Kategori
Monitoring Sosial Survei Monitoring Sosial Training

Pelatihan Surveyor Lapangan untuk Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier

Pelatihan Surveyor Lapangan untuk Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier

Penulis

Arnoldus Ananta

Tanggal

16 Oktober 2024

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) melalui Program Sains untuk Konservasi telah melaksanakan Pelatihan Surveyor Lapangan untuk kegiatan Pemantauan Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier di Raja Ampat. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi dasar terkait monitoring sosial yang akan dilakukan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan pengembangan diri para surveyor untuk melakukan survei di lapangan nanti.

Kezia Salosso saat berdiskusi dengan peserta pelatihan mengenai pengisian form instrumen survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Peserta pelatihan melihat kembali form instrumen survei rumah tangga yang telah diisi saat praktek wawancara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Pelatihan yang berlangsung selama 5 (lima) hari, yaitu tanggal 9-11 dan 14-15 Oktober 2024 di Kampus UNIPA, dibuka secara langsung oleh Dr. Fitryanti Pakiding selaku Pengelola Program Sains untuk Konservasi. Terdapat 8 orang sebagai peserta kegiatan, yang memiliki sapaan akrab Abdul, Andho, Angel, Diva, Jelly, Spenyel, Stilo, dan Thomas. Mereka merupakan alumni dari Universitas Papua dan Universitas Cendrawasih, dan memiliki latar belakang ilmu yang beragam yaitu bidang kelautan dan perikanan, biologi, pendidikan, sastra dan antropologi, kehutanan, dan bidang ekonomi/akuntansi.

Selama lima hari pelatihan, tim Program Monitoring Sosial memberikan kesempatan belajar kepada peserta untuk memiliki pengetahuan dan informasi terkait pekerjaan yang akan dilakukan. Mereka belajar tentang Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) dan potensi wilayahnya serta masyarakat pesisir di BLKB, apa yang dimaksud dengan Kawasan Konservasi Perairan, latar belakang dan tujuan pelaksanaan Monitoring Sosial, bagaimana data dikumpulkan di lapangan, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun tim yang solid. Kami juga melakukan praktek sebagai aplikasi dari pembelajaran yang telah dilakukan. Praktek ini termasuk bagaimana memilih responden atau penentuan sampel survei, bagaimana wawancara dilakukan atau bagaimana bertanya kepada responden, bagaimana menjaga kualitas data yang ditulis pada instrumen wawancara, dan praktek penggunaan GPS untuk menandai lokasi pengumpulan data.

Dahlia Menufandu saat menjelaskan kepada peserta training mengenai bagaimana menghitung hasil pendapatan nelayan dalam form instrumen survei rumah tangga
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Dahlia Menufandu saat menjelaskan kepada salah satu peserta training mengenai bagaimana mengisi form daftar rumah tangga survei Tahun 2024
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Jennifer Maleke saat menjelaskan kepada peserta training mengenai bagaimana mengisi form sampel acak rumah tangga survei sosial
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Arnoldus Ananta)

Peserta pelatihan (dari kanan ke kiri) Spenyel, Diva dan Jelly saat mengoperasikan pemindai GPS di luar ruangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Instrumen pengumpulan data yang akan digunakan oleh peserta di lapangan adalah kuesioner survei rumah tangga. Peserta diharapkan dapat memperhatikan, memahami dan dapat menyampaikan dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada kuesioner kepada responden. Indikator data dan pertanyaan yang akan disampaikan banyak dan beragam, sehingga para peserta juga diharapkan dapat tetap fokus bukan hanya pada saat menyampaikan pertanyaan, tetapi juga bagaimana memahami jawaban yang disampaikan oleh responden.

Survei lapangan di wilayah BLKB Papua sulit dan menantang. Saat menutup kegiatan, Dr. Fitryanti Pakiding berpesan bahwa praktek dan ujian yang sebenarnya akan terjadi saat tim mulai bekerja di lapangan. Kemampuan bekerja sama dan berempati dalam tim merupakan kualitas yang akan melengkapi diri seorang surveyor bukan hanya saat bekerja di lapangan tetapi juga menjadi bekal di masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Training

Pengalaman Mengikuti Pelatihan Pilot Drone dan Drone Mapping yang dilaksanakan oleh CI Indonesia dan BBTNTC

Pengalaman Mengikuti Pelatihan Pilot Drone dan Drone Mapping yang dilaksanakan oleh CI Indonesia dan BBTNTC

Penulis

Noviyanti dan Habema Monim

Tanggal

04 Maret 2022

Selamat Pagi Ibu, Bema sudah menyelesaikan pelatihan dengan sangat baik. Dia sudah mendapatkan sertifikat dari APDI (Asosiasi Pilot Drone Indonesia) dan sudah terdaftar di DKPPU (Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara) Kemenhub. Sekarang dia juga sudah bisa mengolah data drone menjadi peta bu.

Pesan di atas kami terima melalui WhatsApp grup yang diteruskan oleh pimpinan kami, ibu Fitry, untuk kami semua di Program Sains untuk Konservasi. Kami sangat senang menerima kabar baik ini. Satu lagi keahlian baru yang diterima oleh rekan kerja kami. Bagi kami, pencapaian rekan kerja kami adalah sebuah pencapaian dalam tim kami. Berikut adalah wawancara singkat dengan rekan kerja kami, Habema Monim, yang biasa kami panggil “Bema”.

Trainer, Pak Zulfikar, saat menyerahkan sertifikat pelatihan pilot drone dan drone mapping kepada Bema

Boleh cerita sedikit tentang pelatihan ini? Penyelenggaranya dari mana, kapan dan di mana diadakan, siapa saja pesertanya dan hal apa saja yang dipelajari?
Penyelenggara kegiatan ini adalah Conservation International (CI) Indonesia yang berkolaborasi dengan Balai Besar Taman Nasional Cenderawasih (BBTNTC) yang mendatangkan para trainer dari Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) dan Papua Mapping Center. Kegiatan dilakukan di Manokwari mulai pada tanggal 12 – 17 Februari 2002. Pesertanya adalah staf CI Indonesia, staf BBTNTC dan staf Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA. Kami belajar cara menerbangkan drone yang baik dengan mematuhi peraturan menerbangkan drone untuk para pemula dan amatir, dan bagaimana memanfaatkan drone dalam memetakan suatu wilayah.

Apakah ada hal baru yang menarik dipelajari?
Ada, akhirnya saya bisa menerbangkan drone setelah sekian lama penasaran. Akhirnya rasa penasaran bisa tercapai! Selain belajar memetakan wilayah dengan drone kami juga diajarkan teknik mengambil footage video yang bagus karena ini sudah yang saya inginkan, bisa mengambil foto maupun video menggunakan drone.

Bagaimana rasanya ketika pertama kalinya bisa mengolah data dari foto drone menjadi sebuah peta?
Sangat senang sekali walau memang untuk mempelajari ini agak sulit bagi saya karena sebelumnya saya belum pernah membuat peta apa lagi menggunakan foto drone lalu diolah menjadi sebuah peta. Kami sangat beruntung karena para trainer, yaitu pak Zulfikar Mardiyadi dkk, sangat professional dalam bidang ini dan mereka memandu dengan sangat baik.

Apa saja tantangan yang Bema alami ketika mengikuti pelatihan ini?
Tantangan pertama adalah rasa gugup pada saat pertama kali menerbangkan drone, apa lagi pada saat ujian. Kami diharuskan menerbangkan drone tanpa menggunakan mode GPS, sebaliknya kami diminta menggunakan mode ATTI. Mode ATTI adalah singkatan dari Mode Atitude. Keahlian ini wajib kami kuasai karena Mode ATTI akan sangat menolong pengoperasian drone secara manual ketika tidak ada sinyal GPS. Sangat sulit mempertahankan drone stabil, pada saat drone terbang dengan mode ATTI harus tetap fokus agar drone yang diterbangkan tidak keluar dari jalur lintasan ujian yang berbentuk angka 8.
Yang kedua adalah mengolah foto drone menjadi sebuah peta yang sebelumnya hanya penasaran dan sekarang kami dilatih untuk mengolah sendiri. Saya merasa sangat tertantang. Untuk keahlian ini, saya berharap bisa mengikuti pelatihan tambahan lagi karena saya masih ingin belajar banyak hal.

Apa manfaat pelatihan ini bagi karir Bema ke depan dan bagi pekerjaan di bidang konservasi?
Yahhh kalo untuk karir ke depan pastinya saya ingin berkontribusi bagi dunia konservasi seperti yang dilakukan oleh teman-teman pegiat konservasi lainnya, khususnya dalam hal memanfaatkan drone untuk mendukung upaya konservasi di lapangan.

Setelah mengikuti pelatihan ini, apa ada harapan Bema bagi penyelenggara pelatihan?
Harapan saya, yah ingin belajar lagi membuat peta menggunakan drone karena memang saya rasa masih perlu belajar banyak lagi mengenai pemetaan ini. Oh iya, kalo ada teman-teman kantor yang ingin belajar drone, saya bisa ajar sedikit-sedikit… tapi jangan lupa selesai belajar traktir makan… hahaha..

Bema berfoto dengan sertifikat drone dan foto dronenya setelah selesai pelatihan

Bema menerima sertifikat pilot drone dari APDI

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Training

Program Capacity Building bersama Para Mitra: Pembelajaran Selama Sepuluh Tahun Monitoring Ekologi dan Sosial di BLKB

Program Capacity Building bersama Para Mitra: Pembelajaran Selama Sepuluh Tahun

Monitoring Ekologi dan Sosial di BLKB

Tanggal

20 Juli 2020

Penulis

Kezia Salosso dan Dariani Matualage

Program Capacity building atau program peningkatan kapasitas merupakan aspek yang penting dan sangat diperlukan dalam menunjang kinerja staf dan luaran program kerja di Divisi Pembangunan Berkelanjutan Universitas Papua (UNIPA). Pada tanggal 4-21 Februari 2020, tim UNIPA dan The Nature Conservancy (TNC) yang terdiri dari Dr. Fitryanti Pakiding (UNIPA-Ketua Divisi), Purwanto (Program Monitoring Ekologi), Kezia Salosso (Program Monitoring Sosial), Dariani Matualage (UNIPA-Analisis Data Ekologi), Indah Ratih Anggriyani (UNIPAAnalisis Data Sosial), dan Awaludinnoer Ahmad (TNC) Berkesempatan untuk mengikuti program capacity building di Amerika Serikat. Pendanaan Kegiatan ini berasal dari Blue Abadi Fund, Conservation International, Universitas Duke, dan TNC Indonesia.

Pada minggu pertama (4-7 Februari) di Washington DC, tim UNIPA dan TNC bekerja sama dengan rekan-rekan peneliti CI, WWF-AS, dan Universitas Duke menyelesaikan Laporan Status Bentang Laut Kepala Burung Tahun 2019 (SoTS 2019). SoTS 2019 adalah salah satu luaran dari program “Sains untuk Konservasi: Menghubungkan Sains dengan Upaya Konservasi di Bentang Laut Kepala Burung (BHS), di Papua Barat, Indonesia”. Laporan tersebut berisi informasi tentang kondisi ekologi dan sosial di BHS dari tahun 2010-2019.

QAQC Process untuk Data Monitoring ekologi bersama tim WWF-AS(foto oleh awaludinnoer-TNC(2020))

Foto : Awaludinnoer-TNC (2020)

Sementara itu, kunjungan ke North Carolina (10-21 Februari) merupakan kerjasama dengan Unversitas Duke (Duke Marine Lab.) untuk meningkatkan kapasitas tim UNIPA dan TNC dalam melakukan analisis dampak serta menul artikel ilmiah. Memilikemampuan untuk melakukan analisis dampak akan memungkinkan tim untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana Kawasan Konservasi Perairan (KKP) berdampak pada kondisi ekologis dan sosial di BHS. Informasi ini penting untuk mendukung proses manajemen adaptif oleh manajer KKP di BHS serta dapat mempengaruhpengambilan keputusan tentang KKP di tingkat yang lebih luas (lokal, nasional, dan regional).

Program monitoring ekologi dan monitoring sosial di BLKB telah berlangsung selama kurang lebih satu dekade. Kualitas pekerjaan dan monitoring yang berkelanjutan menunjukkan bahwa pentingnya memiliki keahlian yang diperlukan dan kerjasama yang baik dengan tim, termasuk para mitra pendukung. “Great things are never done by one person, they’re done by a team of people” (Steve Jobs).

Kategori
Monitoring Sosial Training

Kegiatan Pelatihan Enumerator Sosial Ekonomi di Bentang Laut Kepala Burung : Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan Kaimana Tahun 2019

Kegiatan Pelatihan Enumerator Sosial Ekonomi di Bentang Laut Kepala Burung : Kawasan

Konservasi Perairan Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan Kaimana Tahun 2019

Tanggal

1 Agustus 2019

Penulis

Maya Paembonan

Universitas Papua melakukan monitoring Sosial Ekonomi Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan Kaimana tahun 2019. UNIPA sebagai penyelenggara kegiatan tersebut melakukan seleksi calon enumerator. Beberapa tahapan yang harus diikuti oleh calon enumerator yaitu: tes wawancara, training dan field test. Terdapat 49 berkas pendaftar yang masuk, selanjutnya 46 orang yang mengikuti tes wawancara, dan dipilih16 orang yang layak untuk mengikuti training.

Training dilakukan pada tanggal 8 – 12 April 2019 pada hari kerja, berlangsung dari pukul 09.00 –16.00 Wit di Laboratorium Konservasi Fakultas Kehutanan Universitas Papua. Kegiatan ini dibuka oleh oleh Dr. Fitryanti Pakiding selaku pengelola program Survei Sosial Ekonomi di Bentang Laut Kepala Burung. 16 calon enumerator yang mengikuti training terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Papua. Beberapa materi training yang disampaikan antara lain pengenalan tentang survei, kuisioner dan manajemen data yang dijelaskan oleh Ibu Dr. Fitryanti Pakiding, Fadli Zainudin, M.Si dan Joice Pangulimang, M.Si, sementara untuk materi metode survei disampaikan oleh Indah Ratih, M.Si.

Kegiatan Training Sosial di BLKB 2019

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah enumerator wajib memahami dan dapat menyampaikan dengan baik pertanyaan- pertanyaan yang ada pada kuisioner kepada responden. Dengan jumlah pertanyaan yang banyak, enumerator diharapkan dapat tetap fokus bukan hanya pada saat menyampaikan pertanyaan tetapi juga memahami jawaban yang disampaikan oleh responden. Sementara itu pada manajemen data, dua hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pembersihan dan input data, pada tahap ini jika ada data yang dianggap kurang masuk akal maka dapat dilakukan pengecekan kembali.

Selain itu untuk lebih melatih keterampilan enumerator di lapangan dan untuk mengukur pemahaman mereka selama mengikuti training, maka pada hari Kamis 11 April dilakukan field test yang bertempat di kampung Aipiri. Calon enumerator dibagi menjadi beberapa kelompok yang kemudian mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai 2 rumah tangga. Pemilihan rumah tangga dilakukan secara acak, sehingga setiap rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih. Hasil dari field test menunjukkan bahwa secara umum peserta sudah cukup paham, namun demikian ada beberapa hal menyangkut pengisian kuisioner yang perlu diperbaiki kembali.

Pada akhirnya tiga belas orang terpilih yang akan turun ke lapangan melakukan survei. Pemilihan berdasarkan penilaian yang dilakukan selama masa training. Terdiri dari 4 perempuan dan 9 laki-laki. Tim akan dibagi menjadi 3 kelompok dengan masing-masing kelompok mempunyai field coordinator. Kegiatan training yang dilakukan diharapkan dapat memberikan pembekalan pengetahuan maupun keterampilan yang cukup sehingga ketika melakukan survei di lapangan kesulitan ataupun kendala dapat diminimalkan.

Kategori
Monitoring Sosial Training

Data Management Training with Kelly Claborn

Data Management Training with Kelly Claborn

Sebagai bentuk transfer informasi dan pengetahuan antara Universitas Papua (UNIPA) dan WWF US, maka dilakukan kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program Monitoring Sosial dan Ekologi di Bentang Laut Kepala Burung. WWF US mendatangkan Kelly Claborn untuk memberikan pelatihan manajemen data. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 11 Agustus 2017 di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Peserta adalah staf divisi, yaitu Dariani Matualage S.Si, M.Si, Indah Ratih Anggraini S.Si, M.Si, Maya Paembonan S.Si, M.Si, dan Jouhannes Faidiban yang akan melakukan analisis data. Selain bertujuan untuk membangun kapasitas staf divisi, pelatihan ini dimaksudkan juga untuk menciptakan sinkronisasi dalam merubah, menyimpan, memfalidasikan dan melindungi data antara UNIPA dan WWF US.

Pembukaan kegiatan Pelatihan manajemen data dilakukan oleh Ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan, Dr. Fitryanti Pakiding. Mengawali pelatihan, Kelly Claborn menjabarkan agenda kegiatan yang akan dilaksanakan selama sepekan. Dalam penyampaiannya Kelly memberi ruang untuk saran atau masukkan dari keempat peserta untuk agenda kegiatan.

Dalam pelatihan ini, terdapat 2 tahapan utama, yaitu penggabungan data dan analisis data. Penggabungan data dilakukan menggunakan Microsoft Access dan Microsoft Excel. Sementara untuk analisis data menggunakan RStudio. Antusiasme terlihat dari semua pihak peserta yang banyak mengajukan pertanyaan dan juga dari Pembicara yang memberi dukungan perorangan. Kegiatan diakhiri dengan merangkumkan seluruh rangkaian kegiatan, mengulas materi yang telah diberikan dan menyusun rencana kedepan antara tim data Divisi Pembangunan Berkelanjutan dan WWF US.

(Oleh: Jouhannes Faidiban)

Kategori
Monitoring Sosial Training

Training Enumerator: Monitoring Sosial Masyarakat Di Selat Dampier

Universitas Papua (UNIPA) bekerja sama dengan RARE melakukan monitoring sosial masyarakat di Selat Dampier tahun 2 0 17. Kerjasama ini merupakan kerjasama yang pertama dilakukan. UNIPA sebagai penyelenggara kegiatan melakukan seleksi ca Ion enumerator. Dari 3 2 orang yang mendaftar dan mengikuti tes wawancara, dipilih 12 orang yang layak untuk mengikuti training. Training dilakukan pada tanggal 2- 7 Agustus 2017 pada hari kerja, berlangsung dari pukul 09.00-16.00 WIT di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan ini dibuka oleh lbu Dr. Nurhaidah Sinaga selaku ketua LPPM. Calon enumerator yang mengikuti training terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Papua. Beberapa materi training yang disampaikan antara lain pengenalan tentang survei dan kuisioner yang dijelaskan oleh ibu Dr. Fitryanti Pakiding dan Dahlia Manufandu, S.Si. Sementara untuk manajemen data dijelaskan oleh ibu Dariani Matualage, M.SiUniversitas Papua (UNIPA) bekerja sama dengan RARE melakukan monitoring sosial masyarakat di Selat Dampier tahun 2 0 17. Kerjasama ini merupakan kerjasama yang pertama dilakukan. UNIPA sebagai penyelenggara kegiatan melakukan seleksi ca Ion enumerator. Dari 32 orang yang mendaftar dan mengikuti tes wawancara, dipilih 12 orang yang layak untuk mengikuti training. Training dilakukan pada tanggal 2- 7 Agustus 2017 pada hari kerja, berlangsung dari pukul 09.00-16.00 WIT di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan ini dibuka oleh lbu Dr. Nurhaidah Sinaga selaku ketua LPPM. Calon enumerator yang mengikuti training terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Papua. Beberapa materi training yang disampaikan antara lain pengenalan tentang survei dan kuisioner yang dijelaskan oleh ibu Dr. Fitryanti Pakiding dan Dahlia Manufandu, S.Si. Sementara untuk manajemen data dijelaskan oleh ibu Dariani Matualage, M.Si.

IMG_20170807_123625

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah enumerator wajib memahami dan dapat menyampaikan dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada kuisioner kepada responden. Dari 8 3 pertanyaan yang termuat pad a kuisioner, 11 diantaranya merupakan pertanyaan tambahan dari RARE. Dengan jumlah pertanyaan yang banyak, enumerator diharapkan dapat tetap fokus bukan hanya pada saat menyampaikan pertanyaan tetapi juga memahami jawaban yang disampaikan oleh responden. Sementara itu pada manajemen data, dua hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pembersihan dan input data. Pada tahap ini, jika terdapat data yang dianggap tidak jelas maka dapat dilakukan pemeriksaaan kembali.

Pada akhirnya empat orang terpilih yang akan turun ke lapangan melakukan survei. Pemilihan keempat orang tersebut berdasarkan penilaian yang dilakukan selama masa training. Tim akan dibagi menjadi dua kelompok dengan masing-masing kelompok mempunyai field coordinator. Kegiatan training yang dilakukan diharapkan dapat memberikan pembekalan pengetahuan maupun keterampilan yang cukup sehingga ketika melakukan survei di lapangan kesulitan ataupun kendala dapat diminimalkan. Survei akan dilakukan pada tanggal 15-25 Agustus 2017

(Oleh: Kezia Salosso)

Kategori
Monitoring Sosial Training

Pelatihan Analisis Data Wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut Kepala Burung

Pelatihan Analisis Data Wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut

Kepala Burung

Dalam metode ilmiah, bagian terpenting yang dilakukan adalah mengolah data. Data mentah yang dikumpulkan tidak akan ada gunanya jika tidak diolah. Dengan adanya pengolahan data, data tersebut dapat diartikan sebagai proses untuk mengambarkan dan memberikan informasi dari suatu penelitian. Beberapa tingkatan kegiatan perlu dilakukan seperti pengambilan, pemeriksaan, penginputan, pengolahan data menggunakan komputer serta analisis data.

Center of Excellence untuk Pembangunan Berkelanjutan merupakan salah satu Divisi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIPA yang menjadi pusat data dan informasi untuk mendorong berkembangnya penelitian dan proses pengambilan kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan. Pada Bulan Oktober 2016, UNIPA bekerjasama dengan WWF-US melaksanakan “Traning Analisis Data Daerah Wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat”.

Kegiatan tersebut berlangsung selama 5 hari yang dimulai dari tanggal 3-7 Oktober 2016, yang bertujuan memberikan keterampilan analisis statistik untuk mendukung penyusunan laporan teknis pada data sosial yang dikumpulkan di wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut Kepala Burung.

Kegiatan ini diikuti oleh 8 peserta yang terdiri dari 6 peserta dari staff CoE LPPM UNIPA, 1 peserta WWF Indonesia dan 1 peserta Universitas Pattimura dengan pembicara dari WWF US Phillip Mohebalian, Ph.D.

Adapun tujuan dari Training ini adalah memberikan keterampilan analisis statistik untuk mendukung penyusunan laporan teknis pada data sosial yang dikumpulkan di wilayah Sunda Banda dan Bentang Laut Kepala Burung, yang mana diharapkan setelah pelatihan ini peserta dapat mengetahui dasar-dasar Metode Quality Assurance Quality Control (QAQC) data, mengetahui metode analisis data statistik yang diperlukan untuk mendokumentasikan status dan trend kesejahteraan manusia dalam wilayah Kawasan Konservasi Perairan menggunakan Sigmaplot.

(Oleh: Ice K. Silalahi)

Kategori
Monitoring Sosial Training

Pelatihan Analisis Data untuk Monitoring dan Evaluasi Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung, Papua

Pada tanggal 26-30 September 2016, Universitas Papua (UNIPA) melalui Divisi Center of Excellence untuk Pembangunan Berkelanjutan bekerjasama dengan WWF-US mengadakan “Bird’s Head Seascape Monitoring and Evaluation Leadership Training-Data Analysis”. Kegiatan ini merupakan lanjutan kegiatan Menguak Prinsip Penting dalam Merancang Penelitian pada Bulan Januari 2016 di Waiwo, Kabupaten Raja Ampat.

BHS monitoring

Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa

Kegiatan ini diikuti oleh 20 Peserta yang berasal dari Divisi Center of Excellence UNIPA (Fitryanti Pakiding, Paulus Boli, Dedi Parenden, Dariani Matualage, Dahlia Menufandu, Riris Silalahi, Maya Paembonan, Joice Panguliman, Ice Silalahi, Semuel Wospakrik), WWF Indonesia (Amkieltiela, Evi Nurul lhsan, lgnatia Dyahapsari), Universitas Pattimura (Fanny Odang), Conservation lnternational (lsmu Hidayat, Defy Pada, Abdy Hasan),TNC (Purwanto, Awaludionnoer) dan trainer dari WWF US (Gabby Ahmadia, Jill Harris dan Phillip Mohebalian).

Adapun Kegiatan ini merupakan salah satu Program Monitoring dan Evaluasi Jejaring Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung yang bertujuan memberikan ketrampilan analisis data statistik untuk penyusunan laporan teknis dalam setiap hasil pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi pada Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung.

Beberapa hal penting yang diperoleh dari kegiatan ini, diantaranya adalah peserta mampu memahami bagaimana mendiskripsikan ringkasan statistic (statistic summary) dan penggunaan metode statistika yang benar. Peserta belajar untuk , melakukan analisis statistik menggunakan uji-uji statistika seperti t-test, ANOVA, regresi, korelasi, regresi logitik, dan juga penggunaan software sigmaplot dalam menginterpretasikan hasil pengolahan.

(Oleh : Dahlia G.R Menufandu)

Kategori
Monitoring Sosial Training

Berbagi Pembelajaran Baik dengan Tim Monitoring Sosial Universitas Pattimura

Sejak Tahun 2010 Universitas Papua (UNIPA) melalui Lembaga Penelitian (yang kemudian menjadi LP2M sejak Tahun 2015) bekerja sama dengan WWF-US untuk melakukan monitoring social di Wilayah Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB), Papua. Kegiatan monitong social ini dilakukan untuk mengkaji dampak KKP terhadap kesejahteraan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

Foto : Veronika (WWF ID)

Foto : Veronika (WWF ID)

Dalam kerjasama ini, UNIPA berperan sebagai pengumpul dan pengolah data dan informasi di lapang, sementara WWF-US berperan sebagai penyandang dana, pengolah data dan pelatih dalam beberapa program peningkatan kapasitas dibidang penelitian dan publikasi ilmiah. Sejak tahun 2014, monitoring social KKP ini dilakukan juga di Bentang Laut Sunda Banda yang dilakukan oleh Universitas Lokal (Universitas Cendana (UNDANA) untuk KKP Flores dan Alar Timur dan Universitas Pattimura (UNPATTI) untuk KKP Kei Kecil). Dalam rangka mempersiapkan tim UNDANA dan UNPATTI, WWF Indonesia dan WWF-US mengundang UNIPA untuk berbagi pembelajaran baik yang telah dimiliki dari 5 tahun melakukan survei yang sama. Pembelajaran dibagikan dalam bentuk training yang meliputi pengenalan kegiatan survei, pemahaman instrument yang digunakan untuk survei, sampai dengan pengelolaan data dan informasi yang diperoleh dari survei tersebut.

Kegiatan training di UNDANA telah dilakukan pada tahun 2014, sedangkan kegiatan training di UN PATTI dilakukan pada tanggal 29 Januari – 3 Februari 2016. Kegiatan training di UNPATTI diikuti oleh koordinator lapang (2 staf UNPATTI) dan 4 enumerator survei. Setelah mengikuti training ini diharapkan pemahaman akan instrumen yang digunakan menjadi relatif seragam, sehingga bias data yang dikumpulkan di tiga lokasi (Jejaring KKP BLKB, KKP Flores dan Alar Timur, dan KKP Kei Kecil) ini menjadi relatif kecil.

(Oleh : Fitryanti Pakiding)