Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Dua Belas Hari di Laut: Ekspedisi RHM 2025 di Kaimana dan Fakfak

Dua Belas Hari di Laut: Ekspedisi RHM 2025 di Kaimana dan Fakfak

Penulis

Abigail Lang & Habema Monim

Tanggal

04 Maret 2025

Langit masih gelap ketika tim Reef Health Monitoring (RHM) berkumpul di Bandara Rendani, Manokwari dan Bandara DEO Sorong, pada pagi 24 dan 25 Januari 2025. Perjalanan panjang menanti, dimulai dari Manokwari menuju Sorong untuk persiapan sebelum berangkat ke Kaimana melakukan pelatihan dan juga monitoring di Perairan Kaimana dan Fak-Fak. Kegiatan RHM ini merupakan kegiatan dari USAID (United States Agency for International Development) bekerjasama dengan BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kaimana. Dalam kegiatan ini melibatkan beberapa institusi dan organisasi/lembaga swadaya masyarakat seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat, Konservasi Indonesia (KI), Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Raja Ampat, Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kaimana Fak-Fak, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Laut (LPSPL) Sorong, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC), Sinara Kaimana, Lokal Kaimana dan Lokal Fak-Fak. Tiga perwakilan dari Universitas Papua (UNIPA)—Habema Monim, Bernadus Duwit, dan Jane Lense—bersama 19 anggota siap menjalani ekspedisi yang akan membawa mereka lebih dekat dengan kehidupan bawah laut yang luar biasa.

Persiapan dan Pelatihan di Sorong dan Kaimana

Pada 26 Januari 2025, tim berkumpul dan melakukan pelatihan di Kaimana. Para ahli dan juga peserta lokal, menyimak dengan serius penjelasan tentang metodologi pengambilan data karang, ikan, dan megabentos serta parameter air. Akurasi adalah segalanya dalam monitoring ini — satu kesalahan kecil dalam pencatatan bisa mempengaruhi keseluruhan analisis. Diskusi hangat terjadi saat metode baru dalam pengambilan data diperkenalkan, termasuk beberapa perubahan dalam teknik pengamatan.

Setelah pelatihan, tim bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Pada 30 Januari 2025, mereka akhirnya naik kapal dan mulai berlayar menuju titik-titik pemantauan di perairan Kaimana dan Fak-Fak.

Presentasi tentang metodologi pengambilan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim dari berbagai instansi/LSM mengikuti pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Dua Belas Hari di Laut: Mengungkap Rahasia Karang dan Ikan

Kapal yang menjadi rumah sementara bagi 21 orang ini terombang-ambing lembut di permukaan laut biru. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing yang dibagi ke dalam 2 tim yang masing-masing tim fokus pada pengamatan kondisi karang, kondisi ikan karang, karang yang memutih, karang yang dilindungi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), megabentos dan kualitas perairan.

Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang sama namun penuh kejutan. Setiap jam 7 pagi, para penyelam mengenakan perlengkapan mereka, memeriksa alat, dan turun ke bawah laut untuk mengumpulkan data. Di satu titik penyelaman, mereka menggelar transek sepanjang 250 meter untuk pemantauan karang dan juga ikan karang. Salah satu momen paling menakjubkan adalah ketika mereka menemukan schooling ikan dari berbagai jenis sepanjang 250 meter, pemandangan yang jarang ditemui dalam monitoring sebelumnya.

Tim berdiskusi setelah monitoring & membagi tugas tanggung jawab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Salah satu tim yang bersiap di atas perahu untuk turun monitoring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Selain itu, koordinasi dengan masyarakat lokal menjadi aspek penting dalam ekspedisi ini. Para nelayan dan penyelam tradisional berbagi cerita tentang perubahan ekosistem yang mereka amati selama bertahun-tahun. Pertukaran pengetahuan ini memberi perspektif baru bagi tim dalam memahami fenomena kondisi terumbu karang di wilayah tersebut yang terus mengalami perubahan.

Namun, tidak semua berjalan mulus. Cuaca tak bersahabat selama monitoring memaksa tim harus menghentikan penyelaman selama 3 hari. Ombak tinggi membuat kondisi terlalu berbahaya untuk turun ke dalam air, dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Akibatnya, tidak semua titik monitoring bisa dijangkau untuk menyelam.

Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan

Pada akhir ekspedisi, tim berkumpul di dek kapal, berbagi kesan dan hasil sementara dari penelitian mereka. Meskipun tantangan cuaca menghadang, data yang terkumpul tetap berharga untuk memahami kondisi ekosistem terumbu karang di Kaimana dan Fak-Fak.

Habema menjadi Rollman
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Salah satu keindahan karang di perairan Fak-Fak
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Ketika kapal akhirnya kembali ke daratan, setiap anggota tim membawa lebih dari sekadar catatan dan foto bawah laut. Mereka membawa pengalaman, pembelajaran, dan tekad untuk terus menjaga laut agar tetap sehat bagi generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 51 Orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Dokumen tersebut terdiri dari 2 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada hari Selasa, 04 Maret 2025

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara (link zoom dan waktu menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Dari Papua ke Aceh: Mempelajari Konservasi Penyu

Dari Papua ke Aceh: Mempelajari Konservasi Penyu

Penulis

Petrus Batubara, M. Faisal, Thomas Homba homba, Michael Tuhuteru

Tanggal

18 Februari 2025

Pada tanggal 21 Januari – 1 Februari 2025 Tim Konservasi Penyu Belimbing Aceh dan Papua melakukan pertukaran kunjungan yang pertama. Pada kunjungan pertama ini, Tim Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA melakukan kunjungan ke Yayasan Penyu Indonesia (YPI) di Pantai Along, Simeulue, Aceh.

Tujuan pertukaran kunjungan ini adalah pembandingan metode konservasi pada dua populasi penyu belimbing yang berbeda, yaitu penyu belimbing Samudera Pasifik dan penyu belimbing Samudera Hindia.

Aspek yang dinilai adalah :

  • Susunan tim lapangan dan monitoring pelaksanaan tugas
  • Pengambilan dan pengelolaan data
  • Relokasi sarang dan pengelolaan hatchery
  • Kerjasama dengan masyarakat setempat.

Pertukaran kunjungan ini merupakan proyek peningkatan kapasitas yang didanai oleh Darwin Initiative melalui Turtle Foundation.
Tim Papua mengunjungi beberapa lokasi yaitu Desa Along, Desa Langi, dan Pulau Salaut.

Kunjungan ke hatchery kelompok konservasi penyu dan hatchery pulau Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Kunjungan ke hatchery kelompok konservasi penyu dan hatchery pulau Salaut
(Foto : Thomas-S4C_LPPM UNIPA)

Kunjungan ke Desa Along: Pertukaran Pengetahuan Konservasi

Desa Along menjadi lokasi pertama kegiatan pertukaran kunjungan. Tim berada di Desa Along selama empat hari (21-24 Januari 2025) dan banyak mempelajari teknik konservasi yang diterapkan oleh kelompok yang beranggotakan enam orang ini. Pantai Along memiliki karakteristik unik karena berada dekat dengan pemukiman, berbeda dengan Pantai di Papua yang lebih terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Keberadaan masyarakat di sekitar pantai membawa tantangan tersendiri, seperti aktivitas perikanan dan pengambilan telur penyu yang dapat mengganggu proses peneluran alami. Oleh karena itu, pendekatan sosialisasi dan edukasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan konservasi.

Diskusi bersama kelompok konservasi penyu Aceh
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Monitoring malam bersama kelompok konservasi penyu dan Ranger Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Tim berkenalan dengan kelompok konservasi setempat dan bertukar pengalaman mengenai metode kandang relokasi di Papua, khususnya di Pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Salah satu perbedaan utama yang ditemukan adalah bahwa kandang relokasi di Simeulue tidak menggunakan naungan atau atap.

Tim kemudian mengamati langsung proses evaluasi sarang penyu, yang mencakup identifikasi telur yang gagal menetas dan pembuangan cangkang ke laut untuk menghindari predator seperti anjing. Prosedur ini dilakukan dengan sangat detail oleh tim YPI, meskipun tim Papua menyampaikan bahwa metode serupa pernah diterapkan tetapi telah dikaji ulang.

Foto bersama dengan kelompok konservasi penyu pantai peneluran Mafal
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama di basecamp tim penyu Pulau Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Pada malam harinya, tim mengikuti patroli malam bersama kelompok konservasi Mafal, yang dibagi dalam dua shift:

  • Shift 1 (21:00 – 02:00 WIB): Monitoring dan penandaan sarang.
  • Shift 2 (02:00 – 06:00 WIB): Monitoring, relokasi, dan evaluasi sarang penyu.

Eksplorasi di Desa Langi dan Pulau Salaut

Selanjutnya, tim melanjutkan perjalanan ke Desa Langi, yang merupakan basecamp YPI Simeulue, dan melakukan berbagai kegiatan konservasi dari 24-26 Januari 2025. Pada malam hari, tim mengikuti patroli di Pantai Peneluran Mafela (Lubuk Baik) untuk mengamati lebih lanjut metode konservasi yang diterapkan di sana.
Dari 26-29 Januari 2025, tim melanjutkan perjalanan ke Pulau Salaut menggunakan speed boat dengan waktu tempuh sekitar satu jam dalam kondisi cuaca baik. Di Pulau Salaut, tim berkenalan dengan para ranger YPI dan melakukan diskusi mendalam mengenai konservasi penyu di Papua dan Aceh. Selain itu, tim juga diajak untuk melakukan patroli, mengamati kondisi pantai peneluran, kandang hatchery, serta mengikuti rangkaian patroli malam.
Selain belajar dari metode yang diterapkan, tim Papua juga berdiskusi dengan komunitas lokal dan pengelola konservasi untuk memahami tantangan yang dihadapi serta bagaimana mereka mencari solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Hasil kunjungan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan meningkatkan efektivitas upaya konservasi penyu belimbing. Sebagai langkah selanjutnya, tim YPI dari Simeulue berencana melakukan kunjungan balasan ke Papua pada bulan Juni 2025.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kelapa: Pohon Kehidupan dan Potensi Ekonomi di Kabupaten Tambrauw

Kelapa: Pohon Kehidupan dan Potensi Ekonomi di Kabupaten Tambrauw.

Penulis

Kartika Zohar, Mikardes Albert

Tanggal

30 Oktober 2024

Tumbuhan kelapa (Cocos nucifera) dikenal sebagai pohon kehidupan (tree of life) karena banyaknya manfaat yang diperoleh dari bagian tumbuhan ini. Meskipun kelapa sangat terkenal di pesisir dan bernilai ekonomi tinggi, namun nyatanya dalam pengembangannya masih memiliki berbagai tantang seperti tingkat pengolahan yang rendah, akses pasar yang terbatas, serta infrastruktur pengelolaan yang masih kurang.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi telah secara konsisten melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Tambrauw khususnya Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pemberdayaan masyarakat untuk pemanfaatan kelapa yang diolah menjadi minyak kelapa. Kegiatan ini telah menghasilkan setidaknya 500 – 1.000 liter minyak kelapa setiap tahunnya.

Pemanfaatan kelapa ini berpotensi untuk dikembangkan. Namun informasi terkait jumlah lahan kelapa masih minim. Pada pertengahan tahun 2024, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tambrauw bekerja sama dengan Program Sains untuk Konservasi menginisiasi untuk melakukan pendataan luas kebun kelapa yang berada di pesisir Kabupaten Tambrauw. Pengambilan data dan penghitungan jumlah tegakan pohon kelapa dilakukan dengan menggunakan Metode drone. Terdapat total 8 Distrik dan 31 kampung yang menjadi lokasi pengambilan data.

Drone yang digunakan untuk pemetaan mengambil foto dari udara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Proses pengambilan foto dari udara untuk pemetaan kebun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Berdasarkan hasil pemetaan jumlah luasan total kebun kelapa sebesar 447,93 hektar dengan jumlah total tegakan pohon kelapa sebanyak 48.403 pohon. Informasi persentase luas untuk setiap distrik dan distribusi jumlah pohon pada setiap distrik disajikan dalam grafik berikut. Informasi luas lahan dan jumlah tegakan pohon kelapa penting untuk menjadi data awal rencana pengelolaan kelapa di masa depan bagi kabupaten Tambrauw. Kira-kira kampung mana saja yang mempunyai potensi kelapa yang tinggi ya?

Berdasarkan pengambilan data, kampung Werur di Distrik Bikar merupakan kampung yang memiliki luasan kebun kelapa yang terluas dibandingkan dengan kampung lainnya di distrik lain, yaitu 59,77 hektar. Namun jika dibandingkan dengan informasi berdasarkan jumlah pohon kelapa, kampung Hopmaree di Distrik Kwoor memiliki jumlah pohon kelapa yang terbanyak yaitu 6.897 pohon kelapa jika dibandingkan jumlah pohon kelapa di kampung pada distrik lainnya.

Persentase luas kebun kelapa tiap distrik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tegakan pohon kelapa tiap distrik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menariknya jika diurutkan berdasarkan kepadatan, kami menemukan kampung Orwen di Distrik Kwoor dengan luasan kebun 2,1 hektar mempunyai kepadatan yang tertinggi. Terdapat 158 pohon kelapa pada luasan 1 hektar. Kegiatan Pendataan Kelapa yang dilakukan pada 31 kampung ini memberikan informasi penting dalam rencana pemanfaatan kelapa yang berkelanjutan di Kabupaten Tambrauw. Silakan kunjungi Album Peta Kelapa di Kabupaten Tambrauw Tahun 2024 disini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Maju Bersama Indonesia Raya: Pemuda Papua di Garda Terdepan Konservasi Penyu Belimbing

Maju Bersama Indonesia Raya: Pemuda Papua di Garda Terdepan Konservasi Penyu Belimbing

Penulis

Noviyanti

Tanggal

24 Oktober 2024

Dilansir situs resmi Kemenpora RI, Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-96 tahun 2024 mengusung tema “Maju Bersama Indonesia Raya”. Tema ini mengusung semangat sinergi dan kolaborasi pemuda. Selain itu, tema Hari Sumpah Pemuda 2024 diharapkan mendorong para pemuda Indonesia untuk berkontribusi membawa bangsa menuju kejayaan global. Semangat ini mengantarkan kami untuk berbagi cerita tentang tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA yang bekerja bahu membahu bersama masyarakat lokal untuk melakukan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Taman Pesisir Jeen Womom. Tugas penting ini memberi kontribusi secara global untuk konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), spesies penyu terbesar di dunia.

Wilayah pesisir Kepala Burung Papua di Kabupaten Tambrauw merupakan wilayah peneluran penting bagi penyu belimbing yang bermigrasi ke laut Amerika bagian barat untuk makan disana. Penelitian penyu dan upaya perlindungan dilakukan di kedua sisi Samudera Pasifik. Penelitian dari Tapilatu dkk tahun 2013 memperkirakan aktivitas peneluran penyu belimbing di wilayah Taman Pesisir Jeen Womom menurun 5,9% per tahun dari tahun 1984 hingga 2011.

Telur penyu belimbing di sarang relokasi pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Pelepasan tukik penyu belimbing di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) turut mengambil bagian dalam upaya global untuk memulihkan populasi penyu belimbing di wilayah samudra Pasifik. Upaya konservasi holistik dilakukan agar tujuan ini bisa tercapai. Tim LPPM UNIPA menjalin kerjasama dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan penyu belimbing di daerah ini. Di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang berada di Distrik Abun dan Tobouw, tim LPPM UNIPA bersama masyarakat lokal dari 5 kampung dekat pantai peneluran yakni; Kampung Resye, Kampung Womom, kampung Syukwo, Kampung Wau, dan Kampung Weyaf. Tim berupaya untuk melindungi sebanyak mungkin sarang penyu belimbing agar produksi tukik maksimal untuk menopang populasi. Setiap tahunnya kru pantai*) direkrut dan diberikan pelatihan untuk memastikan mereka bekerja sesuai prosedur ilmiah yang sudah ditetapkan.

Masyarakat kampung Wau Weyaf melakukan pelepasan tukik penyu belimbing di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Dalam melaksanakan tugasnya, kru pantai juga berupaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam perlindungan penyu dengan pelatihan dan bekerja di pantai peneluran bersama-sama dengan kru pantai. Sebagian dari masyarakat yang tinggal di kampung-kampung di dekat pantai peneluran bertindak sebagai tenaga patroli lokal. Mereka bekerjasama dengan tim LPPM UNIPA dalam kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Peran mereka sangat penting. Kearifan lokal yang mereka miliki sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi letak sarang penyu. Dari data yang tercatat, tingkat akurasi tenaga patroli lokal dalam mengidentifikasi sarang penyu belimbing mencapai angka 94.7%! Pada musim ombak di pantai Jeen Yessa, dimana tim LPPM UNIPA tidak bisa mengirimkan kru pantai karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, tenaga patroli lokal mencatat jumlah penyu yang naik bertelur. Bahkan ketika pandemi COVID-19, dimana pembatasan perjalanan membuat hampir seluruh pantai peneluran di berbagai negara kehilangan kesempatan untuk melakukan kegiatan pemantauan penyu, tenaga patroli lokal justru menjadi tenaga andalan kala itu.

Masyarakat lokal juga terlibat dalam membuat kandang relokasi yang digunakan sebagai area aman membenamkan sarang dari lokasi yang terancam. Kandang relokasi merupakan kandang semi tertutup dengan bentuk persegi yang dibuat di dekat dengan areal peneluran dan di atas batas pasang. Setiap musim peneluran, tim LPPM UNIPA selalu melibatkan masyarakat lokal untuk membangun kandang relokasi. Karena kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahunnya, masyarakat sudah terbiasa dan dapat membuat kandang relokasi yang sesuai dengan prosedur ilmiah yang ditetapkan oleh tim LPPM UNIPA. Tim LPPM UNIPA juga melatih dan mendampingi masyarakat lokal dalam memindahkan sarang penyu belimbing ke kandang relokasi agar sukses penetasan sarang tetap terjaga. Para tenaga relokasi menerima upah per sarang yang mereka pindahkan. Upah yang diterima dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga, biaya sekolah, atau kebutuhan keluarga lainnya.

Masyarakat membuat perlindungan sarang untuk telur penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Faisal)

Masyarakat membuat perlindungan sarang telur penyu dari ancaman predator
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Faisal)

Kami melakukan wawancara singkat dengan Faisal, salah satu kru pantai yang sudah bekerja sejak tahun 2020. Faisal bercerita bahwa bekerja bersama masyarakat lokal sangat menyenangkan. Kehadiran mereka memberi warna dalam keseharian kru pantai. Seringkali di waktu-waktu istirahat, mereka berkumpul bercerita kisah pengalaman hidup hingga bercanda bersama. Mereka sering sekali membawakan kru pantai sayur-sayuran dari kampung mereka atau membawa daging hasil buruan di hutan untuk dimakan. “Kehadiran masyarakat lokal di pos pemantauan penyu sangat penting. Ketika ada hal-hal teknis dalam membangun pos yang tidak kami ketahui, beberapa dari mereka bekerjasama dengan kami membangun fasilitas-fasilitas pos kami.” Ujar Faisal ketika bercerita mereka pernah membangun fasilitas di pos pemantauan penyu tempat mereka bekerja.

Kisah kolaborasi ini tidak hanya menjadi upaya melindungi satwa langka, tetapi juga menggambarkan semangat persatuan dan sinergi pemuda serta masyarakat lokal dalam menjaga warisan alam Indonesia. Dengan semangat ‘Maju Bersama Indonesia Raya’, kita percaya bahwa langkah-langkah kecil di pesisir Papua ini akan berdampak besar bagi masa depan ekosistem dunia.

Footnotes: Kru pantai adalah istilah yang digunakan untuk tenaga patroli yang direkrut tim LPPM UNIPA yang berasal dari alumni berbagai universitas.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei Monitoring Sosial Training

Pelatihan Surveyor Lapangan untuk Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier

Pelatihan Surveyor Lapangan untuk Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier

Penulis

Arnoldus Ananta

Tanggal

16 Oktober 2024

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melalui Program Sains untuk Konservasi telah melaksanakan Pelatihan Surveyor Lapangan untuk kegiatan Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier di Raja Ampat. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi dasar terkait monitoring sosial yang akan dilakukan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan pengembangan diri para surveyor untuk melakukan survei di lapangan nanti.

Kezia Salosso saat berdiskusi dengan peserta pelatihan mengenai pengisian form instrumen survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Peserta pelatihan melihat kembali form instrumen survei rumah tangga yang telah diisi saat praktek wawancara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Pelatihan yang berlangsung selama 5 (lima) hari, yaitu tanggal 9-11 dan 14-15 Oktober 2024 di Kampus UNIPA, dibuka secara langsung oleh Dr. Fitryanti Pakiding selaku Pengelola Program Sains untuk Konservasi. Terdapat 8 orang sebagai peserta kegiatan, yang memiliki sapaan akrab Abdul, Andho, Angel, Diva, Jelly, Spenyel, Stilo, dan Thomas. Mereka merupakan alumni dari Universitas Papua dan Universitas Cendrawasih, dan memiliki latar belakang ilmu yang beragam yaitu bidang kelautan dan perikanan, biologi, pendidikan, sastra dan antropologi, kehutanan, dan bidang ekonomi/akuntansi.

Selama lima hari pelatihan, tim Program Monitoring Sosial memberikan kesempatan belajar kepada peserta untuk memiliki pengetahuan dan informasi terkait pekerjaan yang akan dilakukan. Mereka belajar tentang Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) dan potensi wilayahnya serta masyarakat pesisir di BLKB, apa yang dimaksud dengan Kawasan Konservasi Perairan, latar belakang dan tujuan pelaksanaan Monitoring Sosial, bagaimana data dikumpulkan di lapangan, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun tim yang solid. Kami juga melakukan praktek sebagai aplikasi dari pembelajaran yang telah dilakukan. Praktek ini termasuk bagaimana memilih responden atau penentuan sampel survei, bagaimana wawancara dilakukan atau bagaimana bertanya kepada responden, bagaimana menjaga kualitas data yang ditulis pada instrumen wawancara, dan praktek penggunaan GPS untuk menandai lokasi pengumpulan data.

Dahlia Menufandu saat menjelaskan kepada peserta training mengenai bagaimana menghitung hasil pendapatan nelayan dalam form instrumen survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Dahlia Menufandu saat menjelaskan kepada salah satu peserta training mengenai bagaimana mengisi form daftar rumah tangga survei Tahun 2024
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Jennifer Maleke saat menjelaskan kepada peserta training mengenai bagaimana mengisi form sampel acak rumah tangga survei sosial
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Peserta pelatihan (dari kanan ke kiri) Spenyel, Diva dan Jelly saat mengoperasikan pemindai GPS di luar ruangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Instrumen pengumpulan data yang akan digunakan oleh peserta di lapangan adalah kuesioner survei rumah tangga. Peserta diharapkan dapat memperhatikan, memahami dan dapat menyampaikan dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada kuesioner kepada responden. Indikator data dan pertanyaan yang akan disampaikan banyak dan beragam, sehingga para peserta juga diharapkan dapat tetap fokus bukan hanya pada saat menyampaikan pertanyaan, tetapi juga bagaimana memahami jawaban yang disampaikan oleh responden.

Survei lapangan di wilayah BLKB Papua sulit dan menantang. Saat menutup kegiatan, Dr. Fitryanti Pakiding berpesan bahwa praktek dan ujian yang sebenarnya akan terjadi saat tim mulai bekerja di lapangan. Kemampuan bekerja sama dan berempati dalam tim merupakan kualitas yang akan melengkapi diri seorang surveyor bukan hanya saat bekerja di lapangan tetapi juga menjadi bekal di masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Dari Inspirasi Hingga Juara: Perjalanan Tim Amigurumi dalam Lomba Papedanomics

Dari Inspirasi Hingga Juara: Perjalanan Tim Amigurumi dalam Lomba Papedanomics

Penulis

Jane Lense, Michael Tuhuteru

Tanggal

23 September 2024

Perjalanan kami dalam lomba Papedanomics berawal dari satu momen yang sederhana namun berkesan. PAPEDANOMICS 2024 sendiri merupakan sebuah rangkaian kegiatan inspiratif yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, ISEI Papua Barat dan SDGs Center Universitas Papua. Pelaksanaan PAPEDANOMICS bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan ekonomi dan sosial di Tanah Papua menuju Papua Emas 2045.

Pendaftaran lomba Young Enterpreneur Competition (Business Plan Competition) dibuka mulai 20 Juni hingga 23 Agustus 2024, namun baru pada 21 Agustus kami mengetahui informasi tentang lomba ini—hanya dua atau tiga hari sebelum pendaftaran ditutup. Saat itu, kami didorong oleh Kak Tika, salah satu senior kami di kantor S4C (akronim yang biasa kami gunakan untuk Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA-Red), untuk mengikuti lomba tersebut. Tanpa ragu, kami pun mulai menyusun draft proposal, meski waktu yang tersedia sangat terbatas.

Proposal yang kami ajukan berkisar pada ide bisnis yang sederhana namun penuh makna: amigurumi keychain, yaitu gantungan kunci yang terbuat dari rajutan tangan. Ide ini terinspirasi dari hasil karya salah satu tenaga PM di kantor kami, yang membuat rajutan berbentuk penyu. Karya tersebut memukau kami, dan dari sana kami terpikir untuk mengembangkan ide ini menjadi lebih besar—sesuatu yang bisa membawa dampak positif, baik secara sosial maupun lingkungan.

Amigurumi keychain yang sudah jadi yang berbentuk penyu, lucu dan unik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Jennifer Maleke sedang mempresentasikan Amigurumi Keychain di depan penonton dan juri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Bukan Sekadar Bisnis, Ini adalah Misi Sosial dan Konservasi

Visi kami dalam bisnis ini tidak semata-mata mencari keuntungan. Kami ingin menggabungkan seni tangan yang indah dengan pesan penting mengenai pelestarian lingkungan dan hewan-hewan yang dilindungi. Produk yang kami buat ini tidak hanya akan menjadi karya seni, tetapi juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga alam dan spesies yang terancam punah.

Lebih dari itu, kami ingin bisnis ini juga memberikan dampak sosial nyata. Dalam proses produksinya, kami merencanakan untuk melibatkan anak-anak panti asuhan di Manokwari. Kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak dan remaja di sana untuk mengembangkan keterampilan yang bisa membantu mereka meraih kemandirian ekonomi. Dengan melibatkan mereka dalam pembuatan amigurumi, kami berharap dapat memberdayakan mereka, membuka peluang bagi masa depan yang lebih baik.

Selain itu, sebagian dari hasil penjualan produk ini akan disalurkan untuk mendukung upaya konservasi hewan yang dilindungi. Dengan demikian, setiap pembelian produk ini tidak hanya mendukung usaha kami, tetapi juga membawa dampak positif bagi alam dan masyarakat.

Kejutan Manis: Menjadi Finalis di Antara 350 Peserta

Tanggal 2 September menjadi hari yang penuh kejutan bagi kami. Dari sekitar 350 kelompok yang mendaftar, kami diumumkan sebagai salah satu dari lima finalis dengan proposal terbaik! Sungguh sebuah pencapaian yang tidak terduga, terutama mengingat waktu persiapan kami yang sangat singkat—hanya dua hari. Namun, berkat kerja keras dan dukungan penuh dari teman-teman kantor, khususnya Ibu Fitry dan Kak Tika, kami berhasil mencapainya.

Menjadi finalis tentu bukan akhir dari perjalanan kami. Kami harus mempersiapkan presentasi yang akan dibawakan di depan juri pada 11 September. Waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk menyusun materi dan berlatih agar dapat menyampaikan ide kami dengan baik dan meyakinkan.

Para peserta dan para penonton yang datang memenuhi aula UNIPA
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Antusiasme mahasiswa dan mahasiswi yang hadir untuk menyaksikan kegiatan ini sangat luar biasa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Hari Penentuan: Presentasi di Hadapan Juri

Akhirnya, tibalah hari yang dinanti-nantikan, 11 September. Tim kami diwakili oleh Jennifer Maleke untuk mempresentasikan proposal bisnis kami di hadapan juri dan audiens, setelah empat finalis lainnya. Rasa gugup dan takut jelas kami rasakan, namun kami sudah berusaha sebaik mungkin dalam latihan. Dengan percaya diri, Jeniffer menyampaikan proposal kami dengan lancar dan jelas, seperti yang telah kami persiapkan selama beberapa hari terakhir.

Tanggapan dari juri dan audiens sangat positif. Meskipun tidak banyak pertanyaan yang diajukan, mereka sangat mengapresiasi konsep dan ide bisnis yang kami tawarkan. Dukungan yang kami terima membuat kami merasa semakin yakin bahwa apa yang kami tawarkan bukan sekadar proposal bisnis biasa, tetapi juga sebuah misi yang lebih besar.

Momen Terbaik: Menjadi Juara 2

Perjalanan singkat namun penuh makna ini memberikan pelajaran berharga bagi kami. Ide yang baik, meski dimulai dari hal kecil, bisa tumbuh menjadi sesuatu yang besar ketika dijalankan dengan semangat, kerja keras, dan dukungan dari orang-orang di sekitar. Kemenangan ini bukan hanya milik kami, tetapi juga milik setiap orang yang turut mendukung dan percaya pada kami.

Puncak acara Papedanomics jatuh pada 12 September, dengan pengumuman pemenang di Swissbel Hotel. Deg-degan rasanya saat nama-nama finalis disebutkan satu per satu. Ketika nama kami diumumkan sebagai juara kedua dari tiga proposal terbaik, perasaan bangga dan syukur tak bisa dibendung. Kami tidak hanya berhasil melewati tantangan, tetapi juga membuktikan bahwa ide kami dihargai dan diakui sebagai salah satu yang terbaik.

Dengan penghargaan ini, kami berharap dapat melanjutkan rencana bisnis kami, memberikan dampak sosial yang nyata, dan terus berkontribusi dalam pelestarian alam. Papedanomics hanyalah awal dari perjalanan panjang yang akan kami tempuh, dan kami sangat bersemangat untuk mewujudkan setiap langkah yang sudah kami rencanakan.

Jennifer yang sedang mempresentasikan amigurumi keychain kepada penonton dan dewan juri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Penyerahan hadiah Juara Kedua dari tiga proposal terbaik kepada Jennifer
(Foto : BI Papua Barat)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Pelajar Pancasila: Aksi Nyata dalam Menjaga Lingkungan dan Masa Depan

Pelajar Pancasila: Aksi Nyata dalam Menjaga Lingkungan dan Masa Depan

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

18 September 2024

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah inisiatif pendidikan yang bertujuan untuk membentuk generasi pelajar Indonesia yang memiliki karakter kuat sesuai nilai-nilai Pancasila serta siap menghadapi tantangan abad ke-21. Program ini tidak hanya menekankan pada aspek kognitif, tetapi juga mengembangkan karakter, sikap, dan identitas diri pelajar sebagai warga negara yang mandiri dan berkepribadian. P5 menekankan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan akademik dan kecakapan hidup non-akademik, di mana peserta didik dilatih untuk mengalami pembelajaran secara langsung melalui metode berbasis proyek.

Kegiatan P5 di SMP Negeri 6 Manokwari dilaksanakan selama empat minggu berturut-turut pada bulan Agustus 2024, dengan fokus pada siswa kelas 9. Setiap minggunya, kegiatan penyuluhan diadakan dengan dukungan narasumber dan pendamping di masing-masing kelas 9A hingga 9I. Materi yang disampaikan setiap minggu mengangkat tema yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan, mulai dari pengenalan ekosistem, ancaman terhadap sumber daya alam, hingga solusi konkret yang bisa dilakukan untuk menjaga alam, seperti pengolahan sampah organik.

Pertemuan di ruang meeting sekolah sebelum memulai semua aktivitas di sekolah bersama para narasumber, guru dan volunteer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Salah satu narasumber dosen dari Universitas Papua yang sementara membawakan materi kepada para siswa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Pada minggu pertama, materi bertemakan “Mengenal Alam di Sekitar Kita” menyoroti pentingnya memahami ekosistem yang ada di sekitar siswa. Minggu kedua dilanjutkan dengan tema “Ancaman yang Dihadapi Sumber Daya Kita,” yang membahas dampak negatif aktivitas manusia terhadap lingkungan. Minggu ketiga mengangkat tema “Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Sumber Daya Alam Kita,” yang mengajak siswa berpartisipasi dalam menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana, seperti penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pada minggu terakhir, siswa diperkenalkan pada Teknik Pengolahan Sampah Organik untuk membuat pupuk kompos dan pupuk cair organik, yang bisa dimanfaatkan di rumah maupun sekolah.

Narasumber Universitas Papua yang sedang membawakan salah satu materi kepada siswa siswi di depan kelas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Narasumber Universitas Papua yang sedang membawakan salah satu materi kepada siswa siswi di depan kelas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Narasumber yang sedang membawakan ice breaking agar siswa tidak terlalu tegang dan bisa fokus ke materi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Para siswa yang sedang asik menikmati games ice breaking
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Untuk mengukur pemahaman siswa, setiap pertemuan disertai pre-test dan post-test yang dilakukan melalui aplikasi Kahoot. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Beberapa kelas mengalami peningkatan besar pada post-test, meskipun ada juga kelas yang mengalami kendala teknis, seperti keterbatasan perangkat dan gangguan jaringan. Meskipun begitu, hasil umumnya menunjukkan keberhasilan kegiatan ini dalam meningkatkan pengetahuan siswa akan pentingnya menjaga lingkungan.

Siswa siswi yang sedang fokus mengikut games kahoot untuk bisa mendapatkan hadiah menarik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Penyerahan hadiah pemenang games kahoot oleh narasumber
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Dukungan dari pihak sekolah juga sangat berperan dalam kesuksesan kegiatan ini. Sekolah menyediakan sarana seperti proyektor dan kabel roll, serta konsumsi bagi para narasumber dan pendamping. Selain itu, tim pelaksana juga dibantu oleh volunteer yang turut mendampingi kegiatan di kelas, memastikan semua berjalan lancar dari awal hingga akhir.

Secara keseluruhan, kegiatan P5 di SMP Negeri 6 Manokwari ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Para siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap melalui kegiatan ini, mereka akan menjadi agen perubahan yang peduli terhadap kelestarian alam dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berkepribadian sesuai nilai-nilai Pancasila.

Sayuran sisa rumah tangga yang dibawa oleh siswa siswi dipotong kecil-kecil untuk dipakai membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Sayuran dan daun-daun kering dimasukan ke dalam ember sebagai wadah tempat pembuatan kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Semangat para siswa siswi SMPN 6 Manokwari dalam membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Semangat para siswa siswi SMPN 6 Manokwari dalam membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Magical Moments to behold

Magical Moments to behold

Penulis

Qumi L Fajri

Tanggal

05 September 2024

Setelah menghabiskan kurang lebih 4 bulan ‘mendongengkan’ tentang penyu dan cara melindunginya dari kepunahan kepada anak-anak, rasanya kok kurang afdol ya, aku justru belum pernah melihat penyu sama sekali. Ya, mendongengkan, sebab eksistensinya hanya berupa cerita, tentang betapa mesmerizenya penyu bertelur atau betapa serunya momen saat melepas tukik.

Hingga pada suatu siang yang terik, Om Petrus (salah satu Kru yang bekerja di Pantai Jeen Syuab) datang ke rumah belajar dengan membawa sebuah kabar gembira. “kita ke pantai sekarang, ayo siap-siap” kalimat yang bagai angin sejuk bagiku yang baru saja pulih dari Malaria ini. Tanpa fa-fi-fu aku, Kak Ina, dan Harun (rekan kerja satu lokasi) bergegas mempersiapkan segala perlengkapan yang harus dibawa. Rencananya kami akan menginap di Pantai Wermon selama 3 hari 2 malam.

Pos Penyu Pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Kaka Ina dan Qumi berpose di depan gerbang Pos Pantai Wermon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Perjalanan menuju Pantai Wermon (saat ini di kenal dengan Pantai Jeen Syuab) membutuhkan waktu kurang lebih 30 menitan. Angin laut sejuk menerpa tubuh, pun dengan percikan air yang tak mau kalah ikut membasahi pakaian kami. Setibanya di Wermon, kami mengistirahatkan badan, mendinginkan kepala dari matahari ganas siang itu. Begitu matahari cukup bersahabat, pukul setengah lima sore kami menuju kandang relokasi untuk menggali sarang telur penyu yang telah menetas (kami belajar melakukan evaluasi dengan bimbingan kru). Berlomba-lomba tukik-tukik mungil memanjat keluar dari sarangnya. Momen pertama aku menyentuhnya, merasakan flippernya yang rapuh mengepak-ngepak di telapak tangan. I like it to feel there is small living creature in my hand.

Belajar untuk melakukan relokasi penyu di kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Tukik yang baru menetas di kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Setelah semua tukik berhasil dievakuasi, kami membawanya ke pantai untuk dilepaskan. Sebanyak 25 tukik kami lepaskan sore itu. Melihat flipper mungil itu berjalan menuju pantai, meninggalkan jejak indah panjang yang kemudian tersapu ombak, menjadi momen yang rasanya tidak akan pernah ku lupakan. It was fun tho! Dalam hati aku berdoa semoga mereka bisa hidup lama hingga jadi penyu dewasa.

Malam itu aku cepat-cepat beristirahat sebab tim patroller berencana mengajak kami melihat penyu tengah malam nanti. Namun sungguh malang, tiba-tiba demam menyerang tubuhku. Panas tinggi dan menggigil, persis apa yang ku rasakan beberapa hari sebelumnya saat malaria menyerang. “malaria sialan! Tidak tahu waktu sekali!” batinku saat itu. Akhirnya malam itu aku melewatkan ajakan patroli ke pantai.

Melepas tukik di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Berfoto bersama penyu Belimbing di Pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Esok paginya, demam masih betah bersarang dalam badan. Tubuhku lemas, kepalaku pening, tak mampu berbuat apa-apa. Sepanjang sisa hari aku hanya berbaring dalam sleeping bag, tidur pun tak nyenyak. Barulah aku bisa tidur nyenyak setelah mandi ukup dengan daun-daun dan kepalaku dikompres.

Sekitar pukul 8 malam, ada panggilan dari kru. Seekor Penyu Belimbing naik ke pasir di dekat rumah. Setelah mengumpulkan sisa tenaga yang kumiliki, dengan bantuan Kak Ina aku tertatih-tatih berjalan di pasir. Lengkap dengan jaket dan kaos kaki serta kain penutup badan untuk menghindari angin malam, aku berhasil tiba.

Si besar itu di sana, hitam, panjang dan bernafas berat. Sedang bertelur. Mama penyu pertama yang ku jumpai. Melihatnya bertelur, mendengarnya bernafas, menyentuh permukaan tubuhnya yang licin, a once in a lifetime moment. Lalu kami menunggunya berjalan kembali ke laut setelah berputar-putar sedemikian rupa di pasir, membuat kamuflase. Setelahnya aku berbaring di pasir, tak mampu menahan lemas dan pusing, Ditemani debur ombak dan bintang-bintang di langit malam itu, aku terpejam. Bersyukur atas segala limpahan karunia yang ku dapat hari itu, termasuk malaria di badan. A magical moments to behold.

Qumi adalah Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program pada Kampung Wau. Salah satu tugas Qumi adalah mengajarkan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu kepada anak-anak di Rumah Belajar Wau

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Petualangan Seru di Sekolah Alam S4C

Petualangan Seru di Sekolah Alam S4C

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

25 Juli 2024

Selama 5 hari penuh kegembiraan, 5 anak sekolah dasar dari berbagai kelas berkumpul di Sekolah Alam Science for Conservation untuk mengalami pengalaman belajar yang luar biasa. Kegiatan ini diselenggarakan dari tanggal 08-12 Juli 2024.  Mereka diajak untuk menjelajahi alam, belajar dari lingkungan sekitar, dan mengembangkan keterampilan hidup yang berharga.

🍃 Hari 1: Kehidupan Bawah Laut 🍃
Anak-anak memulai petualangan mereka dengan mengenal dasar-dasar keanekaragaman hayati. Mereka belajar mengenali berbagai jenis hewan laut, serta memahami pentingnya menjaga terumbu karang bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Yusup mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang pentingnya terumbu karang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Yusup mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang hewan-hewan laut yang berbahaya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

🏞️ Hari 2: Sampah yang harus dicegah 🏞️
Dengan bimbingan para mentor/pengajar, anak-anak diajarkan cara membedakan sampah organik dan anorganik, dan juga aktivitas membuat kompos dari sampah organik. Kami juga mengumpulkan sampah yang ada di sekitar lokasi acara, guna menanamkan rasa cinta kebersihan kepada anak-anak. Mereka juga dengan antusias menggali tanah, menanam bibit kangkung, dan menyiram tanaman sambil mempelajari pentingnya pertanian organik.

Kartika mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang cara membuat kompos dari bahan organik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Anak-anak berpose dengan botol daur ulang yang disulap jadi pot untuk tanaman
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

🌊 Hari 3: Sampah akan kemana kalau dibuang sembarangan ? 🌊
Kegiatan hari ketiga penuh dengan jalan-jalan seru! Anak-anak diajak berkeliling kota untuk melihat kemana sih sampah kita akan dibuang ? Dimulai dari melihat TPS hingga menuju ke TPA. Mereka juga sempat melihat sampah yang dibuang ke dalam got, dan menimbulkan banjir dan juga sampah yang mengalir kelaut yang dapat membahayakan hewan laut yang memakan sampah tersebut.

Anak-anak Sekolah Alam diajak mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir sampah yang ada di Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

🔥 Hari 4: Alat tangkap ikan 🔥
Anak-anak belajar memahami asal dari ikan yang mereka konsumsi. Pengenalan tentang alat tangkap yang biasa digunakan untuk menangkap ikan, dan membedakan alat tangkap yang ramah lingkungan dan tidak. Anak-anak juga diajar untuk menangkap ikan secukupnya saja dan tidak berlebihan demi keberlangsungan ekosistem.

🎨 Hari 5: Seni dari Alam 🎨
Petualangan diakhiri dengan membahas kembali materi yang didapat dari hari pertama sampai dengan hari keempat. Selain itu juga ada aktivitas bermain clay dough/ lilin, dimana dibutuhkan kreativitas dari anak-anak untuk berimajinasi untuk membuat bentuk kesukaan mereka. Selain itu juga anak-anak diberikan hadiah atas keaktifan mereka dalam menjawab, bertanya, dan sikap mereka selama mengikuti kegiatan sekolah alam ini. Semuanya tercatat di papan score board.

Kegiatan Sekolah Alam ini tidak hanya untuk belajar, tetapi mereka juga mengembangkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap alam. Semoga pengalaman ini memberikan kenangan indah dan pembelajaran berharga yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Peserta Sekolah Alam diajar oleh Bernadus untuk mengetahui alat tangkap yang ramah lingkungan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Anak-anak berfoto dengan hadiah yang diberikan atas keaktifan mereka di Sekolah Alam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya