Rumah Belajar Abun: Merajut Impian Melalui Komputer dan Bahasa Inggris

Bagikan Tulisan

Tanggal

25 Agustus 2023

Penulis

Aflia Pongbatu dan Kartika Zohar

Tanggal

25 Agustus 2023

Penulis

Aflia Pongbatu dan Kartika Zohar

Rumah Belajar Abun adalah mimpi indah yang menjadi kenyataan bagi anak-anak di kawasan Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Di bawah naungan Sains untuk Konservasi dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua, program pendidikan informal ini bertujuan memberikan manfaat berharga bagi anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) di lima kampung yang beruntung berada dekat pantai peneluran Penyu Belimbing.

Inilah kehebatan Rumah Belajar Abun: menawarkan pelajaran yang tak hanya berkutat pada literasi dan lingkungan hidup, namun juga membuka pintu dunia teknologi dan Bahasa Inggris bagi anak-anak. Bagaimana tidak, di sana mereka belajar mengenal komputer sejak dini! Ide menarik ini muncul dari para orang tua di Kampung Resye yang memahami betapa pentingnya penguasaan teknologi di era modern. Dengan semangat tak kenal lelah, mereka berusaha memastikan anak-anak mereka memiliki kesempatan yang sama untuk bermain dengan komputer dan merajut impian masa depan yang gemilang.

Pembelajaran Comeng di Rumah Belajar Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar Comeng di Rumah Belajar Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Meskipun dana terbatas sempat menjadi rintangan, semangat tak pernah padam. Berkat dukungan dari Seacology, Rumah Belajar Abun di Kampung Resye dan Womom kini dilengkapi dengan tiga unit laptop dan satu unit infokus untuk pembelajaran komputer. Ini adalah awal dari perubahan yang luar biasa. Namun, bukan hanya dua kampung ini yang mendambakan keajaiban teknologi, Kampung Wau-Weyaf dan Syukwo juga turut berharap anak-anak mereka mendapatkan kesempatan serupa. Berkat dukungan dari International Seafood Sustainability Foundation (ISSF) dan Blue Abadi Fund (BAF), mimpi itu menjadi nyata! Dua unit komputer tambahan berhasil dihadirkan untuk RB Wau-Weyaf dan RB Syukwo, mengantar para anak menuju masa depan yang penuh harapan. Namun angka ini tentu belum dapat mengimbangi jumlah anak rumah belajar yang mencapai 120-an anak.

Belajar Comeng di Rumah Belajar Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tak pelak, semangat belajar anak-anak kian berkobar. Di antara keterbatasan perangkat dan pasokan listrik yang terbatas, mereka tetap semangat mengikuti pelajaran komputer dan Bahasa Inggris. Pembelajaran komputer dimulai dari yang paling dasar, dari cara menghidupkan dan mematikan komputer, hingga memahami perangkat keras dan pengoperasian Microsoft Office. Sedangkan pembelajaran Bahasa Inggris tak kalah seru! Dalam rangkaian 12 sub indikator, mereka diajarkan segala hal, mulai dari alfabet hingga operasi matematika. Pada tahun 2023, muncul ide untuk menggabungkan kedua pembelajaran ini menjadi satu, dengan nama Computer & English (COMENG), untuk mengatasi keterbatasan waktu pembelajaran yang terbatas. Walaupun jadwal kadang berliku, semangat mereka tetap tak tergoyahkan.

Rumah Belajar Abun adalah cerita keberanian dan keteguhan hati. Para pendamping masyarakat tak pernah berhenti memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Mereka memberikan pengajaran intensif dan bahkan turut mendukung penyediaan listrik di kampung dengan membayar iuran agar genset kampung dapat beroperasi. Ketika cuaca cerah menyinari kampung, mereka dengan cerdik memanfaatkannya untuk mengisi daya baterai. Saat mendengar genset warga beroperasi pada malam hari, mereka tak segan-segan untuk menumpang mengisi daya laptop demi membuka jendela masa depan anak-anak.

Tentu, perjuangan ini belum berakhir. Rumah Belajar Abun membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, lembaga, dan organisasi untuk terus menerus memberikan dedikasi terbaik bagi anak-anak di Kawasan Pesisir Jeen Womom. Mari bersama-sama mencerdaskan generasi penerus bangsa. Mari menciptakan dunia di mana setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan mewujudkan impian mereka. Jika kita bergandengan tangan, kita pasti bisa mencapainya!”

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.