Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kelapa dan Mimpi Pesisir: Cerita Monev dari Kampung-Kampung di Sekitar TP Jeen Womom

Kelapa dan Mimpi Pesisir: Cerita Monev dari Kampung-Kampung di Sekitar TP Jeen Womom

Penulis

Putri Kawilarang, Kartika Zohar

Tanggal

06 Mei 2025

Setiap perjalanan menyimpan cerita. Setelah satu bulan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) bekerja di kampung-kampung sekitar Taman Pesisir Jeen Womom, akhir April menjadi momen penting bagi Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) untuk kembali turun ke lapangan. Selain memastikan keberlangsungan program konservasi, tim juga membawa pasokan bahan makanan (bama) dan logistik untuk kebutuhan sebulan ke depan.

Langkah Pertama: Menuju Kampung Penjaga Pesisir

Pada Jumat malam, 25 April 2025 pukul 21.00 WIT, lima anggota Tim Monev berangkat dari Manokwari dengan menumpang KM Sabuk Nusantara 112. Mereka menuju lima titik lokasi pendampingan di tiga distrik: Distrik Amberbaken (empat kampung binaan), Distrik Abun (tiga kampung binaan), dan Distrik Tobouw (dua kampung binaan).

Sabtu pagi, 26 April 2025, kapal tiba di perairan Saukorem. Mikardes Albert turun dan melanjutkan perjalanan darat ke Distrik Amberbaken. Sore harinya, Kartika Zohar tiba di Kampung Wau-Weyaf. Esok pagi, 27 April 2025, Aflia Pongbatu melanjutkan ke Kampung Syukwo, sementara Fitri Iriani dan Putri Kawilarang menuju Kampung Resye.

Kegiatan Monev Bersama Tim di Kampung Wau-Weyaf. Tim PMNH melengkapi dokumen-dokumen program.
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Kegiatan Monev Bersama Tim di Kampung Womom. Tim PMNH melengkapi dokumen-dokumen program.
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Setibanya di lokasi, Tim Monev melaksanakan tugas sesuai rencana kerja yang tertuang dalam TOR, diantaranya memeriksa kesesuaian logistik dan bahan makanan, memastikan kegiatan belajar-mengajar di Rumah Belajar berjalan, serta memantau pelaksanaan teknis kegiatan lapangan. Sesi diskusi dengan para PMNH juga menjadi bagian penting, mendengarkan kendala, menyampaikan evaluasi, dan mencari solusi bersama.

Kegiatan Pengolahan Kelapa (proses cincang) untuk praktikum bersama di Kampung Resye dan Womom
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Proses penggantian mesin parut kelapa yang telah rusak di lokasi Resye – Womom
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Belajar dari Lapangan: Minyak Kelapa dan Kolaborasi

Di Kampung Resye dan Womom, Tim Monev bersama PMNH melakukan praktik pembuatan minyak kelapa. Sebelumnya, hasil produksi dari lokasi ini belum lolos uji kualitas oleh tim di Manokwari. Untuk itu, para pendamping ditugaskan mengumpulkan sekitar 150 buah kelapa untuk praktik bersama.

Tantangan teknis pun muncul, seperti mesin parut aus dan tidak bisa digunakan karena kunci L untuk mengganti mata parut tidak tersedia. Saat beralih ke pencacahan manual, parang terlepas dari gagangnya. Pasokan solar pun sempat habis, sehingga tim harus menimba air dari sungai yang nyaris kering. Meski begitu, semua kendala dapat diatasi dengan semangat gotong royong. Produksi minyak kelapa tetap terlaksana.

Sementara itu, di Kampung Wau-Weyaf, tim bersama PMNH melakukan dua teknik olahan kelapa sekaligus yaitu pembuatan minyak kelapa melalui pemanasan, dan Virgin Coconut Oil (VCO) dengan metode fermentasi. Mereka juga berdiskusi dengan kelompok masyarakat dan aparat kampung tentang penggunaan rumah produksi.

Cerita dari kampung Syukwo pun tak kalah menarik. Mereka mempraktikan pembuatan pot dari sabut kelapa. Kedepannya ini mungkin menjadi salah satu alternatif pendapatan untuk pemanfaatan kelapa di wilayah ini. Namun tentunya ini masih merupakan pekerjaan rumah untuk dapat melatih anggota masyarakat untuk dapat memproduksinya secara berkelanjutan.

Percobaan untuk Produksi VCO
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Proses Memasak Minyak Kelapa
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Tawa, Kejutan, dan Kehangatan Komunitas

Di tengah kegiatan padat, momen-momen ringan turut memberi warna. Di Resye-Womom, tim diajak anak-anak kampung mengunjungi air terjun, meski ternyata sedang kering, kebersamaan tetap jadi pengalaman yang berharga.

Di Syukwo, atap dapur bocor dan tungku masak perlu ditata ulang. Meski sederhana, aktivitas ini menjadi momen kolaborasi sambil berbagi cerita di dalam tim.

Di Wau-Weyaf, waktu luang di tengah-tengah produksi diisi dengan membuat kue lemet dari singkong parut dan gula merah, lalu dinikmati bersama di Rumah Belajar. Sementara di Amberbaken, di sela hujan, tim menyempatkan diri memancing dan menikmati hasil tangkapan bersama masyarakat.

Kembali Pulang, Membawa Cerita dan Harapan

Pada Jumat, 2 Mei 2025, Tim Monev kembali ke Manokwari. Mereka membawa dokumen hasil evaluasi, 11 liter minyak kelapa dari Resye-Womom, 46 liter minyak kelapa dan 4,5 liter VCO dari Wau-Weyaf yang diproduksi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Seluruh hasil produksi ini akan diproses dan dikemas sebelum dijual di toko swalayan di Manokwari.

Setiap kunjungan monev menjadi ruang belajar bersama untuk merawat hubungan dan memperkuat kerja sama dengan PMNH dan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat upaya pelestarian penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mendukung konservasi yang berkelanjutan di pesisir Papua Barat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Petualangan Eksplorasi Kaimana: Menyelami Kekayaan Alam & Kearifan Lokal

Petualangan Eksplorasi Kaimana: Menyelami Kekayaan Alam & Kearifan Lokal

Penulis

Arnoldus Samudra Ananta, Dahlia Menufandu

Tanggal

5 Mei 2025

Tim gabungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Mitra Sinergi Rakyat untuk Alam (SINARA), dan BLUD UPTD Kaimana-Fakfak baru saja menyelesaikan ekspedisi yang menggabungkan semangat ilmiah dengan pengalaman budaya dan lingkungan yang mendalam. Selama lebih dari satu bulan, tim melakukan survei sosial dan ekonomi di empat Kawasan Konservasi (KK) di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Mereka menjelajahi 25 kampung yang tersebar di dalam dan luar wilayah konservasi untuk menggali informasi seputar kondisi sosial-ekonomi masyarakat, aktivitas kelautan, pengelolaan sumber daya alam, serta potensi pencemaran di kawasan pesisir.

Arwah kaka ABi sedang mengikuti dari belakang

Persiapan Tim dari Kampung Namatota Menuju Kampung Rurumo di Teluk Etna, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Perjalanan dimulai di Kawasan Konservasi Arguni, di mana tim mengunjungi enam kampung, termasuk Kampung Kokoroba. Kampung ini memiliki kisah unik, menjadi satu-satunya di Arguni yang memiliki sumber mata air pegunungan yang digunakan oleh penduduk lokal dan kampung-kampung sekitarnya. Masyarakat setempat menunjukkan hubungan erat dengan alam, baik dalam memanfaatkan hasil kebun seperti durian dan pala, maupun dalam mengelola sumber daya laut seperti kepiting dan ikan secara berkelanjutan. Kehangatan dan kebersamaan masyarakat memperkuat kesan bahwa kearifan lokal masih menjadi nilai utama dalam kehidupan mereka.

Sumber mata air di Kampung Kokoroba, KK Teluk Arguni
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kopra; salah satu komoditi unggulan di Kampung Adijaya, KK Buruway
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selama perjalanan, tim juga menyelami kekayaan budaya dan alam Kaimana yang menakjubkan. Terletak di pesisir barat Papua, Kaimana dikenal dengan senjanya yang memukau, laut yang jernih, serta hutan tropis yang masih alami. Keindahan ini berpadu dengan tradisi lokal yang kuat, menjadikan Kaimana unik secara budaya dan ekologis.

Salah satu atraksi wisata di Kolam Sisir, Kampung Marsi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Senja di Kampung Bamana, KK Teluk Etna
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Salah satu tempat yang menarik perhatian tim adalah Kampung Lobo, yang menyimpan warisan sejarah dan mitologi yang kaya, diantaranya ada Gunung Emansiri, yang dipercaya sebagai tempat asal legenda elang raksasa dan ada juga Fort Du Bus yaitu benteng peninggalan Belanda dari tahun 1828.

Gunung Emansiri, Kampung Lobo, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Struktur Benteng dan Tugu DU BUS, Kampung Lobo, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Diva Regita)

Survei ini bukan hanya sekadar penelitian ilmiah, melainkan juga sebuah petualangan penuh wawasan. Dari pesona alam yang menakjubkan hingga keramahan masyarakat yang tulus, Kaimana membuktikan bahwa harmoni antara manusia dan alam tetap terjaga dengan kuat.

Perjalanan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya konservasi dan peran masyarakat setempat sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian sumber daya alam mereka. Sampai jumpa dalam ekspedisi berikutnya!

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Kuatkan Tim, Selamatkan Penyu: Integrasi Sains dan Inovasi untuk Konservasi

Kuatkan Tim, Selamatkan Penyu: Integrasi Sains dan Inovasi untuk Konservasi

Penulis

Abigail Lang, Noviyanti

Tanggal

15 April 2025

Sebagai bagian dari upaya pelestarian Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), salah satu spesies kunci (keystone species) yang semakin langka, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas bagi Tim Pelaksana Program Sains untuk Konservasi: Menghubungkan Sains dengan Inovasi untuk Upaya Konservasi Penyu Belimbing yang Holistik di Bentang Laut Kepala Burung.”

Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 April 2025 ini dipusatkan di Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA, dan menjadi rangkaian dari Program Sains untuk Konservasi yang telah digagas oleh LPPM UNIPA sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap penyelamatan spesies-spesies penting di Tanah Papua.

Pengenalan program Sains untuk Konservasi oleh Ibu Fitryanti Pakiding
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Penjelasan Materi Ekologi Penyu Oleh Ibu Deasy
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Freddy Pattiselanno, selaku Kepala LPPM UNIPA. Dalam sambutannya, Prof. Freddy menekankan bahwa pelestarian penyu belimbing tidak dapat dilakukan secara parsial. “Konservasi harus bersifat holistik, berbasis pada sains namun mampu berinovasi sesuai kondisi lapangan. Melalui pelatihan ini, kita ingin menyiapkan tim yang bukan hanya paham teori, tetapi juga terampil dan siap menghadapi tantangan nyata di lapangan,” ujarnya.

Peserta pembekalan terdiri dari 15 orang, yakni 11 laki-laki dan 4 perempuan, yang nantinya akan bertugas di lokasi konservasi, kawasan Taman Pesisir Jeen Womom. Pada hari pertama, peserta menerima materi-materi dasar seperti: Pengenalan Biologi dan Ekologi Penyu (peran penyu dalam ekosistem laut, karakteristik, siklus hidup, dan perilaku peneluran), Ancaman dan Upaya Perlindungan Penyu (status konservasi, ancaman penyu di pantai dan perairan, undang-undang perlindungan penyu), Identifikasi Jenis Penyu, serta Pemantauan dan Perlindungan Sarang Penyu yang diterapkan di TP Jeen Womom. Pada hari kedua peserta melakukan praktik langsung yang berlokasi di Pantai Amban. Selama praktik, peserta belajar cara melakukan patroli pagi dan patroli malam, cara melindungi sarang, dan cara melakukan evaluasi sukses penetasan sarang. Setelah mempelajari kegiatan teknis di lapangan, pada hari ketiga peserta diajak mengenal lokasi kerja di TP Jeen Womom, mempelajari sistem penginputan data, pencatatan laporan harian, dan pertanggungjawaban keuangan.

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang: Berlatih memasang naungan pada sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar Protokol Pemantauan Penyu Bersama Ibu Deasy Lontoh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran peserta akan pentingnya perlindungan penyu, serta mendorong pemahaman bahwa misi bersama tim adalah meningkatkan jumlah tukik penyu belimbing yang berhasil dilepasliarkan ke laut. Selain itu, peserta juga akan dibekali dengan pengetahuan teknis mengenai pelaksanaan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di lapangan.

Setelah pelatihan selesai, peserta nantinya akan ditempatkan di TP Jeen Womom pada empat pantai peneluran: 1) Pantai Wembrak, 2) Pantai Batu Rumah, 3) Pantai Warmamedi dan 4) Pantai Jeen Syuab. Pantai-pantai ini memiliki panjang garis pantai antara 4 hingga 6 kilometer, dan merupakan lokasi peneluran penting bagi populasi Penyu Belimbing di Pasifik Barat.

Melalui kegiatan ini, LPPM UNIPA berharap dapat membentuk tim konservasi yang memiliki pemahaman ilmiah yang kuat, namun juga mampu mengaplikasikan inovasi-inovasi praktis dalam perlindungan penyu. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan pendekatan lokal dianggap sangat penting, mengingat konservasi tidak hanya soal data, tapi juga soal empati, budaya, dan keterlibatan masyarakat. Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan konservasi penyu di era perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya, serta menegaskan komitmen UNIPA untuk terus menjadi bagian dari solusi berbasis sains di Tanah Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Dua KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Dua KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti seleksi tahap dua Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2), dan Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2) pada tanggal 17 Maret 2025. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS seleksi TAHAP DUA. Dokumen tersebut terdiri dari 3 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Kandidat diundang untuk mengikuti pembekalan yang dilakukan di Manokwari, Papua Barat pada tanggal 09 – 11 April 2025.

2. Peserta yang dinyatakan lolos seleksi wawancara diwajibkan mengisi form kesediaan pada link berikut https://bit.ly/KonfirmasiPembekalanPemtPenyu2025, paling lambat pada hari Rabu, 26 Maret 2025 pukul 16.00 WIT.

3. Peserta yang namanya tidak tercantum di atas akan masuk ke dalam Daftar Tunggu dan akan dihubungi jika terpilih paling lambat pada hari Minggu 30 Maret 2025.

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

5. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Menyusuri Fakfak, Lebih dari Sekadar Perjalanan: Pengalaman Tim Monitoring Sosial

Menyusuri Fakfak, Lebih dari Sekadar Perjalanan: Pengalaman Tim Monitoring Sosial

Penulis

Elisa Putra dan Abigail Lang

Tanggal

19 Maret 2025

Sebagai bagian dari tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat  (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Jeniffer Maleke (sapaan akrab Babby) merasa beruntung bisa terlibat dalam perjalanan menyusuri kampung-kampung di Wilayah Fakfak. Setiap langkah yang ditempuh oleh Babby dan tim membawa pengalaman baru yang memperdalam pemahaman akan kearifan lokal dan dinamika sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Teluk Berau dan Nussalasi Van-Den Bosch, Fakfak. Melalui tulisan ini, kami ingin berbagi tentang pengalaman Babby dalam perjalanan yang penuh tantangan namun penuh makna.

Babby (Kanan) dan Maria (Tengah) sedang mewawancarai responden (Kiri) di Kampung Arguni
(Foto : Gemala Dirgantari)

Perjalanan kali ini membawa tim Monitoring Sosial ke wilayah menakjubkan di Kawasan Konservasi (KK) Teluk Berau dan Nussalasi Van-Den Bosch, di Fakfak. Bersama tim solid — LPPM UNIPA (Yeni Yulia Andriani, Jeniffer Maleke, Kezia Salosso, Jelly Palle, Maria Bame, Spenyel Yenusy, William Kaunang), dan Mitra Pengelola KK dari Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah Kaimana-Fakfak (Gemala Dirgantari) — mereka memulai perjalanan pada 26 Januari hingga 23 Februari 2025 , menyusuri 11 kampung untuk melakukan survei Rumah Tangga untuk menilai kesejahteraan masyarakat dan survei Neraca Sumberdaya Laut (Ocean Account.).

Pertemuan dengan aparat Kampung Pang Wadar
(Foto : Gemala Dirgantari)

Jelly (Kiri), Spenyel (Tengah) sedang bertemu dengan aparat Kampung Arguni (Kiri)
(Foto : Gemala Dirgantari)

Satu hal yang membuat pengalaman ini berkesan adalah proses perizinan. Selain dipimpin oleh Kepala Kampung sebagai perwakilan aparat pemerintah, kampung-kampung yang dikunjungi juga memiliki sistem Kerajaan yang dalam istilah setempat disebut Petuanan. Setiap wilayah Petuanan memiliki seorang pemimpin yang disebut ‘Bapa Raja’. Artinya, mereka harus meminta izin bukan hanya ke kepala kampung, tapi juga ke ‘Bapa Raja’ setempat atau para Perangkat Kerajaan — sebuah pengalaman yang membuat mereka makin menghargai kearifan lokal di sini.

Yang menarik, mayoritas masyarakat di wilayah survei mereka ini berprofesi sebagai nelayan dan petani. Selain itu, ikan Kembung dan Cumi-cumi yang biasa kita santap di kota besar, di sini justru dijadikan umpan untuk menangkap ikan yang lebih besar. Masyarakat pesisir juga menjual gelembung ikan Kakap Putih yang ternyata punya banyak manfaat dan memiliki nilai jual yang mahal — salah satu komoditas bernilai tinggi yang mungkin jarang kita dengar di tempat lain.

Ikan Kakap Putih
(Foto : Gemala Dirgantari)

Kampung Ugar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Setiap kampung yang mereka datangi memiliki daya tarik tersendiri. Kampung Maas memiliki potensi wisata sangat menarik berkat dukungan PokDarWis (Kelompok Sadar Wisata) yang aktif mengembangkan kampungnya. Laut di kampung ini sangat bersih, bahkan mereka menjumpai penyu mencari makan secara bebas di dekat pantai. Babby dan teman teman berkesempatan berenang di sekitar penyu-penyu tersebut. Kampung lain yaitu Patimburak. Di kampung ini berdiri sebuah ‘Masjid Tua’ yang dibangun sejak tahun 1870. Masjid inilah yang katanya menjadi asal muasal filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang melambangkan kerukunan dan toleransi antar umat beragama, adat, dan pemerintahan di Fakfak.  Pengalaman ini membuat Babby kagum dan membayangkan betapa kayanya nilai budaya di Fakfak.

Masjid Tua di Patimburak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

William (Kanan) dan Gemala (Tengah) sedang mewawancarai responden (Kiri) di Kampung Andamata
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Perjalanan ini penuh tantangan karena beberapa rumah warga terletak di daerah yang terjal dan licin, minimnya penerangan saat pengambilan data di malam hari, serta jarak antar kampung yang jauh, yang harus ditempuh melalui jalur darat dan laut. Selain itu, mobilitas masyarakat yang tinggi membuat mereka harus ekstra sabar dan semangat melakukan survei. Untungnya, sambutan hangat masyarakat membuat lelah mereka terbayar lunas. Sekembalinya mereka ke Manokwari, pada tanggal 26 Februari 2025, tim mereka membawa oleh-oleh manisan pala yang menjadi salah satu ciri khas dari Fakfak

Kampung Arguni
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Setiap sudut Fakfak punya cerita, Babby dan teman-teman merasa beruntung bisa jadi bagian dari kisah ini. Rasanya tidak sabar buat berbagi lebih banyak pengalaman dari lapangan berikutnya!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Ketiga PMNH Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Ketiga PMNH Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi akhir Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 11-13 Maret 2025. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Seleksi Tahap Ketiga. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak ke kantor.

2. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

12 Maret 2025

Dalam upaya memperkuat peran pendamping masyarakat dan tenaga magang dalam konservasi lingkungan, Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melaksanakan kegiatan Pembekalan Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung (PMNH) dan Tenaga Magang Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 11-13 Maret 2025 bertempat di Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA. Peserta pelatihan adalah 12 calon anggota Tim PMNH serta 4 tenaga magang yang akan ditempatkan di beberapa lokasi di Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Kaimana.

Acara ini dibuka oleh Prof. Freddy Pattiselanno selaku Kepala LPPM UNIPA. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Fitryanti Pakiding, Ph.D. selaku penanggung jawab program, yang juga menjadi salah satu pemateri dalam sesi pembekalan. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai konservasi penyu dan strategi pemberdayaan masyarakat. Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pengenalan kegiatan “Sains untuk Konservasi: Program Upaya Pelestarian Penyu yang Holistik di Distrik Tobouw dan Abun, Kabupaten Tambrauw.” Materi ini memperkenalkan pendekatan ilmiah dan sosial dalam upaya perlindungan penyu serta keterlibatan masyarakat dalam program konservasi.

Pembukaan oleh Prof. Freddy Pattiselanno
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Sambutan dari Ibu Fitryanti Pakiding, Ph.D.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai peran pendamping masyarakat dan narahubung program, yang bertugas untuk mendukung kegiatan konservasi dan pemberdayaan di berbagai lokasi. Terdapat berbagai pelatihan praktis yang akan diberikan selama 3 hari pelatihan, yaitu prosedur pencatatan dan pelaporan keuangan, pelatihan cara mengajar, serta teknik dokumentasi lapangan yang penting dalam pencatatan dan pelaporan kegiatan. Materi menarik yang juga akan diberikan dalam pembekalan ini adalah pelatihan pembuatan minyak kelapa bersih, yang bertujuan untuk memberikan keterampilan tambahan dalam mendukung ekonomi masyarakat lokal. Tidak hanya itu, sesi team building juga akan diselenggarakan untuk memperkuat kerja sama dan sinergi antar peserta, sehingga mereka dapat bekerja secara efektif di lapangan.

Pembekalan ini memiliki tujuan utama untuk memberikan kapasitas kepada tenaga pendamping masyarakat dan narahubung program untuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi penyu, dan membangun kemitraan dengan komunitas lokal. Para tenaga magang yang akan terlibat dalam pembekalan ini juga mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai peran mereka di lokasi penempatan, sehingga dapat berkontribusi lebih optimal dalam kegiatan konservasi dan pembangunan masyarakat.

Suasana saat pembekalan calon PMNH dan Tenaga Magang 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suasana saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Saat ini, program pendampingan pemberdayaan masyarakat telah mencakup lima kampung utama, yaitu Wau, Weyaf, Syukwo, Womom, dan Resye yang terletak dalam wilayah administrasi Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Namun, pada tahun ini lokasi program semakin berkembang dengan penambahan total lima kampung baru, yaitu empat kampung (Wefiani, Warpaperi, Waramui, dan Manggapnud) di Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, serta satu kampung (Adijaya) yang terletak di Distrik Buruway, yang berdekatan dengan Pulau Venu—salah satu habitat utama tempat penyu bertelur di Kaimana. Sementara itu, para tenaga magang yang dibekali akan terlibat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pada lokasi-lokasi penempatan pendamping masyarakat program pemberdayaan.

Diharapkan melalui pembekalan ini, peserta dapat memahami dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dalam mendukung program konservasi penyu dan pemberdayaan masyarakat. Dengan kolaborasi antara Tim PMNH dan tenaga magang, diharapkan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Bersama, kita dapat menjaga ekosistem laut dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi penyu untuk generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Uncategorized @id

Memperkuat Konservasi Laut: Strategi Baru Blue Abadi Fund dalam Siklus ke-5

Memperkuat Konservasi Laut: Strategi Baru Blue Abadi Fund dalam Siklus ke-5

Penulis

Michael Tuhuteru, Naqliya Arum

Tanggal

1 0 Maret 2025

Blue Abadi Fund (BAF) adalah dana perwalian konservasi yang dikhususkan untuk Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal dalam mengelola sumber daya kelautan mereka secara berkelanjutan melalui pendampingan dan penyaluran dana hibah. BAF memiliki dua fasilitas penyaluran hibah, yaitu Hibah Primary dan Hibah Kecil Inovasi.

Di awal tahun 2025, Program Blue Abadi Fund (BAF) kembali hadir dengan siklus ke-5. Program ini terus memperkuat upaya konservasi laut dengan pendekatan yang lebih strategis dan inklusif. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) diberikan mandat sebagai Administrator Blue Abadi Fund.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas mitra penerima hibah siklus ke-5, Yayasan KEHATI sebagai Administrator BAF mengadakan dua sesi pelatihan yang dilaksanakan pada dua lokasi berbeda. Sesi pertama diadakan di Royal Mamberamo Hotel, Sorong, pada 26 Februari – 1 Maret 2025, dan sesi kedua berlangsung di Triton Hotel, Manokwari, pada 3 – 6 Maret 2025.

Pembukaan kegiatan pelatihan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat
(Foto : Yayasan KEHATI)

Ibu Selvi sedang menyampaikan Tata Kelola dan Realisasi Penyaluran Hibah
(Foto : Yayasan KEHATI)

Pentingnya Capacity Building bagi Mitra Baru

Pelatihan ini ditujukan bagi seluruh mitra Blue Abadi Fund, baik penerima hibah kategori Inovasi maupun Primary. Namun, dalam kesempatan ini, jumlah peserta terbanyak berasal dari mitra inovasi, yang mayoritas terdiri dari kelompok masyarakat dan yayasan yang beroperasi di daerah seperti Teluk Wondama, Kaimana, dan Fak-Fak.

Pelatihan ini terdiri dari sesi pleno serta sesi kelompok yang membahas dua aspek utama, yaitu Pengelolaan Program dan Pengelolaan Keuangan. Pengelolaan Program mencakup tata kelola hibah BAF, mekanisme dan siklus hibah, serta pelaporan kegiatan dan capaian, sementara Pengelolaan Keuangan mencakup pencatatan dan pelaporan keuangan, pengadaan barang dan jasa, serta praktik simulasi laporan keuangan hibah. Pelatihan ini menggunakan metode interaktif, dengan diskusi kelompok yang dipandu oleh fasilitator berpengalaman, untuk memastikan pemahaman yang lebih baik bagi para peserta. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan dapat memahami tata kelola hibah serta mekanisme pelaporan program dan keuangan secara transparan dan akuntabel, sekaligus mendapatkan wawasan yang lebih mendalam melalui sesi berbagi pengalaman antar mitra.

Salah satu peserta yang sedang mengikuti kegiatan pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Kelompok pengelolaan program keuangan yang sedang mengikuti pelatihan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Salah satu aspek utama dalam pelatihan ini adalah capacity building, terutama bagi mitra baru yang pertama kali mendapatkan hibah. Pelatihan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman, terutama dari mitra yang sudah lebih dulu berpengalaman dalam mengelola hibah dan menjalankan program konservasi. Pelatihan ini juga mendorong adanya sistem pendampingan antar mitra agar setiap peserta dapat saling mendukung dalam implementasi program mereka. Mitra penerima hibah yang terlibat dalam pelatihan ini berasal dari berbagai institusi dan organisasi yang bergerak di bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Beberapa di antaranya yang mengikuti kegiatan di Manokwari adalah:

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA)
  • Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan KKP Kaimana
  • Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Nusa Matan Fakfak
  • Orang Muda Katolik (OMK) Kaimana
  • Yayasan Meos Papua Lestari (YMPL)
  • Kelompok Pemuda Kobererei, Kampung Uriemi, Kabupaten Teluk Wondama
  • Yayasan Sealam Karya Lestari (SELARAS)

Pembagian peserta untuk pengelolaan program dan pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Suasana pelatihan di hotel Triton, Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnold Ananta)

Selain itu, Siklus ke-5 juga memperkuat partisipasi masyarakat adat dan komunitas lokal Papua. Program ini memberikan ruang bagi masyarakat adat agar suara mereka dapat terdengar dan terimplementasi dalam upaya konservasi. Penerima manfaat utama dari program ini adalah masyarakat adat dan komunitas lokal Papua yang tinggal di wilayah konservasi. Mereka juga menjadi penjaga utama ekosistem dalam jangka panjang, sehingga peran aktif mereka sangat krusial dalam keberlanjutan upaya konservasi laut.

Harapan untuk Masa Depan

Beberapa harapan dari program ini kedepannya:

  • Replikasi model konservasi ke wilayah lain dengan cakupan lebih luas.
  • Peningkatan keterlibatan generasi muda dalam menjalankan program konservasi.
  • Meningkatkan daya tarik bagi donor lain untuk turut serta dalam mendukung konservasi laut.
  • Pengembangan kapasitas lembaga dan SDM agar semakin profesional dalam mengelola program konservasi.
  • Dengan strategi baru dan semangat kolaboratif yang lebih kuat, Blue Abadi Fund terus berupaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia, terutama dengan peran aktif dari masyarakat lokal dan generasi muda sebagai garda terdepannya.

Foto bersama seluruh peserta pelatihan
(Foto : Yayasan KEHATI)

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para mitra penerima hibah dapat lebih memahami tata kelola program serta pengelolaan keuangan hibah BAF, sehingga tujuan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung dapat tercapai secara maksimal.

Perubahan Strategis di Siklus ke-5

Dalam siklus ke-5, Rencana Strategis 2023-2028 mulai diimplementasikan dengan peningkatan intervensi perlindungan kawasan dari 3,6 juta hektar menjadi 5,2 juta hektar. Wilayah prioritas konservasi juga bertambah, mencakup :

  • KK Daerah Biak-Numfor(Kawasan Konservasi Daerah Biak-Numfor).
  • KK Nasional Padaido (Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Padaido).
  • KK Daerah Sorong Selatan (Kawasan Konservasi Seribu Satu Sungai Teoenebikia).
  • KK Daerah Maksegara di Kabupaten Sorong dan Kabupaten Tambrauw.

Pada Siklus ke-5, terdapat 8 mitra penerima Hibah Primary dengan total anggaran Rp 33 miliar, serta 10 mitra penerima Hibah Kecil Inovasi dengan total anggaran Rp 1,5 miliar. Periode hibah berlangsung hingga akhir Mei 2026.

Selain itu, pendekatan pendanaan dalam program ini mengalami perubahan. Jika pada lima tahun pertama BAF berfokus pada penyediaan arus pendanaan jangka panjang yang aman dan stabil, maka pada Rencana Strategis 2023 – 2028, pendanaan BAF akan mengisi gap dan memanfaatkan sumber pendanaan yang ada untuk memastikan bahwa ekosistem dan spesies Bentang Laut Kepala Burung dikelola secara berkelanjutan dan dilindungi oleh penjaga lingkungan setempat, agar memberikan manfaat bagi masyarakat adat dan masyarakat lokal Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 PMNH Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 PMNH Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 4 Februari 2025. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Pelaksanaan Training (Seleksi Akhir) dilakukan di Manokwari, Papua Barat

2. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training (Seleksi Akhir) yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 – 13 Maret 2025

3. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Tahap 2 KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Tahap 2 KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 15 orang calon KP2, 54 orang calon TLP2, dan 10 orang calon TMP2 dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 79 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 4 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada hari Senin, 17 Maret 2025

2. Peserta diharapkan memperhatikan room, tanggal dan jam wawancara dengan cermat

3. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom yang telah disediakan (link zoom menyusul)

4. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

5. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.