Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Musim yang Berubah, Kehidupan Pesisir Terdampak

Musim yang Berubah, Kehidupan Pesisir Terdampak

Penulis

Jeniffer Maleke, Rafly Rumere, Kezia Salosso, Arnoldus Ananta

Tanggal

16 Februari 2026

“Bapa/Mama/Saudara/i, kami ingin mengajak untuk bersama-sama mengamati perubahan cuaca dan iklim yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Apakah Bapa/Mama/Saudara/i pernah merasakan adanya pergeseran pola cuaca? Apakah perubahan tersebut berdampak pada mata pencaharian utama Bapa/Mama/Saudara/i, baik secara positif maupun negatif?” Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah beberapa contoh pertanyaan yang kami lontarkan dalam survei sosial. Pertanyaan tersebut menjadi penting untuk dipahami, mengingat cuaca merupakan kondisi atmosfer jangka pendek yang dapat berubah setiap saat (jam, hari, minggu), sementara iklim adalah pola cuaca rata-rata yang berlangsung dalam jangka waktu panjang (tahunan) di suatu wilayah.

Keindahan alam yang menjadi ciri khas suatu daerah tidak sepenuhnya terlepas dari ancaman perubahan iklim. Raja Ampat, yang dikenal luas dengan bentang alamnya yang indah dan kekayaan lautnya, dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi. Perubahan ini hadir dalam bentuk yang sederhana, namun nyata dan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Secara umum, perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang pada pola cuaca dan suhu bumi. Dalam kajian ilmiah, perubahan iklim sering dikaitkan dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dan pergeseran musim. Namun, bagi masyarakat pesisir, perubahan tersebut lebih dulu dirasakan sebagai perubahan cuaca harian yang memengaruhi aktivitas dan penghidupan mereka.

Kepulauan Kofiau, Raja Ampat, menjadi salah satu wilayah di mana perubahan cuaca dan musim semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas masyarakat, terutama berkebun, melaut, serta mengolah kopra, menjadi bagian yang terdampak langsung oleh perubahan tersebut. Musim hujan kini terasa lebih sering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sementara waktu datangnya musim angin, khususnya angin selatan, tidak lagi dapat diprediksi mengikuti “perhitungan orang tua dulu”. Pola musim yang dahulu menjadi pegangan dalam menentukan waktu melaut perlahan berubah, menciptakan ketidakpastian yang terus dirasakan oleh masyarakat.

Nelayan sedang mendayung di Kampung Balal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Proses penjemuran ikan asin di Kampung Balal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Berdasarkan pengamatan selama survei lapangan pada tahun 2025, perubahan cuaca memberi dampak yang beragam. Selain waktu musim yang berubah, curah hujan juga semakin meningkat. Di satu sisi, curah hujan yang tinggi membuat tanaman di kebun tumbuh lebih subur. Namun disisi lain, hujan yang berlangsung terus-menerus justru membatasi aktivitas masyarakat.

Saat hujan turun, masyarakat kesulitan pergi berkebun karena lokasi kebun yang jauh dari kampung serta medan yang tidak mendukung. Nelayan juga tidak dapat beraktivitas secara maksimal. Kondisi cuaca yang tidak stabil membuat mereka tidak bisa melaut jauh dan sering kali hanya mencari hasil laut sebatas untuk konsumsi keluarga. Proses penjemuran ikan untuk dijadikan ikan asin pun menjadi sulit dilakukan dan membutuhkan waktu lebih lama hingga siap dipasarkan. Terhambatnya aktivitas ini turut memengaruhi kondisi ekonomi keluarga.

Ketergantungan masyarakat pada alam tidak hanya terlihat dari aktivitas melaut dan berkebun, tetapi juga dari kegiatan pembuatan serta penjualan kopra. Perubahan cuaca, terutama hujan yang berkepanjangan, memengaruhi kelancaran proses pembuatannya, mulai dari pengumpulan kelapa hingga proses pengasapan atau pengeringan untuk menghasilkan kopra.

Dampak perubahan cuaca juga terlihat langsung pada kondisi lingkungan kampung. Saat hujan turun dalam waktu lama atau ketika cuaca ekstrem terjadi, air tergenang di dalam kampung, terutama di wilayah pinggiran pantai, bahkan hingga masuk ke rumah-rumah masyarakat. Selain itu, abrasi pantai semakin dirasakan. Pengikisan garis pantai dan genangan air yang semakin sering menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan ruang hidup masyarakat pesisir.

Genangan air pasca hujan yang terjadi di Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Genangan air pasca hujan yang terjadi di Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ketidakpastian cuaca turut berdampak pada akses dan mobilitas. Ketika cuaca ekstrem terjadi, kapal yang beroperasi di kampung-kampung tidak selalu dapat mencapai tujuan dan terkadang harus kembali ke Sorong. Kondisi ini membuat masyarakat semakin merasakan keterbatasan akses, terutama dalam situasi darurat atau ketika ada kebutuhan mendesak.

Cerita dari Kepulauan Kofiau mengajak kita untuk kembali merenung: apakah perubahan cuaca dan musim yang dirasakan masyarakat pesisir ini merupakan bagian dari perubahan iklim yang sedang berlangsung, atau ada faktor lain yang turut memperbesar risiko yang mereka hadapi? Apa pun jawabannya, Kepulauan Kofiau menunjukkan bahwa masyarakat pesisir berada di garis depan dalam menghadapi dampak perubahan cuaca dan iklim. Perubahan ini bukan sekadar isu global, melainkan kenyataan yang setiap hari memengaruhi cara masyarakat hidup, bekerja, dan bertahan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Jejak Sosial dari Teluk Mayalibit​

Jejak Sosial dari Teluk Mayalibit

Tim monitoring sosial Teluk Mayalibit 2025

Penulis

Jeniffer Maleke dan Elisa Putra

Tanggal

30 Desember 2025

Kawasan konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Di dalam dan di sekitarnya, ada masyarakat yang hidup, beraktivitas, dan berinteraksi langsung dengan alam setiap hari. Oleh karena itu, memahami hubungan antara kawasan konservasi dan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pengelolaan yang berkelanjutan.

Pada tahun 2025, kami kembali melaksanakan monitoring sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Monitoring sosial merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun sekitar kawasan tersebut.

Rivaldo Heipon dan Jelly Palle sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warsambin
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Agustinus Aiwor dan Jackson Bundah sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Arawai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kezia Salosso)

Bersama Masyarakat di Teluk Mayalibit

Kegiatan ini dilaksanakan oleh 11 orang tim lapangan, yang terdiri atas 4 staf program—Kezia Salosso, Arnoldus Ananta, Marthinus Rumere, dan Jeniffer Maleke—serta 7 enumerator, yaitu Agustinus Aiwor, Jackson Bundah, Jelly Palle, Maria Bame, Rivaldo Heipon, Spenyel Yenusy, dan Thomas Sembai.

Spenyel Yenusy dan Maria Bame sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warsambin
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Jeniffer Maleke sedang mewawancarai salah seorang warga di Kampung Warimak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Selama berada di lapangan, tim banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat serta aparat kampung. Interaksi ini menjadi bagian penting dari proses monitoring, sekaligus ruang belajar bersama untuk memahami kehidupan masyarakat yang berada di dalam kawasan konservasi maupun wilayah sekitarnya.

Waktu dan Lokasi Kegiatan

Seluruh rangkaian kegiatan lapangan dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada 23 Oktober hingga 19 November 2025, di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Kawasan ini merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Area II dalam Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 13/KEPMEN-KP/2021 Tahun 2021.

Dalam periode tersebut, tim mengunjungi 13 kampung, dengan dua kampung berada di luar kawasan konservasi dan digunakan sebagai daerah kontrol untuk melengkapi proses pengumpulan informasi.

Pemandangan sore hari di Kampung Kabui
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ebi (udang kering)–salah satu hasil laut Kampung Beo
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Kezia Salosso)

Monitoring sebagai Peninjauan Berkala

Monitoring sosial tahun 2025 ini merupakan pengulangan kelima sejak survei dasar (Baseline Survey) tahun 2010. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari peninjauan berkala untuk melihat bagaimana kondisi sosial masyarakat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ekologi yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, serta interaksi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam, menjadi latar belakang penting dilakukannya monitoring ini. Melalui kegiatan ini, dilakukan pula peninjauan terhadap tata kelola sumber daya perairan sebagai referensi dalam pengelolaan KKP yang bersifat dinamis.

Proses Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaannya, tim melakukan pengumpulan data kondisi sosial masyarakat melalui wawancara rumah tangga. Selain itu, informasi mengenai tata kelola sumber daya perairan dikumpulkan melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara dengan informan kunci. Kegiatan ini juga mencakup upaya untuk mempelajari peran perempuan di dalam kawasan KKP dan wilayah sekitarnya, sebagai bagian dari gambaran sosial masyarakat secara menyeluruh.

Kezia Salosso dan Marthinus Rumere melakukan diskusi kelompok terarah bersama beberapa anggota masyarakat di Kampung Beo
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jackson Bundah)

Diskusi kelompok terarah bersama beberapa anggota masyarakat di Kampung Warimak
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Menjadi Dasar Pengelolaan ke Depan

Dari rangkaian kegiatan ini, kami memperoleh gambaran mengenai dinamika sosial masyarakat serta bagaimana masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Informasi yang terkumpul akan diolah lebih lanjut dan digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan KKP ke depan.

Melalui monitoring sosial ini, upaya pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit diharapkan dapat terus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat, seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan kawasan konservasi.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei New Template

Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat​

Belajar dari Lapangan: Pelatihan Surveyor Lapangan Survei Sosial di Raja Ampat

Penulis

Jennifer Maleke, Marthinus Rumere, dan Arnoldus Ananta

Tanggal

10 November 2025

Survei sosial merupakan kegiatan pemantauan untuk mengkaji keberhasilan hubungan antara kawasan konservasi dengan masyarakat yang tinggal di dalam maupun di sekitar kawasan tersebut. Survei sosial yang dilakukan meliputi survei rumah tangga, survei gender, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci

Pada tahun 2025, tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosek (Sosial-Ekonomi) melaksanakan survei sosial pada 13 kampung di Kawasan Konservasi Teluk Mayalibit, Raja Ampat, sebagai pemantauan pengulangan ke-5 dari kegiatan pemantauan sosial yang telah dilakukan sejak tahun 2010.

Untuk menyukseskan pelaksanaan survei sosial, diadakan pelatihan bagi para surveyor selama tiga hari, dari tanggal 15 hingga 17 Oktober 2025. Pelatihan ini dibuka oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding, dengan narasumber Koordinator BHS, Kezia Salosso, serta anggota BHS Sosek, Jennifer Maleke dan Marthinus Rumere. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh para enumerator, yaitu Thomas Sembai, Jelly Palle, Spenyel Yenusy, Maria Bame, Jackson Bundah, Rivaldo Heipon, dan Agus Aiwor.

Pada hari pertama, kegiatan dimulai dengan pembukaan resmi oleh Pengelola Program Sains Untuk Konservasi, Fitriyanti Pakiding. Setelah itu, peserta mendapatkan pengantar Survei Sosial BLKB (Bentang Laut Kepala Burung) Papua Tahun 2025, yang mencakup tujuan dan lokasi survei, jenis dan jumlah data yang akan dikumpulkan, serta penjelasan detail mengenai instrumen survei rumah tangga.

Pengelola Program Sains Untuk Konservasi Membuka Pelatihan Surveyor Lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Penjelasan instrumen rumah tangga oleh Koordinator BHS Sosek
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Memasuki hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan praktik lapangan di Pulau Mansinam. Tim terlebih dahulu melapor kepada aparat kampung setempat, kemudian melaksanakan latihan wawancara survei rumah tangga, focus group discussion (FGD), dan wawancara informan kunci bersama beberapa responden. Kegiatan FGD dan survei rumah tangga dilakukan secara terpisah, di mana FGD dipimpin oleh Koordinator BHS Sosek bersama aparat kampung, beberapa masyarakat, dan tetua adat.

Tim mempersiapkan perlengkapan survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Sementara itu, survei rumah tangga dilakukan oleh para enumerator yang terbagi dalam tiga kelompok untuk mewawancarai masing-masing satu penduduk. Sesi ini berlangsung sekitar dua jam. Setelah itu, tim melakukan pembersihan dan pengecekan data untuk memastikan akurasi serta pemahaman para peserta terhadap prosedur survei.

Briefing sebelum pelaksanaan pre-test wawancara survei
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pre-test wawancara FGD
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jennifer Maleke)

Pada hari ketiga, kegiatan difokuskan pada evaluasi dan refleksi hasil pelatihan. Tim melakukan review terhadap hasil try-out atau pre-test, serta mendiskusikan tindak lanjut dari proses wawancara yang telah dilakukan. Sebagai penutup, peserta menyusun rencana kerja lapangan dan mempersiapkan perlengkapan survei yang akan digunakan selama pelaksanaan pemantauan sosial.

Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya memperdalam keterampilan teknis, tetapi juga membangun pijakan penting untuk menghadirkan hasil pemantauan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya alam yang mereka jaga.

Pre-test wawancara salah satu penduduk mengunakan survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pengecekan dan pembersihan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Survei Sosial di Kawasan Konservasi Kepulauan Kofiau-Boo: Suara Masyarakat dan Harapan Konservasi

Survei Sosial di Kawasan Konservasi Kepulauan Kofiau-Boo: Suara Masyarakat dan Harapan Konservasi

Penulis

Arnoldus Ananta, Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere

Tanggal

23 Juli 2025

Pada akhir Mei 2025, tim Program Sains untuk Konservasi dari LPPM Universitas Papua (UNIPA) melakukan survei kesejahteraan masyarakat yang hidup berdampingan dengan Kawasan Konservasi (KK) di Kepulauan Raja Ampat, tepatnya di Kepulauan Kofiau-Boo. Survei ini bertujuan untuk mengkaji dampak penetapan dan pengelolaan kawasan Konservasi terhadap kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar KK. Survei sosial ini adalah bagian dari kerjasama antara Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi dari LPPM, BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat, Pemerintah Daerah (Distrik dan Kampung), serta masyarakat lokal.

Sejak 31 Mei hingga 2 Juli 2025, tim yang terdiri dari Dr. Elfira Suawa, Arnoldus Ananta, Jeniffer Maleke, Marthinus Rumere, Maria Bame, Jelly Palle, dan Agustinus Aiwor, belajar dengan masyarakat di 8 kampung yang berada di wilayah Kepulauan Kofiau-Boo. Perjalanan dimulai dari Distrik Kofiau, yakni Kampung Deer, Kampung Mikiran, Kampung Tolobi, dan Kampung Dibalal. Setelah itu, tim melanjutkan perjalanan menuju Distrik Kepulauan Sembilan di Kampung Wejim Timur, Kampung Wejim Barat, Kampung Satukurano (Meoskapal), dan Kampung Pulau Tikus. Setiap kampung yang dikunjungi oleh tim memiliki cerita, tantangan, dan karakteristik yang berbeda.

Dari survei ini, tim berhasil belajar dari 286 kepala keluarga yang menjadi responden. Mereka berbagi kisah tentang kehidupan sehari-hari, perubahan yang mereka rasakan sejak adanya kawasan konservasi, serta bagaimana kondisi laut dan hasil tangkapan mereka berubah dari waktu ke waktu.

Kampung pertama yang dikunjungi, Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Melapor ke salah satu aparat kampung di Kampung Mikiran
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Selain wawancara rumah tangga, tim juga melakukan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara dengan tokoh-tokoh kunci kampung untuk mendata bagaimana masyarakat mengelola laut mereka. Mereka juga belajar secara khusus tentang peran perempuan di wilayah Kepulauan Kofiau-Boo.

Rute yang terbatas dan cuaca yang tak selalu bersahabat tidak menyurutkan semangat tim untuk tetap menjangkau setiap kampung sesuai jadwal. Kampung Deer berfungsi sebagai titik masuk utama di Distrik Kofiau. Sedangkan Kampung Wejim Timur dijadikan sebagai homebase (tempat tinggal tetap/titik pusat aktivitas tim survei) selama survei berlangsung di Kepulauan Sembilan, karena kapal logistik dan transportasi umum hanya berlabuh di sana.

Menariknya, di setiap lokasi yang dikunjungi, masyarakat selalu menyambut tim dengan hangat. Sambutan ini tidak hanya menunjukkan keterbukaan mereka, tetapi juga menjadi cerminan dari harapan bahwa mereka ingin terlibat dan didengarkan dalam proses pengelolaan kawasan konservasi.

Tim melakukan FGD di Kampung Wejim Timur dan Kampung Wejim Barat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Ikan asin atau ikan garam, salah satu bentuk olahan ikan oleh masyarakat di Kampung Tolobi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagi tim survei, ini lebih dari sekadar pengumpulan data. Ini adalah proses membangun kepercayaan, memahami dinamika sosial lokal, dan merancang masa depan konservasi yang inklusif, di mana masyarakat bukan hanya sekadar “penonton”, melainkan mitra utama.

Konservasi, dalam konteks ini, tidak hanya soal melindungi laut dari kerusakan. Konservasi adalah tentang menjaga hubungan antara manusia dan alam, menciptakan ruang hidup yang berkelanjutan, serta memastikan bahwa anak cucu masyarakat pesisir tetap memiliki laut yang sehat dan produktif.

Salah satu tim surveyor melakukan wawancara gender
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

“Menjaga, melindungi, dan melestarikan adalah istilah sederhana dari konservasi. Tapi di lapangan, kami menyaksikan sendiri bahwa ketiganya hanya mungkin terjadi jika masyarakat turut terlibat di dalamnya.”

Survei sosial ini bukanlah akhir. Ia adalah pijakan awal untuk melihat kawasan konservasi tidak hanya dari kacamata ekologi, tetapi juga dari sisi sosial atau kemanusiaan, karena laut yang lestari juga dapat dicapai jika manusia hidup sejahtera berdampingan dengan alam.

Masyarakat lokal di Kampung Tolobi menangkap ikan menggunakan alat tangkap sederhana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ikan laut menjadi sumber protein penting bagi masyarakat di Kepulauan Kofiau-Boo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Petualangan Eksplorasi Kaimana: Menyelami Kekayaan Alam & Kearifan Lokal

Petualangan Eksplorasi Kaimana: Menyelami Kekayaan Alam & Kearifan Lokal

Penulis

Arnoldus Samudra Ananta, Dahlia Menufandu

Tanggal

5 Mei 2025

Tim gabungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Mitra Sinergi Rakyat untuk Alam (SINARA), dan BLUD UPTD Kaimana-Fakfak baru saja menyelesaikan ekspedisi yang menggabungkan semangat ilmiah dengan pengalaman budaya dan lingkungan yang mendalam. Selama lebih dari satu bulan, tim melakukan survei sosial dan ekonomi di empat Kawasan Konservasi (KK) di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Mereka menjelajahi 25 kampung yang tersebar di dalam dan luar wilayah konservasi untuk menggali informasi seputar kondisi sosial-ekonomi masyarakat, aktivitas kelautan, pengelolaan sumber daya alam, serta potensi pencemaran di kawasan pesisir.

Arwah kaka ABi sedang mengikuti dari belakang

Persiapan Tim dari Kampung Namatota Menuju Kampung Rurumo di Teluk Etna, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Perjalanan dimulai di Kawasan Konservasi Arguni, di mana tim mengunjungi enam kampung, termasuk Kampung Kokoroba. Kampung ini memiliki kisah unik, menjadi satu-satunya di Arguni yang memiliki sumber mata air pegunungan yang digunakan oleh penduduk lokal dan kampung-kampung sekitarnya. Masyarakat setempat menunjukkan hubungan erat dengan alam, baik dalam memanfaatkan hasil kebun seperti durian dan pala, maupun dalam mengelola sumber daya laut seperti kepiting dan ikan secara berkelanjutan. Kehangatan dan kebersamaan masyarakat memperkuat kesan bahwa kearifan lokal masih menjadi nilai utama dalam kehidupan mereka.

Sumber mata air di Kampung Kokoroba, KK Teluk Arguni
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kopra; salah satu komoditi unggulan di Kampung Adijaya, KK Buruway
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selama perjalanan, tim juga menyelami kekayaan budaya dan alam Kaimana yang menakjubkan. Terletak di pesisir barat Papua, Kaimana dikenal dengan senjanya yang memukau, laut yang jernih, serta hutan tropis yang masih alami. Keindahan ini berpadu dengan tradisi lokal yang kuat, menjadikan Kaimana unik secara budaya dan ekologis.

Salah satu atraksi wisata di Kolam Sisir, Kampung Marsi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Senja di Kampung Bamana, KK Teluk Etna
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Salah satu tempat yang menarik perhatian tim adalah Kampung Lobo, yang menyimpan warisan sejarah dan mitologi yang kaya, diantaranya ada Gunung Emansiri, yang dipercaya sebagai tempat asal legenda elang raksasa dan ada juga Fort Du Bus yaitu benteng peninggalan Belanda dari tahun 1828.

Gunung Emansiri, Kampung Lobo, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Struktur Benteng dan Tugu DU BUS, Kampung Lobo, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Diva Regita)

Survei ini bukan hanya sekadar penelitian ilmiah, melainkan juga sebuah petualangan penuh wawasan. Dari pesona alam yang menakjubkan hingga keramahan masyarakat yang tulus, Kaimana membuktikan bahwa harmoni antara manusia dan alam tetap terjaga dengan kuat.

Perjalanan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya konservasi dan peran masyarakat setempat sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian sumber daya alam mereka. Sampai jumpa dalam ekspedisi berikutnya!

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Menyusuri Fakfak, Lebih dari Sekadar Perjalanan: Pengalaman Tim Monitoring Sosial

Menyusuri Fakfak, Lebih dari Sekadar Perjalanan: Pengalaman Tim Monitoring Sosial

Penulis

Elisa Putra dan Abigail Lang

Tanggal

19 Maret 2025

Sebagai bagian dari tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat  (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Jeniffer Maleke (sapaan akrab Babby) merasa beruntung bisa terlibat dalam perjalanan menyusuri kampung-kampung di Wilayah Fakfak. Setiap langkah yang ditempuh oleh Babby dan tim membawa pengalaman baru yang memperdalam pemahaman akan kearifan lokal dan dinamika sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Teluk Berau dan Nussalasi Van-Den Bosch, Fakfak. Melalui tulisan ini, kami ingin berbagi tentang pengalaman Babby dalam perjalanan yang penuh tantangan namun penuh makna.

Babby (Kanan) dan Maria (Tengah) sedang mewawancarai responden (Kiri) di Kampung Arguni
(Foto : Gemala Dirgantari)

Perjalanan kali ini membawa tim Monitoring Sosial ke wilayah menakjubkan di Kawasan Konservasi (KK) Teluk Berau dan Nussalasi Van-Den Bosch, di Fakfak. Bersama tim solid — LPPM UNIPA (Yeni Yulia Andriani, Jeniffer Maleke, Kezia Salosso, Jelly Palle, Maria Bame, Spenyel Yenusy, William Kaunang), dan Mitra Pengelola KK dari Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah Kaimana-Fakfak (Gemala Dirgantari) — mereka memulai perjalanan pada 26 Januari hingga 23 Februari 2025 , menyusuri 11 kampung untuk melakukan survei Rumah Tangga untuk menilai kesejahteraan masyarakat dan survei Neraca Sumberdaya Laut (Ocean Account.).

Pertemuan dengan aparat Kampung Pang Wadar
(Foto : Gemala Dirgantari)

Jelly (Kiri), Spenyel (Tengah) sedang bertemu dengan aparat Kampung Arguni (Kiri)
(Foto : Gemala Dirgantari)

Satu hal yang membuat pengalaman ini berkesan adalah proses perizinan. Selain dipimpin oleh Kepala Kampung sebagai perwakilan aparat pemerintah, kampung-kampung yang dikunjungi juga memiliki sistem Kerajaan yang dalam istilah setempat disebut Petuanan. Setiap wilayah Petuanan memiliki seorang pemimpin yang disebut ‘Bapa Raja’. Artinya, mereka harus meminta izin bukan hanya ke kepala kampung, tapi juga ke ‘Bapa Raja’ setempat atau para Perangkat Kerajaan — sebuah pengalaman yang membuat mereka makin menghargai kearifan lokal di sini.

Yang menarik, mayoritas masyarakat di wilayah survei mereka ini berprofesi sebagai nelayan dan petani. Selain itu, ikan Kembung dan Cumi-cumi yang biasa kita santap di kota besar, di sini justru dijadikan umpan untuk menangkap ikan yang lebih besar. Masyarakat pesisir juga menjual gelembung ikan Kakap Putih yang ternyata punya banyak manfaat dan memiliki nilai jual yang mahal — salah satu komoditas bernilai tinggi yang mungkin jarang kita dengar di tempat lain.

Ikan Kakap Putih
(Foto : Gemala Dirgantari)

Kampung Ugar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Setiap kampung yang mereka datangi memiliki daya tarik tersendiri. Kampung Maas memiliki potensi wisata sangat menarik berkat dukungan PokDarWis (Kelompok Sadar Wisata) yang aktif mengembangkan kampungnya. Laut di kampung ini sangat bersih, bahkan mereka menjumpai penyu mencari makan secara bebas di dekat pantai. Babby dan teman teman berkesempatan berenang di sekitar penyu-penyu tersebut. Kampung lain yaitu Patimburak. Di kampung ini berdiri sebuah ‘Masjid Tua’ yang dibangun sejak tahun 1870. Masjid inilah yang katanya menjadi asal muasal filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang melambangkan kerukunan dan toleransi antar umat beragama, adat, dan pemerintahan di Fakfak.  Pengalaman ini membuat Babby kagum dan membayangkan betapa kayanya nilai budaya di Fakfak.

Masjid Tua di Patimburak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

William (Kanan) dan Gemala (Tengah) sedang mewawancarai responden (Kiri) di Kampung Andamata
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Perjalanan ini penuh tantangan karena beberapa rumah warga terletak di daerah yang terjal dan licin, minimnya penerangan saat pengambilan data di malam hari, serta jarak antar kampung yang jauh, yang harus ditempuh melalui jalur darat dan laut. Selain itu, mobilitas masyarakat yang tinggi membuat mereka harus ekstra sabar dan semangat melakukan survei. Untungnya, sambutan hangat masyarakat membuat lelah mereka terbayar lunas. Sekembalinya mereka ke Manokwari, pada tanggal 26 Februari 2025, tim mereka membawa oleh-oleh manisan pala yang menjadi salah satu ciri khas dari Fakfak

Kampung Arguni
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Setiap sudut Fakfak punya cerita, Babby dan teman-teman merasa beruntung bisa jadi bagian dari kisah ini. Rasanya tidak sabar buat berbagi lebih banyak pengalaman dari lapangan berikutnya!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei Monitoring Sosial Training

Pelatihan Surveyor Lapangan untuk Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier

Pelatihan Surveyor Lapangan untuk Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier

Penulis

Arnoldus Ananta

Tanggal

16 Oktober 2024

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melalui Program Sains untuk Konservasi telah melaksanakan Pelatihan Surveyor Lapangan untuk kegiatan Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier di Raja Ampat. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi dasar terkait monitoring sosial yang akan dilakukan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan pengembangan diri para surveyor untuk melakukan survei di lapangan nanti.

Kezia Salosso saat berdiskusi dengan peserta pelatihan mengenai pengisian form instrumen survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Peserta pelatihan melihat kembali form instrumen survei rumah tangga yang telah diisi saat praktek wawancara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Pelatihan yang berlangsung selama 5 (lima) hari, yaitu tanggal 9-11 dan 14-15 Oktober 2024 di Kampus UNIPA, dibuka secara langsung oleh Dr. Fitryanti Pakiding selaku Pengelola Program Sains untuk Konservasi. Terdapat 8 orang sebagai peserta kegiatan, yang memiliki sapaan akrab Abdul, Andho, Angel, Diva, Jelly, Spenyel, Stilo, dan Thomas. Mereka merupakan alumni dari Universitas Papua dan Universitas Cendrawasih, dan memiliki latar belakang ilmu yang beragam yaitu bidang kelautan dan perikanan, biologi, pendidikan, sastra dan antropologi, kehutanan, dan bidang ekonomi/akuntansi.

Selama lima hari pelatihan, tim Program Monitoring Sosial memberikan kesempatan belajar kepada peserta untuk memiliki pengetahuan dan informasi terkait pekerjaan yang akan dilakukan. Mereka belajar tentang Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) dan potensi wilayahnya serta masyarakat pesisir di BLKB, apa yang dimaksud dengan Kawasan Konservasi Perairan, latar belakang dan tujuan pelaksanaan Monitoring Sosial, bagaimana data dikumpulkan di lapangan, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun tim yang solid. Kami juga melakukan praktek sebagai aplikasi dari pembelajaran yang telah dilakukan. Praktek ini termasuk bagaimana memilih responden atau penentuan sampel survei, bagaimana wawancara dilakukan atau bagaimana bertanya kepada responden, bagaimana menjaga kualitas data yang ditulis pada instrumen wawancara, dan praktek penggunaan GPS untuk menandai lokasi pengumpulan data.

Dahlia Menufandu saat menjelaskan kepada peserta training mengenai bagaimana menghitung hasil pendapatan nelayan dalam form instrumen survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Dahlia Menufandu saat menjelaskan kepada salah satu peserta training mengenai bagaimana mengisi form daftar rumah tangga survei Tahun 2024
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Jennifer Maleke saat menjelaskan kepada peserta training mengenai bagaimana mengisi form sampel acak rumah tangga survei sosial
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Peserta pelatihan (dari kanan ke kiri) Spenyel, Diva dan Jelly saat mengoperasikan pemindai GPS di luar ruangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Instrumen pengumpulan data yang akan digunakan oleh peserta di lapangan adalah kuesioner survei rumah tangga. Peserta diharapkan dapat memperhatikan, memahami dan dapat menyampaikan dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada kuesioner kepada responden. Indikator data dan pertanyaan yang akan disampaikan banyak dan beragam, sehingga para peserta juga diharapkan dapat tetap fokus bukan hanya pada saat menyampaikan pertanyaan, tetapi juga bagaimana memahami jawaban yang disampaikan oleh responden.

Survei lapangan di wilayah BLKB Papua sulit dan menantang. Saat menutup kegiatan, Dr. Fitryanti Pakiding berpesan bahwa praktek dan ujian yang sebenarnya akan terjadi saat tim mulai bekerja di lapangan. Kemampuan bekerja sama dan berempati dalam tim merupakan kualitas yang akan melengkapi diri seorang surveyor bukan hanya saat bekerja di lapangan tetapi juga menjadi bekal di masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 Surveyor Lapangan 2023

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 (Wawancara) Tahun 2023

Salam Lestari!

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara pada tanggal 17 April 2023. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI WAWANCARA dan terpilih sebagai KANDIDAT UTAMA untuk mengikuti Training. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

Dengan hormat kami sampaikan beberapa catatan penting sebagai berikut.
1. KANDIDAT UTAMA diharapkan memberikan konfirmasi kesediaan dengan mengisi formulir paling lambat 20 April 2023 Pukul 16:00 WIT.
2. Setelah KANDIDAT UTAMA memberikan konfirmasi kesediaan mengisi lowongan kerja, kami akan menghubungi Anda terkait hal teknis seperti kedatangan ke Manokwari dan persiapan lainnya.
3. Para pelamar yang tidak tercantum namanya di sini dimasukkan dalam DAFTAR TUNGGU. Apabila KANDIDAT UTAMA berhalangan atau mengundurkan diri, maka kami akan menghubungi DAFTAR TUNGGU paling lambat 21 April 2023 Pukul 16:00 WIT
4. SELEKSI TAHAP III/TRAINING akan dilakukan secara offline/tatap muka di Kota Manokwari pada awal bulan Mei 2023. Tanggal dan Waktu Pelaksanaan serta Lokasi Kegiatan akan diinformasikan kemudian
5. Apabila ada pertanyaan dapat menghubungi admin WhatsApp Group (Senin-Jumat, Jam 09:00-16:00 WIT, Hari Raya Idul Fitri Kantor Tutup).

Sampai bertemu di Manokwari!

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 (Wawancara) Tahun 2023

Salam Lestari!

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara pada tanggal 17 April 2023. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI WAWANCARA dan terpilih sebagai KANDIDAT UTAMA untuk mengikuti Training. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

Dengan hormat kami sampaikan beberapa catatan penting sebagai berikut.
1. KANDIDAT UTAMA diharapkan memberikan konfirmasi kesediaan dengan mengisi formulir paling lambat 20 April 2023 Pukul 16:00 WIT.
2. Setelah KANDIDAT UTAMA memberikan konfirmasi kesediaan mengisi lowongan kerja, kami akan menghubungi Anda terkait hal teknis seperti kedatangan ke Manokwari dan persiapan lainnya.
3. Para pelamar yang tidak tercantum namanya di sini dimasukkan dalam DAFTAR TUNGGU. Apabila KANDIDAT UTAMA berhalangan atau mengundurkan diri, maka kami akan menghubungi DAFTAR TUNGGU paling lambat 21 April 2023 Pukul 16:00 WIT
4. SELEKSI TAHAP III/TRAINING akan dilakukan secara offline/tatap muka di Kota Manokwari pada awal bulan Mei 2023. Tanggal dan Waktu Pelaksanaan serta Lokasi Kegiatan akan diinformasikan kemudian
5. Apabila ada pertanyaan dapat menghubungi admin WhatsApp Group (Senin-Jumat, Jam 09:00-16:00 WIT, Hari Raya Idul Fitri Kantor Tutup).

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Wawancara Surveyor Lapangan

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Wawancara Surveyor Lapangan Tahun 2023

Salam Lestari.

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 27 Orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

 

1. Wawancara dilaksanakan tanggal 17 April 2023

2. Wawancara dilaksanakan secara online

3. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, silakan japri ke admin WA Grup

 

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Cerita dari Lapang: Survey Sosial di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Teluk Mayalibit (ending)

Cerita dari Lapang: Survey Sosial di Kawasan Konservasi Perairan

Daerah Teluk Mayalibit (ending)

Tanggal

6 Desember 2021

Penulis

Chintia R. Tumbio, Dedi D. Morin, Demianus O. Ambarau, Margaretha M.Y Wakum, Marthinus J. Rumere, Richard J. Tamba

Tim Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua kembali melakukan perjalanan di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Teluk Mayalibit selama bulan Maret-April. Kami pergi ke 13 kampung, yaitu Warsambin, Lopintol, Kalitoko, Kabilol, Go, Beo, Arawai, Waifoi, Yensner, Kapadiri, dan Kabui. Kami bertemu dan melakukan wawancara terhadap 290 kepala keluarga atau responden tentang kehidupan sehari-hari mereka, termasuk aktivitas di laut.

Terkenal sebagai wilayah penghasil dan pemasok Ikan Lema atau Ikan Kembung terbesar di Raja Ampat, perjalanan kami di KKPD Teluk Mayalibit memberikan cerita atau kesan yang sangat beragam. Tidak seperti perjalanan kami sebelumnya di KKPD Kepulauan Kofiau-Boo, kami tidak mengalami kendala cuaca di Teluk Mayalibit karena sebagian besar kampung terletak di dalam teluk.