Kategori
Uncategorized @id

Pelajar Pancasila: Aksi Nyata dalam Menjaga Lingkungan dan Masa Depan

Pelajar Pancasila: Aksi Nyata dalam Menjaga Lingkungan dan Masa Depan

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

18 September 2024

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah inisiatif pendidikan yang bertujuan untuk membentuk generasi pelajar Indonesia yang memiliki karakter kuat sesuai nilai-nilai Pancasila serta siap menghadapi tantangan abad ke-21. Program ini tidak hanya menekankan pada aspek kognitif, tetapi juga mengembangkan karakter, sikap, dan identitas diri pelajar sebagai warga negara yang mandiri dan berkepribadian. P5 menekankan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan akademik dan kecakapan hidup non-akademik, di mana peserta didik dilatih untuk mengalami pembelajaran secara langsung melalui metode berbasis proyek.

Kegiatan P5 di SMP Negeri 6 Manokwari dilaksanakan selama empat minggu berturut-turut pada bulan Agustus 2024, dengan fokus pada siswa kelas 9. Setiap minggunya, kegiatan penyuluhan diadakan dengan dukungan narasumber dan pendamping di masing-masing kelas 9A hingga 9I. Materi yang disampaikan setiap minggu mengangkat tema yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan, mulai dari pengenalan ekosistem, ancaman terhadap sumber daya alam, hingga solusi konkret yang bisa dilakukan untuk menjaga alam, seperti pengolahan sampah organik.

Pertemuan di ruang meeting sekolah sebelum memulai semua aktivitas di sekolah bersama para narasumber, guru dan volunteer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Salah satu narasumber dosen dari Universitas Papua yang sementara membawakan materi kepada para siswa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Pada minggu pertama, materi bertemakan “Mengenal Alam di Sekitar Kita” menyoroti pentingnya memahami ekosistem yang ada di sekitar siswa. Minggu kedua dilanjutkan dengan tema “Ancaman yang Dihadapi Sumber Daya Kita,” yang membahas dampak negatif aktivitas manusia terhadap lingkungan. Minggu ketiga mengangkat tema “Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Sumber Daya Alam Kita,” yang mengajak siswa berpartisipasi dalam menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana, seperti penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pada minggu terakhir, siswa diperkenalkan pada Teknik Pengolahan Sampah Organik untuk membuat pupuk kompos dan pupuk cair organik, yang bisa dimanfaatkan di rumah maupun sekolah.

Narasumber Universitas Papua yang sedang membawakan salah satu materi kepada siswa siswi di depan kelas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Narasumber Universitas Papua yang sedang membawakan salah satu materi kepada siswa siswi di depan kelas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Narasumber yang sedang membawakan ice breaking agar siswa tidak terlalu tegang dan bisa fokus ke materi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Para siswa yang sedang asik menikmati games ice breaking
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Untuk mengukur pemahaman siswa, setiap pertemuan disertai pre-test dan post-test yang dilakukan melalui aplikasi Kahoot. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Beberapa kelas mengalami peningkatan besar pada post-test, meskipun ada juga kelas yang mengalami kendala teknis, seperti keterbatasan perangkat dan gangguan jaringan. Meskipun begitu, hasil umumnya menunjukkan keberhasilan kegiatan ini dalam meningkatkan pengetahuan siswa akan pentingnya menjaga lingkungan.

Siswa siswi yang sedang fokus mengikut games kahoot untuk bisa mendapatkan hadiah menarik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Penyerahan hadiah pemenang games kahoot oleh narasumber
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Dukungan dari pihak sekolah juga sangat berperan dalam kesuksesan kegiatan ini. Sekolah menyediakan sarana seperti proyektor dan kabel roll, serta konsumsi bagi para narasumber dan pendamping. Selain itu, tim pelaksana juga dibantu oleh volunteer yang turut mendampingi kegiatan di kelas, memastikan semua berjalan lancar dari awal hingga akhir.

Secara keseluruhan, kegiatan P5 di SMP Negeri 6 Manokwari ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Para siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap melalui kegiatan ini, mereka akan menjadi agen perubahan yang peduli terhadap kelestarian alam dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berkepribadian sesuai nilai-nilai Pancasila.

Sayuran sisa rumah tangga yang dibawa oleh siswa siswi dipotong kecil-kecil untuk dipakai membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Sayuran dan daun-daun kering dimasukan ke dalam ember sebagai wadah tempat pembuatan kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Semangat para siswa siswi SMPN 6 Manokwari dalam membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Semangat para siswa siswi SMPN 6 Manokwari dalam membuat kompos
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Magical Moments to behold

Magical Moments to behold

Penulis

Qumi L Fajri

Tanggal

05 September 2024

Setelah menghabiskan kurang lebih 4 bulan ‘mendongengkan’ tentang penyu dan cara melindunginya dari kepunahan kepada anak-anak, rasanya kok kurang afdol ya, aku justru belum pernah melihat penyu sama sekali. Ya, mendongengkan, sebab eksistensinya hanya berupa cerita, tentang betapa mesmerizenya penyu bertelur atau betapa serunya momen saat melepas tukik.

Hingga pada suatu siang yang terik, Om Petrus (salah satu Kru yang bekerja di Pantai Jeen Syuab) datang ke rumah belajar dengan membawa sebuah kabar gembira. “kita ke pantai sekarang, ayo siap-siap” kalimat yang bagai angin sejuk bagiku yang baru saja pulih dari Malaria ini. Tanpa fa-fi-fu aku, Kak Ina, dan Harun (rekan kerja satu lokasi) bergegas mempersiapkan segala perlengkapan yang harus dibawa. Rencananya kami akan menginap di Pantai Wermon selama 3 hari 2 malam.

Pos Penyu Pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Kaka Ina dan Qumi berpose di depan gerbang Pos Pantai Wermon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Perjalanan menuju Pantai Wermon (saat ini di kenal dengan Pantai Jeen Syuab) membutuhkan waktu kurang lebih 30 menitan. Angin laut sejuk menerpa tubuh, pun dengan percikan air yang tak mau kalah ikut membasahi pakaian kami. Setibanya di Wermon, kami mengistirahatkan badan, mendinginkan kepala dari matahari ganas siang itu. Begitu matahari cukup bersahabat, pukul setengah lima sore kami menuju kandang relokasi untuk menggali sarang telur penyu yang telah menetas (kami belajar melakukan evaluasi dengan bimbingan kru). Berlomba-lomba tukik-tukik mungil memanjat keluar dari sarangnya. Momen pertama aku menyentuhnya, merasakan flippernya yang rapuh mengepak-ngepak di telapak tangan. I like it to feel there is small living creature in my hand.

Belajar untuk melakukan relokasi penyu di kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Tukik yang baru menetas di kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Setelah semua tukik berhasil dievakuasi, kami membawanya ke pantai untuk dilepaskan. Sebanyak 25 tukik kami lepaskan sore itu. Melihat flipper mungil itu berjalan menuju pantai, meninggalkan jejak indah panjang yang kemudian tersapu ombak, menjadi momen yang rasanya tidak akan pernah ku lupakan. It was fun tho! Dalam hati aku berdoa semoga mereka bisa hidup lama hingga jadi penyu dewasa.

Malam itu aku cepat-cepat beristirahat sebab tim patroller berencana mengajak kami melihat penyu tengah malam nanti. Namun sungguh malang, tiba-tiba demam menyerang tubuhku. Panas tinggi dan menggigil, persis apa yang ku rasakan beberapa hari sebelumnya saat malaria menyerang. “malaria sialan! Tidak tahu waktu sekali!” batinku saat itu. Akhirnya malam itu aku melewatkan ajakan patroli ke pantai.

Melepas tukik di pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Berfoto bersama penyu Belimbing di Pantai Jeen Syuab
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Qumi)

Esok paginya, demam masih betah bersarang dalam badan. Tubuhku lemas, kepalaku pening, tak mampu berbuat apa-apa. Sepanjang sisa hari aku hanya berbaring dalam sleeping bag, tidur pun tak nyenyak. Barulah aku bisa tidur nyenyak setelah mandi ukup dengan daun-daun dan kepalaku dikompres.

Sekitar pukul 8 malam, ada panggilan dari kru. Seekor Penyu Belimbing naik ke pasir di dekat rumah. Setelah mengumpulkan sisa tenaga yang kumiliki, dengan bantuan Kak Ina aku tertatih-tatih berjalan di pasir. Lengkap dengan jaket dan kaos kaki serta kain penutup badan untuk menghindari angin malam, aku berhasil tiba.

Si besar itu di sana, hitam, panjang dan bernafas berat. Sedang bertelur. Mama penyu pertama yang ku jumpai. Melihatnya bertelur, mendengarnya bernafas, menyentuh permukaan tubuhnya yang licin, a once in a lifetime moment. Lalu kami menunggunya berjalan kembali ke laut setelah berputar-putar sedemikian rupa di pasir, membuat kamuflase. Setelahnya aku berbaring di pasir, tak mampu menahan lemas dan pusing, Ditemani debur ombak dan bintang-bintang di langit malam itu, aku terpejam. Bersyukur atas segala limpahan karunia yang ku dapat hari itu, termasuk malaria di badan. A magical moments to behold.

Qumi adalah Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program pada Kampung Wau. Salah satu tugas Qumi adalah mengajarkan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang penyu kepada anak-anak di Rumah Belajar Wau

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Outreach Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Petualangan Seru di Sekolah Alam S4C

Petualangan Seru di Sekolah Alam S4C

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

25 Juli 2024

Selama 5 hari penuh kegembiraan, 5 anak sekolah dasar dari berbagai kelas berkumpul di Sekolah Alam Science for Conservation untuk mengalami pengalaman belajar yang luar biasa. Kegiatan ini diselenggarakan dari tanggal 08-12 Juli 2024.  Mereka diajak untuk menjelajahi alam, belajar dari lingkungan sekitar, dan mengembangkan keterampilan hidup yang berharga.

🍃 Hari 1: Kehidupan Bawah Laut 🍃
Anak-anak memulai petualangan mereka dengan mengenal dasar-dasar keanekaragaman hayati. Mereka belajar mengenali berbagai jenis hewan laut, serta memahami pentingnya menjaga terumbu karang bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Yusup mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang pentingnya terumbu karang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Yusup mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang hewan-hewan laut yang berbahaya
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

🏞️ Hari 2: Sampah yang harus dicegah 🏞️
Dengan bimbingan para mentor/pengajar, anak-anak diajarkan cara membedakan sampah organik dan anorganik, dan juga aktivitas membuat kompos dari sampah organik. Kami juga mengumpulkan sampah yang ada di sekitar lokasi acara, guna menanamkan rasa cinta kebersihan kepada anak-anak. Mereka juga dengan antusias menggali tanah, menanam bibit kangkung, dan menyiram tanaman sambil mempelajari pentingnya pertanian organik.

Kartika mengajar ke siswa Sekolah Alam tentang cara membuat kompos dari bahan organik
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Anak-anak berpose dengan botol daur ulang yang disulap jadi pot untuk tanaman
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

🌊 Hari 3: Sampah akan kemana kalau dibuang sembarangan ? 🌊
Kegiatan hari ketiga penuh dengan jalan-jalan seru! Anak-anak diajak berkeliling kota untuk melihat kemana sih sampah kita akan dibuang ? Dimulai dari melihat TPS hingga menuju ke TPA. Mereka juga sempat melihat sampah yang dibuang ke dalam got, dan menimbulkan banjir dan juga sampah yang mengalir kelaut yang dapat membahayakan hewan laut yang memakan sampah tersebut.

Anak-anak Sekolah Alam diajak mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir sampah yang ada di Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

🔥 Hari 4: Alat tangkap ikan 🔥
Anak-anak belajar memahami asal dari ikan yang mereka konsumsi. Pengenalan tentang alat tangkap yang biasa digunakan untuk menangkap ikan, dan membedakan alat tangkap yang ramah lingkungan dan tidak. Anak-anak juga diajar untuk menangkap ikan secukupnya saja dan tidak berlebihan demi keberlangsungan ekosistem.

🎨 Hari 5: Seni dari Alam 🎨
Petualangan diakhiri dengan membahas kembali materi yang didapat dari hari pertama sampai dengan hari keempat. Selain itu juga ada aktivitas bermain clay dough/ lilin, dimana dibutuhkan kreativitas dari anak-anak untuk berimajinasi untuk membuat bentuk kesukaan mereka. Selain itu juga anak-anak diberikan hadiah atas keaktifan mereka dalam menjawab, bertanya, dan sikap mereka selama mengikuti kegiatan sekolah alam ini. Semuanya tercatat di papan score board.

Kegiatan Sekolah Alam ini tidak hanya untuk belajar, tetapi mereka juga mengembangkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap alam. Semoga pengalaman ini memberikan kenangan indah dan pembelajaran berharga yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Peserta Sekolah Alam diajar oleh Bernadus untuk mengetahui alat tangkap yang ramah lingkungan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Anak-anak berfoto dengan hadiah yang diberikan atas keaktifan mereka di Sekolah Alam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Prisca)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Drone di Langit Tambrauw: Menyusun Peta Kelapa di Pesisir Kabupaten Tambrauw

Drone di Langit Tambrauw : Menyusun Peta Kelapa di Pesisir Kabupaten Tambrauw

Penulis

Mikardes Albert, Kartika Zohar

Tanggal

27 Juni 2024

Mengawali Juni 2024, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tambrauw bersama Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA melakukan kegiatan survei pendataan luas kebun kelapa di pesisir Kabupaten Tambrauw. Dengan memanfaatkan teknologi drone, kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh data akurat mengenai jumlah tegakan pohon kelapa, yang kemudian akan dianalisis lebih lanjut. Program ini merupakan bagian dari upaya Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tambrauw untuk menyediakan data yang mendukung pengelolaan dan pemanfaatan kelapa di distrik-distrik sepanjang pesisir.

Tim survei, yang terdiri dari Kepala Bidang Perkebunan Urusan Produksi dan Komoditi Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw Cosmas Aibesa, Staff Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA Mikardes Albert, ahli drone dari Fakultas Kehutanan UNIPA Zulfikar Mardiyadi dan assistant-nya Victor Mandacan, menghabiskan lima hari dalam perjalanan ini. Mereka mengumpulkan data dari 26 kampung di enam distrik. Ekspedisi dimulai dari Manokwari menggunakan mobil double cabin Hilux, dengan pemberhentian pertama di Distrik Amberbaken yang meliputi Kampung Wekari, Saukorem, Wefiani, Warpaperi, Manggapnud, dan Waramui.

Bapak Kepala Bidang Perkebunan Urusan Produksi dan Komoditi Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw sedang berdiskusi dengan masyakat tentang tujuan pemetaan dusun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan dusun kelapa di kampung imbuan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Perjalanan kemudian berlanjut ke Distrik Amberbaken Barat yang mencakup Kampung Saurabon dan Inbuan, dilanjutkan ke Distrik Abun (Kampung Waibem, Wau, Weyaf, Syukwo—pendataan di Syukwo dilakukan menggunakan satelit karena hujan). Tim juga mengunjungi Distrik Tobouw (Kampung Resye dan Womom), Distrik Kwoor (Kampung Kwoor, Hopmaree, dan Esmambo), dan Distrik Bikar (Kampung Werur, Wertam, Werwaf, Wertim, Werbes, dan Bikar). Terakhir, data dikumpulkan dari Distrik Sausapor yang mencakup Kampung Wembru, Sausapor, dan Jokte.

Pemetaan dusun kelapa di distrik kwoor
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan dusun kelapa di kampung Samfarmum dan Saurabon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan kelapa di kampung Wekari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Pemetaan kelapa di Wefiani sambil makan siang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Secara teknis, data diambil dari 17 titik dengan drone yang merekam informasi mengenai luas pohon kelapa. Tantangan utama dalam perjalanan ini adalah cuaca buruk dan kondisi jalan yang rusak, mengharuskan tim menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk mobil, perahu, pesawat, dan kapal.

Saat ini, data yang dikumpulkan sedang dalam tahap analisis untuk mengetahui jumlah pohon kelapa di sepanjang pesisir Tambrauw. Data ini akan menjadi dasar penting bagi Pemerintah Kabupaten Tambrauw, khususnya Dinas Pertanian dan Pangan, dalam mengambil kebijakan terkait pengelolaan komoditi kelapa di masa depan.

Drone yang digunakan untuk pemetaan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Dusun kelapa yang ada di Kampung Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Melindungi Penyu, Memberdayakan Kampung: Cerita Monitoring dan Evaluasi dari Kampung-kampung di Taman Pesisir Jeen Womom

Melindungi Penyu, Memberdayakan Kampung: Cerita Monitoring dan Evaluasi dari Kampung-kampung di Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Kartika Zohar, Putri Kawilarang, Mika Palimbong

Tanggal

11 Juni 2024

Di sekitar Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, lima kampung hidup berdampingan dengan alam yang indah dan penuh tantangan. Sejak tahun 2013, Program Sains untuk Konservasi dari LPPM UNIPA telah menjalin kemitraan erat dengan masyarakat lokal dalam upaya melindungi penyu belimbing yang bertelur di pantai-pantai mereka. Program ini bukan hanya tentang konservasi, tetapi juga tentang memberdayakan masyarakat dan membangun masa depan yang lebih baik.

Setiap hari pada semester pertama tahun 2024, terdapat 8-9 tenaga pendamping masyarakat dan narahubung yang bekerja di empat lokasi dengan mencakup lima kampung. Mereka fokus pada dua bidang utama: peningkatan perekonomian dan pendidikan. Dalam bidang perekonomian, pendamping membantu masyarakat mengolah kelapa menjadi minyak, membuat noken dari benang, dan memproduksi cocomesh untuk melindungi sarang penyu. Produk-produk ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, baik secara ekonomi maupun lingkungan.

Salah satu kegiatan monev yang dilakukan yaitu Diskusi terkait progress pembuatan cocomesh di Kampung Resya dan Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Salah satu kegiatan monev yang dilakukan yaitu Menguji mesin peras santan di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Di bidang pendidikan, para pendamping mengajar anak-anak di Rumah Belajar. Mereka mengajarkan enam kemampuan dasar: membaca, menulis, berhitung, pendidikan lingkungan hidup, komputer, dan bahasa Inggris dasar. Mereka juga membantu proses belajar mengajar di sekolah-sekolah dasar yang berada pada kampung-kampung ini.

Untuk memastikan program berjalan lancar dan menghadapi setiap tantangan, tim pemberdayaan masyarakat melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) secara rutin. Kegiatan Monev dilakukan bersamaan dengan jadwal kapal, yang membawa tim dari Manokwari ke kampung-kampung yang tersebar di sepanjang TP Jeen Womom.

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Wau-Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Tim Monev bersama dengan Tim PMNH di Kampung Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Pada 21 Mei 2024, tim Monev berangkat dari Manokwari dengan kapal Sabuk Nusantara 112. Kami tiba di Kampung Resye dan Womom pada 23 Mei, memulai perjalanan selama 11 hari yang menantang. Dalam setiap kunjungan, kami membawa daftar tugas yang telah disusun dengan cermat, termasuk mendokumentasikan kegiatan di lapangan, mengecek pelaksanaan program, mencari solusi atas kendala, mengisi form inventarisasi, dan mengantar logistik.

Meskipun perjalanan ini melelahkan, momen ketika berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan perahu, serta berdiskusi dengan tim dan masyarakat selalu menyenangkan. Pertemuan dengan semua tim di lapangan memberikan semangat baru dan perasaan senang ketika mengetahui mereka dalam keadaan sehat.

Tim monev berpindah pindah dari satu kampung ke kampung lain menggunakan perahu kecil
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Tim monev mengantar logistik ke tim PMNH yang ada di lapang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Setiap sesi ngobrol panjang lebar tentang kehidupan di lapangan selalu menyedot waktu berjam-jam. Salah satu momen paling ditunggu adalah pertukaran makanan. Tim Monev menikmati makanan kampung seperti pisang rebus, kasbi rebus, sayuran dari kebun, dan daging hasil buruan. Sementara itu, teman-teman di lapangan sangat antusias menerima tempe dan “sayur kota” seperti wortel dan kentang yang dibawa oleh tim Monev. Meskipun sederhana, tapi tempe dan “sayur kota” hanya bisa mereka nikmati saat ada tim yang membawa dari kota.

Waktu 11 hari yang terlihat panjang terasa sangat cepat karena interaksi yang hangat dan diskusi yang panjang. Tim Monev mengunjungi semua tim lapangan di Kampung Resye, Womom, Batu Rumah, Syukwo, dan Wau-Weyaf. Kegiatan Monev bulanan ini memberikan dorongan semangat baru bagi semua orang, membangun harapan, dan memastikan bahwa upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan dapat terus berlanjut dengan baik.

Dengan setiap perjalanan yang tercipta, Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA dan masyarakat Jeen Womom semakin erat terhubung, saling menguatkan dalam upaya melestarikan penyu belimbing dan membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Menikmati indahnya sunset di pantai Saubeba (Resye)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Putri Kawilarang)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Hubungan Publik Pemerintah Daerah Kabupaten

Berbagi Cerita Hasil Kegiatan Upaya Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dan Pemberdayaan serta Penjangkauan Masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten Tambrauw

Berbagi Cerita Hasil Kegiatan Upaya Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dan Pemberdayaan serta Penjangkauan Masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten Tambrauw

Penulis

Kartika Zohar, Deasy Lontoh, Fitryanti Pakiding, Abraham Leleran

Tanggal

05 Juni 2024

Program Sains untuk Konservasi Menghubungkan Sains dengan Inovasi untuk Upaya Konservasi Penyu Belimbing yang Holistik di Bentang Laut Kepala Burung adalah bagian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua. Program ini telah secara rutin mendapat rekomendasi untuk bekerja dari Pemerintah Kabupaten Tambrauw dalam upaya pemantauan penyu dan perlindungan sarang serta pemberdayaan dan penjangkauan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya.

Diskusi dan persiapan presentasi hasil kegiatan monitoring penyu di Ruang meeting Sekretariat Daerah Kabupaten Tambrauw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Kegiatan presentasi oleh Tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA dengan Bapak Sekretaris Daerah Kabupaten Tambrauw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Berdasarkan surat rekomendasi No: 660/340/2022 bahwa hasil kegiatan yang dilakukan di kawasan TP Jeen Womom perlu disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Tambrauw, maka pada 16 Mei 2024 lalu, Ketua Pelaksana Program Sains untuk Konservasi Fitryanti Pakiding bersama tim program bertemu dengan pimpinan Kabupaten yang diwakili oleh PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM untuk menyampaikan secara langsung hasil-hasil kegiatan yang telah dilakukan baik di pantai peneluran maupun di kampung-kampung sekitar kawasan. Rencana awal untuk bertemu secara langsung dengan PJ Bupati Tambrauw Engelbertus Gabriel Kocu, S.HUT.,MM harus batal karena pada waktu yang bersamaan PJ Bupati sedang dinas di luar Tanah Papua.

Kegiatan Presentasi dari program Monitoring penyu yang di sampaikan oleh Ibu Deasy Lontoh kepada Sekda dan beberapa staf Setda Kabupaten Tambrauw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Foto Bersama dengan Bapak SEKDA Kabupaten Tambrauw usai kegiatan presentasi hasil kegiatan monitoring penyu di taman Pesisir Jeen Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Pada pertemuan tersebut PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM menyambut baik tim yang hadir dan berdiskusi banyak tentang dampak kegiatan di lapangan. Tim Program Sains untuk Konservasi memaparkan presentasi yang berisi capaian dan juga tantangan yang dihadapi selama bekerja pada 2 tahun periode rekomendasi. Diskusi-diskusi menarik tercipta ketika PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM mengetahui tentang jumlah sarang penyu yang berada di wilayah kerjanya adalah yang terbesar di kawasan pasifik. Diskusi lain yang tidak kalah serunya adalah tentang tantangan untuk meningkatkan penghasilan masyarakat Tambrauw yang berada di kawasan konservasi ini. Tim Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA juga menyampaikan bagaimana manfaat yang telah diterima baik secara langsung maupun secara tidak langsung oleh masyarakat.

Penyerahan Laporan hasil kegiatan monitoring penyu di Taman Pesisir Jeen Womom ke Dinas Pariwisata Kabupaten Tambrauw
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Bertemu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tambrauw sekaligus menyerahkan Laporan hasil kegiatan monitoring penyu di Taman Pesisir Jeen Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Bram)

Tidak terasa diskusi telah berlangsung 3 jam, semua uraian aktifitas, tantangan, dan rencana ke depan telah disampaikan secara langsung kepada PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM. Mengakhiri diskusi, beliau menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang telah terjalin selama ini antara LPPM UNIPA dan Pemerintah Kabupaten Tambrauw, dan mengharapkan agar pekerjaan baik yang telah dilakukan dapat dilanjutkan untuk tahun berikutnya. Pemerintah Kabupaten Tambrauw mendukung secara penuh dan akan memberikan rekomendasi lanjutan untuk melanjutkan upaya pemantauan dan perlindungan sarang penyu yang dilakukan di TP Jeen Womom karena PJ Sekretaris Daerah Tambrauw M Zen Hayatudin, S.IP, MM menilai bahwa kegiatan ini telah memberikan manfaat tidak hanya bagi penyu namun juga bagi masyarakat di kawasan tersebut.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Dari Pantai untuk Masa Depan: Pendidikan Konservasi Penyu bagi Anak-Anak Kampung Syukwo

Dari Pantai untuk Masa Depan: Pendidikan Konservasi Penyu bagi Anak-Anak Kampung Syukwo

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Juni 2024

Pemberdayaan masyarakat yang tinggal dekat dengan wilayah Taman Pesisir Jeen Womom adalah salah satu program dari Program Sains untuk Konservasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat pada 5 kampung lewat pendidikan dan perekonomian. Dalam menjalankan kegiatan ini, dibutuhkan Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) yang tinggal di kampung-kampung tersebut untuk mendampingi masyarakat.

Rumah belajar di kampung Syukwo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Proses belajar di RUmah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Salah satu tugas tenaga PMNH adalah meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan informal sebagai “guru” bagi anak-anak usia sekolah dasar di kampung tempat mereka mengabdi, lewat kegiatan di Rumah Belajar. Selain mengajarkan ilmu baca, menulis dan berhitung (calistung), mereka juga mengajarkan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada anak-anak tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh tenaga PMNH di Kampung Syukwo, Armandho Rumpaidus (Andho) dan Valentinday Ronsumbre (Valen). Biasanya mereka mengadakan kegiatan belajar mengajar di Rumah Belajar, tapi kali ini untuk kegiatan PLH, mereka mengajak anak-anak pergi ke Pantai Batu Hitam untuk belajar sambil bermain. Lokasi kegiatan belajar di alam ini tidak terlalu jauh dari kampung mereka dan tetap dalam pengawasan orang dewasa.

Perjalanan menuju Pantai Batu Hitam
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Proses belajar di RUmah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Kegiatan pembelajaran PLH oleh PM
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Materi PLH yang mereka ajarkan adalah “Belajar Mengenal dan Menjaga Penyu”. Mereka mengajak anak-anak belajar di pantai supaya pembelajaran jadi lebih praktis dan interaktif. Di bawah langit biru, di bawah pohon rindang, dan ditemani suara ombak, anak-anak semangat mengikuti pelajaran di pantai. Andho dan Valen mengajarkan tentang penyu, mulai dari perbedaan penyu dan kura-kura, jenis-jenis penyu di dunia dan di Papua Barat, siklus hidup penyu, bahaya dan larangan makan telur dan daging penyu, sampai berbagai ancaman yang dihadapi tukik dan penyu di darat dan laut. Semua anak-anak terlihat antusias saat mendengarkan materi dan juga bersemangat saat Andho dan Valen memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka.

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Setelah sesi materi selesai, akhirnya tiba saat yang ditunggu oleh anak-anak, yaitu bermain di pantai dan berenang. Namun, sebelum mengakhiri pembelajaran, Andho dan Valen memberikan tugas kepada anak-anak untuk membuat contoh perlindungan sarang penyu bersama-sama. Setelah diberikan arahan, mereka sangat antusias mencari kayu dan daun untuk membuat “replika” perlindungan sarang penyu berupa pagar di sekeliling sarang dan naungan di atasnya.

Sebagian anak mencari kayu, sebagian mencari daun. Setelah itu mereka menyusun kayu-kayu tersebut menjadi bentuk pagar dan daun menjadi naungan. Mereka sudah tahu dan mengerti syarat-syarat membuat perlindungan sarang yang tepat seperti jarak dan diameter antar kayu. Hasil dari belajar di alam ini membuat anak-anak lebih mudah untuk memahami materi dengan baik, mengetahui cara membuat perlindungan sarang penyu secara langsung, dan mereka juga menjadi lebih bersemangat untuk menambah pengetahuan baru tentang alam dan lingkungan mereka. Sebagai penutup dari kegiatan PLH, anak-anak kemudian bersenang-senang dengan berenang hingga sore hari.

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Belajar membuat perlindungan sarang
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Kami sadar bahwa upaya konservasi butuh waktu yang cukup lama dan butuh dukungan masyarakat lokal. Oleh karena itu, materi PLH ini sangat penting bagi anak-anak di rumah belajar. Di masa depan, kami berharap mereka akan menjadi generasi penerus yang siap menjadi penjaga penyu di Taman Pesisir Jeen Womom.

Anak-anak berenang di pantai setelah kegiatan PLH selesai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jane)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring

Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan : Kisah Komunitas Wau dan Weyaf Membangun Kandang Relokasi Penyu

Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan: Kisah Komunitas Wau dan Weyaf Membangun Kandang Relokasi Penyu

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

03 Juni 2024

Di Kampung Wau dan Weyaf, komunitas Gereja Katolik penuh semangat dan kebersamaan, berupaya mengumpulkan dana untuk kegiatan Natal di Gereja Katolik St. Agustinus Wau. Mereka mengajukan kepada Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA terutama untuk kru monitoring penyu di Pantai Jeen Syuab untuk membangun kandang relokasi penyu di lokasi tersebut. Mereka berharap dapat dana yang terkumpul dari pembuatan kandang relokasi tersebut dapat menjadi pemasukan untuk kegiatan Natal di gereja mereka.

Pantai Jeen Syuab dengan pasir hitam yang panjang merupakan tempat ideal bagi penyu untuk bertelur. Namun pantai ini tidak lepas dari berbagai ancaman seperti invasi akar Ipomoea sp., suhu pasir tinggi, predasi, abrasi pantai, dan genangan air pasang. Pemindahan sarang ke kandang relokasi merupakan strategi yang diterapkan tim LPPM UNIPA untuk melindungi dari ancaman tersebut. Menyadari hal ini, masyarakat Katolik di Wau dan Weyaf berinisiatif untuk membantu mendirikan kandang relokasi sebagai bagian dari usaha konservasi yang juga bisa memberikan pemasukan untuk kas gereja mereka.

Pekerjaan pembangunan kandang dimulai dengan semangat yang membara. Hari yang dijadwalkan pun tiba, warga dari berbagai kalangan usia berkumpul di pantai, total kurang lebih ada sekitar belasan orang. Mereka membawa bahan-bahan yang diperlukan, seperti bambu, daun kelapa, alat-alat pertukangan dan bahan makanan. Setiap orang memiliki peran masing-masing: kaum pria dan pemuda bertugas menggali lubang dan memasang tiang-tiang kayu, sementara para wanita menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja.

Pengiriman bahan pembuatan kandang menggunakan perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pembuatan tenda untuk masyarakat yang tinggal di pantai peneluran Wermon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari pertama, suasana penuh dengan semangat gotong royong. Masyarakat bahu membahu untuk membersihkan lokasi kandang relokasi; disitu banyak sekali tanaman patatas pantai (Ipomoea sp.) yang tumbuh sebagai hama. Masyarakat memotong, membabat dan mencangkul area sekitar itu agar bersih dari tanaman tersebut. Setelah itu dilakukan penggalian pasir di area tersebut agar tanah tersebut betul-betul bersih dari akar tanaman patatas pantai yang masih merayap ke dalam pasir. Cuaca yang sangat panas dan terik tidak membuat surut semangat masyarakat yang bekerja.

Hari kedua, konstruksi mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Area kandang yang sudah bersih dari tanaman hama akan dipasang kayu sebagai tiang bangunan. Masyarakat membagi tugas, ada yang pergi ambil kayu di hutan untuk dijadikan tiang penyangga kandang relokasi, ada juga yang mengukur dan mematok untuk menancapkan tiang tersebut.

Pembersihan petatas pantai untuk nantinya dibangun kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pemasangan patok untuk nantinya ditancapkan tiang kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Setelah tiang berdiri, mereka membuat atap dan menggunakan jaring paranet, daun kelapa dan pakis agar suhu pasir di kandang menjadi lebih teduh untuk menaruh telur-telur penyu. Seluruh proses dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk memastikan keamanan telur penyu yang akan direlokasi ke kandang tersebut. Ketika pekerjaan hampir selesai, anak-anak kampung dengan riang gembira membantu membersihkan sisa-sisa material dan merapikan area sekitar kandang.

Setelah dua hari yang penuh kerja keras, kandang relokasi penyu di Pantai Jeen Syuab akhirnya berdiri kokoh. Terpancar kegembiraan karena pekerjaan tersebut telah selesai dengan baik. Selain itu juga masyarakat kampung juga sempat melakukan proses pelepasan tukik ke laut pada sore hari saat sunset tenggelam di ufuk barat.

Tancap tiang kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kandang relokasi yang dibuat oleh masyarakat selesai didirikan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Dana yang diperoleh dari proyek konservasi ini sangat berarti bagi masyarakat Wau dan Weyaf terutama bagi Masyarakat Katolik di kampung tersebut. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk mempersiapkan acara Natal di gereja Katolik.

Kisah masyarakat Katolik di Wau dan Weyaf ini mencerminkan sinergi antara upaya pelestarian lingkungan dan penggalangan dana komunitas. Dengan membangun kandang relokasi penyu, mereka tidak hanya berkontribusi pada kelestarian ekosistem penyu di Pantai Jeen Syuab, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di kampung mereka. Di balik setiap tiang kayu, bambu dan jaring yang terpasang, tersembunyi cerita tentang ketekunan, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Cahaya Harapan di Wau Weyaf

Penulis

Michael Tuhuteru

Tanggal

29 Mei 2025

Di sudut terpencil Kampung Wau Weyaf, berdiri sebuah bangunan sederhana yang dikenal sebagai Rumah Belajar. Meski jauh dari kemewahan kota, rumah ini menjadi cahaya harapan bagi anak-anak di kampung tersebut. Rumah Belajar ini disewa oleh Program Sains untuk Konservasi di bawah naungan LPPM UNIPA dan diisi oleh sekelompok pengajar muda yang memiliki tekad kuat untuk membawa pendidikan di daerah terpencil ini.

Penampakan kampung Wau Weyaf dari ketinggian
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Penerangan di Rumah Belajar pada malam hari, dengan daya yang disimpan solar cell
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Kampung Wau Weyaf terletak di daerah yang tidak terjangkau oleh listrik konvensional. Bukan hanya di kampung Wau Weyaf saja, tetapi hampir sebagian besar kampung di pesisir Bentang Laut Kepala Burung Papua tidak terjangkau oleh Listrik.

Di sini, malam datang lebih cepat dan aktivitas sering terhenti karena kegelapan. Namun, para pengajar di Rumah Belajar tidak menyerah. Mereka menemukan solusi dengan menggunakan solar cell untuk mengisi daya laptop, alat-alat elektronik lainnya dan juga untuk penerangan sederhana di malam hari.

Penampakan solar cell diatas rumah belajar Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Aki untuk menampung daya yang diserap oleh solar cell
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Setiap pagi, ketika matahari terbit, solar cell yang dipasang di atap rumah mulai bekerja, menyerap energi yang akan digunakan sepanjang malam, untuk mengisi baterai laptop dan handphone agar pengajar bisa memakainya untuk mengajar tentang komputer, mengirimkan berita kepada keluarga mereka, serta menulis laporan kepada manajemen program di Manokwari.

Setiap harinya, anak-anak kampung dengan semangat datang ke Rumah Belajar. Mereka tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga dikenalkan dengan dunia komputer. Bagi anak-anak ini, laptop adalah jendela ke dunia yang lebih luas, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa mereka impikan.

Ina salah satu pengajar di Rumah Belajar mengajarkan komputer kepada murid RB Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Ina mengajarkan cara mengetik dasar kepada anak Rumah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Ina, Qumi dan Harun adalah para pengajar yang penuh semangat dan kreatif. Mereka mengajarkan anak-anak di rumah belajar tentang dasar-dasar komputer. Banyak pelajaran tentang komputer yang diajarkan, mulai dari pengenalan alat-alat elektronik yang berhubungan dengan komputer itu sendiri bahkan untuk pelajaran dasar seperti cara mengetik, menyalakan dan mematikan laptop juga diajarkan kepada mereka. Meski sederhana, bagi anak-anak ini, setiap pelajaran adalah petualangan baru.

Terkadang, hujan deras mengguyur Kampung Wau Weyaf selama beberapa hari berturut-turut. Langit yang mendung membuat solar cell tidak mendapatkan cukup sinar matahari untuk mengisi daya. Hal ini tidak membuat surut semangat Ina dan tim untuk menyerah. Mereka pergi ke penduduk kampung yang menyalakan genset untuk mengisi daya alat-alat elektronik seperti laptop dan handphone.

Harun sedang mengajarkan alat-alat pendukung komputer kepada anak-anak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Qumi mengajarkan perhitungan dasar kepada anak-anak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)

Rumah Belajar di Kampung Wau Weyaf bukan sekadar tempat belajar. Itu adalah simbol harapan dan ketekunan. Para pengajar di sana membuktikan bahwa dengan sedikit inovasi dan banyak dedikasi, mereka bisa mengubah masa depan anak-anak meski dalam kondisi yang serba terbatas. Di setiap pelajaran, di setiap malam yang diterangi cahaya solar cell, dan di setiap cerita di bawah bintang, mereka menanamkan mimpi dan harapan yang suatu hari akan membuahkan hasil.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Pembekalan Kru Musim Teduh 2024

Pembekalan Kru Musim Teduh 2024

Penulis

Yusuf Jentewo & Deasy Lontoh

Tanggal

28 Mei 2024

Musim peneluran penyu belimbing di bulan-bulan laut teduh di tahun 2024 dimulai pada bulan April sampai September. Untuk mempersiapkan tim, pada tanggal 16 sampai 18 April 2024 tim mendapat pembekalan. Pembekalan ini bertajuk “Peningkatan Kapasitas Bagi Tim Pelaksana Program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang Tahun 2024”. Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Ir. Budi Santoso, M.P selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) di Ruangan Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) UNIPA.

Kegiatan ini dihadiri total 13 peserta yang terdiri dari 4 orang koordinator pantai peneluran (KP2), 6 orang tenaga lapangan pantai peneluran (TLP2), 3 orang tenaga perlindungan sarang periode 1 (April – Juli). Selain peserta yang langsung hadir di lokasi kegiatan, turut hadir tenaga perlindungan sarang periode 2 (Juli – Oktober) secara online berjumlah tiga orang. Dalam tim, terdapat tiga pemuda yang berasal dari kampung yang berdekatan dengan pantai peneluran yaitu Sergius Asrouw dari kampung Imbuan, Danyel Bafat dan Yesaya Arnol Bame dari kampung Weyaf. Terdapat pula partisipasi perempuan dalam tim yaitu Anthoneta Martenci Awak dari Tambrauw dan Loise Liberta Loar dari Manokwari.

Koordinator penelitian sedang menerangkan biologi penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Koordinator Monitoring sedang menjelaskan lokasi kerja kru
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Pada hari pertama peserta mendapat materi terkait pengenalan Program Sains untuk Konservasi, biologi penyu, cara membedakan penyu dan mengenal lokasi kerja yakni Taman Pesisir Jeen Womom. Hari kedua, peserta mendapatkan materi mengenai patroli pagi, patroli malam, belajar metode perlindungan sarang, metode evaluasi sukses penetasan sarang dan cara menulis buku catatan dan log harian. Pada hari terakhir peserta belajar mengenai sistem keuangan, mengukur lebar pantai, dan membahas program kerja tim. Narasumber dalam kegiatan pembekalan ini adalah koordinator program pemantauan penyu dan perlindungan sarang, koordinator penelitian, beberapa asisten koordinator, serta koordinator pantai turut berbagi dalam beberapa kesempatan materi.

Yusup salah satu asisten koordinator sedang menjelaskan terkait cara membedakan penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Christy Tabita)

Titi salah seorang asisten koordinator sedang menjelaskan terkait alur keuangan kantor
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Yusup Jentewo)

Secara umum kegiatan ini berjalan lancar, peserta yang baru bergabung menyatakan sangat senang mendapat informasi penting yang berguna untuk dipakai saat bekerja di lapangan dan bagi anggota lama ini merupakan penyegaran materi agar mereka tetap terasah ilmunya. Kegiatan ini ditutup oleh Ibu Fitry Pakiding, Ph.D selaku Koordinator Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya