
Cahaya Harapan di Wau Weyaf
Penulis
Michael Tuhuteru
Tanggal
29 Mei 2025
Di sudut terpencil Kampung Wau Weyaf, berdiri sebuah bangunan sederhana yang dikenal sebagai Rumah Belajar. Meski jauh dari kemewahan kota, rumah ini menjadi cahaya harapan bagi anak-anak di kampung tersebut. Rumah Belajar ini disewa oleh Program Sains untuk Konservasi di bawah naungan LPPM UNIPA dan diisi oleh sekelompok pengajar muda yang memiliki tekad kuat untuk membawa pendidikan di daerah terpencil ini.
Penampakan kampung Wau Weyaf dari ketinggian
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)
Penerangan di Rumah Belajar pada malam hari, dengan daya yang disimpan solar cell
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)
Kampung Wau Weyaf terletak di daerah yang tidak terjangkau oleh listrik konvensional. Bukan hanya di kampung Wau Weyaf saja, tetapi hampir sebagian besar kampung di pesisir Bentang Laut Kepala Burung Papua tidak terjangkau oleh Listrik.
Di sini, malam datang lebih cepat dan aktivitas sering terhenti karena kegelapan. Namun, para pengajar di Rumah Belajar tidak menyerah. Mereka menemukan solusi dengan menggunakan solar cell untuk mengisi daya laptop, alat-alat elektronik lainnya dan juga untuk penerangan sederhana di malam hari.
Penampakan solar cell diatas rumah belajar Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)
Aki untuk menampung daya yang diserap oleh solar cell
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)
Setiap pagi, ketika matahari terbit, solar cell yang dipasang di atap rumah mulai bekerja, menyerap energi yang akan digunakan sepanjang malam, untuk mengisi baterai laptop dan handphone agar pengajar bisa memakainya untuk mengajar tentang komputer, mengirimkan berita kepada keluarga mereka, serta menulis laporan kepada manajemen program di Manokwari.
Setiap harinya, anak-anak kampung dengan semangat datang ke Rumah Belajar. Mereka tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga dikenalkan dengan dunia komputer. Bagi anak-anak ini, laptop adalah jendela ke dunia yang lebih luas, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa mereka impikan.
Ina salah satu pengajar di Rumah Belajar mengajarkan komputer kepada murid RB Wau Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)
Ina mengajarkan cara mengetik dasar kepada anak Rumah Belajar
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)
Ina, Qumi dan Harun adalah para pengajar yang penuh semangat dan kreatif. Mereka mengajarkan anak-anak di rumah belajar tentang dasar-dasar komputer. Banyak pelajaran tentang komputer yang diajarkan, mulai dari pengenalan alat-alat elektronik yang berhubungan dengan komputer itu sendiri bahkan untuk pelajaran dasar seperti cara mengetik, menyalakan dan mematikan laptop juga diajarkan kepada mereka. Meski sederhana, bagi anak-anak ini, setiap pelajaran adalah petualangan baru.
Terkadang, hujan deras mengguyur Kampung Wau Weyaf selama beberapa hari berturut-turut. Langit yang mendung membuat solar cell tidak mendapatkan cukup sinar matahari untuk mengisi daya. Hal ini tidak membuat surut semangat Ina dan tim untuk menyerah. Mereka pergi ke penduduk kampung yang menyalakan genset untuk mengisi daya alat-alat elektronik seperti laptop dan handphone.
Harun sedang mengajarkan alat-alat pendukung komputer kepada anak-anak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)
Qumi mengajarkan perhitungan dasar kepada anak-anak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mike)
Rumah Belajar di Kampung Wau Weyaf bukan sekadar tempat belajar. Itu adalah simbol harapan dan ketekunan. Para pengajar di sana membuktikan bahwa dengan sedikit inovasi dan banyak dedikasi, mereka bisa mengubah masa depan anak-anak meski dalam kondisi yang serba terbatas. Di setiap pelajaran, di setiap malam yang diterangi cahaya solar cell, dan di setiap cerita di bawah bintang, mereka menanamkan mimpi dan harapan yang suatu hari akan membuahkan hasil.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
