Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Menyelamatkan Sarang Penyu Belimbing di Pantai Jeen Syuab

Terletak di Distrik Abun, pantai Jeen Syuab (dulu dikenal dengan nama Wermon), merupakan salah satu pantai peneluran yang penting bagi penyu belimbing. Jenis penyu terbesar  ini bertelur di pantai Jeen Syuab sepanjang tahun. Hal ini unik karena di banyak pantai peneluran di dunia, penyu belimbing bertelur hanya satu musim per tahun. Aktivitas peneluran penyu belimbing di pantai Jeen Syuab berlangsung antara bulan April hingga September (“musim teduh”) dengan puncak pada bulan Juni dan Juli, dan antara bulan Oktober hingga Maret (“musim ombak”) dengan puncak pada bulan Desember dan Januari.

Terbentang sepanjang 6 km dengan pasir kehitaman, pantai Jeen Syuab terkikis pada saat musim ombak, saat angin monsoon  barat bertiup dan membawa musim hujan bagi Indonesia. Sebagian besar sarang-sarang penyu belimbing yang diletakkan di Jeen Syuab antara Oktober dan Maret terancam hanyut terbawa ombak dan tergenang air pasang. Oleh sebab itu, Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang UNIPA bersama masyarakat lokal bekerja keras untuk menyelamatkan sarang-sarang tersebut.

NL_Jan-Mar 2019 (3)

Foto : Tim Abun Monitoring

NL_Jan-Mar 2019

Foto : Tim Abun Monitoring

NL_Jan-Mar 2019 (2)

Foto : Tim Abun Monitoring

Pada musim peneluran Oktober 2018 hingga Maret 2019, tim UNIPA berhasil menyelamatkan 43% dari jumlah total sarang penyu belimbing dengan memindahkan sarang- sarang tersebut ke dalam kandang relokasi. Untuk menilai tingkat kesuksesan sarang, tim UNIPA melaksanakan evaluasi sukses penetasan pada semua sarang yang ada dalam kandang relokasi pada masa penetasan (Januari-Maret 2019).

Hasilnya, sekitar 68% dari jumlah total telur per sarang berhasil menetas. Dengan begitu, upaya pemindahan sarang pada musim ini diperkirakan menghasilkan sekitar 8200 tukik penyu belimbing. Ribuan tukik-tukik ini tidak dapat dihasilkan tanpa upaya penyelamatan sarang yang dilakukan oleh tim UNIPA dan masyarakat lokal.

(Oleh :Deasy N. Lontoh)

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Kesehatan Karang di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kaimana Distrik Buruway, Papua Barat

Monitoring Kesehatan Karang di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kaimana Distrik Buruway, Papua Barat

Penulis

Tim Monitoring Ekologi

Tanggal

25 Maret 2019

Serangkaian kegiatan monitoring ekosistem terumbu karang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 di beberapa kawasan konservasi perairan yang ada di Bentang Laut Kepala Burung Papua (BLKB), salah satunya adalah di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kaimana Distrik Buruway, Papua Barat.

Distrik Buruway berada di bagian selatan perairan kepala burung Papua dan berada di antara kabupaten Fak-Fak dan Kabupaten Kaimana. Kegiatan monitoring kesehatan karang merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap 2 – 4 tahun sekali untuk mengukur efektifitas pengelolaan di jejaring KKP yang berada di kawasan BLKB Papua secara umum dan mengetahui data terkini terkait tutupan karang, biomassa ikan, aktivitas perikanan di kawasan, serta kejadian-kejadian aktual yang didapatkan selama pemantauan.

(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)

Pelaksanaan monitoring kesehatan karang di KKPD Kaimana Distrik Buruway dan perairan sekitar ini telah dilaksanakan pada tanggal 26 Maret – 4 April 2019 dengan melibatkan berbagai instansi diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Kaimana (1 orang), Dinas Pariwisata Kabupaten Kaimana (1 orang), Distrik Kabupaten Kaimana (1 orang), Conservation Internasional (CI-Indonesia) (2 orang), The Nature Conservacy (TNC-Indonesia) (1 orang), Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) (2 orang), klub selam Faknik FPIK UNIPA (1 orang), serta Universitas Papua (5 orang) yang merupakan koordinatorpelaksanaan kegiatan monitoring (Gambar 1. Team monitoring)

Monitoring dilakukan dengan menggunakan protokol Coral Reef Monitoring Protocol for Assessing Marine Protected Areas in the Coral Triangle yang dikembangkan oleh Wilson dan Green, 2009 dan dimodifikasi oleh Ahmadia et al.,2013. Pada panduan monitoring tersebut, pengumpulan data tutupan karang dan biomassa ikan dilakukan pada kedalaman 8-10 meter.

Data tutupan karang diambil menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT) dengan panjang transek 50 meter dan jumlah pengulangan 3 kali. Data yang diambil yaitu bentuk pertumbuhan karang pada interval titik 0,5 meter sepanjang gelaran transek. Data biomassa ikan dan kepadatan ikan diambil menggunakan kombinasi antara metode Underwater Visual Census (UVC) dan belt transect dengan panjang transek 50 meter, lebar 5 meter untuk ikan kecil (≤35 cm) dan lebar 20 meter untuk ikan besar (>35 cm) dengan jumlah pengulangan 5 kali, serta ditambah dengan timeswim pada kedalaman 5 meter selama 20 menit

Kondisi Karang
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)

Kelompok Ikan Pinjalo
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)

Pelaksanaan monitoring kesehatan terumbu karang menggunakan kapal Live On Board (LOB) KLM Kurabesi Explorer Nusantara sebagai base tim monitoring dan didukung 3 speedboat kecil (dinggi) untuk mobilisasi tim monitoring ke 28 lokasi atau site penyelaman yang direncanakan dan beberapa lokasi lainnya.

Hasil monitoring secara umum menemukan kondisi ikan pada sebagian besar site penyelaman relative rendah, baik jenis maupun jumlahnya jika dibandingkan dengan kawasan konservasi lain di BLKB. Beberapa sites seperti  Reef Keramat, Reep Taruri 2, Buka Karu dan Niney tercatat memiliki ikan relatif lebih banyak jika dibandingkan sites lainnya. Sedikitnya jumlah dan jenis ikan yang ditemukan pada saat penyelaman diperkirakan karena masih sering terjadi penangkapan ikan yanberlebihan dan kadang menggunakan alat yang merusak, seperti bom dan bius oleh nelayan luar (informasi dari masyarakat).

Gelombang yang tinggi dan jarak pandang (visibility) yang rendah pada saat monitoring, diperkirakan berpengaruh juga terhadap jumlah dan jenis ikan yang tercatat.  Ikan hiu karang sirip hitam (Carcharhinus melanopterus/blacktip reef shark), Penyu hijau (Chelonia mydas), Napoleon (Cheilinus undulatus), Bumphead parrotfish (Bolbometopon muricatum) ditemukan di beberapa sites seperti Pulau Paniki, Niney, Reep Keramat dan Reef Taruri 2. Ikan Kerapu Kertang atau Giant Grouper (Epinephelus lanceolatus) yang berukuran antara 1 hingga 2 meter ditemukan di site Tanjung Batu Kerbau dan Reef Taruri 2. Ikan Kerapu Kertang atau Giant Grouper (Epinephelus lanceolatus) yang berukuran antara 1 hingga 2 meter ditemukan di site Tanjung Batu Kerbau dan Reef Taruri 2.

Beberapa jenis ikan yang ditemukan berkelompok (schooling) yaitu ikan kakap spesies Pinjalo pinjalo, Barakuda (Sphryna sp), Bubara (Caranx sp),  Caesio sp, dll.  Selain itu juga  ditemukan Hiu Paus atau Whale Shark (Rhincodon typus) di perairan Nusa Ulan dan kelompok lumba-lumba selama perjalanan ke lokasi penyelaman. Pada beberapa sites penyelaman juga ditemukan lionfish, namun jumlahnya masih sangat sedikit.

Secara umum kondisi karang sedang hingga buruk. Tim menemukan bekas bom baru di site Reef Kerang dan Reef Panjang dan banyak ditemukan patahan karang lama yang sudah mulai ditumbuhi oleh alga. Pada beberapa site penyelaman lainnya ditemukan juga adanya Hydroid dan dominasi rubble atau patahan karang. Patahan karang, pasir dan alga ditemukan di hampir seluruh site penyelaman. Pada beberapa lokasi penyelaman, jarak pandang kurang baik, hanya berkisar antara 3-5 meter.

Kendala selama pelaksanaan monitoring adalah gelombang laut yang tinggi, bahkan di beberapa site dapat mencapai 2 – 3 meter sehingga menyulitkan tim monitoring menuju ke lokasi penyelaman dan mengambil data. Hal ini mengakibatkan  terdapat 6 site penyelaman yang belum dapat diambil datanya. Selain itu adanya pemilik hak ulayat wilayah atau petuanan yang mengharuskan ijin kegiatan dengan membayar sejumlah uang menjadi kendala pada saat pelaksanaan monitoring, karena belum disosialisasikan dengan baik dan tidak ada aturan resminya.

Lokasi Monitoring
(Foto : Tim BHS Ekologi Unipa)

Kegiatan tim monitoring selanjutnya adalah menganalisis data monitoring sehingga menghasilkan informasi mengenai tren dan status tutupan karang dan biomassa ikan yang dapat digunakan oleh pengelola kawasan konservasi sebagai pertimbangan dalam mengambil kebijakan pengelolaan. Hasil Analisa data ini juga digunakan untuk membuat laporan teknis untuk keperluan diseminasi, publikasi dan komunikasi yang lebih luas, baik untuk masyarakat umum, penyumbang dana dan mitra terkait sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Training

Kegiatan Pelatihan Enumerator Sosial Ekonomi di Bentang Laut Kepala Burung : Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan Kaimana Tahun 2019

Kegiatan Pelatihan Enumerator Sosial Ekonomi di Bentang Laut Kepala Burung : Kawasan

Konservasi Perairan Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan Kaimana Tahun 2019

Tanggal

1 Agustus 2019

Penulis

Maya Paembonan

Universitas Papua melakukan monitoring Sosial Ekonomi Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan Kaimana tahun 2019. UNIPA sebagai penyelenggara kegiatan tersebut melakukan seleksi calon enumerator. Beberapa tahapan yang harus diikuti oleh calon enumerator yaitu: tes wawancara, training dan field test. Terdapat 49 berkas pendaftar yang masuk, selanjutnya 46 orang yang mengikuti tes wawancara, dan dipilih16 orang yang layak untuk mengikuti training.

Training dilakukan pada tanggal 8 – 12 April 2019 pada hari kerja, berlangsung dari pukul 09.00 –16.00 Wit di Laboratorium Konservasi Fakultas Kehutanan Universitas Papua. Kegiatan ini dibuka oleh oleh Dr. Fitryanti Pakiding selaku pengelola program Survei Sosial Ekonomi di Bentang Laut Kepala Burung. 16 calon enumerator yang mengikuti training terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Papua. Beberapa materi training yang disampaikan antara lain pengenalan tentang survei, kuisioner dan manajemen data yang dijelaskan oleh Ibu Dr. Fitryanti Pakiding, Fadli Zainudin, M.Si dan Joice Pangulimang, M.Si, sementara untuk materi metode survei disampaikan oleh Indah Ratih, M.Si.

Kegiatan Training Sosial di BLKB 2019

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah enumerator wajib memahami dan dapat menyampaikan dengan baik pertanyaan- pertanyaan yang ada pada kuisioner kepada responden. Dengan jumlah pertanyaan yang banyak, enumerator diharapkan dapat tetap fokus bukan hanya pada saat menyampaikan pertanyaan tetapi juga memahami jawaban yang disampaikan oleh responden. Sementara itu pada manajemen data, dua hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pembersihan dan input data, pada tahap ini jika ada data yang dianggap kurang masuk akal maka dapat dilakukan pengecekan kembali.

Selain itu untuk lebih melatih keterampilan enumerator di lapangan dan untuk mengukur pemahaman mereka selama mengikuti training, maka pada hari Kamis 11 April dilakukan field test yang bertempat di kampung Aipiri. Calon enumerator dibagi menjadi beberapa kelompok yang kemudian mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai 2 rumah tangga. Pemilihan rumah tangga dilakukan secara acak, sehingga setiap rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih. Hasil dari field test menunjukkan bahwa secara umum peserta sudah cukup paham, namun demikian ada beberapa hal menyangkut pengisian kuisioner yang perlu diperbaiki kembali.

Pada akhirnya tiga belas orang terpilih yang akan turun ke lapangan melakukan survei. Pemilihan berdasarkan penilaian yang dilakukan selama masa training. Terdiri dari 4 perempuan dan 9 laki-laki. Tim akan dibagi menjadi 3 kelompok dengan masing-masing kelompok mempunyai field coordinator. Kegiatan training yang dilakukan diharapkan dapat memberikan pembekalan pengetahuan maupun keterampilan yang cukup sehingga ketika melakukan survei di lapangan kesulitan ataupun kendala dapat diminimalkan.

Kategori
Monitoring Ekologi Training

Pelatihan Identifikasi Bentuk Hidup Terumbu Karang dan Jenis-jenis Ikan

Pelatihan Identifikasi Bentuk Hidup Terumbu Karang dan Jenis-jenis Ikan

Pelatihan indentifikasi bentuk hidup terumbu karang dan identifikasi jenis-jenis ikan merupakan kegiatan yang tiap tahun dilakukan dengan tujuan untuk melatih peserta pelatihan agar mampu mengidentifikasi bentuk hidup terumbu karang serta mampu mengidentifikasi jenis-jenis ikan, dengan mengacu pada protokol monitoring yang dikembangkan oleh Ahmadia dkk (2013). Pelatihan ini sangat penting dilakukan untuk memastikan kualitas data dan konsistensi data monitoring kesehatan karang yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Kegiatan ini selain dilakukan sebagai ilmu tambahan bagi peserta pelatihan, juga bertujuan untuk mencari peserta yang akan bergabung dalam Tim Monitoring Ekologi yang setiap tahun melakukan monitoring kesehatan terumbu karang di area Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua Barat. Kegiatan pelatihan ini dilakukan pada tanggal 25 -27 Januari Tahun 2019, bertempat di ruang kuliah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Papua dan Pantai Pasir Putih Manokwari.

Pelatihan Identifikasi Bentuk Hidup Terumbu Karang dan Jenis-jenis Ikan

Foto : Tim BHS Ekologi Unipa

Latihan Pengamatan di Lapangan

Foto : Tim BHS Ekologi Unipa

Peserta dalam pelatihan ini merupakan mahasiswa yang masih aktif kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan mahasiswa yang tergabung dalam Klub selam Faknik Diving Club Universitas Papua. Materi diberikan kepada 15 orang peserta yang terdiri dari 6 orang perempuan dan 9 orang lakilaki, terbagi menjadi dua sesi, yaitu teori berisi materi mengenai metode PIT (Point Intercepte Transect), pengenalan karang dan ikan serta estimasi jumlah dan ukuran Ikan.

Materi teori ini dilaksanakan di kelas sedangkan untuk praktek pengamatan di lapangan dilakukan di Pantai Pasir Putih Manokwari. Pemateri merupakan anggota Tim Monitoring Ekologi BLKB dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua dan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Hasil pelatihan ini menunjukan bahwa para peserta umumnya mampu mengidentifikasi bentuk hidup terumbu karang dengan lebih mudah dibandingkan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang menurut beberapa peserta agak sulit mengenal jenis-jenis ikan dalam waktu yang tidak terlalu panjang. Dari hasil praktik di lapangan dengan cara melakukan penyelaman sambil mengamati obyek terumbu karang dan ikan menunjukan bahwa para peserta pada umumnya telah mampu menyelam dengan baik.

Kategori
Monitoring Ekologi EKKP3K Monitoring Sosial EKKP3K

Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konsevasi Perairan Di Bentang Laut Kepala Burung Papua Dan Papua Barat

Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konsevasi Perairan

di Bentang Laut Kepala Burung Papua dan Papua Barat

Foto bersama peserta dan narasumber

Foto : Tim Monitoring Ekologi

Suasana diksusi peserta lokakarya EKKP3K di Manokwari

Foto : Tim Monitoring Ekologi

Purwanto - UNIPA menyampaikan materi EKKP3K

Foto : Tim Monitoring Ekologi

Tujuan :

  • Melakukan evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil di wilayah BLKB dengan perangkat e-KKP3K
  • Melakukan evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil di wilayah BLKB dengan perangkat Word Bank Score Card.
  • Meningkatkan kemampuan peserta menggunakan pedoman teknis e-KKP3K untuk menilai efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Bentang Laut Kepala Burung, Papua

Tempat dan tanggal kegiatan :

Ruang Kuliah S3 Lingkungan, Pasca Sarjana Universitas Papua  Jl. Gunung Salju, Amban, Manokwari – Papua Barat pada tanggal 4 – 7 Desember 2018.

Peserta dan fasilitator:

Peserta lokakarya terdiri dari:

  • DKP Provinsi Papua Barat (2 orang)
  • UPTD Tambrauw (1 orang)
  • DKP Fakfak (1 orang)
  • Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih (1 orang)
  • Pengelola Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat (UPTD BLUD: 2 orang)
  • Yayasan Nazareth Papua (1 Orang)

Narasumber dan fasilitator lokakarya terdiri dari:

  • Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat KKHL (1 orang)
  • Universitas Papua (4 orang)
  • Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat (2 orang)
  • CI (2 orang: Raja Ampat & Fakfak)
  • TNC (1 orang: Raja Ampat )
  • WWF (2 orang: Tambrauw dan Sorong Selatan)

Hasil :

Status atau peringkat efektivitas pengelolaan dari masing-masing kawasan konservasi adalah sebagai berikut:

Berita Lainnya

foto bersama

Purwanto, Awaludinnoer, Nur Ismu Hidayat, Dheny Setyawan, Sutraman, Rahel Randa dan Dariani Matualage – Juli 1, 2019

Kategori
Monitoring Ekologi Diseminasi

Lokakarya Penulisan Paper Ilmiah Dan Presentase Hasil Monitoring Ekologi Di Bentang Laut Kepala Burung Papua Dan Papua Barat

Lokakarya Penulisan Paper Ilmiah Dan Presentase Hasil

Monitoring Ekologi Di Bentang Laut Kepala Burung

Papua Dan Papua Barat

Fasilitator sedang memberikan materi
Persentasi hasil monitoring
Peserta yang hadir saat penyampain hasil monitoring
Pelatihan penulisan paper

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Tujuan :

  • menuliskan hasil monitoring ekologi di BLKB dalam bentuk publikasi ilmiah (paper)
  • menyampaikan hasil monitoring ekologi kepada UPTD BLUD, Pemda Raja Ampat dan mitra terkait.

 

Tempat dan Tanggal kegiatan :

Sorong, 19 – 23 November 2018

 

Peserta dan fasilitator :

Peserta pelatihan penulisan paper :

Dariani Matualage (Universitas Papua)

Irman Rumenga (Universitas Papua)

Habema Monim (Universitas Papua)

Purwanto (Universitas Papua)

Awaludinnoer (TNC Indonesia)

Defy N Pada (Ci Indonesia)

Abdi Hasan (Ci Indonesia)

Dariani Matualage (Universitas Papua)

Irman Rumengan (Universitas Papua)

Habema Monim (Universitas Papua)

Purwanto (Universitas Papua)

Awaludinnoer (TNC Indonesia)

Defy N Pada (Ci Indonesia)

Abdi Hasan (Ci Indonesia)

Fasilitator dan mentor lokakarya penulisan ilmiah adalah Dr. Dominic Andradi-Brown dari WWF Amerika.

Peserta presentase hasil monitoring ekologi adalah:

  • DKP Raja Ampat : 2 Orang
  • UPTD BLUD KKPD Raja Ampat : 7 Orang
  • TNC Raja Ampat : 3 Orang
  • CI Raja Ampat : 4 Orang
  • UNIPA : 4 orang
  • Starling Resources: 1 Orang

 

Hasil :  

Dapat membuat kemajuan penulisan paper ilmiah lebih dari 50 %, dimana telah dibuat grafik, gambar serta beberapa data penting telah dimasukan pada kalimat utama disetiap paragraf. Langkah selanjutnya yaitu mengembangkan kalimat utama tersebut dan melengkapi dengan

Kategori
Monitoring Ekologi Training

Sertifikasi Selam “Dive Master dan Dive Rescue”

Sertifikasi Selam “Dive Master dan Dive Rescue”

Tujuan :

  1. Meningkatkan jenjang selam Dive Master
  2. Meningkatkan jenjang selam Dive Rescue
  3. Meningkatkan kualitas penyelaman dalam proses pengambilan data RHM

Tempat dan tanggal kegiatan :
Sertifikasi selam ini dilakukan di dua lokasi yang berbeda yaitu di Bogor untuk materi kelas serta di Jakarta untuk praktek kolam dan laut. Kegiatan dilakukan pada tanggal 1-13 November 2018.

Peserta dan pengajar :

Peserta :

  1. Irman Rumengan (sertifikasi Dive Master)
  2. Habema FY Monim (Sertifikasi Dive Rescue)

Pengajar :
Raymond Jacub (Instructur Dive, Doo Adventures)

Hasil :
Peserta telah memiliki kemampuan serta telah  bersertifikasi dive master dan dive rescue

Kategori
Uncategorized @id

Monitoring Kesehatan Karang di Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Monitoring Kesehatan Karang di Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) merupakan kawasan konservasi perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua, seluas 1,4 juta hektar dan terbesar kedua di Indonesia. TNTC ditetapkan pada tahun 2002 dan merupakan salah satu taman nasional  laut tertua di Indonesia. Monitoring kesehatan karang Teluk Cenderawasih dilaksanakan selama 10 hari  mulai tanggal 12 hingga 21 Juli 2018. Pelaksanaan kegiatan ini sedikit mundur dari jadwal yang direncanakan bulan Mei 2018 karena alasan teknis.

Wawan Mangile (TNC)

Foto : Wawan Mangile/TNC

Karang Yang Sehat - Wawan Mangile (TNC)

Foto : Wawan Mangile/TNC

Perjalanan RHM menggunakan kapal KM Gurano Bintang yang sekaligus menjadi base untuk tim selama kegiatan  ini berlangsung. Total site yang diambil datanya sebanyak 35 Site. Satu titik kontrol tidak diambil karena tidak mendapat izin dari pemilik hak ulayat dan masyarakat setempat.

Beberapa catatan yang menarik dari temuan tim monitoring adalah ;

Komunitas Ikan :

  • Hiu hanya  ditemukan  di 6 site  yaitu  : Pulau Yoop, Pulau  Roswar, Pulau  Anggrameos, Tanjung Mangguar, dan depan kampung Siren.
  • Shooling Ikan Kulit Pasir atau famili Naso spp., Kakap atau Lutjanidae. dan ikan lalosi atau Caesionidae ditemukan di site Anggrameos
  • Schooling Ikan Bubara spesies Caranx sexfasciatus atau big-eye trevally di lokasi Tanjung Warsumbin dan Caranx ignobilis atau giant trevally di Nutabar.

Komunitas Terumbu karang :

  • Masih maraknya penggunaan bom ikan, setidaknya ditemukan 4 bekas bom baru selama monitoring
  • Di beberapa lokasi ditemukan kompetisi antara alga, sponge dan karang
  • Ditemukan predasi karang dari bintang laut berduri atau COTs dan kerang Drupella tetapi dalam jumlah yang sedikit.
  • Secara umum penyakit karang belum mengancam ekosistem terumbu karang di TNTC
  • Pelanggaran zonasi, tim menemukan kapal wisata dan kapal nelayan yang masuk ke Zona Inti
[qode_button_v2 target=”_self” hover_effect=”” gradient=”no” text=”Post Sebelumnya” link=”https://science4conservation.com/monitoring-kesehatan-karang-di-kkpd-kepulauan-ayau-asia/” color=”#1e73be” hover_color=”#6d97bf”]
[qode_button_v2 target=”_self” hover_effect=”” gradient=”no” text=”Post Selanjutnya” link=”https://science4conservation.com/monitoring-kesehatan-karang-di-wayag-teluk-mayalibit-selat-dampier-kofiau/” color=”#1e73be” hover_color=”#6d97bf” margin=”0px 0px 0px 45px”]
Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring Kesehatan Karang di KKPD Kepulauan Ayau-Asia

Monitoring dilaksanakan dengan menggunakan live aboard – KLM Jaya selama 9 hari pada tanggal 8 – 16 Mei 2018. KLM Jaya digunakan sebagai home-based tim monitoring dan dilengkapi dengan 2 dinghy untuk mendukung pelaksanaan monitoring. Speedboat Indaf dari pos pengawasan Ayau Kecil dan Insonem dari Ayau Besar, digunakan untuk mendukung kegiatan monitoring sehingga dapat berjalan lebih cepat dan untuk meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki kegiatan monitoring dari masyarakat lokal dan tim monitoring BLUD-UPTD Raja Ampat.KKPD Kepulauan Ayau-Asia, dan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Survei tambahan tentang penyakit karang dilakukan oleh Dr. Ofri Johan – ahli dan peneliti peyakit karang dari Balai Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Tim Ekologi Ayau

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Tim Ekologi Ayau 2

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Beberapa catatan yang menarik dari temuan tim monitoring adalah :

Komunitas Ikan :

  • Secara umum komunitas ikan dalam kondisi yang sehat dengan indikasi masih ditemukan ikan carnivore atau predator ukuran besar sepeti ikan kerapu, kakap, hiu, bubara, dan ikan jenis herbivore (ikan baronang, kulit pasir dan kakatua) serta ikan-ikan ukuran kecil lainnya, seperti ikan lalosi dan ikan oci.
  • Ikan napoleon (Cheilinus undulatus) ditemukan dibeberapa lokasi dalam kelompok yang cukup besar (15 – 20 ekor) dan diduga akan melakukan pemijahan.
  • Ikan kerapu saiseng (Pletropomus areolatus) ditemukan dalam kelompok besar di A022 – Tanjung Pulau Miarin – Kepulauan Asia dan di A002 – Abor di dekat Ayau Kecil. Kedua lokasi ini merupakan lokasi pemijahan ikan yang masih fungsional tidak hanya bagi ikan kerapu, tetapi juga beberapa jenis ikan lainnya.
  • Ikan Hiu – hanya ditemukan di beberapa lokasi diperkirakan jumlah dan populasinya lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil monitoring di KKP lainnya di Raja Ampat.
  • Di beberapa lokasi ditemukan ikan pogo jenis Yellowfin triggerfish (Pseudobalistes flavimarginatus) dalam kelompok dan menunjukkan tanda-tanda pemijahan.

Terumbu karang :

  • Kepulauan Ayau dan Asia merupakan wilayah paling utara di Raja Ampat yang relative terbuka dan selalu terkena gelombang di semua musim sehingga pertumbuhan karang sedikit berbeda dengan wilayah lain di Raja Ampat yang relatof terlindung. Di Ayau beberapa lokasi didominasi oleh karang keras yang merayap atau menjalar yang tumbuh di lereng terumbu. Terumbu karang cabang seperti jenis Acropora relative sedikit jika dibandingkan dengan lokasi lain di Raja Ampat.
  • Secara umum karang dalam kondisi sehat – tidak ditemukan (sangat sedikit) penyakit karang, tidak ada bleaching/pemutihan karang.
  • Tidak ditemukan rubble baru bekas bom atau karang rusak akibat bius
  • Macro algae jenis Halimeda banyak ditemukan di Pulau Fani dan juga ditemukan adanya kompetisi pertumbuhan antara karang dengan sponge dan algae di beberapa lokasi monitoring.

Dari survei penyakit karang didapatkan kesimpulan sementara bahwa wilayah KKP Kepulauan Ayau -Asia sangat sehat jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Hanya ditemukan 1 koloni yang terkena Black Band Disease di Pulau Fani di Kepulauan Asia. Penyakit karang lain yang ditemukan adalah White Syndrome dan Skeletal Eroding Band tetapi dalam jumlah dan persentase yang sangat kecil. Ditemukan juga Drupella – gastropoda atau jenis siput atau kerang pemakan karang ditemukan di beberapa sites monitoring. Drupella secara alami merupakan hewan pengontrol pertumbuhan beberapa famili karang yang relative cepat, tetapi jika populasi nya cukup besar dapat menjadi indikasi kuat terjadinya gangguan ekosistem terumbu karang.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Masyarakat Distrik Abun Periode Februari – Mei 2018

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kembali mengadakan pelatihan yang dikhususkan bagi Pendamping Masyarakat (PM) Distrik Abun. Pelatihan ini memberi penguatan kapasitas bagi para PM yang nantinya bertugas meningkatkan kapasitas masyarakat di lima kampung binaan UNIPA di distrik Abun Kabupaten Tambrauw Papua Barat yaitu kampung Saubeba, kampung Womom, kampung Warmandi, kampung Wau, kampung Saubeba. Yang kemudian kami merjer karena berdekatan lokasi yaitu kami sebut kampung Saubeb-Womom, kampung Warmandi, dan kampung Wau-Weyaf. Tahapan seleksi penerimaan Pendamping Masyarakat dilakukan secara transparan dan objektif melalui tahapan penyampaian informasi penerimaan calon PM melalui media sosial dan pengumuman di setiap fakultas dlingkungan UNIPA. Tahapan-tahapan seleksi penerimaan calom PM yaitu Tahap pertama, pengumuman penerimaan calon pendamping masyarakat melalui media sosial dan selebaran. Tahap kedua, penerimaan berkas dan seleksi berkas. Tahap ketiga, seleksi wawancara, dan tahap keempat atau yang terakhir, pelatihan calon PM. Berkas lamaran yang masuk bukan hanya dari alumni UNIPA tetapi ada juga dari luar alumni UNIPA yang ada di Papua Barat dan Papua serta diluar pulau Papua. Kegiatan Pelatihan dimulai pada tanggal 30 Januari sampai dengan 2 Februari 2018 di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan, dibuka langsung oleh Bapak Charli Wanggai (Sekretaris LPPM). Dari 12 orang yang dinyatakan layak mengikuti pelatihan PM, hanya 10 orang yang berasal dari alumni UNIPA yang mengikuti pelatihan PM dari awal sampai selesai.

IMG_6777

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

IMG_6684

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Pendamping masyarakat yang nantinya dipilih terdiri dari 2 kategori yaitu kategori pendamping lapang sebanyak 6 orang dan kategori pendamping pemasaran sebanyak 2 orang. Jadi pendamping yang dinyatakan lulus dalam pelatihan sebanyak 8 orang. Materi pelatihan yang diberikan secara garis besar terbagi atas 3 bagian yaitu pertama, Program Trip Februari-Mei 2018 terdiri dari sejarah singkat terbentuknya kampung binaan UNIPA di distrik Abun dan teknis capaian program serta tupoksi PM. Kedua, materi pertanian dan pendidikan yang terdiri dari Pertanian sederhana bercocok tanam sayuran dan pembuatan pupuk kompus serta pengelolaan rumah belajar. Ketiga, materi pengolahan terdiri dari praktik pembuatan kripik pisang dengan berbagai rasa dan praktik pembuatan minyak kelapa. Materi-materi yang diberikan sudah dirancang sedemikian rupa sehingga diharapkan apabila peserta PM mengikuti semua pelatihan yang diberikan dapat dijadikan bekal PM melakukan tugas dan tanggungjawab dikampung-kampung yang ditempatkan nantinya. Kegiatan ini ditutup secara resmi oleh ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan Ibu Fitriyanti Pakiding, Ph.D berpesan bahwa peserta yang nantinya terpilih sebagai pendamping masyarakat merupakan perpanjangan tangan dari Tim Abun yang bekerja di kampung dan merupakan ujung tombak program kerja dan melakukan pendamping masyarakat di kampung, bekerjasama secara tim, dan menjaga kesehatan serta pendamping harus menjaga nama baik UNIPA.