Dari Papua ke Aceh: Mempelajari Konservasi Penyu

Penulis

Petrus Batubara, M. Faisal, Thomas Homba homba, Michael Tuhuteru

Tanggal

18 Februari 2025

Pada tanggal 21 Januari – 1 Februari 2025 Tim Konservasi Penyu Belimbing Aceh dan Papua melakukan pertukaran kunjungan yang pertama. Pada kunjungan pertama ini, Tim Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA melakukan kunjungan ke Yayasan Penyu Indonesia (YPI) di Pantai Along, Simeulue, Aceh.

Tujuan pertukaran kunjungan ini adalah pembandingan metode konservasi pada dua populasi penyu belimbing yang berbeda, yaitu penyu belimbing Samudera Pasifik dan penyu belimbing Samudera Hindia.

Aspek yang dinilai adalah :

  • Susunan tim lapangan dan monitoring pelaksanaan tugas
  • Pengambilan dan pengelolaan data
  • Relokasi sarang dan pengelolaan hatchery
  • Kerjasama dengan masyarakat setempat.

Pertukaran kunjungan ini merupakan proyek peningkatan kapasitas yang didanai oleh Darwin Initiative melalui Turtle Foundation.
Tim Papua mengunjungi beberapa lokasi yaitu Desa Along, Desa Langi, dan Pulau Salaut.

Kunjungan ke hatchery kelompok konservasi penyu dan hatchery pulau Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Kunjungan ke hatchery kelompok konservasi penyu dan hatchery pulau Salaut
(Foto : Thomas-S4C_LPPM UNIPA)

Kunjungan ke Desa Along: Pertukaran Pengetahuan Konservasi

Desa Along menjadi lokasi pertama kegiatan pertukaran kunjungan. Tim berada di Desa Along selama empat hari (21-24 Januari 2025) dan banyak mempelajari teknik konservasi yang diterapkan oleh kelompok yang beranggotakan enam orang ini. Pantai Along memiliki karakteristik unik karena berada dekat dengan pemukiman, berbeda dengan Pantai di Papua yang lebih terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Keberadaan masyarakat di sekitar pantai membawa tantangan tersendiri, seperti aktivitas perikanan dan pengambilan telur penyu yang dapat mengganggu proses peneluran alami. Oleh karena itu, pendekatan sosialisasi dan edukasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan konservasi.

Diskusi bersama kelompok konservasi penyu Aceh
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Monitoring malam bersama kelompok konservasi penyu dan Ranger Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Tim berkenalan dengan kelompok konservasi setempat dan bertukar pengalaman mengenai metode kandang relokasi di Papua, khususnya di Pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Salah satu perbedaan utama yang ditemukan adalah bahwa kandang relokasi di Simeulue tidak menggunakan naungan atau atap.

Tim kemudian mengamati langsung proses evaluasi sarang penyu, yang mencakup identifikasi telur yang gagal menetas dan pembuangan cangkang ke laut untuk menghindari predator seperti anjing. Prosedur ini dilakukan dengan sangat detail oleh tim YPI, meskipun tim Papua menyampaikan bahwa metode serupa pernah diterapkan tetapi telah dikaji ulang.

Foto bersama dengan kelompok konservasi penyu pantai peneluran Mafal
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama di basecamp tim penyu Pulau Salaut
(Foto : Thomas – S4C_LPPM UNIPA)

Pada malam harinya, tim mengikuti patroli malam bersama kelompok konservasi Mafal, yang dibagi dalam dua shift:

  • Shift 1 (21:00 – 02:00 WIB): Monitoring dan penandaan sarang.
  • Shift 2 (02:00 – 06:00 WIB): Monitoring, relokasi, dan evaluasi sarang penyu.

Eksplorasi di Desa Langi dan Pulau Salaut

Selanjutnya, tim melanjutkan perjalanan ke Desa Langi, yang merupakan basecamp YPI Simeulue, dan melakukan berbagai kegiatan konservasi dari 24-26 Januari 2025. Pada malam hari, tim mengikuti patroli di Pantai Peneluran Mafela (Lubuk Baik) untuk mengamati lebih lanjut metode konservasi yang diterapkan di sana.
Dari 26-29 Januari 2025, tim melanjutkan perjalanan ke Pulau Salaut menggunakan speed boat dengan waktu tempuh sekitar satu jam dalam kondisi cuaca baik. Di Pulau Salaut, tim berkenalan dengan para ranger YPI dan melakukan diskusi mendalam mengenai konservasi penyu di Papua dan Aceh. Selain itu, tim juga diajak untuk melakukan patroli, mengamati kondisi pantai peneluran, kandang hatchery, serta mengikuti rangkaian patroli malam.
Selain belajar dari metode yang diterapkan, tim Papua juga berdiskusi dengan komunitas lokal dan pengelola konservasi untuk memahami tantangan yang dihadapi serta bagaimana mereka mencari solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Hasil kunjungan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan meningkatkan efektivitas upaya konservasi penyu belimbing. Sebagai langkah selanjutnya, tim YPI dari Simeulue berencana melakukan kunjungan balasan ke Papua pada bulan Juni 2025.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya