Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Drone di Langit Tambrauw: Menyusun Peta Kelapa di Pesisir Kabupaten Tambrauw

Drone di Langit Tambrauw : Menyusun Peta Kelapa di Pesisir Kabupaten Tambrauw

Penulis

Mikardes Albert, Kartika Zohar

Tanggal

27 Juni 2024

Mengawali Juni 2024, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tambrauw bersama Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA melakukan kegiatan survei pendataan luas kebun kelapa di pesisir Kabupaten Tambrauw. Dengan memanfaatkan teknologi drone, kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh data akurat mengenai jumlah tegakan pohon kelapa, yang kemudian akan dianalisis lebih lanjut. Program ini merupakan bagian dari upaya Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tambrauw untuk menyediakan data yang mendukung pengelolaan dan pemanfaatan kelapa di distrik-distrik sepanjang pesisir.

Tim survei, yang terdiri dari Kepala Bidang Perkebunan Urusan Produksi dan Komoditi Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw Cosmas Aibesa, Staff Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA Mikardes Albert, ahli drone dari Fakultas Kehutanan UNIPA Zulfikar Mardiyadi dan assistant-nya Victor Mandacan, menghabiskan lima hari dalam perjalanan ini. Mereka mengumpulkan data dari 26 kampung di enam distrik. Ekspedisi dimulai dari Manokwari menggunakan mobil double cabin Hilux, dengan pemberhentian pertama di Distrik Amberbaken yang meliputi Kampung Wekari, Saukorem, Wefiani, Warpaperi, Manggapnud, dan Waramui.

Bapak Kepala Bidang Perkebunan Urusan Produksi dan Komoditi Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw sedang berdiskusi dengan masyakat tentang tujuan pemetaan dusun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan dusun kelapa di kampung imbuan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Perjalanan kemudian berlanjut ke Distrik Amberbaken Barat yang mencakup Kampung Saurabon dan Inbuan, dilanjutkan ke Distrik Abun (Kampung Waibem, Wau, Weyaf, Syukwo—pendataan di Syukwo dilakukan menggunakan satelit karena hujan). Tim juga mengunjungi Distrik Tobouw (Kampung Resye dan Womom), Distrik Kwoor (Kampung Kwoor, Hopmaree, dan Esmambo), dan Distrik Bikar (Kampung Werur, Wertam, Werwaf, Wertim, Werbes, dan Bikar). Terakhir, data dikumpulkan dari Distrik Sausapor yang mencakup Kampung Wembru, Sausapor, dan Jokte.

Pemetaan dusun kelapa di distrik kwoor
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan dusun kelapa di kampung Samfarmum dan Saurabon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan kelapa di kampung Wekari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan kelapa di Wefiani sambil makan siang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Secara teknis, data diambil dari 17 titik dengan drone yang merekam informasi mengenai luas pohon kelapa. Tantangan utama dalam perjalanan ini adalah cuaca buruk dan kondisi jalan yang rusak, mengharuskan tim menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk mobil, perahu, pesawat, dan kapal.

Saat ini, data yang dikumpulkan sedang dalam tahap analisis untuk mengetahui jumlah pohon kelapa di sepanjang pesisir Tambrauw. Data ini akan menjadi dasar penting bagi Pemerintah Kabupaten Tambrauw, khususnya Dinas Pertanian dan Pangan, dalam mengambil kebijakan terkait pengelolaan komoditi kelapa di masa depan.

Drone yang digunakan untuk pemetaan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Dusun kelapa yang ada di Kampung Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Melindungi Penyu, Memberdayakan Kampung: Cerita Monitoring dan Evaluasi dari Kampung-kampung di Taman Pesisir Jeen Womom

Melindungi Penyu, Memberdayakan Kampung: Cerita Monitoring dan Evaluasi dari Kampung-kampung di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Kartika Zohar, Putri Kawilarang, Mika Palimbong

Tanggal

11 Juni 2024

Di sekitar Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, lima kampung hidup berdampingan dengan alam yang indah dan penuh tantangan. Sejak tahun 2013, Program Sains untuk Konservasi dari LPPM UNIPA telah menjalin kemitraan erat dengan masyarakat lokal dalam upaya melindungi penyu belimbing yang bertelur di pantai-pantai mereka. Program ini bukan hanya tentang konservasi, tetapi juga tentang memberdayakan masyarakat dan membangun masa depan yang lebih baik.

Setiap hari pada semester pertama tahun 2024, terdapat 8-9 tenaga pendamping masyarakat dan narahubung yang bekerja di empat lokasi dengan mencakup lima kampung. Mereka fokus pada dua bidang utama: peningkatan perekonomian dan pendidikan. Dalam bidang perekonomian, pendamping membantu masyarakat mengolah kelapa menjadi minyak, membuat noken dari benang, dan memproduksi cocomesh untuk melindungi sarang penyu. Produk-produk ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, baik secara ekonomi maupun lingkungan.

Salah satu kegiatan monev yang dilakukan yaitu Diskusi terkait progress pembuatan cocomesh di Kampung Resya dan Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Salah satu kegiatan monev yang dilakukan yaitu Menguji mesin peras santan di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Di bidang pendidikan, para pendamping mengajar anak-anak di Rumah Belajar. Mereka mengajarkan enam kemampuan dasar: membaca, menulis, berhitung, pendidikan lingkungan hidup, komputer, dan bahasa Inggris dasar. Mereka juga membantu proses belajar mengajar di sekolah-sekolah dasar yang berada pada kampung-kampung ini.

Untuk memastikan program berjalan lancar dan menghadapi setiap tantangan, tim pemberdayaan masyarakat melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) secara rutin. Kegiatan Monev dilakukan bersamaan dengan jadwal kapal, yang membawa tim dari Manokwari ke kampung-kampung yang tersebar di sepanjang TP Jeen Womom.

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Pada 21 Mei 2024, tim Monev berangkat dari Manokwari dengan kapal Sabuk Nusantara 112. Kami tiba di Kampung Resye dan Womom pada 23 Mei, memulai perjalanan selama 11 hari yang menantang. Dalam setiap kunjungan, kami membawa daftar tugas yang telah disusun dengan cermat, termasuk mendokumentasikan kegiatan di lapangan, mengecek pelaksanaan program, mencari solusi atas kendala, mengisi form inventarisasi, dan mengantar logistik.

Meskipun perjalanan ini melelahkan, momen ketika berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan perahu, serta berdiskusi dengan tim dan masyarakat selalu menyenangkan. Pertemuan dengan semua tim di lapangan memberikan semangat baru dan perasaan senang ketika mengetahui mereka dalam keadaan sehat.

Tim monev berpindah pindah dari satu kampung ke kampung lain menggunakan perahu kecil
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Tim monev mengantar logistik ke tim PMNH yang ada di lapang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Setiap sesi ngobrol panjang lebar tentang kehidupan di lapangan selalu menyedot waktu berjam-jam. Salah satu momen paling ditunggu adalah pertukaran makanan. Tim Monev menikmati makanan kampung seperti pisang rebus, kasbi rebus, sayuran dari kebun, dan daging hasil buruan. Sementara itu, teman-teman di lapangan sangat antusias menerima tempe dan “sayur kota” seperti wortel dan kentang yang dibawa oleh tim Monev. Meskipun sederhana, tapi tempe dan “sayur kota” hanya bisa mereka nikmati saat ada tim yang membawa dari kota.

Waktu 11 hari yang terlihat panjang terasa sangat cepat karena interaksi yang hangat dan diskusi yang panjang. Tim Monev mengunjungi semua tim lapangan di Kampung Resye, Womom, Batu Rumah, Syukwo, dan Wau-Weyaf. Kegiatan Monev bulanan ini memberikan dorongan semangat baru bagi semua orang, membangun harapan, dan memastikan bahwa upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan dapat terus berlanjut dengan baik.

Dengan setiap perjalanan yang tercipta, Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA dan masyarakat Jeen Womom semakin erat terhubung, saling menguatkan dalam upaya melestarikan penyu belimbing dan membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Menikmati indahnya sunset di pantai Saubeba (Resye)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten

Berbagi Cerita Hasil Kegiatan Upaya Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dan Pemberdayaan serta Penjangkauan Masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten Tambrauw

Berbagi Cerita Hasil Kegiatan Upaya Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dan Pemberdayaan serta Penjangkauan Masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten Tambrauw

Penulis

Kartika Zohar, Deasy Lontoh, Fitryanti Pakiding, Abraham Leleran

Tanggal

05 Juni 2024

Program Sains untuk Konservasi Menghubungkan Sains dengan Inovasi untuk Upaya Konservasi Penyu Belimbing yang Holistik di Bentang Laut Kepala Burung adalah bagian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua. Program ini telah secara rutin mendapat rekomendasi untuk bekerja dari Pemerintah Kabupaten Tambrauw dalam upaya pemantauan penyu dan perlindungan sarang serta pemberdayaan dan penjangkauan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya.

Diskusi dan persiapan presentasi hasil kegiatan monitoring penyu di Ruang meeting Sekretariat Daerah Kabupaten Tambrauw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Kegiatan presentasi oleh Tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA dengan Bapak Sekretaris Daerah Kabupaten Tambrauw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Berdasarkan surat rekomendasi No: 660/340/2022 bahwa hasil kegiatan yang dilakukan di kawasan TP Jeen Womom perlu disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Tambrauw, maka pada 16 Mei 2024 lalu, Ketua Pelaksana Program Sains untuk Konservasi Fitryanti Pakiding bersama tim program bertemu dengan pimpinan Kabupaten yang diwakili oleh PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM untuk menyampaikan secara langsung hasil-hasil kegiatan yang telah dilakukan baik di pantai peneluran maupun di kampung-kampung sekitar kawasan. Rencana awal untuk bertemu secara langsung dengan PJ Bupati Tambrauw Engelbertus Gabriel Kocu, S.HUT.,MM harus batal karena pada waktu yang bersamaan PJ Bupati sedang dinas di luar Tanah Papua.

Kegiatan Presentasi dari program Monitoring penyu yang di sampaikan oleh Ibu Deasy Lontoh kepada Sekda dan beberapa staf Setda Kabupaten Tambrauw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Foto Bersama dengan Bapak SEKDA Kabupaten Tambrauw usai kegiatan presentasi hasil kegiatan monitoring penyu di taman Pesisir Jeen Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Pada pertemuan tersebut PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM menyambut baik tim yang hadir dan berdiskusi banyak tentang dampak kegiatan di lapangan. Tim Program Sains untuk Konservasi memaparkan presentasi yang berisi capaian dan juga tantangan yang dihadapi selama bekerja pada 2 tahun periode rekomendasi. Diskusi-diskusi menarik tercipta ketika PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM mengetahui tentang jumlah sarang penyu yang berada di wilayah kerjanya adalah yang terbesar di kawasan pasifik. Diskusi lain yang tidak kalah serunya adalah tentang tantangan untuk meningkatkan penghasilan masyarakat Tambrauw yang berada di kawasan konservasi ini. Tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA juga menyampaikan bagaimana manfaat yang telah diterima baik secara langsung maupun secara tidak langsung oleh masyarakat.

Penyerahan Laporan hasil kegiatan monitoring penyu di Taman Pesisir Jeen Womom ke Dinas Pariwisata Kabupaten Tambrauw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Bertemu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw sekaligus menyerahkan Laporan hasil kegiatan monitoring penyu di Taman Pesisir Jeen Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Tidak terasa diskusi telah berlangsung 3 jam, semua uraian aktifitas, tantangan, dan rencana ke depan telah disampaikan secara langsung kepada PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM. Mengakhiri diskusi, beliau menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang telah terjalin selama ini antara LPPM UNIPA dan Pemerintah Kabupaten Tambrauw, dan mengharapkan agar pekerjaan baik yang telah dilakukan dapat dilanjutkan untuk tahun berikutnya. Pemerintah Kabupaten Tambrauw mendukung secara penuh dan akan memberikan rekomendasi lanjutan untuk melanjutkan upaya pemantauan dan perlindungan sarang penyu yang dilakukan di TP Jeen Womom karena PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM menilai bahwa kegiatan ini telah memberikan manfaat tidak hanya bagi penyu namun juga bagi masyarakat di kawasan tersebut.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Dari Pantai untuk Masa Depan: Pendidikan Konservasi Penyu bagi Anak-Anak Kampung Syukwo

Dari Pantai untuk Masa Depan: Pendidikan Konservasi Penyu bagi Anak-Anak Kampung Syukwo

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Juni 2024

Pemberdayaan masyarakat yang tinggal dekat dengan wilayah Taman Pesisir Jeen Womom adalah salah satu program dari Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat pada 5 kampung lewat pendidikan dan perekonomian. Dalam menjalankan kegiatan ini, dibutuhkan Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) yang tinggal di kampung-kampung tersebut untuk mendampingi masyarakat.

Rumah belajar di kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Proses belajar di RUmah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Salah satu tugas tenaga PMNH adalah meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan informal sebagai “guru” bagi anak-anak usia sekolah dasar di kampung tempat mereka mengabdi, lewat kegiatan di Rumah Belajar. Selain mengajarkan ilmu baca, menulis dan berhitung (calistung), mereka juga mengajarkan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada anak-anak tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh tenaga PMNH di Kampung Syukwo, Armandho Rumpaidus (Andho) dan Valentinday Ronsumbre (Valen). Biasanya mereka mengadakan kegiatan belajar mengajar di Rumah Belajar, tapi kali ini untuk kegiatan PLH, mereka mengajak anak-anak pergi ke Pantai Batu Hitam untuk belajar sambil bermain. Lokasi kegiatan belajar di alam ini tidak terlalu jauh dari kampung mereka dan tetap dalam pengawasan orang dewasa.

Perjalanan menuju Pantai Batu Hitam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Proses belajar di RUmah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Kegiatan pembelajaran PLH oleh PM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Materi PLH yang mereka ajarkan adalah “Belajar Mengenal dan Menjaga Penyu”. Mereka mengajak anak-anak belajar di pantai supaya pembelajaran jadi lebih praktis dan interaktif. Di bawah langit biru, di bawah pohon rindang, dan ditemani suara ombak, anak-anak semangat mengikuti pelajaran di pantai. Andho dan Valen mengajarkan tentang penyu, mulai dari perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu di dunia dan di Papua Barat, siklus hidup penyu, bahaya dan larangan makan telur dan daging penyu, sampai berbagai ancaman yang dihadapi tukik dan penyu di darat dan laut. Semua anak-anak terlihat antusias saat mendengarkan materi dan juga bersemangat saat Andho dan Valen memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka.

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Setelah sesi materi selesai, akhirnya tiba saat yang ditunggu oleh anak-anak, yaitu bermain di pantai dan berenang. Namun, sebelum mengakhiri pembelajaran, Andho dan Valen memberikan tugas kepada anak-anak untuk membuat contoh perlindungan sarang penyu bersama-sama. Setelah diberikan arahan, mereka sangat antusias mencari kayu dan daun untuk membuat “replika” perlindungan sarang penyu berupa pagar di sekeliling sarang dan naungan di atasnya.

Sebagian anak mencari kayu, sebagian mencari daun. Setelah itu mereka menyusun kayu-kayu tersebut menjadi bentuk pagar dan daun menjadi naungan. Mereka sudah tahu dan mengerti syarat-syarat membuat perlindungan sarang yang tepat seperti jarak dan diameter antar kayu. Hasil dari belajar di alam ini membuat anak-anak lebih mudah untuk memahami materi dengan baik, mengetahui cara membuat perlindungan sarang penyu secara langsung, dan mereka juga menjadi lebih bersemangat untuk menambah pengetahuan baru tentang alam dan lingkungan mereka. Sebagai penutup dari kegiatan PLH, anak-anak kemudian bersenang-senang dengan berenang hingga sore hari.

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Kami sadar bahwa upaya konservasi butuh waktu yang cukup lama dan butuh dukungan masyarakat lokal. Oleh karena itu, materi PLH ini sangat penting bagi anak-anak di rumah belajar. Di masa depan, kami berharap mereka akan menjadi generasi penerus yang siap menjadi penjaga penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Anak-anak berenang di pantai setelah kegiatan PLH selesai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan : Kisah Komunitas Wau dan Weyaf Membangun Kandang Relokasi Penyu

Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan: Kisah Komunitas Wau dan Weyaf Membangun Kandang Relokasi Penyu

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

03 Juni 2024

Di Kampung Wau dan Weyaf, komunitas Gereja Katolik penuh semangat dan kebersamaan, berupaya mengumpulkan dana untuk kegiatan Natal di Gereja Katolik St. Agustinus Wau. Mereka mengajukan kepada Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA terutama untuk kru monitoring penyu di Pantai Jeen Syuab untuk membangun kandang relokasi penyu di lokasi tersebut. Mereka berharap dapat dana yang terkumpul dari pembuatan kandang relokasi tersebut dapat menjadi pemasukan untuk kegiatan Natal di gereja mereka.

Pantai Jeen Syuab dengan pasir hitam yang panjang merupakan tempat ideal bagi penyu untuk bertelur. Namun pantai ini tidak lepas dari berbagai ancaman seperti invasi akar Ipomoea sp., suhu pasir tinggi, predasi, abrasi pantai, dan genangan air pasang. Pemindahan sarang ke kandang relokasi merupakan strategi yang diterapkan tim LPPM UNIPA untuk melindungi dari ancaman tersebut. Menyadari hal ini, masyarakat Katolik di Wau dan Weyaf berinisiatif untuk membantu mendirikan kandang relokasi sebagai bagian dari usaha konservasi yang juga bisa memberikan pemasukan untuk kas gereja mereka.

Pekerjaan pembangunan kandang dimulai dengan semangat yang membara. Hari yang dijadwalkan pun tiba, warga dari berbagai kalangan usia berkumpul di pantai, total kurang lebih ada sekitar belasan orang. Mereka membawa bahan-bahan yang diperlukan, seperti bambu, daun kelapa, alat-alat pertukangan dan bahan makanan. Setiap orang memiliki peran masing-masing: kaum pria dan pemuda bertugas menggali lubang dan memasang tiang-tiang kayu, sementara para wanita menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja.

Pengiriman bahan pembuatan kandang menggunakan perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pembuatan tenda untuk masyarakat yang tinggal di pantai peneluran Wermon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari pertama, suasana penuh dengan semangat gotong royong. Masyarakat bahu membahu untuk membersihkan lokasi kandang relokasi; disitu banyak sekali tanaman patatas pantai (Ipomoea sp.) yang tumbuh sebagai hama. Masyarakat memotong, membabat dan mencangkul area sekitar itu agar bersih dari tanaman tersebut. Setelah itu dilakukan penggalian pasir di area tersebut agar tanah tersebut betul-betul bersih dari akar tanaman patatas pantai yang masih merayap ke dalam pasir. Cuaca yang sangat panas dan terik tidak membuat surut semangat masyarakat yang bekerja.

Hari kedua, konstruksi mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Area kandang yang sudah bersih dari tanaman hama akan dipasang kayu sebagai tiang bangunan. Masyarakat membagi tugas, ada yang pergi ambil kayu di hutan untuk dijadikan tiang penyangga kandang relokasi, ada juga yang mengukur dan mematok untuk menancapkan tiang tersebut.

Pembersihan petatas pantai untuk nantinya dibangun kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pemasangan patok untuk nantinya ditancapkan tiang kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah tiang berdiri, mereka membuat atap dan menggunakan jaring paranet, daun kelapa dan pakis agar suhu pasir di kandang menjadi lebih teduh untuk menaruh telur-telur penyu. Seluruh proses dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk memastikan keamanan telur penyu yang akan direlokasi ke kandang tersebut. Ketika pekerjaan hampir selesai, anak-anak kampung dengan riang gembira membantu membersihkan sisa-sisa material dan merapikan area sekitar kandang.

Setelah dua hari yang penuh kerja keras, kandang relokasi penyu di Pantai Jeen Syuab akhirnya berdiri kokoh. Terpancar kegembiraan karena pekerjaan tersebut telah selesai dengan baik. Selain itu juga masyarakat kampung juga sempat melakukan proses pelepasan tukik ke laut pada sore hari saat sunset tenggelam di ufuk barat.

Tancap tiang kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kandang relokasi yang dibuat oleh masyarakat selesai didirikan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Dana yang diperoleh dari proyek konservasi ini sangat berarti bagi masyarakat Wau dan Weyaf terutama bagi Masyarakat Katolik di kampung tersebut. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk mempersiapkan acara Natal di gereja Katolik.

Kisah masyarakat Katolik di Wau dan Weyaf ini mencerminkan sinergi antara upaya pelestarian lingkungan dan penggalangan dana komunitas. Dengan membangun kandang relokasi penyu, mereka tidak hanya berkontribusi pada kelestarian ekosistem penyu di Pantai Jeen Syuab, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di kampung mereka. Di balik setiap tiang kayu, bambu dan jaring yang terpasang, tersembunyi cerita tentang ketekunan, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

29 Mei 2025

Di sudut terpencil Kampung Wau Weyaf, berdiri sebuah bangunan sederhana yang dikenal sebagai Rumah Belajar. Meski jauh dari kemewahan kota, rumah ini menjadi cahaya harapan bagi anak-anak di kampung tersebut. Rumah Belajar ini disewa oleh Program Sains untuk Konservasi di bawah naungan LPPM UNIPA dan diisi oleh sekelompok pengajar muda yang memiliki tekad kuat untuk membawa pendidikan di daerah terpencil ini.

Penampakan kampung Wau Weyaf dari ketinggian
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Penerangan di Rumah Belajar pada malam hari, dengan daya yang disimpan solar cell
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Kampung Wau Weyaf terletak di daerah yang tidak terjangkau oleh listrik konvensional. Bukan hanya di kampung Wau Weyaf saja, tetapi hampir sebagian besar kampung di pesisir Bentang Laut Kepala Burung Papua tidak terjangkau oleh Listrik.

Di sini, malam datang lebih cepat dan aktivitas sering terhenti karena kegelapan. Namun, para pengajar di Rumah Belajar tidak menyerah. Mereka menemukan solusi dengan menggunakan solar cell untuk mengisi daya laptop, alat-alat elektronik lainnya dan juga untuk penerangan sederhana di malam hari.

Penampakan solar cell diatas rumah belajar Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Aki untuk menampung daya yang diserap oleh solar cell
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Setiap pagi, ketika matahari terbit, solar cell yang dipasang di atap rumah mulai bekerja, menyerap energi yang akan digunakan sepanjang malam, untuk mengisi baterai laptop dan handphone agar pengajar bisa memakainya untuk mengajar tentang komputer, mengirimkan berita kepada keluarga mereka, serta menulis laporan kepada manajemen program di Manokwari.

Setiap harinya, anak-anak kampung dengan semangat datang ke Rumah Belajar. Mereka tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga dikenalkan dengan dunia komputer. Bagi anak-anak ini, laptop adalah jendela ke dunia yang lebih luas, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa mereka impikan.

Ina salah satu pengajar di Rumah Belajar mengajarkan komputer kepada murid RB Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Ina mengajarkan cara mengetik dasar kepada anak Rumah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Ina, Qumi dan Harun adalah para pengajar yang penuh semangat dan kreatif. Mereka mengajarkan anak-anak di rumah belajar tentang dasar-dasar komputer. Banyak pelajaran tentang komputer yang diajarkan, mulai dari pengenalan alat-alat elektronik yang berhubungan dengan komputer itu sendiri bahkan untuk pelajaran dasar seperti cara mengetik, menyalakan dan mematikan laptop juga diajarkan kepada mereka. Meski sederhana, bagi anak-anak ini, setiap pelajaran adalah petualangan baru.

Terkadang, hujan deras mengguyur Kampung Wau Weyaf selama beberapa hari berturut-turut. Langit yang mendung membuat solar cell tidak mendapatkan cukup sinar matahari untuk mengisi daya. Hal ini tidak membuat surut semangat Ina dan tim untuk menyerah. Mereka pergi ke penduduk kampung yang menyalakan genset untuk mengisi daya alat-alat elektronik seperti laptop dan handphone.

Harun sedang mengajarkan alat-alat pendukung komputer kepada anak-anak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Qumi mengajarkan perhitungan dasar kepada anak-anak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Rumah Belajar di Kampung Wau Weyaf bukan sekadar tempat belajar. Itu adalah simbol harapan dan ketekunan. Para pengajar di sana membuktikan bahwa dengan sedikit inovasi dan banyak dedikasi, mereka bisa mengubah masa depan anak-anak meski dalam kondisi yang serba terbatas. Di setiap pelajaran, di setiap malam yang diterangi cahaya solar cell, dan di setiap cerita di bawah bintang, mereka menanamkan mimpi dan harapan yang suatu hari akan membuahkan hasil.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Pembekalan Kru Musim Teduh 2024

Pembekalan Kru Musim Teduh 2024

Penulis

Yusuf Jentewo & Deasy Lontoh

Tanggal

28 Mei 2024

Musim peneluran penyu belimbing di bulan-bulan laut teduh di tahun 2024 dimulai pada bulan April sampai September. Untuk mempersiapkan tim, pada tanggal 16 sampai 18 April 2024 tim mendapat pembekalan. Pembekalan ini bertajuk “Peningkatan Kapasitas Bagi Tim Pelaksana Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Tahun 2024”. Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Ir. Budi Santoso, M.P selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) di Ruangan Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) UNIPA.

Kegiatan ini dihadiri total 13 peserta yang terdiri dari 4 orang koordinator pantai peneluran (KP2), 6 orang tenaga lapangan pantai peneluran (TLP2), 3 orang tenaga perlindungan sarang periode 1 (April – Juli). Selain peserta yang langsung hadir di lokasi kegiatan, turut hadir tenaga perlindungan sarang periode 2 (Juli – Oktober) secara online berjumlah tiga orang. Dalam tim, terdapat tiga pemuda yang berasal dari kampung yang berdekatan dengan pantai peneluran yaitu Sergius Asrouw dari kampung Imbuan, Danyel Bafat dan Yesaya Arnol Bame dari kampung Weyaf. Terdapat pula partisipasi perempuan dalam tim yaitu Anthoneta Martenci Awak dari Tambrauw dan Loise Liberta Loar dari Manokwari.

Koordinator penelitian sedang menerangkan biologi penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Koordinator Monitoring sedang menjelaskan lokasi kerja kru
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Pada hari pertama peserta mendapat materi terkait pengenalan Program Sains untuk Konservasi, biologi penyu, cara membedakan penyu dan mengenal lokasi kerja yakni Taman Pesisir Jeen Womom. Hari kedua, peserta mendapatkan materi mengenai patroli pagi, patroli malam, belajar metode perlindungan sarang, metode evaluasi sukses penetasan sarang dan cara menulis buku catatan dan log harian. Pada hari terakhir peserta belajar mengenai sistem keuangan, mengukur lebar pantai, dan membahas program kerja tim. Narasumber dalam kegiatan pembekalan ini adalah koordinator program pemantauan penyu dan perlindungan sarang, koordinator penelitian, beberapa asisten koordinator, serta koordinator pantai turut berbagi dalam beberapa kesempatan materi.

Yusup salah satu asisten koordinator sedang menjelaskan terkait cara membedakan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Titi salah seorang asisten koordinator sedang menjelaskan terkait alur keuangan kantor
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Secara umum kegiatan ini berjalan lancar, peserta yang baru bergabung menyatakan sangat senang mendapat informasi penting yang berguna untuk dipakai saat bekerja di lapangan dan bagi anggota lama ini merupakan penyegaran materi agar mereka tetap terasah ilmunya. Kegiatan ini ditutup oleh Ibu Fitry Pakiding, Ph.D selaku Koordinator Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Cocomesh: bahan alternatif untuk menaungi sarang penyu yang terancam suhu pasir tinggi

Cocomesh: bahan alternatif untuk menaungi sarang penyu yang terancam suhu pasir tinggi

Penulis

Elisa Secsio Hendra Putra

Tanggal

27 Mei 2024

Ancaman utama pada pantai Wembrak, salah satu pantai Jeen Yessa di Taman Pesisir Jeen Womom adalah suhu pasir tinggi. Suhu pasir tinggi merendahkan sukses penetasan sarang dan menyebabkan sarang penyu memproduksi lebih banyak tukik betina.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sesar sedang melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah kurang lebih empat bulan di lapangan (Juni sampai September 2022) melakukan penelitian di Pantai Wembrak,  Elisa Secsio Hendra Putra atau biasa disapa Sesar, mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Papua akhirnya telah menyelesaikan penelitiannya tentang potensi cocomesh sebagai bahan alternatif untuk menaungi sarang-sarang yang terancam suhu pasir tinggi. Sesar menyelidiki kemampuan cocomesh dalam meningkatkan sukses penetasan sarang penyu belimbing dan menurunkan suhu pasir pada kedalaman sarang penyu belimbing (70 – 75 cm).

Pengaruh cocomesh terhadap sukses penetasan

Untuk mengetahui pengaruh cocomesh pada sukses penetasan sarang, Sesar membandingkan sukses penetasan sarang yang dilindungi dengan naungan cocomesh, naungan pakis, dan sarang tanpa perlindungan (kontrol). Diketahui dari evaluasi sukses penetasan sarang yang dijadikan sampel, terpantau sarang-sarang yang dilindungi daun pakis memiliki tingkat kesuksesan sarang yang lebih tinggi dibandingkan sarang yang dilindungi cocomesh. Namun tetap rata-rata hasil penetasan sarang yang dilindungi cocomesh lebih baik dibanding sarang yang tidak dilindungi sama sekali (sarang kontrol).

Kemampuan cocomesh menurunkan suhu pasir

Pengukuran suhu dilakukan selama kurang lebih tiga bulan menggunakan logger suhu yang ditanam pada kedalaman sarang (70 – 75 cm) di tiga wilayah dengan jarak tertentu di pantai Wembrak. Suhu rata-rata di pantai Wembrak berkisar pada 32°C; suhu ini melebihi batas suhu optimal yang diperlukan untuk inkubasi yaitu sekitar 29,50°C – 30,50°C. Jika tidak diberi naungan, sarang akan terancam gagal menetas. Naungan cocomesh mampu menurunkan suhu sebesar 0,73°C-0,86 °C. Sedangkan naungan pakis mampu menurunkan suhu 0,76°C-1,11°C. Naungan cocomesh mampu merendahkan suhu pasir pada kedalaman sarang penyu belimbing namun tidak sebaik naungan pakis.

Perlindungan sarang menggunakan naungan pakiscocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kesimpulan

Dari penelitian yang dilaksanakan Sesar, dapat disimpulkan bahwa naungan cocomesh mampu menurunkan suhu pasir pada kedalaman sarang dan berpotensi untuk meningkatkan sukses penetasan sarang yang terancam suhu pasir tinggi. Dengan terbatasnya daun pakis di pantai Wembrak, cocomesh menjadi bahan alternatif untuk naungan sarang di masa depan.

Sesar pernah mempresentasikan hasil penelitiannya melalui Sekolah Alam Virtual yang kami laksanakan. Jika sobat lestari tertarik, bisa melihat video rekamannya di sini dan bisa mendownload materi presentasinya di sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

Konservasi penyu ditayangkan melalui lensa digital di ISTS42 Thailand

Konservasi penyu ditayangkan melalui lensa digital di ISTS42 Thailand

Penulis

Abigail Lang dan Deasy Lontoh

Tanggal

22 April 2024

Dari padatnya kegiatan Simposium yang dilansir pada tulisan sebelumnya, Video Night menjadi salah satu agenda yang selalu ada di setiap symposium. Acara ini merupakan kesempatan belajar tentang kegiatan penelitian dan pelestarian penyu dari seluruh dunia. Dilansir dari tulisan sebelumnya, Video Night adalah bagian dari rangkaian acara ISTS (International Sea Turtle Symposium) 42 yang berlangsung selama 6 hari di Pattaya Thailand. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan final di hari pertama yang telah disiapkan oleh penyelenggara setelah makan malam. Video Night ini dilakukan pada jam 8-11 malam pada Selasa, 26 Maret 2024. Semua peserta symposium bisa masuk ke ruangan untuk dapat menyaksikan video dari berbagai macam komunitas/pemerintahan/kelompok konservasi.

Suasana saat penayangan Video Night
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Suasana saat penayangan Video Night
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Tim LPPM UNIPA yang menjadi salah satu perwakilan dari Asia Tenggara telah menyediakan video yang berdurasi sekitar 10 menit. Video ini dibuat dengan subtitle bahasa Inggris yang berisikan bagaimana dan apa saja yang dikerjakan oleh tim untuk melakukan Pelestarian Penyu Belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom. Saat pemutaran video berlangsung ada sekitar 40-50 orang yang menyaksikan video dari Tim LPPM UNIPA. Merupakan suatu kebanggan bagi tim untuk dapat mengambil kesempatan dengan memperkenalkan kegiatan yang dilakukan di lokasi kerja tim melalui media video. Selama video berlangsung, tim memang belum mendapatkan feedback secara langsung dari penonton karena video selanjutnya  langsung diputarkan.

Video dari Tim LPPM UNIPA di Website ISTS Thailand
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tonny)

Namun tidak selesai begitu saja, penyelenggara dari kegiatan ini juga mengunggahnya di website mereka di https://www.ists42thailand.org/ sehingga bisa ditonton kembali. Ada sekitar 2 penanggap yang memberikan feedback positif kepada tim LPPM UNIPA secara pribadi maupun tim, walaupun mereka tidak menonton langsung saat momen Video Night. Momen penayangan Video Night ini memberikan gambaran secara nyata yang telah dilakukan dari setiap grup atau komunitas yang menjadi peserta simposium. Cerita dari seluruh dunia bagaimana peran penting dari suatu grup dan komunitas ini diharapkan saling memberikan motivasi dan pengetahuan yang baru.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Kehidupan Sosial Masyarakat

Sasi Adat Di Pantai Jeen Yessa: Kearifan Lokal Untuk Melestarikan Penyu Yang Terancam Punah

Sasi Adat Di Pantai Jeen Yessa: Kearifan Lokal Untuk Melestarikan Penyu Yang Terancam Punah

Penulis

Tim Jeen Yessa dan Jeen Syuab

Tanggal

6 Desember 2021

Taman Pesisir Jeen Womom terdiri dari dua pantai peneluran, Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Sesuai SK Menteri Kelautan dan Perikanan No.53/KEPMEN-KP/2017, luasnya mencapai 32.250,88 Hektar. Pantai peneluran Jeen Yessa terdiri dari tiga pantai peneluran penyu, yaitu Pantai Wembrak, Pantai Batu Rumah, dan Pantai Warmamedi. Mulai tahun 2019, pemilik adat di desa Saubeba, Womom, dan Warmandi menerapkan Sasi Adat*) dengan melarang pengambilan hasil sumber daya alam tertentu, khususnya hewan endemik tertentu dan hewan migrasi. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kualitas dan populasi satwa langka, termasuk penyu, dari ancaman perburuan manusia di sekitar lokasi bertelur. Selama masa penutupan, masyarakat setempat sepakat untuk melarang perburuan**) spesies endemik tertentu, termasuk empat spesies penyu. Jika mereka menemukan hewan-hewan itu secara tidak sengaja terjerat dan mati dalam perangkap yang mereka buat, mereka akan mencatat dan melaporkannya kepada pemilik adat. Tetapi jika mereka menemukan hewan itu masih hidup, mereka akan melepaskannya.

Pemilik adat sepakat untuk menggelar upacara pembukaan Sasi pada 10 Juni 2021. Namun karena suatu hal, kegiatan diundur menjadi tanggal 11 Juni 2021. Usai upacara, masyarakat setempat dan pemilik adat memasang tali di sekitar pantai peneluran untuk menangkap hewan pemangsa (babi) yang mengancam sarang penyu. UNIPA memfasilitasi kegiatan ini dengan memberikan tali Polyplin (tali 5-7 mm) dan membuat billboard yang menginformasikan para pemburu di pantai Jeen Yessa tentang hewan-hewan tertentu yang dilarang untuk diburu.

Catatan kaki:

*)Sasi merupakan kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat setempat. Kata sasi berasal dari kata sanksi (saksi), mengandung pengertian larangan pemanfaatan sumber daya alam tertentu tanpa izin dalam waktu tertentu, yang bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat.

**)Kebanyakan orang di daerah ini berburu dan meramu setiap hari; mereka berburu di pantai dan hutan sebagai sumber makanan mereka.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya