Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Menyusuri taman laut terbesar Indonesia: Pemantauan Kesehatan Terumbu Karang di TNTC

Menyusuri taman laut terbesar Indonesia: Pemantauan Kesehatan Terumbu Karang di TNTC

Penulis

Habema Monim dan Abigail Lang

Tanggal

21 Agustus 2023

Hampir setiap hari, penyelam berada di bawah langit biru” kata Habema Monim (akrab dipanggil Bema) salah satu staf Program Sains untuk Konservasi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Papua (LPPM UNIPA). Bulan Juli-Agustus 2023, Bema terlibat dalam kegiatan Reef Health Monitoring (RHM) yang diinisiasi oleh Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) selaku pengelola Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC). Pemantauan Kesehatan Karang (Reef Heath Monitoring, RHM) dilakukan secara periodik di Taman Nasional Cenderawasih (TNTC) yang merupakan taman nasional terbesar di Indonesia. Tujuan kegiatan ini selain untuk mendapatkan data terkini kesehatan terumbu karang yang merupakan ekosistem penting bagi ikan, juga untuk mencatat kondisi kualitas air di perairan TNTC. Jika Sobat Lestari tertarik mengenal lebih jauh mengenai RHM, Anda dapat membaca tulisan kami melalui link di bawah ini.

Persiapan sebelum trip RHM

Tentunya, untuk kegiatan pemantauan yang sangat spesifik ini, diperlukan persiapan yang matang agar seluruh data yang diharapkan dapat terkumpul dengan baik. Persiapan dimulai dari perencanaan kegiatan, koordinasi antar mitra, pertemuan akhir sebelum kegiatan lapangan, pengecekkan alat-alat yang akan digunakan, berbelanja kebutuhan tim. Ada sekitar 13 orang yang akan melakukan pengambilan data selama kegiatan RHM, diantaranya ada 1 orang dari LPPM UNIPA, 1 orang dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), 1 mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan 10 orang dari BBTNTC. Pada tanggal 17 Juli yang lalu, mereka melakukan pertemuan untuk koordinasi di kantor BBTNTC.

Suasana briefing malam hari untuk mendokumentasikan hasil monitoring serta mengatur rute penyelaman esok hari
(Foto : BBTNTC)

Kapal berlayar menyusuri pesisir TNTC

Tahun ini RHM dilakukan tanggal 28 Juli-6 Agustus 2023 di 28 titik dalam kawasan & 2 titik di luar kawasan sebagai titik kontrol. Setiap hari tim dibagi menjadi 2; dalam satu tim terdiri dari 4-5 orang penyelam dan 2 orang pendata parameter kualitas air. Tim selam mencatat tutupan bentik, spesies, ukuran dan jumlah ikan, sedangkan tim pendata parameter kualitas air mengukur 6 parameter di setiap lokasi, yaitu; Suhu, Dissolved Oxygen (DO), Salinitas, pH, Arus, dan Kecerahan. Kapal akan berlabuh pada lokasi yang dekat dengan titik penyelaman, kemudian anggota tim yang bertugas akan menggunakan speed boat menuju titik penyelaman. Tim yang bertugas untuk mengambil data mulai bekerja dari jam 7 pagi hari sampai selesai. Maksimal pengambilan data diselesaikan di sore hari. Hari yang melelahkan ditutup dengan berkumpul untuk mendokumentasikan hasil monitoring serta mengatur rute penyelaman esok hari.

Persiapan tim untuk proses entry ke perairan
(Foto : BBTNTC)

“Wah, beberapa titik ini bisa menjadi tempat wisata” ucap para penyelam setelah mereka melakukan pengambilan data RHM. Beberapa titik penyelaman memiliki keindahan alam bawah laut yang potensial untuk fun diving.

Kerja sama antara BBTNTC dan LPPM UNIPA diharapkan dapat memberikan informasi mengenai status kesehatan terumbu karang yang diperlukan untuk menilai efektivitas pelaksanaan sistem zonasi dan rencana pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

RHM penting untuk dilakukan secara berkala agar tersedia data terkini mengenai kondisi karang dan ikan. Hal ini diperlukan oleh pengelola kawasan untuk menentukan bentuk pengelolaan yang baik. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut, informasi ini penting agar masyarakat dapat mengetahui kondisi laut mereka sendiri serta dapat berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak terhadap ekosistem laut mereka.

Kondisi karang keras hidup di kedalaman 3 meter di salah satu titik penyelaman
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu penyelam yang bertugas membentang serta menggulung transek pengamatan
(Foto : Habema Monim/S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Kisah Pengajar dari Rumah Belajar Abun: Belajar untuk Mengajar tentang Penyu

Kisah Pengajar dari Rumah Belajar Abun: Belajar untuk Mengajar tentang Penyu

Penulis

Evanora Awom, Alfin Sraun

Tanggal

09 Agustus 2023

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan materi yang wajib diajarkan di Rumah Belajar Abun. Salah satunya adalah pengenalan mengenai penyu dengan beberapa sub indikator pembelajaran yang memerlukan pengamatan secara langsung di pantai peneluran. Untuk memperlengkapi kami sebagai tim Pendamping Masyarakat (PM) Womom yang akan mengajar PLH, maka kami diberi kesempatan untuk belajar secara langsung tentang penyu di Pantai Peneluran Penyu Belimbing

Alfin (kiri) seorang Sarjana Peternakan mengajar PLH di Rumah Belajar sejak 2021 dan Evanora (sisi kanan) seorang Sarjana Manajemen Keuangan mengajar PLH sejak Mei 2023. Sebelum melakukan tugas sebagai PM, mereka telah dibekali dengan pengetahuan terkait penyu dan upaya konservasi yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu saat mereka mengajar PLH, ternyata teori yang mereka dapatkan belum secara maksimal membantu untuk mengajar tentang PLH kepada anak-anak. Mereka masih kesulitan untuk bercerita bagaimana upaya perlindungan penyu dari panas, dan ancaman predator karena mereka belum melihatnya secara langsung.

Berdasarkan hasil koordinasi yang dilakukan, kami diarahkan untuk melengkapi form Rencana Perjalanan ke Pantai Pasir Panjang atau Pantai Peneluran penyu. Harapannya ketika kami melihat dan belajar secara langsung dapat menambah pengetahuan serta memberikan insight yang baru dalam memberikan materi terkait PLH Penyu. Pada hari kamis tanggal 27 Juli 2023 kami melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dari kampung Womom ke Pantai Peneluran yang terdekat, yaitu Pantai Wembrak dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan. Walaupun lokasi Pantai ini tergolong cukup dekat, namun perbatasan antara kampung dan pantai sangat terjal, terdapat sebuah gunung yang cukup membuat kami kehabisan nafas. Ketika kami selesai mendaki ke gunung tersebut, kami akan menghela nafas dan berkata “Ado Mama!” saking beratnya mendaki. Itu sebabnya gunung itu diberi nama gunung Ado Mama.

Adapun kegiatan yang kami lakukan selama berada di Pantai Peneluran (wembrak) yaitu: Doom sarang, protect sarang, monitoring malam, evaluasi sarang dan melakukan Pengukuran suhu cocomesh.

Doom sarang merupakan proses pemindahan telur dari batas air pasang ke darat. Adapun proses awal adalah mencari letak telur Penyu dengan cara menusuk sarang menggunakan besi. Proses penusukan atau pencarian letak telur biasanya dilakukan oleh orang yang berpengalaman (ahli) untuk meminimalisir kerusakan telur penyu. Setelah menemukan telur, selanjutnya dilakukan penggalian sarang dan pengukuran kedalaman sarang, telur kemudian diangkat, dipisahkan dan dihitung berdasarkan jenis normal dan abnormal.  Telur yang sudah dihitung dimasukkan atau dipindahkan ke dalam sarang baru yang sudah dibuat. Kedalaman sarang baru yang dibuat biasanya berukuran 70 cm hingga 75 cm karena jika ukuran yang dibuat lebih dalam biasanya tukik tidak dapat keluar dari sarang.

Proses pengambilan telur dari sarang untuk diangkat, dipisahkan dan dihitung berdasarkan telur yang normal dan abnormal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Proses Doom sarang telur Penyu untuk memindahkan telur dari batas air pasang ke darat
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada hari yang sama kami juga ikut serta melakukan proses Protect sarangProtect sarang merupakan proses melindungi telur dari sinar matahari ataupun hewan predator. Bahan Protect yang digunakan biasanya adalah kayu, daun kelapa dan daun palem atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan daun pakis. Tata cara Protect sendiri yaitu kayu ditanam pada pasir sekuat mungkin membentuk lingkaran serta diberikan celah atau pintu sebagai jalan keluar bagi tukik (anak penyu).

Tidak hanya protect sarang, salah satu hal yang penting dilakukan yaitu Melakukan monitoring malam, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan kami selama 2 hari, Proses monitoring malam biasanya dilakukan pukul 21.00 WIT hingga pukul 04.00 WIT. Namun waktu mulai patroli dan waktu patroli berakhir biasanya patroller (orang yang melakukan monitoring) sesuaikan dgn aktivitas penyu malam sebelumnya. Misalnya kalau malam sebelumnya penyu naik pada pukul 8, berarti mereka mulai lebih awal dan mungkin pukul 3 sudah sepi dan mereka istirahat. Atau sebaliknya kalau penyu naik agak telat pada pukul 12, mereka bisa mulai patroli malam pukul 12 lalu patroli sampai subuh dan lanjut lindungi sarang. Monitoring malam dilakukan untuk mengetahui jumlah penyu yang naik untuk bertelur di Pantai peneluran. Penyu yang naik biasanya discan untuk mengetahui apakah penyu tersebut sudah pernah bertelur di pantai peneluran atau belum, jika belum patroller akan melakukan pengukuran karapas penyu dengan cara berdiri diantara karapas dan fliper dengan tujuan agar tidak terkena fliper penyu. Kami sendiri tidak sempat melakukan proses Pengukuran, scan dan pitag hanya mengamati dan mendengarkan penjelasan langsung dari patroller.

Proses penggalian sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Proses protect sarang telur Penyu menggunakan daun kelapa
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pada tanggal 28 Juli 2023 kami ikut serta dalam proses Evaluasi sarang. Proses Evaluasi sarang adalah proses pengecekan telur yang menetas menjadi tukik dan juga bertujuan untuk membantu mengeluarkan tukik dari sarang. Proses ini biasanya dilakukan pada sarang telur yang telah berumur kurang lebih 2 bulan 2 minggu (74 hari). Pada saat proses evaluasi dilakukan teman-teman patroller dan kami mendapati beberapa telur yang tidak menetas dikarenakan terkena akar petatas pantai, ada juga telur yang tidak dapat menetas karena pasir yang panas dan di temukan tukik yang mati karena tidak dapat keluar dari sarang.

Selain kegiatan Doom sarang, protect sarang, monitoring malam serta Evaluasi sarang, kami juga ikut melakukan pengukuran suhu pada sarang Penelitian cocomesh. pengukuran suhu ini dilakukan sebanyak 3 kali dalam sehari. Masing- masing pada pukul 05.00 WIT hingga 06.00 WIT (pagi); 14.00 hingga 15.00 WIT (siang) serta 20.00 hingga 21.00 WIT (malam). Cocomesh yang merupakan turunan dari pemanfaat kelapa, dibuat untuk melindungi sarang penyu dengan tujuan mengurangi pemakaian daun Pakis. Efektivitas penggunakan cocomesh untuk melindungi sarang penyu masih dalam tahap penelitian. Setelah melakukan proses pengamatan selama dua hari, pada tanggal 29 Juli 2023 kami melakukan perjalanan kembali ke Rumah Belajar Womom. Dalam perjalanan kembali ke kampung, kami berkesempatan melepas sebanyak 3 tukik dari sarang relokasi ke pantai.

Penggunaan cocomesh untuk melindungi sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pengukuran suhu pada sarang telur Penyu yang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Perjalanan ini memberikan beberapa pengetahuan baru bagi kami yang akan mengajar PLH Penyu kepada anak-anak di kampung. Pengetahuan ini meningkatkan kepercayaan diri kami untuk dapat mengajar PLH Penyu dengan lebih baik kepada anak-anak di Rumah Belajar.

Proses evaluasi sarang telur Penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Telur Penyu yang rusak karena suhu pasir yang terlalu panas
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Noken Rajutan sebagai salah satu alternatif penghasilan pada Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw

Noken Rajutan sebagai salah satu alternatif penghasilan pada Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw

Penulis

Kartika Zohar, Monica Arung Padang

Tanggal

04 Agustus 2023

Melalui dukungan International Sea Turtle Society (ISTS), Tim Sains untuk Konservasi di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNIPA melakukan pelatihan dan penguatan kapasitas bagi masyarakat yang berada di lima kampung di Distrik Abun dan Distrik Tobouw Kabupaten Tambrauw dalam bidang kerajinan tangan berupa noken rajutan yang berbahan dasar benang. Adapun lima kampung tersebut adalah kampung Resye, Womom, Syukwo, Wau, dan Weyaf. Kelima kampung ini terletak dekat dengan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, sebuah kawasan pantai peneluran terbesar bagi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang tersisa di Pasifik Barat.

Paulina Esyah Membuat Noken Rajutan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Martina Yenggren yang sedang didampingi oleh Pendamping Masyarakat Hermina Langoday membuat noken
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan Pelatihan dan Penguatan Kapasitas ini dilaksanakan sejak Februari hingga Juli 2023 ini. Dimulai dengan pembekalan bagi tenaga pendamping masyarakat dan narahubung yang menjadi fasilitator di lapangan, hingga pelatihan dan penguatan bagi total 10 orang perempuan yang tertarik untuk melakukan kerajinan tangan. Pelatihan dan pengembangan kapasitas ini dilakukan satu persatu (orang perorang) dengan metode diskusi dan melihat melalui video pelatihan. Setelah itu, para pengrajin ini kemudian berlatih untuk membuat karya nokennya secara mandiri. Sejak akhir Februari hingga kini, sedikitnya telah dihasilkan 48 buah noken rajutan. Noken-noken rajutan ini terdiri atas dua kombinasi warna dengan bagian tengahnya terdapat siluet penyu.

Ibu Agusta Sundoy, salah satu pengrajin noken rajut di Kampung Weyaf
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kesepuluh pengrajin ini menggunakan waktu senggang mereka untuk menganyam noken rajutannya. Di sela-sela kesibukan mereka sebagai seorang ibu yang mengurus rumah tangga maupun berkebun, mereka membagi waktu dengan cukup baik. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan noken sekitar 10 hari, ini bergantung pada tingkat kesibukan mereka di kampung. Kami mencatat, waktu paling cepat yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 noken rajutan adalah 2 hari, dan yang tercatat paling lama yaitu 26 hari. Biasanya waktu yang lama ini karena mereka sedang keluar dari kampung, sehingga tidak fokus untuk menghasilkan noken rajutannya.

Salah satu Noken rajutan hasil kerajinan tangan Martina Yenggrean
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Salah satu Noken rajutan hasil kerajinan tangan Agusta Sundoy
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menganyam noken rajutan memiliki tantangan tersendiri karena terdapat pola siluet yang harus diikuti. Namun para perempuan ini tetap tekun menyelesaikan noken mereka dan ini membuat mereka semakin mahir untuk menghasilkan noken. Kami mencatat total penghasilan yang diperoleh oleh para pengrajin ini adalah Rp. 3.670.000, jumlah ini merupakan pendapatan bersih yang diterima oleh mereka (tidak termasuk modal benang dan jarum yang telah disediakan). Beberapa dari pengrajin wanita ini bahkan ada yang tertarik untuk membuat noken rajutan secara konsisten sehingga mempunyai penghasilan yang pasti di waktu senggang mereka.

Pelatihan dan pengembangan kapasitas masyarakat ini merupakan bagian dari upaya konservasi penyu yang dilakukan di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Anggota masyarakat ini memperoleh manfaat secara langsung dengan mendapat penghasilan dan keahlian merajut yang dapat digunakan di masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Pendidikan Dasar Calistung sebagai salah satu dukungan kepada anak-anak di wilayah Konservasi Penyu Taman Pesisir Jeen Womom

Pendidikan Dasar Calistung sebagai salah satu dukungan kepada anak-anak di wilayah Konservasi Penyu Taman Pesisir Jeen Womom

Penulis

Alberto Y. T. Allo, Kartika Zohar

Tanggal

31 Juli 2023

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua, melalui Program Sains untuk Konservasi secara konsisten sejak tahun 2013 melakukan Pendidikan informal bagi anak-anak usia sekolah dasar yang berada di lima kampung di Distrik Abun dan Distrik Tobouw Kabupaten Tambrauw dalam bidang pendidikan dasar baca-tulis-hitung (Calistung)

Adapun lima kampung tersebut adalah kampung Resye, Womom, dan Syukwo yang memiliki masing-masing satu Rumah Belajar (RB), Adapun namanya sesuai dengan nama kampung lokasi dimana RB tersebut berada. Sedangkan Kampung Wau dan Weyaf digabung dalam satu RB Wau-Weyaf. Kelima kampung ini terletak dekat dengan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom, sebuah kawasan pantai peneluran terbesar bagi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Kepala Burung Papua.

Aktifitas Anak-anak Belajar Baca pada RB Wau-Weyaf.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Sejak awal tahun ini hingga akhir Juli, kegiatan pembelajaran kepada anak-anak yang berusia Sekolah Dasar (SD) di lokasi ini dilakukan oleh tenaga pendamping masyarakat dan narahubung (PMNH) yang merupakan guru di Rumah Belajar dan juga sebagai fasilitator lapang.

Aktifitas Anak-anak Belajar Baca pada RB Womom
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Anak-anak datang ke rumah belajar setelah selesai pembelajaran di sekolah atau pada sore hari. Bagian pendidikan dasar yang diajarkan di RB yaitu literasi dasar berupa baca, tulis, dan hitung (calistung). Pembelajaran Calistung yang kami laksanakan di RB berbeda dengan di SD. Di RB pembelajaran informal yang lebih mengutamakan bagaimana menumbuh kembangkan minat dan kemauan anak belajar, memberikan kebebasan kepada anak dalam belajar, PMNH memosisikan diri sebagai teman belajar dan mengajak anak dengan bermain sambil belajar agar dapat menyukai pelajaran yang diajarkan melalui permainan yang menyenangkan serta didukung dengan media-media permainan yang tersedia RB seperti permainan huruf dan angka, poster angka dan huruf, dan mainan lain yang dapat membuat anak senang datang belajar.

Aktifitas Anak-anak Belajar Hitung pada RB Resye
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Aktifitas Anak-anak Belajar Tulis pada RB Syukwo.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Berdasarkan data kehadiran sejak Februari hingga Juni 2023 sebanyak 95 anak, terdiri dari laki-laki sebanyak 60 anak dan perempuan sebanyak 35 anak yang tercatat mengikuti pembelajaran literasi dasar di RB. Pelaksanaan pembelajaran membaca, berhitung, dan menulis yang diajarkan kepada anak-anak di RB selalu mengacu pada sub indikator pembelajaran yang telah disusun. Sub indikator ini membantu para PMNH untuk dapat mengajar dan memperoleh informasi kemampuan para peserta di RB.

Adapun sub indikator yang diajar pada pembelajaran membaca, berhitung, dan menulis adalah sebagai berikut:

Sub Indikator Menulis

Sub Indikator Membaca

Sub Indikator Menghitung

Pendidikan dasar calistung ini merupakan bagian dari Upaya konservasi penyu yang dilakukan di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Anak-anak yang diajar merupakan generasi pelanjut dimasa depan yang memperoleh manfaat secara langsung dengan mendapat pembelajaran tambahan yang dapat digunakan dalam pendidikan dasar dan pendidikan lanjut anak nantinya.

Bagaimana hasil pembelajaran anak-anak ini? Tunggu pada tulisan selanjutnya ya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Belum Publish

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Penulis

Alberto Yonathan Tangke Allo

Tanggal

18 Juli 2023

Bagaimana kami melakukan kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)? Mengapa kami melakukan kegiatan ini? Kali ini kami ingin berbagi kepada para pembaca pengalaman kami dalam mengajarkan PLH kepada anak-anak di rumah belajar.

Kegiatan pendidikan anak di rumah belajar merupakan bagian dari program konservasi Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Tambrauw. Yang melakukan kegiatan adalah kami dari Program Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – Universitas Papua (LPPM – UNIPA). Kegiatan ini memberikan manfaat bagi anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak melalui kegiatan Baca-Tulis-Hitung (Calistung), Pendidikan lingkungan Hidup (PLH), Computer-Bahasa Inggris (Comeng), Perpustakaan keliling, Apotek Hidup & Hidup Sehat.

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di rumah belajar dikelola dan dilaksanakan oleh Pendamping Masyarakat dan Narahubung (disingkat: PMNH). Kami mengelola 4 Rumah Belajar (disingkat: RB) yang tersebar pada lima kampung yaitu RB Wau-Weyaf berada pada Kampung Wau dan Kampung Weyaf, ditinggali oleh 3 orang PMNH yang mengajar anak-anak serta hidup dengan masyarakat di kampung.RB Syukwo berada pada Kampung Syukwo, ditinggali 2 orang PMNH. RB Womom berada pada Kampung Womom ditinggali oleh 2 orang PMNH dan RB Resye berada pada Kampung Resye ditinggali oleh 2 orang PMNH.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menggali sarang yang terdampak abrasi air laut.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana memindahkan telur penyu yang terdampak abrasi air laut.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH yang diajarkan ke anak-anak di rumah belajar berupa kegiatan teori (pemahaman konsep) dan praktik, berdasarkan 9 indikator yang tersebar menjadi 21 sub indikator pembelajaran PLH. Pengajaran PLH yang dilakukan ke anak-anak minimal 1 kali dalam seminggu dan 1 kali sebulan kegiatan aksi nyata yang diajarkan. Sebagai contoh kegiatan pemahaman konsep yang dilakukan di rumah belajar yaitu Indikator Melakukan Praktik Perlindungan Sarang Penyu. Di rumah belajar diajarkan cara-cara melakukan perlindungan penyu. Kemudian dilakukan aksi nyata dalam bentuk praktik. Di sini kami menampilkan beberapa foto kegiatan aksi nyata yang dilakukan PMNH Syukwo bersama anak-anak sebagai bentuk penguatan materi.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menyukur panjang dan lebar penyu yang naik bertelur ke pantai.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH lainnya mengajarkan kepada anak untuk membedakan sampah organik dengan sampah anorganik. Kegiatan ini dilanjutkan dengan aksi nyata memungut sampah yang berserakan di sekitar pantai dan jalan-jalan di kampung.

PMNH Resye mengajar perbedaan sampah organik dan anorganik.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Resye bersama dengan anak-anak melakukan aksi pungut sampah anorganik di pinggir pantai.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Resye bersama dengan anak-anak setelah sampah anorganik dipungut kemudian ditimbang untuk mengetahui berapa kg sampah yang terkumpul.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Keterlibatan anak dalam kegiatan PLH terlihat dari grafik berikut, antusias anak pada kampung Resye setiap bulan partisipasi anak yang mengikuti kegiatan PLH semakin meningkat. Pada kampung Wau-Weyaf dan Kampung Syukwo kegiatan PLH bulan Februari – April belum diadakan karena PMNH Wau-Weyaf dan PMNH Syukwo baru berada di lapang pada bulan Mei.

Grafik Keterlibatan Anak

Pembelajaran PLH merupakan salah satu pembelajaran yang dilakukan RB untuk mengajarkan ke anak-anak mencintai lingkungan dan melakukan aksi nyata dalam rangka mendukung kegiatan konservasi penyu. Dalam hal ini anak tidak membuang sampah sembarangan dan mengetahui dampak buruk yang ditimbulkan oleh sampah anorganik jika dibiarkan di lingkungan dan tidak ditangani dengan baik maka membuat tanah menjadi tidak subur karena sampah anorganik sangat susah terurai di dalam tanah dan apabilah sampah anorganik misalnya sampah plastik dibuang ke laut, akan terapung di laut dan terlihat seperti ubur-ubur oleh penyu sehingga apabila penyu memakannya berakibat penyu dapat mati. Pendidikan lingkungan hidup sebaiknya secara dini diajarkan dan dicontohkan ke anak-anak kampung yang tinggal di pesisir pantai agar anak-anak mencintai lingkungan dan ikut terlibat dalam kegiatan konservasi penyu sebagai kekayaan hayati yang dimiliki.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi

2023 Sea Turtle Symposium: Belajar dan Berbagi Pengalaman tentang Upaya Konservasi Penyu di Kawasan Segitiga Terumbu Karang

2023 Sea Turtle Symposium: Belajar dan Berbagi Pengalaman tentang Upaya Konservasi Penyu di Kawasan Segitiga Terumbu Karang

Penulis

Noviyanti

Tanggal

22 Juni 2023

Berada di pantai untuk melindungi penyu ataupun berada di kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat di sekitar pantai peneluran penyu adalah hal yang biasa bagi kami. Tetapi menceritakan kembali hasil pekerjaan kami ke dalam forum ilmiah, adalah sebuah pengalaman yang mengesankan dan bahkan – bagi sebagian kami- merupakan pengalaman baru yang sangat menarik.

Pada tanggal 14-15 Juni 2023, kami dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat dalam 2023 Indonesia Sea Turtle Symposium and the Greater Coral Triangle Region di Hotel Grand Mercure Kemayoran Jakarta. Simposium ini membawa tema “The Pathways of Sea Turtle Conservation and Studies in Indonesia and the Greater Coral Triangle Region: Progress, Current Status and Future Directions”. Penyelenggara kegiatan ini adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan, Yayasan TAKA, dan Yayasan WWF Indonesia.

Presentasi oral oleh Ibu Fitryanti Pakiding
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penyelenggaraan simposium ini berupaya mengintegrasikan data-data ilmiah yang tersebar secara lokal untuk dapat mengevaluasi status pengelolaan dan populasi penyu di kawasan segitiga terumbu karang serta melengkapi panduan standar E-PANJI (Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Jenis Ikan Dilindungi dan/atau Terancam Punah) konservasi penyu skala nasional.

Presentasi oral oleh Petrus Batubara
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Presentasi oral oleh Tonny Duwiri
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Presentasi oral oleh oleh Arfiandra
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Dengan adanya simposium ini, penyelenggara berharap dapat mengumpulkan hasil-hasil penelitian terbaru terkait sumber daya penyu dan pembelajaran upaya-upaya konservasi di skala nasional dan regional Kawasan Segitiga Terumbu Karang/Coral Triangle; memberikan rekomendasi bahan kebijakan pengelolaan terhadap jenis-jenis penyu yang perlu untuk dikelola secara nasional dan regional; dan menjembatani sains dengan kebijakan dengan mempertemukan ilmuwan dan praktisi konservasi penyu dengan pemangku kebijakan nasional maupun regional.

Peserta kegiatan ini adalah pejabat dan staf direktorat teknis lingkup KKP, kementerian lainnya, dan pemerintah daerah, praktisi perikanan, peneliti, civitas akademika, pemerhati sumberdaya penyu, dan peserta regional. Dari 80 orang presenter yang menghadiri simposium, 8 orang dari kami ikut mempresentasikan makalah kami melalui presentasi oral dan poster. Berikut adalah judul makalah yang kami presentasikan.

Dalam beberapa waktu kedepan kami akan memaparkan secara singkat poin-poin penting dari presentasi oral dan poster kami melalui sosial media kami. Simak terus sosial media kami ya!

Nama penulis dan presenterJudul MakalahJenis presentasi
Arfiandra Andika Wanaputra, Deasy Lontoh, Yusup Jentewo, Yairus Swabra, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariApakah Sarang Penyu Belimbing Terancam Suhu Pasir Tinggi di Musim Hujan?

Are Leatherback Turtle Nests Threatened by High Sand Temperatures during the Rainy Season?
Presentasi oral
Tonny Duwiri, Deasy Lontoh, Yusup Jentewo, Yairus Swabra, Arfiandra Wanaputra, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariEfektivitas Jaring Nilon Paranet Melindungi Sarang Penyu Belimbing yang Terancam Suhu Pasir Tinggi di Taman Pesisir Jeen Womom, Papua Barat Daya

Effectiveness of Paranet Nylon in Protecting Leatherback Turtle Nests Threatened by High Sand Temperatures in the Jeen Womom Coastal Park, Papua Barat Daya
Presentasi oral
Petrus Pieter Batubara, Deasy Lontoh, Yusup Jentewo, Yairus Swabra, Arfiandra Wanaputra, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariKetepatan Masyarakat Lokal dalam Mengidentifikasi Letak Sarang Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di Pantai Jeen Yessa, Taman Pesisir Jeen Womom, Papua Barat Daya

Accuracy of Local Communities in Identifying Leatherback Turtle (Dermochelys coriacea) Nest Locations at Jeen Yessa Beach, Jeen Womom Coastal Park, Papua Barat Daya
Presentasi oral
Fitryanti Pakiding, Deasy Lontoh, Kartika Zohar, Noviyanti, Manjula TiwariUpaya Konservasi Penyu Belimbing yang Berkelanjutan: Pembelajaran Satu Dekade dari Taman Pesisir Jeen Womom, Papua

Sustainable Leatherback Turtle Conservation Efforts: A Decade of Lessons from Jeen Womom Coastal Park, Papua
Presentasi oral
Noviyanti, Naqliya Arum Permata, Abigail E. F. Lang, Michael Tuhuteru, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariPendekatan Edutainment untuk Mengajarkan Ancaman Penyu kepada Siswa

Edutainment Approach for Teaching Sea Turtle Threats to Students
Presentasi oral
Kartika Zohar, Fitryanti Pakiding, Aflia Pongbatu, Trisye Hamatia, Manjula TiwariMata Pencaharian Alternatif dari Upaya Konservasi Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya

Alternative Livelihoods from Sea Turtle Conservation Efforts in Jeen Womom Coastal Park, Tambrauw, Southwest Papua Province.
Presentasi oral
Abigail Lang, Michael P. I. Tuhuteru, Naqliya Arum Permata, Noviyanti Noviyanti, Fitryani Pakiding, Manjula TiwariPemanfaatan Video Edukasi sebagai Media Pembelajaran di Taman Pesisir Jeen Womom, Papua Barat Daya

Utilization of Educational Video as Learning Media in Jeen Womom Coastal Park, Southwest Papua
Presentasi oral
Deasy Natalia Lontoh, Yairus M Swabra, Petrus Batubara, Abraham Leleran, Johni Mau, Siis Werimon, Tonny Duwiri, Arfiandra Wanaputra, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariJumlah Sarang dan Distribusi Aktivitas Peneluran Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya

Number Of Nests and Distribution of Marine Turtle Nesting Activities in The Jeen Womom Coastal Park, Tambrauw Regency, Papua Barat Daya
Presentasi Poster
Yairus Swabra, Deasy Lontoh, Arfiandra Wanaputra, Yusup Jentewo, Fitryanti Pakiding, Manjula TiwariJumlah Induk Penyu Belimbing 2003-2021 di Taman Pesisir Jeen Womom, Papua Barat Daya

Number of Leatherback Females Detected from 2003-2021 in The Jeen Womom Coastal Park, Papua Barat Daya
Presentasi Poster

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Konservasi Penyu Belimbing Training

Peningkatan Kapasitas Bagi Tim Pelaksana Program Sains untuk Konservasi

Peningkatan Kapasitas Bagi Tim Pelaksana Program Sains untuk Konservasi

Penulis

Yusup Jentewo, Deasy Lontoh dan Kartika Zohar

Tanggal

30 Mei 2023

Pada tanggal 12 sampai 17 April 2023 Program Sains untuk Konservasi (S4C) menyelenggarakan kegiatan pembekalan bagi tim lapangan pemberdayaan masyarakat dan narahubung serta tim lapangan pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Tiap tahunnya program di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) ini melakukan perekrutan tim lapangan yang akan bekerja di empat pantai peneluran penyu di Kabupaten Tambrauw dan lima kampung di sekitar pantai tersebut. Tim lapangan pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang direkrut tahun ini terdiri dari 4 orang Koordinator Pantai Peneluran (KP2), 6 orang Tenaga Lapangan Pantai Peneluran (TLP2) dan 12 orang Tenaga Magang Pantai Peneluran (TMP2). Sedangkan, tim lapangan pemberdayaan masyarakat dan narahubung (PMNH) yang yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 10 orang.

Pembukaan kegiatan oleh Fitryanti Pakiding mewakili Ketua LPPM UNIPA
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Habema)

Penyampaian materi biologi penyu oleh Deasy Lontoh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Abraham)

Pembekalan ini dilangsungkan selama empat hari, sebagian besar berlokasi di kantor S4C namun juga terdapat praktek pembuatan minyak kelapa yang dilaksanakan di laboratorium Fakultas Teknologi Hasil Pertanian UNIPA. Materi yang disampaikan berjumlah 24 materi yakni pengenalan program secara umum, pengembangan tim, penanganan konflik serta materi-materi terkait pekerjaan yang akan dilakukan di lapangan. Pemateri dalam pembekalan ini terdiri dari 15 orang, 10 orang dari internal program dan 5 orang dari luar program. Pemateri dari luar program terdiri dari perwakilan dosen di lingkup UNIPA dan perwakilan LSM yang bergerak di bidang konservasi seperti Yayasan Konservasi Indonesia dan Rare Indonesia. Kegiatan ini dilangsungkan secara hybrid dengan sebagian besar pemateri dan peserta hadir langsung di lokasi dan sebagian kecil secara daring.

Pemateri dari Yayasan Konservasi Indonesia hadir secara daring
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Praktek materi membangun tim
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Berbagi Cerita Konservasi melalui Kegiatan Harvesting Gerakan Nasional di Papua Barat

Berbagi Cerita Konservasi melalui Kegiatan Harvesting Gerakan Nasional di Papua Barat

Penulis

Abigail Lang

Tanggal

13 Mei 2023

Produk lokal yang ada di Papua Barat sangat beragam jenisnya. Bank Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat mengajak beberapa UMKM di Papua Barat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan mempromosikan produk lokal untuk kemudian masuk ke pasar internasional.
Selama 3 hari, mulai dari Senin-Rabu, 08-10 Mei 2023 telah diadakan pameran dengan tema “Harvesting Gerakan Nasional: Bangga Buatan Indonesia dan Bangga Berwisata di Indonesia”. Banyak sekali peristiwa dan kegiatan menarik yang telah disediakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya menggunakan produk lokal yang tidak kalah menarik dengan produk di luar daerah, sehingga pemerintah diharapkan untuk dapat dan terus memberikan dukungan kepada pelaku usaha lokal. Selain itu diadakan pameran kesenian dan budaya agar masyarakat tertarik melakukan kegiatan wisata di wilayah Papua Barat.

Gerbang masuk menuju ke pameran
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Booth pameran produk lokal Abun
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Dari 55 UMKM unggulan yang diikutsertakan, Produk Lokal Abun ikut hadir menjadi salah satu produk yang dipasarkan pada pameran kemarin, dengan menampilkan produk lokal yakni Minyak Kelapa dan Noken dari Abun, Kab. Tambrauw. Kami dari Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA antusias mengikuti kegiatan ini karena ini merupakan potensi kami untuk mempromosikan produk lokal yang dibuat oleh masyarakat yang tinggal di kampung-kampung yang berdekatan dengan Taman Pesisir Jeen Womom. Promosi Produk Lokal Abun merupakan salah satu bagian penting dari misi kami untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.

UMKM lainnya yang mengikut kegiatan ini terdiri dari sektor kriya, makanan, minuman, fashion, dan teknologi. Panitia bekerja dengan sangat baik. Kami melihat tata letak booth di pameran disusun sangat menarik, indah dan artistik; cocok untuk muda-mudi yang ingin mengambil foto dan video pada kegiatan di pameran tersebut. Masing-masing booth UMKM tersebut dihimbau untuk melakukan transaksi menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), dengan memindai kode barcode dari handphone dan membayar sesuai dengan harga produk yang dipasarkan. “Pelaksanaan kurasi (Kegiatan mengelola produk lokal dalam pameran ini-Red) bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk, menciptakan diversifikasi serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang tren atau perkembangan pasar bagi pelaku usaha agar dapat memenuhi kebutuhan dan selera konsumen yang semakin beragam serta mampu memasuki ekosistem digital” kata pak Dance Sangkek selaku PJ Sekda Papua Barat yang dikutip dalam video Youtube TVRI Papua Barat.

Booth produk lokal Abun
(Foto: S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Tampilan booth pameran dari berbagai UMKM dan Instansi
(Foto: S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Keterlibatan dan antusias dari masyarakat Manokwari, dapat dilihat dari ramainya pengunjung; musim pancaroba tidak menjadi halangan bagi masyarakat yang bergantian berkunjung dari pagi hingga malam hari. “Hujan hanya membasahi, bukan menghalangi” ujar dari penjaga booth, Monika Arung Padang, sebagai staf Tenaga Pengolahan dan Pemasaran Produk Lokal Abun. Ada beberapa dari kami dari Program Sains untuk Konservasi yang datang langsung melihat rangkaian keseruan selama 3 hari, kami juga turut serta dengan lomba yang diadakan oleh panitia kegiatan yaitu lomba Photo Booth. Di akhir dari kegiatan ini, ditutup dengan konser musik dari artis lokal dengan menghujani lagu-lagu hits.
Pameran ini bisa menjadi inspirasi untuk UMKM yang ada di Papua Barat, untuk terus mengoptimalkan penggunaan QRIS dapat dilakukan oleh penjual dan pembeli di pasar, dengan meningkatkan proses pembelanjaan secara modern di Papua Barat.
Melalui pameran ini, kami berhasil menjual Noken dan Minyak Kelapa kepada beberapa pengunjung. Kami sangat senang karena kami punya kesempatan untuk bercerita tentang program konservasi yang kami lakukan di Taman Pesisir Jeen Womom kepada para pengunjung booth kami melalui Noken dan Minyak Kelapa yang dijual.

Tampak booth pameran di malam hari
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Tampilan suasana booth pameran di malam hari
(Foto : S4C-LPPM UNIPA/Mike)

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 Surveyor Lapangan 2023

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 (Wawancara) Tahun 2023

Salam Lestari!

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara pada tanggal 17 April 2023. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI WAWANCARA dan terpilih sebagai KANDIDAT UTAMA untuk mengikuti Training. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

Dengan hormat kami sampaikan beberapa catatan penting sebagai berikut.
1. KANDIDAT UTAMA diharapkan memberikan konfirmasi kesediaan dengan mengisi formulir paling lambat 20 April 2023 Pukul 16:00 WIT.
2. Setelah KANDIDAT UTAMA memberikan konfirmasi kesediaan mengisi lowongan kerja, kami akan menghubungi Anda terkait hal teknis seperti kedatangan ke Manokwari dan persiapan lainnya.
3. Para pelamar yang tidak tercantum namanya di sini dimasukkan dalam DAFTAR TUNGGU. Apabila KANDIDAT UTAMA berhalangan atau mengundurkan diri, maka kami akan menghubungi DAFTAR TUNGGU paling lambat 21 April 2023 Pukul 16:00 WIT
4. SELEKSI TAHAP III/TRAINING akan dilakukan secara offline/tatap muka di Kota Manokwari pada awal bulan Mei 2023. Tanggal dan Waktu Pelaksanaan serta Lokasi Kegiatan akan diinformasikan kemudian
5. Apabila ada pertanyaan dapat menghubungi admin WhatsApp Group (Senin-Jumat, Jam 09:00-16:00 WIT, Hari Raya Idul Fitri Kantor Tutup).

Sampai bertemu di Manokwari!

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 (Wawancara) Tahun 2023

Salam Lestari!

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara pada tanggal 17 April 2023. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LULUS Tahap SELEKSI WAWANCARA dan terpilih sebagai KANDIDAT UTAMA untuk mengikuti Training. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

Dengan hormat kami sampaikan beberapa catatan penting sebagai berikut.
1. KANDIDAT UTAMA diharapkan memberikan konfirmasi kesediaan dengan mengisi formulir paling lambat 20 April 2023 Pukul 16:00 WIT.
2. Setelah KANDIDAT UTAMA memberikan konfirmasi kesediaan mengisi lowongan kerja, kami akan menghubungi Anda terkait hal teknis seperti kedatangan ke Manokwari dan persiapan lainnya.
3. Para pelamar yang tidak tercantum namanya di sini dimasukkan dalam DAFTAR TUNGGU. Apabila KANDIDAT UTAMA berhalangan atau mengundurkan diri, maka kami akan menghubungi DAFTAR TUNGGU paling lambat 21 April 2023 Pukul 16:00 WIT
4. SELEKSI TAHAP III/TRAINING akan dilakukan secara offline/tatap muka di Kota Manokwari pada awal bulan Mei 2023. Tanggal dan Waktu Pelaksanaan serta Lokasi Kegiatan akan diinformasikan kemudian
5. Apabila ada pertanyaan dapat menghubungi admin WhatsApp Group (Senin-Jumat, Jam 09:00-16:00 WIT, Hari Raya Idul Fitri Kantor Tutup).

Sampai bertemu di Manokwari!

Kategori
Monitoring Sosial Survei

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Wawancara Surveyor Lapangan

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 dan Informasi Seleksi Wawancara Surveyor Lapangan Tahun 2023

Salam Lestari.

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Administrasi. Dari hasil seleksi administrasi tersebut 27 Orang dinyatakan LULUS. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI WAWANCARA. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

 

1. Wawancara dilaksanakan tanggal 17 April 2023

2. Wawancara dilaksanakan secara online

3. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, silakan japri ke admin WA Grup

 

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya.