2 yaitu Wawancara pada hari Senin, 23 September dari pukul 09.00-15.00 WIT di Kantor Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Calon Pendamping Masyarakat yang mengikuti seleksi sebanyak 14 orang dan yang dinyatakan LULUS untuk lanjut pada seleksi pelatihan sebanyak 10 orang.

Silahkan download  daftar nama lolos seleksi di bawah ini :

Kami mengucapkan selamat kepada Sdr/i untuk lolos pada seleksi wawancara. Tahap selanjutnya Kami mengundang Sdr/i untuk hadir dan mengikuti kegiatan Pelatihan Pendamping Masyarakat yang akan dilaksanakan pada 25-27 September 2019 bertempat di Kantor Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan Pelatihan akan berlangsung mulai jam 09:00 – 17:00. Para peserta dimohon untuk berpakaian rapi dan sopan serta hadir 15 menit sebelum pelatihan dimulai.

WAKTU SELEKSI PELATIHAN

Tanggal 25-27 September 2019

Pukul 09.00-17.00 WIT

Sekretariat :
Center of Excellence for Sustainable Development in Papua
Jln.Brawijaya No.250 Makalew
Manokwari-Papua Barat

Narahubung :
Alberto T.Allo : 0812 3575 8357
Kartika Zohar : 0812 4765 9743

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Periode Maret-April 2019 : Program Pemberdayaan Masyarakat – Blue Abadi Fund (BAF) Siklus 2

Sains untuk Konservasi

Foto : Tim Abun Humas

Sebagai salah satu upaya mendukung upaya konservasi penyu belimbing di Papua Barat, Universitas Papua melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat pada kampung-kampung yang terletak dekat dengan pantai peneluran penyu belimbing di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw -Papua Barat.

Manfaat yang akan didapat masyarakat, diantaranya: anak-anak usia sekolah meningkat dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, masyarakat belajar teknik mengolah pangan untuk memperpanjang umur simpan hasil pertanian serta mengajarkan cara hidup sehat sederhana terutama bagi anak-anak. Terdapat 9 orang Pendamping Masyarakat (PM) yang kemudian akan melakukan kegiatan pendampingan di setiap kampung untuk periode Maret hingga Agustus 2019 dengan melakukan program-program yang telah disampaikan pada Pelatihan Pendamping Masyarakat (25-27 Juli 2019). Selama periode Maret hingga Agustus 2019, terdapat 3 tim yang akan bekerja pada 3 kampung.

Selama periode tersebut juga akan dilakukan monitoring dan evaluasi setiap bulan yang berfungsi memastikan program-program yang direncanakan dapat diimplementasi dengan baik di lapang. Pada Monev I (25 Maret – 10 April), hasil yang diperoleh :

  • Surat pengantar pemberitahuan telah di diberikan kepada aparat kampung dan pihak sekolah pada ketiga kampung melalui PM Masyarakat yang berangkat pada Kamis, 21 Maret 2019.
  • Pertemuan bersama masyarakat di Kampung Wau-Weyaf terjadi pada 31 Maret 2019, diskusi tentang kegiatan pemberdayaan (kegiatan rumah belajar, kegiatan pembuatan noken, dan kegiatan pembuatan minyak kelapa), di lakukan di Gedung Gereja Wau. Hasilnya: Masyarakat tertarik untuk ikut melakukan kegiatan dengan besaran jasa yang dibayarkan.
  • Pertemuan bersama masyarakat di Kampung Saubeba terjadi pada 1 April 2019, yang diwakili oleh pemilik ulayat/tua-tua kampung (Bpk. Benyamitus Yessa), mendiskusikan terkait kegiatan di Rumah Belajar, Kegiatan pembuatan noken, dan kegiatan pembuatan minyak kelapa. Hasilnya: Kegiatan di Rumah Belajar akan tetap dilakukan meskipun kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar di Saubeba akan diliburkan terkait dengan PEMILU, Perayaan Paskah, dan UAS Sekolah Dasar (estimasi dari kepala sekolah dasar bahwa lama libur adalah 2 bulan).
  • Pertemuan di Kampung Warmandi tidak terjadi dengan masyarakat karena anggota masyarakat sebagian besar sedang ke Sausapor dikarenakan ada duka. Diskusi hanya terjadi dengan 2 keluarga saja, terutama untuk kegiatan rumah belajar.
  • Pengurusan penyewaan rumah di Kampung Warmandi yang telah disetujui sebesar Rp. 300.000/bulan, penyewaan dilakukan selama 6 bulan (Jan-Juni 2019), serta Diskusi bersama dengan salah satu pemilik ulayat di Pantai Wermon yaitu Mama Tabitha Yesnath terkait pembayaran jasa untuk 8 bulan.
  • Salah satu contoh yaitu penulisan yang benar pada lembar kwitansi dan nota belanja yang digunakan. Proses audit berjalan lancar dan diakhiri dengan exit meeting antara pihak auditor, perwakilan yayasan KEHATI dan seluruh staff Pelaksana Program Sains untuk Konservasi.

(Oleh : Kartika Zohar)

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Pelatihan Pemantauan Penyu Belimbing untuk Konservasi Tahun 2019

Abun Monitoring 4

Foto : Tim Abun Monitoring

Universitas Papua mengadakan Pelatihan Pemantauan Penyu untuk Konservasi pada tanggal 11-13 Juni 2019 di Pantai Jeen Yessa yang bertujuan untuk menciptakan tenaga-tenaga terlatih untuk melaksanakan kegiatan pemantauan penyu. Wakil Bupati Kabupaten Tambrauw, Bapak Mesakh Yekwam, S.H membuka kegiatan Pelatihan di Aula Bupati di Sausapor. Sebelumnya, penanggung jawab kegiatan Sains untuk program Konservasi di Kepala Burung Papua Barat  memberikan laporan sekaligus sambutan dan sambutan yang kedua disampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tambrauw. Hadir pula Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA dan Staf  Ahli bidang Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten Tambrauw.

Pelatihan ini diikuti 33 orang peserta yang  terdiri dari: 11 orang anggota tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang UNIPA, 8 orang tenaga patroli lokal UNIPA, 2 orang dari Yayasan Nazareth Papua, 2 orang  dari Kelompok Kumep dari Yenbekaki, 1 orang  dari WWF Indonesia, 8 orang dari UPTD Taman Pesisir Jeen Womom, dan 1 pemilik pantai. Dr. Manjula Tiwari dan Dr. Fitryanti Pakiding berperan sebagai narasumber.

Dalam sesi praktek, peserta belajar melakukan patroli malam, patroli pagi, melindungi sarang dari ancaman predasi dan suhu tinggi, memindahkan sarang yang terancam, dan melakukan evaluasi sukses  penetasan. Sebelum Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Dr. Zita L Sarunggallo, S.TP., M.Si menutup  kegiatan, para peserta menyatakan bahwa mereka mendapatkan banyak pengetahuan dan kemampuan baru dalam pelatihan ini dan berterima kasih kepada UNIPA sebagai penyelenggara. Pelatihan Pemantauan Penyu untuk Konservasi didanai oleh U.S. Fish and Wildlife Services, Blue Abadi Fund, dan dengan dukungan in-kind dari U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration.

(Oleh : Deasy Lontoh)

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cerita Monitoring dan Evaluasi Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Periode April – Juni 2019

Pemantauan dan evaluasi program dilakukan secara rutin untuk memastikan bahwa kegiatan yang  dilaksanakan sesuai dengan program kerja, standar prosedur kerja, dan memenuhi target capaian. Bagi program pemantauan penyu dan perlindungan sarang, pemantauan dan evaluasi dilakukan oleh koordinator program setiap bulan. Pada periode ini, pemantauan dan evaluasi dilakukan pada tanggal 27-29 Mei 2019.

Tim pemantauan dan evaluasi kali ini terdiri dari: Deasy Lontoh, Kartika Zohar,  Sinus Keroman, Dariani Matualage, Irman Rumengan, dan Delbert Pakiding. Kami bertemu dengan semua anggota tim dan beberapa tenaga patroli lokal untuk mendengar perkembangan keadaan dan pekerjaan di Jeen Syuab dan ketiga pantai Jeen  Yessa dan berkoordinasi untuk persiapan kegiatan Pelatihan untuk Pemantauan Penyu yang  akan  diadakan pada tanggal 11-13 Juni 2019.

Abun Monitoring

Foto : Tim Abun Monitoring

Abun Monitoring 1

Foto : Tim Abun Monitoring

Abun Monitoring 3

Foto : Tim Abun Monitoring

Pada umumnya, koordinator program mengumpulkan rangkuman data 1 bulan pada setiap pemantauan dan evaluasi. Namun karena pemantauan dan evaluasi kali ini terjadi sebelum bulan Mei berakhir, rangkuman data bulan Mei diperoleh pada pertengahan bulan Juni, saat Pelatihan. Selain bertemu dengan anggota tim, koordinator program meninjau langsung perlindungan sarang (pagar dan naungan) yang sudah didirikan di pantai Batu Rumah dan Wembrak.

Pemantauan dan evaluasi berlanjut dengan kunjungan penasehat teknis, Ibu Manjula Tiwari Ph.D, dari U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration. Pada tanggal 8, 9, 10 Juni 2019, beliau meninjau kegiatan di pantai Jeen Syuab dan Jeen Yessa secara menyeluruh dan menyarankan perubahan- perubahan dimana diperlukan. Kru diingatkan kembali akan konstruksi perlindungan sarang yang tepat dan proses pemindahan sarang yang sesuai dengan protokol. Pada bulan Mei, tim UNIPA bersama tenaga patroli lokal sudah mencatat 236 sarang penyu belimbing di Jeen Yessa dan Jeen Syuab, dan telah melindungi 101 sarang (43%) dari ancaman erosi, suhu tinggi, predasi, dan akar Ipomoea sp.

(Oleh : Deasy Lontoh)

Kategori
Monitoring Ekologi EKKP3K Monitoring Sosial EKKP3K

Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat dengan World Bank Scorecard

Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan

di Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat

dengan World Bank Scorecard

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua dan Papua Barat dibentuk dengan tujuan untuk melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati laut sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Sejak Tahun 2009 evaluasi pengelolan KKP dilakukan secara rutin, sehingga dapat diketahui efektivitas pengelolaan KKP dalam mencapai tujuan pengelolaannya. Penilaian pengelolaan di wilayah BLKB selama ini dilakukan dengan menggunakan dua perangkat, yaitu Scorecard dari Bank Dunia (World Bank Scorecard) dan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K).

WB Scorecard KKPD Ayau
WB Scorecard Waigeo Sebelah Barat
WB Scorecard Taman Nasional
WB Scorecard Kofiau-Pulau Boo
WB Scorecard KKPD Teluk Mayalibit
WB Scorecard KKPD Selat Dampier
WB Scorecard KKPD Misool
WB Scorecard KKPD Kaimana
WB Scorecard Taman Pesisir Jen

WB Scorecard

Penilaian dengan perangkat World Bank Scorecard dikembangkan secara khusus untuk menilai kemajuan pencapaian pengelolaan kawasan konservasi perairan. Perangkat ini telah digunakan sejak adanya KKP di BLKB. Adanya penilaian yang dilakukan sejak berdirinya KKP ini memudahkan pengguna melihat perubahan-perubahan dalam pengelolaan KKP dari waktu ke waktu dan juga dapat membandingkannya dengan pengelolaan KKP lain di dunia. Penilaian dilakukan berdasarkan enam tahap pengelolaan kawasan konservasi yang baik, yaitu konteks, perencanaan, masukan, proses, keluaran dan hasil.

Penilaian ini dilakuan setiap tahun pada 9 KKP, yaitu KKPD Raja Ampat yang terdiri dari KKPD Teluk Mayalibit, KKPD Selat Dampier, KKPD Kepulauan Ayau, KKPD Kofiau-Pulau Boo dan KKPD Misool, KKPD Kaimana, KKPN SAP Waigeo Sebelah Barat, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, dan Kawasan Taman Pesisir Jeen Womom (Abun, Tambrauw). Pada Tahun 2018, telah dilakukan penghitungan nilai World Bank Scorecard berdasarkan enam tahapan tersebut dengan melihat hasil pengelolaan EKKP3K yang telah dilakukan pada akhir Tahun 2018.

Penghitungan ini dilakukan oleh tim dari UNIPA (Purwanto, Irman Rumengan, Dariani Matualage, Habema Monim) dan TNC (Awaludinnoer). Hasil dari penghitungan ini menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan skor penilaian, walaupun jika dilihat berdasarkan masing-masing tahap pengelolaan terdapat penurunan skor di beberapa KKP, yaitu pada tahapan konteks untuk Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan KKPD Kofiau-Pulau Boo,  dan tahapan hasil untuk KKPD Selat Dampier.

(Oleh : Dariani Matualage, Purwanto, Irman Rumengan, Habema F. Monim)

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Penyusunan Laporan Hasil Monitoring Ekologi di KKPD Kaimana Distrik Buruway Tahun 2019

Penyusunan Laporan Hasil Monitoring Ekologi di KKPD Kaimana Distrik Buruway Tahun 2019

Penulis

Dariani Matualage, Irman Rumengan, Habema Monim dan Purwanto

Tanggal

25 Juni 2019

Monitoring Kesehatan Karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway telah selesai dilakukan. Hasil dari monitoring tersebut perlu dianalisis untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi ekologi wilayah Buruway, baik status maupun trennya. Kondisi ekologi yang dianalisis adalah tutupan karang dan biomassa ikan. Tutupan karang yang dimaksud terdiri dari tutupan Karang Keras hidup (Hard Coral), Karang Lunak (Soft Coral), Patahan Karang (Rubble), Karang Mati (Dead Coral), CCA (Crustose Coralline Algae), dan Karang Memutih (Bleached Coral) dan Alga lain (Other Algae). Sedangkan biomassa ikan terdiri dari biomassa 2 jenis ikan, yaitu ikan yang termasuk perikanan kunci (Karnivora/Carnivore) terdiri dari Ikan Kerapu (Serranidae), Kakap (Lutjanidae), dan Bibir Tebal (Haemulidae) serta ikan yang termasuk dalam famili ikan fungsional (Herbivora/herbivore), yaitu Ikan Butana (Acanthuridae), Kakatua (Scaridae) dan Baronang (Siganidae).

Penyelesaian laporan ini dilakukan hingga 1 bulan setelah tim selesai melakukan monitoring, yaitu pada Tanggal 8 Mei 2019. Berbeda halnya dengan pembuatan laporan monitoring kesehatan karang, laporan status ekologi membutuhkan waktu yang lebih panjang, yaitu sekitar 1 hingga 2 bulan. Hal ini disebabkan karena data yang akan dianalisis terlebih dahulu harus melalui pembersihan dan kontrol kualitas data. Hasil analisis data selanjutnya dibuat dalam bentuk tabel dan grafik baik status maupun tren tutupan karang dan biomassa ikan. Khusus untuk laporan status ekologi KKPD Kaimana Distrik Buruway saat ini hanya dibuat untuk status ekologi, sedangkan tren belum dapat dilakukan karena analisis tren ekologi menggunakan data pada titik penyelaman yang sama,  yaitu 28 titik untuk tahun monitoring 2011, 2015 dan 2019, sedangkan data untuk monitoring yang tahun ini hanya berasal dari 22 titik penyelaman dan terdapat 6 titik lokasi penyelaman yang tidak dapat diambil datanya karena cuaca yang tidak mendukung. Laporan Status ekologi di KKPD Kaimana Distrik Buruway dibuat oleh tim UNIPA, yaitu Purwanto, Irman Rumengan, Habema Monim dan Dariani Matualage di Manokwari pada Tanggal 20 hingga 24 Mei 2019. Hasil analisis data memperlihatkan bahwa baik tutupan karang maupun kondisi ikan sangat beragam antar lokasi dan antar zona, dengan rata-rata tutupan karang keras sebesar 25,9% dengan simpangan baku 3,9%, rata-rata biomassa ikan karnivora sebesar 154,9 kg/ha dengan simpangan baku 29,4 kg/ha dan rata-rata biomassa ikan herbivora sebesar 177,1 kg/ha dengan simpangan baku 54,8 kg/ha.

(Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa)

Rata-rata persentase tutupan karang keras (a), biomassa famili perikanan penting/target (b), dan biomassa famili ikan fungsional penting (c) masing-masing di lokasi KKPD Distrik Buruway Tahun 2019

Hasil monitoring kesehatan karang dibuat dalam bentuk dua laporan, yaitu laporan Monitoring Kesehatan karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway yang berisi keadaan karang dan ikan yang ditemui pada saat monitoring dan laporan status ekologi KKPD Kaimana Distrik Buruway yang berisi hasil analisis data monitoring serta rekomendasi yang diberikan terkait dengan hasil monitoring yang diperoleh. Pembuatan laporan monitoring kesehatan karang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi harian tim monitoring pada saat di lapangan serta evaluasi pada akhir trip monitoring. Pembuatan laporan monitoring kesehatan karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway telah dilakukan oleh Tim monitoring yang berasal dari UNIPA (Purwanto, Irman Rumengan, Habema Monim, Dariani Matualage, Daud Orisoe, dan Nelly Sayori) bekerjasama dengan tim monitoring yang berasal dari TNC (Awaludinnoer), CI (Ronald Mambrasar, dan Nugraha Maulana), BBTNTC (Mulyadi, dan La Hamid), PEMDA Kabupaten Kaimana (Yantje Malaiholo, Abraham Aponno, dan William Furima).

Rata-rata Tutupan Karang per kategori, biomassa famili perikanan penting dan biomassa famili ikan fungsional penting

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Monitoring Sosial Masyarakat Tahun 2019 : Cerita Lapangan dari Kaimana, Selat Dampier dan Teluk Mayalibit

Monitoring Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) tahun 2019 merupakan kegiatan penelitian yang secara rutin telah dilakukan oleh Universitas Papua (UNIPA) sejak tahun 2010. Pada tahun ini, survei lapangan dilakukan di tiga (3) lokasi yaitu KKP Selat Dampier dan KKP Teluk Mayalibit (Kabupaten Raja Ampat), serta KKP Kaimana (Kabupaten Kaimana). UNIPA bekerjasama dengan Blue Abadi Fund (BAF) dan RARE sebagai sponsor untuk pelaksanaan survei lapangan.

1 Tim UNIPA terdiri dari 4 orang koordinator lapangan dan 13 orang enumerator yang melakukan pengumpulan data sejak tanggal 3 Mei sampai dengan 18 Juni 2019. Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui survei rumah tangga (Household Survey/HH), diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara informan kunci (Key Informant Interview/KII). Total data yang dikumpulkan adalah 1.248 HH, 6 FGD, dan 8 KII (Tabel 1).

Tabel  Jumlah Data  Survei Tahun 2019

Tim UNIPA melakukan kunjungan ke 47 kampungdi tiga KKP. Terdapat 17 kampung survei di KKP Kaimana, yaitu: Murano, Marsi, Maimai, Lobo, Lumira, Kamaka,Namatota, Nariki, Boiya, Rurumo, Bamana,Siawatan, Nusaulan, Adijaya, Kambala, Yarona,dan Tanggaromi. Di KKP Selat Dampier, tim berkunjung ke 25 kampung, yaitu: Arefi Selatan, Arefi Timur, Yensawai Timur, Yensawai Barat,Amdui, Yenanas, Weiman, Kapatlab, Jefman Barat,Jefman Timur, Wailebet, Solol, Wamega, Arar,Yeflio, Urbinasopen, Mnier, Puper,Saonek, Sapokren, Yenbeser, Sawinggrai, Kurkapa, Sauandarek, dan Arborek.

Monitoring Sosial 2019 (1)
Monitoring Sosial 2019 (2)
Monitoring Sosial 2019 (4)

(Foto : Tim Monitoring Sosial)

Sementara di KKP Teluk Mayalibit, tim mendatangi kampungYensner, Mumes, Araway, Beo, dan Lopintol. Kampung-kampungini merupakan kampungyang termasuk dalam KKP maupun yangtelah ditetapkan sebagai kontrol dari KKP. Kerjasama, dukungan dan kepercayaan yang baik dari berbagai elemen (pemerintah kabupaten dan kampung, masyarakat kampung, serta BAF dan RARE sebagai sponsorutama) adalah kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan monitoring pada tahun ini di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Dengan pengumpulan data yang baik dan berkesinambungan, diharapkan dapat tersedia informasi untuk penetapan dan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan yangmemberikan manfaat baik secara ekologi (lingkungan) maupun kepada masyarakat yangberada di dalam dan sekitar KKP.

(Oleh : Marjan Bato, Joice  Pangulimang, Penina M. Maryen & Abidin P. Mayalibit)

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten

Pertemuan Triwulan Peningkatan Kapasitas UPTD Taman Pesisir Jeen Womom

Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) adalah salah satu lembaga pemerintahan yang menangani kegiatan konservasi penyu belimbing di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom Kabupaten Tambrauw setelah pemberlakuan UU No 23 Tahun 2013. Peningkatan kapasitas Unit Pelaksana Teknis Dinas merupakan salah satu program dalam Blue Abadi Fund (BAF) Siklus 2 yang diajukan oleh Tim UNIPA dalam rangka mendukung kegiatan upaya perlindungan penyu belimbing. Bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mendukung kegiatan perlindungan penyu adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat dan membangun hubungan kerjasama dengan para mitra yang berkepentingan demi mengembangkan kawasan konservasi penyu belimbing di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat.

Abun Humas 2019 (2)

Foto : Tim Abun Humas

Kegiatan ini di lakukan pada hari Selasa, 19 Maret 2019, bertempat di Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Papua Manokwari. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 20 orang peserta yang berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Tambrauw, Unit Pelaksana Teknis Dinas Taman Pesisir, Jeen Womom, Yayasan WWF Indonesia, UNIPA, Starling Recources dan Loka PSPL Sorong.

Tim UNIPA melalui Manajemen Fitryanti Pakiding, Ph.D telah melakukan kegiatan monitoring penyu dan pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi penyu belimbing juga mempunyai komitmen untuk meningkatkan kapasitas UPTD TP Jeen Womom. UPTD TP Jeen Womom mempunyai kewenangan pengelolaan kawasan konservasi diharapkan nantinya dapat memajukan pengembangan pengelolaan kawasan yang mandiri dan berinovatif serta berdaya saing. Bentuk kegiatan yang dilakukan untuk peningkatan kapasitas UPTD bersama mitra kerja antara lain penyusunan struktur organisasi UPTD, penyusunan SOP-SOP tentang pengelolaan keuangan, monitoring penyu dan aset.

Tujuan pertemuan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan pengelolaan kawasan TP Jeen Womom serta update kegiatan UPTD TP Jeen Womom (tentang hambatan dan kendala, serta program kerja Tahun 2019). Selain itu, dengan adanya pertemuan secara rutin, dimaksudkan untuk mengetahui kemajuan proses pembentukan kelembagaan UPTD di tingkat provinsi dan mereview secara bersama Satuan Operasional Prosedur (SOP) yang telah disusun oleh masing-masing mitra BHS (Birds Head Seascape) serta menyusun rencana kerja dan mekanisme pendampingan UPTD TP Jeen Womom Tahun 2019.

Dalam kegiatan ini telah menyepakati bersama bahwa para mitra akan mendorong  UPTD melalui pertemuan rutin dan melibatkan UPTD dalam kegiatan para mitra seperti pelatihan monitoring penyu belimbing dan pengelolaan keuangan dan pengelolaan aset. Sedangkan UPTD mempunyai program kerja Tahun 2019 diantaranya, kegiatan sosialisasi pembentukan UPTD, tujuan pembentukan, tugas dan fungsinya UPTD, serta melakukan monitoring penyu di Jeen Yessa pada musim peneluran Mei-Oktober 2019.

Kegiatan-kegiatan tersebut telah dibagi berdasarkan program kerja masing-masing mitra dan pertemuan berikutnya akan mereview bersama. Dalam pertemuan  ini juga menyepakati bersama bahwa UPTD TP Jeen Womom adalah tipe B walau pun dalam Surat Keputusan (SK) Menteri adalah Tipe A. Pertimbangan perubahan tipe A menjadi tipe B adalah UPTD TP Jeen Womom belum memiliki sumberdaya manusia yang memadai dan belum berjalan secara efektif.

Kegiatan pertemuan  ini dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tambrauw- Linderd Rouw, S.ST dan ditutup oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat- Jakobus Ayomi, M.Si. Kegiatan ini didanai Blue Abadi Fund (BAF) melalui Yayasan KEHATI.

(Oleh : Sinus Keroman dan Yosua Kocu)

Kategori
Uncategorized @id

Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat dengan World Bank Scorecard

Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat dengan World Bank Scorecard

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua dan Papua Barat dibentuk dengan tujuan untuk melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati laut sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Sejak Tahun 2009 evaluasi pengelolan KKP dilakukan secara rutin, sehingga dapat diketahui efektivitas pengelolaan KKP dalam mencapai tujuan pengelolaannya. Penilaian pengelolaan di wilayah BLKB selama ini dilakukan dengan menggunakan dua perangkat, yaitu Scorecard dari Bank Dunia (World Bank Scorecard) dan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (EKKP3K).

Penilaian ini dilakuan setiap tahun pada 9 KKP, yaitu KKPD Raja Ampat yang terdiri dari KKPD Teluk Mayalibit, KKPD Selat Dampier, KKPD Kepulauan Ayau, KKPD Kofiau-Pulau Boo dan KKPD Misool, KKPD Kaimana, KKPN SAP Waigeo Sebelah Barat, Taman Nasional TelukCenderawasih, dan Kawasan Taman Pesisir Jeen Womom (Abun, Tambrauw). Pada Tahun 2018, telah dilakukan penghitungan nilai World Bank Scorecard berdasarkan enam tahapan tersebut dengan melihat hasil pengelolaan EKKP3K yang telah dilakukan pada akhir Tahun 2018. Penghitungan ini dilakukan oleh tim dari UNIPA (Purwanto, Irman Rumengan, Dariani Matualage, Habema Monim) dan TNC (Awaludinnoer). Hasil dari penghitungan ini menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan skor penilaian, walaupun jika dilihat berdasarkan masing-masing tahap pengelolaan terdapat penurunan skor di beberapa KKP, yaitu pada tahapan konteks untuk Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan KKPD Kofiau-Pulau Boo,  dan tahapan hasil untuk KKPD Selat Dampier.

(Oleh : Dariani Matualage, Purwanto, Irman Rumengan, Habema F. Monim)

[qode_button_v2 target=”_self” hover_effect=”” gradient=”no” text=”Post Sebelumnya” color=”#1e73be” hover_color=”#6d97bf” link=”https://science4conservation.com/lokakarya-penilaian-efektivitas-pengelolaan-kawasan-konservasi-perairan-di-bentang-laut-kepala-burung-papua/”]