Dua Belas Hari di Laut: Ekspedisi RHM 2025 di Kaimana dan Fakfak

Penulis

Abigail Lang & Habema Monim

Tanggal

04 Maret 2025

Langit masih gelap ketika tim Reef Health Monitoring (RHM) berkumpul di Bandara Rendani, Manokwari dan Bandara DEO Sorong, pada pagi 24 dan 25 Januari 2025. Perjalanan panjang menanti, dimulai dari Manokwari menuju Sorong untuk persiapan sebelum berangkat ke Kaimana melakukan pelatihan dan juga monitoring di Perairan Kaimana dan Fak-Fak. Kegiatan RHM ini merupakan kegiatan dari USAID (United States Agency for International Development) bekerjasama dengan BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kaimana. Dalam kegiatan ini melibatkan beberapa institusi dan organisasi/lembaga swadaya masyarakat seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat, Konservasi Indonesia (KI), Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Raja Ampat, Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kaimana Fak-Fak, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Laut (LPSPL) Sorong, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC), Sinara Kaimana, Lokal Kaimana dan Lokal Fak-Fak. Tiga perwakilan dari Universitas Papua (UNIPA)—Habema Monim, Bernadus Duwit, dan Jane Lense—bersama 19 anggota siap menjalani ekspedisi yang akan membawa mereka lebih dekat dengan kehidupan bawah laut yang luar biasa.

Persiapan dan Pelatihan di Sorong dan Kaimana

Pada 26 Januari 2025, tim berkumpul dan melakukan pelatihan di Kaimana. Para ahli dan juga peserta lokal, menyimak dengan serius penjelasan tentang metodologi pengambilan data karang, ikan, dan megabentos serta parameter air. Akurasi adalah segalanya dalam monitoring ini — satu kesalahan kecil dalam pencatatan bisa mempengaruhi keseluruhan analisis. Diskusi hangat terjadi saat metode baru dalam pengambilan data diperkenalkan, termasuk beberapa perubahan dalam teknik pengamatan.

Setelah pelatihan, tim bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Pada 30 Januari 2025, mereka akhirnya naik kapal dan mulai berlayar menuju titik-titik pemantauan di perairan Kaimana dan Fak-Fak.

Presentasi tentang metodologi pengambilan data
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim dari berbagai instansi/LSM mengikuti pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Dua Belas Hari di Laut: Mengungkap Rahasia Karang dan Ikan

Kapal yang menjadi rumah sementara bagi 21 orang ini terombang-ambing lembut di permukaan laut biru. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing yang dibagi ke dalam 2 tim yang masing-masing tim fokus pada pengamatan kondisi karang, kondisi ikan karang, karang yang memutih, karang yang dilindungi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), megabentos dan kualitas perairan.

Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang sama namun penuh kejutan. Setiap jam 7 pagi, para penyelam mengenakan perlengkapan mereka, memeriksa alat, dan turun ke bawah laut untuk mengumpulkan data. Di satu titik penyelaman, mereka menggelar transek sepanjang 250 meter untuk pemantauan karang dan juga ikan karang. Salah satu momen paling menakjubkan adalah ketika mereka menemukan schooling ikan dari berbagai jenis sepanjang 250 meter, pemandangan yang jarang ditemui dalam monitoring sebelumnya.

Tim berdiskusi setelah monitoring & membagi tugas tanggung jawab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Salah satu tim yang bersiap di atas perahu untuk turun monitoring
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Selain itu, koordinasi dengan masyarakat lokal menjadi aspek penting dalam ekspedisi ini. Para nelayan dan penyelam tradisional berbagi cerita tentang perubahan ekosistem yang mereka amati selama bertahun-tahun. Pertukaran pengetahuan ini memberi perspektif baru bagi tim dalam memahami fenomena kondisi terumbu karang di wilayah tersebut yang terus mengalami perubahan.

Namun, tidak semua berjalan mulus. Cuaca tak bersahabat selama monitoring memaksa tim harus menghentikan penyelaman selama 3 hari. Ombak tinggi membuat kondisi terlalu berbahaya untuk turun ke dalam air, dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Akibatnya, tidak semua titik monitoring bisa dijangkau untuk menyelam.

Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan

Pada akhir ekspedisi, tim berkumpul di dek kapal, berbagi kesan dan hasil sementara dari penelitian mereka. Meskipun tantangan cuaca menghadang, data yang terkumpul tetap berharga untuk memahami kondisi ekosistem terumbu karang di Kaimana dan Fak-Fak.

Habema menjadi Rollman
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Salah satu keindahan karang di perairan Fak-Fak
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Ketika kapal akhirnya kembali ke daratan, setiap anggota tim membawa lebih dari sekadar catatan dan foto bawah laut. Mereka membawa pengalaman, pembelajaran, dan tekad untuk terus menjaga laut agar tetap sehat bagi generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya