Monitoring dilaksanakan dengan menggunakan live aboard – KLM Jaya selama 9 hari pada tanggal 8 – 16 Mei 2018. KLM Jaya digunakan sebagai home-based tim monitoring dan dilengkapi dengan 2 dinghy untuk mendukung pelaksanaan monitoring. Speedboat Indaf dari pos pengawasan Ayau Kecil dan Insonem dari Ayau Besar, digunakan untuk mendukung kegiatan monitoring sehingga dapat berjalan lebih cepat dan untuk meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki kegiatan monitoring dari masyarakat lokal dan tim monitoring BLUD-UPTD Raja Ampat.KKPD Kepulauan Ayau-Asia, dan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Survei tambahan tentang penyakit karang dilakukan oleh Dr. Ofri Johan – ahli dan peneliti peyakit karang dari Balai Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa

Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa
Beberapa catatan yang menarik dari temuan tim monitoring adalah :
Komunitas Ikan :
- Secara umum komunitas ikan dalam kondisi yang sehat dengan indikasi masih ditemukan ikan carnivore atau predator ukuran besar sepeti ikan kerapu, kakap, hiu, bubara, dan ikan jenis herbivore (ikan baronang, kulit pasir dan kakatua) serta ikan-ikan ukuran kecil lainnya, seperti ikan lalosi dan ikan oci.
- Ikan napoleon (Cheilinus undulatus) ditemukan dibeberapa lokasi dalam kelompok yang cukup besar (15 – 20 ekor) dan diduga akan melakukan pemijahan.
- Ikan kerapu saiseng (Pletropomus areolatus) ditemukan dalam kelompok besar di A022 – Tanjung Pulau Miarin – Kepulauan Asia dan di A002 – Abor di dekat Ayau Kecil. Kedua lokasi ini merupakan lokasi pemijahan ikan yang masih fungsional tidak hanya bagi ikan kerapu, tetapi juga beberapa jenis ikan lainnya.
- Ikan Hiu – hanya ditemukan di beberapa lokasi diperkirakan jumlah dan populasinya lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil monitoring di KKP lainnya di Raja Ampat.
- Di beberapa lokasi ditemukan ikan pogo jenis Yellowfin triggerfish (Pseudobalistes flavimarginatus) dalam kelompok dan menunjukkan tanda-tanda pemijahan.
Terumbu karang :
- Kepulauan Ayau dan Asia merupakan wilayah paling utara di Raja Ampat yang relative terbuka dan selalu terkena gelombang di semua musim sehingga pertumbuhan karang sedikit berbeda dengan wilayah lain di Raja Ampat yang relatof terlindung. Di Ayau beberapa lokasi didominasi oleh karang keras yang merayap atau menjalar yang tumbuh di lereng terumbu. Terumbu karang cabang seperti jenis Acropora relative sedikit jika dibandingkan dengan lokasi lain di Raja Ampat.
- Secara umum karang dalam kondisi sehat – tidak ditemukan (sangat sedikit) penyakit karang, tidak ada bleaching/pemutihan karang.
- Tidak ditemukan rubble baru bekas bom atau karang rusak akibat bius
- Macro algae jenis Halimeda banyak ditemukan di Pulau Fani dan juga ditemukan adanya kompetisi pertumbuhan antara karang dengan sponge dan algae di beberapa lokasi monitoring.
Dari survei penyakit karang didapatkan kesimpulan sementara bahwa wilayah KKP Kepulauan Ayau -Asia sangat sehat jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Hanya ditemukan 1 koloni yang terkena Black Band Disease di Pulau Fani di Kepulauan Asia. Penyakit karang lain yang ditemukan adalah White Syndrome dan Skeletal Eroding Band tetapi dalam jumlah dan persentase yang sangat kecil. Ditemukan juga Drupella – gastropoda atau jenis siput atau kerang pemakan karang ditemukan di beberapa sites monitoring. Drupella secara alami merupakan hewan pengontrol pertumbuhan beberapa famili karang yang relative cepat, tetapi jika populasi nya cukup besar dapat menjadi indikasi kuat terjadinya gangguan ekosistem terumbu karang.
Berita Lainnya



