Kategori
Monitoring Sosial Survei

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih Tahun 2017

Daerah Perlindungan Laut atau Marine Protected Area (MPA) adalah salah satu bentuk pengelolaan sumberdaya laut yang bertujuan untuk pengelolaan perikanan dan konservasi sumberdaya hayati secara berkelanjutan. Diharapkan bahwa dengan adanya MPA maka sumberdaya laut dapat terpelihara dengan baik. Namun, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar wilayah tersebut? Apakah MPA memberikan dampak yang positif bagi peningkatan kesejahteraan mereka? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini maka Universitas Papua (UNIPA) telah bekerjasama dengan WWF US pada tahun 2010-2016, dan pada tahun 2017 ini UNIPA kembali bekerjasama dengan Blue Abadi Fund melalui Yayasan Keanekaragaman Hayati untuk melaksanakan kegiatan monitoring yang sama.

Monitoring sosial pada tahun 2010 sampai tahun 2016 dilakukan di 6 (enam) MPA yaitu Teluk Mayalibit, Selat Dampier, Kaimana, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kofiau dan Misool. Indicator penilaian yang digunakan dalam kegiatan survei ini meliputi tingkat pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya masyarakat daerah pesisir. Pada tahun 2017 kembali dilakukan monitoring sosial di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC)

Wawancara Oleh Tim BHS

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Survei sosial ini berlangsung pada tanggal 16 November sampai dengan 21 Desember 2017 yang diikuti oleh 10 orang dari UNIPA, yang terdiri dari 2 orang koordinator lapangan dan 8 orang enumerator. Koordinator lapangan adalah staf dosen dari UNIPA sedangkan enumerator terdiri dari 1 orang mahasiswa dan 7 orang alumni. Ke-10 orang tersebut terbagi menjadi 2 tim, dimana masing-masing tim terdiri dari 5 orang. Tim pertama melakukan survei di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Nabire. Mereka melakukan survei di kampung Saribi, Supmander, Masyara, Wansra, Rawar, Pakreki, Yembepon Yembeba, Napan Yaur, Goni, Bawei, Yeretuar, Napan, Weinami dan Masipawa. Sementara tim kedua melakukan survei di Kabupaten Wondama, tepatnya mereka mengunjungi kampung Dusner, Sasirei, Nanimori, Ambumi, Torey, Rasiei, Syeiwar, Yomber, Nordiwar, Waprak/Saref, Yomakan, Senebuay, Yariari, Iseren, Weititindau, Yembekiri I dan Yembekiri II.

Pengambilan data dilakukan menggunakan metode wawancara secara langsung terhadap responden. Tahap awal adalah tim mendata nama-nama kepala keluarga yang berada di kampung survei, kemudian tim melakukan sampling untuk menentukan responden terpilih.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, dapat dilihat bahwa sebagian besar masyarakat melakukan kegiatan melaut sebagai sumber pendapatan keluarga yang utama. Hal ini didukung oleh sumberdaya laut yang banyak di sekitar tempat tinggal mereka. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya memilih bertani/berkebun, menjadi buruh bangunan, pegawai negeri sipil dan melakukan pekerjaan lain yang menghasilkan upah.

Masih kurangnya tenaga pengajar dan ahli kesehatan menjadi kendala di kampung-kampung survei. Semua kampung yang dikunjungi telah memiliki bangunan sekolah (sekolah dasar), namun jumlah tenaga pengajar masih kurang. Demikian halnya dibidang kesehatan. Terdapat PUSTU dan puskesmas yang dibangun oleh pemerintah di kampung-kampung tersebut. Namun beberapa pustu tidak memiliki tenaga medis dan beberapa puskesmas tidak memiliki dokter. Keterbatasan obat juga masih menjadi kendala. Akibatnya, masyarakat merasa kesulitan untuk berobat, terutama yang berada di kampung Goni, Napan Yaur dan Bawei karena letak geografis serta akses ke kota Nabire yang masih terbatas.

Hal lainnya adalah, masyarakat dapat menyebutkan atau menjelaskan factor-faktor yang menjadi ancaman terhadap laut mereka serta tindakan-tindakan yang perlu diambil untuk mengurangi dampak kerusakan laut.

(Oleh : Joice Pangulimang )

Berita Lainnya

63 tanggapan untuk “Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih Tahun 2017”

Komentar ditutup.