Kategori
New Template Outreach

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi ​

Jalan-Jalan Bersama KM Sabuk Nusantara 112: Ketika Perjalanan Menjadi Ruang Edukasi

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

4 Agustus 2026

Manifes kapal mencatat total 439 penumpang, dan kami berangkat dengan membawa segudang pertanyaan: “Apakah nanti banyak penumpang yang tertarik?” “Target 75% penumpang kapal, kira-kira bisa tercapai tidak ya?”

Sebelas orang membawa misi edukasi di atas kapal ini. Rombongan kami terdiri dari Tim Program: Kak Trisye, Kak Yeni, Mas Sesar, saya (Abigail), dan Fery. Sementara Anjely, Karin, Minggas, dan Martha (dari Manokwari), serta Maria dan Zahro (dari Sorong) yang menjadi tim volunteer.

Perasaan campur aduk ini bermula ketika seluruh tim bertemu dengan kapten dan kru kapal pada H-3 menjelang kegiatan.

Malam keberangkatan dari Pelabuhan Manokwari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema Monim)

Hari Pertama – Keberangkatan yang Mendebarkan

Senin, 20 Juli 2026 dimulai dengan instruksi dari Mas Sesar, salah satu anggota tim kami. Kami diminta tiba di pelabuhan pukul 19.00 karena jadwal keberangkatan kapal adalah pukul 21.00. Setibanya di pelabuhan, kami mendapat kabar bahwa kapal masih harus menunggu rombongan wisata rohani dari Biak, Korido. Mereka sedang menuju Manokwari menggunakan KM Sabuk Nusantara 94 dan akan melanjutkan perjalanan bersama kami di KM Sabuk Nusantara 112 (Sanus 112). Saat menunggu, seorang penumpang berseru, “Rombongan wisata rohani ini sekitar ratusan orang!”

Kami semua menghela napas, saling bertatap, dan berharap kegiatan ini akan tetap berjalan lancar dengan respons yang baik. Ketika rombongan tiba, masyarakat tak henti-hentinya memindahkan barang dari kapal satu ke Sanus 112. Tepat pukul 22.30, stom ketiga berbunyi menandakan kapal akan segera berangkat. Kami mulai menempati kasur masing-masing di Dek 2. Malam itu, tim sepakat untuk beristirahat dan baru memulai aktivitas keesokan harinya.

Hari Kedua – Antusiasme di Pojok Baca & Nobar

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Setelah disuguhkan makanan hangat oleh koki kapal, tim melakukan briefing sembari sarapan. Lembaran pre-test dan post-test dibagikan, dan tanggung jawab masing-masing diserahkan.

Para volunteer dibekali starter pack untuk memulai penjangkauan kepada penumpang. Sementara itu, saya dan Mas Sesar berjaga di area “Pojok Baca”. Kak Trisye dan Kak Yeni menyiapkan berbagai perlengkapan—mulai dari merchandise, buku cerita seri 1-3, komik, hingga camilan ringan untuk dibagikan—sambil memantau pergerakan volunteer. (Sebagai catatan, buku-buku tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara tim UNIPA dan Program Studi Desain dan Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (DKV ITS), lengkap dengan ilustrasi karya mahasiswa mereka). Di sisi lain, Ferry menjadi ujung tombak dokumentasi yang sibuk mengabadikan momen dengan kameranya.

Briefing tim di pagi hari untuk memulai aktivitas.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Suasana ramai di Pojok Baca pada pagi hari.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Salah satu area kafetaria kapal kami sulap menjadi “Pojok Baca”. Tepat pukul 09.00 pagi, kami membukanya dan, BOOM! Masyarakat tak henti-hentinya datang silih berganti untuk menukarkan voucher. Keraguan yang selama ini menjadi keluh kesah kami akhirnya sirna; ternyata sebagian besar penumpang sangat antusias.

Tiga jam berlalu tanpa terasa. Ada yang datang menukarkan voucher, meminjam buku, hingga bermain games. Dari anak-anak hingga orang dewasa, laki-laki dan perempuan, semuanya ikut terlibat. Permainan edukasi yang kami bawa dirancang agar pesannya mudah diterima, seperti: kartu memori Ingat Penyu, ular tangga versi Dunia Penyu, puzzle menyusun karapas penyu.

Di sini, kami juga mengajarkan jingle “Tukik, Ayo Lari ke Laut” dan menyanyikannya bersama-sama. Menjelang siang, aktivitas di Pojok Baca mulai mereda karena rombongan wisata rohani telah turun di kampung persinggahan. Meski jumlah penumpang berkurang, anak-anak tetap berdatangan untuk bermain.

Dari Dek 3, pemandangan sunset tampak jelas menyinari kapal. Kampung demi kampung terlewati hingga akhirnya kami tiba di Kampung Wau pada malam hari. Waktu bersandar ini kami manfaatkan untuk menggelar Nonton Bareng (Nobar) di depan kafetaria. Tepat pukul 21.00, kami memperkenalkan tim dari UNIPA dan memutar video edukasi tentang pelestarian penyu, perubahan iklim, dan sampah plastik. Sesi pemutaran video dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif bertabur hadiah, sebelum ditutup dengan pemutaran film action (yang sudah lulus sensor) sebagai hiburan bagi penumpang.

Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Pojok Baca: Penumpang menukarkan voucher dengan merchandise.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hari ketiga – Menuju Sorong

Rabu, 22 Juli 2026 tim sudah semakin terbiasa dengan ritme kegiatan. Pagi harinya, kami kembali membuka Pojok Baca. Fery masih tampak lalu-lalang dari Dek 2 ke Dek 3 untuk memastikan semua momen terdokumentasi.

Pada malam hari, kami kembali mengadakan Nobar yang dipandu Kak Yeni. Ini terbukti menjadi salah satu strategi paling efektif untuk menjalin kedekatan dengan penumpang. Hari-hari selama perjalanan Manokwari–Sorong pun berakhir. Pukul 23.00, setelah Nobar selesai, kami beristirahat karena kapal dijadwalkan berlabuh di Pelabuhan Sorong keesokan paginya.

Setibanya di Sorong, kami memanfaatkan waktu dengan baik. Skenario yang kami susun sebelumnya ternyata berjalan sangat mendekati realitas di lapangan. Barang-barang logistik kami titipkan di kapal, karena pada Jumat malam tim harus kembali berlayar.

“Kak, ini besok kita sudah balik lagi ke kapal. Iya Kak, sekali lagi ini besok sudah balik,” kataku ke Kak Yeni sambil tertawa, masih dengan sisa-sisa rasa mabuk laut.

Nonton bareng film edukasi saat kapal bermalam.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Trip Balik: Sorong – Manokwari (24 – 26 Juli 2026)

Kak Trisye menginstruksikan tim untuk siap di pelabuhan pada pukul 23.00. Karena kapal berangkat pada pukul 00.30 dini hari, tidak ada aktivitas edukasi yang dilakukan pada malam tersebut.

Hari Kedua – Bertahan di Arus Balik 

Sabtu, 25 Juli 2026 Pagi harinya, kami mulai menyebarkan flyer “Fakta Menarik Penyu Belimbing”. Pendekatan langsung ini harus dilakukan dengan cepat karena penumpang tujuan Sausapor akan turun pada pukul 09.30. Di arus balik ini, jumlah penumpang memang lebih sedikit. Beberapa di antaranya bahkan penumpang yang sama yang sebelumnya naik dari kampung menuju Manokwari.

Malam harinya, kapal bersandar di Kampung Warmandi. Seorang bapak menghampiri Kak Trisye dan bertanya, “Kaka, ini masih ada mau Nobar kah?” Melihat antusiasme yang masih menyala, kami memutuskan untuk tetap mengadakan Nobar. Video edukasi kembali diputar dan kuis tanya jawab kembali dilontarkan. Meski penumpang semakin hari semakin sedikit, semangat tim tidak luntur; kami sangat menikmati setiap prosesnya.

Mama sedang membaca flyer edukasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Pojok Baca: Edukasi interaktif bersama penumpang.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Fery Toja)

Hari Ketiga – Reuni di Atas Kapal: Kembalinya Rombongan Wisata Rohani 

Minggu, 26 Juli 2026 tidak terasa, kami sudah melakukan empat hari penuh penjangkauan di atas kapal. Kami mendapat kabar bahwa rombongan wisata rohani akan kembali naik pada malam hari. Karena penumpang di sore hari masih sepi, sebagian tim menyempatkan diri duduk santai menikmati sunset di Dek 3.

Sekitar pukul 19.00, kapal tiba di Imbuan. Kak Trisye memanggil kami untuk segera turun ke Pojok Baca. Ternyata, rombongan yang naik sangat banyak! Karena mereka sudah familier dengan kegiatan kami dari perjalanan sebelumnya, mereka sendiri yang proaktif meminta pre-test dan post-test kepada volunteer. Suasana kembali hectic. Anak-anak hingga orang dewasa antusias terlibat dan bermain. Kami bahkan sudah saling mengenal wajah satu sama lain sejak keberangkatan awal dari Manokwari. Setelah kegiatan selesai, tim melakukan crosscheck final untuk menghitung total penumpang yang berhasil dijangkau.

Senin, 27 Juli 2026 pagi hari, kapal kembali bersandar di Pelabuhan Manokwari. Seluruh tim disambut hiruk pikuk pelabuhan—dan tentu saja, efek gelombang laut yang masih membuat jalanan di depan mata terasa bergoyang.

Lebih dari Sekadar Angka

Sebanyak 275 penumpang mengikuti rangkaian kegiatan edukasi, termasuk pre-test dan post-test. Peserta terdiri atas 150 remaja dan orang dewasa serta 125 anak-anak. Selain itu, 159 penumpang lainnya menerima informasi edukatif melalui pembagian flyer. Bagi tim kami, keberhasilan tidak hanya diukur dari angka statistik atau jumlah partisipan. Edukasi yang disampaikan selama pelayaran diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan mendorong tindakan nyata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pantai peneluran penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Meski perjalanan berakhir saat kapal kembali merapat di pelabuhan, pesan tentang #JagaPenyu, bahaya sampah plastik, dan ancaman perubahan iklim diharapkan ikut dibawa pulang oleh para penumpang melalui ingatan dan lembar “Fakta Menarik Penyu Belimbing” yang telah dibagikan.

Pelayaran selama tujuh hari ini membuktikan satu hal: edukasi tidak selalu membutuhkan mimbar mewah atau ruang kelas yang kaku. Kadang-kadang, kesadaran tentang laut dan kehidupan yang bergantung padanya justru lahir dan bersemi dari sebuah sudut kecil di atas geladak kapal.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Outreach

Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Behind the Scene SCIPOD: Ketika Tiga Sudut Pandang Harus Jadi Satu Cerita

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

9 Juni 2026

Proses editing tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang duduk di depan kamera bersama kami: narasumber yang membawa cerita lapangan dan tim yang memastikan semuanya terekam dengan baik. Justru dari sanalah semua file mentah itu lahir.

Inilah yang saya pelajari ketika masuk dalam proses editing SCIPOD (Science Podcast). Dimulai pada akhir tahun 2025 di Sains untuk Konservasi, SCIPOD menjadi salah satu sarana pembicaraan tentang ilmu, cerita lapang, dan data yang disampaikan dengan lebih hidup. Tujuannya, yaitu menceritakan banyak hal yang dihadapi di balik dunia kerja konservasi.

Sebelum sampai pada tahap itu, ada ritual kecil yang selalu terjadi sebelum rekaman dimulai. Saya akan melempar pertanyaan ke sana-sini. Saya bukan sebagai bos yang memberi perintah, tetapi sebagai rekan yang tahu bahwa tanpa mata dan tangan tim, semuanya bisa berantakan.

“Mas, tolong lihat microphone sudah tersambung belum?” tanyaku pada Mas Sesar, yang selalu jadi orang pertama yang diandalkan untuk urusan teknis.

“Li, itu di 3 kamera POV coba lihat, sudah sesuai grid-nya?” tanyaku pada Liya, yang matanya sangat teliti untuk memastikan komposisi kamera tidak melenceng.

Lalu aku pun bertanya pada rekan satunya lagi, Kei, yang cukup detail untuk urusan perlengkapan pendukung. “Kei, baterai tab untuk logo sudah aman?”

Tanpa Mas Sesar, Liya, dan Kei, saya tidak akan bisa menjalankan ini sendirian. Di sisi lain, saya juga tidak pernah mencoba berpura-pura bisa.

Pengecekan posisi dan komposisi tiga kamera/handphone
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Time keeper menyiapkan penanda durasi sesi rekaman.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Jauh sebelum kamera menyala, ada banyak tangan yang telah lebih dahulu bekerja di balik layar. Kak Trisye dengan telaten menyusun jadwal bersama para narasumber, memastikan setiap pihak menemukan waktu yang selaras tanpa celah miskomunikasi. Sementara itu, Kak Novi dan Kak Yeni mendampingi kami sejak naskah masih berupa draf awal. Memberi masukan, menangkap bagian yang belum utuh, dan perlahan membentuknya menjadi versi yang lebih matang. Mereka adalah para koordinator yang mungkin tidak tampak di layar, namun tanpanya, apa yang akhirnya terlihat tak akan pernah terwujud.

Podcast ini direkam menggunakan tiga sudut kamera sekaligus—tiga sudut pandang, tiga perspektif, dan tiga berkas video dengan ukuran yang dapat mencapai gigabita.

Di antara semua itu, ada satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian sebelum rekaman bahkan dimulai: baterai mikrofon. Mikrofon harus dipastikan punya daya yang cukup untuk merekam dari awal sampai akhir. Suatu waktu, pernah terjadi error pada proses perekaman podcast. Kualitas suara bermasalah di tengah rekaman yang sedang berjalan. Itu bukan sekadar gangguan teknis kecil. Sesi harus dihentikan. Suasana yang sudah terbangun menjadi buyar dan semua orang harus mengulang dari awal. Sejak saat itu, mengecek baterai mikrofon menjadi tahapan wajib yang tidak pernah kami lewatkan.

Selama proses rekaman berlangsung, ada satu peran lain yang sering luput dari perhatian, yaitu time keeper. Di balik kamera, menuliskan sisa waktu—10 menit lagi, 5 menit lagi, atau waktu hampir habis. Tanpa perlu memotong percakapan, tanda sederhana itu membantu host dan narasumber menjaga ritme diskusi agar tetap berjalan sesuai alur yang telah direncanakan. 

Proses perekaman audio selama sesi podcast SCIPOD.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abigail Lang)

Persiapan peralatan dokumentasi dan produksi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Barulah setelah rekaman selesai, tantangan berikutnya dimulai.

Sebelum proses penyuntingan benar-benar dimulai, seluruh berkas tersebut perlu dikonversi ke format yang memungkinkan kolaborasi tim. Setelah semua file siap, barulah Filmora dibuka.

Di sinilah tantangan sesungguhnya terasa. Timeline yang terbuka di depan layar bukan sekadar deretan klip, melainkan tiga versi realita yang harus dirangkaikan menjadi satu alur yang enak ditonton. Setiap kali narasumber atau host berbicara, saya harus memutuskan, kamera siapa yang seharusnya tampil sekarang? POV mana yang paling tepat untuk momen ini?

Memotong di titik yang pas itu tidak sesederhana yang terdengar. Membuka frame di timeline harus benar-benar ngena. Terlalu cepat terasa patah, terlalu lambat terasa bertele-tele. Belum lagi soal set ruangan yang harus konsisten dari satu kamera ke kamera lain, supaya penonton tidak merasa sedang berpindah-pindah tempat setiap kali sudut berganti.

Proses penyuntingan episode menggunakan Filmora.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Proses editing tidak berhenti pada video yang selesai dipotong dan disusun. Ujung dari semua pekerjaan ini adalah konten yang bisa menjangkau orang. Oleh karena itu, kami juga membuat materi iklan yang dirancang khusus untuk Instagram dan TikTok. Tujuannya, supaya orang yang melihatnya penasaran, lalu bergerak menonton versi lengkapnya di YouTube atau mendengarkan di platform podcast.

Dari file mentah bergiga-giga hingga satu konten iklan yang siap tayang, itulah perjalanan panjang yang terjadi jauh setelah rekaman selesai dan jauh sebelum episode benar-benar sampai ke telinga pendengar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
New Template Outreach

Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri

Menjadi Host SCIPOD: Ketika Cerita Lapangan Datang Sendiri

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

5 Juni 2026

Ada hal-hal yang tak sepenuhnya bisa ditangkap oleh naskah, sebaik apa pun itu ditulis. Emosi yang sesungguhnya seperti rasa terkejut, tawa yang lepas, atau jeda kecil sebelum seseorang menjawab, hanya benar-benar hadir ketika dua orang duduk berhadapan dan saling berbicara.

Inilah yang saya pelajari setiap kali duduk sebagai host untuk SCIPOD (Science Podcast). Dimulai pada akhir tahun 2025 di Sains untuk Konservasi, SCIPOD menjadi salah satu sarana pembicaraan tentang ilmu, cerita lapang, dan data yang disampaikan dengan lebih hidup. Tujuannya, yaitu menceritakan banyak hal yang dihadapi di balik dunia kerja konservasi.

Dari beberapa percakapan yang mengalir di SCIPOD, ada momen-momen kecil yang tertinggal dan membekas.

Recording podcast episode 2 bersama Kak Habema Monim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Recording podcast episode 4 bersama Kak Kesy Salosso
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yulia Andriani)

Di episode ini, saya berbincang dengan Kak Bema sebagai narasumber yang bercerita tentang metode Reef Health Monitoring (RHM). Di atas kertas, prosesnya terdengar rapi dan terukur: penyelam turun, foto diambil, fakta dan kondisi di lapangan dikumpulkan. Namun, di balik alur yang tampak sistematis itu, selalu ada kejadian-kejadian tak terduga di lapangan.

Ada satu cerita yang sebelumnya tidak saya ketahui. Frame, alat bantu dalam pengambilan foto transek, pernah jatuh ke dasar laut. Di tengah penyelaman, pada kedalaman yang tak memungkinkan seseorang berlama-lama, alat itu terlepas dan tenggelam.

Saya tak perlu bertanya banyak. Cara Kak Bema menceritakannya sudah cukup menggambarkan semuanya. Ada sisa rasa kesal yang kini mulai reda, bercampur dengan tawa yang akhirnya bisa muncul setelah semuanya berlalu. Begitulah kerja di lapangan. Tidak selalu berjalan sesuai rencana, bahkan untuk hal-hal yang tampak sederhana. Dari laut, percakapan kemudian membawa saya ke darat, ke cerita yang tak kalah menantang, meski bentuknya sangat berbeda.

Pada episode selanjutnya, saya berbincang dengan Kak Kesy sebagai narasumber. Pada sesi ini Kak Kesy membawa saya pada cerita tentang pemantauan kesejahteraan masyarakat melalui survei. Sekilas, pekerjaan ini mungkin terlihat seperti “sekadar bertanya”. Namun dari cerita Kak Kesy, saya mulai memahami bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks.

Di balik setiap pertanyaan, ada waktu, tenaga, dan kesabaran yang tidak sedikit. Untuk satu kali wawancara dengan satu responden, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai empat puluh menit, bahkan hingga satu jam. Satu orang, satu sesi, satu jam penuh. Dan pekerjaan tidak berhenti di situ. Setelah selesai di satu kampung, tim harus melanjutkan ke kampung berikutnya, membawa tumpukan kuesioner, menempuh jarak yang tidak selalu mudah, dan menghadapi kondisi yang sering kali tak terduga.

Saat mendengarkan cerita itu, saya membayangkannya pelan-pelan. Tiba-tiba, angka-angka dalam laporan survei terasa memiliki bobot yang berbeda, lebih hidup, sekaligus lebih berat. Dari sanalah saya mulai melihat bahwa apa yang kita temui hari ini sering kali merupakan hasil dari proses panjang yang jarang terlihat.

Podcast episode 6 bersama Kak Kartika Zohar
Source: Youtube – Science4conservation

Di podcast episode keenam, yaitu perbincangan dengan Kak Tika sebagai narasumber, dia berbicara tentang berbagai inovasi yang bisa dikembangkan di kampung. Bagi saya, kata “inovasi” terdengar segar dan penuh harapan. Namun, ada cerita di baliknya yang membuat saya sejenak terdiam. Inovasi ternyata tidak lahir begitu saja. Hal tersebut tumbuh dari proses yang panjang.

Jauh sebelum inovasi-inovasi itu berjalan, kampung-kampung itu telah lebih dulu dipelajari melalui survei. Bukan baru kemarin, melainkan sejak tahun 2010. Ibu Fitry dan Ibu Haidi sudah hadir sejak saat itu. Memahami kondisi lapangan dan membangun dasar yang kuat, bahkan sebelum program ini memiliki bentuk seperti sekarang. Inovasi yang hari ini tampak baru, sesungguhnya tumbuh dari rentetan waktu, lebih dari satu dekade kerja yang sering kali tidak terlihat.

Dari semua percakapan itu, saya semakin memahami satu hal. Di balik setiap lembar evaluasi, program, dan hasil yang kita lihat hari ini, selalu ada cerita manusia yang menyertainya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Petualangan Seru di Sekolah Alam S4C

Petualangan Seru di Sekolah Alam S4C

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

25 Juli 2024

Selama 5 hari penuh kegembiraan, 5 anak sekolah dasar dari berbagai kelas berkumpul di Sekolah Alam Science for Conservation untuk mengalami pengalaman belajar yang luar biasa. Kegiatan ini diselenggarakan dari tanggal 08-12 Juli 2024.  Mereka diajak untuk menjelajahi alam, belajar dari lingkungan sekitar, dan mengembangkan keterampilan hidup yang berharga.

🍃 Hari 1: Kehidupan Bawah Laut 🍃
Anak-anak memulai petualangan mereka dengan mengenal dasar-dasar keanekaragaman hayati. Mereka belajar mengenali berbagai jenis hewan laut, serta memahami pentingnya menjaga terumbu karang bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Yusup mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang pentingnya terumbu karang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Yusup mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang hewan-hewan laut yang berbahaya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

🏞️ Hari 2: Sampah yang harus dicegah 🏞️
Dengan bimbingan para mentor/pengajar, anak-anak diajarkan cara membedakan sampah organik dan anorganik, dan juga aktivitas membuat kompos dari sampah organik. Kami juga mengumpulkan sampah yang ada di sekitar lokasi acara, guna menanamkan rasa cinta kebersihan kepada anak-anak. Mereka juga dengan antusias menggali tanah, menanam bibit kangkung, dan menyiram tanaman sambil mempelajari pentingnya pertanian organik.

Kartika mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang cara membuat kompos dari bahan organik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Anak-anak berpose dengan botol daur ulang yang disulap jadi pot untuk tanaman
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

🌊 Hari 3: Sampah akan kemana kalau dibuang sembarangan ? 🌊
Kegiatan hari ketiga penuh dengan jalan-jalan seru! Anak-anak diajak berkeliling kota untuk melihat kemana sih sampah kita akan dibuang ? Dimulai dari melihat TPS hingga menuju ke TPA. Mereka juga sempat melihat sampah yang dibuang ke dalam got, dan menimbulkan banjir dan juga sampah yang mengalir kelaut yang dapat membahayakan hewan laut yang memakan sampah tersebut.

Anak-anak Sekolah Alam diajak mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir sampah yang ada di Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

🔥 Hari 4: Alat tangkap ikan 🔥
Anak-anak belajar memahami asal dari ikan yang mereka konsumsi. Pengenalan tentang alat tangkap yang biasa digunakan untuk menangkap ikan, dan membedakan alat tangkap yang ramah lingkungan dan tidak. Anak-anak juga diajar untuk menangkap ikan secukupnya saja dan tidak berlebihan demi keberlangsungan ekosistem.

🎨 Hari 5: Seni dari Alam 🎨
Petualangan diakhiri dengan membahas kembali materi yang didapat dari hari pertama sampai dengan hari keempat. Selain itu juga ada aktivitas bermain clay dough/ lilin, dimana dibutuhkan kreativitas dari anak-anak untuk berimajinasi untuk membuat bentuk kesukaan mereka. Selain itu juga anak-anak diberikan hadiah atas keaktifan mereka dalam menjawab, bertanya, dan sikap mereka selama mengikuti kegiatan sekolah alam ini. Semuanya tercatat di papan score board.

Kegiatan Sekolah Alam ini tidak hanya untuk belajar, tetapi mereka juga mengembangkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap alam. Semoga pengalaman ini memberikan kenangan indah dan pembelajaran berharga yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Peserta Sekolah Alam diajar oleh Bernadus untuk mengetahui alat tangkap yang ramah lingkungan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Anak-anak berfoto dengan hadiah yang diberikan atas keaktifan mereka di Sekolah Alam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara Community Outreach Assistant Tahun 2022

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara Community Outreach Assistant Tahun 2022

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk wawancara untuk posisi-posisi di kantor kami. Kami menikmati waktu yang kami pakai untuk mengenal para pelamar semua. Dengan ini kami menyampaikan hasil seleksi wawancara. Kami percaya KANDIDAT UTAMA yang kami pilih memiliki pengalaman dan keterampilan khusus yang kuat untuk menjadi aset bagi upaya konservasi di Tanah Papua. Bagi para pelamar yang belum terpilih, kami melihat pengalaman dan keterampilan khusus yang Anda miliki mampu menjadi modal untuk berkarya di tempat lain. Dan yang terpenting, semoga kita selalu terlibat dalam upaya pelestarian alam kita.

Dengan hormat kami sampaikan KANDIDAT UTAMA yang terpilih sebagai berikut:

“ABIGAIL E. F. LANG”

Bila ada hal-hal yang kurang jelas, silakan japri ke admin WA Grup. Kami ucapkan selamat kepada kandidat yang terpilih. Sampai bertemu di Manokwari. Salam lestari!

Kategori
Outreach

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara Community Outreach Assistant Tahun 2022

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Informasi Seleksi Wawancara Community Outreach Assistant Tahun 2022

Salam Lestari!

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah menerima 74 berkas dan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 29 Orang dinyatakan LULUS. Berikut kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.
1. Wawancara dilaksanakan tanggal 21-22 April 2022
2. Wawancara dilaksanakan secara online melalui Zoom
3. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, silakan japri ke admin WA Grup

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.

Tabel Nama-Nama Pelamar yang Lulus Seleksi Administrasi

NoNama PelamarAsal DaerahJenis Kelamin
1Yakomina Levina Osmondo BlesiaSorongPerempuan
2Agustinus Tandi KapangManokwariLaki-Laki
3Jofiane Heane RumbiakManokwariPerempuan
4Winikay RisamasuTimikaPerempuan
5Siis WerimonManokwariPerempuan
6Apriana Ema LiarianKota SorongPerempuan
7Debby BorumeiKota SorongPerempuan
8Abigail Emylia Febricristiani LangManadoPerempuan
9Lintang Ardhi HidayatullaSurabayaLaki-Laki
10Rachmadanu Fitra PanutanSukabumiLaki-Laki
11Abdi KurniawanPadangLaki-Laki
12Putri Fara SholihahSurakarta-JatengPerempuan
13Mahardika Azis FadlySumatra BaratLaki-Laki
14IswadiSanggau, KalbarLaki-Laki
15Rosy Qoimatul QolbiyahSurabayaPerempuan
16Kintantya Qurrata A’yuninTangerangPerempuan
17Gilang Gunawan Permana PutraBandungLaki-Laki
18Triesha AmaliaSemarangPerempuan
19Nanda Citra Ayu FardyaniKota SorongPerempuan
20Stuard Aldo WoisiriJayapuraLaki-Laki
21Intan Tia Ajeng AryaniTeluk BintuniPerempuan
22Annisa PatiranKabupaten FakfakPerempuan
23Nila PratiwiPalu, Sulawesi TengahPerempuan
24HermalindaMataram, LombokPerempuan
25Ikerniaty A. T. SandiliPaluPerempuan
26Arif Devit Wayan DianaKota ProbolinggoLaki-Laki
27Tri PrawotoPekanbaruLaki-Laki
28Nuri IkhwanaNgawi, Jawa TimurPerempuan
29Oktafia Kusuma SariYogyakartaPerempuan