Kategori
Uncategorized @id

Memperkuat Konservasi Laut: Strategi Baru Blue Abadi Fund dalam Siklus ke-5

Memperkuat Konservasi Laut: Strategi Baru Blue Abadi Fund dalam Siklus ke-5

Penulis

Michael Tuhuteru, Naqliya Arum

Tanggal

1 0 Maret 2025

Blue Abadi Fund (BAF) adalah dana perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal dalam mengelola sumber daya kelautan mereka secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. BAF memiliki dua fasilitas penyaluran hibah, yaitu Hibah Primary dan Hibah Kecil Inovasi.

Di awal tahun 2025, Program Blue Abadi Fund (BAF) kembali hadir dengan siklus ke-5. Program ini terus memperkuat upaya konservasi laut dengan pendekatan yang lebih strategis dan inklusif. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) diberikan mandat sebagai Administrator Blue Abadi Fund.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas mitra penerima hibah siklus ke-5, Yayasan KEHATI sebagai Administrator BAF mengadakan dua sesi pelatihan yang dilaksanakan pada dua lokasi berbeda. Sesi pertama diadakan di Royal Mamberamo Hotel, Sorong, pada 26 Februari – 1 Maret 2025, dan sesi kedua berlangsung di Triton Hotel, Manokwari, pada 3 – 6 Maret 2025.

Pembukaan kegiatan pelatihan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat
(Foto : Yayasan KEHATI)

Ibu Selvi sedang menyampaikan Tata Kelola dan Realisasi Penyaluran Hibah
(Foto : Yayasan KEHATI)

Pentingnya Capacity Building bagi Mitra Baru

Pelatihan ini ditujukan bagi seluruh mitra Blue Abadi Fund, baik penerima hibah kategori Inovasi maupun Primary. Namun, dalam kesempatan ini, jumlah peserta terbanyak berasal dari mitra inovasi, yang mayoritas terdiri dari kelompok masyarakat dan yayasan yang beroperasi di daerah seperti Teluk Wondama, Kaimana, dan Fak-Fak.

Pelatihan ini terdiri dari sesi pleno serta sesi kelompok yang membahas dua aspek utama, yaitu Pengelolaan Program dan Pengelolaan Keuangan. Pengelolaan Program mencakup tata kelola hibah BAF, mekanisme dan siklus hibah, serta pelaporan kegiatan dan capaian, sementara Pengelolaan Keuangan mencakup pencatatan dan pelaporan keuangan, pengadaan barang dan jasa, serta praktik simulasi laporan keuangan hibah. Pelatihan ini menggunakan metode interaktif, dengan diskusi kelompok yang dipandu oleh fasilitator berpengalaman, untuk memastikan pemahaman yang lebih baik bagi para peserta. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan dapat memahami tata kelola hibah serta mekanisme pelaporan program dan keuangan secara transparan dan akuntabel, sekaligus mendapatkan wawasan yang lebih mendalam melalui sesi berbagi pengalaman antar mitra.

Salah satu peserta yang sedang mengikuti kegiatan pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Kelompok pengelolaan program keuangan yang sedang mengikuti pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Salah satu aspek utama dalam pelatihan ini adalah capacity building, terutama bagi mitra baru yang pertama kali mendapatkan hibah. Pelatihan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman, terutama dari mitra yang sudah lebih dulu berpengalaman dalam mengelola hibah dan menjalankan program konservasi. Pelatihan ini juga mendorong adanya sistem pendampingan antar mitra agar setiap peserta dapat saling mendukung dalam implementasi program mereka. Mitra penerima hibah yang terlibat dalam pelatihan ini berasal dari berbagai institusi dan organisasi yang bergerak di bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Beberapa di antaranya yang mengikuti kegiatan di Manokwari adalah:

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA)
  • Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan KKP Kaimana
  • Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Nusa Matan Fakfak
  • Orang Muda Katolik (OMK) Kaimana
  • Yayasan Meos Papua Lestari (YMPL)
  • Kelompok Pemuda Kobererei, Kampung Uriemi, Kabupaten Teluk Wondama
  • Yayasan Sealam Karya Lestari (SELARAS)

Pembagian peserta untuk pengelolaan program dan pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Suasana pelatihan di hotel Triton, Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Selain itu, Siklus ke-5 juga memperkuat partisipasi masyarakat adat dan komunitas lokal Papua. Program ini memberikan ruang bagi masyarakat adat agar suara mereka dapat terdengar dan terimplementasi dalam upaya konservasi. Penerima manfaat utama dari program ini adalah masyarakat adat dan komunitas lokal Papua yang tinggal di wilayah konservasi. Mereka juga menjadi penjaga utama ekosistem dalam jangka panjang, sehingga peran aktif mereka sangat krusial dalam keberlanjutan upaya konservasi laut.

Harapan untuk Masa Depan

Beberapa harapan dari program ini kedepannya:

  • Replikasi model konservasi ke wilayah lain dengan cakupan lebih luas.
  • Peningkatan keterlibatan generasi muda dalam menjalankan program konservasi.
  • Meningkatkan daya tarik bagi donor lain untuk turut serta dalam mendukung konservasi laut.
  • Pengembangan kapasitas lembaga dan SDM agar semakin profesional dalam mengelola program konservasi.
  • Dengan strategi baru dan semangat kolaboratif yang lebih kuat, Blue Abadi Fund terus berupaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia, terutama dengan peran aktif dari masyarakat lokal dan generasi muda sebagai garda terdepannya.

Foto bersama seluruh peserta pelatihan
(Foto : Yayasan KEHATI)

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para mitra penerima hibah dapat lebih memahami tata kelola program serta pengelolaan keuangan hibah BAF, sehingga tujuan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung dapat tercapai secara maksimal.

Perubahan Strategis di Siklus ke-5

Dalam siklus ke-5, Rencana Strategis 2023-2028 mulai diimplementasikan dengan peningkatan intervensi perlindungan kawasan dari 3,6 juta hektar menjadi 5,2 juta hektar. Wilayah prioritas konservasi juga bertambah, mencakup :

  • KK Daerah Biak-Numfor(Kawasan Konservasi Daerah Biak-Numfor).
  • KK Nasional Padaido (Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Padaido).
  • KK Daerah Sorong Selatan (Kawasan Konservasi Seribu Satu Sungai Teoenebikia).
  • KK Daerah Maksegara di Kabupaten Sorong dan Kabupaten Tambrauw.

Pada Siklus ke-5, terdapat 8 mitra penerima Hibah Primary dengan total anggaran Rp 33 miliar, serta 10 mitra penerima Hibah Kecil Inovasi dengan total anggaran Rp 1,5 miliar. Periode hibah berlangsung hingga akhir Mei 2026.

Selain itu, pendekatan pendanaan dalam program ini mengalami perubahan. Jika pada lima tahun pertama BAF berfokus pada penyediaan arus pendanaan jangka panjang yang aman dan stabil, maka pada Rencana Strategis 2023 – 2028, pendanaan BAF akan mengisi gap dan memanfaatkan sumber pendanaan yang ada untuk memastikan bahwa ekosistem dan spesies Bentang Laut Kepala Burung dikelola secara berkelanjutan dan dilindungi oleh penjaga lingkungan setempat, agar memberikan manfaat bagi masyarakat adat dan masyarakat lokal Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 PMNH Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 PMNH Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 4 Februari 2025. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Pelaksanaan Training (Seleksi Akhir) dilakukan di Manokwari, Papua Barat

2. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training (Seleksi Akhir) yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 – 13 Maret 2025

3. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Tahap 2 KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Tahap 2 KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 15 orang calon KP2, 54 orang calon TLP2, dan 10 orang calon TMP2 dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 79 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 4 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada hari Senin, 17 Maret 2025

2. Peserta diharapkan memperhatikan room, tanggal dan jam wawancara dengan cermat

3. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom yang telah disediakan (link zoom menyusul)

4. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

5. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Dua Belas Hari di Laut: Ekspedisi RHM 2025 di Kaimana dan Fakfak

Dua Belas Hari di Laut: Ekspedisi RHM 2025 di Kaimana dan Fakfak

Penulis

Abigail Lang & Habema Monim

Tanggal

04 Maret 2025

Langit masih gelap ketika tim Reef Health Monitoring (RHM) berkumpul di Bandara Rendani, Manokwari dan Bandara DEO Sorong, pada pagi 24 dan 25 Januari 2025. Perjalanan panjang menanti, dimulai dari Manokwari menuju Sorong untuk persiapan sebelum berangkat ke Kaimana melakukan pelatihan dan juga monitoring di Perairan Kaimana dan Fak-Fak. Kegiatan RHM ini merupakan kegiatan dari USAID (United States Agency for International Development) bekerjasama dengan BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kaimana. Dalam kegiatan ini melibatkan beberapa institusi dan organisasi/lembaga swadaya masyarakat seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat, Konservasi Indonesia (KI), Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Raja Ampat, Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kaimana Fak-Fak, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Laut (LPSPL) Sorong, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC), Sinara Kaimana, Lokal Kaimana dan Lokal Fak-Fak. Tiga perwakilan dari Universitas Papua (UNIPA)—Habema Monim, Bernadus Duwit, dan Jane Lense—bersama 19 anggota siap menjalani ekspedisi yang akan membawa mereka lebih dekat dengan kehidupan bawah laut yang luar biasa.

Persiapan dan Pelatihan di Sorong dan Kaimana

Pada 26 Januari 2025, tim berkumpul dan melakukan pelatihan di Kaimana. Para ahli dan juga peserta lokal, menyimak dengan serius penjelasan tentang metodologi pengambilan data karang, ikan, dan megabentos serta parameter air. Akurasi adalah segalanya dalam monitoring ini — satu kesalahan kecil dalam pencatatan bisa mempengaruhi keseluruhan analisis. Diskusi hangat terjadi saat metode baru dalam pengambilan data diperkenalkan, termasuk beberapa perubahan dalam teknik pengamatan.

Setelah pelatihan, tim bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Pada 30 Januari 2025, mereka akhirnya naik kapal dan mulai berlayar menuju titik-titik pemantauan di perairan Kaimana dan Fak-Fak.

Presentasi tentang metodologi pengambilan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim dari berbagai instansi/LSM mengikuti pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Dua Belas Hari di Laut: Mengungkap Rahasia Karang dan Ikan

Kapal yang menjadi rumah sementara bagi 21 orang ini terombang-ambing lembut di permukaan laut biru. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing yang dibagi ke dalam 2 tim yang masing-masing tim fokus pada pengamatan kondisi karang, kondisi ikan karang, karang yang memutih, karang yang dilindungi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), megabentos dan kualitas perairan.

Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang sama namun penuh kejutan. Setiap jam 7 pagi, para penyelam mengenakan perlengkapan mereka, memeriksa alat, dan turun ke bawah laut untuk mengumpulkan data. Di satu titik penyelaman, mereka menggelar transek sepanjang 250 meter untuk pemantauan karang dan juga ikan karang. Salah satu momen paling menakjubkan adalah ketika mereka menemukan schooling ikan dari berbagai jenis sepanjang 250 meter, pemandangan yang jarang ditemui dalam monitoring sebelumnya.

Tim berdiskusi setelah monitoring & membagi tugas tanggung jawab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Salah satu tim yang bersiap di atas perahu untuk turun monitoring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Selain itu, koordinasi dengan masyarakat lokal menjadi aspek penting dalam ekspedisi ini. Para nelayan dan penyelam tradisional berbagi cerita tentang perubahan ekosistem yang mereka amati selama bertahun-tahun. Pertukaran pengetahuan ini memberi perspektif baru bagi tim dalam memahami fenomena kondisi terumbu karang di wilayah tersebut yang terus mengalami perubahan.

Namun, tidak semua berjalan mulus. Cuaca tak bersahabat selama monitoring memaksa tim harus menghentikan penyelaman selama 3 hari. Ombak tinggi membuat kondisi terlalu berbahaya untuk turun ke dalam air, dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Akibatnya, tidak semua titik monitoring bisa dijangkau untuk menyelam.

Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan

Pada akhir ekspedisi, tim berkumpul di dek kapal, berbagi kesan dan hasil sementara dari penelitian mereka. Meskipun tantangan cuaca menghadang, data yang terkumpul tetap berharga untuk memahami kondisi ekosistem terumbu karang di Kaimana dan Fak-Fak.

Habema menjadi Rollman
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Salah satu keindahan karang di perairan Fak-Fak
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Ketika kapal akhirnya kembali ke daratan, setiap anggota tim membawa lebih dari sekadar catatan dan foto bawah laut. Mereka membawa pengalaman, pembelajaran, dan tekad untuk terus menjaga laut agar tetap sehat bagi generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara PMNH Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 51 Orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Dokumen tersebut terdiri dari 2 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada hari Selasa, 04 Maret 2025

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara (link zoom dan waktu menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Dari Papua ke Aceh: Mempelajari Konservasi Penyu

Dari Papua ke Aceh: Mempelajari Konservasi Penyu

Penulis

Petrus Batubara, M. Faisal, Thomas Homba homba, Michael Tuhuteru

Tanggal

18 Februari 2025

Pada tanggal 21 Januari – 1 Februari 2025 Tim Konservasi Penyu Belimbing Aceh dan Papua melakukan pertukaran kunjungan yang pertama. Pada kunjungan pertama ini, Tim Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA melakukan kunjungan ke Yayasan Penyu Indonesia (YPI) di Pantai Along, Simeulue, Aceh.

Tujuan pertukaran kunjungan ini adalah pembandingan metode konservasi pada dua populasi penyu belimbing yang berbeda, yaitu penyu belimbing Samudera Pasifik dan penyu belimbing Samudera Hindia.

Aspek yang dinilai adalah :

  • Susunan tim lapangan dan monitoring pelaksanaan tugas
  • Pengambilan dan pengelolaan data
  • Relokasi sarang dan pengelolaan hatchery
  • Kerjasama dengan masyarakat setempat.

Pertukaran kunjungan ini merupakan proyek peningkatan kapasitas yang didanai oleh Darwin Initiative melalui Turtle Foundation.
Tim Papua mengunjungi beberapa lokasi yaitu Desa Along, Desa Langi, dan Pulau Salaut.

Kunjungan ke hatchery kelompok konservasi penyu dan hatchery pulau Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Kunjungan ke hatchery kelompok konservasi penyu dan hatchery pulau Salaut
(Foto : Thomas-S4C_LPPM UNIPA)

Kunjungan ke Desa Along: Pertukaran Pengetahuan Konservasi

Desa Along menjadi lokasi pertama kegiatan pertukaran kunjungan. Tim berada di Desa Along selama empat hari (21-24 Januari 2025) dan banyak mempelajari teknik konservasi yang diterapkan oleh kelompok yang beranggotakan enam orang ini. Pantai Along memiliki karakteristik unik karena berada dekat dengan pemukiman, berbeda dengan Pantai di Papua yang lebih terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Keberadaan masyarakat di sekitar pantai membawa tantangan tersendiri, seperti aktivitas perikanan dan pengambilan telur penyu yang dapat mengganggu proses peneluran alami. Oleh karena itu, pendekatan sosialisasi dan edukasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan konservasi.

Diskusi bersama kelompok konservasi penyu Aceh
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Monitoring malam bersama kelompok konservasi penyu dan Ranger Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Tim berkenalan dengan kelompok konservasi setempat dan bertukar pengalaman mengenai metode kandang relokasi di Papua, khususnya di Pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Salah satu perbedaan utama yang ditemukan adalah bahwa kandang relokasi di Simeulue tidak menggunakan naungan atau atap.

Tim kemudian mengamati langsung proses evaluasi sarang penyu, yang mencakup identifikasi telur yang gagal menetas dan pembuangan cangkang ke laut untuk menghindari predator seperti anjing. Prosedur ini dilakukan dengan sangat detail oleh tim YPI, meskipun tim Papua menyampaikan bahwa metode serupa pernah diterapkan tetapi telah dikaji ulang.

Foto bersama dengan kelompok konservasi penyu pantai peneluran Mafal
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama di basecamp tim penyu Pulau Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Pada malam harinya, tim mengikuti patroli malam bersama kelompok konservasi Mafal, yang dibagi dalam dua shift:

  • Shift 1 (21:00 – 02:00 WIB): Monitoring dan penandaan sarang.
  • Shift 2 (02:00 – 06:00 WIB): Monitoring, relokasi, dan evaluasi sarang penyu.

Eksplorasi di Desa Langi dan Pulau Salaut

Selanjutnya, tim melanjutkan perjalanan ke Desa Langi, yang merupakan basecamp YPI Simeulue, dan melakukan berbagai kegiatan konservasi dari 24-26 Januari 2025. Pada malam hari, tim mengikuti patroli di Pantai Peneluran Mafela (Lubuk Baik) untuk mengamati lebih lanjut metode konservasi yang diterapkan di sana.
Dari 26-29 Januari 2025, tim melanjutkan perjalanan ke Pulau Salaut menggunakan speed boat dengan waktu tempuh sekitar satu jam dalam kondisi cuaca baik. Di Pulau Salaut, tim berkenalan dengan para ranger YPI dan melakukan diskusi mendalam mengenai konservasi penyu di Papua dan Aceh. Selain itu, tim juga diajak untuk melakukan patroli, mengamati kondisi pantai peneluran, kandang hatchery, serta mengikuti rangkaian patroli malam.
Selain belajar dari metode yang diterapkan, tim Papua juga berdiskusi dengan komunitas lokal dan pengelola konservasi untuk memahami tantangan yang dihadapi serta bagaimana mereka mencari solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Hasil kunjungan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan meningkatkan efektivitas upaya konservasi penyu belimbing. Sebagai langkah selanjutnya, tim YPI dari Simeulue berencana melakukan kunjungan balasan ke Papua pada bulan Juni 2025.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kelapa: Pohon Kehidupan dan Potensi Ekonomi di Kabupaten Tambrauw

Kelapa: Pohon Kehidupan dan Potensi Ekonomi di Kabupaten Tambrauw.

Penulis

Kartika Zohar, Mikardes Albert

Tanggal

30 Oktober 2024

Tumbuhan kelapa (Cocos nucifera) dikenal sebagai pohon kehidupan (tree of life) karena banyaknya manfaat yang diperoleh dari bagian tumbuhan ini. Meskipun kelapa sangat terkenal di pesisir dan bernilai ekonomi tinggi, namun nyatanya dalam pengembangannya masih memiliki berbagai tantang seperti tingkat pengolahan yang rendah, akses pasar yang terbatas, serta infrastruktur pengelolaan yang masih kurang.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi telah secara konsisten melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Tambrauw khususnya Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pemberdayaan masyarakat untuk pemanfaatan kelapa yang diolah menjadi minyak kelapa. Kegiatan ini telah menghasilkan setidaknya 500 – 1.000 liter minyak kelapa setiap tahunnya.

Pemanfaatan kelapa ini berpotensi untuk dikembangkan. Namun informasi terkait jumlah lahan kelapa masih minim. Pada pertengahan tahun 2024, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tambrauw bekerja sama dengan Program Sains untuk Konservasi menginisiasi untuk melakukan pendataan luas kebun kelapa yang berada di pesisir Kabupaten Tambrauw. Pengambilan data dan penghitungan jumlah tegakan pohon kelapa dilakukan dengan menggunakan Metode drone. Terdapat total 8 Distrik dan 31 kampung yang menjadi lokasi pengambilan data.

Drone yang digunakan untuk pemetaan mengambil foto dari udara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Proses pengambilan foto dari udara untuk pemetaan kebun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Berdasarkan hasil pemetaan jumlah luasan total kebun kelapa sebesar 447,93 hektar dengan jumlah total tegakan pohon kelapa sebanyak 48.403 pohon. Informasi persentase luas untuk setiap distrik dan distribusi jumlah pohon pada setiap distrik disajikan dalam grafik berikut. Informasi luas lahan dan jumlah tegakan pohon kelapa penting untuk menjadi data awal rencana pengelolaan kelapa di masa depan bagi kabupaten Tambrauw. Kira-kira kampung mana saja yang mempunyai potensi kelapa yang tinggi ya?

Berdasarkan pengambilan data, kampung Werur di Distrik Bikar merupakan kampung yang memiliki luasan kebun kelapa yang terluas dibandingkan dengan kampung lainnya di distrik lain, yaitu 59,77 hektar. Namun jika dibandingkan dengan informasi berdasarkan jumlah pohon kelapa, kampung Hopmaree di Distrik Kwoor memiliki jumlah pohon kelapa yang terbanyak yaitu 6.897 pohon kelapa jika dibandingkan jumlah pohon kelapa di kampung pada distrik lainnya.

Persentase luas kebun kelapa tiap distrik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tegakan pohon kelapa tiap distrik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menariknya jika diurutkan berdasarkan kepadatan, kami menemukan kampung Orwen di Distrik Kwoor dengan luasan kebun 2,1 hektar mempunyai kepadatan yang tertinggi. Terdapat 158 pohon kelapa pada luasan 1 hektar. Kegiatan Pendataan Kelapa yang dilakukan pada 31 kampung ini memberikan informasi penting dalam rencana pemanfaatan kelapa yang berkelanjutan di Kabupaten Tambrauw. Silakan kunjungi Album Peta Kelapa di Kabupaten Tambrauw Tahun 2024 disini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Inisiasi Konservasi Penyu di Papua New Guinea Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Maju Bersama Indonesia Raya: Pemuda Papua di Garda Terdepan Konservasi Penyu Belimbing

Maju Bersama Indonesia Raya: Pemuda Papua di Garda Terdepan Konservasi Penyu Belimbing

Penulis

Noviyanti

Tanggal

24 Oktober 2024

Dilansir situs resmi Kemenpora RI, Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-96 tahun 2024 mengusung tema “Maju Bersama Indonesia Raya”. Tema ini mengusung semangat sinergi dan kolaborasi pemuda. Selain itu, tema Hari Sumpah Pemuda 2024 diharapkan mendorong para pemuda Indonesia untuk berkontribusi membawa bangsa menuju kejayaan global. Semangat ini mengantarkan kami untuk berbagi cerita tentang tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA yang bekerja bahu membahu bersama masyarakat lokal untuk melakukan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Taman Pesisir Jeen Womom. Tugas penting ini memberi kontribusi secara global untuk konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), spesies penyu terbesar di dunia.

Wilayah pesisir Kepala Burung Papua di Kabupaten Tambrauw merupakan wilayah peneluran penting bagi penyu belimbing yang bermigrasi ke laut Amerika bagian barat untuk makan disana. Penelitian penyu dan upaya perlindungan dilakukan di kedua sisi Samudera Pasifik. Penelitian dari Tapilatu dkk tahun 2013 memperkirakan aktivitas peneluran penyu belimbing di wilayah Taman Pesisir Jeen Womom menurun 5,9% per tahun dari tahun 1984 hingga 2011.

Telur penyu belimbing di sarang relokasi pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Pelepasan tukik penyu belimbing di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) turut mengambil bagian dalam upaya global untuk memulihkan populasi penyu belimbing di wilayah samudra Pasifik. Upaya konservasi holistik dilakukan agar tujuan ini bisa tercapai. Tim LPPM UNIPA menjalin kerjasama dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan penyu belimbing di daerah ini. Di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang berada di Distrik Abun dan Tobouw, tim LPPM UNIPA bersama masyarakat lokal dari 5 kampung dekat pantai peneluran yakni; Kampung Resye, Kampung Womom, kampung Syukwo, Kampung Wau, dan Kampung Weyaf. Tim berupaya untuk melindungi sebanyak mungkin sarang penyu belimbing agar produksi tukik maksimal untuk menopang populasi. Setiap tahunnya kru pantai*) direkrut dan diberikan pelatihan untuk memastikan mereka bekerja sesuai prosedur ilmiah yang sudah ditetapkan.

Masyarakat kampung Wau Weyaf melakukan pelepasan tukik penyu belimbing di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Dalam melaksanakan tugasnya, kru pantai juga berupaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam perlindungan penyu dengan pelatihan dan bekerja di pantai peneluran bersama-sama dengan kru pantai. Sebagian dari masyarakat yang tinggal di kampung-kampung di dekat pantai peneluran bertindak sebagai tenaga patroli lokal. Mereka bekerjasama dengan tim LPPM UNIPA dalam kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Peran mereka sangat penting. Kearifan lokal yang mereka miliki sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi letak sarang penyu. Dari data yang tercatat, tingkat akurasi tenaga patroli lokal dalam mengidentifikasi sarang penyu belimbing mencapai angka 94.7%! Pada musim ombak di pantai Jeen Yessa, dimana tim LPPM UNIPA tidak bisa mengirimkan kru pantai karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, tenaga patroli lokal mencatat jumlah penyu yang naik bertelur. Bahkan ketika pandemi COVID-19, dimana pembatasan perjalanan membuat hampir seluruh pantai peneluran di berbagai negara kehilangan kesempatan untuk melakukan kegiatan pemantauan penyu, tenaga patroli lokal justru menjadi tenaga andalan kala itu.

Masyarakat lokal juga terlibat dalam membuat kandang relokasi yang digunakan sebagai area aman membenamkan sarang dari lokasi yang terancam. Kandang relokasi merupakan kandang semi tertutup dengan bentuk persegi yang dibuat di dekat dengan areal peneluran dan di atas batas pasang. Setiap musim peneluran, tim LPPM UNIPA selalu melibatkan masyarakat lokal untuk membangun kandang relokasi. Karena kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahunnya, masyarakat sudah terbiasa dan dapat membuat kandang relokasi yang sesuai dengan prosedur ilmiah yang ditetapkan oleh tim LPPM UNIPA. Tim LPPM UNIPA juga melatih dan mendampingi masyarakat lokal dalam memindahkan sarang penyu belimbing ke kandang relokasi agar sukses penetasan sarang tetap terjaga. Para tenaga relokasi menerima upah per sarang yang mereka pindahkan. Upah yang diterima dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga, biaya sekolah, atau kebutuhan keluarga lainnya.

Masyarakat membuat perlindungan sarang untuk telur penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Faisal)

Masyarakat membuat perlindungan sarang telur penyu dari ancaman predator
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Faisal)

Kami melakukan wawancara singkat dengan Faisal, salah satu kru pantai yang sudah bekerja sejak tahun 2020. Faisal bercerita bahwa bekerja bersama masyarakat lokal sangat menyenangkan. Kehadiran mereka memberi warna dalam keseharian kru pantai. Seringkali di waktu-waktu istirahat, mereka berkumpul bercerita kisah pengalaman hidup hingga bercanda bersama. Mereka sering sekali membawakan kru pantai sayur-sayuran dari kampung mereka atau membawa daging hasil buruan di hutan untuk dimakan. “Kehadiran masyarakat lokal di pos pemantauan penyu sangat penting. Ketika ada hal-hal teknis dalam membangun pos yang tidak kami ketahui, beberapa dari mereka bekerjasama dengan kami membangun fasilitas-fasilitas pos kami.” Ujar Faisal ketika bercerita mereka pernah membangun fasilitas di pos pemantauan penyu tempat mereka bekerja.

Kisah kolaborasi ini tidak hanya menjadi upaya melindungi satwa langka, tetapi juga menggambarkan semangat persatuan dan sinergi pemuda serta masyarakat lokal dalam menjaga warisan alam Indonesia. Dengan semangat ‘Maju Bersama Indonesia Raya’, kita percaya bahwa langkah-langkah kecil di pesisir Papua ini akan berdampak besar bagi masa depan ekosistem dunia.

Footnotes: Kru pantai adalah istilah yang digunakan untuk tenaga patroli yang direkrut tim LPPM UNIPA yang berasal dari alumni berbagai universitas.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei Monitoring Sosial Training

Pelatihan Surveyor Lapangan untuk Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier

Pelatihan Surveyor Lapangan untuk Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier

Penulis

Arnoldus Ananta

Tanggal

16 Oktober 2024

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melalui Program Sains untuk Konservasi telah melaksanakan Pelatihan Surveyor Lapangan untuk kegiatan Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier di Raja Ampat. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi dasar terkait monitoring sosial yang akan dilakukan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan pengembangan diri para surveyor untuk melakukan survei di lapangan nanti.

Kezia Salosso saat berdiskusi dengan peserta pelatihan mengenai pengisian form instrumen survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Peserta pelatihan melihat kembali form instrumen survei rumah tangga yang telah diisi saat praktek wawancara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Pelatihan yang berlangsung selama 5 (lima) hari, yaitu tanggal 9-11 dan 14-15 Oktober 2024 di Kampus UNIPA, dibuka secara langsung oleh Dr. Fitryanti Pakiding selaku Pengelola Program Sains untuk Konservasi. Terdapat 8 orang sebagai peserta kegiatan, yang memiliki sapaan akrab Abdul, Andho, Angel, Diva, Jelly, Spenyel, Stilo, dan Thomas. Mereka merupakan alumni dari Universitas Papua dan Universitas Cendrawasih, dan memiliki latar belakang ilmu yang beragam yaitu bidang kelautan dan perikanan, biologi, pendidikan, sastra dan antropologi, kehutanan, dan bidang ekonomi/akuntansi.

Selama lima hari pelatihan, tim Program Monitoring Sosial memberikan kesempatan belajar kepada peserta untuk memiliki pengetahuan dan informasi terkait pekerjaan yang akan dilakukan. Mereka belajar tentang Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) dan potensi wilayahnya serta masyarakat pesisir di BLKB, apa yang dimaksud dengan Kawasan Konservasi Perairan, latar belakang dan tujuan pelaksanaan Monitoring Sosial, bagaimana data dikumpulkan di lapangan, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun tim yang solid. Kami juga melakukan praktek sebagai aplikasi dari pembelajaran yang telah dilakukan. Praktek ini termasuk bagaimana memilih responden atau penentuan sampel survei, bagaimana wawancara dilakukan atau bagaimana bertanya kepada responden, bagaimana menjaga kualitas data yang ditulis pada instrumen wawancara, dan praktek penggunaan GPS untuk menandai lokasi pengumpulan data.

Dahlia Menufandu saat menjelaskan kepada peserta training mengenai bagaimana menghitung hasil pendapatan nelayan dalam form instrumen survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Dahlia Menufandu saat menjelaskan kepada salah satu peserta training mengenai bagaimana mengisi form daftar rumah tangga survei Tahun 2024
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Jennifer Maleke saat menjelaskan kepada peserta training mengenai bagaimana mengisi form sampel acak rumah tangga survei sosial
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Peserta pelatihan (dari kanan ke kiri) Spenyel, Diva dan Jelly saat mengoperasikan pemindai GPS di luar ruangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Instrumen pengumpulan data yang akan digunakan oleh peserta di lapangan adalah kuesioner survei rumah tangga. Peserta diharapkan dapat memperhatikan, memahami dan dapat menyampaikan dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada kuesioner kepada responden. Indikator data dan pertanyaan yang akan disampaikan banyak dan beragam, sehingga para peserta juga diharapkan dapat tetap fokus bukan hanya pada saat menyampaikan pertanyaan, tetapi juga bagaimana memahami jawaban yang disampaikan oleh responden.

Survei lapangan di wilayah BLKB Papua sulit dan menantang. Saat menutup kegiatan, Dr. Fitryanti Pakiding berpesan bahwa praktek dan ujian yang sebenarnya akan terjadi saat tim mulai bekerja di lapangan. Kemampuan bekerja sama dan berempati dalam tim merupakan kualitas yang akan melengkapi diri seorang surveyor bukan hanya saat bekerja di lapangan tetapi juga menjadi bekal di masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Dari Inspirasi Hingga Juara: Perjalanan Tim Amigurumi dalam Lomba Papedanomics

Dari Inspirasi Hingga Juara: Perjalanan Tim Amigurumi dalam Lomba Papedanomics

Penulis

Jane Lense, Michael Tuhuteru

Tanggal

23 September 2024

Perjalanan kami dalam lomba Papedanomics berawal dari satu momen yang sederhana namun berkesan. PAPEDANOMICS 2024 sendiri merupakan sebuah rangkaian kegiatan inspiratif yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, ISEI Papua Barat dan SDGs Center Universitas Papua. Pelaksanaan PAPEDANOMICS bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan ekonomi dan sosial di Tanah Papua menuju Papua Emas 2045.

Pendaftaran lomba Young Enterpreneur Competition (Business Plan Competition) dibuka mulai 20 Juni hingga 23 Agustus 2024, namun baru pada 21 Agustus kami mengetahui informasi tentang lomba ini—hanya dua atau tiga hari sebelum pendaftaran ditutup. Saat itu, kami didorong oleh Kak Tika, salah satu senior kami di kantor S4C (akronim yang biasa kami gunakan untuk Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA-Red), untuk mengikuti lomba tersebut. Tanpa ragu, kami pun mulai menyusun draft proposal, meski waktu yang tersedia sangat terbatas.

Proposal yang kami ajukan berkisar pada ide bisnis yang sederhana namun penuh makna: amigurumi keychain, yaitu gantungan kunci yang terbuat dari rajutan tangan. Ide ini terinspirasi dari hasil karya salah satu tenaga PM di kantor kami, yang membuat rajutan berbentuk penyu. Karya tersebut memukau kami, dan dari sana kami terpikir untuk mengembangkan ide ini menjadi lebih besar—sesuatu yang bisa membawa dampak positif, baik secara sosial maupun lingkungan.

Amigurumi keychain yang sudah jadi yang berbentuk penyu, lucu dan unik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Jennifer Maleke sedang mempresentasikan Amigurumi Keychain di depan penonton dan juri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Bukan Sekadar Bisnis, Ini adalah Misi Sosial dan Konservasi

Visi kami dalam bisnis ini tidak semata-mata mencari keuntungan. Kami ingin menggabungkan seni tangan yang indah dengan pesan penting mengenai pelestarian lingkungan dan hewan-hewan yang dilindungi. Produk yang kami buat ini tidak hanya akan menjadi karya seni, tetapi juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga alam dan spesies yang terancam punah.

Lebih dari itu, kami ingin bisnis ini juga memberikan dampak sosial nyata. Dalam proses produksinya, kami merencanakan untuk melibatkan anak-anak panti asuhan di Manokwari. Kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak dan remaja di sana untuk mengembangkan keterampilan yang bisa membantu mereka meraih kemandirian ekonomi. Dengan melibatkan mereka dalam pembuatan amigurumi, kami berharap dapat memberdayakan mereka, membuka peluang bagi masa depan yang lebih baik.

Selain itu, sebagian dari hasil penjualan produk ini akan disalurkan untuk mendukung upaya konservasi hewan yang dilindungi. Dengan demikian, setiap pembelian produk ini tidak hanya mendukung usaha kami, tetapi juga membawa dampak positif bagi alam dan masyarakat.

Kejutan Manis: Menjadi Finalis di Antara 350 Peserta

Tanggal 2 September menjadi hari yang penuh kejutan bagi kami. Dari sekitar 350 kelompok yang mendaftar, kami diumumkan sebagai salah satu dari lima finalis dengan proposal terbaik! Sungguh sebuah pencapaian yang tidak terduga, terutama mengingat waktu persiapan kami yang sangat singkat—hanya dua hari. Namun, berkat kerja keras dan dukungan penuh dari teman-teman kantor, khususnya Ibu Fitry dan Kak Tika, kami berhasil mencapainya.

Menjadi finalis tentu bukan akhir dari perjalanan kami. Kami harus mempersiapkan presentasi yang akan dibawakan di depan juri pada 11 September. Waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk menyusun materi dan berlatih agar dapat menyampaikan ide kami dengan baik dan meyakinkan.

Para peserta dan para penonton yang datang memenuhi aula UNIPA
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Antusiasme mahasiswa dan mahasiswi yang hadir untuk menyaksikan kegiatan ini sangat luar biasa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Hari Penentuan: Presentasi di Hadapan Juri

Akhirnya, tibalah hari yang dinanti-nantikan, 11 September. Tim kami diwakili oleh Jennifer Maleke untuk mempresentasikan proposal bisnis kami di hadapan juri dan audiens, setelah empat finalis lainnya. Rasa gugup dan takut jelas kami rasakan, namun kami sudah berusaha sebaik mungkin dalam latihan. Dengan percaya diri, Jeniffer menyampaikan proposal kami dengan lancar dan jelas, seperti yang telah kami persiapkan selama beberapa hari terakhir.

Tanggapan dari juri dan audiens sangat positif. Meskipun tidak banyak pertanyaan yang diajukan, mereka sangat mengapresiasi konsep dan ide bisnis yang kami tawarkan. Dukungan yang kami terima membuat kami merasa semakin yakin bahwa apa yang kami tawarkan bukan sekadar proposal bisnis biasa, tetapi juga sebuah misi yang lebih besar.

Momen Terbaik: Menjadi Juara 2

Perjalanan singkat namun penuh makna ini memberikan pelajaran berharga bagi kami. Ide yang baik, meski dimulai dari hal kecil, bisa tumbuh menjadi sesuatu yang besar ketika dijalankan dengan semangat, kerja keras, dan dukungan dari orang-orang di sekitar. Kemenangan ini bukan hanya milik kami, tetapi juga milik setiap orang yang turut mendukung dan percaya pada kami.

Puncak acara Papedanomics jatuh pada 12 September, dengan pengumuman pemenang di Swissbel Hotel. Deg-degan rasanya saat nama-nama finalis disebutkan satu per satu. Ketika nama kami diumumkan sebagai juara kedua dari tiga proposal terbaik, perasaan bangga dan syukur tak bisa dibendung. Kami tidak hanya berhasil melewati tantangan, tetapi juga membuktikan bahwa ide kami dihargai dan diakui sebagai salah satu yang terbaik.

Dengan penghargaan ini, kami berharap dapat melanjutkan rencana bisnis kami, memberikan dampak sosial yang nyata, dan terus berkontribusi dalam pelestarian alam. Papedanomics hanyalah awal dari perjalanan panjang yang akan kami tempuh, dan kami sangat bersemangat untuk mewujudkan setiap langkah yang sudah kami rencanakan.

Jennifer yang sedang mempresentasikan amigurumi keychain kepada penonton dan dewan juri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Penyerahan hadiah Juara Kedua dari tiga proposal terbaik kepada Jennifer
(Foto : BI Papua Barat)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya