Monitoring Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) tahun 2019 merupakan kegiatan penelitian yang secara rutin telah dilakukan oleh Universitas Papua (UNIPA) sejak tahun 2010. Pada tahun ini, survei lapangan dilakukan di tiga (3) lokasi yaitu KKP Selat Dampier dan KKP Teluk Mayalibit (Kabupaten Raja Ampat), serta KKP Kaimana (Kabupaten Kaimana). UNIPA bekerjasama dengan Blue Abadi Fund (BAF) dan RARE sebagai sponsor untuk pelaksanaan survei lapangan.
1 Tim UNIPA terdiri dari 4 orang koordinator lapangan dan 13 orang enumerator yang melakukan pengumpulan data sejak tanggal 3 Mei sampai dengan 18 Juni 2019. Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui survei rumah tangga (Household Survey/HH), diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara informan kunci (Key Informant Interview/KII). Total data yang dikumpulkan adalah 1.248 HH, 6 FGD, dan 8 KII (Tabel 1).
Tabel Jumlah Data Survei Tahun 2019

Tim UNIPA melakukan kunjungan ke 47 kampungdi tiga KKP. Terdapat 17 kampung survei di KKP Kaimana, yaitu: Murano, Marsi, Maimai, Lobo, Lumira, Kamaka,Namatota, Nariki, Boiya, Rurumo, Bamana,Siawatan, Nusaulan, Adijaya, Kambala, Yarona,dan Tanggaromi. Di KKP Selat Dampier, tim berkunjung ke 25 kampung, yaitu: Arefi Selatan, Arefi Timur, Yensawai Timur, Yensawai Barat,Amdui, Yenanas, Weiman, Kapatlab, Jefman Barat,Jefman Timur, Wailebet, Solol, Wamega, Arar,Yeflio, Urbinasopen, Mnier, Puper,Saonek, Sapokren, Yenbeser, Sawinggrai, Kurkapa, Sauandarek, dan Arborek.



(Foto : Tim Monitoring Sosial)
Sementara di KKP Teluk Mayalibit, tim mendatangi kampungYensner, Mumes, Araway, Beo, dan Lopintol. Kampung-kampungini merupakan kampungyang termasuk dalam KKP maupun yangtelah ditetapkan sebagai kontrol dari KKP. Kerjasama, dukungan dan kepercayaan yang baik dari berbagai elemen (pemerintah kabupaten dan kampung, masyarakat kampung, serta BAF dan RARE sebagai sponsorutama) adalah kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan monitoring pada tahun ini di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Dengan pengumpulan data yang baik dan berkesinambungan, diharapkan dapat tersedia informasi untuk penetapan dan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan yangmemberikan manfaat baik secara ekologi (lingkungan) maupun kepada masyarakat yangberada di dalam dan sekitar KKP.
(Oleh : Marjan Bato, Joice Pangulimang, Penina M. Maryen & Abidin P. Mayalibit)
Berita Lainnya

Joice Pangulimang – Juli 1, 2019

Irman Rumengan – Juli 1, 2019

