Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template

Jackson: Menjaga Penyu di Pantai Wembrak

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Jackson: Menjaga Penyu di Pantai Wembrak

Penulis

Jackson Bundah

Tanggal

13 Juli 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Halo Sobat Lestari! perkenalkan saya Jackson Bundah, tetapi banyak yang memanggil saya dengan sebutan “Jacky” dan “Jek”. Sebelum saya bergabung di Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang, saya pernah bergabung dalam tim yang lain di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA. Sejak tahun 2023 hingga Februari 2025, saya bergabung dalam tim BHS (Bird’s Head Seascape) Sosial Ekonomi. Dan terhitung bulan Maret 2025 saya diberi kesempatan untuk bergabung bersama kru pantai (begitu istilah yang diberikan untuk kami yang bekerja memantau dan melindungi sarang penyu di pantai). Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Alasan saya tertarik bergabung dalam tim ini adalah karena saya ingin memperluas wawasan dan pengalaman saya dibidang konservasi, khususnya di bidang pelestarian penyu yang unik dan penuh tantangan. Saya percaya bahwa pelestarian penyu tidak hanya penting bagi keseimbangan ekosistem laut, tapi juga menjadi bagian dari warisan alam yang harus kita jaga bersama. Apalagi penyu yang akan saya temui adalah penyu belimbing, si penjelajah laut dari pesisir Papua hingga ke pesisir Amerika Serikat! Saya sangat takjub saat pertama kali menginjakan kaki di Pantai Jeen Yessa karena tidak menyangka bahwa pantainya memiliki pemandangan yang sangat bagus dan memanjakan mata. Selain itu, banyak hal baru serta tantangan seru dan menarik yang saya dapatkan selama bekerja di Pantai Jeen Yessa. Siapa sangka, saya yang jarang melihat penyu dan hanya mengenal penyu dari cerita teman-teman, pada akhirnya bekerja untuk konservasi penyu di salah satu pantai peneluran terbesar di Pasifik Barat! Saya ditugaskan di Pos Pemantauan Pantai Wembrak, Jeen Yessa. Salah satu pengalaman yang paling seru bagi saya adalah ketika kami harus mengantar bahan makanan dan beberapa kebutuhan ke pos-pos di pantai lain menggunakan perahu. Sebelum menepi ke pantai atau saat mau keluar dari pantai, kami harus menghitung deburan ombak yang datang agar perahu kami tidak dimasuki air atau agar tidak terbalik bila ada ombak besar.  Kalau salah perhitungan, sudah pasti perahu bisa terbalik; kru pantai menyebutnya dengan istilah “salto biawak”, hal penting yang saya pelajari adalah cara menyiapkan bama (bahan makanan) atau perlengkapan pos di setiap pantai dengan benar agar semua perlengkapan aman dan tidak mudah rusak. Selain itu, saya juga harus belajar menghitung ombak dengan teliti sebelum masuk ke pantai. Kalau salah perhitungan, sudah pasti perahu bisa terbalik seperti salto biawak, yang tentu sangat berbahaya. Kadang, ketika ombak sedang besar, saya harus mendorong perahu ke laut dengan cara menggantungkan badan di perahu supaya tetap seimbang dan tidak terbawa arus. Pengalaman ini sangat menantang sekaligus mengajarkan saya untuk selalu waspada dan beradaptasi dengan kondisi laut yang sangat dinamis.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat saya pertama kali melihat penyu bertelur di Pantai Wembrak. Melihat langsung proses penyu bertelur adalah pengalaman yang jarang didapatkan banyak orang. Meskipun awalnya saya sempat takut, terutama saat melihat penyu belimbing yang ukurannya cukup besar, perlahan rasa takut itu hilang dan saya mulai terbiasa dengan kehadiran mereka. Momen itu membuat saya semakin mengagumi keindahan dan keajaiban alam yang tersembunyi di balik pantai yang saya kunjungi. Selain penyu belimbing, di sana saya bertemu dengan beberapa jenis penyu lainnya seperti penyu lekang dan penyu hijau.

Mengukur panjang karapas induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Mengukur lebar karapas induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pantai Wembrak hingga Pantai Batu Rumah menjadi tempat favorit saya untuk berlatih menjaga kebugaran. Area ini saya anggap sebagai sport center karena di sini saya tidak perlu mencari tempat lain untuk olahraga. Kondisi pantai yang asik dan suasananya yang mendukung membuat saya nyaman berlatih setiap hari. Selain itu, berlatih di tengah alam terbuka seperti pantai membuat saya merasa lebih segar dan semangat, berbeda dengan berolahraga di tempat gym atau lapangan biasa. Pantai ini juga memberikan energi positif yang membantu saya tetap optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain pengalaman dan latihan fisik, saya juga mendapatkan banyak teman baru dari tiga pantai yang saya kunjungi. Mereka adalah teman-teman yang asik dan memiliki banyak cerita unik tentang kehidupan di pesisir. Selain itu, saya juga bertemu dengan orang-orang kampung yang sangat ramah dan bersahabat. Interaksi dengan mereka membuat pengalaman saya semakin berwarna dan menyenangkan. Mereka selalu menyambut saya dengan hangat, memberikan bantuan, dan berbagi cerita tentang budaya serta kebiasaan setempat yang saya anggap sangat menarik.

Memasang chip pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Dari keseluruhan perjalanan ini, saya belajar banyak hal tidak hanya tentang alam dan tantangan fisik, tapi juga tentang nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Setiap pantai dan orang-orang yang saya temui membawa warna dan pelajaran baru dalam hidup saya. Pengalaman ini membuat saya merasa lebih dekat dengan alam sekaligus memperkaya wawasan sosial saya. Saya sangat bersyukur bisa merasakan langsung keindahan dan keunikan dari pantai-pantai tersebut, serta bertemu dengan teman-teman dan masyarakat lokal yang begitu ramah dan hangat. Sampai disini perkenalan singkat dari saya, jangan pernah bosan untuk membaca cerita seru kami dari pantai peneluran, jika teman teman pembaca ada waktu kesempatan, mari! datang dan berkunjung di Pantai Jeen Yessa, melihat penyu dan menikmati indahnya alam Papua di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Melani: Kalahkan Gugup, Mengajar dengan Hati di Kampung Penyu

Penulis

Meilani Ravenska

Tanggal

12 Juli 2025

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Langit tampak bersahabat, tak memunculkan cahaya pekatnya kala bertandang ke  suatu tempat yang bagiku tak pernah masuk dalam list tuk dipijaki. Kampung Resye-Womom, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw. Inilah nama tempat baru yang kupijak, sebuah tempat tanpa jaringan internet, tak tampak tiang listrik, serta kendaraan. Disinilah cerita baru dan jejak kenangan terukir sebagai seorang Pendamping Masyarakat (PM).

Rabu, 26 Maret 2025 dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIT. Di atas kapal KM Sabuk Nusantara 112 yang mengantarkanku tiba di kampung ini, saya berdiri di bentangan luas megah yang menyamankan mata, dengan lautan biru  menyejukkan sanubari yang terbentang luas menyapa membentuk samudera, beserta hamparan hutan yang menyimpan misteri kekayaannya. Dari kejauhan, saya menatap kampung yang tepat berada di depan.

Setibanya kapal berlabuh, saya beserta tim lainnya pun hendak turun dari kapal.  Oh iya, jangan membayangkan kami turun langsung menginjakkan kaki di dermaga, tentu saja tak seperti itu. Sebuah perahu dari kampung menjemput kami dan itu artinya kapal berada jauh lepas pantai. Hmmmm, pemandangan baru dan menjadi satu bagian menarik bagiku karena belum pernah seperti itu sebelumnya.

Setibanya di daratan Kampung Resye, tak jauh dari posisi kami berdiri setelah turun dari perahu, tampak beberapa anak-anak dari Rumah Belajar sedang menanti kedatangan kami dan membantu mengangkat barang-barang dari perahu. Worwer dan Celine, dua nama pertama yang saya dengar dan ingat kala Putri, salah seorang tim monev (monitoring evaluasi) menyapa mereka.

Melihat mereka dengan karakter yang berbeda, tanpa berbekal pengalaman mengajar dan pemberdayaan yang minim, saya pun agak wanti-wanti dan diserbu pertanyaan dalam pikiran, “Mengajar? Benarkah ini? Bukankah ini hal yang tak pernah ingin saya lakukan?”. Ok, saya berusaha meredam suara-suara rumit itu dan menenangkan diri sembari beberes Rumah Belajar bersama teman-teman lain yang tampak berantakan karena telah ditinggalkan begitu lama.

Beberapa hari kemudian, pada pagi yang tenang kala fajar perlahan muncul di ufuk timur memancarkan sinarnya yang lembut ke seluruh penjuru kampung disertai alunan ombak, perlahan saya mengangkat tubuh mungil saya dari perasaan rumit yang menghampiri sembari berkata dalam hati, “Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” ujar saya kala masih menerka-nerka, apakah benar ini pilihan tepat yang saya pilih?

Duduk bersama warga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kebersamaan bersama anak-anak pada sore hari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya pun keluar menghampiri dunia yang tenang, tak begitu riuh bak di kota sembari mengecap aroma kampung yang teduh dan membiarkan angin sejuk menyapa wajah saya. Saya pun melihat ke sekeliling, mengamati aktivitas pagi di tempat ini. Tampak bagi saya, seorang mama (panggilan akrab dalam dialek Papua Melayu untuk wanita Papua usia paruh baya) yang sedang menyapu hamparan dedaunan kering pada halaman rumahnya, beberapa mama dan bapa yang lalu lalang hendak pergi ke kebun, dan anak-anak yang telah berada di sekitar pantai untuk bermain dan berenang. Waaahhh, pemandangan yang begitu berbeda sekali dengan perkotaan.

Seusai pemandangan teduh pagi hari, saya tiba pada sore yang begitu riuh. Tampak masyarakat yang bermain bola voli dan sepakbola berteman cahaya keemasan yang tersipu malu hendak pergi. Aaahhh, saya menikmati pemandangan tersebut sembari mencerca tiap adegan yang saya lihat, riuh yang bisa saya terima seolah saya berada pada masa kecil kembali, yang dipenuhi dengan permainan di luar ruangan seperti itu.

Kini langkah saya terhenti di pinggiran pantai yang disertai lantunan ombak yang menggulung imaji, bak musik yang memecahkan lamunanku. Deburan ombak, desiran angin, dan mentari kian membumi membiaskan siluetnya yang tak sia-sia mengesun rona jingga, menyuguhkan keteduhan pinggir pantai. Saya pun menerima ketenangan yang ditawarinya, keheningan yang menggandeng saya berbicara pada diri sendiri. Bebas, benar-benar bebas tanpa drama yang saling beradu. Pikir saya semuanya tampak membaik sejauh ini, saya hanya perlu keluar dari zona nyaman dan cerita dari rumah yang berbeda. “Bukankah hal seperti ini yang kamu inginkan, Mei?”, ujar pikir saya. Gelap di langit pun jadi pertanda cahaya mulai redup dan riuh pun ikut serta membumi. Dengan hati yang penuh syukur pada pemandangan di sekitarku, saya pun melangkah pergi kembali ke Rumah Belajar.

Senin, 31 Maret 2025. Hari bersejarah bagi saya, hahaha. Ini kali pertama pengalaman saya dalam hal mengajar, bahkan tak pernah ada dalam benak saya hal ini akan terjadi. Saya tak pernah suka dipanggil dengan kata “guru”, sebab bagi saya itu sebuah kata yang terlalu sulit dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Tampak terlihat oleh saya rak telur yang kosong, sehingga saya pun mulai menghitung apa bisa sebanyak 26 abjad? Dan ya, ternyata jumlah telurnya bisa sebanyak 26. Lekas saya ambil kertas dan mengguntingnya dengan pola telur, lalu menulis abjad A-Z dan menempelkannya pada rak telur. Setelah itu, saya membuat abjad lagi pada kertas memo berwarna dan berpola hati yang ditempelkan dengan lidi pada masing-masing huruf untuk ditancapkan pada rak telur yang khusus berhuruf vokal.

Hari pertama KBM di Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Rumah belajar Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Baiklah, rasanya seperti ini ya mengajar dengan beban terdapat anak yang belum bisa membaca ditambah lagi harus berkeliling kampung untuk mencari anak-anak supaya bisa belajar. Tetapi, akhirnya saya bisa melakukan hal ini dan saya rasa tidak terlalu buruk untuk percobaan pertama dalam hal mengajar. Saya pun semakin menikmati hal ini hari demi hari dan sepertinya saya mulai terbiasa dengan rutinitas itu.

Akhirnya, tantangan mengajar pun bisa saya lewati secara perlahan-lahan, walau bagi saya itu berat. Antusias dan semangat yang mereka miliki untuk belajar menjadi alasan saya bertahan. Wajah anak-anak yang sedang merajut asa dan senang belajar, walau harus dibatasi oleh keikutsertaan mereka ke kebun membantu orang tuanya, bahkan harus menimang adiknya. Mereka seolah tak punya waktu belajar di rumah, terlihat lebih sering menimang dibanding ditimang, tetapi itulah realita yang dihadapi tepat di depan saya. Saya pun sadar itulah peran kami di sini, di tempat dengan situasi seperti yang saya hadapi dan ternyata selama ini arti cukup itu terlalu sempit bagi saya. Ini merupakan petualangan bagi saya yang tak pernah saya jumpai sebelumnya.

Perjalanan mengajar memang penuh tantangan, tapi petualangan saya belum usai sampai di situ. Di bagian berikutnya, saya akan berbagi pengalaman lain yang tak kalah seru dan bermakna bersama warga kampung. Simak ceritanya di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Kekayaan Alam Raja Ampat: Temuan Selama Monitoring Ekosistem Laut di Ayau dan Asia

Kekayaan Alam Raja Ampat: Temuan Selama Monitoring Ekosistem Laut di Ayau dan Asia

Penulis

Jane Lense

Tanggal

11 Juli 2025

Kawasan Konservasi Perairan Ayau dan Asia, yang terletak di jantung Raja Ampat, Papua Barat, merupakan rumah bagi salah satu sistem atol terbesar di Indonesia. Wilayah ini menyimpan kekayaan ekosistem laut yang luar biasa, mulai dari spesies laut karismatik, habitat penting bagi pertumbuhan ikan-ikan muda (Nursery ground), hingga terumbu karang yang menjadi fondasi kehidupan bawah laut. Keanekaragaman hayati dan produktivitas ekosistemnya menjadikan Ayau dan Asia sebagai kawasan konservasi yang sangat bernilai, baik secara ekologis maupun ekonomis.

Pada tanggal 2-3 Juni 2025, tim Reef Health Monitoring melakukan survei ekologi selama dua hari di kawasan ini. Tim ini terdiri dari 13 orang yang berasal dari berbagai instansi, yaitu Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Papua (LPPM UNIPA), Unit Pelaksana Teknis Daerah Badan Layanan Umum Daerah Raja Ampat (UPTD BLUD Raja Ampat), Konservasi Indonesia (KI), Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Sorong (Loka PSPL Sorong), Balai Kawasan Pelestarian Pesisir dan Laut Kupang Satker Raja Ampat (BKPPN Kupang Satker Raja Ampat), Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Papua Barat Daya (DP2KP Papua Barat Daya), dan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih (BBTNTC). Kegiatan Reef Health Monitoring (RHM) ini didanai dan disponsori oleh Blue Abadi Fund. Hasil pemantauan memperlihatkan dua sisi yang kontras: di satu sisi, keajaiban alam yang memesona; di sisi lain, ancaman ekologis yang mulai muncul. Keindahan kawasan ini tercermin dari temuan berbagai spesies karismatik seperti Napoleon wrasse (Cheilinus undulatus) yang terpantau hampir di setiap lokasi pengamatan, dengan ukuran bervariasi antara 28-80 cm. Beberapa area bahkan diidentifikasi sebagai tempat tumbuh kembangnya spesies ini. Tak kalah menarik, tim juga mencatat kehadiran Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) sebanyak empat ekor, serta Penyu hijau (Chelonia mydas) yang berenang bebas di perairan dangkal berkarang.

Ikan-ikan muda (Nursery ground)
(Foto : BBTNTC/Mulyadi)

Ikan napoleon (Cheilinus undulatus)
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Lebih jauh, ekosistem laut Ayau dan Asia juga menunjukkan produktivitas tinggi dengan ditemukannya populasi kerapu muda berukuran 10-20 cm serta schooling kakap (Lutjanus gibbus) yang jumlahnya hingga mencapai 1.000 ekor. Beberapa spesies ikan lain seperti kakap (Lutjanus kasmira) dan ikan kulit pasir (Acanthuridae/Naso hexacanthus) turut menghiasi perairan. Tidak hanya itu, kehadiran predator puncak seperti whitetip reef shark (Triaenodon obesus), blacktip shark (Carcharhinus melanopterus), grey reef shark (Carcharhinus amblyrhynchos), pari (stingray) dan barakuda (Actinopterygii) menandakan bahwa rantai makanan laut di kawasan ini masih berjalan dengan baik. Lingkungan perairan yang bersih, jarak pandang yang sangat baik, serta terumbu karang sehat di beberapa titik menjadi bukti betapa pentingnya kawasan ini sebagai habitat alami berbagai biota laut.

Schooling ikan kakap (Lutjanus gibbus)
(Foto : Loka PSPL Sorong/Prehadi)

Blacktip shark (Carcharhinus melanopterus)
(Foto : BLUD KKP Raja Ampat/Imanuel)

Namun di balik keindahan tersebut, tim juga mencatat sejumlah tantangan ekologis yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu ancaman utama adalah ledakan populasi Siput drupella yang berpotensi merusak jaringan karang hidup dan memperlambat pertumbuhannya. Selain itu, dominasi alga Halimeda serta sedimentasi yang menutupi permukaan karang juga menjadi faktor penghambat pertumbuhan terumbu karang. Beberapa lokasi bahkan menunjukkan karang yang patah (rubble) akibat gelombang besar, serta adanya indikasi awal pemutihan karang (coral bleaching), khususnya di perairan dangkal yang terpapar ombak tinggi.

Di tengah upaya monitoring ini, tim juga menghadapi tantangan lapangan yang tidak ringan. Saat hendak melanjutkan pengambilan data ke titik di Pulau Fani, salah satu pulau luar yang berada di sisi utara kawasan konservasi, tim harus membatalkan perjalanan karena kondisi cuaca yang memburuk secara tiba-tiba. Pulau Fani sendiri terletak di bagian paling utara dari Kepulauan Ayau-Asia, menghadap langsung ke Samudra Pasifik dan jauh dari pemukiman utama. Posisi geografisnya yang terbuka dan terpapar langsung angin timur membuat wilayah ini sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem, terutama saat musim angin timur sedang berlangsung.

Alga halimeda
(Foto : Puspita)

Karang keras yang mulai memutih
(Foto : BLUD KKP Raja Ampat/Imanuel)

Pada saat tim bersiap berlayar dari Ayau Besar menuju Pulau Fani, hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan perairan. Setelah berdiskusi dengan kapten kapal, cruise leader kapal EcoExplorer, serta warga lokal dari Ayau, diputuskan untuk tidak melanjutkan pelayaran demi keselamatan seluruh tim. Keputusan ini menggambarkan pentingnya mempertimbangkan faktor keselamatan dalam setiap kegiatan lapangan, terutama di kawasan perairan yang terbuka dan jauh dari perlindungan geografis.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Kawasan Konservasi Ayau dan Asia masih sangat kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi kawasan ini tetap bisa mengalami tekanan dari lingkungan. Karena itu, penting untuk terus memantau kondisi laut, menyesuaikan cara pengelolaannya, dan melibatkan masyarakat sekitar. Konservasi laut bukan hanya soal melindungi, tapi juga memahami kondisi alam, menghadapi tantangan, dan merawat laut bersama-sama agar tetap terjaga untuk generasi mendatang. Mari kita jaga bersama kekayaan alam Raja Ampat—surga bawah laut yang luar biasa dan sangat berharga.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kelapa dan Mimpi Pesisir: Cerita Monev dari Kampung-Kampung di Sekitar TP Jeen Womom

Kelapa dan Mimpi Pesisir: Cerita Monev dari Kampung-Kampung di Sekitar TP Jeen Womom

Penulis

Putri Kawilarang, Kartika Zohar

Tanggal

06 Mei 2025

Setiap perjalanan menyimpan cerita. Setelah satu bulan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) bekerja di kampung-kampung sekitar Taman Pesisir Jeen Womom, akhir April menjadi momen penting bagi Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) untuk kembali turun ke lapangan. Selain memastikan keberlangsungan program konservasi, tim juga membawa pasokan bahan makanan (bama) dan logistik untuk kebutuhan sebulan ke depan.

Langkah Pertama: Menuju Kampung Penjaga Pesisir

Pada Jumat malam, 25 April 2025 pukul 21.00 WIT, lima anggota Tim Monev berangkat dari Manokwari dengan menumpang KM Sabuk Nusantara 112. Mereka menuju lima titik lokasi pendampingan di tiga distrik: Distrik Amberbaken (empat kampung binaan), Distrik Abun (tiga kampung binaan), dan Distrik Tobouw (dua kampung binaan).

Sabtu pagi, 26 April 2025, kapal tiba di perairan Saukorem. Mikardes Albert turun dan melanjutkan perjalanan darat ke Distrik Amberbaken. Sore harinya, Kartika Zohar tiba di Kampung Wau-Weyaf. Esok pagi, 27 April 2025, Aflia Pongbatu melanjutkan ke Kampung Syukwo, sementara Fitri Iriani dan Putri Kawilarang menuju Kampung Resye.

Kegiatan Monev Bersama Tim di Kampung Wau-Weyaf. Tim PMNH melengkapi dokumen-dokumen program.
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Kegiatan Monev Bersama Tim di Kampung Womom. Tim PMNH melengkapi dokumen-dokumen program.
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Setibanya di lokasi, Tim Monev melaksanakan tugas sesuai rencana kerja yang tertuang dalam TOR, diantaranya memeriksa kesesuaian logistik dan bahan makanan, memastikan kegiatan belajar-mengajar di Rumah Belajar berjalan, serta memantau pelaksanaan teknis kegiatan lapangan. Sesi diskusi dengan para PMNH juga menjadi bagian penting, mendengarkan kendala, menyampaikan evaluasi, dan mencari solusi bersama.

Kegiatan Pengolahan Kelapa (proses cincang) untuk praktikum bersama di Kampung Resye dan Womom
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Proses penggantian mesin parut kelapa yang telah rusak di lokasi Resye – Womom
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Belajar dari Lapangan: Minyak Kelapa dan Kolaborasi

Di Kampung Resye dan Womom, Tim Monev bersama PMNH melakukan praktik pembuatan minyak kelapa. Sebelumnya, hasil produksi dari lokasi ini belum lolos uji kualitas oleh tim di Manokwari. Untuk itu, para pendamping ditugaskan mengumpulkan sekitar 150 buah kelapa untuk praktik bersama.

Tantangan teknis pun muncul, seperti mesin parut aus dan tidak bisa digunakan karena kunci L untuk mengganti mata parut tidak tersedia. Saat beralih ke pencacahan manual, parang terlepas dari gagangnya. Pasokan solar pun sempat habis, sehingga tim harus menimba air dari sungai yang nyaris kering. Meski begitu, semua kendala dapat diatasi dengan semangat gotong royong. Produksi minyak kelapa tetap terlaksana.

Sementara itu, di Kampung Wau-Weyaf, tim bersama PMNH melakukan dua teknik olahan kelapa sekaligus yaitu pembuatan minyak kelapa melalui pemanasan, dan Virgin Coconut Oil (VCO) dengan metode fermentasi. Mereka juga berdiskusi dengan kelompok masyarakat dan aparat kampung tentang penggunaan rumah produksi.

Cerita dari kampung Syukwo pun tak kalah menarik. Mereka mempraktikan pembuatan pot dari sabut kelapa. Kedepannya ini mungkin menjadi salah satu alternatif pendapatan untuk pemanfaatan kelapa di wilayah ini. Namun tentunya ini masih merupakan pekerjaan rumah untuk dapat melatih anggota masyarakat untuk dapat memproduksinya secara berkelanjutan.

Percobaan untuk Produksi VCO
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Proses Memasak Minyak Kelapa
(Foto : Prog. Pemberdayaan Masyarakat_S4C – LPPM UNIPA)

Tawa, Kejutan, dan Kehangatan Komunitas

Di tengah kegiatan padat, momen-momen ringan turut memberi warna. Di Resye-Womom, tim diajak anak-anak kampung mengunjungi air terjun, meski ternyata sedang kering, kebersamaan tetap jadi pengalaman yang berharga.

Di Syukwo, atap dapur bocor dan tungku masak perlu ditata ulang. Meski sederhana, aktivitas ini menjadi momen kolaborasi sambil berbagi cerita di dalam tim.

Di Wau-Weyaf, waktu luang di tengah-tengah produksi diisi dengan membuat kue lemet dari singkong parut dan gula merah, lalu dinikmati bersama di Rumah Belajar. Sementara di Amberbaken, di sela hujan, tim menyempatkan diri memancing dan menikmati hasil tangkapan bersama masyarakat.

Kembali Pulang, Membawa Cerita dan Harapan

Pada Jumat, 2 Mei 2025, Tim Monev kembali ke Manokwari. Mereka membawa dokumen hasil evaluasi, 11 liter minyak kelapa dari Resye-Womom, 46 liter minyak kelapa dan 4,5 liter VCO dari Wau-Weyaf yang diproduksi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Seluruh hasil produksi ini akan diproses dan dikemas sebelum dijual di toko swalayan di Manokwari.

Setiap kunjungan monev menjadi ruang belajar bersama untuk merawat hubungan dan memperkuat kerja sama dengan PMNH dan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat upaya pelestarian penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mendukung konservasi yang berkelanjutan di pesisir Papua Barat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Petualangan Eksplorasi Kaimana: Menyelami Kekayaan Alam & Kearifan Lokal

Petualangan Eksplorasi Kaimana: Menyelami Kekayaan Alam & Kearifan Lokal

Penulis

Arnoldus Samudra Ananta, Dahlia Menufandu

Tanggal

5 Mei 2025

Tim gabungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Mitra Sinergi Rakyat untuk Alam (SINARA), dan BLUD UPTD Kaimana-Fakfak baru saja menyelesaikan ekspedisi yang menggabungkan semangat ilmiah dengan pengalaman budaya dan lingkungan yang mendalam. Selama lebih dari satu bulan, tim melakukan survei sosial dan ekonomi di empat Kawasan Konservasi (KK) di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Mereka menjelajahi 25 kampung yang tersebar di dalam dan luar wilayah konservasi untuk menggali informasi seputar kondisi sosial-ekonomi masyarakat, aktivitas kelautan, pengelolaan sumber daya alam, serta potensi pencemaran di kawasan pesisir.

Arwah kaka ABi sedang mengikuti dari belakang

Persiapan Tim dari Kampung Namatota Menuju Kampung Rurumo di Teluk Etna, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Perjalanan dimulai di Kawasan Konservasi Arguni, di mana tim mengunjungi enam kampung, termasuk Kampung Kokoroba. Kampung ini memiliki kisah unik, menjadi satu-satunya di Arguni yang memiliki sumber mata air pegunungan yang digunakan oleh penduduk lokal dan kampung-kampung sekitarnya. Masyarakat setempat menunjukkan hubungan erat dengan alam, baik dalam memanfaatkan hasil kebun seperti durian dan pala, maupun dalam mengelola sumber daya laut seperti kepiting dan ikan secara berkelanjutan. Kehangatan dan kebersamaan masyarakat memperkuat kesan bahwa kearifan lokal masih menjadi nilai utama dalam kehidupan mereka.

Sumber mata air di Kampung Kokoroba, KK Teluk Arguni
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kopra; salah satu komoditi unggulan di Kampung Adijaya, KK Buruway
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Selama perjalanan, tim juga menyelami kekayaan budaya dan alam Kaimana yang menakjubkan. Terletak di pesisir barat Papua, Kaimana dikenal dengan senjanya yang memukau, laut yang jernih, serta hutan tropis yang masih alami. Keindahan ini berpadu dengan tradisi lokal yang kuat, menjadikan Kaimana unik secara budaya dan ekologis.

Salah satu atraksi wisata di Kolam Sisir, Kampung Marsi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Senja di Kampung Bamana, KK Teluk Etna
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Salah satu tempat yang menarik perhatian tim adalah Kampung Lobo, yang menyimpan warisan sejarah dan mitologi yang kaya, diantaranya ada Gunung Emansiri, yang dipercaya sebagai tempat asal legenda elang raksasa dan ada juga Fort Du Bus yaitu benteng peninggalan Belanda dari tahun 1828.

Gunung Emansiri, Kampung Lobo, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Dahlia Menufandu)

Struktur Benteng dan Tugu DU BUS, Kampung Lobo, Kaimana
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Diva Regita)

Survei ini bukan hanya sekadar penelitian ilmiah, melainkan juga sebuah petualangan penuh wawasan. Dari pesona alam yang menakjubkan hingga keramahan masyarakat yang tulus, Kaimana membuktikan bahwa harmoni antara manusia dan alam tetap terjaga dengan kuat.

Perjalanan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya konservasi dan peran masyarakat setempat sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian sumber daya alam mereka. Sampai jumpa dalam ekspedisi berikutnya!

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Kuatkan Tim, Selamatkan Penyu: Integrasi Sains dan Inovasi untuk Konservasi

Kuatkan Tim, Selamatkan Penyu: Integrasi Sains dan Inovasi untuk Konservasi

Penulis

Abigail Lang, Noviyanti

Tanggal

15 April 2025

Sebagai bagian dari upaya pelestarian Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), salah satu spesies kunci (keystone species) yang semakin langka, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas bagi Tim Pelaksana Program Sains untuk Konservasi: Menghubungkan Sains dengan Inovasi untuk Upaya Konservasi Penyu Belimbing yang Holistik di Bentang Laut Kepala Burung.”

Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 April 2025 ini dipusatkan di Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA, dan menjadi rangkaian dari Program Sains untuk Konservasi yang telah digagas oleh LPPM UNIPA sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap penyelamatan spesies-spesies penting di Tanah Papua.

Pengenalan program Sains untuk Konservasi oleh Ibu Fitryanti Pakiding
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Penjelasan Materi Ekologi Penyu Oleh Ibu Deasy
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Freddy Pattiselanno, selaku Kepala LPPM UNIPA. Dalam sambutannya, Prof. Freddy menekankan bahwa pelestarian penyu belimbing tidak dapat dilakukan secara parsial. “Konservasi harus bersifat holistik, berbasis pada sains namun mampu berinovasi sesuai kondisi lapangan. Melalui pelatihan ini, kita ingin menyiapkan tim yang bukan hanya paham teori, tetapi juga terampil dan siap menghadapi tantangan nyata di lapangan,” ujarnya.

Peserta pembekalan terdiri dari 15 orang, yakni 11 laki-laki dan 4 perempuan, yang nantinya akan bertugas di lokasi konservasi, kawasan Taman Pesisir Jeen Womom. Pada hari pertama, peserta menerima materi-materi dasar seperti: Pengenalan Biologi dan Ekologi Penyu (peran penyu dalam ekosistem laut, karakteristik, siklus hidup, dan perilaku peneluran), Ancaman dan Upaya Perlindungan Penyu (status konservasi, ancaman penyu di pantai dan perairan, undang-undang perlindungan penyu), Identifikasi Jenis Penyu, serta Pemantauan dan Perlindungan Sarang Penyu yang diterapkan di TP Jeen Womom. Pada hari kedua peserta melakukan praktik langsung yang berlokasi di Pantai Amban. Selama praktik, peserta belajar cara melakukan patroli pagi dan patroli malam, cara melindungi sarang, dan cara melakukan evaluasi sukses penetasan sarang. Setelah mempelajari kegiatan teknis di lapangan, pada hari ketiga peserta diajak mengenal lokasi kerja di TP Jeen Womom, mempelajari sistem penginputan data, pencatatan laporan harian, dan pertanggungjawaban keuangan.

Pelatihan Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang: Berlatih memasang naungan pada sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Belajar Protokol Pemantauan Penyu Bersama Ibu Deasy Lontoh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran peserta akan pentingnya perlindungan penyu, serta mendorong pemahaman bahwa misi bersama tim adalah meningkatkan jumlah tukik penyu belimbing yang berhasil dilepasliarkan ke laut. Selain itu, peserta juga akan dibekali dengan pengetahuan teknis mengenai pelaksanaan kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di lapangan.

Setelah pelatihan selesai, peserta nantinya akan ditempatkan di TP Jeen Womom pada empat pantai peneluran: 1) Pantai Wembrak, 2) Pantai Batu Rumah, 3) Pantai Warmamedi dan 4) Pantai Jeen Syuab. Pantai-pantai ini memiliki panjang garis pantai antara 4 hingga 6 kilometer, dan merupakan lokasi peneluran penting bagi populasi Penyu Belimbing di Pasifik Barat.

Melalui kegiatan ini, LPPM UNIPA berharap dapat membentuk tim konservasi yang memiliki pemahaman ilmiah yang kuat, namun juga mampu mengaplikasikan inovasi-inovasi praktis dalam perlindungan penyu. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan pendekatan lokal dianggap sangat penting, mengingat konservasi tidak hanya soal data, tapi juga soal empati, budaya, dan keterlibatan masyarakat. Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan konservasi penyu di era perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya, serta menegaskan komitmen UNIPA untuk terus menjadi bagian dari solusi berbasis sains di Tanah Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Dua KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Dua KP2, TLP2 dan TMP2 Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti seleksi tahap dua Koordinator Pantai Peneluran (KP2), Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2), dan Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2) pada tanggal 17 Maret 2025. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS seleksi TAHAP DUA. Dokumen tersebut terdiri dari 3 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Kandidat diundang untuk mengikuti pembekalan yang dilakukan di Manokwari, Papua Barat pada tanggal 09 – 11 April 2025.

2. Peserta yang dinyatakan lolos seleksi wawancara diwajibkan mengisi form kesediaan pada link berikut https://bit.ly/KonfirmasiPembekalanPemtPenyu2025, paling lambat pada hari Rabu, 26 Maret 2025 pukul 16.00 WIT.

3. Peserta yang namanya tidak tercantum di atas akan masuk ke dalam Daftar Tunggu dan akan dihubungi jika terpilih paling lambat pada hari Minggu 30 Maret 2025.

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

5. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Menyusuri Fakfak, Lebih dari Sekadar Perjalanan: Pengalaman Tim Monitoring Sosial

Menyusuri Fakfak, Lebih dari Sekadar Perjalanan: Pengalaman Tim Monitoring Sosial

Penulis

Elisa Putra dan Abigail Lang

Tanggal

19 Maret 2025

Sebagai bagian dari tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat  (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Jeniffer Maleke (sapaan akrab Babby) merasa beruntung bisa terlibat dalam perjalanan menyusuri kampung-kampung di Wilayah Fakfak. Setiap langkah yang ditempuh oleh Babby dan tim membawa pengalaman baru yang memperdalam pemahaman akan kearifan lokal dan dinamika sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Teluk Berau dan Nussalasi Van-Den Bosch, Fakfak. Melalui tulisan ini, kami ingin berbagi tentang pengalaman Babby dalam perjalanan yang penuh tantangan namun penuh makna.

Babby (Kanan) dan Maria (Tengah) sedang mewawancarai responden (Kiri) di Kampung Arguni
(Foto : Gemala Dirgantari)

Perjalanan kali ini membawa tim Monitoring Sosial ke wilayah menakjubkan di Kawasan Konservasi (KK) Teluk Berau dan Nussalasi Van-Den Bosch, di Fakfak. Bersama tim solid — LPPM UNIPA (Yeni Yulia Andriani, Jeniffer Maleke, Kezia Salosso, Jelly Palle, Maria Bame, Spenyel Yenusy, William Kaunang), dan Mitra Pengelola KK dari Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah Kaimana-Fakfak (Gemala Dirgantari) — mereka memulai perjalanan pada 26 Januari hingga 23 Februari 2025 , menyusuri 11 kampung untuk melakukan survei Rumah Tangga untuk menilai kesejahteraan masyarakat dan survei Neraca Sumberdaya Laut (Ocean Account.).

Pertemuan dengan aparat Kampung Pang Wadar
(Foto : Gemala Dirgantari)

Jelly (Kiri), Spenyel (Tengah) sedang bertemu dengan aparat Kampung Arguni (Kiri)
(Foto : Gemala Dirgantari)

Satu hal yang membuat pengalaman ini berkesan adalah proses perizinan. Selain dipimpin oleh Kepala Kampung sebagai perwakilan aparat pemerintah, kampung-kampung yang dikunjungi juga memiliki sistem Kerajaan yang dalam istilah setempat disebut Petuanan. Setiap wilayah Petuanan memiliki seorang pemimpin yang disebut ‘Bapa Raja’. Artinya, mereka harus meminta izin bukan hanya ke kepala kampung, tapi juga ke ‘Bapa Raja’ setempat atau para Perangkat Kerajaan — sebuah pengalaman yang membuat mereka makin menghargai kearifan lokal di sini.

Yang menarik, mayoritas masyarakat di wilayah survei mereka ini berprofesi sebagai nelayan dan petani. Selain itu, ikan Kembung dan Cumi-cumi yang biasa kita santap di kota besar, di sini justru dijadikan umpan untuk menangkap ikan yang lebih besar. Masyarakat pesisir juga menjual gelembung ikan Kakap Putih yang ternyata punya banyak manfaat dan memiliki nilai jual yang mahal — salah satu komoditas bernilai tinggi yang mungkin jarang kita dengar di tempat lain.

Ikan Kakap Putih
(Foto : Gemala Dirgantari)

Kampung Ugar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Setiap kampung yang mereka datangi memiliki daya tarik tersendiri. Kampung Maas memiliki potensi wisata sangat menarik berkat dukungan PokDarWis (Kelompok Sadar Wisata) yang aktif mengembangkan kampungnya. Laut di kampung ini sangat bersih, bahkan mereka menjumpai penyu mencari makan secara bebas di dekat pantai. Babby dan teman teman berkesempatan berenang di sekitar penyu-penyu tersebut. Kampung lain yaitu Patimburak. Di kampung ini berdiri sebuah ‘Masjid Tua’ yang dibangun sejak tahun 1870. Masjid inilah yang katanya menjadi asal muasal filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang melambangkan kerukunan dan toleransi antar umat beragama, adat, dan pemerintahan di Fakfak.  Pengalaman ini membuat Babby kagum dan membayangkan betapa kayanya nilai budaya di Fakfak.

Masjid Tua di Patimburak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

William (Kanan) dan Gemala (Tengah) sedang mewawancarai responden (Kiri) di Kampung Andamata
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Perjalanan ini penuh tantangan karena beberapa rumah warga terletak di daerah yang terjal dan licin, minimnya penerangan saat pengambilan data di malam hari, serta jarak antar kampung yang jauh, yang harus ditempuh melalui jalur darat dan laut. Selain itu, mobilitas masyarakat yang tinggi membuat mereka harus ekstra sabar dan semangat melakukan survei. Untungnya, sambutan hangat masyarakat membuat lelah mereka terbayar lunas. Sekembalinya mereka ke Manokwari, pada tanggal 26 Februari 2025, tim mereka membawa oleh-oleh manisan pala yang menjadi salah satu ciri khas dari Fakfak

Kampung Arguni
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Setiap sudut Fakfak punya cerita, Babby dan teman-teman merasa beruntung bisa jadi bagian dari kisah ini. Rasanya tidak sabar buat berbagi lebih banyak pengalaman dari lapangan berikutnya!

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Lowongan Kerja

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Ketiga PMNH Tahun 2025

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Ketiga PMNH Tahun 2025

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi akhir Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 11-13 Maret 2025. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Seleksi Tahap Ketiga. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak ke kantor.

2. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Pembekalan Calon PMNH dan Tenaga Magang 2025: Mempersiapkan Pendamping Masyarakat dan Tenaga Magang

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

12 Maret 2025

Dalam upaya memperkuat peran pendamping masyarakat dan tenaga magang dalam konservasi lingkungan, Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melaksanakan kegiatan Pembekalan Pemberdayaan Masyarakat dan Narahubung (PMNH) dan Tenaga Magang Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 11-13 Maret 2025 bertempat di Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA. Peserta pelatihan adalah 12 calon anggota Tim PMNH serta 4 tenaga magang yang akan ditempatkan di beberapa lokasi di Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Kaimana.

Acara ini dibuka oleh Prof. Freddy Pattiselanno selaku Kepala LPPM UNIPA. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Fitryanti Pakiding, Ph.D. selaku penanggung jawab program, yang juga menjadi salah satu pemateri dalam sesi pembekalan. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai konservasi penyu dan strategi pemberdayaan masyarakat. Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pengenalan kegiatan “Sains untuk Konservasi: Program Upaya Pelestarian Penyu yang Holistik di Distrik Tobouw dan Abun, Kabupaten Tambrauw.” Materi ini memperkenalkan pendekatan ilmiah dan sosial dalam upaya perlindungan penyu serta keterlibatan masyarakat dalam program konservasi.

Pembukaan oleh Prof. Freddy Pattiselanno
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Sambutan dari Ibu Fitryanti Pakiding, Ph.D.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai peran pendamping masyarakat dan narahubung program, yang bertugas untuk mendukung kegiatan konservasi dan pemberdayaan di berbagai lokasi. Terdapat berbagai pelatihan praktis yang akan diberikan selama 3 hari pelatihan, yaitu prosedur pencatatan dan pelaporan keuangan, pelatihan cara mengajar, serta teknik dokumentasi lapangan yang penting dalam pencatatan dan pelaporan kegiatan. Materi menarik yang juga akan diberikan dalam pembekalan ini adalah pelatihan pembuatan minyak kelapa bersih, yang bertujuan untuk memberikan keterampilan tambahan dalam mendukung ekonomi masyarakat lokal. Tidak hanya itu, sesi team building juga akan diselenggarakan untuk memperkuat kerja sama dan sinergi antar peserta, sehingga mereka dapat bekerja secara efektif di lapangan.

Pembekalan ini memiliki tujuan utama untuk memberikan kapasitas kepada tenaga pendamping masyarakat dan narahubung program untuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi penyu, dan membangun kemitraan dengan komunitas lokal. Para tenaga magang yang akan terlibat dalam pembekalan ini juga mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai peran mereka di lokasi penempatan, sehingga dapat berkontribusi lebih optimal dalam kegiatan konservasi dan pembangunan masyarakat.

Suasana saat pembekalan calon PMNH dan Tenaga Magang 2025
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Suasana saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Saat ini, program pendampingan pemberdayaan masyarakat telah mencakup lima kampung utama, yaitu Wau, Weyaf, Syukwo, Womom, dan Resye yang terletak dalam wilayah administrasi Distrik Abun dan Distrik Tobouw. Namun, pada tahun ini lokasi program semakin berkembang dengan penambahan total lima kampung baru, yaitu empat kampung (Wefiani, Warpaperi, Waramui, dan Manggapnud) di Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, serta satu kampung (Adijaya) yang terletak di Distrik Buruway, yang berdekatan dengan Pulau Venu—salah satu habitat utama tempat penyu bertelur di Kaimana. Sementara itu, para tenaga magang yang dibekali akan terlibat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pada lokasi-lokasi penempatan pendamping masyarakat program pemberdayaan.

Diharapkan melalui pembekalan ini, peserta dapat memahami dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dalam mendukung program konservasi penyu dan pemberdayaan masyarakat. Dengan kolaborasi antara Tim PMNH dan tenaga magang, diharapkan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Bersama, kita dapat menjaga ekosistem laut dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi penyu untuk generasi mendatang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya